Bab 1

"Alula Maheswari. Dengan sangat berat hati, kamu saya pecat."

"Apa, Pak? Kenapa tiba-tiba saya dipecat, Pak? Memangnya saya salah apa?" tanyaku beruntun. Kaget sudah pasti. Bagaimana tidak kaget coba, tiba-tiba saja aku mendengar pernyataan yang sangat menakutkan bagi para karyawan rendahan sepertiku. Padahal seingatku, aku tidak melakukan sebuah kesalahan.

Jantungku sudah berdegup cukup kencang. Harapanku ini semua hanya prank.

Tapi, prank untuk apa? Ini bukan bulan April, jadi sudah jelas bukan April mop. Kalau diingat-ingat, ini juga bukan hari ulang tahunku.

Lalu ini semua maksudnya apa?

Laki-laki paruh baya yang tengah duduk di hadapanku itu menghela napasnya berat. Dia tak kunjung juga menjawab pertanyaan dariku. Hanya menatapku penuh iba.

Sebenarnya aku benci ditatap seperti ini, seolah-olah aku adalah orang yang perlu dikasihani, padahal kan aku hanya butuh jawaban.

"Pak, ini pasti cuma prank, kan?" Aku memastikan. "Aduuh ... ternyata Bapak bisa bercanda juga ya. Hahaha ...."

Aku masih bisa tertawa meski mungkin terlihat palsu, dan orang di depanku ini masih memasang wajah seperti tadi.

Lagi-lagi atasanku yang bernama pak Bambang itu menghela napasnya. Lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi goyang nan empuk yang tengah ia duduki, sembari menatapku yang masih sedikit tertawa.

"Alula, ini bukan sebuah lelucon, apalagi prank seperti yang kamu bilang tadi," ucap pak Bambang.

Perasaanku yang tadinya sudah mulai sedikit tenang, tiba-tiba kembali merasa terancam.

"Maksud Bapak, saya beneran dipecat, Pak?" tanyaku hati-hati.

Pak Bambang mengangguk, kemudian menyodorkan sebuah amplop berwarna kecoklatan. Kalau aku tebak sih, itu pasti uang pesangon.

Berapa ya, pesangonku?

Sepuluh juta?

Duapuluh juta?

Atau bahkan seratus juta?

Ih, apaan sih, posisi sedang terancam seperti ini malah sempat-sempatnya mikirin duit. Dasar Aku!

"Apa ini, Pak?" tanyaku setelah amplop berwarna kecoklatan itu kuterima. Meski berharap isinya uang, tapi tetap saja aku harus pura-pura tidak tahu.

"Itu surat pemecatan kamu, Alula. Maaf, saya tidak bisa memberi pesangon untuk kamu, sebab perusahaan melarangnya."

Apa?!

Jadi aku serius dipecat, dan tanpa pesangon?

Benar-benar tragis nasibku sekarang. Atasanku ini juga seperti tak berbelas kasihan.

Untuk memastikan perkataan pak Bambang, aku pun membuka amplop itu, lalu membacanya.

Dan benar saja, aku dipecat dari perusahaan ini. Padahal tiga tahun yang lalu aku harus bersusah payah berusaha agar bisa diterima bekerja di sini, dengan mengalahkan banyak pesaing yang juga ingin mendapatkan pekerjaan.

Lalu tiba-tiba saja dipecat?

"Tapi alasannya apa, Pak? Seingat saya, saya tidak pernah melakukan kesalahan fatal."

"Ya, benar, Alula. Kamu memang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun pada perusahaan. Tapi kesalahanmu pada pak Susilo, selaku direktur di perusahaan ini," jelas pak Bambang.

Oke, kalau kesalahanku pada si tua bangka seperti yang dikatakan sama pak Bambang tadi memang benar adanya, tapi kenapa harus berimbas pada pekerjaanku sih?

"Tapi itu namanya tidak profesional, Pak. Urusan saya sama pak Susilo itu kan ranah pribadi, bukan masalah pekerjaan, kenapa imbasnya ke karir saya?" Aku mencoba membela diri, kali saja berguna.

"Saya tahu, Alula. Tapi, apa iya saya harus membantah perintah dari pak direktur? Tentu itu mengancam posisi saya Alula."

Huft!

Baiklah, kali ini aku harus mengalah, kembali mendebat juga percuma.

==============================

Keluar dari ruangan pak Bambang, aku berjalan lesu menuju ruangan divisi tempatku bekerja.

Setelah ini aku harus membereskan barang-barang, dan juga berpamitan pada teman-teman seperjuanganku.

"La, ada apa? Kok lemes gitu sih, keluar dari ruangannya pak Bambang. Habis diomelin ya?" tanya Arin, begitu melihatku masuk ke ruang divisi ini.

Suara Arin yang cukup keras tadi, tentu saja membuatku jadi pusat perhatian. Pasalnya, semua orang yang ada di ruangan ini otomatis melihat ke arahku. Pasti mereka kepo dengan jawaban yang akan aku utarakan.

"Gue dipecat," ucapku sambil berjalan menuju meja kerja tempat di mana biasanya aku mengerjakan tugas demi tugas yang diberikan oleh perusahaan. Ah, tepatnya kini menjadi mantan meja kerja.

Kalau namanya sudah berubah menjadi mantan, berarti wajib dilupakan. Seperti aku yang rajin banget melupakan barisan para mantan. Eh.

"Hah? Serius lo, La? Jangan bercanda deh," celetuk Tedi.

"Iya, La, nggak lucu tau bercanda kek gitu," timpal Gisel.

Dan banyak lagi celetukan-celetukan yang lainnya yang tak aku pedulikan.

Dibandingkan menjawab keingintahuan mereka, aku lebih memilih membereskan barang-barangku.

Melihatku yang tengah beres-beres, teman-teman satu ruangan ini beranjak menghampiri.

"Lo serius, La?" Arin memastikan, dan aku pun mengangguk.

"Aaarggh ... Alula ... gue sedih kalau lo pergi."

"Gue juga sedih, La."

"Apalagi gue, La. Kalau lo pergi, entar siapa dong yang bakalan jadi partner ghibah kita? Huhuhu ...."

Selanjutnya, suasana berubah menjadi sendu, dan penuh linangan air mata. Teman-teman bergantian memelukku sebagai tanda perpisahan.

Tadinya sih, aku tidak mau nangis, tapi karena terbawa suasana, jadinya ikutan nangis deh.

Tak dipungkiri ini cukup membuatku sedih. Selain kehilangan pekerjaan, aku juga harus berpisah dengan teman-teman yang selama ini melewati masa-masa susah senang bersama.

=============================

Keluar dari kantor dengan predikat dipecat secara tidak terhormat, membuat kepalaku sedikit mendidih. Untung saja tidak sampai meledak. Coba deh, kalau benar-benar meledak, pasti akan terlihat mengerikan.

Ah, aku harus mendinginkan pikiran. Sedih boleh, frustasi jangan. Apalagi sampai depresi. Ih, jangan sampai. Bukan Alula namanya jika terus-terusan meratapi nasib.

Mumpung masih jam dua siang, aku memutuskan untuk mampir ke kafe tempat biasa nongkrong bersama teman-teman.

Eits ... meskipun dipecat tanpa pesangon, tapi aku masih mampu kok untuk sekedar duduk santai di kafe sambil minum es kopi, tidak tahu kalau hari-hari berikutnya.

Masa bodohlah sama hari-hari yang akan datang, yang penting sekarang pikiranku harus adem dulu, plus mengembalikan mood yang tadi sempat hancur.

"Mbak, saya pesen es kopi kayak biasa ya," kataku pada salah satu pelayan di kafe ini. Kebetulan dia sudah paham sama aku, jadi nggak perlu lagi ngasih tahu apa yang mau dipesan.

"Baik, Mbak, ditunggu ya," jawab pelayan itu.

Sembari menunggu pesanan datang, aku mengeluarkan ponsel dari tas kecil, lalu mulai memainkannya.

"Alula?" Terdengar suara cewek memanggilku. Kok seperti familiar ya suaranya.

Karena penasaran, aku pun mendongak untuk melihat siapa yang tadi memanggilku.

"Loh, Alena? Lo ngapain jam segini di sini? Nggak kerja lo?" tanyaku begitu mengetahui bahwa yang tadi memanggilku adalah sahabatku semasa kuliah dulu.

Alena mendudukkan dirinya di kursi tepat di hadapanku. "Gue lagi libur, La. Tepatnya sih, gue cuti karena pulang kampung. Nih, gue baru aja balik dari kampung, terus mampir ke sini dulu karena haus. Lo sendiri kenapa jam segini keliaran?"

"Gue baru aja dipecat, Len," jawabku jujur. Ya iyalah, masa mau bohong. Kan dosa. Bukan Alula namanya kalau suka bohong.

"Apa?! Lo dipecat, La? Emang lo ada kesalahan gitu?"

"Kalau kesalahan ke perusahaan sih, gue nggak ada. Tapi, gue punya kesalahan sama direkturnya," jelasku. Mungkin ini saatnya aku jujur tentang kenapa aku sampai dipecat dari perusahaan.

Tadi waktu pamitan sama orang-orang kantor, aku nggak ngasih tahu sama mereka perihal sebab pemecatanku, meski banyak dari mereka yang bertanya. Yang tahu alasannya hanya aku, pak Bambang, dan pak Susilo si direktur tua bangka itu.

"Sama direktur? Salah apa emang, Lo?"

"Kemarin pak direktur ngelamar gue buat jadi istrinya, Len, dan gue tolak mentah-mentah," kataku dengan sedikit menurunkan suara, takut ada yang dengar selain aku, dan Alena.

"Yah, kenapa lo nggak terima aja, La? Enak lho jadi istrinya direktur. Duitnya banyak, La. Auto lo jadi sultan, La." Ish, nih orang yang dipikirin cuma duit doang.

Aku menghembuskan napas kasar sebelum menjelaskan lebih detail lagi.

"Coba kalau lo jadi gue, Len. Emangnya lo mau diperistri sama laki-laki yang seumuran sama kakek lo, dan dijadikan istri keempat? Lo mau, Len?"

"Idiih ... ya nggak mau lah, La." Wajah Alena yang tadinya berbinar, kini berubah menampilkan raut jijik.

"Nah, kayak gitu juga alasan gue, Len. Si direktur itu udah tua, dan gue mau dijadiin istri keempat, ya gue ogahlah! Sejomblo-jomblonya gue, dan semiskin-miskinnya gue, gue nggak akan menggadaikan masa depan hanya demi harta. Hidup cuma sekali kok dibikin nggak enak, kan gue yang rugi," jelasku dengan menggebu.

Untung saja kafe lagi sepi, jadi bisa dipastikan tadi tidak ada yang mendengar penjelasanku.

"Wah, gil* tuh." Alena menggeleng-gelengkan kepalanya. "Keputusan lo itu bener banget, La. Gue juga nggak rela kalau lo dijadiin istri keempat, apalagi sama aki-aki."

"Makanya gue lagi kesel banget nih, Len, dipecat cuma karena ketidak profesionalan si direktur. Mana gue nggak dikasih pesangon lagi," gerutuku.

"Tanpa pesangon? Wah, bener-bener son**ng tuh bos lo. Masa perusahaan besar mecat karyawan dengan seenaknya hanya karena urusan pribadi, dan nggak dikasih pesangon lagi. Kalau gue jadi lo, udah gue maki-maki tuh direktur." Alena terlihat ikut kesal dengan masalahku.

"Tuh tu* ba**ka emang nyebelin banget. Padahal perusahaan itu bukan miliknya, dia cuma jadi direktur doang."

"Kalau gitu, kenapa lo nggak aduin aja sama pemilik perusahaan?"

"Gue nggak tahu siapa pemilik perusahaannya, Len. Nggak pernah liat orangnya juga, padahal udah tiga tahun kerja di sana."

"Ya udah, La, lo sabar aja, siapa tau ini yang terbaik buat hidup lo. Gue pikir-pikir kalau lo tetep kerja di sana juga nggak enak, karena pasti tuh direktur bakalan ngelakuin sesuatu yang lain ke lo."

"Iya juga ya." Aku mengangguk sambil menerawang. Benar juga apa yang dikatakan Alena. Si direktur tua bangka itu nggak bakalan diam saja kalau aku tetap kerja di sana. Bisa jadi dia malah berbuat yang nggak baik ke aku. Kalau gitu, lebih mending dipecat kan?

"Eh, La, tapi lo jangan khawatir, di kantor gue lagi ada lowongan kok, tepatnya di divisi yang sama kayak gue. Ya, meskipun cuma di bagian marketing, nggak kayak jabatan lo di mantan kantor lo. Terus, lo juga tau sendirilah, kalau kantor gue bukan perusahaan besar seperti mantan kantor lo," terang Alena.

Mendengar Alena bilang di kantornya ada lowongan, seketika membuatku seperti mendapat angin segar. Senyum pun terbit dari bibirku.

"Wah, serius lo? Gue mau kok, Len. Nggak masalah kerja di bagian apa aja, yang penting halal plus gue nggak jadi pengangguran," ucapku antusias.

"Ya udah, kalau gitu besok lo dateng aja ke kantor gue bawa surat lamaran. Kalau gue tebak sih, lo bisa langsung diterima, secara pengalaman lo kerja di perusahaan besar itu tiga tahun."

=========================

Selesai nongki bareng Alena, aku pun pulang. Tentu saja sendirian karena Alena tadi dijemput pacarnya. Lagian juga nggak mungkin bareng, karena tempat kost-ku, dan Alena berbeda arah.

Untungnya, kost tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari kafe tadi, dan tidak jauh juga dari mantan kantor. Sengaja aku menyewa kost yang dekat sama kantor, biar irit ongkos. Eh, sekarang malah dipecat. Gondok banget sumpah!

Berjalan dengan santai, dan perasaan yang sedikit sudah lebih baik, aku pulang menuju tempat kost.

Sebenarnya sih, pengin sambil nyanyi, tapi karena ini di pinggir jalan raya, maka aku mengurungkan keinginanku itu. Bisa-bisa nanti dianggap orang tidak waras.

Lagi asyik-asyiknya jalan, tiba-tiba saja bajuku basah karena terciprat oleh sebuah mobil yang lewat.

"Kurang aja* tuh mobil," rutukku. "Nih, rasain sepatu gue." Aku pun melepas sepatu, lalu langsung saja aku lemparkan ke arah mobil itu.

Dan ....

Kena kaca belakangnya?

Kok bisa?

Kirain tidak akan mengenai bagian kacanya. Meskipun tidak sampai membuat kaca mobil bagian belakang itu pecah, tapi seketika aku takut.

Lalu mobil itu seketika berhenti. Duh, sial! Pasti habis ini aku akan dimaki-maki sama si pemilik mobil itu.

Gawat!

Aku harus apa ini?

Badanku sudah gemetaran, jantung juga rasanya mau keluar dari tempatnya. Aku benar-benar ketakutan.

Takut diminta ganti rugi, takut dituntut, dan hal lainnya yang mungkin saja akan dilakukan oleh si pemilik mobil itu.

Karena saking takutnya, dan saking tidak bisa berpikir jernih, akhirnya aku memutuskan untuk berbaring di atas tanah. Tepatnya sih, pura-pura pingsan.

Semoga saja dengan kepura-puraan ini, si empunya mobil tidak akan memaki-makiku, dan tidak akan meminta ganti rugi.

To be continued

Bab 2

Satu.

Dua.

Tiga.

Dalam hati aku menghitung, namun tak kunjung ada tanda-tanda si pemilik mobil tadi menghampiriku. Tepatnya, nggak ada suara jejak kaki orang mau menghampiriku yang saat ini lagi pura-pura pingsan.

Eh, tapi harusnya aku seneng dong, karena itu berarti aku nggak jadi dimarahi sama si empunya mobil, gara-gara kaca mobilnya aku lempari sepatu.

Sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba kudengar suara langkah kaki yang kayaknya lagi berjalan ke arahku. Hmm ... mungkin si pemilik mobil.

Mataku terus terpejam, sedangkan suara langkah kaki itu semakin mendekat.

Sebenarnya nggak tahan dengan posisi seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, kalau nggak kayak gini, aku bakal diomelin.

"Walah, kok malah pingsan toh. Bukannya ini tadi yang lempar sepatu ke kaca mobil, ya?" Dari suaranya, aku bisa tebak kalau yang ngomong ini laki-laki yang sudah cukup berumur. Dan dari suaranya juga, aku yakin kalau aku nggak bakal dimarahi, meskipun aku nggak pura-pura pingsan begini.

"Pak Suyuti ...." Terdengar suara teriakan orang dari jauh. Aku nggak tahu siapa, kan aku lagi pura-pura pingsan.

"Iya, Tuan." Ooh, ternyata orang yang lagi melihatku ini namanya pak Suyuti.

"Ini orangnya pingsan, Tuan," adu pak Suyuti.

"Udah, biarin aja, paling cuma pura-pura. Ayo cepat berangkat," kata orang di sana yang dari tadi dipanggil 'tuan' oleh pak Suyuti. Ternyata si 'tuan' itu bisa tahu kalau aku cuma pura-pura pingsan.

"B-baik, Tuan," jawab pak Suyuti, yang kemudian berjalan menjauh dari posisiku pura-pura pingsan.

"Haah ...." Aku bernapas lega. Akhirnya aktingku berhasil.

Setelah terdengar suara mobil melaju, aku pun membuka mata, dan langsung bangun dari kepura-puraan.

Tunggu ... ada sesuatu yang mengusikku dari tadi. Tepatnya semenjak mendengar suara seseorang yang dipanggil 'tuan' oleh pak Suyuti tadi. Kok kayaknya aku familiar dengan suara itu ya? Tapi siapa?

Bodo amat deh, yang penting aku selamat dari caci maki si pemilik mobil itu. Meskipun seharusnya sih, aku yang maki-maki tuh orang gara-gara udah bikin bajuku basah.

=========Aufa=========

Pagi ini aku sudah rapi, dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor tempat Alena kerja. Di sana aku mau melamar pekerjaan, seperti yang dikatakan Alena kemarin, kalau di sana lagi buka lowongan.

Semalam aku sudah menyiapkan surat lamaran kerja, beserta berkas-berkas yang dibutuhkan. Aku juga melampirkan surat pengalaman kerja dari mantan kantor kemarin. Untungnya, kemarin pak Bambang bersedia ngasih surat pengalaman kerja.

"Oke, Alula, you look so perfect," kataku di depan cermin dengan penuh percaya diri.

Dengan wajah yang lumayan good looking ini, membuatku tidak perlu bersusah payah buat pakai make up. Lha wong sudah cantik dari lahir kok. Ditambah lagi warna kulitku yang pada dasarnya putih.

Eh, aku bukannya sombong ya, dengan mengaku kalau aku good looking. Tapi, emang banyak kok yang bilang gitu ke aku, terlebih kaum adam, dan barisan para mantan. Eh!

Aku cuma pakai krim siang sama sunscreen saja, ditambah lipstik berwarna soft. Simpel tapi cukup elegan. Ya, itu sih menurutku, nggak tahu kalau orang lain.

Kemeja putih dengan dilapisi blazer berwarna hitam, serta celana bahan hitam panjang, menjadi outfit-ku hari ini.

Aku tipe orang yang nggak suka tampil terbuka, apalagi pakai rok di atas lutut, itu nggak pernah aku lakukan selama menjadi orang kantoran. Meskipun belum berhijab, setidaknya aku masih berpenampilan sopan.

"Drrt ... drrt ...." Ponselku bergetar, segera kumenyambarnya, dan ternyata Alena yang menelpon.

"Iya, Len."

"La, lo jadi nggak ngelamar kerja di tempat gue?" tanya Alena.

"Iya jadilah, ini gue udah siap-siap, bentar lagi berangkat," jawabku.

"Ya udah, lo tunggu gue jemput ya."

"Eh, nggak usah, Len, gue bisa berangkat sendiri kok. Lagian kost-an lo kan udah deket ke kantor, masa mau jemput gue dulu, entar lo bisa telat lho."

"Nggak papa kali, kek sama siapa aja. Kost lo tuh jauh dari kantor, La. Lo juga nggak ada kendaraan kan? Jadi lebih baik gue jemput aja."

"Ya udah deh, terserah lo."

Oke, aku nggak akan nolak rejeki dari orang yang mau ngasih tumpangan. Lumayan kan, irit ongkos.

=========Aufa=========

"Wah, ternyata kantor lo udah berubah ya, Len. Dulu kan belum segede gini waktu gue sering lewat sini," ucapku setelah sampai di parkiran kantor.

"Bukan kantor gue, La," kata Alena sambil ngaca di spion motor miliknya.

"Ya, maksudnya kantor tempat lo kerja, Alena ...!" geramku.

"Hehehe ... bercanda aja kali, La. Udah yuk masuk, entar gue tunjukin ke resepsionis." Alena menggandeng tanganku, dan kami pun mulai memasuki kantor.

"Permisi Mbak Nela yang cantik," ucap Alena ketika kami sampai di depan meja resepsionis.

"Iya, Alena, ada apa?" Si mbak resepsionis yang bernama Nela itu tersenyum ramah.

"Ini Mbak, ada temenku yang mau ngelamar kerja di sini." Alena menunjukku, dan aku pun tersenyum ke arah mbak Nela.

"Ooh, mau melamar kerja ya?" Aku mengangguk.

"Silakan duduk dulu ya, Mbak, soalnya bagian HRD yang mau interview belum datang." Mbak Nela menunjukkan sebuah sofa panjang di sebelah meja resepsionis.

"Terima kasih, Mbak." Aku pun menuju sofa itu lalu mendudukinya.

"La, gue masuk kerja dulu ya. Selanjutnya lo bisa ngikutin arahan dari mbak Nela," ujar Alena.

"Ya udah sana. Kerja yang rajin ya, jangan mikirin jodoh mulu."

Alena mencebik tanpa menjawab gurauanku, lalu ia mulai pergi meninggalkanku di sini.

==========Aufa==========

"Saudari Alula Maheswari, betul?" tanya orang di depanku, si ketua HRD di kantor ini.

Aku mengangguk. "Iya, Pak, saya Alula."

"Selamat Alula, kamu diterima bekerja di sini. Dan kamu bisa mulai bekerja esok hari."

Aku dibuat melongo seketika.

Beginikah cara masuk di perusahaan Alexander Corp? Tanpa tes atau wawancara terlebih dulu? Bahkan baru sekitar semenit yang lalu aku masuk ke ruangan ini.

"Bagaimana, Alula, kamu bersedia kan, bekerja di perusahaan ini?"

"Eh? Oh, ya jelas bersedia dong, Pak, saya kan lagi butuh kerjaan. Tapi kok, Bapak nggak interview saya dulu sih, cuma lihat CV saya doang," ucapku melontarkan unek-unek.

"Iya, saya nggak perlu interview kamu lebih lanjut. Dengan melihat berkas lamaran kamu yang disertai pengalaman kerja di perusahaan Wijaya Company, saya yakin kamu ini orang yang cukup kompeten. Jadi tanpa pikir panjang, kamu saya terima bekerja di sini."

Senyumku mengembang. Ternyata modal surat pengalaman kerja dari mantan tempatku bekerja kemarin, memudahkanku untuk diterima di sini.

"Serius nih, Pak?" tanyaku memastikan.

Si bapak ketua HRD itu mengangguk mantap.

Yeye ... akhirnya dapat kerja lagi, dan nggak jadi jadi pengangguran.

=============Aufa==========

"Hah? Serius lo langsung diterima gitu aja tanpa ditanyain macem-macem?" tanya Alena setelah aku ceritakan tentang kabar diterimanya aku bekerja di perusahaan yang sama dengannya.

"Iya, sebenarnya gue juga heran sih, masa cuma bermodal surat pengalaman kerja dari Wijaya Company aja, udah bikin gue diterima kerja dengan mudahnya."

"Ye ... Wijaya Company kan perusahaan gede, La. Lo aja dulu berjuang mati-matian kan, biar bisa kerja di sana."

Aku mengangguk. "Hu'um, gajinya juga gede, makanya gue betah kerja di sana. Sayangnya, si direkturnya itu yang ganjen. Andai kalau gue tau siapa sebenarnya owner perusahaan itu, udah gue aduin tuh sikap semena-menanya direktur t*a b**gka itu, dan pastinya sekarang gue masih kerja di sana."

"Ya udahlah, La, lupain aja, yang penting kan sekarang lo udah dapet kerjaan lagi, sekantor lagi sama gue. Coba lo inget deh, udah tiga tahun semenjak kita lulus kuliah, kita udah jarang sama-sama lagi, La," ujar Alena.

"Iya juga, ya."

"Eh, La, mending sekarang lo siap-siap, terus bawa baju buat kerja besok sama perlengkapan-perlengkapan yang lainnya."

Aku mengernyitkan dahi. Bingung dengan ucapan Alena. "Buat apa? Emangnya kita mau ke mana?"

"Ke kost gue. Malam ini mendingan lo nginep di tempat gue. Gue kangen pengin ngobrol panjang lebar sama lo."

"Ck! Ya, tinggal lo yang nginep di sini aja, napa jadi gue yang repot," protesku.

Alena memutar bola matanya. "Tempat kost gue lebih deket ke kantor, dan besok hari pertama lo masuk kerja, jadi mending lo nginep di tempat gue aja, biar besok gue nggak jemput lo dulu ke sini."

"Ya, lo nggak perlu jemput gue besok," kataku yang masih ogah-ogahan menuruti kemauan Alena.

"Lo mau berangkat kerja naik angkot? Di hari pertama masuk? Serius?"

Aku mengangguk mantap. "Iyalah, emang mau naik apa lagi? Motor gue kan udah di kampung."

"Oh, ayolah Alula, temen gue yang banyak mantannya. Gue tau lo itu kurang disiplin, apalagi kantor cukup jauh dari sini. Gue yakin kalau lo besok bisa telat kalau berangkat dari sini."

Si*lan Alena, masih aja inget kebiasaan burukku.

"Oke, deh, gue ikut lo sekarang." Akhirnya aku mengalah buat ikut kata Alena.

Tanpa membuang waktu lagi, aku pun menyiapkan apa-apa saja yang buat bekerja esok hari.

Setelah semua siap, aku dan Alena pun pergi meninggalkan kost-anku menuju tempat Alena.

Sepulang kerja tadi, Alena langsung mampir ke kost-anku, sedangkan aku langsung pulang ketika selesai bertemu dengan ketua HRD tadi, tanpa menunggu Alena. Ya kali nunggu Alena sampai sore.

=========Aufa=========

"Len, lo bawa motornya santai amat sih," protesku sedikit berteriak. Maklumlah, ini lagi di jalan raya, banyak suara kendaraan, ditambah lagi Alena juga pakai helm, takutnya nggak denger aku ngomong apa.

"Lo kayak nggak tau aja, La. Gue kan masih takut bawa motor semenjak kecelakaan waktu itu," jawabnya.

"Ya udah sini, biar gue aja yang bawa motor. Kita menepi dulu," usulku.

"Nggak, nggak, nggak. Gue paham betul kalau lo bawa motornya kayak setan. Takutnya lo malah bikin kita kecelakaan."

"Ck! Dasar lo! Kalau kek gini, kapan sampainya coba?"

"Udah, lo nikmati aja, anggep lagi nikmati pemandangan sore hari," jawab Alena santai.

Dasar nih orang.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku ngikutin aja sama si empunya motor. Kalau aja aku yang nyetir, udah pasti sampai di tempat dari tadi.

Karena ada lampu merah, Alena pun menghentikan motornya.

Aku menoleh ke samping kanan, dan ... ya ampuun ... kok ada mobil mewah yang kemarin sih?

Gimana ini?

Bab 3

.

Dasar nih orang.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku ngikutin aja sama si empunya motor. Kalau aja aku yang nyetir, udah pasti sampai di tempat dari tadi.

Karena ada lampu merah, Alena pun menghentikan motornya.

Aku menoleh ke samping kanan, dan ... ya ampuun ... kok ada mobil mewah yang kemarin sih?

Gimana ini?

Eh, tapi yang punya mobil mewah seperti itu kan bukan cuma orang yang kemarin aja, tentu ada banyak orang yang bisa memiliki mobil seperti itu kan?

Sebodo amatlah itu mobil orang yang kemarin atau bukan, yang pasti, untuk menghindari sesuatu yang nggak diinginkan, lebih baik aku segera memalingkan wajah ke sisi kiri.

Beruntung, tak lama kemudian traffic light berubah jadi warna hijau, dan Alena pun segera menjalankan motornya kembali.

Beruntungnya lagi, kulihat mobil itu berjalan mendahului motor yang sedang kutumpaki ini.

Huuh ... selamat, selamat. Aku mengelus dada, lega. Keadaan kembali berpihak padaku.

"La, lo kenapa, kok dari tadi diem mulu, nggak biasanya?" tanya Alena dengan suara kerasnya. Maklum, masih di jalan raya.

"Nggak papa, cuma lagi latihan jadi pendiem aja," jawabku asal. Nggak mungkin dong, mau kasih tahu ke Alena tentang apa yang aku resahkan dari tadi, nanti dia bisa ngetawain aku, lagi.

"Caela, seorang Alula pengin jadi pendiem? Sampai kiamat gue nggak bakalan percaya!" cibir Alena.

===========Aufa=========

"Alulaaa ... bangun woooy ...." Teriakan Alena yang kebetulan tepat di samping telingaku, sontak membuatku kaget. Aku yang tadinya masih terbuai mimpi, refleks jadi terduduk meski mata masih enggan terbuka.

"Apaan sih, lo, Len, gangguin orang tidur aja!" kataku kesal. Gimana nggak kesal coba, orang lagi enak-enak tidur eh, malah dikagetin gitu.

"Ck! Lo tuh kebiasaan ya, ini tuh udah jam enam pagi, sejam lagi kita berangkat kerja. Bisa telat kalau jam segini lo belum bangun, mana ini hari pertama lo masuk kerja, kalau sampai telat, bisa-bisa lo dicancel jadi karyawan di kantor gue." Omongan Alena yang lagi ngomel-ngomel itu persis seperti ibuku kalau lagi merepet. Duh, jadi kangen ibu di kampung.

"Untung aja gue ajak lo buat nginep di sini, jadi lo ada yang bangunin. Coba kalau lo kekeuh di kost-an lo, beneran hari ini lo bisa telat," tambah Alena.

"Iya, iya, bawel! Nih, gue mau mandi." Dengan enggan, aku bangkit dari kasur. Berjalan dengan masih sedikit menutup mata menuju kamar mandi.

=========Aufa=======

"Len, ini gue kerja di bagian apa ya?" tanyaku pada Alena, ketika kami sampai di lobi kantor.

"Lho, kok malah lo tanya ke gue sih? Ya mana gue tau lah. Emangnya lo kemarin nggak tanya sama pak Angga?"

"Pak Angga siapa, Len?"

Alena memutar bola matanya. "Pak Angga itu ketua HRD di kantor ini, yang kemarin interview lo."

"Ooh ... yang itu ...." Aku mengangguk paham. "Gue nggak dikasih tahu kerja di bagian apa."

"Ck! Terus lo nggak tanya gitu?"

"Enggak. Soalnya gue kemarin lupa buat tanya. Saking senengnya gue bisa diterima kerja tanpa interview macem-macem," jawabku.

Sahabatku itu menghembuskan napas kasar. "Dasar pe'a! Harusnya lo tanya dodol!" Alena menjitak kepalaku.

"Ya, namanya juga lupa," ujarku membela diri.

"Gue mau masuk ke ruangan divisi gue. Lo di sini aja dulu, nanti lo tanya sama mbak Nela, lo ditempatin di bagian apa."

"Kata lo waktu itu di sini lagi butuh karyawan yang sama di divisi lo. Jadi, mungkin kerja gue bareng sama lo."

"Belum tentu, soalnya di sini juga lagi butuh sekretaris buat CEO. Jadi, mungkin aja lo diterima jadi sekretaris CEO, mengingat pengalaman kerja lo di perusahaan Wijaya Company," tutur Alena.

"Iya juga sih. Tapi, gue nggak yakin bakal jadi sekretaris CEO, tepatnya nggak minat sih," kataku.

"Ya udah deh, mending lo di sini dulu. Nanti kalau mbak Nela udah ada, lo tanya aja ke dia," saran Alena yang kemudian melangkah pergi meninggalkanku.

=========Aufa========

Tak lama setelah kepergian Alena, mbak Nela pun datang. Dia langsung menempati meja resepsionis tempatnya bertugas. Sepertinya dia tidak melihat keberadaanku yang sedang duduk manis di sofa lobi ini.

Aku bangun dari duduk, lalu menghampiri meja resepsionis. Tentu tujuanku bertanya pada mbak Nela, seperti arahan dari Alena tadi.

"Selamat pagi, Mbak Nela," sapaku dengan nada seramah mungkin, disertai senyuman.

"Ooh, selamat pagi, Alula," balasnya ramah. Kemarin kami memang sempat berkenalan seusai aku diinterview di ruang ketua HRD, maka dari itu mbak Nela tahu siapa namaku. "Hari ini kamu sudah mulai bekerja ya?"

"Iya, Mbak. Tapi kemarin nggak dikasih tahu di bagian apa, soalnya aku asal aja bikin surat lamaran kerja tanpa mencantumkan posisi yang mau aku lamar. Terus, kemarin aku juga lupa nanyain sama pak Angga," terangku.

"Ooh, gitu ...." Mbak Nela mengangguk. "Ya udah, ayo aku anterin kamu ke ruangannya pak Angga."

=========Aufa========

Setelah menanyakan pada pak Angga perihal bagian apa aku ditempatkan di kantor ini, akhirnya aku mendapat jawabannya.

Aku ditempatkan di bagian yang sama dengan Alena, divisi marketing. Hal ini jelas membuatku senang, karena itu berarti aku bisa lebih cepat beradaptasi dengan orang di divisi ini, sebab salah satunya adalah sahabat karibku.

"Selamat pagi semua," ucap pak Angga begitu masuk di ruang divisi marketing. Aku kini berada di belakangnya.

"Pagi, Pak ...," jawab para karyawan di divisi ini dengan serentak. Kulihat mereka sedang memperhatikanku dari kubikel masing-masing. Eh, tepatnya memperhatikan pak Angga juga.

"Hari ini saya mau memperkenalkan karyawan baru di perusahaan ini, yang akan bekerja sama dengan kalian di divisi ini," terang pak Angga yang membuat orang-orang di ruangan ini semakin memperhatikanku. "Alula, ayo sini." Pak Angga memberi kode agar aku berdiri di sampingnya. Aku pun menurut.

"Ayo, silakan perkenalkan diri," perintah pak Angga padaku.

"Hai teman-teman semua, perkenalkan saya Alula ...."

========Aufa========

Sebagai karyawan baru di perusahaan ini, tak membuatku kesulitan untuk berteman dengan orang-orang di sini. Bukan saja karena Alena yang sudah lama kukenal, tetapi karena kebanyakan dari mereka itu ramah-ramah, dan humble, terutama yang satu ruangan denganku.

Baru beberapa jam saja berkenalan, aku sudah merasa nyaman dengan mereka. Obrolan ngalor ngidul tentu saja terjadi di antara kami. Seperti halnya saat ini aku yang sedang berada di kantin kantor, bersama Alena, dan dua teman baruku--Tere, dan Gio.

Jam makan siang ini kami memilih untuk makan di kantin kantor. Katanya sih, tiga temanku ini biasanya makan siang di restoran yang letaknya berada di seberang kantor, tapi berhubung di luar sedang hujan lebat, jadi terpaksa makan di sini.

"La, lo tuh beneran kocak ya," kata Gio setelah tadi kami ketawa-ketiwi ngobrolin yang nggak jelas. "Jangan-jangan karena lo ketularan si Alena, lagi, kan katanya kalian temenan udah lama."

"Enak aja! Yang ada gue yang ketularan Alula," protes Alena. "Gue tuh aslinya pendiem tau!"

Ucapan Alena tadi sontak membuat kami tertawa. Siapa yang akan percaya dengan pernyataannya barusan?

"Iyain aja deh, takut lo gantung diri," kata Gio di sela tawanya. Tentu itu membuat Alena semakin kesal.

"Udah, udah, kalian berdua tuh kalau lagi bareng nggak pernah akur mulu," ucap Tere menengahi, sedang aku masih sedikit tertawa sambil melihat ekspresi Alena, dan Gio bergantian.

Mereka berdua itu lucu, dan sepertinya ada sesuatu. Kayaknya aku harus menanyakan ini pada Alena.

=========Aufa=========

"Len, lo ada hubungan apa sama Gio?" tanyaku yang spontan membuat Alena menghentikan kegiatannya yang sedang memoles bedak pada wajahnya.

Saat ini aku dan Alena sedang berada di toilet, dan hanya kami berdua saja yang ada di sini, jadi aku bebas bertanya macam-macam sama Alena.

"Kita temenan, La," jawabnya singkat, namun aku menangkap ada yang aneh dari nada Alena ngomong.

"Serius?" Kutatap mata Alena lekat, mencari kebenaran darinya.

Alena menghembuskan napasnya berat, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Bukannya aku mau ikut campur sih, tapi sebagai sahabat, aku wajib tahu dong tentang keduanya, biar ke depannya aku lebih enak dalam bersikap.

"Sebenarnya gue udah lama suka sama Gio, La, sejak pertama gue kerja di sini," ungkap Alena yang seketika membuatku membelalakkan kedua mataku. "Sayangnya, dia suka sama orang lain."

Aku mengelus bahu Alena,memberi kekuatan. "Sabar ... kalau jodoh pasti nggak akan ke mana kok." Alena hanya mengangguk.

======Aufa======

Nasib jadi anak baru ya gini, dikit-dikit disuruh, mau membantah nggak mungkin karena yang nyuruh si ketua divisi--bu Indira, yang konon katanya masih jomblo di umurnya yang sudah menginjak kepala tiga. Kebanyakan marahin karyawan sih, jadinya banyak kan yang doain biar jomblo terus, eh!

Seperti saat ini, aku disuruh buat memfotokopi beberapa berkas yang lumayan tebal, dan cukup berat dibawa olehku yang kebetulan bertubuh mungil nan imut, dan cantik ini.

Sebenarnya sih, di ruang divisi ada mesin fotokopi, tapi berhubung lagi rusak, dan belum diperbaiki, akhirnya dengan sangat terpaksa aku harus bawa berkas-berkas ini ke lapak fotokopi yang ada di sebelah kantor. Mau nebeng fotokopi di ruang divisi lain jelas nggak mungkinlah, malu!

"Duh, berat amat sih," gerutuku begitu turun dari lift. Saat ini aku berada di lobi kantor, niatnya sih, pengin minta bantuan sama mbak Nela buat bantu bawain, eh, malah orangnya nggak ada di tempat. Terpaksa harus bawa sendiri sampai ke tempat kang fotokopi.

Berjalan dengan pelan, sesekali lihat ke depan, sesekali lihat berkas yang sedang aku bawa dengan susah payah ini, takutnya ada yang terbang kebawa angin. Kan berabe kalau sampai gitu, bisa-bisa balik-balik nanti diomelin sama mak lampir alias bu Indira.

"Tumbenan banget nih lobi sepi, nggak ada satu orang pun. Mbak Nela nggak ada, pak satpam juga entah di mana rimbanya. Padahal kan pengin minta bantuan," kataku bermonolog sambil celingukan ke kanan, dan ke kiri.

Tiba-tiba ....

Bruk ....

Berkas-berkasku jatuh semua gara-gara nggak sengaja menabrak orang.

"Kamu jalannya pake mata nggak sih?!"

To be continue

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED