Bab 2

Semua pelayan keluar untuk menyambut kepulangan Levon, tetapi Scarlet tetap di lantai atas dan diam-diam mengawasi kedatangannya dari jendela kamar tidur.

Dia harus mengakui bahwa Levon begitu menawan dan seksi. Tubuhnya tinggi dan memiliki kaki yang panjang, dan keseluruhan bentuk tubuhnya proporsional. Tidak ada bagian yang bergelambir di tubuhnya, dan otot-ototnya ramping serta kuat.

Ya, Scarlet tahu sebanyak itu tentang fisik Levon karena dia telah merasakan tubuh itu sepenuhnya di malam yang mengubah segalanya itu.

Apa yang terjadi di antara mereka malam itu terasa sangat tidak nyata sampai Scarlet masih mengira itu semua hanya mimpi. Dia tidak tahu bagaimana harus memberi tahu Levon setelah dia kembali ke rumah keesokan paginya.

Wajah Levon tanpa cela, seolah-olah Tuhan sengaja menggunakan waktu yang lebih lama untuk memahat wajahnya dengan hati-hati. Dia terlihat sangat tampan, tangguh, dan tegas.

Tuhan sangat tidak adil. Levon tidak hanya dianugerahi dengan tubuh sempurna dan wajah tampan, tetapi juga kecerdasan tinggi dengan latar belakang pendidikan yang mengesankan.

Levon mendapat gelar sarjana hukum dan keuangan di usia remaja. Setelah lulus, dia mengambil alih bisnis keluarga. Bisnis tersebut berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, dan menjadi perusahaan raksasa komersial nomor satu di ibu kota. Beberapa tahun yang lalu, perusahaan itu merambah pasar luar negeri dan mampu berkembang dengan baik.

Setelah mereka menikah, Levon pergi ke luar negeri keesokan harinya. Alasan keberangkatannya karena perusahaan sedang memulai cabang baru dan dia harus fokus pada hal itu. Namun, sejak itu, dia tidak pernah pulang.

Scarlet tenggelam dalam pikirannya ketika dia tiba-tiba merasakan tatapan dingin Levon ke arahnya. Tertegun, dia segera menutup tirai dan menjauh dari jendela.

Dia tidak tahu apa yang membuatnya bereaksi seperti itu. Mungkin karena dia merasa tidak percaya diri di depan Levon.

Scarlet tidak disukai oleh keluarganya sendiri, yang merupakan akibat hasutan ibu tirinya. Jika dia tidak menikah dengan Levon, dia mungkin masih harus berperan sebagai pelayan pribadi ibu tirinya saat ini.

Pernikahan mereka terjadi berkat ibu kandung Scarlet yang pernah menyelamatkan nyawa nenek Levon.

Dia tahu bahwa meskipun Levon tidak menyukainya, pria itu tidak membencinya. Bagaimana pun juga, dia sadar akan posisinya dan selalu berperilaku baik.

Tiba-tiba, seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.

"Nyonya, Tuan Fabianto telah kembali, dia ingin Anda makan malam bersamanya di lantai bawah."

Scarlet bergegas turun. Di ruang makan, meja telah ditata dan hidangan sudah disajikan.

Levon duduk di salah satu ujung meja makan yang panjang. Scarlet menuju ujung lain meja di mana sebuah tempat telah disiapkan untuknya.

Mereka berdua menyukai hidangan yang berbeda. Mengingat ini adalah perayaan kepulangannya, semua hidangan yang disajikan sesuai dengan kesukaannya.

Melihat steik setengah matang yang masih berwarna kemerahan di piringnya, Scarlet refleks mengerutkan hidung.

"Kenapa?" tanya Levon yang menatapnya sambil sedikit mengernyit.

"Steikku masih ada darahnya," jawab Scarlet. Dia tidak terbiasa dengan steik yang tidak dimasak sampai matang. Belum lagi, nafsu makannya agak menurun akhir-akhir ini, mungkin dikarenakan cuaca yang panas.

"Beri dia steik yang matang."

"Terima kasih." Scarlet mengucapkan terima kasih dengan suara rendah.

Selama makan, tak satu pun dari mereka berbicara. Mereka begitu acuh terhadap satu sama lain, seolah-olah mereka bukan pasangan suami-istri. Mereka tampak seperti dua orang asing yang kebetulan makan di meja yang sama.

Selesai menyantap makanannya, Levon mengambil serbet dan menyeka bibirnya. Melihat itu, Scarlet menarik napas dalam-dalam setelah sempat ragu-ragu sejenak, lalu dia membulatkan tekad untuk memberitahunya apa yang telah terjadi malam itu.

"Levon."

"Scarlet."

Keduanya berbicara pada saat yang bersamaan.

Sambil menatapnya, Scarlet berkata dengan gugup, "Kamu bicaralah lebih dulu."

Levon tidak menolak dan langsung berbicara. "Scarlet, aku ingin bercerai."

Kalimat pendek itu bergema di kepala Scarlet selama beberapa saat.

Saat itu, seorang pelayan masuk dan menyerahkan sebuah dokumen perceraian padanya. Levon sudah menandatanganinya. Tulisan tangannya indah, seperti seorang penulis kaligrafi berpengalaman.

Namun, Scarlet sudah tidak berminat untuk mengaguminya lagi.

Distribusi properti adalah hal terpenting yang perlu diselesaikan selama proses perceraian.

Scarlet langsung membahas kesepakatan itu. Dia akan mendapatkan dua properti setelah bercerai, yaitu sebuah toko dan sebuah apartemen. Keduanya berada di lokasi strategis dengan kisaran harga pasar yang mencapai puluhan miliar rupiah.

Selain itu, dia akan menerima uang 100 miliar sebagai bentuk kompensasi serta sebuah perusahaan kecil yang menghasilkan laba bersih tahunan di angka miliaran rupiah.

Tampaknya tidur sekali dengan Levon mampu menghasilkan kesepakatan yang adil.

Namun, Scarlet lebih penasaran dengan alasan Levon yang ingin menceraikannya. Jadi, dia menutup folder yang berisi dokumen perceraian dan menatapnya dengan berani untuk pertama kalinya.

Levon membalas tatapannya dengan intensitas yang sama.

Ini pertama kalinya Levon melihat wajah Scarlet dengan cermat. Wajahnya kecil dan halus. Matanya besar dan indah, berbinar cerah seperti sepasang permata. Tatapan murni dan polos di matanya mengingatkannya pada genangan air yang jernih.

Dia sangat kurus, seolah-olah keluarganya memperlakukannya dengan buruk.

Entah mengapa ... sosoknya terlihat mirip dengan wanita yang ditemuinya malam itu.

Jika Levon bertemu dengan wanita itu lagi, dia pasti akan membuatnya menjadi lebih gemuk. Wanita itu terlalu kurus, yang membuatnya bersimpati padanya.

"Bolehkah aku bertanya apa alasannya?" tanya Scarlet.

"Karena aku memiliki orang lain di hatiku," ungkap Levon dengan jujur.

Bab 3

Pernikahannya dengan Scarlet adalah pernikahan yang tidak didasari oleh cinta, alasan kenapa dia melakukannya adalah karena dia tidak ingin ibunya merasa serba salah menghadapi neneknya. Jadi, demi ibunya, Levon terpaksa menikahinya. Dan sejak saat itu, hubungan antara ibunya dan neneknya menjadi lebih baik.

Sekarang, karena kesehatan neneknya berangsur-angsur memburuk, dia tidak lagi memiliki cukup energi untuk mempersulit ibunya. Ditambah lagi, Levon ingin menemukan dan menikahi wanita yang menyelamatkannya malam itu. Jadi, dia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Scarlet.

Scarlet masih muda dan masih berkuliah. Selama ini pernikahan mereka telah dirahasiakan sehingga tidak berdampak pada kehidupannya.

Setelah bercerai, Scarlet juga akan mendapatkan banyak uang, yang cukup baginya untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan damai dan stabil.

Selain itu, Scarlet juga tidak menyukainya. Ini adalah kali kedua mereka bertemu. Lagi pula, siapa juga yang akan menyukai seseorang yang baru ditemui dua kali?

Mendengar perkataan Levon, entah kenapa hati Scarlet merasa sedikit sesak. Ternyata, Levon sudah memiliki orang yang disukainya.

Scarlet berpikir, jika begitu dia tidak perlu lagi memberi tahu Levon bahwa wanita yang bersamanya malam itu adalah dirinya agar tidak membuatnya merasa tidak nyaman.

Lagi pula, bukankah ini yang dia inginkan? Bukankah waktu itu dia pergi ke luar negeri untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan Levon agar bisa bercerai dengannya? Dan sekarang, semuanya berjalan sesuai keinginannya.

"Baiklah, aku setuju," ucap Scarlet tanpa ragu, dia sedikit pun tidak mencoba untuk menolak.

Selama ini, Levon cukup baik padanya. Tambahan pula, apa yang terjadi malam itu bukanlah kesalahan Levon. Dia mungkin sedang berada di bawah pengaruh alkohol dan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mungkin saja Levon juga sangat menyesali apa yang telah dia lakukan.

Scarlet lalu mengambil pena dan menandatangani surat tersebut.

"Terima kasih banyak." Levon berterima kasih pada Scarlet karena dia tidak membuat masalah untuknya. Bisa dikatakan, ini adalah perpisahan yang damai.

Setelah makan malam, Levon langsung pergi. Dia tidak menginap di vila malam ini.

Sementara itu, Scarlet mulai mengemasi barang-barangnya setelah Levon pergi.

Keesokan harinya, Levon mengirim mobil untuk menjemputnya. Sebelum pergi, Scarlet menoleh kembali ke vila yang telah ditinggalinya selama setahun.

Saat pertama kali dia datang, tempat ini terasa sangat sunyi, dan sekarang tempat ini masih sangat sunyi. Tempat ini sama sekali tidak berubah. Dalam setahun ini, yang berubah hanyalah statusnya yang telah bercerai dan juga dirinya yang dari seorang gadis telah menjadi wanita dewasa.

Setelah mendapatkan surat cerainya, Scarlet berdiri di bawah sinar matahari dengan perasaan linglung.

Asisten Levon menepikan mobil di depannya, lalu Levon menurunkan kaca jendelanya, menatapnya dan berkata dengan tenang, "Aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu ... aku akan pulang naik taksi. Terima kasih karena telah merawatku selama setahun terakhir ini," jawab Scarlet sambil tersenyum.

Memangnya kenapa jika mereka tidur bersama untuk satu malam? Lagi pula, Levon telah memberinya sejumlah besar uang sebagai kompensasi.

Levon hanya menganggukkan kepalanya dan tidak memaksanya, kemudian menyuruh asistennya untuk menyetir. Scarlet yang masih berdiri di gerbang Biro Urusan Sipil pun mencoba memanggil taksi.

Meskipun sekarang sudah memasuki musim gugur, tapi cuaca masih terasa sangat panas. Sekarang waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi matahari sudah begitu terik sehingga membuat orang hampir tidak bisa membuka matanya.

Karena lokasi gedung biro urusan sipil agak terpencil, jadi sangat susah baginya untuk mendapatkan taksi.

Scarlet yang dari tadi berdiri di sana mulai berkeringat, setelah beberapa saat dia pun mulai merasa sedikit pusing. Segala sesuatu yang ada di depannya tampak kabur dengan perlahan, kemudian semuanya tampak gelap dan dia tidak sadarkan diri lagi.

Saat dia terbangun, dia mendapati dirinya sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Seseorang telah berbaik hati dan membawanya ke rumah sakit.

"Apa ... apa yang terjadi padaku?" tanyanya pada perawat rumah sakit.

"Kamu terkena serangan panas, untung saja kamu tidak apa-apa. Saat ini kamu sedang hamil, jadi kamu harus lebih memerhatikan kesehatanmu. Untung saja bayimu baik-baik saja dan dalam keadaan sehat. Kamu sudah bisa pulang setelah beristirahat sebentar."

"Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Scarlet sambil meraih tangan perawat tersebut, jantungnya berdebar sangat kencang.

"Aku bilang kamu terkena sengatan panas."

"Tidak, bukan yang itu. Kamu berkata aku hamil, apa maksudmu?"

"Kamu sedang hamil, apa kamu tidak tahu? Sudah tiga bulan, tidak mungkin kamu tidak tahu."

Scarlet langsung terperangah, hatinya bagaikan disambar petir.

Selama ini menstruasinya memang tidak teratur, kadang-kadang, dia bahkan tidak mendapatkan menstruasi selama berbulan-bulan, jadi dia sama sekali tidak terlalu memikirkan hal ini.

Selain itu, dia juga langsung meminum pil setelah dia berhubungan dengan Levon, jadi dia tidak mungkin bisa hamil.

"Tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil, aku sudah minum pil kontrasepsi."

"Pil kontrasepsi tidak seratus persen efektif, masih ada peluang tiga persen untuk hamil. Tindakan keamanan apa pun juga tidak akan seratus persen bisa berhasil. Tidak ada jaminan tidak akan hamil," jelas perawat itu.

Setelah mendengar apa yang dikatakan perawat itu, Scarlet kembali merasa pusing dan kemudian pingsan lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED