“Gak bisa, Leo! Kamu gak bisa memutuskan ini secara sepihak! Apa kamu lupa? Kita sudah pacaran lama. Masa kamu tega ninggalin aku?!”
Danu membelalak terkejut. Kutahu keputusan ini pasti akan berat baginya. Tetapi ini adalah pilihanku, aku pun mengangguk. Danu menggeleng.
“Enggak, Leo! Kamu jangan bercanda. Ini sama sekali gak lucu.”
“Aku gak bercanda, aku mau bertaubat” tukasku segera.
“Hah? Bertaubat? Bertaubat dari apa? Maksud kamu apa?”
Danu mendengus dengan nada menghina. Tetapi aku tahu dia kecewa. Namun sekali lagi, ini sudah menjadi pilihanku. Perlahan kuberi ia pengertian.
“Danu, aku gak bisa begini terus. Usiaku sekarang sudah hampir tua. Aku harus menikah. Aku ingin punya anak.”
Danu seketika gusar.
“Hah? Bisa apa kamu? Kamu ‘kan gak selera sama perempuan, ‘kok sekarang malah sok-sokan mau nikahin perempuan! Bukannya kita udah janji akan terus bersama sampai mati?”
“Enggak. Itu salah, Danu. Itu sebuah kesalahan. Pokoknya aku mau kita putus. Aku mau berubah, aku mau hijrah!”
“Hijrah?! Haha!”
Danu tertawa dengan nada mencemooh.
“S*alan!”
Danu mengumpat dan…
BRRAAAAK!!
“B*ngsaaaaat!”
Dia meninju loker di belakangku hingga nyaris mengenai kepalaku.
“Leoo!”
Danu berteriak. Urat di keningnya mengencang, dan aku tahu bagaimana perangai Danu saat marah.
“Langkahi dulu mayat gue! Kalo gue kalah, oke kita putus. Tapi kalo gue yang menang, gue gak akan biarin lu jadi milik orang lain!"
Dia mengancam. Sebagai lelaki, kami sama-sama penyuka seni bela diri. Dan level ilmu karate Danu lebih tinggi dariku. Dia termasuk senior.Tubuhnya juga lebih besar dan kekar. Selain senior, wajah Danu juga sangat tampan. Banyak perempuan menyukainya. Namun tidak semua orang tahu rahasia Danu. Danu sangat mencintaiku. Dan dalam urusan ranjang, Danu lemah seperti wanita, sehingga aku lah yang selalu berperan menjadi laki-lakinya.
“Elo denger gue, gak?! Kita keluar sekarang! Mumpung orang-orang udah pada pulang! Di dojo ini, kita harus duel sampe mati!”
Danu menatap bengis. Seutas ban hitam melingkar di pinggangnya. Namun, demi harga diri dan pertaubatanku, nekat kuterima tantangannya. Kuikuti dia hingga ke tengah ruangan latihan. Lalu di atas lapisan matras ini, kami telah siap, kami berdiri berhadap-hadapan. Tatapan Danu sangat tajam. Lalu ia membungkuk terlebih dulu. Namun, sebelum aku balas membungkuk, ia tiba-tiba menghambur ke arahku secepat kilat. Sebelah kakinya menebas.
“Hyaaah!”
Aku lekas menghindar, nyaris terkena serangannya. Kemudian kali ini kepalan tangannya yang maju, buru-buru kutangkis dengan tanganku.
“Hyaah!”
Arah datangnya serangan Danu tak dapat bisa ditebak. Kedua kakinya melompat-lompat sangat lincah. Tetapi aku tidak tinggal diam. Kucoba maju membuat serangan balik.
“Hyaaaah!”
Kujejakkan kakiku sekokoh mungkin, tetapi Danu berhasil menahannya.
“Hah? Tendangan apa ini?"
Danu meringis keji.
“Sayang, mending nyerah aja, deh. Lu gak bisa ngalahin gue!”
"Aarrgh!"
Aku mengerang. Dia menarik kakiku kuat-kuat. Tulangku rasanya mau patah. Lalu..
“Hyaah!”
Danu tiba-tiba memukul titik vital pada lututku. Rasanya bukan main sangat ngilu. Aku lagi-lagi mengerang. Tubuhku pun ambruk.
“Hahaha!"
Danu berjalan mengitari diriku sambil tertawa. Sementara aku hanya bisa meringkuk.
“Lu itu kenapa, sih? Bisa-bisanya minta putus? Jangan ngaco, deh!"
"Enggak! Gue gak ngaco!" sahutku. Kucoba bangkit berdiri.
"Gue, emang mau bertaubat. Gue mau insyaf!"
“Aaargh! Berisik!"
Danu meraung. Dia menatap bengis padaku. Aku tersenyum pahit.
“Terserah lu mau terima apa enggak. Yang jelas gue gak mau lagi jadi kaum pelangi! Gue mau hidup normal!"
“Oh, jadi lu ngatain gue gak normal, gitu?!"
Danu membelalak. Wajahnya kian memerah.
“Kurang ajar!" umpatnya. Dia lalu menghujaniku dengan tinju. Bunyi bag dan bug bertabur. Aku tidak sempat melawannya karena ia begitu cepat. Tinjunya menghantam perut, bahu dan leherku. Aku dipreteli tanpa ampun. Nyeri berdenyut-denyut. Dia kemudian membanting dan menindihku.
“Hhheh! Elo bilang apa tadi? Putus? Gak akan!”
Wajah Danu menghambur. Dia hendak menciumku. Lekas kulayangkan tinju. Namun dia berhasil menghalau tinjuku. Tatapannya melotot. Aku tahu ia tersinggung.
“Oh? Jadi lu nolak gue?!"
“Gue bilang gue mau taubat!"
Danu menatap nanar kepadaku. Kedua matanya mengembun. “Oh, jadi bener elo gak cinta lagi sama gue?!” tanyanya. Lantas kujawab tidak. Kemudian Danu pun berteriak.
“Leoooo, kurang ajar lo Leoooo! Lebih baik elo mati daripada elo mutusin gue!”
Danu benar-benar murka. Tampaknya dia memang berniat membunuhku. Aku lagi-lagi dihujaninya pukulan, tinju dan hantaman.
"Aarrgh!" Aku mengerang kesakitan.
Pipiku, hidungku, rahangku, keningku, dan kepalaku, sudah menjadi sasaran tinju. Berkali-kali juga ia menyasar dadaku. Perutku mual, panas dan bergejolak, aku memuntahkan darah. Tanpa ampun Danu juga menampar pipiku bolak-balik, terus menerus tanpa jeda. Kemarahan Danu hampir seperti kerasukan. Dia menghanjar pelipsku, menghajar rahangku, mungkin wajahku sudah dipenuh luka memar yang teramat biru.
Aku semakin lemas. Rasanya seperti kehilangan napas. Aku bahkan tak mampu mengerang dan menarik napas. Tangan Danu mencengkram kuat leherku.
“Elo adalah milik gue! Selamanya!”
Aku merasa pusing, penglihatanku kabur. Tubuhku benar-benar lemas. Aku tak tahu lagi bagaimana nasibku kemudian. Cengkeraman tangan Danu seakan seperti sebilah pisau yang sedang memotong urat nadiku. Sepertinya hidupku tak akan lama lagi.
“WWOOOY! MAS DANU, STOP! HENTIKAN!! APA-APA AN INI?!”
Tiba-tiba aku mendengar suara orang lain berteriak. Samar-samar aku melihat banyak orang berlarian mendekat kemudian mengelilingi kami.
“LEPASIN LEO, MAS! NANTI DIA BISA MATI!”
“DIA EMANG HARUS MATI!”
Beberapa orang menghambur ke arah Leo. Mereka menahan tangannya.
“JANGAN MAS! LEPASIN LEO MAS! LEPASIN!”
“AAARRRRGGGHHH! JANGAN GANGGU!”
“UDAH MAS! BERHENTI MAS! LEO BISA MATI!”
“AAAARGGH! JANGAN IKUT CAMPUR KALIAN SEMUA!”
“UDAH MAS, STOP! STOP! KARATE BUKAN BUAT BUNUH ORANG!”
Dengan sekuat tenaga mereka menarik Danu. Lalu beberapa orang yang lain juga menarik bahuku dari belakang.
“WOY! BURUAN PISAHIN SI LEO. TARIK DIA KE SANAAA!”
“AAARRRRGGH! LEPASIIIIIN!”
Akhirnya Danu bisa terlepas dari tubuku. Aku mendegar Danu mengerang dan berteriak. Aku masih bisa melihat seseorang menarik dan menahan tubuhnya. Sebelum aku menutup mata, Danu semakin mengamuk, dia berusaha melepaskan pegangan tangan orang-orang. Lalu aku merasakan tubuhku diseret beberapa meter, aku tak bisa melawannya. Tulang ditubuhku rasanya sudah seperti hancur lebur.
Lalu aku melihat beberapa orang mengelilingiku.
“Bang, bangun, Bang! Tahan dulu Bang, jangan dulu mati!”
“Wooy buruan angkat si Leo ke tandu! Kita ke rumah sakit sekarang!”
Mereka berteriak panik. Lama-lama aku bahkan tidak bisa lagi mendengar. Pandangan mataku semakin berkunag-kunang. Aku benar-benar telah terkapar. Tak ada tenaga, daya dan upaya. Pandanganku kemudian menggelap. Aku pasrah. Mungkin memang lebih baik jika aku menghilang dari dunia ini.
“Bang! Abang…”
Sayup-sayup kudengar suara seorang gadis. Begitu aku membuka mata dan menoleh. Kulihat seorang gadis telah duduk di sampingku. Dia lah Lastri. Aku tak menduga ia telah ada di sini entah sejak kapan. Kupikir aku telah mati.
“Masha Allah, Abang sudah sadar!”
"Iya, Dek."
Aku mengangguk perlahan. Kedua mata Lastri tampak berkaca-kaca. Aku pun cukup terharu. Gadis imut yang baik hati itu selalu menolongku.
“Abang mau minum?” tanyanya. Aku menggeleng. Sebenarnya aku ingin sekali menegakkan punggung. Namun aku tak kuat. Sekujur tubuhku ini terasa ngilu.
“Jangan bangun dulu, Bang.”
Lastri lekas membantu merebahkan diriku. Semua tulang terasa ngilu. Danu memang luar biasa. Aku bersyukur ia tidak menghilangkan nyawa.
"Abang, sakit, ya?"
"Iya, Dek."
Aku tersenyum lemah. Tetapi gadis itu menatapku dengan tatapan prihatin.
“Zulfi yang ngasih tahu Lastri lewat telepon. Katanya Abang dipukulin Mas Danu sampai pingsan."
“Dokter juga langsung ngambil vissum. Katanya sekarang lagi diproses. Abah yang ngurusin semuanya ke kantor polisi.”
Dahiku berkerut. Visum? Kantor polisi?
“Yang mukulin Abang bakal dijeblosin ke penjara. Abah yang gugat. Saksi udah banyak, hasil visum juga udah diterima polisi. Tinggal keputusan Abang sendiri, temen Abang bakal diperkarain atau enggak.”
Aku menghela napas. Penjara? Apakah itu perlu? Bagaimana sekarang keadaan Danu?
“Tapi tenang, temen Abang udah dipisahin jauh. Dia gak bakalan gangguin Abang lagi.”
Ah, Danu. Dia memang keras kepala.
“Abang kenapa bisa dipukulin dia, sih? Biasanya Abang kan akrab sama Mas Danu, kok tiba-tiba kalian bisa berantem?”
Lastri memandangku dengan tatapan sedih. Aku menggeleng lemah. Sejak awal kenal, Lastri tak pernah tahu hubunganku dengan Danu. Yang ia tahu aku dan Danu adalah sepasang sahabat.
“Kaget banget Lastri, pas dikasih tau temen-temen Abang kalo Abang duel beneran sama Mas Danu. Mas Danu kan jago. Abang jangan cari perkara sama dia.”
"Iya," kataku. Namun, aku terenyuh atas perlakuan Lastri. Lastri memang baik hati. Sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah Jakarta, aku bertemu Lastri secara tak sengaja. Saat itu aku menolongnya dari jambret. Aku berhasil melumpuhkan jambret ketika berada di sebuah jembatan penyeberangan. Namun naasnya jambret itu berhasil menusuk punggungku dari belakang, aku terluka dan Lastri membawaku ke rumahnya. Abah Lastri juga sangat baik. Dia tidak segan-segan memberiku tumpangan menginap selama beberapa hari. Mengetahui bahwa aku adalah seorang pemuda dari kampung yang nekat mencari nafkah di ibu kota untuk menghidupi ibu dan adikku, rupanya membuat iba Abah Anom. Maka sejak saat itu lah aku menjadi penghuni tetap kontrakkan Abah Anom. Hubungan kami bahkan sudah seperti keluarga. Lastri enam tahun lebih muda dariku, sehingga aku merasa mempunyai adik kandung di lingkungan ibu kota yang kejam ini.
Lalu tak lama kemudian Lastri tiba-tiba menangis. Hatiku jadi tesentuh. Aku tak menduga rasa khawatir Lastri bisa sampai sejauh itu.
“Adek, jangan nangis. Abang gak kenapa-napa, kok."
“Enggak Bang… kasian Abang… kalau emak sama adik Abang di kampung tau, pasti mereka bakalan nangis juga.”
Aku memaksakan diriku tersenyum. Lastri memang baik hati.
“Kalau gitu jangan ngasih tau mereka, ya. Apalagi emak. Emak orangnya lemah kalau denger berita musibah," katanya.
Aku semakin tersentuh.
“Sekali lagi, makasih banyak ya, Dek. Abang gak tau harus bilang bagaimana lagi. Kamu selalu bantuin Abang.”
“Iya, makanya Abang jangan cari perkara lagi. Mulai sekarang jangan berususan lagi sama si Danu! Dia itu aneh! Nyeremin! Masa temen sendiri dipukulin!"
Aku tersenyum lagi. Kalau sudah mengoceh seperti ini, Lastri akan berubah menjadi lucu.
"Pokoknya Abang jangan temenan sama dia lagi!"
"Iya," kataku. Memang itu niatku. Aku memang ingin berhenti dari dunia kelam. Aku memang ingin bertaubat. Aku ingin terlepas dari jeratan Danu. Dan aku telah memikirkannya matang-matang sejak lama.
“Assalamualaikum.”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Aku dan Lastri lekas menoleh, lalu kulihat seseorang masuk ke dalam.
"Assalamualaikum."
Hatiku lega. Aku melihat Pak Haji Kadir datang menjengukku bersama cucu kecilnya, Hamid. Pak Haji adalah pembimbingku. Satu-satunya orang di dunia ini yang tahu rahasiaku hanyalah Pak Haji Kadir. Selain sebagai penceramah, Pak Haji juga seorang guru dan pendidik. Dia sangat bijak dalam menyikapi orang-orang sepertiku. Pak Haji tak pernah sekalipun memandang rendah diriku. Dia malah merangkulku. Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengannya. Lastri dan ayahnya juga mengenal Pak Haji. Namun mereka hanya sebatas tahu sekedarnya.
“Waalaikum salam.”
Lastri kemudian membungkuk dengan sopan seraya mengucap salam.
Aku mengangguk saat Pak Haji datang mendekat. Dia menggeleng-geleng prihatin.
“Subhanallah,” gumamnya. Ia menghela napas berat.
Aku terdiam. Lalu Pak Haji menoleh kepada Lastri.
“Neng Lastri, maaf bisa tinggal kami sebentar, Nak?” tanyanya. Pak Haji selalu bersikap halus dan sopan.
“Baik, Pak Haji.”
“Maaf ya, Nak.”
“Gak apa-apa kok, Pak Haji.”
Lastri kemudian keluar. Gadis itu juga mengajak cucunya Pak Haji ikut serta. Selain baik, Lastri juga cepat sekali akrab dengan anak-anak. Kemudian mereka pun keluar kamar. Lalu tinggallah aku berdua dengan Pak Haji di dalam ruangan. Pak Haji kemudian duduk di sebelah ranjangku.
“Gimana ceritanya? Kamu kok bisa jadi begini?” tanya Pak Haji.
Wajah cemasnya entah kenapa membuat aku terharu. Jika kuingat masa lalu, sungguh ia jauh berbeda dengan ayahku. Lalu air di dalam mataku tak dapat lagi kubendung.
“Saya sudah berusaha sebisanya Pak Haji. Saya tahu resikonya, dan pasti akan seperti ini. Danu gak akan pernah mau menerima ini. Saya pun merasa… ini sepadan dengan dosa-dosa saya… seharusnya… seharusnya… saya mati saja Pak Haji… daripada menanggung ujian ini.”
Aku terisak. Batinku serasa diaduk. Ketakutan, kemarahan, kebencian, semua tercampur menjadi satu. Aku takut kepada Danu. Aku marah pada keadaan. Dan aku benci masa lalu.
Lalu saat Pak Haji menyentuh punggungku dengan lembut dan mengusapnya, tangisku kian meledak. Selama ini aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Dan aku tak tahu kepada siapa aku harus menyalahkan keadaan. Andai saja aku tumbuh di lingkungan keluarga yang bahagia, mungkin aku tak akan menjadi makhluk kotor seperti ini. Mungkin aku tak akan mengambil jalan pintas. Mungkin aku tak akan pernah masuk ke dalam kegelapan.
Lalu tiba-tiba kenangan itu melayang. Ia menghempasku ke dalam memori masa lalu. Pelita kebencianku seketika kembali menyala.
Aku tak akan pernah bisa melupakan semua kejadian yang teramat menorehkan luka. Semuanya.
PRRAAAAANNNG!!!
“KAMU KOK GAK PERNAH BECUS MASAK NASI, SIH, SURTI?! UDAH BERKALI-KALI KUBILANG KALAU AKU TAK SUKA NASI KERAS BEGINI! SURTIIIIIII!!”
Desa Bendasari. 1997
PRRAAAAAANG!!
Aku masih ingat saat usiaku kurang lebih berumur empat belas waktu itu. Begitu aku sampai di depan pintu dapur, aku melihat piring-piring telah pecah. Lalu, siapa lagi kalau bukan Bapakku pelakunya.
“SUURTIIII! KAMU KOK GAK PERNAH BECUS MASAK NASI, SIH, SURTI?!
Aku menelan ludah, bersiap-siap menguatkan mental. Bapak memang hobinya marah-marah. Itu sudah wataknya. Namun aku hanya seorang anak kecil, tak punya kuasa apa pun untuk menyadarkan Bapak. Bapak terlalu berkuasa di dalam rumah. Emak harus menanggung semua pelampiasan kekecewaan Bapak. Kulihat Bapak hendak mengangkat telapak tangan. Aku segera masuk dan menghalangi Bapak dari Emak.
“Bapak! Jangan pukulin Emak!” kataku.
“Kamu jangan ikut campur, Waldi! Anak kecil tau apa?! Gara-gara emakmu, bapak kena sial terus! Dari dulu masak nasi juga gak pernah becus!”
“Ya tapi emak jangan dipukul, kan bisa masak lagi!” kataku takut-takut. Lalu Emak di belakang menyahut.
“Beras habis. Itu nasi yang kemarin. Bapak kan belum ngasih uang.”
“Argh! Alasan saja!"
Bapak membentak Emak. Mendengarnya, Emak langsung menangis. Hati Emak berkali-kali telah terluka. Dadaku jadi panas.
“Bapak jangan ngomong gitu. Bukan salah emak."
Aku protes. Lalu Bapak mata Bapak melotot.
“Diam kamu!"
Aku terdiam. Saat itu aku tak tahu bagaimana membalas perkataannya. Tetapi mungkin nilai rapotku. Siapa tahu marah Bapak mereda setelah melihat nilai rapotku.
“Pak, lihat nilai rapot Waldi! Waldi juara satu, Pak!" seruku. Tetapi ternyata aku keliru. Bukannya senang, wajah Bapak malah memerah. Ia tiba-tiba menangkis buku rapot dari tanganku. Buku rapotku pun terjatuh.
“Bodo amat!"
Bapak menyemburkan umpatan. Kemudian ia pergi meninggalkan kami. Lalu setelah Bapak pergi, tangis Emak pun pecah. Lekas kutarik Emak ke pelukanku.
“Udah, Mak. Ada Waldi di sini. Jangan dengerin bapak. Lihat deh, rapot Waldi," kataku. Lalu tangis Emak pun terhenti. Wajahnya berubah cerah.
“Nak, kamu dapat juara satu lagi?”
“Iya, Mak. Waldi dapat juara satu!” kataku. Lekas kupungut buku rapotku yang teronggok di depan pintu lalu menunjukkannya pada Emak
“Bagus, Nak!” kata Ibu, ia tersenyum. Aku lega melihat wajahnya.
“Doain Waldi ya, Mak. Moga Waldi bisa kerja di kota, dapat uang banyak buat Emak.”
Emak tersenyum lemah. Aku bisa melihat wajah letihnya. Wajah yang setiap hari hanya disakiti oleh ucapan ayah. Aku begitu prihatin. Aku sangat menyayangi ibu melebihi segalanya, juga adikku.
“Abang!”
Di depan pintu, adik perempuanku yang bernama Wiwit sedang berdiri. Usia Wiwit baru lima tahun. Meski sekecil itu, ia tahu, saat ayah mulai marah ia akan bersembunyi di tempat-tempat tertentu. Dan sekarang ia telah keluar dari tempat persembunyiannya.
“Abang bawa permen?” tanyanya. Wajahnya tampak semringah.
“Iya, Abang bawa. Sini!” kataku, sambil kukeluarkan permen dari sakuku. Lalu senyum Wiwit semakin melebar. Ia mendekat dan menyambar permen dari tanganku.
"Eh, ini rapot Abang!" serunya. Kemudian dia memungut rapot dan mencoba membaca sampulnya. Wiwit mengeja.
“L-E-O-W-A-L-D-I jadi Leowaldi!"
Aku dan Emak tertawa. Lega rasanya melihat Wiwit sudah mulai pandai membaca. Selama ini aku lah yang mengajari Wiwit belajar. Sedangkan Emak buta huruf.
Lekas kuusap rambut Wiwit.
“Doain Abang ya, Wit. Kalau Abang berhasil sukses, kalian nanti bisa makan enak, bisa jalan-jalan, bisa pake baju bagus, bisa punya rumah bagus…”
“Bisa makan permen yang banyak juga ya, Bang?” tanya Wiwit tak sengaja memotong ucapanku karena antusias.
“Iya! Nanti Wiwit bisa beli permen apa aja yang Wiwit mau!”
“Bener Bang?”
“Iya!” kataku.
Dan memang seperti itulah cita-citaku. Aku Leowaldi, anak dari kampung yang sudah tahu benar tujuanku sejak kecil, walau impianku sederhana. AKu giat belajar dengan rajin agar nilai di sekolah tinggi demi mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Jika aku bisa menjadi sarjana, paling tidak aku akan mendapatkan pekerjaan yang bagus yang gajinya tinggi. Aku akan mudah mengadu nasib di ibu kota. Kalau aku sudah bekerja, setidaknya aku bisa menyelamatkan ibu dan adikku.
Aku tak pernah main-main dengan usahaku. Aku tak ingin nasibku sama dengan orang-orang di kampung. Di kampungku hampir rata-rata dipenuhi orang miskin, cukup terbelakang dan hanya mengandalkan kekayaan dari hasil penjualan tani atau membuka usaha tuak. Sedangkan ayahku, dulunya ia berasal dari keluarga petani yang cukup makmur. Namun sejak kepergian orang tuanya, harta kekayaan keluarga ludes tak bersisa. Ayah terpaksa bekerja jadi kuli, karena memang itu satu-satunya keahlian ayah. Dulu ayah biasa dimanja orang tuanya. Jadi ia tak tahu bagaimana caranya membuka usaha. Usaha ayah sering bangkrut dan ujung-ujungnya ia harus dililit hutang.
Sejak adikku lahir, sikap ayah jadi berubah, karena dia terlalu percaya ucapan para dukun. Dukun-dukun itu bilang sebab ayah sering tidak beruntung adalah karena tanggal weton ayah dan ibu sangat tak cocok. Dan ayah malah percaya itu. Ayah berubah total setelahnya. Tidak hanya kepada ibu, dia juga tidak segan-segan berlaku kasar kepadaku dan Wiwit. Ayah seakan-akan membenci kami. Dia juga egois, kalau dapat uang ia akan menikmatinya sendiri. Terpaksa ibu harus banting tulang juga menjadi buruh tani di tempat orang. Aku tak tega tiap kali melihatnya. Dan perlakuan kasar ayah menumbuhkan rasa tak suka di dalam jiwa. Aku sangat benci tiap kali ia memarahi ibu. Dan aku sangat sedih ia tak pernah memuji pretasiku. Ayah bilang, di kampung akan sia-sia saja menjadi pintar. Ayahku memang sangat aneh.
Namun, di tengah-tengah keterbatasanku, aku tetap berusaha giat belajar. Bahkan hingga lulus sekolah SMP aku mendapatkan nilai terbaik. Aku pikir dengan nilai bagus, aku bisa meredam kebenciannya kepada ibu. Tetapi ternyata kelakuan ayah malah semakin menjadi-jadi. Diam-diam ia menikah lagi. Ayah memang seorang pria yang sangat gagah, dan ternyata dia menikah dengan seorang janda kaya pemilik warung bernama Minarti. Dan aku baru tahu kabar itu dari orang lain, katanya sudah lama sekali mereka berhubungan. Aku mengepalkan tanganku saat mendengar kabar itu. Sepulang masa orientasi siswa sekolah SMA, aku tidak langsung pulang ke rumah.
“Di mana acara kawinannya, Ren?” tanyaku pada temanku, Rendi. Dia yang memberi tahuku tentang pernikahan ayahku.
“Itu di lapangan kelurahan panggungnya. Ada acara dangdutan.”
Dadaku rasanya sangat panas. Ayah memang selalu main seenaknya. Aku sudah tak tahan.
“Hei, Waldi mau ke mana? Kenapa belok ke sana? Arah pulangmu ke kiri! Hei, Waldi!!”
Rendi memanggilku, tetapi aku tidak menggubrisnya. Langkahku menggebu-gebu. Dengan membawa sebongkah batu di tanganku. Aku ingin segera tiba di tempat itu. Tempat di mana ayahku sedang bersenang-senang sendirian sekarang.