'Wanita mana yang bisa menolak pria seperti Marchell?' Itulah pertanyaan yang ada di benak Allana
Tampan, tubuh tinggi tegap, dan body goals yang proporsional dengan rambut gondrong yang selalu ingin membuat wanita mana saja menyisirinya dengan sepenuh sayang. Ohh...ya jangan lupakan mata coklat yang selalu bersorot macam elang yang siap menerkam mangsanya. Tajam sekaligus menghipnotis.
Walaupun Marchell Stephan bukanlah tipenya, tapi sungguh Allana tidak bisa menolak pesona pria itu. Pria yang sejak pandangan pertama telah mencuri seluruh atensi dan kewarasannya. Pria yang mampu melumpuhkan akal sehatnya dan membuatnya menjadi wanita 'bodoh'.
Namun itu dulu, sekarang tidak lagi. Atau mungkin tidak?
Kisah Allana dan Marchell dimulai ketika kedua orang tuanya membelikan sebuah hunian di kompleks perumahan ini. Kompleks perumahan baru dengan sistem hunian one gate yang menjanjikan untuk berinvestasi. Saat itu papanya berniat untuk mencoba investasi di bidang properti.
Allana tentu saja senang bukan kepalang. Bayangkan saja di usia yang sangat muda, ia sudah bisa memiliki rumah sendiri walau pun pemberian dari orang tuanya. Apalagi jika mengingat harga rumah yang semakin mahal dan ia tidak perlu mencicil, Allana sungguh tidak keberatan dengan rumah pilihan papanya.
Kebahagiaan Allana bertambah seperti orang yang baru saja memenangkan lotre. Siapa sangka, di depan rumahnya tinggal seorang pemuda luar biasa tampan dan berpenampilan menawan, yang rajin menyapa tiap kali mereka berpapasan. Pria dengan sejuta pesona yang sulit untuk diabaikan. Singkat cerita, mereka pun jadi sering mengobrol.
Hari itu, tepatnya tanggal 14 Februari 2020, untuk pertama kalinya Marchell mengiriminya pesan WhatsApp. Bukan, bukan untuk mengucapkan hari Valentine, toh mereka belum terlalu dekat. Pesan singkat yang menjadi awal perasaan Allana pada Marchell.
'Pagi Allana. Maaf gue ganggu waktunya. Mau nanya, sampah di depan rumah lo udah diangkut belum?'
Kalimat singkat yang cukup membawa euphoria pagi itu. Saking kepalang senangnya, Allana menandai tanggal 14 Februari 2020 sebagai hari paling bersejarah dalam hidupnya. Lupakan pria chindo yang menjadi tipikal suami idamannya, karena Pak RT yang kebetulan chindo sudah beristri. Atau oppa-oppa yang bersliweran di drama-drama Korea, karena nyatanya mereka sulit digapai. Pesona Marchell begitu sulit diabaikan begitu saja.
'Pagi Chel. Gak ganggu kok. Belum. Sampah lo udah diangkut? Oh ya dapet nomer gue dari mana?'
Kala itu Allana segera membalas pesan Marchell di WhatsApp dengan senyuman salah tingkah di wajahnya. Padahal, di tempat kerjanya ia terkenal berwajah judes meskipun sudah tersenyum hingga menampakkan lima gigi. Namun senyuman lima giginya itu terasa palsu dan tidak terasa tulus dari hati, begitu kata atasan dan rekan-rekannya di kantor.
'Dari grup WA perumahan, kan ada nomer lo. Oh ya udah kalau belum diangkut. Gue mau buang sampah ke luar kompleks. Sampah lo boleh sekalian gue angkut?'
Tawaran yang sungguh gentleman, membuat hati Allana luluh seketika. Tidak sulit menyukai pria tampan. Namun tetangga tampan, lajang, dan berbaik hati membantu membuangkan tumpukan sampah di depan rumah sungguh suatu hal yang membuat Allana ingin menyerahkan seluruh hatinya saat itu juga.
Allana merasa Marchell begitu berbeda dengan deretan pria lain yang sedang mengantre untuk masuk ke dalam hatinya. Gaya pendekatan Marchell sungguh berbeda dari pria-pria kebanyakan, bukan sekadar menyapa di kolom chat lalu bertanya, 'Hai lagi apa?'. Bukan juga mengirimi makanan via delivery food sambil berpesan 'Semangat kerjanya'. Marchell malah langsung mengangkut tumpukan sampah di depan rumahnya.
Dan setelah hari itu, siapa sangka menyusul chat-chat lainnya. Obrolan lima menit di depan pagar menjadi sepuluh menit. Obrolan sepuluh menit terlalu lama hingga rasanya lebih pantas jika Marchell ditawari duduk di ruang tamu.
Marchell menjelma dari sekadar tetangga tampan nenjadi sosok yang selalu membuat Allana rajin bersenandung, 'Sik asik sik asik kenal dirimu, sik asik sik asik dekat denganmu, terasa di hati berbunga-bunga, setiap bertemu..'
Ternyata hati mereka mengisyaratkan rasa yang sama. Marchell bersikap ramah dan baik tentu saja bukan tanpa maksud, dan Allana menyadari itu.
"All, gue suka sama lo. Gue sayang." Malam itu di teras rumahnya dan diiringi rintik gerimis kecil, Marchell menyatakan perasaannya.
Allana masih ingat betul, hari itu tanggal 14 Maret 2020. Setelah obrolan intens selama satu bulan, Marchell ingin mempertegas rasa di antara mereka. Terlalu tampan dan menawan untuk di tarik ulur dan diabaikan.
Sikap Marchell yang selalu sigap membantu membuang sampah di depan rumahnya, sudah menunjukkan perjuangan pria itu untuk mendapatkan hatinya. Berkat bapak tukang sampah yang selalu molor mengangkut sampah di kompleks, ia dan Marchell bisa menjadi sedekat ini.
Malam itu Allana tersipu sembari tersenyum lebar. "Gu... gue juga suka sama lo Chel," ucapnya pelan, agar tidak kalah lembut dari suara gerimis.
Anggap saja hari itu mereka resmi jadian. Setelah hari itu, Marchell menawarkan mengantar jemput ke kantor dan mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
Punya pacar lima langkah dari rumah memanglah menyenangkan. Jika rindu, begitu mudah untuk bertemu. Hanya tinggal membuka pintu pagar dan berjalan lima langkah, Allana sudah sampai pada pujaan hatinya. Punya pacar lima langkah dari rumah juga irit biaya. Tidak perlu uang lebih untuk membeli bensin, dan jadi lebih sering kencan di rumah. Absen nonton di bioskop pun tak apa, toh sudah ada Netflix. Lagi pula apa pun filmnya tidak penting, yang penting nontonnya dengan siapa. Begitu prinsip Allana.
Siapa yang bisa menghentikan dua orang sedang jatuh cinta?
Saat itu Allana begitu dibutakan oleh cinta. la begitu tergila-gila hingga mengesampingkan banyak hal. Jangankan buka hati, Allana kebablasan hingga buka kaki.
Di suatu malam minggu dengan suasana yang sangat mendukung, hujan turun deras menjadikan udara semakin dingin. Allana tenggelam dalam pelukan hangat Marchell. Sama-sama tinggal sendiri di rumah, dan tidak ada yang mengawasi. Malam itu dengan sadar ia menyerahkan seluruh dirinya pada Marchell. Di kamar Marchell, ia menyerahkan kegadisannya dan merasa tidak menyesal sama sekali.
Pengalaman pertama dengan Marchell sungguh berkesan, dan Allana sukarela hanyut dalam pengalaman-pengalaman berikutnya. Awalnya tidak ada yang aneh. Bermesraan seperti itu sudah menjadi suatu kebiasaan hingga di bulan Agustus Allana telat datang bulan. Merasa cemas, ia mencoba untuk membeli test pack.
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Dua garis. la positif hamil.
Allana mencoba mengingat-ingat, di bagian mana mereka berdua kecolongan? Lelaki yang begitu lihai di atas ranjang itu selalu pelepasan di luar sehingga Allana yakin tidak akan kecolongan.
Namun kenyataannya, mereka berdua kecolongan. Allana masih ingat, hari itu di toilet kantor dengan tangan gemetaran ia mengirim chat pada Marchell.
'Chel, aku hamil.' Allana mengirim pesan dengan napas tertahan.
'Aku sempet mikir gini sih waktu kamu cerita telat mens. Feeling aku yang waktu itu aku telat cabut. Sayang, i'm sorry kamu jadi hamil :('
'Terus aku harus gimana Chel?' Allana nyaris menangis saat membalas chat dari Marchell.
'Kamu mau anak?'
'Kok kamu nanya gitu?'
'Ya kan kamu pernah bilang, pingin diangkat jadi pegawai tetap biar ga under outsourcing terus. Kan syaratnya ga boleh nikah. Terus kamu pernah bilang pingin kejar karir dan cita-cita kamu biar bisa beli mobil impian kamu dan travelling ke luar negeri.'
'Aku ga bisa mikir Chel. Aku lemes, shock, dan ga tahu mesti gimana.'
'Aku ngikut kamu. Kalau kamu mau anak kita lahir ke dunia, aku akan tanggung jawab. Aku akan nikahin kamu. Aku akan menghadap ke orang tua kamu, aku bakal bawa kamu ke depan orang tua aku juga. Aku akan tanggung jawab All.'
Saat itu juga air mata Allana berjatuhan. Namun senyuman haru mengembang di wajahnya. Dengan cepat, Marchell menenangkan hatinya. Lupakan mobil impian, lupakan travelling ke luar negeri, saat ini Allana hanya ingin membangun rumah tangga bersama Marchell demi janin tidak berdosa yang kini ada di dalam kandungannya.
'Makasih Chel, makasih banyak Sayang. Aku sedikit tenang. Aku mau anak kita lahir ke dunia. Aku mau buah cinta kita ini lahir, lebih dari apa pun. Aku mau anak kita.' Allana membalas chat Marchell dengan air mata haru yang semakin mengucur deras.
'Tunggu. Biar aku lamar kamu dulu. Sayangku, calon istriku, mama dari anakku, will you marry me? Please hidup dan menua bersamaku.'
'YES, I WILL!'
Menjelang tengah hari, sekumpulan wanita berkumpul dekat pintu salah satu kelas. Masih terdengar aktifitas belajar yang akan berakhir. Tak lama setelahnya serombongan anak-anak TK berlari keluar, berhamburan mencari penjeputnya.
"Maaf Bunda, apa bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?" Bu Lintang, yang juga Kepala Sekolah KB TK Pelita Cemerlang mendekat sembari tersenyum ramah seperti biasanya. Membersamai langkah Allana dan mengarahkannya ke ruangannya.
"Bisa Bu." Tanpa banyak bertanya Allana mengikuti Bu Lintang dan membiarkan Michy, putri semata wayangnya tinggal di kelas sejenak bersama Bunda Imelda yang merupakan pengajar sekaligus wali kelasnya.
Hari itu Allana sendiri yang menjemput anaknya sepulang sekolah, kebetulan kantor sedang tidak padat dan ia mendapatkan ijin keluar dari atasannya.
"Silahkan duduk Bund..." Bu Lintang mempersilahkan Allana duduk di sofa ruangannya.
"Ada apa ya Bu?" tanya Allana langsung pada intinya. Tak biasanya, Bu Lintang sendiri yang memanggilnya ke ruangan seperti ini.
"Begini Bund. Kebetulan tadi saya sedang mengamati pembelajaran di kelasnya Michy. Nah, tadi itu ada sesi bercerita tentang Papa di depan kelas. Sepertinya Michy masih bingung hendak bercerita tentang apa. Lalu..."
"Lalu apa Bu?" tanya Allana tidak sabar, ada perasaan tak enak yang ia tangkap dari nada bicara sang Kepala Sekolah.
"Tadi Bunda Imelda menanyai Michy. 'Michy, Michy anaknya siapa?' Bu Lintang menirukan pertanyaan Bunda Imelda saat di kelas. "Dan Michy menjawab, 'aku anak tetangga Bu Guru' begitu Bund." Bu Lintang tersenyum getir, mencoba menahan ekspresinya.
"Oh..." Sejenak Allana kehilangan kata-kata, sebelum akhirnya ia menyadari tatap penghakiman dari Bu Lintang. Buru-buru ia mencoba meluruskan kesalahpahaman yang mungkin saja telah terjadi. "Begini Bu..."
"Bund, saya turut prihatin dengan keadaan Bunda yang harus menjadi single parent di usia muda." Bu Lintang mendekat dan menyentuhkan kedua telapaknya dengan pelan ke lutut Allana, membuat Allana segera mengatupkan bibir yang sudah siap meluncurkan kata demi kata. "Maksud saya, yah... wanita muda mana yang betah lama-lama jadi janda? Apalagi jika tetangganya ganteng dan kuat seperti yang diceritakan Michy tadi. Tapi Michy itu masih anak-anak Bund. Saya rasa belum saatnya dia dipertontonkan kehidupan orang-orang dewasa" Bu Lintang menatap penuh permohonan.
"Bukan, bukan begitu Bu Lintang! Ibu salah paham. Saya bisa jelaskan... " Allana tersenyum kikuk, malu sendiri ia karena bingung harus bagaimana menjelaskan.
"Bund, kalau Bunda mau jatuh cinta boleh-boleh saja. Tapi ingat ada Michy di sekitar kita. Dan kata Michy sewaktu tadi saya tanyai lebih jauh, dia menganggap tetangganya itu seperti papanya sendiri, karena dia sering melihat tetangganya itu mencium Anda dan bahkan menggendong Anda..
"Tunggu Bu! Biar saya jelaskan," potong Allana dengan tidak sabar, cukup sudah kesalahpahaman ini. Ia tahu nadanya memang kurang sopan, namun mau bagaiamana lagi.
"Michy memang anak tetangga..."
"Astaga!" Bu Lintang sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan, shock menyerangnya.
"Tetangga saya itu memang Papa kandung Michy."
"Ya Gusti," gumam Bu Lintang pelan, sedikit mencerna keadaan yang terjadi. Atensinya kini sepenuhnya tertuju pada penjelasan Allana.
"Kami pernah menikah, kemudian kami bercerai saat Michy masih berusia satu setengah tahun. Kebetulan, rumah mantan suami saya itu tepat di depan rumah saya." Allana memaksakan senyuman di wajahnya.
"Oh begitu... " Bu Lintang manggut-manggut, baiklah kini ia paham apa yang telah terjadi.
"Demi kebaikan perkembangan Michy, kami tetap berhubungan baik. Hak asuh Michy memang sepenuhnya jatuh ke tangan saya. Tapi saya dan papanya, masih bersama-sama mengasuh Michy. Dia masih menyuapi Michy, menemani Michy belajar, dan juga bermain. Bahkan, lebih sering papanya yang mengantar jemput Michy ke sekolah. Kami seperti pasangan yang belum bercerai, bedanya kami tinggal di rumah yang berbeda. Itu saja!"
"Wah luar biasa... " Bu Lintang menatap takjub, yang tadinya tatapannya penuh tuduhan dan penilaian negatif kini berubahn menjadi penuh kekaguman.
"Maaf bukan bermaksud kepo Bund, tapi kalau saya dengar dari cerita Anda, sepertinya mantan suami Anda ini orang yang baik. Michy juga bilang kalau papanya ganteng, baik, dan sangat menyayangi Anda. Lalu apa alasan kalian bercerai? Kalau saya boleh tahu?" tanya Bu Lintang dengan mimik wajah penasaran.
Allana tersenyum tipis sebelum menjawab, "Saya tidak kuat dengan profesi dia sebagai pengacara."
"Wah... pengacara?" Kedua alis Bu Lintang terangkat dengan bola mata yang semakin melebar.
"Benar! Mantan suami saya pengacara alias pengangguran banyak bicara." Allana tersenyum getir.
"O... O.... Oooh... " Bu Lintang terlihat terkejut dan berikutnya senyuman canggung mengembang di wajah wanita itu. Sepertinya dia mulai benar-benar paham akan kondisi kedua orangtua Michy.
Setelah sedikit berbasa-basi dan pamit pulang, Allana segera menjemput Michy di kelasnya. Seperti biasa, gadis kecil yang sebentar lagi genap berusia empat tahun itu menyambut dan memeluknya erat.
"Mama! Mama! Michy kangen! Mama nggak kelja?" Kedua mata Michy membulat lucu, dengan bicaranya yang masih agak cadel khas anak-anak.
"Mama kerja tapi ijin sebentar buat jemput Michy!" Allana membungkuk dan mencium kening putri semata wayangnya.
"Michy cama Mama yaaa!" Dengan riang Michy membuat gerakan bertepuk tangan.
Setelah berpamitan dengan Bunda Imelda, Allana menggandeng tangan gadis kecilnya dan berjalan menuju parkiran.
"Mama, puyang naek apa? Papa manya?" tanya Michy sembari menatap lugu.
"Itu mobil Papa." Allana menunjuk mobil mini SUV yang parkir di halaman sekolah.
"Papa manya?" Michy masih bertanya saat Allana membantu gadis kecilnya masuk ke dalam mobil.
"Papa kerja Sayang" jawab Allana sembari menyungging senyum.
"Papa kelja gambal?" Sebelah tangan Michy terangkat, dan menirukan gerakan seolah-olah sedang menggambar.
"Iya Papa kerja gambar. Awas tangannya Sayang.. " Allana memasangkan sabuk pengaman lalu menutup pintu mobil dengan sangat hati-hati.
Kemudian ia segera masuk dan duduk di balik kemudi. "Tadi Michy cerita apa aja di depan kelas?" tanya Allana sambil menyalakan mesin.
"Michy biyang nyama papacu Malchell Tephan..."
"Marchell Stephan." Allana mengoreksi pelafalan nama mantan suaminya sembari melirik Michy yang tersenyum lebar menatapnya. "Terus Michy cerita apa lagi?" tanya Allana sembari mengemudi.
"Papa ganceng, Papa kelja gambal! Mmm Papa cayang Michy, Papa cayang Mama! Papa kua!"
"Papa kuat?"
"lya Papa kua ya! Michy biyang Papa kua bica angkad gayon, bica angkad Mama ugha!"
Allana segera menginjak rem karena kebetulan di depan lampu merah. "Jadi Michy bilang, eh cerita di depan kelas kalau Papa angkat Mama?"
Michy mengangguk dengan wajah polosnya. "Michy uga biyang kalo Papa tium Mama uga, Papa cayang Mama!" Kemudian gadis kecil itu bertepuk tangan. Tampak begitu bahagia.
"Michy..." Allana menatap penuh sesal sembari meremas kemudi dengan pelan. "Lain kali nggak usah cerita di depan kelas ya, kalau Papa cium Mama!"
"Kenyapa?" Kedua mata Michy membulat lebar.
"Kan Papa cayang Mama?"
"Pokoknya jangan cerita Papa cium Mama, atau Papa gendong Mama. Yang Michy boleh ceritain itu Papa baik, Papa sayang Michy, dan Papa kerja gambar. Yang cium-cium Mama nggak usah! Ngerti ya Michy?" Allana menegaskan kembali apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Michy.
"Ya Mama," jawab gadis itu tanpa bertanya lagi.
"Terus jangan bilang kalau Michy itu anak tetangga, bilang aja Michy itu anaknya Papa. Ya?"
"Capi kata Mama, Papa itu cecangga?"
Allana kehilangan kata-kata sejenak. Tentu saja status hubungan mereka sangat sulit dicerna oleh Michy. "Pokoknya bilang aja anak Papa. Jangan bilang kalau Michy anak tetangga..."
"Capi Papa kemayen biyang kayo Michy anak cecangga?"
"Tuh kan! Papa tuh selalu ngajarin yang nggak bener!" Dengan geram Allana meremas kemudi.
Tapi mengingat status mereka sekarang, rasanya memang benar kalau Michy itu anak tetangga. Bukankah mereka bertetangga? Bahkan rumah mereka kini saling berhadapan, dan di antara mereka tidak ada ikatan pernikahan.
"Enggak! Papa biyang Michy anak Papa, Michy anak cecangga, Papa cayang Michy!" Gadis kecilnya tampak berusaha membela Marchell.
Sedekat itu gadisnya dengan sang Papa. Allana menghela napas panjang kembali sebelum mengingat pertanyaan Marchell semalam, yang dilontarkan saat mereka menghabiskan waktu setelah makan malam. Pertanyaan yang terasa begitu mengganggunya.
'All. aku boleh pacaran lagi?'
Entah pacaran dengan siapa. 'Memangnya dia punya modal?' Sungut Allana dalam hati. Perkara rambut saja jadi panjang lebar. Sudah mengambil samponya tanpa ijin, Marchell masih juga kerap mengomel karena saluran kamar mandi menjadi buntu. Tapi bukankah yang buntu saluran kamar mandi di rumahnya sendiri?
Sore menjelang, langit menampakkan lembayungnya yang mampu menghipnotis semesta. Michy masih dengan mainannya yang berserak di ruang tengah rumah Marchell. Ya...begitulah keseharian gadis kecil itu.
"Ngapain kamu pake baju gitu? Sengaja mau mancing aku?"
Kalimat barusan sontak membuat Allana menghentikan sejenak kegiatannya mengecek peralatan mandi Marchell. Ia menoleh dan mendapati Marchell sedang bersandar di kusen pintu kamar mandi, sembari menatap mesum ke arahnya. Tatapan yang sudah sangat dihapal oleh Allana.
"Baju apa?" Allana mengecek daster putih yang ia kenakan, memutar tubuhnya ke kanan dan kiri memperhatikan apa yang salah dari pakaiannya.
Sama sekali tidak ada yang menggugah selera. Bahan daster yang ia kenakan tidak tipis, dihiasi dengan bordiran bunga-bunga, dan panjangnya melebihi lutut. Allana rasa, otak Marchell saja yang memang mesum setelan pabriknya.
"Stop liatin aku kayak gitu atau aku sikat muka kamu pakai sikat WC," ancamnya sembari mengangkat sikat WC usang dari sudut kamar mandi dan mengacungkannya pada Marchell.
Tersenyum samar, Marchell hanya melipat kedua tangan di depan dada, sembari menekan lidah di dalam mulut hingga pipinya menonjol sebelah. "CD kamu pink," ucapnya kemudian tanpa beban.
"Hah masa?" Reflek Allana mengangkat ujung dasternya, demi mengecek warna celana dalam yang hari ini ia kenakan. Sungguh ia tidak pernah mengingat sedang memakai celana dalam warna apa karena asal menyambar stok di lemari pakaian.
Sejurus kemudian Allana menyadari kedua mata Marchell menatap tajam pada bagian bawah tubuhnya, tepat sebelum ujung daster nya tersingkap hingga melewati paha atas. Sial! Kena Allana kali ini. Allana tersenyum kering saat menyadari Marchell nyaris berhasil membodohinya.
Mau bagaimana lagi, ia kerap lupa mereka sudah bercerai karena masih bertemu setiap hari, dan masih berbagi peran mengasuh anak setiap waktu. Bahkan mereka masih makan bersama di meja makan, juga menonton TV bersama. Sudah resmi bercerai tetapi masih sering bertemu layaknya suami istri, membuat batasan-batasan di antara mereka berdua kian kabur dan makin tipis.
"Kamu mau lihat punya aku?" Allana sengaja menggantung ujung dasternya sedikit jauh di atas lutut.
Skak mat! Marchell tampak menelan ludah sebelum menjawab, "Buat apa? Udah pernah... " kemudian lelaki itu melepas kaosnya dan memasuki kamar mandi.
"Eh eh kamu mau apa?" tanya Allana panik saat Marchell bersiap menutup pintu kamar mandi.
"Mandi lah. Michy kecapekan, terus tidur di depan TV. Sekarang aku mau mandi."
"Ya bilang dong! Aku ke kamar mandi mau nyariin sampo aku!" sungut Allana dengan kedua mata membelalak lebar.
Marchell menghela napas kemudian mengambil sebotol sampo dari keranjang kecil yang diletakkan di atas kloset.
"Nih sampo aku...." Marchell mendekat sembari mengocok botol samponya, membuat Allana mundur hingga tembok kamar mandi yang dingin menahan punggungnya.
"Chel..." Allana nyaris kehabisan napas melihat senyuman nakal Marchell dan rambut gondrong yang berantakan. Namun ia akui, kian menambah kesan seksi.
Bertelanjang dada, dengan tangan yang kotor akibat terkena cat. Oh, dagunya yang runcing juga kotor terkena cat.
'Sial. Kenapa punya mantan suami harus sepanas ini,' Allana membatin.
"Liat, sampoku abis. Tinggal aer... Marchell membalik botol sampo di tangan dan menuangkan isinya yang tinggal berwujud air. "Pasti sampo yang kamu cari-cari itu mahal banget, pantes rambut kamu wangi..." Marchell menunduk dan mengendus aroma harum dari rambut Allana.
"Stop deket-deket..." Sebelah tangan Allana menahan dada bidang Marchell. Sungguh jantungnya sedang tidak aman saat ini.
"Kenapa? Bukannya dulu sering?" Senyuman bengal mengembang dari wajah mesum Marchell.
"Bagi duit... buat bayar cicilan gedung sekolah Michy." Sebelah tangan Allana yang tadinya menahan tubuh Marchell, kini menengadah.
Marchell mendengus, kemudian bergerak menjauh. "Sampo kamu nggak ada di sini. Sana keluar, aku mau mandi."
Allana tersenyum sinis saat mendapati wajah mantan suaminya itu berubah datar. "Huu...maunya ena-ena aja, duit nomor sekian," ledeknya sembari melangkah keluar dari kamar mandi.
"Maksud kamu?" Marchell mengurungkan niatnya untuk mandi dan berjalan membuntuti Allana.
"Inget Chel, kamu harus tetep kasih nafkah ke anak kamu." Allana berbalik dan mendapati wajah defensif Marchell.
"Pasti aku kasih. Tapi sabar please. Tahun ini lukisan aku belumn ada yang kejual sama sekali. Kamu tahu kan berapa harga lukisan itu kalau kejual? " Marchell menuding deretan lukisannya di dinding.
"Pernah kejual delapan juta untuk satu lukisan. Tapi setelah itu lukisan kamu nggak ada yang kejual lagi. Delapan juta buat beberapa bulan itu nggak cukup Chel," jawab Allana apa adanya.
Marchell menghela napas panjang dan berusaha menyembunyikan wajah frustasinya. "Kamu butuh berapa buat bayar uang gedung?" la berjalan mendekati meja dan menyalakan sebatang rokok.
"Emang kamu ada uang?" tanya Allana dengan nada getir.
"Aku bisa minta Papa mama..."
"Chel... bukan itu maksud aku. Tolong jangan apa-apa minta sama ortu kamu. Kamu pria, kamu seorang Papa. Paling nggak coba tanggung jawab dengan usaha kamu sendiri."
"Kamu kira lukisan-lukisan aku ini, bukan bentuk dari tanggung jawab aku? Kenapa kamu selalu ngeremehin apa pun yang aku lakuin? Kamu tahu keadaan aku kayak gini, All! Iya aku bukan pekerja kantoran yang gajian tiap bulan kayak kamu! Ini pun aku udah mati-matian coba jual ke sana ke sini, tapi kalau belum rejeki gimana?"
"Coba kamu cari kerjaan lain Chel, kamu bisa coba..."
"Bukan passion aku," potong Marchell cepat.
"Kenapa sih, ngomong sama kamu selalu susah kayak gini?"
"Kenapa bentuk tanggung jawabku ke anak kita selalu kamu hitung pake uang?"
"Ya kamu pikir apa-apa nggak butuh uang?" Allana menatap heran.
"Aku tiap pagi bantuin kamu mandiin Michy, gantiin bajunya buat ke sekolah. Tiap malem aku cek perlengkapan sekolah di tas-nya. Aku antar jemput dia ke sekolah, suapin dia makan, mandiin dia dan ngurusin dia selama kamu kerja di kantor!" Nada suara Marchell meninggi. "Aku memang belum ada uang tapi aku masih berusaha tanggung jawab dengan cara lain All, bisa nggak kamu hargain itu?"
Allana diam mematung di tempatnya.
"Kamu bisa fokus kerja di kantor, pikiran kamu nggak kepecah, kamu nggak perlu keluarin biaya tambahan buat bayar pengasuh, itu karena aku mau merawat dan mengasuh Michy selama kamu di kantor. Bahkan kamu capek sepulang kerja pun, aku nggak keberatan sama sekali pegang Michy. Aku nggak diem aja All." Marchell menatap kesal.
"Oke kita stop aja bahas ini.." Allana menghela napas panjang.
"Tolong hargai aku ya All." Marchell menatap tajam kedua matanya. "Aku bakal minta uang Papa mama buat bayar uang gedung Michy."
"Jangan minta tapi pinjem..."
"All... "
"Aku nggak mau, Michy jadi alasan buat kamu bebanin Papa mama kamu terus. Pinjem aja. Kalau kamu nggak sanggup balikin uangnya, aku yang bakal balikin."
Marchell tak menjawab. Allana melihat pria itu menenggelamkan rokoknya ke dalam asbak kemudian hilang di balik pintu kamar mandi.
Perlahan sebelah tangan Allana terangkat demi memijit sejenak keningnya. Inilah alasannya menceraikan Marchell. Allana merasa, Marchell terlalu santai dalam hal mencari rezeki dan menafkahi keluarga. Lelaki itu selalu beralasan pekerjaan alternatif bukanlah passion-nya. Allana rasa, ia tidak sanggup melewatkan seumur hidup dengan pria seperti Marchell.
Kedua mata Allana menyusuri dinding dan menemukan wajahnya masih terpampang di sana, di atas kanvas lukis berukuran 100x140 cm. Tadinya ia berniat menanyakan maksud dari pertanyaan Marchell kemarin malam, sesaat setelah mereka selesai makan bersama di rumahnya.
"All.. aku boleh pacaran lagi?" tanya Marchell kala itu dari meja makan. Allana sampai menjatuhkan piring yang sedang ia cuci saat mendengar pertanyaan Marchell.
Gaduh tercipta begitu saja saat piring dari tangan Allana merosot dan menghantam tumpukan piring kotor lainnya di bak cuci.
"Kamu barusan bilang apa?" Allana menoleh dengan wajah kaku dan menemukan Marchell yang terlihat sedikit salah tingkah.
"Enggak. Enggak jadi," jawab Marchell saat itu sebelum buru-buru pamit pulang dan meninggalkan Allana tenggelam dalam berbagai pertanyaan.
Jadi Marchell sudah menemukan wanita baru? Siapa? Orang mana? Kapan mereka bertemu? Apa selama ia berada di kantor? Bukankah Marchell sedang tidak punya uang? Memangnya wanita mana yang mau dengan pria pengangguran selain dirinya?