“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan restu kepada wanita rendahan seperti dia.” Bentak pria paruh baya sembari menatap matanya ke arah jendela besar di gedung pencakar langit.
“Pa, apa masalahnya sih sampai Papa dan Mama sulit menerima Claire?” Randi dengan suara yang tidak kalah kerasnya sesekali memukul meja yang berada di samping tubuhnya. Sementara aku terus berusaha menenangkan Randi yang sedang terpacu emosi.
“Nak, kami sebagai orang tua tentu mau yang terbaik untuk kamu. Claire sudah jelas tidak sederajat dengan kita, lantas, apa kata kolegamu?” Wanita paruh baya dengan rambut pendek berwarna merah menjelaskan dan memberikan pengertian kepada anak lelaki tunggalnya yang kini penuh dengan amarah atas penolakan kedua orang tua terhadap aku tepat di depan hadapan dan mataku.
“Dan kamu Claire, tolong mengerti bahwa kami ini adalah keluarga terpandang. Kamu harusnya sadar diri posisimu hanya sekretaris dari keluarga rendahan!” Tegas Mama Randi dengan menatap sinis ke arah kedua bola mataku.
“Ma, status sosial itu subjektif. Aku hanya mencintainya, Ma, Pa!!” Geram Randi yang semakin meninggikan suaranya.
“Persetan dengan cinta! Cinta itu bisnis Randi dan kau tidak akan pernah bahagia jika terus memaksa menikah dengan wanita pilihanmu ini!” Roger membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati anak lelakinya.
“Tegar, sabar Claire.” Aku memejamkan mata kala mendapatkan perlakuan yang amat menyakitkan ini. Sementara Randi mengarahkan tangannya ke arah tanganku, lalu ia genggam dengan kuat tanganku yang sudah berkeringat dan gemetar kala berada diposisi terhina.
“Kau adalah ahli waris satu-satunya keluarga ini, jangan buat malu keluarga cuma karena kau menikahi wanita yang kau inginkan. Camkan itu!” Bisik Roger pelan namun ketus tepat disebelah telinga Randi sembari melirik tipis ke arah Claire yang berada di seberangnya.
Roger berjalan dua langkah melewati Randi, lalu dengan keras Randi berteriak.
“Pa, aku kembalikan semua apa yang telah Papa beri kepadaku. Aku keluar dari kantor ini, aku tidak butuh apapun dari Papa dan atas nama Papa sekalipun! Aku memilih hidup dengan Claire!”
Air mataku tak terbendung kala mendengar ucapan pria yang sedang menggenggam tanganku ini. Begitu besarkah cintanya hingga ia berani melepaskan semua privilage dalam hidupnya hanya untuk menikahiku gadis miskin yang hanya status sekretaris?
Sontak Roger membalikkan badan mendengar teriakan anak kesayangannya ini.
“Kurang ajar kau!!!!” Roger hendak mendekati sang anak, namun tiba-tiba ia terjatuh berlutut sembari memegang dada kirinya.
“Paaaaaa!!!!!” Teriak Mama histeris dan langsung menghampiri suaminya yang kini tengah jatuh berlutut kesakitan.
Randi panik, ia segera melepaskan genggamannya dari tanganku dan berlari keluar dari ruangannya dan berteriak di seantero lantai.
“Tolong satpam tolongg!!!!” Teriaknya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
Aku langsung berlari ke arah Roger dan memberikannya pertolongan pertama.
“Sana kamu! Mau kau apakan suamiku?” Teriak histeris Airin sembari mendorong tubuhku.
“Tante, ini harus diberikan pertolongan pertama sepertinya gagal jantung.” Aku berusaha bangkit dan mencoba untuk memberikan pertolongan pertama kepada Roger.
Tak berapa lama, dua orang satpam yang bertugas di lantai enam belas ini pun dengan sigap mendekati arah sumber suara.
“Ambulance ambulance ambulance…” Tambah Randi yang dilanda kepanikan hebat kala melihat dengan jelas papanya terjatuh.
***
Sesampainya di rumah sakit, Roger masih dengan kondisi tidak sadarkan diri ini langsung dilarikan menuju ruang ICU. Aku melihat dengan jelas betapa Randi menyesali perkataannya.
“Maaf pihak keluarga diharapkan menunggu terlebih dahulu.” Ucap suster yang mengantarkan ranjang Roger dan segera menutup pintu ruangan ICU ini.
Aku menatap dengan jelas wajah panik Randi dan Airin yang tampak khawatir dengan kondisi Roger, entah apa yang mereka sedang pikirkan, namun sesungguhnya aku hanya berharap Roger bisa menerimaku.
“Bapak sudah melewati fase kritisnya dan akan segera kami pindahkan ke ruangan VVIP.” Senyum dokter yang keluar dari ruangan tertutup ini menghentikan sedih pihak keluarga dan aku.
“Randi…” Roger yang masih mengenakan selang oksigen perlahan memanggil nama sang anak yang berada disisinya.
“Pa.. Pa.. Iya Pa, aku disini bersama mama dan Claire.” Randi antusias menghampiri Roger sembari mendengarkan apa yang ingin papanya sampaikan.
“Jangan pergi dari hidup papa…” Ucapnya tertatih-tatih.
“Aku mau menikahi Claire Pa..” Randi sepertinya berada pada momen yang tepat kala meminta persetujuan untuk menikahiku meskipun kondisinya saat ini amat tidak mungkin bisa dipikirkan dengan matang.
“Telfon Luki sekarang juga…” Randi masih dengan suara yang samar-samar akibat tertutup selang oksigen, namun pesannya masih bisa dipahami oleh Re.
“Iya pa, sebentar aku telfon Om Luki.” Jawabnya dengan cepat.
“Ada apa dengan Luki, Pa?” Airin yang tak kalah ingin ikut campurnya lantas menanyakan apa hubungan Luki dengan permintaan suaminya.
“Sebentar Ma, aku hubungi dulu.” Randi tak ingin berlama-lama, dengan cepat ia pun meletakkan kembali telapak tangan papa yang sedari tadi menggenggam erat tangannya, lalu pergi keluar.
“Claire, kamu baiknya pulang aja. Lagian, untuk apa juga masih ada disini?” Airin yang masih dengan karakter judesnya seolah mengusirku yang masih memastikan bagaimana kondisi Roger sepenuhnya.
“Ta..tapi Te.” Aku menunjuk Randi yang masih keluar untuk menghubungi Pak Luki.
“Jangan manja jadi perempuan, bisa pulang pake ojek online kan? Kamu kira anak saya supir yang harus antar jemput kamu tiap hari!” Bentaknya.
Seperti tidak ada pilihan yang membuatku harus menunggu Randi saat ini. Sebab sudah sangat jelas kalimat usir yang dilontarkan oleh Airin, sehingga satu-satunya tindakan yang bisa ku lakukan hanya pergi dari ruangan ini atau hadapan mata Airin.
***
“Loh ini masih jam segini, sudah pulang Cle? Tumben cepat banget. Terus ini kenapa nangis begini?” Alexa membukakan pintu seketika bingung sebab air mataku yang sedari tadi tidak terbendung akhirnya tumpah juga tepat di teras rumah.
“Ayo-ayo masuk dulu Clee, tenang coba tenang yaaa.” Alexa, tanteku ini mengusap bahuku sembari membiarkanku berjalan hingga menuju sofa ruang tamu.
“Karena Randi lagi?” Seolah ia bisa menebak apa yang telah terjadi, tentu saja dari pacar konglomeratku ini.
“Iya, tadi ada kejadian gak enak di kantor Te, jadinya aku pulang cepat ini.” Sembari ku lihat juga arloji di tangan kiriku masih menunjukkan pukul dua siang. Wajar jika tante bertanya, sebab biasanya aku selalu pulang sore dan bahkan hampir tengah malam karena beban kerja yang masih terus banyak. Terlebih saat ini Randi banyak bekerja sama dengan kantor asing sehingga amat menyita waktuku yang harus menyusun jadwal dan agenda hariannya.
“Ada apa? Aku gak lihat ada berita atau isu yang gak enak tentang perusahaan kamu.” Terlihat jelas bahwa kini tanteku amat penasaran apa yang terjadi di kantor hingga mengharuskanku pulang sangat awal.
“Orang tua yang paling konglomerat itu.....” Tambahnya menyinggung kekasihku ini.
“Kan Tante juga tahu, aku menjalin hubungan sama Randi bukan baru-baru ini aja, melainkan sedari jaman kuliah. Aku juga sudah berusaha untuk memberi pengertian kepadanya tentang status sosial kami, namun nyatanya ia terus memberiku kekuatan dan keyakinan agar kami bisa menerjang restu orang tuanya.” Terangku dengan mata yang mulai terbayang kaca-kaca.
“Aku paham sayang. Randi juga anak yang baik untuk kamu dan keluarga ini. Tapi, dengan gap sosial yang begitu jauh pasti akan susah kalian bersama, Cle. Aku juga sama sekali gak melarang kamu untuk menjalin kasih dengannya, namun cinta yang kamu punya untuknya hanya membuatmu sakit aja, sayang.” Tante yang tadi duduk berhadapan denganku, kini berpindah berada di sebelahku dan mengusap bahuku seolah menenangkan.
“Aku sudah gak tau harus melakukan apa, Te......” Air mataku yang tak tertahan airnya tumpah sembari mengingat bagaimana perlakuan kedua orang tua Randi yang begitu kasar terhadapku.
“Tadi Randi mengajakku bertemu kedua orang tuanya di ruangan kantornya. Meski sudah pertemuan yang kelima kali, nyatanya mereka masih enggan membukakan hati dan memberiku kesempatan..” Isak tangisku tak terbendung.
Tante terus mengusap bahuku, membiarkanku cerita mengalir tanpa jeda. Sebab ia sudah tahu aku hanya butuh didengar tanpa diberi tanggapan.
“Randi terus berusaha meyakini kedua orang tuanya, hingga di titik emosinya ia memilih pergi bersamaku. Mendengar hal tersebut, ayahnya kena serangan jantung dan sekarang masih berada di ruangan ICU....” Aku menyeka air mata yang terus bercucuran di pelipis pipiku.
“Aku cuma berharap dan berandai jika saja papa dan mamaku masih hidup mungkin kini tidak mungkin aku dipandang rendah oleh siapapun, mungkin aku akan setara dengan Randi dan keluarganya sehingga tidak perlu ada pengorbanan apapun dalam perjalanan cinta kami. Kenapa nasibku begitu menyakitkan, Te? Kenapa?” Emosiku yang sudah tidak terkendali kala mengingat betapa keji perlakuan kedua orang tuanya kepadaku selama ini, namun aku tak jua menyerah demi mengedepankan cintaku bersama anaknya.
Dari ekor mataku terlihat Alexa ikut juga menangis sembari terus mengusap bahuku yang saat ini sangat sangat patah. Tidak hanya diriku yang berkorban jatuh pada perjuangan cinta ini, tapi yang buatku amat kesal adalah cintaku ini juga membawa petaka untuk ayah Randi yang sedang kritis di rumah sakit.
“Jika cinta tidak bisa ku miliki seutuhnya, lantas mengapa aku dibiarkan jatuh cinta sedalam ini?” Batinku.
***
Pagi ini aku memulai rutinitas seperti biasa, terlebih tanggung jawabku sebagai sekretaris di kantor Randi jujur saat ini merasa tidak nyaman ku lakukan karena pertikaian kemarin tentu saja seantero kantor akan menyindirku. Bahkan mulai dari pintu masuk kantor sudah banyak karyawan yang bertanya tentang kejadian kemarin, dan semakin memojokkanku seolah menjadi wanita tidak tahu malu berpacaran dengan ceo perusahaan besar negeri ini.
“Clee, sadar diri kali ya. Jangan terlalu dipaksa buat nikah sama Pak Randi. Lo gak sadar beda levelnya?” Sindir Catherine bersama teman satu gengnya yang sengaja menghampiriku di depan meja sekretaris ini.
Aku mematung dan hanya menatap mereka.
“Kenapa lo diam aja? Udah sadar kan kalau lo sama Pak Randi itu gak akan bisa bersatu. Ya lagian nih Cle, kami sebagai teman yang baik mau ingatin aja, keluarga kaya Pak Roger pasti mau menikahkan putra tunggalnya dengan putri pewaris tahta juga. Jadi, gak mungkin memberikan restu pada budak-budak seperti kita. Lebih sadar kenyataan yuk, Cle..” Tawa Arabela.
Enntah perasaanku pilu mendengar hinaan ini, tapi di satu sisi aku tidak bisa menentang apapun, sebab apa yang mereka katakan ada benarnya. Gak mungkin Roger dan Airin memihakku sampai kapanpun.
Trap.. trap.. trap…
Langkah cepat dengan hentakan yang cukup terdengar dari sepatu pantofel berkulit ratusan juta kian menghampiriku ditengah perudungan ini. Aku menoleh ke arahnya, dan benar saja Randi datang dengan postur idealnya dari kejauhan pula ia sudah tersenyum ke arahku.
“Pagi. Ngapain kalian pagi-pagi di depan Claire?” Randi memancarkan senyumnya kepada karyawan di kantor ini ya bisa dibilang sudah menjadi kebiasaannya.
“E..enggak Pak. Kami permisi dulu…” Ucap Catherine yang langsung pamitan.
“Cle, bisa ke ruanganku dulu?” Ia menoleh cepat ke arahku.
“Iya Pak, sekalian saya bawa dokumen yang perlu approval dari Anda.” Balasku. Meskipun status kami adalah kekasih namun hal ini hanya berlaku selama di luar kantor, sementara di dalam kantor aku tetaplah sebagai sekretaris, dan ia adalah CEO.
Di dalam ruangan yang langsung berhadapan dengan gedung pencakar langit ibukota, ia menyodorkan lembaran dokumen yang dibalut oleh amplop coklat dan telah ia buka.
“Kamu baca dulu, lalu tandatangan ya.” Perintahnya.
Gak banyak bertanya, langsung saja ku ambil lembaran kertas tersebut. Dari judulnya saja sudah membuatku terkaget-kaget.
“Maksudnya apa ini?” Sedikit ku tinggikan nada bicaraku.
“Clee, cuma ini satu-satunya jalan cinta kita. Jika kamu sudah menandatanganinya, kita bisa langsung menikah. Percaya sama aku Cle, semua akan baik-baik saja.” Ia mendekati dirinya kepadaku, menyentuh bahuku dengan tatapan yang amat tajam seolah sangat meyakiniku untuk membubuhi tandatangan pada halaman akhir dokumen perjanjian pra-nikah konglomerat ini.
***
Seminggu setelah kejadian penandatanganan surat perjanjian di kantor...
“Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Claire Rafita binti Almarhum Kaisar dengan mas kawin uang seribu dollar dibayar tunai.”
“Bagaimana saksi-saksi?” Tanya seorang penghulu yang membantu dalam proses pernikahanku dan Randi.
“Sah...” Sorak Kayla dan Tante Alexa yang tersenyum sumringah kala mendengar kalimat ikrar pernikahanku dengan Randi berjalan dengan lancar.
“Selamat Mba Claire dan Mas Randi kini sudah sah menjadi pasangan suami istri...” Senyum penghulu yang telah selesai dan berhasil menikahkan kami.
Kini agenda pernikahan berlanjut pada sungkeman dengan kedua orang tua masing-masing. Berhubung kedua orang tuaku sudah tiada sehingga proses restu pun digantikan dengan Tante Alexa sebagai wali tunggalku saat ini.
Randi berdiri dan menjuntaikan tangannya kepadaku, lalu ku sambut tangan kanannya tersebut untuk selanjutnya berjalan menuju kedua orang tua Randi. Dari arah mataku terlihat mama dan papanya yang sudah anteng duduk di atas bangku dengan modifikasi bunga-bunga khas pernikahan.
“Kenapa berhenti, sayang?” Tanyanya menoleh ke arahku, sebab aku menghentikan langkahku.
Aku menggelengkan kepala sembari melirik ke arah mamanya yang sangat jelas sinis kepadaku.
Randi seolah tahu apa maksudku lalu melangkahkan kakinya mendekati pelipis pipiku.
“Tenang aja Sayang, semua akan baik-baik aja.” Bisiknya.
Setelah mendengar kata-katanya yang menguatkanku, aku kembali ditarik oleh Randi menuju kedua orang tuanya. Randi mulai berpangku dan mencium tangan mamanya, sementara sang mama memeluknya dengan kuat dan tampak ia menumpahkan pula air matanya. Lalu, Randi menuju papanya yang baru saja sembuh dan kini harus menghadiri pernikahan anaknya dengan menggunakan kursi roda.
“Penuhi apa yang sudah kita sepakati ya Nak.” Terdengar suara papanya sampai ditelingaku.
“Ma, mohon restuin aku sama Randi.” Aku meraih tangan ibu mertuaku ini yang sama sekali ia pun tidak menoleh ke arahku, bahkan tangannya pun kaku enggan berjabat denganku. Bagi orang asing, sudah jelas keluarga aku dan Randi sudah terlihat kacau sedari awal. Parahnya dalam surat perjanjian yang diberikan oleh papanya, salah satu poin yang harus ku penuhi adalah tinggal di dalam rumah mewah tersebut bersama mereka.
Setelah Randi selesai bersungkeman dengan kedua orang tuanya, kini giliranku yang berjabat tangan dan meminta restu dari ayahnya.
“Penuhi janjimu, jangan kau langgar satupun jika masih ingin aman hidupmu!” Bisik pelan papanya yang benar saja sangat membuatku takut berada ditengah-tengah mereka.
Deg……
“Nyawaku terancam?” Gejolak batin penuh dengan pertanyaan kala Roger berkata demikian kepadaku.
Namun dalam hatiku selalu yakin mereka pada akhirnya mereka akan baik kepadaku, akan luluh kepadaku, serta akan bersikap sayang kepadaku sebab hanya aku menantu perempuan satu-satunya yang mereka miliki.
Lalu, acara sungkeman ini berlanjut kepada Tante Alexa yang sedari tadi telah tersenyum bahagia menyaksikan acara pernikahanku bersama pria yang selama ini ada di hidupku, Randi.
Ia langsung merangkul kami berdua seraya berkata,
“Randi, Claire selamat atas pernikahan kalian ya. Gue bangga banget sama kalian sampai di titik ini. Semoga pernikahan kalian bahagia, walaupun jalannya terjal, badai atau apapun nanti tetap sama-sama ya. Randi, tolong jagain keponakan tante yang cantik ini ya, dia kesayangan papinya jadi jangan pernah sakiti dan sia-siakan Claire.” Pinta Alexa sembari meneteskan air matanya.
“Thank you Te, pasti akan aku jaga sebaik mungkin kok Clairenya. Claire juga tuh Te kasih wejangan.” Ujarnya sembari melirikku dengan tersenyum tipis.
“Hahaha iya nih Claire juga sekarang sudah jadi istri Randi. Sabar ditambah lagi ya sayang, belajar masak, belajar dandan, karena walau bagaimanapun posisi kamu saat ini harus bisa memposisikan diri ditengah keluarga Randi. Tante yakin kok kamu bisa buat luluh mamanya Randi. Semua butuh waktu dan semua juga butuh proses.” Terang Alexa yang semakin erat memeluk kami berdua.
“Iya Te. Nanti kalau aku sudah pindah, tante sering-sering main ke rumah aku ya. Kabarin aja akunya, pasti aku bakal kangen banget sih sama Kayla juga.”
“Pasti kok sayang, pasti tante berkunjung ke rumahmu dan Randi. Jaga diri ya sayang. Kalau ada apa-apa infoin aja ke tante.” Ujar Alexa yang terlihat sudah lega melihatku pada akhirnya berhasil melangsungkan pernikahan dengan pria pujaanku walaupun dengan banyak rintangan yang sudah ku lalui kemarin dan akan banyak rangkaian masalah lagi setelah ini, terlebih sampai saat ini juga mama Randi tak kunjung memberikan restu.
****
Setelah melangsungkan acara pernikahan tertutup ini, aku langsung tinggal di rumah mewah milik Randi. Untuk pertama kalinya aku ke rumah kekasihku ini, dengan segala fasilitas mewah yang rumah ini miliki, jujur saja membuatku takut meskipun hanya memegang vas bunga sekalipun, karena harganya pasti tidak main-main.
“Sayang makan dulu ke bawah yuk.”
“Peraturan di rumah ini seketat itu ya Ndi?” Aku yang masih bersender di ranjang pernikahan ini masih terus berpikir memahami situasi rumah yang kini ku tempati.
“Sebetulnya enggak sih, bukan ketat, tapi ini sudah tradisi keluarga turun temurun Sayang. Ya kalau makan harus kumpul di meja makan.” Terangnya.
Sementara aku masih penuh culture shock tinggal disini dengan berbagai peraturan dan ketaraturan yang telah dibuat dari keluarga ini. Menurutku apa yang menjadi peraturan mereka cukuplah rumit dan cenderung saklek, mungkin begitulah cara orang berhasil bekerja, semuanya serba ketat dan teratur, sementara aku sang pendatang harus bisa mengikuti apa yang terjadi di rumah ini.
Akhirnya aku mengikuti Randi turun menuju lantai dasar yang sudah tampak papa mamanya berada di meja makan.
“Eh Nyonya turun juga, bukannya bantuin orang tua malah datang pas sudah selesai.” Sindir mama mertuaku sembari membawakan beberapa piring dari lemari kaca di ujung sana menuju meja makan.
Aku sama Randi saling menatap satu sama lain.
Aku mempercepat langkahku mendekati ibu mertuaku ini.
“Ma, sini Claire bantu bawakan.” Aku menyerahkan tanganku agar membantunya untuk membawa piring-piring yang masih berada di tangannya.
“Gak usah, sudah telat banget datangnya!” Bentaknya.
Sementara papa hanya tertawa melihat perdebatan mama denganku.
“Randi, ajarin coba tuh istrinya sopan santun sama orang tua. Bilang juga harus rajin disini, masa bantu aja kagak mau, padahal disini juga numpang tapi berasa nyonya.” Mama kembali menyindirku.
“Ma... Jangan begitu dong dengan Claire.” Ujar Randi mengontrol emosinya.
Aku menahan air mataku terjatuh akibat mendengar bertubi-tubi celotehan dari mertuaku yang sangat jelas tidak suka dengan kehadiranku di tengah keluarga mereka.
“Sayang, makan ya. Udah jangan dipikirin perkataan mama.” Bisiknya pelan di telingaku.
Aku menyeka air mataku yang kian menetes sembari mengahalau rambut panjangku agar tidak menghalangi pandangan.
Aku mengambil nasi dengan iga bakar yang telah siap makan ke dalam piring yang mengkilap ini. Ku angkat piring tersebut agar tidak terlalu jauh dari tempat pengambilan nasi, namun pada saat menuangkan centong nasi ke dalam piring, aku justru melakukan kesalahan yang cukup fatal.
“Praaaaaankkkk........”
“Kau tahu harga piring ini berapaaa?????!!!” Sontak saja hal ini membuat mama mertuaku berdiri dan berdecak pinggang dengan matanya yang melotot wajahnya memerah dengan kondisi amarah yang sangat jelas sulit terkontrol.
Randi yang kaget pun sontak langsung menarikku ke belakangnya.
“Ma.......” Ucapnya pelan berusaha mengendalikan emosi mama yang sudah sampai batas klimaks.
Sementara papa yang sedari tadi sedang makan, kini pun memundurkan kursi rodanya, sebab bisa saja pecahan beling kaca ini masuk ke dalam piringnya.
Asisten rumah tangga berhamburan menuju pusat keributan dengan tatapan yang sama paniknya denganku kini.
“Kamu ya! Belum lagi sehari di rumah ini sudah merusak perabotan rumah yang harganya lebih mahal dibandingkan harga diri kamu!” Tunjuk mama mertuaku.
Aku menunduk dan tanganku gemetaran.
“Ma.... maaf Ma, aku gak sengaja...” Ucapku pelan.
Randi menarik tanganku dan menggenggamnya lagi, sembari menoleh ke belakang.
“Sayang gak apa-apa...” Ia menggelengkan kepalanya memastikan semuanya akan baik-baik saja.
“Kalian kenapa cuma lihat aja? Beresin ini!” Teriaknya lagi kepada asisten rumah tangga yang masih penuh ketakutan satu sama lain, sebab baru kali ini juga aku melihat Ibu Airin, sapaannya di kantor yang kini menjadi mertuaku marah amat meledak-ledak.
“I... iya Bu...” Jawab kepala asisten rumah tangga yang langsung mendekati posisiku.
“Mbak, Mas Randi kesana dulu aja takut kakinya kena pecahan beling.” Bisik salah satu asisten rumah tangga ini mengingatkanku dan Randi.
Airin yang sudah mencapai titik bencinya denganku langsung berjalan pelan mendorong kursi roda Roger menuju sofa ruang tamu. Sementara aku masih menunggu gerakan dari Randi, yang juga terlihat bingung dengan situasi keributan di rumahnya.
“Sayang, aku gak sengaja..” Pelanku kepada Randi.
“Husstt, gak apa-apa, semuanya baik-baik aja kok.” Ia tersenyum tipis menatapku. Dari tatapannya sudah jelas ia sangat meyakiniku untuk berani menghadapi semua hal di dalam rumah ini.
“Mama gimana, sayang?”
“Gak apa-apa nanti aku coba tenangin mama ya. Kamu pesan makanan online aja ya, nanti asisten rumah tangga akan mengantar makanannya ke kamar.”
“Aku gak boleh turun buat ambil makanannya?”
“Gak sayang. Kamu sudah baca detail perjanjiannya kan?” Ia mengingatkanku lagi dengan berbagai poin perjanjian gila yang dibuat oleh kedua orang tuanya dan dilegalkan oleh kuasa hukum milik keluarga ini.