Bab 1

“Pria itu sudah di tangkap.”

Danira memutar bola mata, ia tidak berani bertatapan dengan mata tajam milik Husain. Beberapa hari terakhir ini, pria paruh baya itu yang terus mengunjunginya di rumah sakit, bersama Santi tentunya, istri Husain.

Santi yang berdiri di samping Husain memberi kode pada suaminya itu untuk keluar dan selanjutnya Danira bisa mendengar langkah kaki yang mulai menjauh. Ia merasa lega karena sekarang hanya tinggal berdua dengan Santi. Berhadapan dengan Husain membuat nyalinya menciut. Entah kenapa, sosok Husain mengingatkan ia pada sosok Imron, ayahnya di kampung.

“Bagaimana rasanya sekarang?” tanya Santi lembut.

“B-baik,” jawab Danira dengan suara yang teramat pelan. Untuk mengeluarkan suara saja ia butuh tenaga yang besar, untung saja benda tajam itu tidak melukai pita suaranya.

“Orang tua kamu sudah tau. Mereka sedang berusaha untuk ke sini.”

Kedua bola mata Danira berembun, apa yang harus ia jelaskan pada ayah dan ibunya nanti jika mereka bertemu?

“Jangan menangis. Mereka sudah tau apa yang sudah terjadi.”

Ucapan yang keluar dari mulut Santi bukannya menenangkan Danira tetapi malah membuat genangan di matanya tadi semakin banyak dan menjatuhkan bulir-bulir di kedua pipinya yang pucat.

“Bagaimanapun, mereka harus tau apa yang telah terjadi pada dirimu di sini. Kalaupun kejadian ini di sembunyikan, cepat atau lambat mereka pasti akan tahu juga. Lebih baik mengatakannya sekarang daripada mereka tahu dari orang lain ataupun dari berita yang mereka lihat nanti.”

Danira terdiam, Santi seratus persen benar. Memang lebih baik ayah dan ibu Danira tau kejadian ini sekarang daripada tau dari mulut orang lain yang tidak sepenuhnya mengetahui apa yang sudah terjadi pada gadis itu.

Tapi, membayangkan kenyataan kalau ayah dan ibunya sudah mengetahui apa yang Danira lakukan selama di sini... membuat gadis itu kembali meneteskan air mata.

Danira sudah menggoreskan luka yang teramat dalam di hati kedua orang tuanya.

“Dua minggu lagi, kamu akan menjalani operasi kedua. Jagalah kesehatan, jangan terlalu lama bersedih karena tuhan sudah memberikan kamu umur yang panjang untuk mengakui kesalahan dan bertaubat. Berbahagialah... karena kamu salah satu orang yang sangat beruntung.”

Danira menyimpan rapat perkataan Santi dalam hati dan kepalanya. Andai saja dua orang tua ini tidak peduli kepada nasib dirinya, pasti Danira akan melalui hari-hari yang gelap di rumah sakit. Hari-hari yang penuh cemoohan dan sindiran dari orang lain.

Namun Santi dan suaminya, Husain yang membuat Danira kuat dan tegar menghadapi cobaan yang tengah ia alami, jika dua orang tua itu tidak ada... rasanya Danira ingin bunuh diri dan mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menanggung malu.

Malu?

Ternyata gadis yang baru berusia dua puluh tahun itu masih merasakan malu saat berita tentang dirinya di muat di media lokal dan situs berita lokal. Dan berkemungkinan, berita tentang dirinya ini juga akan di muat di portal berita nasional.

Bukankah biasanya seperti itu? Si pemburu berita pasti suka mencari berita yang sedang viral di daerah tertentu dan mengemasnya kembali untuk di upload di channel pribadi guna mendapatkan keuntungan dari informasi yang mereka berikan.

Sangat menyedihkan!

Dua tahun yang lalu...

“Yakin gak mau ikut, Ra?

“Mau banget, Sy... tapi ayah dan ibu belum memberikan izin.”

Danira menjawab sambil terus menjalin dua daun kelapa yang akan ia bentuk menjadi sarang ketupat. Sarang-sarang ketupat itu nantinya akan di bawa ibunya ke pasar kecamatan untuk di jual. Hasil penjualan akan di berikan oleh ibu Danira untuk gadis itu tabung.

“Ya udah, cepetan bujuk. Satu minggu lagi aku berangkat, kalau jadi... kita barengan saja.”

“Tiap hari juga aku dah bujuk, Sy... tapi memang ayah dan ibu aja yang gak mau mengizinkan.” Danira menampilkan ekspresi wajah cemberut demi meyakinkan ucapannya.

“Kalau begitu ancam saja, Ra!”

Danira yang tadinya sibuk menjalin daun kelapa mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sahabatnya, Lusy.

“Ancam? Ancam bagaimana?” tanyanya penasaran.

“Bilang saja kalau kamu tidak di izinkan pergi maka kamu akan kabur dan tidak akan pulang, atau yang lebih ekstrim lagi, bilang kalau kamu akan mati,” desis Lusy.

Bulu kuduk Danira meremang mendengar ide sahabatnya itu. Bukankah itu terlalu kejam untuk ia ucapkan pada orang tuanya?

“Ituuu... kalau kamu masih mau pergi,” ujar Lusy lemah saat melihat ekspresi wajah Danira yang berubah mendengar ucapannya.

Danira membuang nafasnya, Lusy memang anak yang berani. Mereka sudah saling kenal semenjak kecil, rumah mereka tidak begitu jauh dan dulu mereka sering bermain bersama. Sifat keduanya bagaikan langit dan bumi, Lusy tidak mau di atur dan melakukan apa saja yang dia inginkan sedangkan Danira, ia gadis yang penurut dan tidak pernah membantah. Dua sifat yang berbeda itulah yang membuat Lusy dan Danira dekat dan saling melengkapi.

“Nanti aku akan coba bujuk ibu lagi. Siapa tahu, hati ibu akan melunak dan mengizinkan aku untuk pergi denganmu.”

Lusy tersenyum, ia percaya kalau Danira sudah berusaha membujuk orang tuanya. Danira tidak pernah berbohong.

*

"Jauh sekali, Nak," ujar Nazrah dengan raut wajah khawatir.

"Kenapa juga harus jauh-jauh. Kita hidup seperti ini sudah cukup bagi Ibu asalkan kita tetap berkumpul bersama. Anak Ibu dan Ayah hanya kamu seorang, kalau mau kerja yang dekat dari sini kan bisa. Ayah dan Ibu lebih mudah mengunjungi jika kangen sama kamu," lanjut Nazrah.

"Tapi Bu...." Wajah Danira sedikit cemberut mendengar tanggapan ibunya. Sejak Lusy menawarkannya untuk ikut bersama dia, Danira sudah mulai bosan dengan pekerjaan yang di lakoninya. Hari-hari ia habiskan untuk mencari daun kelapa muda serta menjalinnya hingga membentuk sebuah ketupat.

"Kasihan ibu kamu kalau kamu tinggal jauh-jauh."

Imron, ayah Danira yang sedari tadi memperhatikan ikut bersuara.

Danira menunduk, berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.

"Kata Lusy, gaji di sana besar. Kita bisa beli apa saja yang kita mau. Bahkan kita bisa melihat Singapura tanpa harus mengunjungi negara itu," ucap Danira yang masih mengharapkan izin ke dua orang tuanya.

Jujur saja, ia sangat tergiur dengan cerita Lusy tentang kota yang berseberangan dengan negara singa tersebut.

Yang Danira tau, negara tersebut sering menjadi tempat artis jalan-jalan dan berbelanja.

"Mencari kerja itu gak gampang, Nak. Apalagi kamu hanya tamat SMA. Apa iya, kamu akan dapat kerja sampai di sana?" Nazrah terlihat ragu, ia sudah mulai memikirkan permintaan putrinya.

Kalau sudah begini, Danira seolah mendapatkan sedikit harapan.

"Lusy juga tamat SMA, Bu. Dia langsung dapat kerja dan ibu bisa lihat kalau sekarang ia punya banyak uang. Cincin dan gelang emasnya saja banyak."

Nazrah menghela nafasnya. Wanita itu memutar bola matanya melirik pada Imron, ayah Danira.

Merasa di lirik, Imron pun angkat bicara.

"Kalau mau, kamu juga bisa beli cincin, tabungan kamu kan juga sudah mulai banyak," cetus Imron.

Danira menatap kedua orang tuanya secara bergantian, sepertinya memang tipis harapannya untuk pergi bersama Lusy. Gadis itu pun masuk ke kamarnya dengan perasaan kecewa.

Beberapa menit kemudian, Danira mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia pun bergerak dan membukakan pintu kamar.

Nazrah sudah berdiri di depannya, wanita itu tersenyum kecil.

“Baiklah, jika memang itu mau mu. Ayah dan ibu mengizinkan, tapi dengan syarat kamu harus pulang setidaknya satu kali dalam setahun.”

“Baik, Bu. Danira akan sering pulang mengunjungi ayah dan ibu.”

Gadis itu tersenyum senang, ia memeluk Nazrah dengan erat. Esok pagi, ia akan menyampaikan berita bahagia ini pada Lusy.

*

Burung besi itu mendarat dengan sempurna di Bandara Hang Nadim. Ini adalah pertama kalinya Danira naik pesawat, dan ia sempat takut saat pesawat landing tadi. Rasanya ia di jatuhkan dari tempat yang tinggi. Perutnya ikut bergetar dan setelah itu ia merasakan geli seperti ada yang menggelitik dari dalam.

Cuaca hari ini terasa sangat panas, Lusy bilang sudah biasa di kota itu cuaca panas seperti ini. Tidak seperti di kampung mereka yang adem dan dingin. Di sana berjejer pohon kelapa, dan semua masyarakat bisa dengan mudah memetiknya. Tapi yang Danira lihat sepanjang perjalanan di kota ini bukit-bukit gersang dengan jenis tanah yang keras dan sedikit tandus. Di sisi lain jalan berjejer bangunan dua lantai dan sebagian lagi ada pintu masuk seperti gapura yang Danira tidak tahu di dalamnya apa.

Bab 2

Batamindo.

Itu adalah tulisan yang Danira baca saat taksi yang membawa mereka dari bandara memasuki sebuah kawasan yang menurut Lusy adalah kawasan tempat tinggalnya.

Jadi, Danira akan menumpang dulu sebentar di kediaman Lusy sampai ia mendapatkan pekerjaan.

“Di sini tempatnya, Sy?” tanya Danira sambil terus memandang ke luar lewat kaca jendela. Sejak dari bandara tadi, gadis itu tidak sedikitpun mengalihkan pandang dari kaca jendela dan merekam semua yang ia lihat untuk di ceritakan nanti pada kedua orang tuanya ketika ia pulang kampung nanti.

“Iya. Nama daerahnya Muka Kuning. Kamu lihat itu,” tunjuk Lusy.

“Semua bangunan itu adalah perusahaan-perusahaan. Pemiliknya orang luar negeri semua. Dan yang di sebelah sana, coba kamu lihat.” Lusy mengalihkan tunjuk ke sisi lain mereka. Danira mengikuti arah tempat yang di tunjuk Lusy.

Di sana, terdapat bangunan bertingkat dengan banyak jendela. Hampir di setiap dindingnya tergantung jemuran kain yang telah selesai di cuci. Terlihat sedikit kotor menurut Danira, masa iya... menjemur kain melewati jendela.

“Itu namanya dormitory,” ujar Lusy memberi tahu.

“Dormitory?” Danira mengulang kembali perkataan Lusy. Kedua alis matanya bertaut, kata itu baru pertama ia dengar.

“Iya. Di sini di sebut Dormitory. Hampir sama dengan rumah susun kalau di kampung kita. Hanya saja, dormitory ini isinya sampai enam belas orang dalam satu kamar.”

Mulut Danira terbuka. “Enam belas orang?” tanya nya tidak percaya.

“Iya. Enam belas orang. Dan sudah di sediakan ranjang. Enak kan?” ujar Lusy membangga.

Danira membayangkan betapa luasnya ruangan itu, kemudian....

“Bayar berapa sebulan?” tanya Nadira ingin tahu.

“Gratis. Perusahaan yang membayarnya.” Sekali lagi Lusy membanggakan tempat tinggal dan tempat ia bekerja. Dan Danira kembali di buat takjub mendengar pernyataan Lusy.

“Kalau kita sewa rumah atau ngekos, sebulannya biaya sewa bisa sampai tujuh ratus lima puluh ribu.”

Kali ini Danira benar-benar di buat menganga oleh Lusy. Tujuh ratus lima puluh ribu bukan angka yang kecil bagi Danira. Ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu selama tiga bulan menjalin daun kelapa menjadi sarang ketupat.

Lusy mengulum senyum melihat ekspresi Danira. Sahabatnya itu memang sepolos itu, apa-apa terpancar langsung dari wajahnya.

Taxi yang mereka kendarai telah sampai di dormitory tempat Lusy tinggal. Gadis itu membayar ongkos taxi dan mengajak Danira masuk. Sebelumnya ia berbicara dulu dengan security yang menjaga di pos depan. Danira di suruh menunggu di pintu masuk.

Kamar Lusy berada di lantai dua, Danira tidak sedikitpun melepaskan pandang dari sekelilingnya. Bangunan tersebut terdiri dari 4 lantai dengan kamar yang sangat banyak tapi suasana di sana terlihat sangat sepi seperti tidak ada yang menghuni padahal di depan pintu kamar ada beberapa jemuran yang tergantung.

“Kok sepi, ya, Lus?” tanya Danira penasaran.

“Pada kerja semua,” jawab Lusy santai. “Kalau tidak kerja, paling mereka istirahat dan tidur. Karena ada yang kerja malam dan pulang pagi,” lanjutnya.

Danira mengangguk mengerti, ia sekarang berada di kawasan pekerja yang menurut Lusy tidak pernah stop meskipun di malam hari. Dari Lusy juga Danira tahu kalau pekerja di sana selalu berganti shif dari pagi ke malam dan dari malam ke pagi sehingga perusahaan di sana selalu beraktivitas tanpa henti. Bahkan di hari minggu tetap ada yang masuk kerja dan pekerjanya di bayar dua kali lipat dari gaji biasanya. Kalau tidak salah, namanya OT. Singkatan dari over time. Ternyata di sini sekeren itu, terkadang mereka menggunakan bahasa asing di keseharian, itu yang ada dalam pikiran Danira.

Danira benar-benar tidak sabaran lagi bergabung bersama mereka, menjadi pekerja seperti Lusy.

“Istirahat dulu, Ra,” ujar Lusy saat mereka sudah sampai di kamar Lusy.

“Ini ranjangku. Nanti kamu di atas ya, kebetulan di atas sedang kosong. Orangnya sudah habis kontrak dan harus meninggalkan tempat ini.” Lusy menunjuk ranjang tingkat dua di bagian atasnya. Danira mengangguk dan segera naik ke bagian atas. Ia lalu merebahkan diri di sana, meskipun sebenarnya ia tidak merasakan lelah karena perjalanan dari kampungnya ke sini terasa singkat sekali, padahal jaraknya teramat jauh.

Danira menatap langit-langit kamar sambil membayangkan nasibnya beberapa bulan ke depan, gadis itu tersenyum membayangkan perubahan hidupnya nanti.

Kata Lusy satu bulan ia bisa mendapatkan gaji empat sampai tujuh juta. Tergantung berapa lama ia kerja dalam satu bulan itu. Kalau banyak OT nya maka gaji akan semakin besar. Nanti kalau aku sudah bekerja, aku akan mengirim ayah dan ibu uang separuh dari gajiku. Sisanya lagi akan aku simpan sebagai tabungan, karena rumah tidak bayar, makan siangnya sudah di kasih perusahaan dan kita hanya memikirkan makan malam saja lagi, sepertinya pengeluaran tidak terlalu besar. Aku pasti bisa menabung banyak dalam satu bulan.

Danira sudah menghitung-hitung jumlah tabungan yang ia dapatkan dalam khayalannya.

Pagi datang menyapa...

“Ra, hari ini aku masuk pagi pulang sore. Gak OT hari ini, pulangnya kita jalan-jalan ya. Aku akan bawa kamu keliling Muka Kuning biar kamu tau daerah sekitar sini, besok paginya kamu bisa keliling mencari lowongan pekerjaan. Akan banyak kawan yang sama dengan kamu, jadi kamu nanti bisa menyapa mereka agar tidak sendirian.” Lusy yang sudah selesai mandi dan sedang memakai pakaian kerja menjelaskan kegiatan apa yang akan mereka lalui hari ini.

“Untuk makan pagi dan siang ini, masih bisa pakai lauk yang kita bawa kemaren, kan?” tanya Lusy.

Danira mengangguk, Ibunya sudah membekali lauk untuk makan mereka setibanya di Kota Batam ini dan lauk kemaren itu masih bersisa. Danira tinggal memanaskan nya saja sebelum makan.

Dan hari pertama Danira berada di blok dormitory Lusy, hanya ia habiskan dengan duduk sambil membaca novel kesayangan yang ia bawa dari kampungnya.

Dua bulan sudah berlalu, Danira belum juga mendapatkan pekerjaan. Setiap hari ia sudah berkeliling area Batamindo, bahkan ia sudah hafal setiap sudut dan nama perusahaan yang ada di sana. Ternyata, mencari pekerjaan tidak semudah yang Lusy ceritakan. Setiap hari ia berkeliling tapi belum mendapatkan pekerjaan. Pernah secara administrasi ia sudah lulus, tapi ia gagal di tes kesehatan.

Danira hampir putus asa karena tabungan yang ia punya dari hasil menjalin daun kelapanya sudah menipis. Ia tidak mungkin terus menerus menggantungkan makan pada Lusy. Biaya sewa kamar dan transportasinya untuk berkeliling mencari pekerjaan sangat besar, bahkan ia sudah menekan biaya makannya supaya tidak terlalu mahal.

“Ra, aku habis kontrak,” ucap Lusy waktu itu.

“Terus?”

“Maaf, kamu gak bisa ikut aku terus. Kita juga harus keluar dari dormitory ini.”

Bab 3

“Maaf, kamu gak bisa ikut aku terus. Kita juga harus keluar dari dormitory ini.”

“Kita mau kemana, Lus? Aku ikut kemanapun kamu tinggal. Aku hanya tau daerah sini, aku belum punya pengalaman tinggal di luar.” Danira mulai khawatir jika Lusy meninggalkannya. Ia belum satu bulan di sana dan belum mengerti cara bepergian jauh.

“Aku pikir, kontrak aku akan di sambung, ternyata gak jadi, Ra,” ujar Lusy dengan nada sedih.

Lusy memang pernah cerita pada Danira, kalau ia pulang kampung kemaren karena menghabiskan cuti tahunan sebelum kontraknya di perpanjang.

“Kita sama-sama aja cari kontrakan di luar, Sy.” Danira memohon.

Lusy terlihat ragu, ia kemudian mengalihkan pandang dari sahabatnya ke orang-orang yang sedang sibuk berfoto. Batamindo sore itu sedang ramai di kunjungi orang karena pohon yang tumbuh di sepanjang area wilayah tersebut sedang berbunga. Bunga-bunganya sangat banyak dan bewarna warni, mereka menyebutnya dengan musim Sakura.

Entahlah... Danira tidak tahu entah itu bunga Sakura sungguhan atau tidak. Ia sendiri tidak pernah melihat bunga khas negara Jepang itu seumur hidupnya.

Sekarang saja ia baru tahu kalau sebenarnya ratusan pohon yang tumbuh di kawasan Batamindo tersebut ternyata pohon Tabebuya yang sudah di tanam sejah tahun 1993 lalu. Jenis pohon Tabebuya ini sangan cocok tumbuh di daerah yang beriklim kering seperti Batam. Pohon ini suka membuat heboh warga Batam jika sedang musim mekar. Kawasan itu pasti ramai di kunjungi warga hanya untuk sekedar berfoto ria dan membawa anak mereka jalan-jalan.

“Bagaimana ini?” Danira menggigit bibir bawahnya sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan. Gadis itu sedang termenung di kamar kost nya sendirian. Lusy sempat mencarikan Danira kamar untuk tempat tinggal sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu.

Dan sejak saat itu, Danira tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Lusy. Ia sangat kecewa kepada Lusy karena telah meninggalkan dirinya dan memilih untuk tinggal bersama kekasihnya. Mereka sempat bertengkar waktu itu, tapi Lusy adalah anak yang keras kepala, Lusy tidak mau di atur. Ia sama sekali tidak pernah mau Danira kasih tahu kalau apa yang akan di lakukan Lusy itu sebenarnya tidak baik. Mereka baru saja berpacaran dan sudah memutuskan untuk tinggal bersama.

Danira kembali membuka dompetnya, hanya tersisa empat lembar uang ratusan ribu. Dan Danira yakin lembaran uang itu akan habis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Gadis itu kemudian merebahkan diri di kasur tipis pemberian Lusy.

“Ibu... benar kata ibu kalau mencari kerja itu sangat sulit. Apalagi aku hanya memiliki ijazah SMA. Rata-rata mereka meminta yang berpengalaman, aku sama sekali tidak punya pengalaman,” keluh Danira.

Beberapa bulir air mata jatuh di pipi Danira. Sekarang gadis itu sangat ketakutan, dengan sisa uang yang ia punya berapa lama lagi ia akan bertahan di kota teh obeng itu? Andai saja Danira membelikan saja uang yang tertinggal itu dengan tiket pesawat untuk pulang ke kampung pasti sekarang ia tidak akan pusing seperti ini. Tetapi saat itu, saat uangnya masih banyak, ia tidak terfikir untuk pulang kampung dan ia masih optimis jika akan mendapatkan pekerjaan.

Danira mulai ketakutan, malam ini bisa di pastikan ia tidak akan bisa tidur dengan tenang.

*

Batam Center.

Pagi-pagi sekali Danira sudah berada di Kawasan Tunas Industri, sesuai dengan loker yang ia baca kemaren sore ada sebuah perusahaan yang sedang membutuhkan operator. Sebenarnya, ini pertama kalinya Danira memberanikan diri ke pusat kota untuk mencari pekerjaan. Biasanya dia hanya mencari kerja di sekitaran tempat yang pernah ia kunjungi yaitu kawasan Batamindo, Panbill dan kawasan Tanjung Uncang yang tidak jauh dari tempat ia tinggal.

Di luar dugaan nya, yang melamar untuk posisi tersebut sangatlah banyak. Ia harus berjuang berhimpitan dengan pencari kerja lain untuk memasukkan map lamaran kerja. Setelah berhasil memberikan lamarannya pada security yang menjaga di sana, ia pun mengambil tempat duduk di depan perusahaan tersebut untuk melepaskan lelah agak sejenak.

“Panas, ya,” sapa seseorang pada Danira ketika gadis itu sedang mengipas wajahnya menggunakan map lain.

“Iya,” jawab Danira. “Padahal masih jam sembilan,” ucap gadis itu lagi sambil melirik pada jam yang melingkar di tangan kirinya.

“Mau?” Dia menawarkan sebotol minuman dingin.

“Terima kasih.” Tanpa ragu Danira mengambil minuman yang masih bersegel tersebut. Dengan cepat ia membuka segel dan langsung meminum beberapa teguk untuk melepas dahaganya.

“Cari kerja juga?”

“Iya. Kamu?”

“Sama. Kalau sudah bergabung di sini, berarti sama-sama mencari kerja. Hehehe...,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Danira juga tertawa, memang iya... yang berada di sana pencari kerja semua.

“Aku Randy, kamu?”

“Danira.”

Randy dan Danira saling berjabat tangan.

*

“Ra, ada dapat telepon dari Bu Siska?

“Ada.”

“Aku juga. Aku dah mau berangkat nih, kamu dimana sekarang?”

“Aku sedang nunggu angkot.”

“Oke, kita ketemu di sana, ya.”

Randy menutup panggilannya, begitu juga dengan Danira. Sejak pertemuan mereka satu minggu yang lalu di Kawasan Tunas, mereka jadi sering berkomunikasi. Randy sering memberi info pada Danira perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja.

Setengah jam kemudian, Danira sampai di Batam Center. Untuk memasuki Kawasan Tunas, tepatnya perusahaan yang akan ia tuju, Danira harus berjalan kaki. Mau naik ojek sayang sekali, karena jaraknya terlalu jauh. Hanya menghabiskan uang saja dan Danira sekarang berada dalam mode hemat.

“Ra, sini!” Randy datang menghampiri.

“Loh, kamu baru sampai juga?” tanya Danira heran. Harusnya Randi sudah sampai sekitar sepuluh menit yang lalu, karena jarak rumah Randy tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut.

“Aku tunggu kamu, biar kita barengan ke dalam. Ayo naik!” ajak Randy.

Danira langsung saja naik dan duduk di motor Randy. Bersama mereka menuju perusahaan tempat mereka bertemu seminggu yang lalu.

Jika Danira duduk di belakang dengan perasaan yang biasa saja, berbeda dengan Randy. Pria itu merasa bahagia bisa membawa gadis itu duduk di motornya meskipun jarak yang mereka tempuh sangat singkat sekali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED