Bab 1

Dengan wajah penuh keceriaan, Amora berlarian dari mulai turun dari bis hingga sampai ke depan rumahnya, tiba didalam rumah terlihat Ayahnya yang bernama  Pak Billi dan Ibunya yang bernama Maria tengah duduk sambil menikmati secangkir teh hangat di ruangan televisi.

"Ayah, Ibu, aku pulang!" kata Amora.

"Mora, kau sudah pulang rupanya! Maaf ayah tidak hadir di acara kelulusan sekolahmu, ayah masih sakit Mora,"

"Iya yah tidak apa-apa Ayah, Ibu sekarang Mora sudah lulus sekolah,"

"Baguslah Mora, jadi kau bisa bantu-bantu Ibu untuk kerja cari uang kau lihat sendiri kan ayahmu sakit-sakitan terus, Ibu capek kalau hanya Ibu yang kerja sendirian untuk keluarga kita!" ujar Bu Maria.

Deg..

Padahal sudah menjadi makanan sehari-hari ucapan yang keluar dari bibir Ibunya itu selalu saja membuat hati Amora tidak nyaman, tapi kenapa kali ini Amora merasa sangat sakit sekali mendengar Ibunya meminta dirinya untuk segera bekerja, sementara kakaknya Alana Nouline tidak pernah sedikitpun diminta untuk membantu keuangan keluarga mereka.

"Bu, nanti Ayah juga sehat lagi! Biarkan saja Mora kuliah mengikuti jejak Alana,"

Ckckckck..

Terlihat tawa Bu Maria seperti setengah mengejek mendengar Pak Billi mengatakan jika Amora lebih baik kuliah.

"Ayah ini kok ada-ada saja, masa Mora disamakan dengan Lana, yah kalau Mora kuliah mau bayar biayanya pakai apa? Daun? Untuk makan sehari-hari saja kita pas-pasan, lagipula ya yah, Alana itu kan sejak kecil dapat beasiswa karena otaknya jenius, kuliah juga dia pakai beasiswa jadi tidak pernah merepotkan kita, beda dengan Amora sejak kecil kita mengeluarkan banyak biaya pendidikan untuknya!"

Jleb..

Selalu kata-kata yang bersifat merendahkan dan menyakitkan yang terlontar dari bibir Ibunya yang setiap hari didengar oleh Amora, seperti dirinya hanyalah seorang anak tiri atau seorang anak pungut yang tidak memiliki arti berharga bagi sang Ibu. Mau marah juga tidak mungkin, toh semua yang diucapkan oleh Ibunya itu seratus persen benar.

Amora tidak pernah sekalipun masuk rangking sepuluh besar sejak duduk dibangku sekolah dasar hingga SMA, sementara Alana selain dia cantik dan terkenal dilingkungan sekitar rumah dan sekolah karena prestasinya yang segudang, selalu dapat beasiswa bahkan hingga saat ini.

Bukan Amora malas dan tidak mau banyak belajar, hanya saja sejak kecil Amora fokusnya terbagi untuk mengurus rumah bersih-bersih ketika pulang sekolah, orangtuanya itu bekerja sebagai buruh di pabrik dekat rumah mereka, jadi rumah tidak ada yang merapihkan dan membersihkan jika bukan Amora. Itulah sebabnya sejak dulu mau belajar pun waktu yang dimiliki Amora terbatas dan dia selalu kelelahan akibat beres-beres rumah tanpa seorangpun membantunya.

Alana sang kakak, tidak akan mungkin mau membersihkan rumah kakaknya itu memang selalu egois dan mementingkan dirinya sendiri.

"Heh Mora, dengarkan Ibu bicara tidak?"

Lamunan tentang sikap dan perlakuan tidak adil sang Ibu terhadap dirinya, tersadar karena Bu Maria berbicara kembali.

"Mora!"

"I-iya Bu,"

"Bagaimana kau akan bekerja kan?"

"Iya Bu, secepatnya Mora akan cari pekerjaan kalau begitu Mora ke kamar dulu Yah, Bu,"

"Hmm,"

"Jangan lupa nanti habis makan cuci piring sekalian ya!"

"Iya Bu,"

Amora kemudian meninggalkan kedua orangtuanya lalu segera masuk kedalam kamar berukuran 2x2 meter itu, kamar sempit dan kumuh itu menjadi tempat curahan hati Amora kala dirinya tidak tahan lagi dengan semua yang diucapkan oleh orang-orang di rumah ini.

"Ketika kak Lana lulus SMA, Ayah dan Ibu sangat antusias untuk datang ke sekolah bahkan aku masih sangat ingat Ayah dan Ibu membeli pakaian yang sangat mahal dan bagus demi datang ke acara kelulusan kak Lana waktu itu!"

Tak terasa air mata Amora pun menetes tanpa bisa dibendung sama sekali, orangtuanya itu memang tidak pernah bersikap kasar, ataupun membentak Amora, tapi ucapan biasa saja sudah mampu memberikan luka terus menerus dihati Amora, terutama sang Ibu karena ayahnya tidak pernah banyak bicara juga tidak pernah membela dirinya secara terang-terangan.

"Bu, kalau Ayah sehat lagi tolong biarkan Mora kuliah saja, kasihan dia kalau harus ikut bekerja,"

Uhukk..Uhukk..

"Haduh Ayah, kuliah? Ayah pikir biayanya murah? Kalau Mora seperti Alana yang dapat beasiswa, Ibu juga tidak akan larang dia untuk kuliah kok Yah tapi kan Ayah tau sendiri, Mora itu tidak pintar seperti Lana,"

Jika sudah berdebat dengan Bu Maria sudah pasti Pak Billi tidak bisa lagi membantah, di rumah ini Bu Maria lah penguasa rumah dan yang mengatur segala sesuatunya adalah Bu Maria.

Malam harinya, ketika semua pekerjaan rumah sudah beres Amora pun merebahkan tubuhnya yang pegal-pegal diatas sofa ruangan televisi! Bagaimana tidak lelah dan pegal-pegal, pulang dari sekolah dari mulai mencuci piring, menyapu dan mengepel, mencuci semua pakaian anggota rumah ini, menjemur, menyapu halaman rumah, menyetrika pakaian semua dilakukan oleh Amora setiap hari agar tidak terlalu menumpuk.

Ceklek...

Alana sang kakak, akhirnya tiba di rumah dengan membawakan satu kotak donat dengan berbagai macam varian rasa. Alana menaruh satu kotak donat tersebut diatas meja kemudian duduk disamping Amora.

"Tuh makan, donat itu mahal loh Mora rasanya enak sekali," kata Alana.

"Iya kak nanti Mora makan,"

"Eh, Lana anak Ibu sudah pulang rupanya! Kok malam sekali Na?"

"Biasalah Bu, tadi Alana ada belajar kelompok dulu dengan teman kampus nah ini salah satu dari mereka belikan Lana donat, enak deh Bu!"

"Wah, Lana ini kan donat mahal," kata Bu Maria sambil membuka kotak donat itu.

Terlihat raut wajah bahagia sekaligus bangga Bu Maria ketika menikmati donat yang mulai dia masukan kedalam mulutnya, seolah-olah semua rasa lelah atas pengabdian Amora sejak siang tadi membersihkan rumah tidak ada harganya sama sekali dibandingkan dengan sepotong donat mahal itu.

"Terimakasih ya nak, kau itu memang selalu ingat kita yang ada di rumah,"

Alana tampak menceritakan kegiatan dirinya hari ini di kampus pada sang Ibu, terlihat Bu Maria sangat antusias dan bangga mendengarkan cerita Alana sambil menikmati donat mahal tersebut, rasanya ingin sekali Amora pergi masuk dan mengurung diri didalam kamarnya.

"To-tolong!" Pak Billi berteriak dengan suara seraknya.

Brukk...

"A-ayah?" kata Amora.

"Bu, itu Ayah," kata Alana yang ikut panik.

Ketiganya kemudian segera berlari menuju kamar Pak Billi, terlihat Pak Billi sudah berada dibawah ranjang dengan posisi tengkurap dan sudah tidak sadarkan diri, mereka bertiga pun panik dan langsung menelpon ambulans.

Beruntung di kota kecil ini ambulans akan tiba dengan cepat dan bisa memberikan pertolongan pertama pada Pak Billi, mereka akhirnya ikut kedalam ambulans dan sama-sama pergi ke rumah sakit yang ada di kota kecil ini.

Mereka bertiga menangis sedih melihat kondisi Pak Billi yang tak kunjung sadar, hingga tiba di rumah sakit Pak Billi segera mendapatkan penanganan dari dokter dan beberapa perawat. Pak Billi masuk kedalam ruangan ICU sehingga baik Bu Maria, Alana dan Amora hanya bisa menunggu diluar ruangan.

Bab 2

"Bu, sebenarnya Ayah sakit apa?" tanya Alana.

"Iya Bu, kenapa Ayah tidak sembuh-sembuh padahal sudah diberikan obat dari apotik," kata Amora.

"Entahlah, Ayah kalian hanya mengeluh sesak nafas dan batuk makanya Ibu berikan obat batuk,"

Setelah lama menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan ICU!

"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Bu Maria.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan Pak Billi menderita kanker paru-paru dan sudah stadium tiga!"

"Apa?" serempak.

"Kanker? Pe-penyakit mematikan itu?" tanya Bu Maria.

Ketiganya langsung shock dan lemas begitu mengetahui penyakit yang diderita oleh Pak Billi bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh! Belum lagi darimana mereka akan mendapatkan biaya untuk pengobatan Pak Billi lebih lanjut.

"Nyonya, secepatnya kita harus dilakukan beberapa jenis pengobatan untuk mematikan sel-sel kanker tersebut, sebelum menyebar lebih jauh lagi!"

"Berapa biayanya kira-kira dok?"

"Nanti akan ada perawat yang memberikan rinciannya, saya permisi dulu!"

"Baik, terimakasih dokter,"

Bu Maria hanya bisa menangis setelah mendengar vonis kanker pada Pak Billi, darimana mereka mendapatkan biaya untuk pengobatan Oak Billi? Sementara untuk makan saja mereka pas-pasan.

"Bu, Ibu tenang ya! Besok Mora akan secepatnya mencari pekerjaan,"

"Tapi Mora, mencari kerja itu tidak segampang itu kau belum tentu cepat mendapatkan pekerjaan belum lagi menunggu gajian, itu sangat lama," kata Bu Maria.

Sementara sejak tadi Alana tengah berpikir keras demi mendapatkan uang untuk kesembuhan Ayahnya, saat ketiganya sedang membahas masalah biaya, seorang perawat datang dengan membawakan beberapa lembar berkas yang harus mereka ketahui dan tandatangani.

"Permisi, dengan keluarga Bapak Billi,"

"Iya saya isterinya sus, mengenai penanganan untuk penyakit yang diderita oleh Pak Billi, berikut rincian biayanya Bu! Dan pihak keluarga diminta untuk melakukan pembayaran dimuka agar pasien bisa segera mendapatkan pengobatan lanjutan!" kata suster tersebut sambil menyodorkan berkas tersebut.

Baru melihat rincian biaya diawal saja sudah membuat kepala Bu Maria pusing tuju keliling, apalagi dilembar berikutnya! Banyaknya rangkaian dan tahapan pengobatan bagi pasien kanker paru-paru stadium tiga ini, membuat biaya yang harus dikeluarkan juga tidak main-main jumlahnya luar biasa besar.

"I-ini tidak salah suster? Sebanyak ini?"

"Ini belum semuanya Bu, ini baru rincian biaya langkah pengobatan awal saja,"

"Ya Tuhan, baru biaya diawal saja sudah 50 juta darimana aku membayar semua ini?"

"Kami sangat mengerti biayanya sangat tidak sedikit, karena itu pihak rumah sakit memberikan keringanan untuk pihak keluarga membayar uang muka saja dulu baru nanti biaya-biaya kedepannya bisa mulai dicicil dari sekarang, yang terpenting ada yang masuk dulu agar pasien bisa secepatnya mendapatkan pengobatan!" kata perawat tersebut.

"Saya akan carikan uang muka pengobatan suami saya sus, tapi tidak hari ini!"

"Baik Bu, nanti silahkan datang ke bagian administrasi saja jika akan melakukan pembayaran, kalau begitu saya permisi dulu!"

"Iya sus, terimakasih,"

Setelah perawat pergi, Bu Maria pun menangis tersedu-sedu.

"Bagaimana ini Lana, Mora, darimana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu? Itu baru biaya diawal saja, bisa ratusan juta jika pengobatan itu dalam jangka lama, Ibu tidak sanggup,"

Hiks..Hiks..

"Ada satu cara Bu, kita bisa mendapatkan uang dalam jumlah banyak dengan cara cepat,"

"Benarkah Lana? Katakan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu cepat?"

"Bekerja di rumah bordil," kata Alana.

"Rumah bordil?" tanya Bu Maria dan Amora.

"Bukankah itu tempat para wanita menjual diri Alana?"

"Iya Bu, salah seorang temanku ada yang menjual diri dan hidupnya sangat glamor,"

"Ta-tapi Ibu tidak mungkin menjual diri, mana ada laki-laki yang mau dengan wanita tua dan keriput seperti Ibu,"

"Bukan Ibu, tapi Amora," kata Alana sambil menunjuk kewajah lugu adiknya itu.

"A-apa? Maksud kakak apa? A-aku jual diri? Tidak kak, aku tidak mau!" kata Amora dengan histeris.

"Lalu kau mau aku yang menjual diri? Dengar Mora, masa depanku terlalu cerah untuk dipertaruhkan menjadi pekerja di rumah bordil, sementara kau? Selama ini kau dibiayai sekolah oleh Ayah dan Ibu, oleh keringat mereka karena kau tidak bisa sepintar aku dan tidak bisa mendapatkan beasiswa seperti aku! Sekarang Ayah sedang membutuhkan baktimu Mora, kau mau Ayah meninggal?"

Amora langsung menangis dan bersujud dibawah telapak kaki Bu Maria.

"Bu, Mora tidak mungkin melakukan pekerjaan hina itu Bu! Amora takut Bu!"

"Mora, maafkan Ibu! Tapi yang kakakmu katakan itu benar, selama ini hanya kami yang selalu memberikan uang untuk kebutuhan makan, sekolah, dan ongkos berangkat sekolahmu! Apa kau tidak ingin membalas semua yang sudah kami keluarkan demi kesembuhan Ayahmu?" tanya Bu Maria.

Benar-benar Ibu dan kakaknya itu menjadikan Amora sebagai target dari busur panah keduanya, Bu Maria benar-benar tega menyetujui saran gila dari Alana tanpa sedikitpun memikirkan masa depan dan hancurnya nasib Amora ketika dirinya harus menyerahkan kesucian dari tubuhnya yang sangat amat berharga hanya untuk para laki-laki tua hidung belang di tempat hina itu.

"Bu, Mora janji akan bekerja seumur hidup Mora demi melunasi biaya rumah sakit Ayah, tapi tolong jangan meminta Mora menjual diri!"

"Kau mau bekerja apa dengan ijazah dan otakmu yang dibawah rata-rata itu Amora? Tolong kau harus sadar diri, pendidikanmu hanya sampai SMA mau sekeras apapun kau bekerja gajimu tidak akan pernah bisa mencicil biaya rumah sakit, dan satu hal lagi kita butuh uangnya sekarang juga!"

Hiks..Hiks..

"Sudahlah Bu, dari sini kita tau jika Amora memang tidak bisa berbakti bahkan demi menolong Ayah saja dia tidak mau! Kalau saja aku tidak sedang kuliah dan masa depan dihadapanku sangat cerah ketika lulus nanti, mungkin Lana yang akan menjual diri Lana sekarang juga demi kesembuhan Ayah,"

Disingkirkannya Amora yang tengah bersujud dibawah kakinya boleh Bu Maria kemudian Bu Maria pun memeluk erat Alana.

"Ibu seperti hanya memiliki satu putri selama ini Lana,"

Kata-kata yang sangat amat menyakitkan terdengar oleh kedua gendang telinga Amora, rasa-rasanya mau sejuta kebaikan yang telah dilakukan oleh Amora selama ini tetap tidak akan pernah terlihat Dimata Ibunya.

Amora bangkit kemudian menghapus air matanya.

"Baiklah, kapan aku kalian bawa ke sana?" tanya Amora yang sudah berpasrah terhadap nasib dan suratan takdirnya.

Bu Maria dan Alana pun langsung bersama-sama menghampiri Amora.

"Kau yakin Mora?" tanya Bu Maria.

"Memangnya aku bisa menolak? Tidak bukan? Harus aku disini yang menjual diri karena aku tidak pintar dan selalu merepotkan Ibu dan Ayah, kini saatnya aku akan membalas budi kalian!"

"Besok malam, biar kakak yang antar," kata Alana dengan tanpa rasa bersalah sama sekali.

Bab 3

Kedua tangan Amora mengepal, darahnya terasa mendidih menghadapi hari esok yang akan menjadi penghancur hidupnya. Tapi apa boleh buat, tidak ada jalan keluar bagi Amora saat ini apalagi nyawa sang Ayah yang menjadi taruhannya.

Keesokan harinya, sore hari Alana dan Amora pulang dari rumah sakit karena keduanya harus siap-siap untuk berangkat ke rumah bordil dan bertemu dengan salah seorang teman kampus Alana yang bekerja disana.

"Kau boleh membenciku atau Ibu Mora, tapi semua ini kami lakukan demi Ayah," kata Alana.

"Membenci pun percuma bukan? Tetap tidak akan ada yang berubah dengan nasibku malam ini!" kata Amora.

Tiba di rumah, Alana dan Amora menyempatkan diri untuk mandi kemudian setelahnya teman wanita Alana pun menjemput keduanya dengan menggunakan mobil, Sherly nama teman Alana itu.

"Sher, ini Mora adikku bagaimana? Apa dia bisa dijual dengan harga tinggi?"

"Kenapa kau tidak katakan sejak dulu memiliki adik secantik ini? Dia memiliki kecantikan alami yang luar biasa Lana, aku yakin dia akan jadi primadona, tubuhnya juga sintal!"

Sungguh kalimat menjijikkan yang Amora dengar dari wanita satu ini, ingin rasanya Amora berlari pergi dari semua ini tapi apalah daya ada seorang Ayah yang tengah sekarat yang harus dia pikirkan.

"Dia masih perawan kan?"

"Aku bisa jamin, dia alami dari ujung rambut sampai ujung kaki! Adikku baru lulus sekolah dan dia tidak pernah berpacaran,"

"Waw, luar biasa! Oke, kita pergi sekarang," kata Sherly.

"Aku tidak ikut, tidak mungkin kan seorang mahasiswi penerima beasiswa datang kesana? Jika ada yang melihat beasiswaku bisa dicabut pihak kampus!"

"Tapi kakak bilang akan antar aku,"

"Aku akan tunggu kau di rumah Mora, dengarkan saja arahan dari temanku ini tidak mungkin aku ikut kesana itu sama saja menghancurkan masa depanku yang cerah,"

Lagi dan lagi kakaknya itu membicarakan masa depan, seolah-olah hanya dia yang berhak mendapatkan masa depan yang baik sementara Amora tidak akan pernah mendapatkan itu.

Karena malas berdebat toh Akan ikut ataupun tidak hasilnya tetap sama, Amora akan tetap kehilangan kesuciannya malam ini, akhirnya Amora dan Sherly pun berangkat ke rumah bordil.

Sebuah tempat yang sangat ditakutkan oleh Mora, akhirnya mobil tersebut tiba juga didepan sebuah gedung tempat para lelaki hidung belang mencari kenikmatan! Amora dan Sherly turun dari mobil dengan wajah menahan kesedihan Amora berjalan masuk dan kedatangan Amora langsung disambut ceria oleh seseorang laki-laki pemilik rumah bordil ini.

"Waw, ini barang baru yang kau maksud Sherly?"

"Benar Tuan, bagaimana sempurna bukan? Dia tidak make up pun sudah luar biasa cantik, dan lihat ukuran bokongnya besar sekali kan?"

"Kebetulan, Dewi Fortuna memang sedang berbaik hati padaku malam ini! Tadi temanku di kota menelpon dan meminta gadis yang masih sangat suci dan lugu seperti gadis ini, dia akan membayar dengan harga fantastis!"

"Jadi, Amora tidak akan memuaskan para lelaki di bordil ini?"

"Aku rasa aku akan menjualnya ke kota besar malam ini juga!"

"A-apa? Ke kota besar?" tanya Amora yang semakin ketakutan.

"Cantik, kau jangan khawatir aku akan langsung mentransfer uang muka sekarang juga untuk barang sebagus dirimu!"

"Ini Tuan, transfer ke rekening atas nama Alana saja karena dia belum memiliki rekening sendiri!" kata Sherly.

Setelah mentransfer sejumlah uang sebagai uang muka, pemilik rumah bordil itu kemudian meminta dua orang wanita untuk ikut dengannya ke kota besar kota untuk menjual Amora pada temannya yang meminta gadis yang masih suci dengan bayaran sangat mahal.

Layaknya seperti boneka, Amora hanya bisa patuh saja saat ini dibawa masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke kota besar. Amora berharap uang yang sudah ditransfer ke rekening Alana dapat bermanfaat untuk membayar biaya rumah sakit Ayahnya.

Sementara itu, Alana yang sudah menerima notif uang yang masuk kedalam rekening pribadinya senilai lima puluh juta, dan pesan dari Sherly yang berisi bahwa uang yang dia terima itu baru uang muka saja, jika nanti Amora dapat memuaskan pelanggan pertamanya maka uang yang akan diterima bisa berkali-kali lipat dari itu.

"Akhirnya aku memiliki uang sebanyak ini, dan ini baru uang muka saja! Apa sebaiknya aku berikan separuhnya dulu pada Ibu, sisanya untuk aku bayar uang kuliah? Sejak beasiswaku dicabut karena nilai-nilaiku menurun, aku jadi harus bayar uang kuliah!" kata Alana.

Rencananya besok pagi Alana baru akan ke rumah sakit lagi untuk memberikan uang tersebut tapi hanya separuhnya saja, karena tidak ada yang tau jika beasiswa Alana sudah dicabut beberapa bulan lalu sehingga Alana memiliki tunggakan biaya kuliah yang harus secepatnya dia bayar. Baru saja hendak tidur, handphone Alana berdering panggilan masuk dari Bu Maria.

"Halo Bu,"

"Lana, Lana cepat kemari nak! Ibu tidak sanggup Lana, Ayahmu!"

"Ayah kenapa Bu?"

"Cepat ke rumah sakit!"

Karena Ibunya menangis dan histeris ditelepon, Alana akhirnya segera kembali ke rumah sakit karena khawatir terjadi sesuatu dengan Ayahnya.

Setibanya di rumah sakit, terlihat Bu Maria tengah tergeletak duduk dilantai sambil menangis.

"Bu, ada apa?"

"Ayahmu Lana, Ayahmu kritis!"

"Apa? Lalu bagaimana Bu? Apa Ayah bisa diselamatkan?"

"Dokter masih didalam menanganinya,"

Hiks.Hiks.

Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Pak Billi pun keluar dari ruangan ICU dan menggelengkan kepalanya.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi maaf Nyonya, suami anda tidak bisa diselamatkan!"

"Ayah!"

Keduanya saling berpelukan dan menangis mendengar jika nyawa Pak Billi tidak dapat tertolong, padahal belum juga kemoterapi dan pengobatan lainya akan tetapi fisik Pak Billi tidak bisa bertahan lebih lama lagi melawan kangker tersebut.

"Lana, kabari adikmu suruh dia tidak usah jadi menjual diri!"

"Ba-baik Bu,"

"Ibu akan urus kepulangan jenazah Ayahmu dulu,"

"Iya Bu,"

Sebenarnya masih sangat sempat sekali Alana mengabari Amora agar dia tidak jadi menjual diri dan mengembalikan uang tersebut, akan tetapi Alana terlalu takut jika dirinya tidak lagi dibangga-banggakan oleh Ibunya jika Ibunya tau dia bukan lagi mahasiswi berprestasi yang mendapatkan beasiswa, nilai-nilai Alana terus turun karena terlalu sering nongkrong-nongkrong karena itu Alana membutuhkan uang tersebut untuk membayar uang kuliahnya yang nunggak beberapa bulan.

"Maaf Mora, hitung-hitungan kau membantuku," dalam hati Alana.

Perjalanan Amora hingga sampai di kota besar membutuhkan waktu beberapa jam, Amora sama sekali tidak memiliki firasat apapun tentang Ayahnya yang ternyata sudah meninggal dunia, dan dirinya tidak perlu lagi melanjutkan untuk menjual diri.

Setibanya di sebuah hotel mewah di kota besar! Akhirnya pemilik bordil dan Amora pun turun dari mobil berikut juga dengan dua wanita yang menjadi dayang-dayang bagi Amora.

"Bagaimana perjalanan kalian lancar?" tanya seorang pria berbadan gemuk dan berusia sekitar lima puluh tahun keatas.

"Lancar sekali Tuan, sepertinya malam ini Dewi Fortuna sedang berpihak pada kita!"

"Dan apakah ini barang baru yang kau maksud?"

"Benar Tuan, lihat masih sangat mulus dan suci!"

"Waw luar biasa, cocok untuk pelanggan VIP paling kayaku!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED