Camila Trevino seharusnya menikah hari ini. Namun sial baginya, pengantin prianya tidak ada di mana-mana.
Dia melirik ke arah ruangan yang kosong tanpa adanya tanda-tanda sang pengantin pria, dan wajahnya pun memucat. Dia merasa benar-benar dipermalukan. Camila tidak terima dengan penghinaan ini! Tapi memangnya apa yang bisa dia lakukan?
Sejak dia lahir, semua aspek dalam kehidupannya telah diatur oleh orang lain. Tentu saja, itu termasuk masalah pernikahannya.
Camila dipaksa untuk melakukan pernikahan ini oleh ayahnya, seorang pria yang dikuasai oleh keserakahannya sendiri.
Kakek Camila bekerja sebagai sopir Robin Johnston, sang pemimpin di Keluarga Johnston yang sangat berkuasa. Nasib buruk menimpa kakeknya, mereka terlibat dalam kecelakaan mengenaskan dan kakeknya berakhir meninggal demi menyelamatkan nyawa Robin.
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan kecil yang dijalankan oleh keluarganya memiliki utang besar di mana-mana. Mereka bahkan nyaris bangkrut.
Meski begitu, ayah Camila yang licik menolak meminta bantuan Keluarga Johnston karena tahu hal itu akan menghapus utang budi mereka kepada Keluarga Trevino. Sebaliknya, dia membuat rencana agar cucu Robin yang bernama Isaac Johnston bisa menikah dengan Camila.
Mengingat kekayaan Keluarga Johnston, mereka pasti akan memberikan sejumlah uang yang besar untuk meminang Camila.
Sebagai tambahan, mereka akan membangun koneksi yang kuat dengan Keluarga Johnston, dan hubungan itu diikat oleh hukum melalui pernikahan tersebut.
Tentu saja, Keluarga Johnston tidak bisa menolak tawaran tersebut, mereka tidak mau mengambil risiko kehilangan muka karena menolak hal itu.
Isaac menunjukkan ketidakpuasannya dengan tidak menghadiri pesta perjamuan ini, meskipun tidak ada orang di luar kedua keluarga inti yang hadir. Dia juga tidak membiarkan Camila menggunakan nama Keluarga Johnston, dan melarangnya untuk memberi tahu orang lain bahwa dia adalah istrinya.
Semua hal itu berjalan dari awal hingga akhir tanpa ada satu pun orang yang terlibat yang menanyakan pendapat Camila.
Kini, dia berdiri dengan punggung lurus dan bahu tegak. Bulu matanya sedikit bergetar, tetapi sorot matanya menyiratkan sifat keras kepalanya. Dia tidak akan menerima penghinaan ini begitu saja!
Namun, bagaimana caranya dia membalas penghinaan ini? Dia masih bertanya-tanya bagaimana dia sebaiknya menghabiskan malam pernikahannya saat dia menerima pesan dari seorang rekannya.
Wanita yang mengirim pesan meminta Camila untuk menggantikan shift malamnya.
Camila tanpa ragu menyanggupi. Dia berjalan keluar dari kamar dan memesan taksi untuk membawanya ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, dia sudah berada di ruang staf rumah sakit dan memeriksa catatan pasien. Gaun malam yang sebelumnya dia kenakan telah berganti dengan snelli berwarna putih.
Dengan suara keras, pintu tempat dia berada tiba-tiba terbuka dari luar dan menabrak dinding.
Sebelum Camila sempat melihat apa yang sedang terjadi, pintu itu kembali dibanting hingga tertutup. Dia mendengar gerakan seseorang menekan saklar, dan ruangan itu pun menjadi gelap.
Bulu kuduknya seketika merinding.
"Siapa ...."
Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat dirinya didorong ke bawah meja. Beberapa alat tulis jatuh ke lantai saat dia merasakan ujung pisau yang dingin dan tajam ditekan ke arah lehernya. "Diam!" bisik penyerangnya dengan garang.
Camila hampir tidak bisa melihat wajah pria itu, meski matanya cukup mencolok. Mata pria itu berkilat di tengah cahaya yang redup, dan tatapannya penuh dengan kewaspadaan.
Bau logam yang tidak asing tercium di udara di sekitar mereka, membuat Camila menyadari bahwa pria ini sedang terluka.
Berkat pelatihan dan pengalaman Camila selama bertahun-tahun sebagai dokter, dia bisa tetap tenang dalam situasi seperti ini.
Perlahan dia melengkungkan salah satu kakinya, berencana untuk menyerang pria itu dengan menggunakan lututnya.
Namun, pria itu bisa membaca pikirannya. Begitu dia merasakan gerakan Camila, dia menjepit kedua kaki Camila secara paksa dan menekankannya ke meja dengan pahanya yang kuat.
Tiba-tiba saja, mereka mendengar suara langkah kaki di lorong di luar ruangan. Langkah kaki itu langsung menuju ke ruang staf.
"Cepat, aku melihatnya pergi ke arah sini!"
Hanya butuh satu jeritan untuk meminta tolong, dan orang-orang di luar sana pasti akan menerobos masuk ke dalam ruangan.
Tidak punya pilihan lain, pria itu menundukkan kepalanya dan mencium Camila.
Camila meronta, dia terkejut saat dia sanggup mendorong pria itu menjauh dengan mudah. Dia semakin terkejut melihat pria itu tidak lagi mengancamnya dengan pisau.
Pikiran Camila berpacu dengan liar.
Pada saat ini, orang yang berada di luar sana sudah memegang kenop pintu dan akan membukanya.
Camila membuat keputusan dalam kepalanya dan segera menarik pria itu ke arahnya dan melingkarkan lengan pria itu di lehernya. Kali ini, giliran Camila yang balas menciumnya.
"Aku bisa membantumu," gumamnya pelan, berharap pria itu tidak bisa melihat ketakutannya.
Pria itu menelan ludah. Butuh beberapa detik hingga dia memutuskan, dan Camila bisa merasakan napasnya yang hangat di telinganya. "Aku akan bertanggung jawab untuk ini." Suaranya rendah dan menawan.
Namun tampaknya pria ini salah paham. Camila hanya bermaksud melakukan semua ini dengan pura-pura. Pria itu tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun.
Detik berikutnya, pintu itu kembali terbuka.
Camila dan pria itu langsung beradu ciuman kembali. Camila bahkan mengerang keras dengan suara desahan yang menggoda, seperti yang pernah dia dengar di video porno. Meski mereka berada di tengah kesulitan, pria itu dapat merasakan tubuhnya bereaksi terhadap suara Camila. Dia mungkin akan kehilangan kendali jika orang-orang di pintu itu tidak berbicara.
"Sialan! Ternyata hanya pasangan yang sedang bermesraan. Astaga, mereka bahkan berani berbuat tindakan senonoh di rumah sakit. Dasar tidak tahu malu!"
Cahaya dari lorong memasuki ruangan dan memperlihatkan sosok yang menempel satu sama lain. Tubuh pria itu tertutupi oleh Camila, sehingga wajahnya tersembunyi dari mata orang-orang yang mendobrak pintu.
"Yah, itu jelas bukan Isaac, bajingan itu terluka parah. Tidak peduli seberapa menggodanya wanita itu, aku ragu dia punya tenaga untuk melakukan apa pun padanya."
"Tapi suara wanita itu sangat menggairahkan, bukan?"
"Tutup mulutmu dan keluar dari sini! Kita harus menemukan Isaac secepat mungkin, atau kita bisa dibunuh!"
Terdengar suara derap kaki saat orang-orang itu bergegas pergi, meninggalkan pintu itu tertutup kembali dengan sendirinya.
Pria itu tahu bahwa pengejarnya telah pergi, tetapi saat menyadari bahwa kini mereka sudah ditinggalkan sendiri, dia pun kehilangan kendali. Akalnya berhenti bekerja untuk sesaat, digantikan oleh gelombang nafsu yang menguasai dirinya.
Gelombang nafsu tersebut juga melanda Camila. Entah apakah itu karena kedekatan mereka, atau posisi mereka yang intim, atau mungkin karena pacuan adrenalin yang tiba-tiba, tapi yang jelas, ada sifat memberontak yang tidak pernah Camila rasakan sebelumnya yang kini muncul ke permukaan.
Hingga saat ini, dia selalu menjalani kehidupan abu-abu yang monoton, selalu mematuhi aturan dan rencana yang telah ditetapkan oleh orang lain untuknya.
Kali ini—untuk sekali saja—dia ingin memanjakan dirinya sendiri.
Camila melepaskan semua hal yang menahannya dan membebaskan pria itu untuk melakukan apa pun yang dia mau. Demikianlah, Camila melepaskan keperawanannya dengan pria itu begitu saja, melalui hubungan seks yang kasar dan menyakitkan sebagai pengalaman pertamanya.
Saat mereka selesai, pria itu mencium pipinya. "Aku akan datang padamu," ujarnya dengan suara yang dipenuhi dengan sisa-sisa kenikmatan. Setelah itu, dia pergi begitu saja, sama seperti kedatangannya yang tiba-tiba.
Butuh waktu beberapa saat hingga Camila dapat berdiri kembali. Pinggang dan punggungnya sakit, belum lagi selangkangannya.
Keheningan di ruangan itu dipecahkan oleh suara dering teleponnya. Dia melihat sekeliling dan mendapati ponselnya berada di ujung meja.
Camila mengambilnya sebelum ponsel itu jatuh, lalu menjawab telepon tersebut. "Dokter!" Terdengar suara panik dari seberang telepon. "Seorang pasien baru saja diantar ke ruang gawat darurat. Dia mengalami kecelakaan mobil dan terluka parah. Kami butuh kehadiran Anda di sini untuk memberikan perawatan segera!"
Camila berdeham untuk menstabilkan suaranya. "Baiklah, aku akan segera ke sana."
Dia menutup telepon dan melangkah menuju pintu, tetapi segera menghentikan langkahnya untuk sesaat. Dia menatap dirinya sendiri. Pakaiannya berantakan dan kusut, ditambah lagi ada sesuatu yang lengket di antara kedua kakinya.
Camila tersentak saat menyadari kondisinya saat ini. Dia benar-benar baru saja berhubungan seks dengan orang tak dikenal di malam pernikahannya.
Itu adalah hal paling berani yang pernah dia lakukan!
Namun, sekarang bukan saatnya untuk merayakan perbuatannya ataupun memikirkan akibatnya. Camila merapikan dirinya dan pergi ke unit gawat darurat.
Dia sibuk bekerja sepanjang malam itu.
Pada saat dia akhirnya selesai, waktu sudah hampir pagi. Dia kembali ke ruang staf dan mendapati bahwa ruangan itu masih berantakan seperti saat dia meninggalkannya.
Camila mengepalkan tangannya saat kenangan malam sebelumnya—yang sebenarnya baru beberapa jam yang lalu—memenuhi pikirannya.
"Terima kasih sudah mengambil alih shift-ku, Dr. Trevino." Rekan Camila, Debora Griffith, masuk ke dalam dengan senyum penuh terima kasih.
Camila memaksakan diri untuk tersenyum. "Sama-sama."
"Urusanku sudah selesai, jadi kamu sebaiknya pulang dan beristirahatlah." Debora melirik ke arah kertas-kertas yang berserakan di lantai dan mengangkat alisnya. "Apa yang terjadi di sini? Kenapa lantainya berantakan sekali?"
Camila mengalihkan pandangannya dengan panik dan berkata, "Oh, aku tidak sengaja menjatuhkan semuanya. Tolong bantu aku membereskan semua kekacauan ini. Aku sangat lelah, jadi aku akan pulang lebih dulu."
Debora merasa tanggapan Camila sedikit aneh, tetapi dia tidak terlalu memikirkannya. Mereka saling mengucapkan selamat tinggal, dan dia mulai mengumpulkan barang-barang yang berserakan di lantai.
Debora baru saja mulai bekerja ketika direktur rumah sakit muncul di pintu, diikuti oleh asisten Isaac.
"Dia adalah dokter yang bertugas tadi malam," kata direktur rumah sakit. "Dokter Debora Griffith."
Asisten Isaac yang bernama Willie Calderon berjalan memasuki ruangan dan melihat plat nama di snelli milik Debora. "Tolong ikuti saya."
Wajah Debora tampak bingung ketika mendengar permintaan tersebut.
"Ke mana?"
Tetapi direktur rumah sakit mengabaikan pertanyaannya, dia menariknya dan berkata, "Ikuti saja, jangan biarkan Pak Johnston menunggu."
Tidak lama kemudian, dia berada di kantor direktur rumah sakit.
Isaac sedang duduk di sofa, tubuhnya yang kurus dan berotot bersandar dalam posisi santai, kakinya yang panjang menyilang di hadapannya. Hanya orang bermata tajam yang dapat menyadari bahwa bibirnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Untungnya, bau desinfektan rumah sakit yang menyengat menutupi bau darah di tubuhnya.
Dia mengenakan setelan berwarna hitam yang menutupi noda darah sehingga orang-orang di sekitarnya tidak bisa melihat bahwa dia terluka. Wajahnya terlihat keras dan mengintimidasi, orang lain dapat menebak bahwa pria ini telah mengalami banyak tantangan berat dalam hidupnya dan berhasil menaklukkannya.
Willie berjalan mendekati sofa, lalu berbisik di telinga Isaac, "Rekaman video pengawasan tadi malam sengaja dirusak, kemungkinan besar pelakunya adalah penyerang Anda. Mereka berhasil menutupi jejak mereka dan menghilangkan bukti yang ada. Ini Dokter Debora, staf yang bertugas tadi malam. Direktur rumah sakit sudah memastikan. Saya sudah memeriksa catatan yang ada, dia yang bertugas tadi malam."
Baru pada saat itulah Isaac mengangkat kepalanya.
Debora menarik napas dalam-dalam ketika menyadari bahwa pria di hadapannya adalah pemilik PT. Paramount.
"Apa kamu orang yang membantuku tadi malam?" tanya Isaac sambil mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Debora langsung menunduk dan tidak berani menatap pria itu.
"Ya ... aku ... aku yang membantumu." Dia tidak yakin apa yang terjadi semalam, tetapi dia tahu hidupnya akan menjadi mudah jika bisa menjadi teman Isaac Johnston. Dia pasti akan mendapat banyak keuntungan.
Kebetulan, RS Military Central hendak menyeleksi calon peserta magang.
Sudah menjadi rahasia umum bagi semua tenaga medis bahwa para peserta magang yang berhasil lolos seleksi magang akan dipekerjakan oleh institusi tersebut.
RS Military Central memiliki akses ke sumber daya yang lebih baik jika dibandingkan dengan rumah sakit lain yang ada di negara mereka.
Debora ingin menjalin hubungan baik dengan Isaac dengan harapan bisa menggunakan koneksi pria itu untuk bekerja di rumah sakit yang lebih baik.
"Aku bisa memberimu kompensasi yang kamu inginkan, termasuk pernikahan." Tiba-tiba, suara dingin Isaac membuyarkan lamunannya. Wajah Isaac terlihat dingin, tapi kenangan akan kejadian semalam membuat wajahnya menjadi lebih lembut.
"Kalau begitu ... aku ...." Tawaran itu melebihi apa yang dibayangkan Debora, jadi dia berjuang untuk memberikan respons yang tepat.
"Temui aku setelah kamu mengambil keputusan." Isaac berdiri dan memberi isyarat kepada Willie untuk memberikan nomornya kepada Debora.
Direktur rumah sakit bergegas mendekat dan menawarkan untuk mengawal Isaac keluar dari gedung.
"Tidak perlu," tolak Isaac dan sikapnya berubah menjadi dingin. Kemudian dia berhenti, seolah mengingat sesuatu. Dia menoleh ke arah direktur rumah sakit dan berkata, "Tolong bantu dia."
"Baik, Tuan," balas direktur rumah sakit sambil tersenyum sopan.
Setelah memastikan mereka berada di luar jangkauan pendengaran, Willie berjalan ke arah Isaac. "Tuan," katanya dengan suara pelan tapi mendesak, "Anda sudah menikah. Saya pikir pernikahan bukanlah pilihan yang pantas untuk Nona Griffith, sebaiknya Anda membatalkan tawaran tersebut."
Bibir Isaac berkedut saat Willie membahas pernikahannya dan wajahnya menjadi semakin muram ketika memikirkan wanita yang terpaksa dinikahinya. "Apa kamu sudah bosan hidup?" ancamnya.
Tubuh Willie langsung gemetar ketika menyadari bahwa dia telah melewati batas. Pada titik ini, dia tidak tahu siapa yang membuat bosnya lebih marah, wanita yang dipaksa menikah dengannya atau pelaku serangan tadi malam.
Sementara itu, Camila kembali ke vila yang akan dia tinggali bersama suaminya.
Pengurus rumah tangga paruh baya bernama Glenda Rivera menemuinya di serambi, wajahnya tampak penuh perhatian. "Nyonya, kenapa Anda keluar tadi malam?"
"Aku harus menggantikan shift rekan kerja," jawab Camila.
Matanya terlihat merah dan terasa perih karena kelelahan.
Melihat penampilannya, Glenda mengurungkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan.
Camila berjalan dengan susah payah ke kamarnya di lantai atas, kemudian berendam di bak mandi. Dia tanpa sadar membayangkan kenangan malam sebelumnya dan pipinya menjadi panas. Dia menarik napas dan tenggelam ke dalam air, seolah ingin melarikan diri dari ingatan yang meresahkan.
Perasaannya mengenai masalah itu sangat rumit dan dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dia bahkan tidak tahu wajah pria itu.
Dan yang lebih penting lagi, dia sudah menikah!
Camila merasa sedikit bersalah ketika memikirkannya. Terlepas dari keadaan yang memaksa mereka untuk menikah, dia dan Isaac adalah pasangan suami istri.
Camila keluar dari bak mandi, mengenakan pakaiannya dan bersiap untuk keluar.
Seperti dugaannya, Glenda langsung menghampirinya begitu dia kembali ke lantai bawah. "Apa Nyonya akan pergi lagi? Bagaimana kalau Nyonya sarapan dulu?"
Camila melirik arlojinya. "Tidak, aku hampir terlambat bekerja."
Glenda mengetahui Camila adalah seorang dokter, jadi dia tidak heran jika wanita muda ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Glenda menyerahkan segelas susu kepada Camila. "Setidaknya, Nyonya harus minum susu ini. Hati-hati, susunya masih panas."
"Terima kasih," kata Camila dengan lembut, hatinya terasa hangat karena perhatian yang diberikan Glenda.
"Sama-sama," balas pengurus rumah itu sambil tersenyum ramah.
Isaac dan Camila memang dipaksa menikah, tapi dia tidak pernah memandang rendah Camila. Tanpa gelar sebagai istri Isaac Johnston, Camila adalah seorang dokter profesional yang pantas dihormati.
Setelah menghabiskan susu, Camila mengembalikan gelas ke Glenda dan berjalan keluar.
Setelah sampai di rumah sakit, dia tidak langsung pergi ke ruang staf. Dia meninggalkan rumah lebih awal karena ingin mampir ke Departemen Rawat Inap.
Ibunya sedang dirawat di Unit Perawatan Intensif.
Camila memasuki bangsal dengan perlahan dan memeriksa kondisi ibunya. Ibunya masih dalam kondisi yang buruk.
Hati Camila menjadi sedih.
Ibunya menderita gagal jantung dan berada dalam kondisi yang cukup kritis. Satu-satunya cara untuk menjaga agar ibunya tetap hidup adalah transplantasi jantung yang membutuhkan biaya besar.
Camila menyetujui pernikahan itu karena ayahnya mengancam tidak akan memberikan uang pengobatan ibunya.
Sekarang dia telah menikah seperti keinginan ayahnya dan tugas mereka saat ini adalah menemukan donor jantung yang cocok.
Camila melirik wajah ibunya dengan pahit. "Bu, aku akan membantumu untuk segera sembuh. Aku berjanji."
Ibu Camila adalah orang yang paling dekat dengannya, sumber kekuatan serta orang yang paling dia percaya.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Camila merogoh ponsel dari sakunya dan menjawab panggilan tersebut.
"Mila," ucap pria di seberang telepon. "Aku perlu bantuanmu."
Pria di ujung telepon adalah Forrest Walters. Mereka alumni universitas yang sama, meski usia Forrest lebih tua dua tahun darinya. Forrest memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri dan sekarang menjadi seorang dokter spesialis terkenal di bidangnya.
Forrest selalu memperlakukan Camila dengan baik, jadi hubungan mereka cukup dekat.
"Bantuan apa?" tanya Camila tanpa membuang waktu.
"Aku punya pasien yang membutuhkan perawatan, tetapi ada hal mendesak yang harus kutangani, jadi aku tidak bisa menemui pasien itu dalam waktu dekat. Apa kamu bisa menggantikanku untuk merawat pasien itu?"
Camila melirik jam tangannya. Dia bukan penanggung jawab hari ini dan memiliki waktu luang sebelum dua operasi yang dijadwalkan sore itu. "Oke, aku bisa menggantikanmu. Aku harus pergi ke mana?"
"Aku akan mengirim alamatnya. Ketika kamu tiba di sana, beri tahu penjaga bahwa kamu datang untuk menemui Tuan Calderon dan mereka akan menangani sisanya."
"Baiklah."
"Satu hal lagi," tambah Forrest, suaranya berubah menjadi serius. "Jangan pernah menceritakan hal ini pada orang lain dan jangan mengajukan pertanyaan yang tidak perlu ketika kamu berada di sana. Kamu hanya perlu merawat pasien itu."
"Aku mengerti."
Mereka mengakhiri telepon dan Camila naik taksi ke alamat yang diberikan.
Ternyata, alamat itu berada di perumahan elit yang dipenuhi vila mewah dan dilengkapi dengan sistem keamanan kelas atas.
Sebagaimana diduga, seorang satpam bertubuh kekar menemuinya di pintu masuk. Camila mengikuti instruksi dan menyebut nama Tuan Calderon. Setelah menelepon untuk memastikan, satpam itu mengizinkan Camila memasuki komunitas.
Camila dapat menemukan vila itu dengan mudah. Dia berjalan menaiki tangga dan membunyikan bel pintu.
Dia tidak perlu menunggu lama karena pintu terbuka dalam hitungan detik. Sepertinya, situasi di dalam sedikit mendesak.
Kerutan di dahi Willie semakin dalam. Mereka mengharapkan kedatangan Forrest, tapi dia malah melihat pengunjung wanita yang berdiri di depan pintu. "Maaf, kamu ...."
Camila sudah menebak dari penjelasan Forrest bahwa pasien ini sangat mementingkan privasi mereka. Karena tidak ingin mendapat masalah, dia memutuskan untuk memakai masker medis. Dia tidak ingin menimbulkan masalah yang tidak perlu.
"Dr. Walters memintaku datang ke sini."
Willie melirik sekilas ke arah tas berisi peralatan medis yang dibawa Camila. "Apa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"
"Ya, aku telah menerima briefing dari Dr. Walters. Aku tidak akan memberi tahu orang lain."
Willie tahu Forrest akan memilih orang yang bisa dipercaya dan kompeten, jadi dia mengangguk dan membiarkan Camila masuk.
Dia membawanya berjalan melewati ruang tamu yang besar, lalu menaiki tangga dan ke sebuah kamar tidur.
Suasana di dalam kamar sedikit gelap. "Bagaimana caranya aku memberi tindakan medis tanpa cahaya?"
Ketika Isaac mendengar suara seorang wanita, dia buru-buru mengambil jas untuk menutupi wajahnya. "Nyalakan lampu," perintahnya melalui jas.
Willie menyalakan lampu dan cahaya terang memenuhi ruangan.
Pikiran pertama Camila adalah suara pasien itu terdengar agak familier, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya. Dia mengamati sosok yang sedang berbaring di tempat tidur. Kemeja putihnya berlumuran darah yang sudah mengering.
Camila tidak mau repot-repot bertanya kenapa pria itu berlumuran darah. Dia hanya mengatakan pada dirinya sendiri untuk fokus pada luka pasien.
Sikap pria itu menunjukkan bahwa dia tidak ingin identitasnya ketahuan, jadi Camila akan menuruti keinginannya.
Dia meletakkan perlengkapannya di nakas dan mengeluarkan peralatan bedahnya.
Camila menggunakan gunting medis untuk memotong baju pasien dan seketika lukanya terlihat. Luka tersebut dilapisi kain kasa tipis. Dia menyingkirkan kain kasa dan melihat dua luka terbuka di sisi kanan tubuh pria itu.
Camila mulai bekerja dan membersihkan luka dengan cekatan. Dia tetap tenang sepanjang waktu, selain itu gerakannya cepat dan efisien.
"Apa Anda memiliki alergi terhadap anestesi?" tanyanya setelah beberapa saat.
Untungnya, luka tersebut tidak dalam dan hanya memotong lapisan kulit, tapi Camila tetap perlu menjahit luka itu. Dia perlu memberikan anestesi lokal kepada pasien.
Camila berbicara dengan tenang dan suaranya terdengar sangat lembut, sungguh berbeda dengan suaranya yang panik tadi malam. Oleh karena itu, Isaac sama sekali tidak mengenalinya meski mereka telah bertukar kata.
"Tidak," katanya dengan suara dingin, meski dalam hati dia memuji keahlian Camila.
Camila menyiapkan obat bius dan menyuntik satu titik di dekat lukanya.
Mereka harus menunggu beberapa menit agar efek obat bekerja, lalu dia mulai menjahit luka itu.
Satu jam kemudian, dia selesai menjahit dan membalut luka pasien.
Secara keseluruhan, Camila memberikan tindakan medis dengan cepat dan efisien. Dia menatap tangannya yang berlumuran darah dan berkata, "Aku perlu ke kamar mandi."
"Nona bisa menggunakan kamar mandi di bawah," balas Willie.
Camila tidak membuang waktu dan segera meninggalkan kamar itu.
Begitu yakin Camila sudah berada di lantai satu, Willie menutup pintu dan bergegas mendekati Isaac.
"Saya mendapat informasi bahwa preman yang menyerang Anda kemarin dikirim oleh tante Anda, Audrey. Mungkin dia sangat putus asa dan ingin menyingkirkan Anda setelah kita menangkap semua mata-matanya di perusahaan."
Isaac duduk sambil mendengus dingin. Dia menggeser tubuhnya ke tepi tempat tidur dan menjatuhkan kakinya ke lantai. Penampilannya tampak buruk, tetapi matanya tampak berbahaya.
Dia mengalihkan tatapan tajamnya ke Willie. "Apa wanita yang dipaksa menikahiku ada hubungannya dengan Audrey?"
Willie memelankan suaranya. "Sebenarnya, Audrey telah menghubungi ayah mertua Anda, Marvin Trevino. Dia berusaha keras membuat putrinya menjadi menantu Keluarga Johnston, tetapi tidak pernah mempertimbangkan sepupu Anda, Travis. Audrey pasti telah membuat kesepakatan dengannya."
"Tanteku yang baik hati sering memberiku kejutan di setiap kesempatan. Aku merasa tidak enak jika tidak melakukan apa-apa untuk membalas kebaikannya." Isaac hanya pergi ke luar negeri untuk waktu yang singkat, tapi wanita paruh baya itu telah membuat banyak kekacauan selama dia tidak ada.
"Kudengar Travis memiliki sebuah klub murahan bernama 'Charm' di jalan Cavern," ucap Isaac.
Willie langsung memahami maksud bosnya. "Ya, saat ini mereka tidak punya jabatan di perusahaan. Klub itu merupakan sumber pendapatan utama mereka dan jika tiba-tiba ditutup ... mereka pasti akan mengalami krisis keuangan."
"Lakukan," kata Isaac dengan suara pelan.
Willie berpapasan dengan Camila ketika turun ke lantai bawah.
Dia menduga Forrest pasti sudah memberi peringatan sebelumnya, tapi memutuskan untuk mengingatkan wanita itu sekali lagi. "Jika kamu menceritakan hal ini kepada orang lain, kamu akan mati dengan mengenaskan."
Jika berita mengenai luka yang dialami Isaac sampai ke tangan Audrey atau Travis, mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk menimbulkan banyak masalah.
Camila mengangguk sebagai tanda mengerti. "Aku tidak akan memberi tahu orang lain, aku akan mengambil peralatan medisku dan segera pergi."
Ketika kembali ke kamar, dia melihat pria itu sedang berdiri di dekat jendela yang terletak di seberang pintu. Isaac memunggungi Camila dan dia mendapatkan pemandangan bahu yang lebar dan punggung berototnya, turun ke pinggangnya yang ramping dan pantat yang kencang. Tubuh Isaac sangat proporsional, hampir seperti pahatan seniman ternama.
"Kenapa kamu masih belum pergi?" tanya pria itu dengan nada mengejek. Dia tidak berbalik, tetapi mengetahui bahwa Camila sedang menatapnya. Mungkin punggung Isaac terasa panas setelah menerima tatapannya.
Camila menundukkan kepalanya karena malu. Meskipun dia tidak ingin mengakui, tetapi pemandangan di depannya sungguh menawan sehingga dia menjadi sedikit linglung.