Bab 1

Di malam yang gelap dan berangin.

Cathy Suhardi sedang duduk di tepi tebing; gaunnya tertiup angin. Ia mendongak ke langit dan air matanya mulai berlinang. Semua emosi yang membara di dalam hatinya seakan melumat dirinya sekaligus.

"Ya Tuhan, mengapa Engkau melakukan ini padaku?" Ia mengendus keras hingga cegukannya menyadarkannya.

Cathy melirik kaleng minuman di tangannya dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Ini bukan salah Tuhan. Aku berkencan dengan bajingan sialan, Owen Yasawirya! Mengapa kamu tega mengkhianatiku, Owen?" Ia pun tersungkur ke tanah dengan lemas.

Ia melakukan tiga pekerjaan dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun jadwalnya padat, ia berhasil meluangkan waktu untuk merayakan ulang tahun pacarnya. Ia mencintai Owen dengan sepenuh hati dan ingin memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.

Tak disangka, pria itu memberinya kejutan yang lebih besar—ia menangkap basah sang pria sedang bercinta dengan sahabatnya.

Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya telah mengkhianatinya. Itu adalah hari terburuk dalam hidupnya.

"Persetan denganmu, Owen!"

Cathy menyembur dengan penuh kebencian. 'Mengapa hidupku selalu dirundung derita?'

Orang tuanya telah meninggalkannya di panti asuhan ketika ia masih kecil.

Kehidupannya tidak mudah. Ia harus menjalani semua hal dengan jalan yang sulit. Saat Owen hadir dalam hidupnya, ia seolah menghirup udara segar. Sang gadis, yang menjalani hidupnya dalam penderitaan, mulai percaya bahwa ia juga bisa bahagia. Akhirnya ia menemukan cinta yang didambakan sepanjang hidupnya.

Ia telah merangkai kisah cinta yang indah di benaknya, tetapi kini Owen menghancurkan semua mimpinya.

Kenyataan yang terjadi sama sekali tidak indah. Bukan hanya pacarnya tetapi sahabatnya, yang telah dirinya percayai dengan sepenuh hati, juga telah mengkhianatinya.

Cathy merasa seharusnya ia menampar temannya sedikit lebih keras sore tadi.

Tetapi tetap saja, tidak ada yang bisa menyembuhkan rasa sakit yang makin mendalam di hatinya.

Cathy menarik napas dalam-dalam dan meneguk sekaleng minuman lagi.

Beban di dadanya terasa makin berat di setiap menitnya.

Ia langsung menghabiskan seluruh minumannya dan dengan marah melemparkan kaleng itu dari tebing.

Penglihatannya menjadi kabur; ia tidak tahu seberapa mabuk dirinya.

Cathy mengintip ke bawah tebing yang tak berdasar itu. Ia tidak kuat lagi menahan rasa sakit dan ingin mengakhiri semuanya sekaligus.

Rintihan lemah terucap dari bibirnya.

'Apakah aku akan mati mengenaskan jika melompat dari sini?'

Cathy menarik napas dalam-dalam. "Jangan pikirkan apa pun dan lompat saja, Cathy. Ini satu-satunya cara untuk terlepas dari siksaan ini."

Jantungnya seakan melompat naik ke tenggorokannya ketika ia melihat ke bawah.

'Tebing ini lebih tinggi dari yang kubayangkan. Bagaimana jika ternyata aku tidak mati dan hanya berakhir mengalami patah tulang? Aku harus menghabiskan sisa hidupku di kursi roda. Aku tidak punya siapa-siapa untuk menjaga diriku; hidupku akan menjadi seperti di neraka. Itu jauh lebih buruk daripada patah hati ini.' Cathy pun bergidik memikirkannya. Hatinya goyah; ia sangat ingin menghilangkan rasa sakitnya. Tetapi, memilih mati juga tidak mudah. Ia tidak cukup berani untuk mengakhiri hidupnya.

Kegelisahan menyelimuti tubuh Cathy; kakinya gemetar.

"Apa yang harus aku lakukan? Melompat atau tidak?

Oh Tuhan! Aku benar-benar menyedihkan." Ia kembali menangis tersedu-sedu.

Hembusan angin dingin membelai pipi Cathy. Ia membayangkan dirinya di kursi roda, hidup dengan keterbatasan fisik. Sepertinya, itu akhir yang mengerikan untuk hidupnya yang sudah cukup menyedihkan.

"Tidak, aku tidak akan melompat!"

Jantungnya berdebar ketika sebuah pikiran tiba-tiba terbesit di benaknya. 'Mengapa aku harus mati sedangkan semua ini bukan salahku? Mereka berdua akan hidup bahagia tanpaku. Mengapa aku harus menghukum diriku sendiri atas kesalahan mereka?'

Ia merasa hancur saat memikirkannya. Ia tidak tahu bagaimana mengatasi patah hatinya dan perasaan yang tak dapat dijelaskan itu segera menguasai dirinya. Tetapi ia akhirnya mengerti bahwa kematian tidak akan ada gunanya.

Cathy menggelengkan kepalanya dan berbalik untuk pergi.

Di saat yang bersamaan, suara klakson yang tak henti-hentinya berbunyi menarik perhatiannya.

Ia terdiam kaku ketika sebuah cahaya yang menyilaukan mengaburkan pandangannya. Ia memejamkan matanya dan membukanya kembali.

Cahayanya makin terang, jadi Cathy merentangkan tangannya untuk meredakan pancaran sinar kuat yang mengenai wajahnya.

Sebelum ia bisa menyadari apa yang terjadi, ia melihat sebuah mobil mewah melaju ke arahnya.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Matanya terbelalak kaget saat Cathy mencoba menjauh. Suara tabrakan keras bergema di perbukitan yang sunyi itu.

Cathy menjerit dengan keras saat kegelapan menyelimutinya. Ia merasa tubuhnya terjatuh ke bawah tebing.

Matanya tanpa sadar terpejam saat Cathy mulai kehilangan kesadaran.

'Ya Tuhan, aku tidak ingin mati. Tolong bantu aku. Aku mohon...' gumamnya berulang kali.

Seolah-olah Tuhan mendengarkan doanya, langit malam menjadi terang.

Cathy perlahan membuka matanya.

Dengan pandangannya yang kabur, ia melihat sosok seperti malaikat melayang ke arahnya.

Senyum mengembang di bibirnya. Rasa sakit di tubuhnya mulai berkurang sedikit demi sedikit.

——

"Nyonya Bangunlah!"

Cathy terbangun karena suara samar yang terdengar di telinganya.

Suara itu pun diiringi isak tangis yang makin keras.

Kepala Cathy mulai berdenyut saat suara itu mengganggu ketenangannya.

Ia membuka matanya dengan perlahan.

"Nyonya Mustafa apakah Anda sudah bangun?" seru suara manis seorang wanita. Ia meraih tangan Cathy.

"Siapa itu?" Cathy mengernyitkan alisnya dan mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat yang asing itu.

Suaranya serak dan setiap tulang di tubuhnya terasa sakit seperti ditabrak mobil. Saat itulah ia tersadar.

Peristiwa yang menyakitkan malam itu terlintas di benaknya. 'Mobil itu menabrakku dan membuatku terlempar dari tebing!'

Ia melihat ke sekeliling tempat yang tidak dikenalnya dengan tatapan lebar, bertanya-tanya di mana dirinya berada sekarang. 'Astaga! Apakah aku masih hidup? Ini neraka atau surga?'

Genggaman di tangannya makin erat.

Cathy merasakan sakit dan berteriak, "Aduh! Lepaskan aku!"

"Anda sudah bangun, Nyonya Mustafa. Syukurlah! Saya akan segera memberi tahu Tuan Mustafa."

"Tuan Mustafa? Siapa dia?" tanya Cathy.

"Eh?" Sang gadis gendut mengerutkan kening. "Tuan Mustafa! Siapa lagi?"

"Tuan Mustafa?" Cathy mengernyitkan alisnya dengan bingung. "Tuan Siapa?" Mustafa?"

"Yang benar saja?" Mulut gadis gendut itu menganga dengan terkejut. "Nyonya. Mustafa, apa Anda tidak mengenal Tuan Mustafa? Apa yang telah terjadi dengan Anda? Apa Anda baik-baik saja?"

Rasa takut dan bingung membuat Cathy makin gelisah. 'Siapa itu Tuan Mustafa? Apa aku mengenalnya?' Melihat kembali sekeliling tempat itu, ia menyadari bahwa dirinya belum pernah ke sini sebelumnya.

"Di mana aku?" Cathy terkejut mendengar suaranya sendiri. Entah bagaimana suaranya terdengar lebih manis dari sebelumnya.

Sang gadis gendut menatapnya dengan khawatir. "Nyonya, bagaimana mungkin Anda tidak mengenal Tuan Mustafa? Anda sedang berada di rumah sakit. Anda sudah berada di sini selama hampir dua minggu. Kami semua mencemaskan Anda."

"Rumah sakit? Aku sudah di sini selama dua minggu? Maksudmu... Aku masih hidup?" Cathy berusaha untuk duduk, tetapi tubuhnya lemas. Sang gadis gendut pun dengan cepat meraih tubuhnya untuk membantunya.

"Tentu saja Anda masih hidup. Saya Bliss, Anda ingat?"

Cathy hanya bisa tersenyum membalasnya. 'Bliss! Sungguh nama yang indah. Sangat cocok dengan wajah menawan gadis itu. Tetapi...'

Bab 2

Cathy berdeham dan menatap Bliss.

"Bliss, apakah kamu perawat di rumah sakit ini?"

Mata Bliss terbelalak kaget. "Ada apa dengan Anda, Nyonya Mustafa? Saya bukan perawat, saya bekerja untuk keluarga Mustafa, apakah Anda tidak ingat? Saya adalah pelayan yang menjaga Anda."

"Pelayan? Keluarga Mustafa? Nyonya Mustafa? Apa yang sedang terjadi?" Cathy berpikir keras untuk memahami apa yang sedang terjadi. Semuanya tampak aneh baginya. "Tunggu! Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu siapa? Kenapa kamu memanggilku Nyonya Mustafa?"

Bliss memandang Cathy seolah-olah wanita itu telah kehilangan akal sehatnya. "Bagaimana lagi saya harus memanggil Anda, Nyonya Mustafa? Anda adalah istri Tuan Mustafa."

Jawaban Bliss membuat Cathy kesal. Ia masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaannya.

Cathy menarik napas untuk menenangkan diri. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa Tuan Mustafa itu."

Bliss semakin mengerutkan kening. Sepertinya Nyonya benar-benar kehilangan akal sehatnya dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Nyonya Mustafa, Anda membuat saya semakin khawatir. Bagaimana mungkin Anda tidak mengenal Tuan Mustafa? Beliau adalah suami Anda, seseorang yang sangat Anda cintai. Beliau adalah CEO termuda di Kota Zahri dan pewaris Grup Stafa. Anda adalah istrinya, Catherine Lahari. Apakah Anda tidak mengingat semua itu, Nyonya Mustafa?"

Mata Cathy membelalak; mulutnya ternganga karena terkejut. Ia merasa bingung dengan semua ini.

Seketika perasaan gemetar menjalar ke seluruh tubuhnya. Cathy menahan kegelisahannya dan menatap Bliss. "Apakah kamu punya cermin?"

"Apa? Cermin?" Bliss bertanya-tanya mengapa Cathy membutuhkan cermin di tengah percakapan mereka. Kemudian, ia merogoh tasnya untuk mengambil sebuah cermin rias kecil. "Ini, Nyonya Mustafa."

'Apa yang sedang terjadi? Aku yakin aku adalah Cathy, bukan Catherine,' pikirnya dalam hati.

Cathy dengan tidak sabar berkaca di cermin. Jantungnya seakan melompat ke tenggorokannya saat ia melihat wajah aneh yang sedang menatapnya. Darah di nadinya seakan berhenti mengalir; tangannya menjadi lemas. Cermin itu terjatuh di selimut tempat tidurnya.

"Nyonya. Mustafa, ada apa? Apakah Anda baik-baik saja?" Bliss bertanya dengan cemas.

Cathy duduk tercengang, menatap dinding. Jantungnya berdebar kencang, tetapi ia mengumpulkan keberanian untuk mengambil cermin itu lagi.

Entah mengapa, rasa takutnya berkurang saat ia melihat kembali wajah yang tidak dikenalnya itu.

Wanita di cermin itu terlihat berbeda.

Ia menyentuh kulit mulusnya yang tampak sempurna di cermin. Di bawah cahaya redup, matanya berbinar dan hidungnya tampak mancung dan lurus. Ia menjilat bibirnya yang kenyal berisi dan merasakan bahwa bibirnya merah dan lembab.

Ia mengangkat alis dengan decak kagum. Ia tidak bisa berhenti menatap pantulan wajahnya yang indah di cermin. Itu adalah keajaiban. Ia tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya saat ini.

Cathy tidak menyangka dirinya akan berubah menjadi wanita cantik suatu hari nanti.

Setiap aspek dalam hidupnya telah berubah setelah kecelakaan itu. Di saat pikirannya hanyut untuk memahami peristiwa malam itu, ia mendengar suara dentuman keras.

Kedua wanita itu pun tersentak kaget.

Pintu terbuka, dan seorang pria tampan masuk.

Pria itu mengenakan setelan jas dan sepatu kulit. Beberapa pria berpakaian jas hitam mengikutinya.

Cathy terkejut saat menyadari bahwa pria itu berjalan menghampirinya. Ekspresi suram di wajahnya membuat Cathy takut.

'Siapa dia? Apakah aku harus keluar dari sini?'

Sebelum ia sempat bereaksi, pria itu sudah berdiri di depannya. Sebuah tangan dingin meraih lehernya dalam sekejap, mencekik tenggorokannya.

Cathy pun langsung kesulitan bernapas. Ia menatap tajam pada pria tampan yang berdiri menjulang di hadapannya.

Saat merasakan kemarahan Cathy, pria itu mengendurkan cengkeramannya.

Ia membungkuk dan menatap tepat ke mata Cathy.

"Catherine, kamu sudah puas sekarang? Kamu ingin mengakhiri hidupmu, kan? Apa yang kamu lakukan di sini, berbaring di ranjang rumah sakit?'

Cathy terperangah kaget mendengarnya 'Siapa pria ini? Kenapa dia mengancamku?'

"Tuan Mustafa, Nyonya Mustafa baru saja bangun. Kondisi Nyonya masih lemah, tolong jangan sakiti Nyonya," Bliss memohon.

Ketika Cathy menyadari bahwa hidupnya dalam bahaya. Ia mengulurkan tangan ke pria itu dan menepis tangannya.

"Siapa kamu? Singkirkan tanganmu dariku!"

Seluruh ruangan langsung menjadi hening.

Semua orang menatap Cathy dengan terperangah.

Para pria yang berpakaian hitam tahu bahwa ia akan mendapatkan masalah.

Tidak ada yang berani berbicara dengan CEO mereka seperti itu. Frans Mustafa tidak akan pernah memaafkan sikapnya yang tidak sopan itu. Wanita itu benar-benar dalam masalah besar.

Bab 3

Suasana hening yang mencekam menyelimuti kamar itu; tidak ada yang berani menghembuskan napas.

Para asisten Frans tahu bahwa kata-kata Cathy telah membuat bos mereka marah.

Ekspresi wajah Frans menjadi muram; ia menatap Cathy dengan tajam.

Tatapannya yang tajam membuat Cathy merinding hingga terasa ke tulang punggungnya. Cathy menggigit bibirnya untuk menyembunyikan ketakutannya. 'Oh Tuhan! Kenapa dia menatapku seolah ingin memakanku hidup-hidup?'

Kepanikan serasa menjalar di pembuluh darahnya bersamaan dengan sebuah pikiran muncul di benaknya. 'Apakah dia tahu bahwa aku bukan Catherine Lahari? Bliss memanggil pria itu Tuan Mustafa. Jadi dia suami dari wanita yang mereka pikir adalah aku. Ya Tuhan! Aku tidak pernah berniat berubah untuk menjadi istrinya. Apakah dia akan membunuhku?'

Cathy membenci dirinya yang selalu mendapat masalah. Ia melihat ke arah pria yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mengancam. 'Sial! Aku ingin kembali ke tubuhku sendiri. Aku tidak ingin menjadi Catherine.'

Saat Cathy sedang sibuk berdoa agar ada keajaiban yang terjadi, Frans mendorongnya menjauh.

"Aduh!" Cathy menjerit kesakitan saat kepalanya terbentur ke meja samping tempat tidur.

Ia mengusap dahinya yang perih dan menatap kesal pada Frans.

Frans tampak mengernyitkan dahirnya. Ia mengerutkan alisnya dan mengamati Catherine. Ia merasa ada yang tidak beres.

"Panggil dokter!" Ia merasa istrinya bertingkah aneh sejak ia sadar.

"Baik, Tuan Mustafa. Saya akan memanggilnya sekarang." Bliss mengangguk dengan hormat dan pergi.

"Jangan..." Cathy mengulurkan tangannya untuk menghentikan Bliss, tetapi wanita itu menghilang dari bangsal dalam sekejap.

Satu-satunya orang yang Cathy kenal setelah ia bangun, telah meninggalkannya sendirian di kamar yang dipenuhi dengan pria yang menatapnya dengan ganas, seperti predator yang sedang menunggu untuk menerkam mangsanya.

Cathy panik dan beribu pikiran memenuhi benaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Dua pria kekar sedang berdiri di dekat pintu, jadi dia tidak mungkin bisa melarikan diri.

Ekspresi bersalah di wajah Cathy semakin membingungkan Frans.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak satu pun dari mereka berbicara.

Beberapa saat kemudian, Bliss kembali dengan dokter bersamanya.

Cathy pun mengerutkan kening saat melihat dokter itu.

'Apakah dia akan tahu bahwa aku bukan Catherine?'

Sang dokter melihat sekilas ke arah Cathy sebelum ia tersenyum hangat pada Frans. "Halo, Tuan Mustafa. Saya senang dapat menyambut Anda di rumah sakit kami."

Cathy mengatupkan mulutnya dan terkikik. Wajah dokter itu memerah karena malu saat menyadari keanehan dari pernyataannya.

Siapa yang mau datang ke rumah sakit jika tidak sakit?

Dokter mengamati wajah Frans untuk melihat apakah dirinya telah menyinggung perasaannya.

Untungnya, tidak ada tanggapan apa-apa dari Frans dan ia terlihat tenang. Sang dokter pun menghela napas lega.

Frans menyadari sang dokter sedang menatapnya. Ia menjentikkan jarinya untuk menyadarkan sang dokter dari lamunannya.

"Kenapa menatapku? Periksa kondisi istriku dan lihat apakah dia baik-baik saja."

"Apa?" Sang dokter berkedip saat ia tersadar dari pikirannya. "Oh iya. Baik."

Ia mengangguk dan berjalan ke arah Cathy.

"Nyonya Mustafa, Anda baik-baik saja? Apakah Anda merasakan ketidaknyamanan?" tanyanya.

Cathy menatap sang dokter dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa kondisinya baik-baik saja.

"Apakah Anda mengalami pusing atau mual?"

Cathy menggelengkan kepalanya lagi.

"Bagus. Apakah merasa detak jantung Anda berdegup kencang?"

Cathy menunjuk ke arah Frans saat mendengar pertanyaan itu dan mengangguk.

"Dia membuatku takut. Itulah yang menyebabkan jantungku berdegup kencang. Bisakah Anda memintanya pergi?" pintanya.

'Astaga! Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan pria ini. Hanya saat pria itu pergi, aku bisa melarikan diri,' pikirnya.

Dokter itu pun tersentak kaget.

"Anda memiliki selera humor yang bagus, Nyonya Mustafa," ucapnya dengan memaksakan senyum di wajahnya.

Cathy mengerutkan kening; tatapannya beralih dari Frans ke dokter itu. 'Memangnya aku mengatakan sesuatu yang lucu?'

Rahang Frans menegang begitu ia mendekati Cathy.

Bayangan dari tubuhnya yang tinggi menyelimuti Cathy, lagi-lagi membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Cathy bergidik dan menatapnya. 'Apa lagi yang dia inginkan?'

Senyum tersungging di sudut bibir Frans; ia senang melihat ketakutan di mata Cathy.

"Dokter, apakah kamu yakin dia baik-baik saja?" tanya Frans tanpa mengalihkan pandangan dari Cathy.

Dokter itu pun terkejut. Ia tidak menyangka Frans akan bertanya padanya tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Catherine.

Ia berdeham dan mengangguk. "Ya. Nyonya Mustafa pulih dengan cukup baik."

Frans mendengus. "Bagus. Sudah waktunya untuk membawanya pulang. Bliss, urus semua keperluannya."

"Baik, Tuan Mustafa!" Bliss menjawab dengan penuh semangat. Ia lelah menghabiskan waktunya di bangsal rumah sakit sepanjang hari dan tidak sabar untuk kembali ke rumah.

Di sisi lain, kepanikan membanjiri pikiran Cathy. Ia tidak ingin pergi ke tempat Frans. Dari raut wajahnya saja, Cathy sudah bisa menebak bahwa dirinya akan berada dalam bahaya jika berada di dekatnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED