Bab 1

Perjalanan pagi telah menjadi sore, melihatkan jiwa giat bekerja seorang Aisyah yang penuh kesabaran. Aisyah seorang gadis desa, badan tinggi serta berhijab, memutuskan diri bekerja sebagai pembantu di kota Palembang.

"Mbak, alamatnya, di mana?" tanya sopir travel.

"Masih lama, bang, itu ke arah Kuta." Aisyah tersenyum menjawab pertanyaan sopir travel.

"Mbak, siapa namanya?" tanya kembali sopir travel.

"Aisyah, abang sendiri siapa?" Aisyah tersenyum halus.

"Wah namanya cantik, macam orangnya. Saya Hendro, panggil aja Bang Hendro." Sopir travel memperkenalkan diri.

"Hehe, bisa aja abang. Bang Hendro orang mana aslinya?" Aisyah terlihat begitu akrab.

"Saya orang Sekayu aslinya, Aisyah sendiri?" Hendro tersenyum malu.

" Saya orang Gajah Mati, saya ke kota sebab jadi pembantu, bang." Aisyah menunduk tersenyum.

"Hmm, Aisyah cantik, coba jadi model aja." Hendro tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih.

Aisyah tertawa mendengar celetukan sang sopir, Aisyah terlibat percakapan, Aisyah merasa tidak gugup lagi setelah diajak bercanda Sopir travel yang menjadi temannya itu.

"Bang, belok kiri ya, di perempatan nanti belok kanan." Perintah Aisyah.

"Ok, siap!" Hendro mengangguk tersenyum.

Aisyah menatap khalayak kota yang ramai dengan ciri khas kehidupan modern. Aisyah merasa begitu tenang menikmati perjalanan sebab ada yang mengajaknya ngobrol.

"Mak, abah, doakan Aisyah ya. Aisyah harus melangkah demi masa depan Aisyah nanti." Batin Aisyah diiringi buliran bening dari matanya yang senduh.

Melihat Aisyah sedih, Hendro sang sopir travel menjadi panik, "lho, mbak Aisyah kenapa ini?" Tanya Hendro khawatir.

"Gak apa-apa bang, cuma kelilipan, aja, hehe." Keles Aisyah.

Aisyah tipe orang tak pernah mau curhat atau membagikan masalah, terlebih kepada teman yang baru dikenalnya.

"Beneran?" Celetuk Hendro.

"Iya abang, yang ganteng." Aisyah mencairkan suasana.

Hendro tertawa lebar mendengar candaan Aisyah. "Jangan ketawa mulu, tuh, udah perempatan, nanti kelewatan lagi." Aisyah tertawa menutup mulut.

"Siap-siap!" Hendro tersenyum.

Aisyah seketika menjadi was-was, entah seperti apa nanti majikan yang ia dapatkan nanti, Aisyah nekat bekerja sebab dorongan cita-cita dan ekonomi keluarganya, di sisi lain ayahnya Aisyah sedang sakit, ibunya kerja sendiri, sehingga memutuskan seorang Aisyah untuk kerja dan menutup impiannya untuk kuliah seperti temannya yang lain, Aisyah sudah pasrah kemana takdir membawanya, yang terpenting iman tak meninggalkannya.

"Bang-bang, itu belok seperti yang saya bilang tadi, nanti di depan gang, berhenti ya." Aisyah menunjukkan arah sembari mengecek handphone.

"Ok-ok, nanti ketemu boleh kan, ya kalo ada waktu." Hendro tersenyum malu.

"Boleh aja kok, asal Aisyah ada waktu," Aisyah tersenyum sembari menatap pemandangan kota.

Aisyah cukup sadar, Aisyah juga tahu kalau sang Sopir travel diam-diam menyukai dirinya. Namun, Aisyah tidak mau salah langkah, niatnya kerja ke kota, bukan pacaran.

"Aisyah, sebelum adek turun, boleh lah kan, abang minta WA nya?" Hendro menyodorkan handphone.

Aisyah menatap sejenak, Aisyah juga tak bisa menolak, lagian cuma nomor WA, Aisyah tak ingin membuat temannya kecewa.

"Boleh, nah ini sudah, nanti aku chat." Aisyah mengembalikan handphone Hendro.

"Makasih Aisyah!" Hendro tersenyum manis sembari tertawa kecil menatap Aisyah dari spion dalam mobil.

Perempatan sudah di depan mata, mobil perlahan berhenti di tempat yang Aisyah tunjukkan. Aisyah keluar dari mobil.

"Makasih bang, sampai jumpa lagi ya, hati-hati." Aisyah menyodorkan ongkos memberi jempol.

"Hehe, siap. Sampai jumpa lagi nona cantik, jangan lupa nanti di chat." Hendro berlalu sembari memberi klakson tanda pamit pergi.

"Aneh, pria yang menarik, misterius, hmm," batin Aisyah. Hati Aisyah bergidik, Aisyah lalu menuju alamat tempat kerjanya.

Saat berpisah dengan Hendro, sang sopir travel. Aisyah merasa tegang, untuk menemui calon majikannya, Aisyah merasa nervous kembali sebab tak ada yang mengajaknya ngobrol atau sekedar bergurau semata.

Saat sedang berjalan, Aisyah dihampiri seorang nenek tua, "Nak, mau kemana bawa tas besar nih?" Tanya sang nenek dengan sopan.

"Ini, nek, saya pembantu baru dirumah keluarga Pak Aryo," Aisyah tersenyum hormat.

"Owh, ya, tak kira calon mantu Bu Heti," Sang Nenek tersenyum.

"Nenek, saya berlalu dulu ya, permisi." Aisyah tertawa pamit permisi.

Gerbang rumah keluarga Aryo telah di depan mata, semakin membuat nervous seorang gadis muda bernama Aisyah,

"aduh, bagaimana kalo mereka garang, bisa-bisa abis aku. Tapi tenang Aisyah, bismillah aja." Aisyah mengambil nafas dan menghembuskannya berulang kali.

Setelah merasa tenang, Aisyah memencet bel rumah, tak lama seorang wanita membuka pintu, "iya, cari siapa, ya!" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Bu Heti, nyonya rumah keluarga Aryo.

"Salam, saya Aisyah, pembantu yang di saluran yayasan, untuk kerja dirumah keluarga Aryo. Apa benar ini rumahnya, bu!" Aisyah berkata sesopan mungkin.

"Iya, benar dengan saya sendiri. Mari silakan masuk." Bu Heti menyambut Aisyah masuk.

Aisyah merasa sedikit lega sebab majikannya baik, setidaknya nervous diawal teratasi.

"Silakan duduk, dulu," Bu Heti mempersilakan Aisyah duduk.

"Terimakasih, bu," Aisyah tersenyum sembari duduk meletakkan barang-barangnya.

"Aisyah, namanya, cantik macam orangnya. Saya mau tanya, betul mau kerja jadi asisten rumah tangga?" Bu Heti membuka pembicaraan.

"Iya, bu, saya sudah mantap, asal halal, itu tidak mengapa bagi saya." Aisyah menjawab sesopan mungkin.

"Saya lihat, kamu anak yang baik, cantik lagi, ibu yakin kamu bisa mengerjakan tugas dengan baik." Bu Heti tersenyum lekat ke Aisyah.

"Bismillah, bu!" jawab Aisyah tersenyum.

"Aisyah, abis kita ngobrol-ngobrol, ba--!" ucapan Bu Heti terpotong.

Baik Aisyah maupun Bu Heti terkejut dengan kedatangan seorang pria berteriak-teriak. "Ibu, ayah!" Teriak seorang pria, yang tak lain adalah Angga anaknya pak Aryo dan bu Heti.

"Angga, bisa tidak pelan-pelan, kamu itu macam anak kecil, pulang olahraga teriak-teriak." Bu Heti kesal.

Aisyah terdiam takut melihat Angga yang tatapannya tajam. Bukan menjawab malahan Angga menatap lekat Aisyah, Aisyah semakin takut dan menunduk.

"Siapa? Hai siapa kamu?" Angga mendekati Aisyah.

Bu Heti diam memperhatikan Aisyah dan Angga. Namun, bu Heti kesal melihat Angga anaknya.

"Sa--ya, sa--ya, pembantu dirumah om, se--karang," Aisyah gugup ketakutan.

"Hmm, pembantu ternyata, Aisyah nama yang cantik, haha." Angga terlihat mengejek tertawa keras.

Aisyah semakin ketakutan, Aisyah sudah tahu untuk kelakukan seorang Angga.

"Cukup, sekarang masuk, kapan kau akan dewasa, ayah sama ibu, sudah mantap memasukkan Angga ke dunia militer," bu Heti kesal melihat tingkah putranya.

Angga terkejut, Angga menatap sinis ibunya, dari kecil Angga sangat tidak menginginkan menjadi seorang tentara walaupun badannya memberi. "Tidak, Angga tidak mau, tidak!" Angga membentak ibunya.

Aisyah tak bisa melihat orang tua di bentak, Aisyah menjadi kesal, "cukup om, cukup, dia ibumu, apa pantas berkata seperti itu?" Aisyah memberanikan menatap tajam mata Angga.

"Diam! Gak usah ikut campur, ini rumahku, kau hanya babu," Angga membentak Aisyah.

Aisyah menjadi takut dan terdiam. Namun, hatinya meradang, ingin rasanya membabak belurkan wajah Angga sekarang.

"Cukup, sekarang sudah cukup, apa yang dibilang Aisyah itu benar. Angga ibu mohon, berubah nak, berubah. Ibu malu kalo Angga terus-terusan macam anak kecil," bu Heti menenangkan Angga, kalau Angga diajak bertengkar juga tak ada baiknya.

Angga menatap tajam Aisyah dan berlalu ke kamarnya, Aisyah senduh menatap Angga. Di sisi lain, Hendro tak sabar menunggu chat dari Aisyah, Hendro diam-diam mencintai Aisyah.

Dirumah keluarga Aryo, Aisyah telah bekerja sepenuhnya sebagai Asisten rumah tangga, saat sedang beberes rumah, Angga datang bersama pacarnya Heni, wanita seksi, badan putih dan mulut nyinyir serta sombong. Angga duduk bersama Heni di sofa.

Heni yang melihat Aisyah lebih muda dan cantik, merasa kesal dan menatap tajam Aisyah yang tengah mengepel lantai.

Heni menghampiri Aisyah yang tengah mengepel lantai, Heni sengaja ingin membuat Aisyah dimarahin Angga sebab membuat dirinya terjatuh.

"Auh, sayang, lihat ini, pembantu kamu, kerja gak becus." Hardik Heni tersenyum sinis ke Aisyah.

"Ya Allah mbak, sini saya bantu," Aisyah menghampiri Heni.

"Jangan, saya gak sudi dipegang pembantu." Heni meledek Aisyah.

Angga menjadi kesal melihat Aisyah, Angga hendak mendorong Aisyah. Namun belum sempat menyentuh Aisyah, tangan Angga ditarik kasar oleh seseorang pria dan mendorongnya, Angga terkejut dan takut melihat sosok pria itu, sedangkan Heni ketakutan dan malu.

Bab 2

"Angga! apa begini kelakuanmu? dan kau Heni, jelas-jelas kau yang salah," pak Aryo meradang.

"Ada apa ini? Ayah ada apa?" bu Heti menghampiri ketakutan.

"Ibu lihat, Angga hendak mendorong gadis ini dan kau Heni, om minta pulang sekarang," amarah pak Aryo tak terbendung lagi.

"Ayah, ayah lebih belain pembantu ini, dibanding pacar Angga sendiri, begitu?" celetuk Angga kesal.

Angga dan Heni keluar dari rumah dengan tatapan marah serta sangat kesal pada Aisyah, sedangkan Aisyah menunduk ketakutan, sepeninggal Angga dan Heni. Pak Aryo meminta maaf pada Aisyah.

"Maafin anak bapak ya! Siapa namamu nak?" pak Aryo bertanya sopan pada Aisyah.

"Tidak apa-apa pak, saya yang harus meminta maaf, saya Aisyah, pak," Aisyah tertunduk menahan tangis.

Seketika Aisyah pamit ke belakang, pak Aryo dan bu Heti menatap lekat Aisyah, "pak, Aisyah gadis yang baik, kelak ibu akan menjadikannya menantu," bu Heti tersenyum lekat pada pak Aryo.

"Ternyata pemikiran kita sama ya bu, bapak sudah lama mengidamkan menantu seperti Aisyah, biarpun Aisyah hanya asisten rumah tangga di keluarga kita, itu tak jadi masalah, tidak kayak sih Heni, anak orang kaya tapi tidak tahu etika." Pak Aryo tersenyum berlalu ke kamar.

Di sisi lain, Aisyah menangis, hatinya menjadi gelisah, "ya Allah, hamba kesini untuk bekerja, bukan cari masalah," Aisyah menyeka airmata sembari membereskan dapur.

Bu Heti yang sudah memperhatikan Aisyah dari tadi menjadi sedih, melihat Aisyah menangis akibat ulah Heni dan Angga.

"Maafin anak ibu ya, ibu tahu Aisyah merasa tidak enak," bu Heti merangkul Aisyah sembari menangis.

"Ibu tidak salah, malahan Aisyah sudah bersyukur, bertemu orang sebaik ibu dan pak Aryo," Aisyah mengusap airmata bu Heti.

Di sisi lain, Heni ngambek sama Angga sebab pak Aryo lebih membela Aisyah, daripada dirinya, "sayang, bisa-bisanya sih, keluargamu memperkerjakan pembantu resek itu." Heni bersungut kesal.

"Sayang, biarin aja, cuma pembantu itu, akan aku beri pelajaran dia nanti," tatapan Angga tajam tersenyum sinis sembari memeluk Heni yang bergelayut manja.

Malam pun tiba, Aisyah tengah mempersiapkan makan malam, Angga berniat hendak mengerjai Aisyah, "Aisyah, sini ikut aku," panggil Angga menajamkan tatapan.

"Ta--pi, om, i--ni belum selesai," Aisyah menunduk ketakutan.

"Gak ada tapi-tapian, ayo ikut," Angga menarik tangan Aisyah.

Aisyah berusaha melepaskan tangan Angga. Namun, karena tenaga Aisyah tak sekuat Angga, membuat Angga leluasa menarik Aisyah, "om, tolong, jangan apa-apakan aku," Aisyah menangis.

"He, Aisyah, aku ini masih muda dan bukan om kau, aku akan kasih kau pelajaran." Angga menajamkan tatapan mata.

Aisyah hanya terdiam dan sudah pasrah, airmata menemaninya, rencana untuk menelpon Hendro dan orang tuanya tak kunjung terkabul, "aku pasrah, Abang mau membunuh tidak apa-apa," Aisyah begitu tegar.

Seketika hati Angga berdesir, Angga menghentikan langkahnya, Angga menatap lekat wajah ayu Aisyah. "Jangan lebay, aku cuma mau menghukum, bukan membunuhmu," Angga tertawa lepas.

Diruang makan, bu Heti dan pak Aryo mencari Aisyah, "pak, Aisyah kemana ya? Terakhir ibu tinggal, dia tengah bersiap makan malam." Bu Heti celingukan.

"Angga juga gak kelihatan, dimana mereka," pak Aryo khawatir.

Di sisi lain, Hendro gelisah menunggu telpon ataupun chat dari Aisyah, "Aisyah, di mana kamu, kenapa belum telpon atau chat aku?" batin Hendro bertanya gelisah sembari menatap layar handphonenya.

Angga dan Aisyah saling pandang, Aisyah ketakutan, "kamu, udah buat aku malu, udah buat Heni kesal," Angga beringas kemarahan.

"Angga! Apa-apaan ini?" bentak pak Aryo datang tiba-tiba.

Bu Heti yang kaget mendengar suara keributan, bergegas menghampiri pak Aryo, Angga dan Aisyah, "ada apa pak? Kok ribut-ribut?" tanya bu Heti keheranan.

"Ini, bu, liat Angga, berani-beraninya dia memarahi Aisyah, hanya gara-gara sih Heni, perempuan gak ada sopan santun itu." Teriak pak Aryo memandang tajam Angga.

"Owh, ya lebih membela pembantu daripada anak sendiri? bagus-bagus." Celetuk Angga bertepuk tangan menahan kesal.

"Angga!" bentak Pak Aryo.

"Sudah-sudah, cukup!" bu Heti kesal menatap Angga.

Angga berlalu kesal menuju ke kamarnya, sedangkan pak Aryo dan bu Heti menuju ke meja makan diikuti Aisyah. Pak Aryo dan bu Heti melanjutkan makan malam tanpa Angga.

"Aisyah, maafin sifat anak bapak ya!" celetuk Pak Aryo.

"Gak apa-apa kok, pak, Aisyah yang harusnya minta maaf," Aisyah tersenyum walaupun hatinya sakit.

"Aisyah, seharian kamu ngurus rumah, kamu boleh ke kamar sekarang, istirahatlah, besok bangun pagi ya, bantu ibu buat sarapan spesial," bu Heti tersenyum kemudian melanjutkan makan malam.

Di kamar, Aisyah membereskan tempat tidur, seketika telponnya berdering.

Drett!!

Aisyah mengambil handphone, tertera nomor tak dikenal, "assalamu'alaikum, dengan siapa?" tanya Aisyah sopan.

"Waalaikumsalam, waduh, masak gak kenal lagi," terdengar tertawa suara laki-laki diseberang telpon.

"Hmm, Bang Hendro," celetuk Aisyah menyeringai.

Saat Aisyah sedangk telponan dengan Hendro, Angga lewat tak sengaja mendengarkan Aisyah yang sedang telponan dengan Hendro.

"Nah, baru ingat dia," celetuk Hendro tertawa.

"Maaf ya bang, baru sempat telpon, soalnya sibuk, namanya baru kerja," Aisyah tersenyum manis, membuat Angga memandang tak berkedip.

"Tidak apa-apa, abang sabar kok," ujar Hendro. Padahal di hatinya sudah gelisah gak ada telpon dari Aisyah.

"Abang mah, bisa aja. Bang, bukan gak mau lama-lama nih, Aisyah dah ngantuk, lanjutkan besok ya," Aisyah hendak menutup telpon.

"Hmm, ya udah deh, sudah dengar suara adek, dah lega," Hendro menggoda Aisyah.

"Abang bisa aja, ya udah, sampai besok bang, assalamu'alaikum." Ucap Aisyah.

"Waalaikumsalam, nona cantik." jawab Hendro.

Aisyah tersenyum mendengar ucapan Hendro, yang baginya tak lebih dari candaan, walaupun sebenarnya Hendro telah jatuh hati padanya.

Saat Aisyah hendak menutup pintu, Aisyah mendapati Angga yang tengah memperhatikannya, Angga menjadi malu, "ada perlu apa bang, ada yang bisa Aisyah bantu?" tanya Aisyah sopan.

"E--ng--gak, enggak ada, apa-apa!" Angga gugup dan langsung berlalu.

Aisyah tersenyum tipis melihat tingkah laku Angga. Sepanjang malam Angga teringat akan senyum manis Aisyah, lemah-lembut Aisyah

"Ah, dia cuma pembantu, gak mungkin aku tertarik padanya, Heni yang pantas bersanding dengan aku," rutuk batin Angga memandang heningnya plafon kamarnya.

Aisyah teringat akan Angga yang memperhatikannya, "abang Angga itu, jahil atau memang jahat sih?" tanya batin Aisyah, sembari menarik selimut akibat malam telah dingin.

Di sisi lain, Hendro sedang menikmati santainya malam yang dingin, lagu dari Anji 'Menunggu mu' menjadi teman malam yang temaram. "Aisyah, aku mencintaimu," batin Hendro tersenyum memandang kelap-kelip bintang.

Pagi yang indah telah menyinsing, bu Heti kesiangan, niat bangun jam 5 pagi, kebangun jam 6 pagi, bergegas bu Heti ke dapur, ternyata ada Aisyah yang tengah menyiapkan sarapan pagi, "lho, Aisyah udah siapin ya, maaf ya ibu kesiangan ini," bu Heti tersenyum sembari membantu Aisyah.

"Ini udah jadi tugas Aisyah dirumah keluarga ibu, masak Aisyah harus repotin ibu," Aisyah tersenyum dan bertutur kata sesopan mungkin.

Tengah asyik berbincang antara Aisyah dan bu Heti, saat Aisyah menoleh, baik Aisyah maupun bu Heti menjerit histeris, melihat wajah seseorang menghitam dan menyeramkan, yang membuat bu Heti pingsan.

Bab 3

Bu Heti tak juga sadarkan diri, beliau benar-benar syok, Aisyah menjadi panik. Pak Aryo telah pergi ke kantor sebab ada rapat penting. Ternyata wajah hitam itu adalah Angga. Namun, Angga sendiri tak menyadari.

"Lha kenapa ibu pingsan?" teriak Angga.

"Kamu siapa, ka--mu, hantu!" Aisyah menjadi takut.

"Sembarangan, aku ini Angga, cowok paling tampan!" Angga berlagak sok di depan Aisyah.

"Kalau kau benar om Angga, coba lihat wajahmu!" Aisyah mendekap bu Heti yang masih pingsan sebab syok melihat wajah hitam Angga.

"Aneh, gak tahan ya melihat wajah tampan aku," Angga menggoda Aisyah, Aisyah yang melihatnya semakin ketakutan.

Angga berlalu menuju cermin, tak lama terdengar teriakan Angga, "haaa! wajahku!" teriak Angga syok.

Bu Heti seketika sadar sembari memegang kepalanya yang berdenyut pusing.

"Ibu, ibu, alhamdulillah ibu sudah sadar," Aisyah membantu bu Heti berdiri.

"Aisyah, di mana manusia, muka hitam itu?" tanya bu Heti pada Aisyah sembari mengusap kening yang masih pusing.

"Bu, ternyata orang yang muka hitam itu, om Angga!" celetuk Aisyah dengan muka syok.

"Apa? kok bisa hitam?" cercah bu Heti tak percaya.

"Aisyah juga tak mengerti bu, tadi Aisyah menyuruhnya bercermin dan tak lama, om Angga berteriak," celetuk Aisyah.

"Bu, ibu, wajah Angga yang tampan, bu!" Angga muncul dengan wajah masih hitam.

Bu Heti menahan tawa, sekilas dia ingat pasti ulah pak Aryo, Ayahnya Angga. Pak Aryo sering polengin wajah Angga, kalau Angga kesiangan.

Aisyah masih bergidik ngeri melihat Angga, "apa lihat-lihat? Entar naksir!" bentak Angga kesal pada Aisyah.

Berdetak sedih hati Aisyah, Aisyah cukup rapu dalam hal bentakkan, "maaf, om." Aisyah tertunduk.

"Sudah Angga, cukup, kamu itu ya," bu Heti kesal melihat sikap Angga ke Aisyah.

Bu Heti mencolek pipi Angga, Aisyah memperhatikan sekilas, "nah, benar dugaan ibu, ternyata chat kuku," bu Heti tertawa.

"Maaf, bu, tapi tadi ibu pingsan!" Aisyah bertanya dalam kebingungan.

"Ibu lupa Aisyah, Angga telah dikerjain ayahnya, Angga ini calon tentara, tapi masih kesiangan bangun," bu Heti mentoyor kening putranya itu.

Angga membelalakkan matanya, "Ayah! tentara!" teriak kesal Angga.

"Ya Angga, ayahmu tak mau memarahimu dengan cara inilah dia menghukummu, sekarang cuci mukamu," bu Heti menarik tangan Aisyah dan meninggalkan Angga diruang makan.

Angga bersungut kesal, kesal bukan polengan hitam, tapi kata 'tentara'. Angga tak mau masuk kemiliteran, Angga lalu ke kamar mandi mencuci muka. Di ruang keluarga, bu Heti tertawa teringat kejadian pagi ini.

"Hadeh, Angga, Angga!" celetuk bu Heti tertawa.

"Maaf, bu, apa bapak sering ngerjain om Angga begitu?" tanya Aisyah dengan lembut sembari menahan tawa.

Bu Heti tersenyum dan mengajak Aisyah duduk di sofa, belum sempat duduk, Aisyah menghindar, "maaf, bu, saya tidak pantas duduk di sofa ini, saya cuma pembantu," Aisyah menundukkan kepala.

"Aisyah, tak ada kriteria dari perusahaan sofa yang boleh duduk di sofa ini!" jelas bu Heti dengan penuh pengertian.

"Ya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur mendapatkan majikan yang baik," batin Aisyah diiringi bulir bening dari matanya yang senduh.

Baru Aisyah ingin duduk, Angga datang melarang, "jangan, jangan pernah kamu duduk disitu, ingat batasanmu, kau cuma pembantu," Angga menatap Aisyah bagai burung Elang yang siap menerkam mangsa.

Aisyah tersenyum memandang Angga, "maaf om, bu, aku kebelakang dulu ya, permisi," Aisyah berlalu ke dapur menahan tangis.

Bu Heti marah dengan Angga, sebagai majikan, bu Heti bukan menganggap asisten rumah tangga seorang babu atau budak, melainkan keluarga sendiri.

"Angga! udah berapa kali ibu bilang, jaga sikap," bentak bu Heti marah.

Bu Heti kesal dan meninggal Angga sendiri di ruang tamu, "hmm, pembantu, dikasih hati," batin Angga sinis.

Sore yang indah telah tiba, matahari bersinar dengan terang, menandakan sore telah menggantikan posisi siang yang terik.

Ting! Ting!

Bel rumah berbunyi, menandakan pak Aryo telah pulang, "Aisyah, tolong buka pintunya nak, kayaknya bapak dah pulang," perintah bu Heti pada Aisyah.

"Baik, bu!" jawab Aisyah sembari menuju pintu depan.

Ceklek!!!

Pintu dibuka Aisyah, senyum hormat Aisyah haturkan, sembari membawa tas kerja sang majikan, "Aisyah, ibu ada." pak Aryo berbicara sambil tertawa.

"A--da, ada pak, lagi bikin kopi," Aisyah tersenyum kebingungan. Tapi pak Aryo cepat menyadari maksud dari ekspresi Aisyah.

"Aisyah pasti bertanya, kenapa bapak pulang senyum-senyum kan?" celetuk pak Aryo dengan senyum mengembak.

"Nah, pas banget, bapak dah pulang," bu Heti tertawa gemas sambil berjalan mengarah ke pak Aryo. Sontak pak Aryo tertawa, Aisyah menjadi bingung sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.

"Bapak sudah tahu, pasti ibu mau tanya soal muka Angga pagi tadi kan?" pak Aryo tertawa lepas.

"Bapak! gak lucu tau, ibu sampai pingsan," bu Heti tersenyum kecut.

"Maafin bapak ya bu, bapak lupa cakap," pak Aryo merangkul bu Heti, tanpa menyadari ada Aisyah, Aisyah langsung pamit sambil tersenyum. Pak Aryo dan bu Heti tersenyum malu saat menyadari Aisyah pergi ke dapur.

Sore penuh cerita perlahan-lahan berganti malam yang hening. Aisyah tengah sibuk menyiapkan makan malam, "nah, beres!" celetuk Aisyah tersenyum.

"Aisyah, Aisyah, Aisyah!" teriak bu Heti.

"Ya, bu, sebentar!" jawab Aisyah.

Aisyah menghampiri bu Heti yang tengah panik, " ya, bu, ada apa?" tanya Aisyah pelan.

"Angga, Angga kemana Syah?" bu Heti panik.

Aisyah menepuk jidat tersenyum kecut, "maaf, bu, Aisyah lupa cakap. Om Angga lagi keluar nemuin pacarnya, siapa ya? Lupa namanya!" jelas Aisyah tersenyum.

"Kerumah Heni?" bu Heti membelalakkan mata tanda marah.

"Nah, iya, bu, om Angga bilang begitu!" ucap Aisyah polos.

"Astaghfirullah, Angga, malam ini ibu mau ajak dia kerumah letnan Yanto, dia malahan nemui ceweknya," bu Heti bersungut kesal.

Aisyah tak mau ikut campur, yang ada, Aisyah tidak mau nanti dibilang aduh domba sama Angga, "ya udah bu, makan malam sudah siap, mari bu, saya duluan kebelakang, mau siapkan minum." Aisyah berlalu menuju ruang makan.

Saat membuka handphone, Aisyah teringat akan Hendro, sang sopir travel temannya, "sudah lama tak berkabaran! Apa kabarnya, ya?" batin Aisyah.

Aisyah hendak menutup handphone, tapi merasa tak tenang kalau belum menghubungi Hendro. "Aku WhatsApp ajalah!" batin Aisyah sembari mengetik pesan.

Setelah itu, Aisyah langsung menutup aplikasi hijau bersimbol telpon itu. "Nak!" panggil pak Aryo.

"Eh, iya, pak!" Aisyah terkejut.

"Kayaknya seru ini, lagi sama pacar ya?" celetuk pak Aryo sembari berjalan ke meja makan.

Aisyah hanya tersenyum, bu Heti datang menghampiri pak Aryo, "pak, Angga, ibu sudah muak sama pacarnya Heni!" celetuk kesal bu Heti sembari menarik kursi hendak duduk.

Prang!!!

bunyi guci pecah mengagetkan semuanya, "Apa itu? bu!" pak Aryo terkaget.

Bu Heti, pak Aryo dan Aisyah berlarian ke ruang depan, semua terkejut melihat apa yang tak biasa, seketika bu Heti syok dan pingsan melihat keadaan yang terjadi.

"Om Angga!" teriak Aisyah khawatir menghampiri Angga yang terluka babak belur.

"Angga!" teriak pak Aryo.

Aisyah mengisyaratkan untuk mengangkat bu Heti yang pingsan akibat syok dulu.

"Pak, angkat ibu ke sofa dulu!" Aisyah membantu pak Aryo.

Saat Aisyah hendak menolong Angga, Angga menolak dengan mentah-mentah. Namun, Aisyah tak mendengarkan sama sekali tolakan Angga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED