"Hanya satu-satunya jalan ini yang bisa kamu lakukan untuk bantu biaya pengobatan Ibu kamu, Fiona. Tante akan berusaha bantu supaya keperawanan kamu itu bisa di beli dengan harga mahal. Jangan menangis!" Masih teringat jelas perkataan Tante nya beberapa waktu lalu di kepala Fiona.
Sial nya air matanya ini belum mau berhenti menetes juga, dadanya sesak dengan kepala yang terasa pening karena sebentar lagi sesuatu yang berharga darinya akan hilang. Mendengar suara pintu kamar hotel terbuka, membuat tubuh Fiona menegang. Dengan perlahan melirik ke arah pintu, melihat seorang pria yang baru masuk.
"Oh waw ternyata Madam gak salah jual lo, yah not bad lah. Cukup oke untuk harga lima puluh juta," kata pria itu sambil menjilat bibir bawahnya. Memperhatikan lekat perempuan yang duduk di sisi ranjang yang menatap nya takut-takut. Sial ditatap seperti itu saja sudah membuat libido nya naik, apa-apaan ini?!
Lain hal nya dengan yang dirasakan Fiona, betapa syok nya Ia karena pelanggan yang membeli keperawanannya adalah Arion. Ia sampai mengucek matanya khawatir salah melihat, tapi wajah tampan itu tidak berubah juga.
Bibir bawahnya Fiona gigit melihat pria itu berjalan mendekati nya, perasaannya semakin dibuat gugup. "Apa yang harus aku lakukan? Semoga saja dia tidak kenal aku," Batin Fiona.
Saat Arion duduk tepat di sebelah Fiona, Ia hanya bisa menundukkan kepala dengan kedua tangan bertaut di atas paha nya yang terbuka karena gaun nya terlampau pendek. Tangan besar Arion lalu terangkat membawa beberapa helaian rambut nya, lalu didekatkan ke hidungnya untuk mencium wangi shampo nya, hingga membuat pria itu mendesah berat menikmati.
Kedua mata Arion kembali terbuka setelah merasa cukup puas menikmati wangi rambut dengan aroma segar itu. Matanya memperhatikan wajah perempuan itu, dari samping saja sudah cantik dengan pahatan yang sempurna.
"Nama lo Valeria, kan? Katanya lo masih perawan, yah gak papa lah sesekali seks sama cewek yang belum punya pengalaman. Malam ini, gue aja yang mimpin. Biar setelah malam ini lo bisa punya pengalaman untuk tidur sama pelanggan lain," ucap Arion dengan suara berat karena dari tadi menahan hasrat.
Betapa sakit hati nya Fiona saat mendengar itu, seolah dirinya dianggap akan selamanya menjajakan tubuhnya sebagai pelacur. Ingin sekali Ia membantah. Dengan perlahan Fiona menoleh membalas tatapan pria itu. "Bisa kita langsung saja? Aku.. Aku gak bisa lama-lama di sini, aku harus pergi," pinta nya dengan suara pelan.
"Memangnya lo mau kemana? Apa sudah ada yang booking lo lagi?" Arion lalu terkekeh sinis. "Gue udah beli lo mahal, malam ini sampai besok pagi cuman gue yang boleh sentuh lo, gak ada yang lain!" desis nya dengan tatapan tajam.
Baru saja Fiona membuka mulut untuk menjelaskan, tapi Ia malah terpekik saat tubuhnya di dorong dengan keras hingga berbaring di kasur. Kedua matanya membola melihat Arion mulai membuka kemejanya dengan buru-buru, diikuti celana nya dan hanya menyisakan celana dalam berwarna hitam. Saat Fiona akan bangun, bahunya malah ditahan Arion membuatnya kembali berbaring dengan pria itu kini di atas nya.
"Mau kemana sayang? Jangan takut, gue tahu ini pengalaman pertama lo," bisik Arion tepat di depan wajahnya. Posisi mereka sangat dekat, bahkan hidung mancung keduanya sampai bersentuhan. "Lo diam saja, biar gue yang puasin," lanjut Arion lalu mulai mencium bibir merah perempuan itu yang dari tadi menggoda nya.
Fiona hanya diam saja dengan kedua mata terpejam, bibir nya terasa kaku mendapatkan kecupan dan lumatan yang diberikan Arion. "Buka mulut lo!" Dan saat diperintah seperti itu, Fiona pun hanya menurut lalu tidak lama merasakan lidah Arion yang masuk dan membelai lidahnya dengan serangan menggoda.
Merasakan pasokan oksigen nya semakin menipis, membuat Fiona berusaha mendorong dada Arion untuk melepaskannya. Untungnya pria itu mengerti dan menghentikan ciuman, membuat Fiona pun langsung menghirup udara dengan rakus. Tetapi ternyata Arion belum berhenti, wajahnya malah turun dan berganti mengecupi leher nya lalu menggigit-gigiti membuatnya sesekali meringis pelan.
Bukannya menikmati sentuhan pria itu, mata Fiona malah berkaca-kaca karena tidak menyangka tubuhnya dapat dinikmati oleh lelaki lain, padahal Fiona sempat berpegang teguh jika Ia hanya akan memberikan tubuhnya pada suaminya nanti. Tetapi memang tidak ada yang tahu masa depan, apalagi keadaan nya saat ini sedang terpuruk. Semua demi Ibunya yang kini terbaring kritis di rumah sakit.
Arion lalu mengangkat wajahnya saat mendengar isakan pelan di dekat nya, saat wajah cantik itu Ia tatap ternyata benar sedang menangis. Kedua tangannya lalu menangkup wajah itu, membuat mereka bertatapan. "Hei kenapa nangis? Gue belum masukin loh," tanyanya agak konyol, yakin sekali pasti pelacur sewaan nya ini sedang memikirkan sesuatu.
Sebenarnya Arion tidak suka kalau berhubungan badan dengan perempuan cengeng dan tidak punya pengalaman seperti ini, tapi nafsunya sudah di ubun-ubun apalagi wangi tubuh pelacur nya ini membuatnya mabuk hingga rasanya ingin Ia tempeli terus. Seharusnya pelacur nya ini berterima kasih karena Ia mau memuaskan nya, sedangkan biasanya Arion lebih suka dilayani.
"Ma-maaf, aku gak papa, kamu bisa lanjutkan," jawab Fiona seraya menghapus air mata di pipi nya. Ia takut mood Arion jadi rusak, nanti tidak jadi lagi membayar nya.
Melihat pria itu mengangguk, membuat Fiona pun lega. Arion lalu menarik tangan nya hingga membuat keduanya terduduk. "Buka baju lo, jangan ada yang disisakan. Jangan malu!" perintah Arion tegas tanpa menerima penolakan.
Sempat Fiona menatap Arion memelas seolah merasa keberatan, tapi melihat tatapan pria itu yang semakin tajam dengan gigi bergemeletuk membuat nyali nya ciut dan dengan terpaksa menurunkan tali tipis di pundak nya. Selama membuka satu persatu pakaian di tubuh nya, Fiona terus menundukan kepala karena malu. Ia ingin kembali menangis, tapi berusaha ditahan karena khawatir Arion marah.
Saat Fiona akan membuka kaitan bra nya, tangannya malah ditahan membuat kepalanya otomatis terangkat dan sedikit tersentak karena posisi wajah mereka yang sangat dekat. Arion lalu menyatukan lagi bibir mereka, mengecup nya dengan tergesa-gesa dan mendorong tubuhnya hingga berbaring lagi di ranjang. Tangan Arion lalu menelusup ke balik punggung Fiona, membuka kaitan bra nya yang tadi sempat tertunda.
"Aww jangan!" pekik Fiona yang terkejut sendiri, segera Ia pun menutupi bagian dada nya dengan tangan. Tetapi Arion yang lebih kuat menarik tangannya hingga tidak menghalangi lagi.
Mata Arion terlihat berkabut menatap dua gundukan besar itu. "Sial gue beruntung banget bisa jadi yang pertama. Siap-siap sayang, malam ini lo gak akan tidur," bisik Arion dengan seringai di bibir nya.
Perlahan mata itu terbuka, kesadarannya pun langsung terkumpul menyadari Ia terbangun di tempat asing. Baru saja akan mendudukan tubuhnya, sesuatu yang berat menimpa perut nya membuat Fiona perlahan menolehkan kepala. Sempat Ia menahan nafas beberapa saat memperhatikan wajah Arion, hampir lupa jika semalam mereka sudah berhubungan badan dengan panas nya.
"Aku harus secepatnya pergi dari sini sebelum dia bangun," gumam Fiona pelan. Dengan perlahan Ia turunkan tangan kekar yang memeluk pinggang nya itu, lalu beranjak bangun dari ranjang. Saat berdiri malah meringis merasakan sakit di bagian selangkangannya. "Aduh apa lecet ya?" Batin nya khawatir.
Semalam Arion benar-benar gila, tidak ada lelahnya menyentuh tubuhnya setiap inci. Padahal Fiona sudah memohon minta istirahat, tapi tetap saja tidak diberikan dan terus menggempur nya. Menyadari terus memikirkan kejadian semalam, membuat Fiona menggelengkan kepala dan bergegas memakai baju nya yang teececer di lantai.
Sebelum keluar dari kamar hotel itu, sempat Fiona melirik lagi ke arah ranjang. Cahaya matahari yang menyinari wajah pria itu, membuat ketampanannya semakin bertambah membuat Fiona beberapa saat mengagumi. Tidak mau terlalu hanyut, Fiona pun memutuskan benar-benar keluar.
***
Fiona memilih pulang lebih dahulu ke rumahnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah siap, Ia langsung ke rumah sakit. Di Koridor dekat ruang rawat Ibu nya, terlihat Tante nya yang tidak lain adik Ibunya duduk sambil bergelayut manja pada seorang pria paruh baya.
Setelah Fiona berdiri di depan mereka, barulah kehadirannya pun di sadari. "Tante, gimana kabar Ibu? Apa sekarang kondisinya sudah pulih, Tante bilang semalam Dokter langsung melakukan operasi," tanyanya meminta penjelasan dengan harap-harap cemas.
Amelia dan pria paruh baya itu pun berdiri. Mendapatkan usapan di kepalanya dari Tante nya itu, membuat perasaan khawatir Fiona perlahan menguap. "Tenang saja Fiona, Ibu kamu sudah siuman kok. Operasinya berjalan dengan lancar, Ibu kamu sudah sadar di dalam dan nungguin kamu," jawab nya dengan senyuman manis.
Mendengar kabar bahagia itu tentu saja membuat Fiona tidak bisa menahan senyuman, hatinya lega dan senang sekali karena Ibu nya berhasil melewati masa kritis nya. Fiona lalu izin pada Tante nya itu untuk masuk ke ruang rawat Ibu nya, Amelia hanya mengangguk dan mengatakan akan pergi juga.
Saat Fiona akan membuka pintu ruang rawat, tidak sengaja telinganya malah mendengar perkataan pacar Tante nya. "Jadi gadis perawan yang semalam kamu jual itu keponakan kamu ya? Kasihan dia. Kenapa gak pinjam uang dari aku saja?" Entah kenapa Fiona jadi malu, tapi Ia berusaha bersikap acuh dan segera masuk.
Bibir nya semakin tersenyum lebar melihat ke arah ranjang, dimana Ibu nya duduk sambil melambaikan tangan ke arah nya seolah meminta mendekat. Setelah dekat, Fiona pun langsung berhambur memeluk Ibunya itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Syukurlah Ibu sudah siuman, aku.. Aku takut banget Ibu kenapa-napa," ucap nya dengan suara bergetar menahan tangis.
Ibunya terus mengusapi kepala putrinya itu dengan sayang, sesekali juga mengecup nya ingin memberikan ketenangan. Merasa bersalah dan tidak enak karena terus membuat anaknya ini khawatir karena penyakit jantung nya yang sering kambuh. "Maaf ya sayang Ibu selalu repotin dan buat kamu khawatir," ujar nya.
Fiona melepaskan pelukannya lalu menggeleng pelan. "Enggak kok, Ibu jangan bilang begitu, Ibu gak pernah repotin aku. Dari kecil kan Ibu sudah rawat aku sampai sebesar ini, sekarang giliran aku yang balas semua jasa Ibu," sahut nya berusaha tersenyum, walau dadanya berdenyut nyeri.
Bahkan Fiona rela mempertaruhkan keperawanannya demi kesembuhan Ibu nya. Jika saja Ibunya tahu, mungkin akan marah dan tidak sudi menerima uang pengobatan darinya yang didapatkan dengan hina seperti itu. Fiona yang tidak bisa menahan sedih nya memilih menyembunyikan wajahnya di bahu Ibunya dan berusaha tidak terisak.
Tidak apa, Fiona tidak menyesal sudah menjual keperawanannya karena sekarang Ibu nya sudah pulih. Ia akan lebih menjaga Ibunya supaya penyakit nya tidak kambuh lagi. Fiona lalu tersentak saat rambut nya di sibak ke samping, diikuti usapan pelan di leher nya.
"Kenapa leher kamu merah-merah begini, Fiona?" tanya Ibu nya bingung.
Fiona yang syok pun langsung menjauhkan tubuh nya dan merapihkan rambut nya lagi, berusaha menutupi leher nya walau tidak bisa semua tertutupi. Padahal Ia sudah memakai sweater tebal supaya kiss mark di leher nya tidak terlihat, tapi tetap saja. "A-aku gak sengaja makan kacang Bu, jadinya gatal-gatal dan malah aku garuk, jadinya begini," jawabnya berbohong.
"Ya ampun sayang, kamu ini ceroboh sekali, kan kamu alergi kacang. Sudah minum obat belum? Harus minum obat, nanti sesak nafas lagi." Melihat raut khawatir di wajah sang Ibu, malah membuat kedua mata Fiona kembali berkaca-kaca.
Mudah sekali pikir nya Ibunya percaya, hanya karena menganggap anak nya selama ini tidak suka aneh-aneh.
Tidak ada hentinya Fiona meminta maaf pada Ibunya itu di dalam hati, merasa menjadi anak durhaka dan kotor. Fiona menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Ia lalu mendekati ranjang untuk memotong kan buah-buahan yang nanti akan dimakan Ibu nya. Tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan.
"Kata Dokter nanti sore juga Ibu bisa pulang, Ibu jadi pengen cepet-cepet karena gak suka bau obat-obatan di rumah sakit. Selain itu takut biaya rawat nya makin mahal. Amelia bilang dia minta uang dari pacar nya, tapi Ibu bakalan tetap ganti walau pasti akan lama lunas nya." Ibunya terus bergumam menceritakan apapun, sedang Fiona hanya diam fokus memotong buah apel nya dengan tatapan kosong.
***
Sedangkan di tempat lain, terlihat Arion yang baru bangun sambil meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal. Dengan senyuman lebar nya Ia pun menoleh untuk melihat partner nya di sebelah, tapi senyumannya langsung menghilang karena tidak menemukan yang dicari nya. Ranjang di sebelahnya kosong.
"Ah sial kemana dia?" kesal nya sambil menggerutu. Arion mendudukan tubuh nya sambil merapihkan rambut nya yang kusut, matanya pun terus memperhatikan sekitar kamar yang kosong.
Melihat pintu kamar mandi yang terbuka tanpa ada suara di dalam nya, membuat nya yakin jika wanita sewaan nya semalam pun tidak ada di dalam. "Ck baru kali ini gue dicampakkin, bisa-bisa nya cewek itu ninggalin gue," Batin nya kesal karena ego nya tersentil.
Arion lalu turun dari ranjang untuk memakai pakaian nya, wajahnya terlihat tertekuk karena sedang bad mood. Saat akan membawa kemeja di bawah ranjang, matanya malah tidak sengaja menemukan anting. Merasa ini adalah milik wanita semalam, membuat Arion menyeringai senang.
Lihat saja, tidak dalam waktu lama pasti mereka akan bertemu lagi. Arion terlihat percaya diri.
Besoknya aktivitas berjalan seperti biasa, di hari senin ini Fiona sudah sibuk bersiap berangkat sekolah. Ia sudah kelas dua belas, sedang persiapan menghadapi ujian kelulusan juga masuk perguruan tinggi. Fiona sudah berusaha belajar dengan rajin supaya mendapatkan beasiswa di Perguruan Tinggi.
Setelah meminum susu nya, Fiona pun beranjak dari duduknya mendekati Ibunya untuk mengecup pipi. "Aku berangkat sekolah dulu ya Bu, Ibu istirahat saja di rumah. Awas ya jangan bersih-bersih, jangan lakuin hal berat, Ibu belum pulih!" ucap nya memperingati dengan kedua mata melotot pura-pura galak, tapi Ibunya malah terkekeh kecil merasa lucu.
"Iya-iya Ibu akan istirahat, gak akan nakal dan turutin semua perintah kamu," kata Ibu nya seraya mengusap kepalanya lembut. Sudah banyak merepotkan putrinya ini, tidak mau bertingkah aneh-aneh. "Kamu belajar dengan baik ya di sekolah, Ibu tunggu kamu pulang."
Fiona mengangguk lalu menyalami tangan Ibunya terlebih dahulu, Ia melangkah pergi setelah mengucapkan salam perpisahan. Seperti biasa Fiona selalu berangkat dengan menaiki sepeda, kebetulan jarak dari rumahnya ke sekolah Swasta bergengsi itu tidak terlalu jauh. Seperti biasa saat memasuki gerbang selalu menjadi perhatian.
Bukan, mereka bukan terpesona pada nya atau semacam nya. Tatapan meledek mereka itu bisa disimpulkan jika mereka menertawakan Fiona yang tidak malu datang ke sekolah dengan sepeda, sedang murid lain memiliki kendaraan pribadi yang lebih bagus. Fiona tidak peduli, lagi pula Ia ke sekolah untuk belajar bukan untuk pamer.
Saat Fiona berjalan akan meninggalkan parkiran, tidak sengaja Ia mendengar suara benda terjatuh cukup keras di belakang nya. Kepalanya menoleh untuk melihat, kedua matanya langsung terbelak karena ternyata sepeda nya lah yang jatuh. "Hei apa-apaan ini?!" teriak nya protes, sedang yang menonton di sekitar sana hanya menertawai nya.
Fiona menggeram pelan lalu berusaha membenarkan lagi posisi sepeda nya, Ia langsung melirik tajam pada sebuah mobil yang terparkir di sebelah nya. Sudah dapat dipastikan jika yang sengaja menabrak sepeda nya adalah mobil mewah sport itu. Baru saja bibir nya terbuka untuk memarahi si pengendara yang baru turun, tapi malah terkatup lagi karena yang turun adalah Arion.
Saat keduanya bertatapan, Fiona malah jadi terbayang lagi adegan kotor saat mereka berhubungan badan. "Sebaiknya aku pergi saja, jangan sampai dia kenal sama aku," Batin Fiona memutuskan menghindar tidak jadi memarahi si penabrak sepeda nya.
Tetapi baru saja berbalik dan akan pergi, panggilan Arion dengan suara bass menghentikan Fiona. "Heh sepeda butut itu punya lo, kan? Jangan disimpen di sini lah, ganggu pemandangan aja!" Fiona pun langsung melirik nya sinis. Kurang ajar sekali mengatai sepeda kesayangannya.
Melihat tatapan Arion yang semakin tajam begitu, membuat Fiona menghembuskan nafas kasar dan memilih mengalah untuk membawa sepeda nya pergi. Padahal biasanya juga Ia selalu parkir di sana, Arion juga aneh sekali, tempat parkir mereka kan berbeda. Setelah memarkirkan sepeda nya di tempat yang aman, Fiona pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas nya.
Baru saja mendudukan tubuhnya di bangku, panggilan seseorang diikuti rangkulan di bahu nya membuat Fiona menolehkan kepala dan langsung tersenyum pada sahabat nya. "Fiona, gimana kabar Ibu kamu? Nanti pulang sekolah aku mau jenguk ya," kata Vivian seraya membenarkan letak kaca mata nya.
Fiona yang mendengar itu tentu saja senang dan langsung menerima. "Boleh dong, nanti kita pulang bareng ya, kamu nebeng aja di sepeda aku," ajak nya seraya mengedipkan sebelah mata. Tetapi Vivian malah mengerucutkan bibir seraya mengusap perut bulat nya. "Emangnya sepeda nya kuat bawa aku yang kaya gajah ini?" tanyanya sedih.
"Ih kok ngomong nya gitu sih? Kuat dong, sepeda aku kan sepeda tua, mesin nya gak suka ngambek kaya sepeda zaman sekarang." Fiona lalu mencubit pipi gembul Vivian berusaha menghibur sahabat nya itu yang selalu insecure.
Di kelas ini Fiona memang hanya dekat dengan Vivian, mereka sama-sama murid terkucil kan dan dari kalangan orang biasa. Murid lain yang sekolah di sini karena bayar mahal mana mau berteman dengan orang miskin seperti mereka, paling di dekati pun hanya untuk dimanfaatkan saja otak nya. Tetapi Fiona tentu tidak se-lemah itu, Ia dan Vivian pun selalu berusaha saling melindungi.
***
"Bu saya izin ke toilet ya!" ucap Fiona seraya mengangkat sebelah tangan nya. Kernyitan dalam terlihat di kening nya karena berusaha menahan sesuatu yang mendesak di bagian bawah nya, Ia sudah tidak tahan. "Aduh kamu ini Fiona alasan saja, padahal sebentar lagi juga jam istirahat. Ya sudah gak papa, sana!" kata guru wanita itu dengan nada sewot nya.
Fiona pun segera beranjak dan berlari kecil keluar dari kelasnya, tidak mempedulikan tawa mengejek dari teman-teman nya. Ia juga sudah biasa mendapatkan hal seperti itu. Setelah mendapatkan bilik kamar yang kosong, segera Ia masuk untuk menuntaskan hajat nya.
"Huft untung tepat waktu, kalau telat dikit bisa-bisa aku pipis di Koridor lagi," Batin Fiona sambil tersenyum-senyum di tengah kegiatan nya buang air kecil. Setelah merasa cukup, Ia pun membersihkan diri lalu keluar dari bilik itu.
"Emmh!"
Mendengar suara desahan tertahan tidak jauh dari nya, membuat Fiona menolehkan kepala ke samping. Kedua matanya langsung terbelak lebar melihat adegan tidak senonoh di pojok toilet. Seorang murid perempuan berjongkok tepat di depan selangkangan pria yang berdiri di depannya. Walau tidak terlihat jelas sedang melakukan apa, tapi Fiona bisa langsung menyimpulkan sesuatu.
"Ma-maaf aku gak lihat kok!" ucap Fiona tersenyum kikuk pada Arion yang menoleh ke belakang menyadari kehadirannya. Tatapan pria itu terlihat tajam, mungkin kesal karena kegiatannya ada yang mengganggu.
Merasa tidak nyaman di perhatikan pria itu terus, Fiona berbalik untuk keluar dari toilet itu. Malang sekali nasib nya harus menyaksikan adegan tidak bermoral itu, matanya jadi ternodai. Tetapi tangannya yang akan membuka engsel pintu, malah ditahan dan pintu yang sempat terbuka sedikit itu pun kembali tertutup karena di dorong oleh sebuah telapak tangan besar dari balik tubuh nya.
Glek!
Fiona langsung menelan ludah nya kasar bisa merasakan sosok tubuh jangkung di belakang nya. Sekarang Ia tidak tahu harus bagaimana, ingin pergi keluar pun seperti tidak punya kekuatan walau hanya menggerakkan sedikit tubuhnya pun. Fiona terlalu gugup. "Tuhan, tolong aku.. "
"Kenapa cuman pakai anting sebelah, kemana satu lagi?" tanya Arion berbisik di samping telinga nya, membuat Fiona tersentak.
Fiona merasa bingung dengan sikap pria itu, aneh sekali memperhatikan nya se-detail itu. Untuk membuktikan, Fiona pun menyentuh telinga nya, dan ternyata benar, sebelah anting nya hilang.