Bab 2

Lorong itu lengang, sunyi hanya dilintasi hembusan pendingin ruangan yang dinginnya menyusup tulang. Zeya berhenti sejenak di depan rak besi tempat biasa ia meletakkan baki, tapi kali ini rak itu sudah kosong-tak ada yang tersisa. Ia menunduk, menghitung lembaran tip yang baru saja ia kumpulkan dari meja-meja para tamu yang berserakan dengan gelas dan aroma alkohol.

Senyum tipis mengembang di bibirnya. Uang yang tak seberapa itu masih jauh dari cukup untuk membayar semester barunya di London, tapi tetap saja-baginya, setiap lembar adalah harapan.

"Zeya!" Sebuah suara memanggil, membuatnya menoleh refleks.

Manager club itu datang tergesa, napasnya tersengal, kemejanya sedikit terbuka dan wajahnya berkeringat. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kartu kamar yang tampak eksklusif.

"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zeya dengan sopan, alisnya terangkat, penasaran.

Manager itu menyerahkan kartu kamar sambil mengatur napas. "Cepat ke kamar VIP ini. Tamu besar sedang menunggumu."

Zeya membelalak, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "Tamu besar? Meminta saya?"

Manager itu mengangguk mantap. "Iya. Sekarang, cepat pergi dan jangan membuatnya menunggu."

Tanpa sempat menolak, kartu itu berpindah ke tangan Zeya. Ia terpaku, tubuhnya seperti kehilangan arah, sementara pria paruh baya itu mengambil alih rak dan berjalan pergi sambil bersenandung kecil.

"Jackpot malam ini benar-benar luar biasa," gumam si manajer dengan ekspresi puas. "Anak itu benar-benar beruntung. Bertemu pria kaya yang bisa mengubah hidupnya... dan aku juga tidak pulang dengan tangan kosong malam ini."

Zeya kini berdiri di depan pintu kamar VIP, diam, mematung. Jemarinya gemetar, kartu di tangannya nyaris jatuh. Wajahnya bingung, gelisah, takut-perasaan yang bercampur aduk. Namun bayangan ujian akhir dan ketakutannya gagal kuliah di luar negeri membuat langkahnya tak bisa mundur.

Ia menarik napas panjang, menatap pintu di hadapannya dan berbisik lirih, "Tenang Zeya... ini hanya satu malam. Satu kali saja, lalu semuanya selesai. Setelah ini, kamu keluar dari dunia ini... selamanya."

Dengan tekad yang menggigil di dadanya, Zeya mengetuk perlahan dan masuk.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya pucat bulan yang menembus tirai tipis jendela besar. Di sana, berdiri seorang pria-tinggi dan tegap-membelakanginya. Wajahnya tertutup bayangan malam, hanya siluetnya yang terlihat jelas. Di tangannya, ia menggoyangkan segelas alkohol dengan gerakan lambat, nyaris meditatif.

"Permisi... Tuan memanggil saya?" tanya Zeya pelan, sopan.

Pria itu tidak langsung menjawab, hanya memutar tubuhnya sedikit. Cahaya bulan mengenai sebagian wajahnya, namun belum cukup untuk Zeya mengenali siapa dia.

"Mandilah. Aku akan menunggu," perintahnya, tenang... tapi tegas. Nada suaranya membuat Zeya menelan ludah keras-keras.

"Baik, Tuan."

Zeya meletakkan kartu kamar di meja marmer, lalu melangkah menuju kamar mandi. Begitu ia membuka pintu, matanya membelalak. Di sana, di atas wastafel, sudah tergantung sepasang lingerie berwarna merah menyala, halus dan sangat tipis. Tangannya menggenggam pintu erat, napasnya tercekat.

Namun ia tak punya waktu untuk menolak. Tak punya kuasa. Ia hanya bisa berharap ini benar-benar malam terakhirnya.

Tanpa banyak berpikir lagi, ia mandi, membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.

Sementara itu, Delson duduk di sofa berbalut beludru hitam. Di tangannya, gelas kristal itu terus ia putar, seolah memantulkan bayangan gadis yang kini sedang mandi. Suara gemericik air mengusik pikirannya, membangkitkan bayangan liar yang tak bisa ia tolak. Dada Delson naik turun-untuk pertama kalinya, ia merasa... gugup.

Shower berhenti.

Delson menggenggam erat gelasnya. Napasnya tertahan, matanya menatap pintu kamar mandi yang perlahan terbuka. Aroma sabun yang lembut dan feminin menguar, menyeruak memenuhi ruang.

Zeya keluar, tubuhnya bersih, rambutnya masih sedikit basah. Ia mendekat, langkahnya ragu namun tetap maju. Wajahnya menunduk dalam, menghindari kontak mata. Tapi justru sikap itulah yang membuat Delson menggila.

Tak ada yang lebih memabukkan bagi Delson malam itu... selain kehadiran seorang perempuan yang tak hanya cantik secara fisik, tapi penuh misteri, sopan, dan memiliki rasa malu-sifat yang tak pernah lagi ia lihat dalam kehidupan glamor yang biasa ia jalani.

Dan untuk pertama kalinya... Delson ingin menghentikan waktu. Karena ia tahu-wanita ini bukan seperti yang lain.

Langkah Zeya mendekat pelan, seperti seekor rusa yang menyadari ia berada di hadapan pemangsa. Ia berhenti di depan meja, tepat di bawah cahaya rembulan yang menyinari sebagian tubuhnya. Lingerie merah itu membungkus tubuhnya dengan rapi, tapi auranya tak sedikit pun menjerat mata dengan vulgar. Justru ada kesan rapuh... dan itu yang membuat Delson semakin terpaku.

"Sudah," ucap Zeya, nyaris seperti bisikan, tapi cukup untuk memecah keheningan di antara mereka.

Delson tak langsung bereaksi. Matanya menatap gadis itu lama. Ada sesuatu dalam diri Zeya yang membuatnya bingung... bukan sekadar kecantikan atau tubuh yang memikat. Tapi caranya berdiri. Caranya menunduk. Caranya menjaga jarak, seolah tubuh itu di sini, tapi jiwanya... terikat di tempat lain.

"Siapa namamu?" tanya Delson, akhirnya bersuara. Suaranya berat, dalam, namun bukan suara pemangsa seperti biasanya. Kali ini... terdengar penasaran.

Zeya mengangkat wajah, sedikit terkejut. Ia pikir pria itu akan langsung mendekat, menyentuh, atau memperintah lebih jauh.

"Zeya," jawabnya ragu.

"Nama asli?" Delson menyipitkan mata, meneguk seteguk minumannya. Suara es dalam gelasnya terdengar nyaring di antara keheningan.

Zeya terdiam sejenak. "Masih Zeya," jawabnya jujur.

Delson tersenyum miring. Lalu ia berdiri, langkahnya mantap, mendekat... membuat Zeya mundur refleks. Namun Delson berhenti sebelum menyentuhnya. Matanya menyapu gadis itu dari atas ke bawah, bukan dengan nafsu yang biasa ia gunakan untuk menilai wanita, melainkan dengan rasa ingin tahu yang tak biasa.

"Kau takut padaku?"

Zeya menunduk lagi, tangan menggenggam erat bagian depan gaun tidurnya. "Saya... hanya ingin ini cepat selesai, Tuan. Saya harus kuliah besok pagi."

Jawaban itu menusuk Delson seperti pisau kecil yang pelan tapi tajam. Kuliah? Dia mendadak melihat Zeya dalam bentuk lain: bukan sebagai wanita klub... tapi seseorang yang sedang berjuang. Seorang gadis muda yang mencoba bertahan di dunia yang kejam dengan harga diri yang masih tersisa.

"Kenapa kamu kerja di tempat seperti ini?" gumam Delson, kali ini lebih kepada dirinya sendiri.

Zeya mengangkat wajah, menatap Delson untuk pertama kalinya. Mata mereka bertemu. Dalam mata itu, Delson melihat kelelahan... kepedihan... dan tekad.

"Karena mimpi itu mahal, Tuan. Dan saya tidak punya orang tua yang bisa membayarnya."

Delson terdiam.

Beberapa detik lewat tanpa suara. Ia berbalik, menuju minibar, menuangkan minuman lain. Tapi kali ini ia tak menawarkannya pada Zeya.

"Ambil uang di dompetku. Di atas meja. Seribu dolar. Anggap saja tip malam ini. Lalu pulanglah."

Zeya membelalak. "A-apa?"

Delson menyandarkan tubuhnya di meja bar, meneguk minumannya sambil memandang ke luar jendela. "Aku bilang pulang. Malam ini aku tidak ingin menyentuh siapa pun... dan kamu terlalu nyata untuk diperlakukan seperti boneka."

Zeya tak bergerak. Ia menatap pria itu lekat-lekat, mencoba menebak motif di balik perubahan sikap mendadak itu. Tapi pria itu tampak jujur. Tenang. Lelah... seperti dirinya.

"Apa ini... semacam ujian?" tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.

Delson tersenyum miring. "Anggap saja... aku sedang berusaha sedikit waras."

Zeya perlahan berjalan menuju meja, mengambil uang itu, dan menggenggamnya erat-erat. Hatinya berkecamuk. Malam ini terlalu aneh. Terlalu berbeda. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum membuka, ia berbalik.

"Terima kasih, Tuan..."

Delson menoleh. "Namaku Delson."

Zeya mengangguk, lalu membuka pintu dan keluar.

Begitu pintu tertutup, Delson meneguk sisa minumannya habis dan tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

"Aku gila," gumamnya.

Tapi entah kenapa, malam ini... ia merasa untuk pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang benar.

Bab 3

Langkah Zeya terasa berat pagi itu. Matanya sembab karena kurang tidur, tubuhnya lelah, dan pikirannya penuh dengan rasa bingung atas kejadian semalam. Uang seribu dolar yang kini tersimpan aman dalam dompetnya seharusnya cukup untuk membayar sebagian tunggakan kuliahnya, tapi yang mengganggu adalah... pria itu.

Delson.

"Apa maksudnya semua itu?" gumam Zeya dalam hati saat melangkah melewati gerbang kampus, mengenakan hoodie oversize dan ransel hitam lusuh yang menggantung di punggungnya.

Lorong kampus sudah mulai ramai. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul dan membicarakan sesuatu dengan bersemangat.

"Hei, Zeya!" seru Lianne, teman satu kelasnya yang ceria, menarik lengan Zeya pelan.

Zeya menoleh pelan. "Ada apa?"

"Kamu nggak baca pengumuman di grup? Katanya hari ini kita kedatangan dosen baru," Lianne berkata dengan antusias.

"Dosen baru?" Zeya mengerutkan dahi, acuh tak acuh. "Ya udah, tinggal belajar aja kan."

"Astaga, kamu ini nggak pernah antusias, ya? Dengar-dengar, dosennya itu masih muda, ganteng, katanya lulusan luar negeri dan punya latar belakang pengusaha juga! Cewek-cewek satu kampus udah ribut duluan," celetuk Keysha yang tiba-tiba datang dari belakang sambil menyenggol lengan Zeya.

Zeya hanya mendengus pelan, tak tertarik sedikit pun. Dunia kuliah bukan tempatnya berfantasi soal pria tampan atau kisah romansa kampus. Hidupnya terlalu nyata untuk hal semacam itu.

Bel masuk berbunyi. Mahasiswa berhamburan masuk ke ruang kelas. Zeya duduk di bangku tengah dekat jendela, menatap ke luar, berharap jam kuliah cepat berlalu.

Beberapa menit berlalu, suasana kelas mulai tenang.

Lalu pintu kelas terbuka.

Langkah sepatu kulit terdengar mantap. Semua mata di kelas langsung tertuju ke arah pintu.

Zeya tak menoleh, pikirannya masih melayang pada strategi hidup berikutnya. Namun semua gumaman pelan teman-temannya membuatnya perlahan menoleh.

Saat matanya menangkap sosok pria itu, detak jantungnya langsung kacau.

Tubuhnya menegang.

Nafasnya tercekat.

Di hadapan seluruh kelas berdiri seorang pria muda dengan jas abu gelap elegan, kemeja putih berbalut dasi tipis, rambutnya tersisir rapi, dan sorot matanya tajam namun penuh kendali.

Delson.

Zeya tak salah lihat. Itu *Delson*. Pria dari kamar VIP semalam. Pria yang memberinya uang dan menyuruhnya pulang. Pria yang seharusnya tak mungkin ada di sini... tapi kini berdiri sebagai dosen barunya.

"Selamat pagi," ucap Delson, suaranya tenang dan berwibawa.

"Aku adalah dosen tamu sekaligus pembimbing mata kuliah Manajemen Strategik semester ini. Nama saya Delson Weatherford."

Zeya nyaris kehilangan keseimbangan.

Weatherford?

Itu nama yang ia tahu-nama besar, keluarga konglomerat.

Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Tangan gemetar menggenggam pulpen di atas meja.

Delson melirik sekilas ke seluruh ruangan, namun matanya hanya berhenti sepersekian detik lebih lama saat menyapu ke arah Zeya. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia profesional. Tegas. Dingin.

Zeya menunduk makin dalam. Dalam hati, ia menjerit, *"Apa yang terjadi? Kenapa dia ada di sini?!"*

Sementara itu, seluruh kelas tak menyadari perang batin yang sedang terjadi antara dua insan yang semalam berada dalam satu ruang... dalam dua dunia yang tak seharusnya bersilangan.

Tentu, berikut deskripsi lanjutan sesuai permintaanmu:

Bel begitu nyaring menandakan akhir dari jam kuliah. Tanpa membuang waktu, Zeya segera memasukkan buku catatan dan alat tulis ke dalam totebagnya. Ia bergegas membereskan mejanya, berharap bisa melenggang pergi sebelum pria itu-Delson-mengucapkan satu kata pun.

Namun harapannya pupus.

"Nona Zeya, bisa ke ruangan saya sebentar?"

Langkah Zeya tertahan. Suara Delson terdengar jelas dari depan kelas. Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.

Dengan refleks dan tanpa bisa menolak, Zeya mengangguk pelan. "Baik, Pak," ucapnya cepat.

Begitu Delson keluar dari kelas, seisi kelas langsung heboh dan berkerumun mendekati Zeya.

"Apa ini menyangkut perihal uang kuliahmu?" tanya Lanthe, matanya menatap prihatin.

"Kenapa kau tidak mau menerima uang dariku?" celetuk Tea, terdengar sedikit kesal.

Lianne pun ikut menimpali, "Jangan begitu keras pada dirimu sendiri, Zeya. Kami temanmu, kami ingin membantu. Apa itu sangat sulit bagimu untuk menerima bantuan dari orang yang peduli padamu?!"

Nada suaranya agak tinggi, mencerminkan kekesalan yang tak tertahankan melihat perjuangan Zeya yang terus menghindari bantuan.

Zeya menarik napas pelan, menatap mereka sejenak. Senyumnya tipis, namun lelah. "Aku baik-baik saja. Aku akan pergi menemuinya dulu."

Tanpa menunggu respon mereka, Zeya segera berbalik dan keluar dari kelas. Langkahnya tergesa, tapi hatinya terasa semakin berat. Begitu sampai di depan ruangan Delson, ia berhenti sejenak, berdiri kaku, dan menarik napas panjang.

Tok tok.

"Masuk," terdengar suara dari dalam, tenang dan dalam.

Zeya membuka pintu perlahan. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan perlahan ke tengah ruangan. Di hadapannya, Delson duduk di balik meja kerjanya, fokus menatap layar laptop.

Zeya menunduk dalam, sikap yang sama seperti malam itu. Ia tidak sanggup menatap pria itu secara langsung. Kehadiran Delson terlalu mendominasi, mengacaukan semua emosi yang sudah ia tekan sejak semalam.

Delson akhirnya menutup laptopnya dan mengangkat wajah. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Zeya yang tertunduk.

"Ternyata kamu mahasiswi di sini?" suaranya terdengar netral, namun ada nada heran yang samar.

Zeya langsung mengangguk pelan.

Tanpa banyak kata, ia membuka totebagnya dan mengeluarkan selembar amplop berisi uang.

"Maaf, Pak. Ini uang Anda. Saya kembalikan," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, seraya menyodorkan amplop itu ke hadapan Delson.

Delson tak segera mengambilnya. Ia hanya menatap uang itu dalam diam beberapa detik, sebelum akhirnya bersuara, tenang namun dalam.

"Kemarilah."

Zeya sontak mengangkat kepalanya, kaget. Matanya melebar, terpaku pada Delson yang kini menatapnya langsung.

Jantungnya berdegup kencang.

Tatapan Delson tak berubah. "Aku bilang, kemarilah."

Zeya melangkah maju, perlahan, penuh keraguan dan ketegangan, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka-antara seorang mahasiswi yang bekerja keras demi bertahan... dan seorang pria yang mungkin menyimpan lebih dari sekadar rasa ingin tahu.

Perlahan Zeya mendekat. Delson, merasa Zeya terlalu ragu, menarik tangannya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Mata Zeya membulat, terkejut. Ia mencoba bangkit, namun Delson menahan pinggangnya, tangan kekarnya mendarat di pahanya. "Kurasa kau punya hutang padaku?" bisiknya.

Zeya mengerutkan kening. Tangan Delson merayap naik. "Bagaimana jika kuberi tahu dekan dan kaprodi bahwa kau bekerja di klub? Dan kita pernah satu kamar?" ancam Delson, membuat Zeya semakin cemas.

"Tapi kita tidak melakukan apa pun! Saya tidak menggoda Bapak! Bapak yang memanggil saya, dan saya hanya melakukan pekerjaan saya!" bela Zeya.

Delson tersenyum tipis, menikmati suara Zeya yang menurutnya merdu. Ia senang Zeya membantahnya, memberi kesempatan Delson untuk lebih dekat dengannya.

"Apa yang Bapak inginkan?" tanya Zeya, lugas. Delson tersenyum puas Zeya mengerti. Tangannya terus merayap naik. Zeya menahannya. "Tolong jaga sikap Bapak! Kita sedang di kampus!"

Delson kembali tersenyum. "Lalu, jika kita pulang ke mansionku, apa kau akan melakukannya?"

Zeya menyipitkan mata. Delson tersenyum penuh kemenangan. Tangannya masuk ke dalam rok span abu Zeya, mengusap lembut paha dalamnya, tatapan nakal tertuju pada bibir Zeya. "Bagaimana jika nanti malam kau datang ke mansionku? Sebagai ganti kemarin malam?"

Zeya menelan ludah, bulu kuduknya merinding. "Pak... ah..." Ia mendesah tanpa sadar saat Delson meremas pahanya.

Delson tersenyum menggoda, berbisik, "Kecilkan desahanmu, sayang. Kau akan membuat gempar satu kampus!"

Zeya berusaha melepaskan tangan Delson, namun ia enggan melepaskannya.

Delson akhirnya menyentuh permukaan halus yang sudah mulai bergetar, panas dan lembap.

Usapan lembutnya membuat Zeya menahan desahan, ekspresinya berubah menjadi sangat sensual, mengundang.

Sentuhannya semakin berani, ritmenya berubah dari usapan pelan menjadi gerakan yang lebih cepat, lebih dalam.

Zeya membuka mulut sedikit, kepalanya terangkat, menikmati gelombang panas yang membanjiri tubuhnya.

Delson membelai lehernya dengan penuh kuasa, sementara tangannya yang lain masih berpetualang di bawah, membangkitkan gairah yang membara.

Zeya meremas rambut Delson, sebuah desahan lirih lolos dari bibirnya saat merasakan gigitan lembut namun tajam di lehernya. Sensasi geli bercampur sedikit sakit itu menggelitik, membangkitkan gairah yang tak terduga.

Delson, menangkap kesempatan itu, langsung mengulum bibir atas Zeya, melumat lidahnya dengan gerakan lembut namun intens. Lidahnya bergulat dengan lidah Zeya, sebuah dansa sensual yang penuh gairah dan kelembutan.

Di bawah sana, tangan Delson tak berhenti bekerja. Dengan cekatan, ia menyelusup di balik celana dalam Zeya, menyentuh milik Zeya yang sudah basah dan hangat karena sentuhannya.

Sentuhannya yang terampil membangkitkan gelombang demi gelombang kenikmatan.

"Pak... ahhhh... tolong berhenti... enghhh... hmppp... pak... ahhhh..." Desahan lirih Zeya memenuhi ruangan, seraya ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Delson, berusaha meredam gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat.

Kocokan jemari Delson di bawah sana begitu hebat, membangkitkan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Tubuhnya bergetar, menanggapi sentuhan Delson yang semakin berani dan penuh gairah.

Ia merasa tenggelam dalam samudra kenikmatan, tak mampu lagi melawan arus yang begitu kuat. Setiap sentuhan, setiap gerakan, membakar tubuhnya dengan api yang membara.

Ia merasa seluruh tubuhnya meleleh, menjadi satu dengan Delson dalam pusaran gairah yang membuncah. Dunia di sekitarnya lenyap, hanya ada Delson dan sentuhannya yang begitu membius.

Zeya tiba-tiba mendorong pundak Delson, menghentikan gerakannya. Ia merapatkan kakinya, sebuah isyarat jelas untuk mengakhiri. Mata mereka bertemu, napas keduanya memburu. Namun, kilatan di mata Delson menunjukkan keinginan yang belum terpuaskan; ia tak ingin berhenti di sini.

Dengan cepat, Zeiya beranjak dari pangkuan Delson, membenahi pakaiannya. "Sebelum hal yang kurang pantas terjadi, kita akhiri saja semua yang kemarin. Saya kembalikan uang Bapak, dan saya mohon jangan beri tahu siapa pun. Saya pamit dulu, permisi," ucapnya, lalu bergegas keluar.

Delson mengumpat, menggebrak meja dengan kesal. Kekecewaan membuncah; ia hampir mendapatkan kesenangan yang diinginkannya, dan untuk pertama kalinya, ia ditolak seorang wanita. "Berakhir di sini? Jangan mimpi! Aku pasti akan mendapatkanmu," gumamnya, tekad membara dalam matanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED