Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya keemasan di sepanjang dinding marmer klub malam itu. Aroma parfum mahal dan dentuman musik bass rendah mengisi ruangan, menambah kesan mewah sekaligus sedikit menyesakkan. Di tengah gemerlap itu, Zeya berdiri, mengenakan pakaian sederhana, tampak kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berkilau.
Manajer klub malam itu, seorang pria dengan jas rapi dan rambut disisir ke belakang, menatapnya dari balik meja kaca. Sorot matanya tajam, penuh penilaian, seperti seorang pedagang yang sedang menilai barang dagangan bernilai tinggi.
"Tentu saja, tidak ada lowongan bartender, Nona," katanya, suaranya tenang tapi tidak menyisakan ruang untuk basa-basi. "Namun... ada posisi lain yang mungkin menarik minat Anda." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan terlipat di depan dada, dan senyum tipis mengembang di bibirnya. "Semacam... model wanita. Anda akan mengantar minuman ke setiap ruangan privat. Selain tip yang lumayan, Anda juga berkesempatan bertemu dengan tamu-tamu kami-semuanya miliarder atau triliuner. Dengan kecantikan Anda... mungkin saja, Anda bisa menggaet aktor atau pengusaha kaya raya." Ia menatap Zeya lekat-lekat. "Bagaimana? Tertarik?"
Zeya tidak langsung menjawab. Matanya mengamati sekeliling, mencerna kemewahan yang belum pernah ia jamah. Ruangan ini terlalu asing-terlalu berkilau untuk seseorang yang hidupnya selalu dibangun dari kesunyian dan perjuangan.
Dua puluh dua tahun, dan hampir semuanya ia lewati sendiri. Dari meja kasir kecil di toko kelontong, hingga menjadi pelayan paruh waktu di kafe mahasiswa-Zeya bekerja sambil menyelesaikan pendidikannya tanpa pernah menggantungkan diri pada orang tua. Ia tahu betul, bantuan apa pun dari keluarganya hanyalah untuk Larin, adik perempuannya yang selalu menjadi pusat segalanya. Ayah dan ibunya hanya mengenal kata "berkorban" jika itu untuk Larin. Sedangkan dirinya? Ia harus belajar menguatkan diri sejak lama.
Perlahan, ia menghela napas panjang, mencoba menelan segala keberatannya yang menumpuk di dada. "Baiklah," ucapnya akhirnya. Suaranya datar, hampir hampa. Tapi di balik nada itu, tekadnya menggema dengan jelas: ia akan bertahan. Dengan caranya sendiri.
Senyum manajer mengembang lebar, seolah ia baru saja memenangkan sebuah taruhan mahal. Dengan cepat, ia menarik sebuah setelan minim dari laci dan menyerahkannya. Kain hitam berkilau dengan potongan yang lebih banyak memperlihatkan daripada menutupi.
"Bagus! Anda bisa mulai malam ini."
Zeya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju ruang ganti. Langkahnya terasa berat namun mantap. Ia tak punya banyak pilihan, namun ia punya satu senjata yang tak akan ia lepaskan: harga dirinya.
Manajer klub memperhatikan kepergiannya dengan senyum semakin lebar, mata memicing penuh perhitungan.
"Sempurna," gumamnya pelan. "Paras dan tubuh seperti itu... dia akan menghasilkan banyak uang untukku."
Dengan puas, ia kembali ke ruangannya, membiarkan pintu menutup pelan di belakangnya, sementara dentuman musik kembali menyatu dengan keriuhan malam.
Di dalam ruang VIP yang mewah dan tertutup rapat dari hiruk pikuk lantai utama klub, aroma mahal dari cerutu Kuba dan minuman beralkohol mengambang samar di udara. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke sofa beludru yang diduduki oleh sekelompok pria muda dewasa yang tengah larut dalam euforia malam itu.
Musik jazz lembut mengalun dari speaker tersembunyi, memberi kesan eksklusif, hampir intim.
"Malam ini kita pesta sampai pagi!" seru Philip dengan semangat, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Tawa riuh mengisi ruangan saat yang lain menyambut seruannya. Suara gelas bersentuhan menciptakan denting yang menggema pelan.
Delson, yang duduk di ujung sofa panjang dengan kaki bersilang santai, hanya tersenyum kecil. Ia mengangkat gelas kristalnya-berisi minuman dingin berwarna keemasan-dan menyesap perlahan, tak terburu-buru. Di balik tatapan tenangnya, ada kilatan rasa lega dan kepuasan. Washington kembali menyambutnya, dan untuk malam ini, ia ingin menikmati kebebasan itu tanpa gangguan apa pun.
"Ayo bersulang!" seru Hans dengan suara nyaring, tapi setelah satu tegukan, alisnya bertaut kecewa. "Alkohol saja kurang! Kita butuh wiski atau sampanye! Yang premium!"
Colin, duduk di sebelahnya sambil memegang kartu di tangan, hanya terkekeh, "Sabar, sudah ku pesan tadi. Tunggu saja." Ia kembali fokus ke permainannya, meletakkan kartu dengan gaya percaya diri.
Tawa dan candaan kembali mengisi ruangan, sementara meja di hadapan mereka mulai dipenuhi botol minuman, sisa camilan eksklusif, dan kartu-kartu yang berserakan. Namun, di tengah keramaian itu, Delson tetap tenang. Matanya mengamati sekeliling, mengamati teman-teman lamanya yang tak banyak berubah, dan suasana yang sudah sangat ia kenal sejak muda.
Tapi baginya, malam ini berbeda. Kepulangannya bukan sekadar reuni, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Dan meskipun ia tampak tenang di luar, pikirannya terus berputar... hingga akhirnya, suara ketukan pelan di pintu dan suara engsel berdecit lembut mengalihkan perhatian semua orang di ruangan.
Suara ketukan lembut terdengar dari arah pintu, diikuti bunyi engsel berderit pelan saat daun pintu terbuka. Seorang wanita muda melangkah masuk, mendorong rak besi berisi minuman yang tampak tertata rapi. Gaunnya sederhana namun elegan, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya yang bersih tanpa banyak polesan tampak begitu menenangkan. Ia tersenyum sopan sebelum berkata, "Permisi."
Suasana ruangan yang semula ramai oleh suara tawa dan diskusi kartu mendadak mereda. Beberapa pasang mata menoleh, namun hanya satu pasang yang tak mampu berpaling kembali-mata Delson.
Zeya, begitu nama yang tertera di papan kecil di dadanya, mulai meletakkan minuman satu per satu di atas meja dengan gerakan anggun dan terlatih. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada sorot mata genit. Tidak ada sapaan yang dibuat-buat. Ia hanya menjalankan tugasnya dengan sopan dan tenang.
Delson terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia terpesona hingga tak bisa berkata-kata. Bukan hanya karena parasnya yang cantik, namun karena caranya membawa diri-begitu anggun, tenang, dan tidak terusik oleh keberadaannya.
Di London, ia telah terbiasa menjadi pusat perhatian. Di Washington, wanita-wanita mendekatinya tanpa ragu, menawarkan diri tanpa malu. Namun wanita ini... dia bahkan tak menoleh. Hanya menunduk, seolah tak menyadari siapa yang sedang menatapnya begitu lekat.
Delson mengernyit samar, dalam hati bergumam, "Apa dia sungguh tak tahu siapa aku? Atau... dia tak peduli?" Ada keheningan aneh yang merayap di dadanya, bukan karena penolakan, tapi karena keunikan sikap wanita itu yang terasa... menyegarkan.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Zeya menundukkan kepala sedikit dan berkata pelan, "Selamat menikmati," sebelum mendorong raknya perlahan keluar dari ruangan.
Pintu tertutup kembali. Tapi Delson masih terpaku, tatapannya tertinggal di pintu yang kini sudah menutup rapat, sementara pikirannya masih penuh dengan bayangan wajah wanita yang bahkan tak sempat menatap balik ke arahnya.
"Siapa wanita barusan? Apa dia malaikat atau bidadari? Dia sungguh sempurna... sangat sopan dan elegan," gumam Philip nyaris tak percaya, tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang tadi sempat terbuka.
"Kurasa dia anak baru. Siapa tadi namanya?" timpal Colin, masih mengernyitkan dahi, mencoba mengingat detail wajah dan nama gadis muda yang baru saja masuk membawakan minuman mereka.
Hans mengangguk pelan, suaranya terdengar mantap, "Kurasa kita harus mendapatkan nomor teleponnya." Colin menoleh dan mengangguk sependapat, senyum geli menghiasi wajah keduanya.
Namun hanya satu orang yang tetap diam. Delson.
Ia menatap kosong ke dalam gelasnya sebelum akhirnya membuka suara dengan nada yang tak terbantahkan.
"Dapatkan wanita itu untukku."
Tiga pasang mata langsung beralih menatapnya. Terkejut. Tak percaya. Bahkan nyaris tak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Dengan gerakan serempak, ketiganya bergeser duduk lebih dekat ke arah Delson, seperti ditarik oleh gravitasi dari kata-kata yang baru saja dilontarkannya.
"Jangan gila, kau lupa apa tujuanmu kembali ke Washington?" ujar Philip, berusaha mengembalikan Delson ke jalur rasional. "Perjodohan, ingat? Orang tuamu sudah mengatur semuanya."
Delson berdecak pelan, meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan tenang. Tatapannya tajam menembus bayangan cahaya lampu gantung di atas mereka.
"Itu hanya perjodohan," ucapnya datar namun penuh makna. "Pernikahan di atas kertas, tanpa rasa, tanpa gairah. Untuk apa kupikirkan? Aku membutuhkan wanita yang bisa membuatku bertahan hidup. Yang membuatku ingin pulang. Yang membuat jantungku berdetak lebih cepat... dan sepertinya, aku telah menemukannya."
Kata-kata itu meluncur dari bibir Delson dengan keyakinan yang tak biasa, membuat ketiga temannya terdiam dalam keterpanaan.
"Gila... kau sungguh gila," olok Hans, menatapnya dengan tatapan setengah heran, setengah kagum.
Colin mencondongkan tubuh, suaranya terdengar tajam namun jujur. "Ini pertama kalinya aku melihatmu sejatuh ini hanya karena seorang wanita. Tapi... apa dia akan sama saja seperti wanita-wanita sebelumnya? Setelah kau mendapatkan yang kau mau... apakah kau akan membuangnya begitu saja? Kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun, Del. Kita tahu siapa dirimu. Kau pria paling playboy yang pernah kami kenal. Dalam sebulan kau bisa berganti wanita seperti mengganti jam tangan."
Ia menatap Delson lurus, seolah ingin menggali kepastian dari mata sahabatnya.
"Karena itulah Om Weather mengusulkan perjodohan. Agar kau berhenti-"
Delson hanya tersenyum kecil, bukan karena setuju, tapi karena tahu betapa sedikit yang mereka pahami tentang apa yang baru saja terjadi di hatinya.
Ia bangkit perlahan dari sofa, membenahi lipatan jas dan kancing kemejanya yang sedikit terbuka. Sorot matanya tajam, dingin, namun di baliknya menyala sebuah hasrat yang tak biasa.
"Untuk kali ini," ujarnya dengan suara rendah namun penuh ketegasan, "sepertinya aku serius. Aku akan mendapatkannya... apa pun caranya."
Tiga sahabatnya hanya bisa terdiam menatap punggung Delson yang perlahan menjauh, membawa serta aura tekad dan obsesi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Untuk pertama kalinya... sang raja playboy jatuh cinta. Dan saat Delson menginginkan sesuatu, dunia tahu-ia akan melakukannya dengan cara apa pun.
Lorong itu lengang, sunyi hanya dilintasi hembusan pendingin ruangan yang dinginnya menyusup tulang. Zeya berhenti sejenak di depan rak besi tempat biasa ia meletakkan baki, tapi kali ini rak itu sudah kosong-tak ada yang tersisa. Ia menunduk, menghitung lembaran tip yang baru saja ia kumpulkan dari meja-meja para tamu yang berserakan dengan gelas dan aroma alkohol.
Senyum tipis mengembang di bibirnya. Uang yang tak seberapa itu masih jauh dari cukup untuk membayar semester barunya di London, tapi tetap saja-baginya, setiap lembar adalah harapan.
"Zeya!" Sebuah suara memanggil, membuatnya menoleh refleks.
Manager club itu datang tergesa, napasnya tersengal, kemejanya sedikit terbuka dan wajahnya berkeringat. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kartu kamar yang tampak eksklusif.
"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zeya dengan sopan, alisnya terangkat, penasaran.
Manager itu menyerahkan kartu kamar sambil mengatur napas. "Cepat ke kamar VIP ini. Tamu besar sedang menunggumu."
Zeya membelalak, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "Tamu besar? Meminta saya?"
Manager itu mengangguk mantap. "Iya. Sekarang, cepat pergi dan jangan membuatnya menunggu."
Tanpa sempat menolak, kartu itu berpindah ke tangan Zeya. Ia terpaku, tubuhnya seperti kehilangan arah, sementara pria paruh baya itu mengambil alih rak dan berjalan pergi sambil bersenandung kecil.
"Jackpot malam ini benar-benar luar biasa," gumam si manajer dengan ekspresi puas. "Anak itu benar-benar beruntung. Bertemu pria kaya yang bisa mengubah hidupnya... dan aku juga tidak pulang dengan tangan kosong malam ini."
Zeya kini berdiri di depan pintu kamar VIP, diam, mematung. Jemarinya gemetar, kartu di tangannya nyaris jatuh. Wajahnya bingung, gelisah, takut-perasaan yang bercampur aduk. Namun bayangan ujian akhir dan ketakutannya gagal kuliah di luar negeri membuat langkahnya tak bisa mundur.
Ia menarik napas panjang, menatap pintu di hadapannya dan berbisik lirih, "Tenang Zeya... ini hanya satu malam. Satu kali saja, lalu semuanya selesai. Setelah ini, kamu keluar dari dunia ini... selamanya."
Dengan tekad yang menggigil di dadanya, Zeya mengetuk perlahan dan masuk.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya pucat bulan yang menembus tirai tipis jendela besar. Di sana, berdiri seorang pria-tinggi dan tegap-membelakanginya. Wajahnya tertutup bayangan malam, hanya siluetnya yang terlihat jelas. Di tangannya, ia menggoyangkan segelas alkohol dengan gerakan lambat, nyaris meditatif.
"Permisi... Tuan memanggil saya?" tanya Zeya pelan, sopan.
Pria itu tidak langsung menjawab, hanya memutar tubuhnya sedikit. Cahaya bulan mengenai sebagian wajahnya, namun belum cukup untuk Zeya mengenali siapa dia.
"Mandilah. Aku akan menunggu," perintahnya, tenang... tapi tegas. Nada suaranya membuat Zeya menelan ludah keras-keras.
"Baik, Tuan."
Zeya meletakkan kartu kamar di meja marmer, lalu melangkah menuju kamar mandi. Begitu ia membuka pintu, matanya membelalak. Di sana, di atas wastafel, sudah tergantung sepasang lingerie berwarna merah menyala, halus dan sangat tipis. Tangannya menggenggam pintu erat, napasnya tercekat.
Namun ia tak punya waktu untuk menolak. Tak punya kuasa. Ia hanya bisa berharap ini benar-benar malam terakhirnya.
Tanpa banyak berpikir lagi, ia mandi, membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.
Sementara itu, Delson duduk di sofa berbalut beludru hitam. Di tangannya, gelas kristal itu terus ia putar, seolah memantulkan bayangan gadis yang kini sedang mandi. Suara gemericik air mengusik pikirannya, membangkitkan bayangan liar yang tak bisa ia tolak. Dada Delson naik turun-untuk pertama kalinya, ia merasa... gugup.
Shower berhenti.
Delson menggenggam erat gelasnya. Napasnya tertahan, matanya menatap pintu kamar mandi yang perlahan terbuka. Aroma sabun yang lembut dan feminin menguar, menyeruak memenuhi ruang.
Zeya keluar, tubuhnya bersih, rambutnya masih sedikit basah. Ia mendekat, langkahnya ragu namun tetap maju. Wajahnya menunduk dalam, menghindari kontak mata. Tapi justru sikap itulah yang membuat Delson menggila.
Tak ada yang lebih memabukkan bagi Delson malam itu... selain kehadiran seorang perempuan yang tak hanya cantik secara fisik, tapi penuh misteri, sopan, dan memiliki rasa malu-sifat yang tak pernah lagi ia lihat dalam kehidupan glamor yang biasa ia jalani.
Dan untuk pertama kalinya... Delson ingin menghentikan waktu. Karena ia tahu-wanita ini bukan seperti yang lain.
Langkah Zeya mendekat pelan, seperti seekor rusa yang menyadari ia berada di hadapan pemangsa. Ia berhenti di depan meja, tepat di bawah cahaya rembulan yang menyinari sebagian tubuhnya. Lingerie merah itu membungkus tubuhnya dengan rapi, tapi auranya tak sedikit pun menjerat mata dengan vulgar. Justru ada kesan rapuh... dan itu yang membuat Delson semakin terpaku.
"Sudah," ucap Zeya, nyaris seperti bisikan, tapi cukup untuk memecah keheningan di antara mereka.
Delson tak langsung bereaksi. Matanya menatap gadis itu lama. Ada sesuatu dalam diri Zeya yang membuatnya bingung... bukan sekadar kecantikan atau tubuh yang memikat. Tapi caranya berdiri. Caranya menunduk. Caranya menjaga jarak, seolah tubuh itu di sini, tapi jiwanya... terikat di tempat lain.
"Siapa namamu?" tanya Delson, akhirnya bersuara. Suaranya berat, dalam, namun bukan suara pemangsa seperti biasanya. Kali ini... terdengar penasaran.
Zeya mengangkat wajah, sedikit terkejut. Ia pikir pria itu akan langsung mendekat, menyentuh, atau memperintah lebih jauh.
"Zeya," jawabnya ragu.
"Nama asli?" Delson menyipitkan mata, meneguk seteguk minumannya. Suara es dalam gelasnya terdengar nyaring di antara keheningan.
Zeya terdiam sejenak. "Masih Zeya," jawabnya jujur.
Delson tersenyum miring. Lalu ia berdiri, langkahnya mantap, mendekat... membuat Zeya mundur refleks. Namun Delson berhenti sebelum menyentuhnya. Matanya menyapu gadis itu dari atas ke bawah, bukan dengan nafsu yang biasa ia gunakan untuk menilai wanita, melainkan dengan rasa ingin tahu yang tak biasa.
"Kau takut padaku?"
Zeya menunduk lagi, tangan menggenggam erat bagian depan gaun tidurnya. "Saya... hanya ingin ini cepat selesai, Tuan. Saya harus kuliah besok pagi."
Jawaban itu menusuk Delson seperti pisau kecil yang pelan tapi tajam. Kuliah? Dia mendadak melihat Zeya dalam bentuk lain: bukan sebagai wanita klub... tapi seseorang yang sedang berjuang. Seorang gadis muda yang mencoba bertahan di dunia yang kejam dengan harga diri yang masih tersisa.
"Kenapa kamu kerja di tempat seperti ini?" gumam Delson, kali ini lebih kepada dirinya sendiri.
Zeya mengangkat wajah, menatap Delson untuk pertama kalinya. Mata mereka bertemu. Dalam mata itu, Delson melihat kelelahan... kepedihan... dan tekad.
"Karena mimpi itu mahal, Tuan. Dan saya tidak punya orang tua yang bisa membayarnya."
Delson terdiam.
Beberapa detik lewat tanpa suara. Ia berbalik, menuju minibar, menuangkan minuman lain. Tapi kali ini ia tak menawarkannya pada Zeya.
"Ambil uang di dompetku. Di atas meja. Seribu dolar. Anggap saja tip malam ini. Lalu pulanglah."
Zeya membelalak. "A-apa?"
Delson menyandarkan tubuhnya di meja bar, meneguk minumannya sambil memandang ke luar jendela. "Aku bilang pulang. Malam ini aku tidak ingin menyentuh siapa pun... dan kamu terlalu nyata untuk diperlakukan seperti boneka."
Zeya tak bergerak. Ia menatap pria itu lekat-lekat, mencoba menebak motif di balik perubahan sikap mendadak itu. Tapi pria itu tampak jujur. Tenang. Lelah... seperti dirinya.
"Apa ini... semacam ujian?" tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
Delson tersenyum miring. "Anggap saja... aku sedang berusaha sedikit waras."
Zeya perlahan berjalan menuju meja, mengambil uang itu, dan menggenggamnya erat-erat. Hatinya berkecamuk. Malam ini terlalu aneh. Terlalu berbeda. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum membuka, ia berbalik.
"Terima kasih, Tuan..."
Delson menoleh. "Namaku Delson."
Zeya mengangguk, lalu membuka pintu dan keluar.
Begitu pintu tertutup, Delson meneguk sisa minumannya habis dan tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
"Aku gila," gumamnya.
Tapi entah kenapa, malam ini... ia merasa untuk pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang benar.
Langkah Zeya terasa berat pagi itu. Matanya sembab karena kurang tidur, tubuhnya lelah, dan pikirannya penuh dengan rasa bingung atas kejadian semalam. Uang seribu dolar yang kini tersimpan aman dalam dompetnya seharusnya cukup untuk membayar sebagian tunggakan kuliahnya, tapi yang mengganggu adalah... pria itu.
Delson.
"Apa maksudnya semua itu?" gumam Zeya dalam hati saat melangkah melewati gerbang kampus, mengenakan hoodie oversize dan ransel hitam lusuh yang menggantung di punggungnya.
Lorong kampus sudah mulai ramai. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul dan membicarakan sesuatu dengan bersemangat.
"Hei, Zeya!" seru Lianne, teman satu kelasnya yang ceria, menarik lengan Zeya pelan.
Zeya menoleh pelan. "Ada apa?"
"Kamu nggak baca pengumuman di grup? Katanya hari ini kita kedatangan dosen baru," Lianne berkata dengan antusias.
"Dosen baru?" Zeya mengerutkan dahi, acuh tak acuh. "Ya udah, tinggal belajar aja kan."
"Astaga, kamu ini nggak pernah antusias, ya? Dengar-dengar, dosennya itu masih muda, ganteng, katanya lulusan luar negeri dan punya latar belakang pengusaha juga! Cewek-cewek satu kampus udah ribut duluan," celetuk Keysha yang tiba-tiba datang dari belakang sambil menyenggol lengan Zeya.
Zeya hanya mendengus pelan, tak tertarik sedikit pun. Dunia kuliah bukan tempatnya berfantasi soal pria tampan atau kisah romansa kampus. Hidupnya terlalu nyata untuk hal semacam itu.
Bel masuk berbunyi. Mahasiswa berhamburan masuk ke ruang kelas. Zeya duduk di bangku tengah dekat jendela, menatap ke luar, berharap jam kuliah cepat berlalu.
Beberapa menit berlalu, suasana kelas mulai tenang.
Lalu pintu kelas terbuka.
Langkah sepatu kulit terdengar mantap. Semua mata di kelas langsung tertuju ke arah pintu.
Zeya tak menoleh, pikirannya masih melayang pada strategi hidup berikutnya. Namun semua gumaman pelan teman-temannya membuatnya perlahan menoleh.
Saat matanya menangkap sosok pria itu, detak jantungnya langsung kacau.
Tubuhnya menegang.
Nafasnya tercekat.
Di hadapan seluruh kelas berdiri seorang pria muda dengan jas abu gelap elegan, kemeja putih berbalut dasi tipis, rambutnya tersisir rapi, dan sorot matanya tajam namun penuh kendali.
Delson.
Zeya tak salah lihat. Itu *Delson*. Pria dari kamar VIP semalam. Pria yang memberinya uang dan menyuruhnya pulang. Pria yang seharusnya tak mungkin ada di sini... tapi kini berdiri sebagai dosen barunya.
"Selamat pagi," ucap Delson, suaranya tenang dan berwibawa.
"Aku adalah dosen tamu sekaligus pembimbing mata kuliah Manajemen Strategik semester ini. Nama saya Delson Weatherford."
Zeya nyaris kehilangan keseimbangan.
Weatherford?
Itu nama yang ia tahu-nama besar, keluarga konglomerat.
Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Tangan gemetar menggenggam pulpen di atas meja.
Delson melirik sekilas ke seluruh ruangan, namun matanya hanya berhenti sepersekian detik lebih lama saat menyapu ke arah Zeya. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia profesional. Tegas. Dingin.
Zeya menunduk makin dalam. Dalam hati, ia menjerit, *"Apa yang terjadi? Kenapa dia ada di sini?!"*
Sementara itu, seluruh kelas tak menyadari perang batin yang sedang terjadi antara dua insan yang semalam berada dalam satu ruang... dalam dua dunia yang tak seharusnya bersilangan.
Tentu, berikut deskripsi lanjutan sesuai permintaanmu:
Bel begitu nyaring menandakan akhir dari jam kuliah. Tanpa membuang waktu, Zeya segera memasukkan buku catatan dan alat tulis ke dalam totebagnya. Ia bergegas membereskan mejanya, berharap bisa melenggang pergi sebelum pria itu-Delson-mengucapkan satu kata pun.
Namun harapannya pupus.
"Nona Zeya, bisa ke ruangan saya sebentar?"
Langkah Zeya tertahan. Suara Delson terdengar jelas dari depan kelas. Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.
Dengan refleks dan tanpa bisa menolak, Zeya mengangguk pelan. "Baik, Pak," ucapnya cepat.
Begitu Delson keluar dari kelas, seisi kelas langsung heboh dan berkerumun mendekati Zeya.
"Apa ini menyangkut perihal uang kuliahmu?" tanya Lanthe, matanya menatap prihatin.
"Kenapa kau tidak mau menerima uang dariku?" celetuk Tea, terdengar sedikit kesal.
Lianne pun ikut menimpali, "Jangan begitu keras pada dirimu sendiri, Zeya. Kami temanmu, kami ingin membantu. Apa itu sangat sulit bagimu untuk menerima bantuan dari orang yang peduli padamu?!"
Nada suaranya agak tinggi, mencerminkan kekesalan yang tak tertahankan melihat perjuangan Zeya yang terus menghindari bantuan.
Zeya menarik napas pelan, menatap mereka sejenak. Senyumnya tipis, namun lelah. "Aku baik-baik saja. Aku akan pergi menemuinya dulu."
Tanpa menunggu respon mereka, Zeya segera berbalik dan keluar dari kelas. Langkahnya tergesa, tapi hatinya terasa semakin berat. Begitu sampai di depan ruangan Delson, ia berhenti sejenak, berdiri kaku, dan menarik napas panjang.
Tok tok.
"Masuk," terdengar suara dari dalam, tenang dan dalam.
Zeya membuka pintu perlahan. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan perlahan ke tengah ruangan. Di hadapannya, Delson duduk di balik meja kerjanya, fokus menatap layar laptop.
Zeya menunduk dalam, sikap yang sama seperti malam itu. Ia tidak sanggup menatap pria itu secara langsung. Kehadiran Delson terlalu mendominasi, mengacaukan semua emosi yang sudah ia tekan sejak semalam.
Delson akhirnya menutup laptopnya dan mengangkat wajah. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Zeya yang tertunduk.
"Ternyata kamu mahasiswi di sini?" suaranya terdengar netral, namun ada nada heran yang samar.
Zeya langsung mengangguk pelan.
Tanpa banyak kata, ia membuka totebagnya dan mengeluarkan selembar amplop berisi uang.
"Maaf, Pak. Ini uang Anda. Saya kembalikan," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, seraya menyodorkan amplop itu ke hadapan Delson.
Delson tak segera mengambilnya. Ia hanya menatap uang itu dalam diam beberapa detik, sebelum akhirnya bersuara, tenang namun dalam.
"Kemarilah."
Zeya sontak mengangkat kepalanya, kaget. Matanya melebar, terpaku pada Delson yang kini menatapnya langsung.
Jantungnya berdegup kencang.
Tatapan Delson tak berubah. "Aku bilang, kemarilah."
Zeya melangkah maju, perlahan, penuh keraguan dan ketegangan, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka-antara seorang mahasiswi yang bekerja keras demi bertahan... dan seorang pria yang mungkin menyimpan lebih dari sekadar rasa ingin tahu.
Perlahan Zeya mendekat. Delson, merasa Zeya terlalu ragu, menarik tangannya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Mata Zeya membulat, terkejut. Ia mencoba bangkit, namun Delson menahan pinggangnya, tangan kekarnya mendarat di pahanya. "Kurasa kau punya hutang padaku?" bisiknya.
Zeya mengerutkan kening. Tangan Delson merayap naik. "Bagaimana jika kuberi tahu dekan dan kaprodi bahwa kau bekerja di klub? Dan kita pernah satu kamar?" ancam Delson, membuat Zeya semakin cemas.
"Tapi kita tidak melakukan apa pun! Saya tidak menggoda Bapak! Bapak yang memanggil saya, dan saya hanya melakukan pekerjaan saya!" bela Zeya.
Delson tersenyum tipis, menikmati suara Zeya yang menurutnya merdu. Ia senang Zeya membantahnya, memberi kesempatan Delson untuk lebih dekat dengannya.
"Apa yang Bapak inginkan?" tanya Zeya, lugas. Delson tersenyum puas Zeya mengerti. Tangannya terus merayap naik. Zeya menahannya. "Tolong jaga sikap Bapak! Kita sedang di kampus!"
Delson kembali tersenyum. "Lalu, jika kita pulang ke mansionku, apa kau akan melakukannya?"
Zeya menyipitkan mata. Delson tersenyum penuh kemenangan. Tangannya masuk ke dalam rok span abu Zeya, mengusap lembut paha dalamnya, tatapan nakal tertuju pada bibir Zeya. "Bagaimana jika nanti malam kau datang ke mansionku? Sebagai ganti kemarin malam?"
Zeya menelan ludah, bulu kuduknya merinding. "Pak... ah..." Ia mendesah tanpa sadar saat Delson meremas pahanya.
Delson tersenyum menggoda, berbisik, "Kecilkan desahanmu, sayang. Kau akan membuat gempar satu kampus!"
Zeya berusaha melepaskan tangan Delson, namun ia enggan melepaskannya.
Delson akhirnya menyentuh permukaan halus yang sudah mulai bergetar, panas dan lembap.
Usapan lembutnya membuat Zeya menahan desahan, ekspresinya berubah menjadi sangat sensual, mengundang.
Sentuhannya semakin berani, ritmenya berubah dari usapan pelan menjadi gerakan yang lebih cepat, lebih dalam.
Zeya membuka mulut sedikit, kepalanya terangkat, menikmati gelombang panas yang membanjiri tubuhnya.
Delson membelai lehernya dengan penuh kuasa, sementara tangannya yang lain masih berpetualang di bawah, membangkitkan gairah yang membara.
Zeya meremas rambut Delson, sebuah desahan lirih lolos dari bibirnya saat merasakan gigitan lembut namun tajam di lehernya. Sensasi geli bercampur sedikit sakit itu menggelitik, membangkitkan gairah yang tak terduga.
Delson, menangkap kesempatan itu, langsung mengulum bibir atas Zeya, melumat lidahnya dengan gerakan lembut namun intens. Lidahnya bergulat dengan lidah Zeya, sebuah dansa sensual yang penuh gairah dan kelembutan.
Di bawah sana, tangan Delson tak berhenti bekerja. Dengan cekatan, ia menyelusup di balik celana dalam Zeya, menyentuh milik Zeya yang sudah basah dan hangat karena sentuhannya.
Sentuhannya yang terampil membangkitkan gelombang demi gelombang kenikmatan.
"Pak... ahhhh... tolong berhenti... enghhh... hmppp... pak... ahhhh..." Desahan lirih Zeya memenuhi ruangan, seraya ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Delson, berusaha meredam gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat.
Kocokan jemari Delson di bawah sana begitu hebat, membangkitkan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tubuhnya bergetar, menanggapi sentuhan Delson yang semakin berani dan penuh gairah.
Ia merasa tenggelam dalam samudra kenikmatan, tak mampu lagi melawan arus yang begitu kuat. Setiap sentuhan, setiap gerakan, membakar tubuhnya dengan api yang membara.
Ia merasa seluruh tubuhnya meleleh, menjadi satu dengan Delson dalam pusaran gairah yang membuncah. Dunia di sekitarnya lenyap, hanya ada Delson dan sentuhannya yang begitu membius.
Zeya tiba-tiba mendorong pundak Delson, menghentikan gerakannya. Ia merapatkan kakinya, sebuah isyarat jelas untuk mengakhiri. Mata mereka bertemu, napas keduanya memburu. Namun, kilatan di mata Delson menunjukkan keinginan yang belum terpuaskan; ia tak ingin berhenti di sini.
Dengan cepat, Zeiya beranjak dari pangkuan Delson, membenahi pakaiannya. "Sebelum hal yang kurang pantas terjadi, kita akhiri saja semua yang kemarin. Saya kembalikan uang Bapak, dan saya mohon jangan beri tahu siapa pun. Saya pamit dulu, permisi," ucapnya, lalu bergegas keluar.
Delson mengumpat, menggebrak meja dengan kesal. Kekecewaan membuncah; ia hampir mendapatkan kesenangan yang diinginkannya, dan untuk pertama kalinya, ia ditolak seorang wanita. "Berakhir di sini? Jangan mimpi! Aku pasti akan mendapatkanmu," gumamnya, tekad membara dalam matanya.