Bab 1

"Ini dia, akhirnya aku sampai juga," Evelyn bergumam pada dirinya sendiri sambil tersenyum.

Evelyn mengikuti pameran desain fashion bergengsi di New York, memperkenalkan karyanya. Dia sudah bermimpi untuk berada di sini sejak lama, dan hari ini mimpinya menjadi kenyataan. Pameran ini dihadiri oleh para profesional ternama di industri fashion, termasuk desainer, kritikus, dan jurnalis mode.

Ketika Evelyn memasuki gedung pameran, dia merasa gugup sekaligus bersemangat. Dia mengenakan salah satu desainnya sendiri, sebuah gaun berwarna merah tua dengan potongan modern yang elegan.

Di dalam gedung pameran, para peserta lain sibuk mempersiapkan booth mereka. Evelyn melangkah ke stan-nya sendiri, yang sudah dihias dengan foto-foto koleksi desain terbarunya. Manekin-manekin yang mengenakan gaun karyanya diposisikan dengan hati-hati untuk menonjolkan detail dan keunikannya.

"Selamat pagi! Kamu pasti Evelyn," sapa seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat. "Aku Lisa, koordinator acara ini. Desain-desainmu sangat mengesankan. Apakah kamu sudah siap untuk hari besar ini?"

"Selamat pagi, Lisa. Terima kasih banyak. Aku sedikit gugup, tetapi sangat bersemangat. Ini adalah kesempatan besar bagiku," jawab Evelyn dengan nada penuh antusiasme.

Lisa mengangguk. "Aku yakin kamu akan melakukan yang terbaik. Para juri dan tamu undangan akan mulai berdatangan dalam waktu satu jam. Jadi, pastikan semuanya siap, ya!"

Evelyn menjawab dengan anggukan dan senyuman hangat. Setelah Lisa pergi, Evelyn kembali mengecek setiap detail di stan-nya. dia memastikan kain-kain tergantung dengan rapi, brosur tertata di meja, dan manekin-manekin tampak sempurna. Tak lama kemudian, pengunjung mulai berdatangan. Para tamu terlihat mengagumi karya-karya yang dipamerkan di berbagai stan.

Seorang pria dengan setelan jas yang rapi mendekati stan Evelyn. "Selamat pagi, saya John dari Majalah Mode Terkenal. Saya tertarik dengan desain-desainmu. Boleh saya tahu lebih banyak tentang inspirasimu?" tanya John sambil melihat-lihat gaun-gaun yang dipamerkan.

"Tentu saja, John. Inspirasiku datang dari berbagai hal, mulai dari alam, seni, hingga budaya tradisional. Aku selalu berusaha menggabungkan elemen-elemen tersebut dengan sentuhan modern untuk menciptakan sesuatu yang unik dan berkelas," jawab Evelyn dengan penuh semangat.

"Desainmu memang terlihat sangat orisinal. Bagaimana kamu memilih bahan untuk koleksimu?" tanya John lagi.

"Pemilihan bahan sangat penting bagiku. Aku selalu mencari bahan berkualitas tinggi yang tidak hanya indah, tetapi juga nyaman dipakai. Aku juga sangat peduli dengan keberlanjutan, jadi aku cenderung memilih bahan-bahan yang ramah lingkungan," jelas Evelyn.

John mengangguk-angguk, tampak terkesan. "Luar biasa. Aku yakin karya-karyamu akan mendapat banyak perhatian di sini."

Setelah John pergi, Evelyn berinteraksi dengan lebih banyak pengunjung. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan tentang desainnya, teknik yang digunakan, dan rencana masa depannya. Evelyn merasa senang bisa berbagi passion dan visinya dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

Di tengah keramaian, seorang wanita muda dengan gaya berpakaian eksentrik mendekati stan Evelyn. "Hai, aku Chloe, fashion blogger. Aku sudah mendengar banyak tentang desainmu. Boleh aku mengambil beberapa foto untuk blogku?" tanyanya dengan antusias.

"Tentu saja, Chloe. Silakan saja. Aku senang sekali kamu tertarik," jawab Evelyn dengan senyum lebar.

Chloe mulai mengambil foto dari berbagai sudut. Setelah selesai, dia bertanya, "Bolehkah aku tahu lebih banyak tentang koleksi terbaru ini? Apa tema utamanya?"

"Koleksi ini berjudul 'Morning Harmony'. Aku terinspirasi dari keindahan yang bisa ditemukan di tengah waktu pagi. Setiap potongan dirancang untuk mengekspresikan keseimbangan antara keteraturan dan ketidakaturan," jelas Evelyn.

"Itu konsep yang sangat menarik. Aku suka cara kamu menggabungkan elemen-elemen yang tampaknya bertentangan menjadi sesuatu yang harmonis," puji Chloe.

Setelah Chloe pergi, Evelyn melanjutkan untuk berinteraksi dengan lebih banyak pengunjung. Hari itu berlalu dengan cepat, penuh dengan obrolan menarik dan pujian yang membesarkan hati. Evelyn merasa semua kerja kerasnya terbayar dengan apresiasi yang dia terima.

Saat matahari mulai terbenam, Evelyn berdiri di depan stan-nya dengan perasaan puas. Dia mengamati keramaian yang masih berlanjut dan merasa bersyukur telah diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara sebesar ini.

Tiba-tiba, seorang pria tua dengan aura kebijaksanaan mendekatinya. "Halo, saya Michael, seorang desainer senior. Saya sudah mengamati stan-mu seharian ini. Desain-desainmu sungguh menakjubkan," katanya dengan suara tenang.

"Terima kasih banyak, Michael. Itu sangat berarti bagiku, apalagi datang dari seseorang sepertimu," jawab Evelyn dengan penuh rasa hormat.

"Jangan sungkan. Aku bisa melihat passion dan dedikasi dalam setiap detail karyamu. Tetaplah berpegang pada visi-mu dan teruslah berkarya dengan hati," nasihat Michael.

Evelyn tersenyum. "Terima kasih atas kata-katamu yang menginspirasi. Aku akan mengingatnya."

Evelyn berjalan-jalan di tengah pameran seni yang ramai, terpesona oleh karya-karya yang dipamerkan. Malam itu, galeri penuh sesak dengan tamu-tamu berpakaian mewah yang datang untuk menikmati seni dan anggur. Musik jazz lembut mengalun di latar belakang, menambah suasana elegan. Evelyn mengenakan gaun hitam sederhana namun anggun, berusaha tidak menarik terlalu banyak perhatian.

Saat berjalan mendekati salah satu lukisan abstrak yang menarik perhatiannya, dia tidak menyadari ada seseorang berdiri di dekatnya. Langkahnya tanpa sengaja menginjak kaki seorang pria. Evelyn tersentak dan segera berbalik.

"Oh maaf, saya benar-benar tidak sengaja," kata Evelyn dengan cepat, wajahnya menunjukkan penyesalan yang tulus.

Pria itu, Alexander, seorang jutawan yang dikenal arogan dan sombong, memandang Evelyn dengan tatapan tajam. "Apakah kamu tahu siapa aku?" tanyanya dengan nada menghina.

Evelyn menggeleng, masih merasa bersalah. "Tidak, tetapi saya sungguh minta maaf. Saya tidak bermaksud..."

Namun, sebelum Evelyn dapat menyelesaikan kalimatnya, Alexander, dengan wajah marah, mengambil gelas anggur merah di tangannya dan, tanpa peringatan, menuangkannya di atas kepala Evelyn. Cairan merah mengalir di rambut dan gaunnya, membuat semua orang di sekitar mereka terkejut dan terdiam.

Evelyn tercengang, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia berdiri kaku, merasakan anggur menetes ke wajahnya. Hening sejenak melingkupi mereka, sebelum suara bisikan dan gumaman tamu-tamu lain mulai terdengar.

Alexander tersenyum sinis. "Mungkin lain kali kamu akan lebih berhati-hati."

Evelyn, yang masih terguncang oleh perlakuan kasar Alexander, merasa marah bercampur malu. Tanpa banyak berpikir, dia meraih gelas anggur dari tangan seorang tamu yang berdiri di dekatnya. Dengan satu gerakan cepat, dia menuangkan isinya tepat di wajah Alexander.

Alexander tersentak mundur, matanya terbelalak. Dia tidak pernah menduga bahwa Evelyn akan membalas tindakannya. Wajahnya memerah, bukan hanya karena anggur, tetapi juga karena kemarahan dan rasa malu.

"Kau! Beraninya kau!" Alexander berteriak, suaranya menggema di galeri.

Evelyn menatapnya dengan penuh keberanian. "Saya hanya memberi balasan yang pantas untuk tindakanmu. Mungkin lain kali kamu akan berpikir dua kali sebelum mempermalukan orang lain."

Para pengunjun mulai berkerumun lebih dekat, ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa orang terlihat kaget, sementara yang lain tampak tersenyum, menikmati drama yang tiba-tiba terjadi di tengah pameran seni yang seharusnya tenang.

Seorang wanita tua dengan rambut abu-abu dan gaun elegan melangkah maju, mencoba menenangkan situasi. "Alexander, ini cukup. Kamu sudah terlalu jauh."

Bab 2

Alexander menatap wanita itu dengan marah. "Dia yang memulainya!"

Wanita itu menggeleng. "Tidak, Alexander. Kau yang memulai. Dan kau yang harus berhenti."

Evelyn menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dia tahu bahwa situasi ini bisa menjadi lebih buruk jika tidak segera dikendalikan. "Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat Anda marah," katanya dengan suara lebih tenang. "tetapi tidak ada alasan untuk mempermalukan seseorang seperti itu."

Alexander masih terlihat marah, tetapi dia tampaknya mulai menyadari bahwa tindakannya telah diperhatikan oleh banyak orang. "Aku tidak peduli," katanya akhirnya, dengan suara yang lebih rendah tetapi masih penuh amarah. "Kau seharusnya lebih hati-hati."

Evelyn mengangguk, meskipun hatinya masih berdegup kencang. "Mungkin begitu. tetapi mengapa kita tidak mencoba untuk menikmati malam ini tanpa membuat keributan lebih lanjut?"

Kerumunan mulai bubar perlahan, meskipun masih ada beberapa orang yang tetap menonton dengan penuh minat. Wanita tua itu, yang ternyata adalah ibu Alexander, menatap Evelyn dengan mata penuh penghargaan. "Terima kasih, Nona...?"

"Evelyn. ," jawabnya dengan sopan.

Alexander mendengus, tetapi tidak mengatakan apa-apalagi. Dia mengambil saputangan dari saku jasnya dan mulai mengelap wajahnya yang basah oleh anggur.

Evelyn tersenyum lemah. "Terima kasih. Saya hanya berharap kita semua bisa menikmati malam ini."

Elizabeth mengangguk. "Tentu saja, Evelyn. Mengapa kamu tidak ikut dengan saya ke ruangan sebelah untuk membersihkan diri? Saya yakin kita bisa menemukan sesuatu yang kering untukmu."

Evelyn menerima tawaran itu dengan lega. Dia berjalan mengikuti Elizabeth, meninggalkan Alexander yang masih berdiri dengan wajah masam. Di dalam ruangan sebelah, Elizabeth memberikan handuk dan air kepada Evelyn untuk membersihkan diri.

"Saya minta maaf atas apa yang terjadi tadi," kata Elizabeth saat Evelyn mengeringkan rambutnya. "Alexander memang punya temperamen yang sulit."

Evelyn tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Saya sudah mengalaminya sekarang."

Elizabeth tertawa kecil. "Ya, saya bisa melihat itu. Tetapi jangan biarkan hal ini merusak malam indahmu. Pameran ini adalah salah satu yang terbaik tahun ini."

Evelyn mengangguk. "Saya setuju."

Setelah membersihkan diri sebaik mungkin, Evelyn kembali ke pameran bersama Elizabeth.

Amarah Alexander terhadap Evelyn tidak mereda, malah makin membara. Dia merasa harga dirinya telah terinjak-injak oleh wanita yang menurutnya sangat sombong. Di sekelilingnya, beberapa anak buahnya berdiri siap menunggu perintah.

Alexander mengambil segepok uang dari tasnya dan melemparkannya di meja. "Dengar," katanya dengan suara penuh kebencian, "aku ingin tidur dengan wanita sombong itu malam ini. Berikan uang ini padanya, dia tidak akan pernah bisa menolak uang sebanyak ini."

Anak buahnya, seorang pria bertubuh besar bernama Tony, mengangguk dan mengambil uang tersebut. "Baik, Tuan Alexander. Saya akan segera menemui wanita itu."

Sementara itu, Evelyn sedang menikmati minuman, berbicara dengan beberapa teman yang baru dikenalnya. Dia mencoba melupakan insiden yang memalukan itu.

Tony mendekati Evelyn dengan langkah mantap. "Nona Evelyn?" panggilnya dengan nada serius.

Evelyn menoleh, melihat pria yang tampak mencurigakan itu. "Ya? Ada apa?" tanyanya sedikit waspada.

Tony mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan meletakkannya di depan Evelyn. "Tuan Alexander mengirim saya. Dia ingin Anda menerima uang ini dan menemaninya malam ini."

Evelyn memandang uang itu dengan jijik. "Jadi, dia pikir saya bisa dibeli?" tanyanya dengan nada dingin.

"Ya, itu yang dia katakan," jawab Tony tanpa ragu.

Evelyn berdiri, menatap Tony dengan mata penuh kemarahan. "Katakan pada Alexander bahwa tidak semua orang bisa dibeli dengan uang," katanya sebelum melempar uang itu ke lantai di depan para tamu yang terkejut.

Tony mengumpulkan uang tersebut dengan cepat dan kembali ke Alexander. "Tuan, dia menolak dan melempar uangnya," lapor Tony dengan cemas.

Alexander mendengus marah. "Apa? Wanita itu benar-benar tidak tahu tempatnya!" katanya dengan suara keras. "Baiklah, jika dia ingin bermain keras, kita akan bermain keras."

Dia berdiri dan memberi perintah tegas pada anak buah lainnya. "Aku ingin kau menyelidiki segala hal tentang Evelyn. Cari tahu apa pun yang bisa kita gunakan untuk menjatuhkannya."

Anak buahnya, seorang pria bernama Mike, mengangguk. "Baik, Tuan. Kami akan mulai sekarang."

***

Evelyn berjalan menggerutu, merasa marah dan terluka atas tindakan Alexander yang menawarkan uang padanya untuk tidur dengannya. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat dengan beban penghinaan yang dia rasakan. Harga dirinya terasa diinjak-injak, dan itu membuatnya makin kesal.

"Bagaimana mungkin dia berpikir aku akan menerima tawaran menjijikkan itu?" gumam Evelyn kepada dirinya sendiri. "Apa dia pikir semua wanita bisa dibeli dengan uang?"

Tanpa dia sadari, Evelyn menabrak tubuh Alexander yang baru saja keluar dari toilet. Kemeja Alexander masih kotor, noda wine yang dia tuangkan ke arah Evelyn tampak jelas di sana.

"Hei, kau tidak hanya suka menginjak kaki seseorang, tetapi juga hobi untuk menabrak tubuh seseorang," ejek Alexander dengan senyum sinis di wajahnya.

"Kau pria yang tidak tahu malu," balas Evelyn dengan suara bergetar karena marah. "Aku telah meminta maaf, tetapi kau menuangkan wine kepadaku. Ketika aku membalasmu, apakah harga dirimu sangat terluka hingga harus menawarku uang untuk tidur denganmu?!"

Alexander tertawa kecil. "Oh, jadi kau merasa tersinggung, Evelyn? Aku hanya bercanda."

"Bercanda? Menawari seorang wanita uang untuk tidur denganmu itu bukan candaan. Itu penghinaan!"

Alexander mendekatkan tubuhnya pada Evelyn. Dia bisa merasakan panas tubuhnya dan napasnya yang berat. "Apa yang kau lakukan?" tanya Evelyn kaget, matanya melebar karena terkejut.

"Jika kau tidak mau tidur denganku, bagaimana dengan sebuah ciuman?" kata Alexander sambil mendekatkan bibirnya pada Evelyn yang tubuhnya sudah mentok pada dinding.

Evelyn merasa terperangkap, jantungnya berdetak kencang. "Jangan main-main denganku, Alexander," bisiknya dengan nada bergetar.

"Aku serius, Evelyn. Kau tahu, ada sesuatu tentangmu yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu," jawab Alexander, suaranya lembut namun penuh dengan niat.

Evelyn mencoba menghindar, tetapi tidak ada tempat untuk melarikan diri. "Kau pria yang sangat menyebalkan. mengapa tidak kau pergi saja dan tinggalkan aku sendiri?"

Alexander tersenyum dan menatap matanya dalam-dalam. "Karena aku tidak bisa, Evelyn. Ada sesuatu antara kita yang tidak bisa aku abaikan."

"Ini semua hanya permainan bagimu, bukan?" kata Evelyn dengan suara yang mulai serak. "Kau menikmati melihatku tersiksa."

"Bukan permainan, Evelyn. Aku hanya ingin tahu apakah kau merasakan hal yang sama."

"Tentang apa?" tanya Evelyn, meskipun dia tahu jawaban yang akan datang.

"Ketertarikan ini," jawab Alexander dengan yakin. "Ketegangan ini. Setiap kali kita bertemu, ada api yang tidak bisa kita padamkan."

Evelyn merasakan panas di pipinya. "Kau salah. Apa yang kau sebut ketertarikan hanyalah ilusi. Kau hanya pria sombong yang berpikir semua orang bisa kau miliki."

Alexander menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sombong, Evelyn. Aku hanya jujur. Dan kejujuran itu memberitahuku bahwa ada sesuatu di antara kita."

"Tidak ada yang seperti itu," Evelyn berusaha menepis pikiran yang mulai tumbuh di dalam dirinya. "Lepaskan aku."

Alexander tidak bergerak. "Katakan kepadaku, Evelyn. Jika aku mencium mu sekarang, apakah kau akan menghentikanku?"

Evelyn terdiam, jantungnya berdegup kencang. Alexander makin mendekat, dan dia bisa merasakan panas tubuhnya. "Jangan coba-coba," bisiknya lagi, namun kali ini dengan lebih sedikit keyakinan.

"Aku hanya ingin satu ciuman, Evelyn. Hanya satu," Alexander berkata, suaranya hampir seperti bisikan.

Bab 3

Evelyn merasa lemah, namun ia mencoba membela diri. "Kau benar-benar tidak tahu malu."

Alexander tersenyum. "Mungkin. tapi aku juga tahu apa yang kuinginkan.

Evelyn mendorong Alexander menjauh, wajahnya merah padam. "Jangan pernah lakukan itu lagi," katanya dengan suara tegas.

Alexander hanya tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti, Evelyn. Kita lihat saja nanti."

Evelyn mendorong tubuh Alexander menjauh dengan kasar saat bibirnya hampir menyentuh bibirnya. "Apa kau sudah gila?" seru Evelyn dengan marah. Wajahnya memerah, dan matanya menyala dengan amarah yang tak terkendali. Alexander mundur selangkah, terkejut dengan reaksi tajam Evelyn.

"Aku hanya ingin-" Alexander mencoba menjelaskan, tetapi Evelyn memotongnya dengan suara dingin.

"Tidak ada alasan untuk apa yang kau coba lakukan, Alexander. "Aku tidak akan mentolerir perilaku seperti ini," kata Evelyn tegas, menatap Alexander dengan tegas. "Aku sudah minta maaf dan berharap kau bisa melupakan apa yang terjadi." Alexander menatap Evelyn dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan menyesal. "Aku tidak bisa melupakan begitu saja, Evelyn. Aku tertarik padamu." Evelyn menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Dengar, Alexander. Aku tidak ingin terlibat dalam apa pun denganmu lagi. Kita harus menjaga jarak." Namun, Alexander tidak menerima penolakan itu dengan mudah. "Kau mungkin tidak ingin terlibat denganku, tetapi aku tidak bisa mengabaikanmu. Aku mulai tertarik padamu, Evelyn," kata Alexander dengan nada serius. "Jangan berharap seperti itu. Kau sudah terlanjur terlibat denganku, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja," imbuh Alexander dengan tatapan tajam, membuat hati Evelyn berdebar-debar.

"Tidurlah denganku hanya untuk satu malam!"

"Kau gila sekali, aku baru saja menginjak kakimu, dan kau memintaku untuk tidur denganmu!"

Evelyn berusaha untuk tidak terpengaruh, tetapi kata-kata Alexander terngiang di benaknya. "Jangan mendekat lagi, Alexander. Aku serius," kata Evelyn tegas, berharap suaranya tidak menunjukkan keraguan yang dirasakannya.

Alexander mendekatkan wajahnya ke wajah Evelyn, membuat jarak di antara mereka semakin menyempit. "Kau tahu, Evelyn, kau mainan yang sangat suka bermain," bisik Alexander dengan suara lembut namun bersemangat.

Kata-kata itu membuat darah Evelyn mendidih. "Mainan? "Kau pikir aku mainan bagimu?" balas Evelyn, suaranya naik satu oktaf. "Aku manusia, Alexander, bukan objek yang bisa kau mainkan sesuka hatimu." Alexander menatap Evelyn dalam diam sejenak, lalu berkata dengan nada lebih lembut, "Aku tidak bermaksud begitu, Evelyn. Maksudku, kau membuat hidupku lebih menarik. Ada sesuatu tentangmu yang membuatku ingin tahu lebih banyak." Evelyn merasa bingung dengan perasaannya sendiri. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku, Alexander, tapi yang pasti, aku tidak ingin terlibat lebih jauh. Kita harus menjaga jarak." Namun, Alexander tidak menyerah begitu saja. "Evelyn, aku tahu kau merasa ada sesuatu di antara kita. Jangan menyangkalnya," desak Alexander, mencoba meyakinkan Evelyn. "Apa sesuatu?! Aku bahkan tidak mengenalmu!" Sekarang kau mengenalku, bukan?! Aku seorang jutawan!" Evelyn menggelengkan kepalanya, mencoba mengabaikan perasaan campur aduknya. "Kau orang kaya yang gila!" Alexander tampak tercengang mendengar kata-kata Evelyn. "Kegilaanku akan menempatkanmu dalam pelukanmu...." Evelyn menatap Alexander dengan mata berkaca-kaca. "Karena aku tidak ingin terlibat dalam drama ini. Aku ingin hidupku tenang dan tanpa kerumitan. Dan kau, Alexander, membawa banyak kerumitan." Alexander bergerak mendekat lagi, mengambil risiko besar dengan mendekati Evelyn yang jelas-jelas ingin menjaga jarak dengannya. "Aku belum melakukan apa pun terhadap hidupmu. Aku belum mulai...." Evelyn menghela napas panjang, merasa bimbang. "Kau membuatku sangat stres hari ini!" "Pergi sana!" Alexander tersenyum tipis. "Aku suka kesombonganmu itu." Evelyn merasakan hatinya berdesir lagi mendengar kata-kata Alexander. Ada sesuatu dalam diri Alexander yang membuatnya sulit untuk benar-benar menolaknya, meskipun logikanya berkata lain. "Kita lihat saja nanti, Alexander, tapi untuk saat ini, tolong jauhi aku." Alexander mengangguk, menghormati permintaan Evelyn. "Baiklah, Evelyn. Aku akan menghargai keinginanmu, tetapi kuharap, pada akhirnya, kau akan berada di tempat tidurku." Evelyn mengangkat tangannya untuk menampar Alexander, tetapi Alexander segera meraih tangan yang belum menyentuh pipinya, lalu menggenggam tangan Evelyn. "Apa yang kau lakukan!" "Aku bahkan belum mulai!" Evelyn segera melepaskan tangan Alexander dan berjalan pergi. Alexander melangkah dengan langkah mantap menuju pintu keluar pameran seni yang ramai itu. Dengan sepasang mata penuh gairah, ia menarik napas dalam-dalam, menahan diri untuk tidak terburu-buru. "Sudah waktunya," gumamnya pada dirinya sendiri, sambil melirik arlojinya yang mahal. Tidak butuh waktu lama bagi Evelyn untuk berjalan ke tempat parkir. Di dalam mobil mewahnya, pikirannya terus melayang ke wajah cantik Evelyn, senyumnya yang menawan, dan kesombongannya yang membuatnya semakin menarik. Setelah tiba di hotel, Alexander segera menuju ke kamarnya yang mewah dengan pemandangan kota yang menakjubkan dari jendela. Namun, tatapannya langsung tertuju pada kemeja yang dikenakannya di pameran seni tadi; kini ternoda oleh anggur yang ditumpahkan Evelyn. "Wanita itu!" desisnya, kesal melihat kemeja yang kotor.

Dengan gerakan mantap, ia menanggalkan jasnya dan melemparkannya ke sofa. Meraih botol air mineral dari meja samping tempat tidur, Alexander memandangi pakaian kotor itu dengan ekspresi frustrasi. "Akan kuambil wanita sombong itu," keluhnya pada dirinya sendiri.

Pikirannya kembali pada Evelyn, wajahnya yang memikat, tetapi sikapnya yang sombong. Senyum licik merayapi wajahnya saat ia membayangkan bagaimana ia akan membuat Evelyn menyesal telah mengabaikannya. "Sebentar lagi ia akan berada di tempat tidurku," gumamnya, menyuarakan pikiran liciknya.

Untuk sesaat, ia terdiam, membiarkan pikirannya melayang pada rencana yang telah ia susun dalam benaknya. "Tidak ada yang dapat menghalangi jalanku," katanya, suaranya penuh keyakinan.

Menatap langit-langit kamar mewah itu, Alexander memikirkan langkah selanjutnya. "Sekarang, aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana," katanya, suaranya penuh tekad.

Dengan langkah mantap, ia menuju lemari untuk mengambil beberapa pakaian yang lebih layak. Namun, pikirannya terus melayang pada wajah cantik Evelyn, membuatnya semakin bertekad untuk menjalankan rencananya.

"Kali ini kau tak akan bisa menolakku, Evelyn," gumamnya sambil tersenyum licik, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan berhasil menjalankan rencananya dengan sempurna.

Setelah beberapa jam menikmati pameran, Evelyn mulai merasa lelah. Sudah waktunya mencari tempat untuk beristirahat. Ia belum memesan hotel karena sedang sibuk mempersiapkan pameran. Evelyn segera membuka ponselnya dan mulai mencari hotel terdekat. Namun, setiap hotel yang dihubunginya mengatakan hal yang sama: "maaf, semua kamar sudah penuh."

Kebingungan mulai menyelimuti Evelyn. "Aku tidak bisa tidur di jalanan," pikirnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke hotel terdekat dan mencoba peruntungannya di sana.desisnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED