Bab 2

Jantungku serasa ingin melompat-lompat. Semalaman aku tidak bisa tidur. Bahkan menggigit bibir berkali-kali sampai berdarah. Ucapan kak Zacky kemarin masih terngiang-ngiang diingatan. Dia tidak bercanda, aku pun menanggapinya serius. Jikalau itu memang bercanda, tidak mungkin wajah yang terlihat ramah dan baik selama ini berubah menjadi sedikit arogan dan menakutkan.

Tadi malam juga pria itu telah membuktikan keseriusan ancamannya. Seseorang mengetuk jendela kamarku. Saat itu aku tidak takut, bukan karena akan dibunuh. Aku tak mengapa jika harus mati, jika seandainya kak Zacky betulan merealisasikan rencananya. Cuma, aku masih memikirkan keluargaku. Bagaimana jika dia melenyapkan kami semua. Aku sendiri tidak tahu motifnya apa, memintaku menggantikan kak Irma sebagai pengantin. Ini pertanyaan yang seharusnya kutanyakan sebelumnya.

Padahal jelas sekali kalau yang akan dinikahi pria itu adalah kakakku, bukan aku. Semalam saat seseorang menggedor jendela kamarku pelan, dia berkata tanpa peduli apakah aku mendengar atau tidak. Tetapi aku yakin, orang itu paham bahwa aku mendengarkannya.

“Ikuti perintah bos besar, kalau kamu mau selamat. Aku tangan kanan bos besar, ditugaskan untuk mengawasi apapun yang kamu lakukan. Katakan padaku jika kamu mau bekerjasama. Jika kamu memilih apa yang bos bilang, maka kamu tidak perlu khawatir mengenai nyawa orang tuamu.”

Pria itu menjeda kalimatnya sebentar.

“Satu lagi, senapan angin dan pelurunya telah siap mengoyak tengkorak kepala siapa saja yang menentang perintah bos besar. Jadi ini bukan hanya ancaman saja, melainkan lebih dari itu. Besok pagi pukul empat, ketuk jendela ini tiga kali, kalau kamu menyetujui perintah bos besar. Kalau aku tidak mendengar kode itu, berarti acara pernikahan ini bakal berakhir jadi pesta kematian.”

Suara di senyap-senyap malam itu kemudian menghilang. Langkah kakinya terdengar melandai lembut, hilang terbawa gelombang angin. Aku memejamkan mata sejenak, berusaha menafsirkan segalanya. Namun sepanjang memikirkan semua itu, aku tetap dihadapkan satu fakta. Ancaman!

Pernyataannya adalah, kenapa dia masuk ke dalam keluarga kami, meminang kak Irma tapi ujung-ujungnya ingin menikahiku? Sebenarnya, apa tujuan pria itu? Aku bahkan tidak mengerti jalan pikirannya. Aku sekali lagi dibuat takut. Sesuatu yang aku kira ancaman, nyatanya adalah sebuah kebenaran.

Maka pukul empat pagi, setelah bergelung semalaman tak bisa tidur, aku memutuskan mengikuti alur skenario yang dibuat kak Zacky. Dengan mata perih dan kepala yang berat, aku melangkah mendekat ke korden jendela. Mengetuk kaca jendela empat kali, sesuai perintah orang semalam.

Kupikir setelah melakukan itu, semuanya selesai. Ternyata apa yang aku duga tidak akan pernah sesuai dengan related kehidupan. Kemarin ketika aku terdiam membeku tidak bisa berbuat apa-apa, kak Zacky dengan sorot mata yang tajam seperti mengintimidasi, membuat sedikit badan ini bergidik ngeri. Ekspresi wajahnya adalah sesuatu yang baru pertama kali kulihat. Tatapan menakutkan dan kelam.

Sebelumnya, aku selalu melihat beliau dengan tatapan yang hangat, terlihat mengasihi dan perhatian. Lalu ketika dia menatapku seolah ingin membunuh itu membuatku ketakutan setengah mati.

Pukul sembilan pagi, di gereja yang dimaksud tempat dilangsungkannya pernikahan. Aku dan yang lainnya, terutama sebagai pengiring pengantin wanita berada di belakang persis punggung kak Irma. Mengantarnya ke dalam aula gereja menuju ke altar.

Banyak tamu undangan telah menanti kedatangannya. Terlihat juga ada kak Zacky yang sudah menunggu di altar, lengkap dengan Pak pendeta. Pria itu bersetel tuksedo hitam rapi dan terlihat elegan. Takut-takut aku menatap wajah itu. Wajah menakutkan yang balas menatapku dengan tatapan tajam, tidak bersahabat, pemarah dengan aura membunuh. Aku mengerti, dia sedang mengode. Seakan mengatakan melalui telepati bahwa aku harus mengikuti perintahnya kemarin.

Aku menundukkan kepala, merendahkan pandangan. Alibi membuang ketakutan. Aku tahu bahwa aku sedang dalam ancaman ketakutan. Karena itu, daripada ketakutan ini makin terasa dan mudah dipahami lawan, aku sebisa mungkin membuat gerakan peralihan. Namun ketika aku mengedarkan pandangan ke atas, ke langit-langit gereja, aku menyadari sesuatu yang benar-benar membuatku mengakui kalau kak Zacky tidak berbohong.

Ada puluhan laser hijau samar, yang mana setiap sinarnya telah terarah ke atas pucuk kepala orang-orang penting dalam keluargku. Itu adalah laser pucuk senapan. Sama persis seperti yang kak Zacky katakan kemarin. Orang-orang yang dimaksud kak Zacky telah bersiap, siaga melepaskan peluru ke kepala para tamu undangan, juga di kepala kedua orang tuaku. Ucapannya sungguhan benar. Dia tidak pernah dusta. Aku menelan ludah takut. Sesuatu yang aku kira hanyalah propaganda semata, kini menjadi kenyataan rupanya.

“Baiklah, sebelum aku memasangkan cincin di jari pengantin wanita yang akan aku nikahi pagi ini, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Mungkin kalian akan terkejut mendengarnya.”

Kak Zacky menatap semua orang. Satu tangannya memegang tangan kak Irma yang sedang tersenyum bahagia, senyuman yang membuatku senang sekaligus sedih. Sementara satu tangan kak Zacky yang lainnya sedang memegang cincin. Diantara keduanya ada wakil pendeta yang membawa baki berisi mahar pernikahan dan pendeta yang berdiri di tengah-tengah pengantin. Mata kak Zacky beredar, menatap semua tamu undangan dan kerabat.

Deg! Jantungku lagi-lagi berdetak lebih cepat. Keringat dingin mulai melanda. Ketakutan itu datang lagi. Badanku mendadak gugup dan bergetar hebat. Jika saja aku tidak menguatkan diri, barangkali kaki itu sudah terjatuh, tak mampu berdiri di atas lantai datar. Jadi, semua ini betulan terjadi? Bukan Dejavu?

“Sebenarnya aku ingin menyampaikan kalau pengantin wanitaku saat ini bukan seperti yang kalian lihat sekarang. Maksudku, aku ingin menikahi wanita lain di tempat ini, bukan Irma. Jadi aku akan memberitahu kalian semua prihal ini. Maaf jika mendadak, dan dengan berat hati harus disampaikan.” Kak Zacky melanjutkan ucapannya.

Saat perkataan itu didengar semua orang, ratusan tamu undangan bahkan ibu dan ayah juga adikku- Iqbal ikutan terkejut. Sama sepertiku yang menatap dalam kosong. Antara takut, gelisah, cemas, segalanya berpadu dalam satu. Puluhan orang bertanya-tanya, apa gerangan yang sedang disampaikan pengantin pria di atas sana. Kemudian yang lainnya berbisik-bisik, berkata bahwa pengantin pria sedang membuat lelucon.

“Pagi ini aku akan menikahi dia ....” Kak Zacky mengulurkan jemarinya, menunjuk diriku yang langsung menatap melotot. Mendadak tubuhku makin meningkat takut, keringat dingin membasahi badan, tubuh bergetar gugup tak karuan dan membeku. Semua mata telah tertuju padaku. Memandang penuh tanya.

“Indah, apa maksudnya ini?” Ibu bertanya, air muka terlihat jelas meminta penjelasan. Aku menelan ludah gugup. Entah jawaban apa yang hendak aku sampaikan.

Dalam sepersekian detik, tak tahu bagaimana jelasnya, tiba-tiba pria itu ada di depanku. Mengulurkan tangan, mengajakku baik ke atas pelaminan. Jelas saat itu terjadi, lagi-lagi semua mata seakan menusuk, meminta penjelasan lebih. Aku hanya bisa diam, tidak mampu berkata-kata. Semua terjadi cukup cepat, sampai aku merasakannya seperti angin yang berhembus cepat. Wush, kilat itu mengibaskan semua permasalahan ke satu titik.

••••

“Ayah, ibu, maaf jika telah membuat kalian kecewa. Maaf jika aku harus mengubah pandangan kalian tentangku, terutama telah mengecewakan Irma juga. Tetapi sekali lagi, aku berani bersumpah, sejatinya aku jatuh cinta pada Indah. Pertama kali hadir di rumah ini, Indah bagaikan pelangi yang mewarnai hidupku. Jadi tolong, kalian berikan restu kalian untuk kami.” Kak Zacky memohon di kaki ayah yang terlihat kecewa dan ibu yang tidak bisa menahan tangisannya sejak tadi.

Sementara itu, Kak Irma berada di kamarnya, meratapi betapa buruknya hari yang dilaluinya saat ini. Adiknya dituduh merebut calon suaminya, malah di hari pernikahan yang menikah si adik, bukan dirinya. Wanita mana yang telah berstatus pengantin dan sebentar lagi akan jadi seorang istri, lalu tiba-tiba impian indah itu harus pupus di saat yang tepat, satu menit sebelum insiden penyematan cincin itu batal mengalung di jemari.

Saat ini kami telah berada di rumah utama, selepas pulang dari gereja. Tentu diiringi dengan malu yang tidak bisa dibendung. Orang-orang menggunjing prihal kejadian tadi. Aku bahkan tidak ada muka lagi untuk berhadapan dengan mereka, terutama orang tuaku sendiri juga para kerabat dekat.

Dua jam lalu, aku naik ke atas pelaminan tanpa sepatah kata pun. Lalu dalam sekejap, semuanya telah terjadi. Pria itu mencium bibirku selepas mengucapkan janji pernikahan di depan pendeta dan patung Tuhan Yesus yang menggantung di langit-langit gereja. Saking tidak bisa berpikir jernih, aku bahkan tidak bisa mencerna mana itu kenyataan sesungguhnya, mana pula bayangan ketakutan.

Jadi ancaman ‘Keputusan menentukan masa depan’ yang dimaksud kak Zacky adalah ini? —Yaitu membunuh karakter orang lain. Meskipun aku tidak tahu tujuannya, yang pasti jelas kak Zacky ada maksud ingin memecah belah keluarga damai ini dengan aku adalah umpan utamanya. Dia pasti punya tujuan tertentu.

“Bilang sama ibu, apa kesalahan yang telah kami perbuat, sampai-sampai kalian berani berbuat hal mengecewakan seperti ini?” Ibu masih menangis, menatapku kemudian. Aku menundukkan kepala, tidak sanggup untuk berujar sepatah kata. Karena aku tahu, aku benar-benar bersalah dengan mengiakan perintah pria itu.

“Bu, tolong jangan salahkan Indah. Yang salah di sini Zacky karena lebih memilih dia menjadi pengantinku, bukannya Irma yang sudah menemaniku bertahun-tahun ini.” Pria itu menyela. Jawaban yang terlontar itu jelas tidak membuat hati ibu akan meluluh.

“Kalian sama-sama salah. Kenapa harus Indah? Kenapa juga harus menyakiti Irma? Kamu tahu kan kalau Irma itu sayang sekali sama kamu, nak Zacky! Kamu juga, Indah. Kamu tahu kalau dia itu calon suami kakak kamu. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini, hah? Seharusnya kalian bilang sejak awal jika kalian saling mencintai, mungkin kejadian mengejutkan ini tidak akan terjadi. Orang tua mana yang tidak akan kecewa, apalagi pengantin wanita yang calon suaminya menikahi orang lain. Lebih lagi, orang itu adalah adik kandungnya sendiri. Irma di dalam sana pasti lagi frustasi sekarang.”

“B—bu, maaf.” Aku menjawab lirih. Alih-alih bisa membujuk ibu, mencoba memahami apa yang terjadi, ibu malah membentakku.

Aku juga tak mungkin menjelaskan bahwa aku diancam. Aku tidak akan melakukan itu, karena aku sayang nyawa kedua orang tuaku. Hanya saja, aku dipaksa bertindak macam keledai bodoh oleh pria di sampingku. Melihat kemarahan ibu, aku merasa bahwa aku benar-benar tidak berguna. Aku adalah domba yang tersesat.

Tadi saja, saat akan berusaha bicara yang baik-baik, menjelaskan dengan kepala dingin pada kak Irma, dia malah tak menggubris. Banting pintu kamar, tidak menghiraukan aku sama sekali. Diperparah dengan komentar ayah yang tidak mau anaknya diganggu oleh wanita bersifat buruk sepertiku.

“Ayah sama ibu tidak mau mendengar alasan kalian berdua. Lebih baik kalian angkat kaki dari sini. Untuk Zacky, Indah kami serahkan padamu, karena kamu sudah menikahinya dan bertanggungjawab penuh atas segala hal tentangnya. Kedepan, jangan datang lagi ke rumah ini. Karena kalian harus menjaga perasaan Irma yang sekarang sedang terluka berat.”

“Ayah ....” Aku mencoba menyela, tetapi ucapanku terbata manakala kak Zacky menggamit tanganku.

“Ayah benar, sebaiknya kita pergi sekarang.”

“Satu lagi,” Ayah menginterupsi, sebelum kami melangkah pergi. “Indah, ayah sebenarnya tidak mau menyampaikan ini. Mau bagaimanapun, kamu tetap anak ayah. Kalian tidak ada yang dibedakan. Hanya saja, ayah juga cukup kecewa, karena kamu sudah mengacaukan segalanya. Kamu juga sudah membuat keluarga kita malu. Untuk sekarang ayah belum bisa memaafkan tindakan kalian berdua. Tetapi mungkin besok atau kapanpun, ayah bisa memaafkan kalian. Untuk saat ini, tolong jangan pernah menampakkan diri di depan keluarga kami. Karena itu akan terlalu menyakitkan bagi kami.”

“Ayah ....” Aku menangis ketika mendengar pernyataannya. Ucapan itu benar-benar menyakiti hati. Ayah berkata seolah seperti sedang berbicara kepada orang lain, bukan putrinya. Apakah ayah bermaksud membuangku hanya karena alasan ini? Padahal aku tidak melakukan apapun.

Aku ingin protes, ingin pula menuntut kenapa ayah bisa bicara enteng begitu, seakan beliau sedang berkata tanpa beban pada anak yang bukan darah dagingnya. Tetapi lagi-lagi sepasang tangan kekar dan lebar menginterupsi, memegang pundakku, mengajak segera pergi dari sana. Yang membuatku mau tak mau menuruti perintah itu.

Betul sekali. Tindakan Zacky seperti mewakili diriku yang seharusnya tidak perlu berkata apapun lagi. Percuma. Semua orang tidak akan mempercayai aku. Karena apa yang mereka lihat adalah kebenaran. Sebuah kebenaran bahwa aku adalah perusak momen kebahagiaan orang lain!

Bab 3

“Bos, selamat datang.” Beberapa orang menyambut kedatangan kami, setibanya mobil sedan hitam itu menepi di depan lobi rumah besar, bercat putih marmer.

Pria yang dipanggil bos mengangguk. Aku memerhatikan keadaan sekitar. Ada banyak orang. Laki-laki semua. Badan mereka tinggi dan besar, berperawakan menakutkan. Dari semua orang, mungkin hanya Zacky saja yang terlihat paling enak dipandang. Mukanya terlihat menyeramkan, tetapi paling tidak itu yang lebih baik dari yang lain. Misalnya seperti pria yang mukanya ada codet, badan kekar dipenuhi tato. Aku takut melihatnya. Mengerikan.

Mengenai tempat yang baru saja aku datangi, segalanya bisa saja jadi sesuatu yang baru untuk diceritakan. Rumah itu berlipat-lipat lebih luas dari rumah kami di tengah kota. Namun kediaman ini berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian megapolitan. Sepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah bukit, hutan, jalan curam dan bibir pantai. Rumah itu sangat besar, terlihat dari pintu masuk di luar sana. Akan sulit mendeskripsikannya seperti apa.

Rumah ini ada kubah yang dicat biru langit. Ada patung di depan pintu masuk dekat gerbang. Jarak pintu masuk itu kira-kira 200 meter. Jalan berhias paving blok, ada taman dan kolam air mancur di depan rumah. Lobi atau teras dipasang karpet merah. Rumah tiga lantai itu sangat megah. Belum pernah aku melihat rumah semewah ini di pinggir pantai di tengah hutan yang dikelilingi perbukitan.

“Ini Nyonya baru kalian, perlakukan dengan baik.” Zacky memberitahu anak buahnya di depan teras rumah, sebelum masuk ke dalam. Jumlah mereka puluhan. Menunduk mereka kala menyambut kedatangan sang Tuan. Aku menelan ludah. Ternyata apa yang kak Zacky katakan sepenuhnya adalah kebenaran. Dia tidak berbohong. Demi Tuhan. Ternyata aku sedang menjadi tawanan sekaligus istri seorang mafia besar. Katakanlah grand mafia.

“Siap, bos.” Satu-dua menyahut.

Aku mengekori pria berjas hitam itu masuk ke dalam. Tentu masih mengenakan baju yang serupa saat di gereja beberapa jam lalu. Baju bridesmaid yang mungkin terlihat norak. Di rumah besar ini, hanya ada aku dan dia. Orang-orang dengan perawakan menyeramkan itu tidak masuk ke dalam, menunggu di luar saja.

Zacky melempar jas hitamnya ke atas sofa, lalu membanting pantat di samping sofa empuk lainnya di ruang tengah. Pria itu menatapku lekat-lekat. Perempuan yang sedang ketakutan dan gugup bersamaan. “Apa yang kamu tunggu di situ?”

Aku menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Ck, perempuan tolol. Sini aku beritahu. Sekarang kamu memang Nyonya rumah di sini, jadi aku perjelas satu-satu. Tugas kamu di sini membersihkan seisi rumah dan sebagainya, memasak untuk anak buahku, lalu membersihkan kandang macan, singa, harimau dan beruang di kandang belakang. Lalu jangan lupa memangkas bunga-bunga di taman depan. Untuk sekarang, kamu aku izinkan istirahat. Kamu harus mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Kucing yang aku jadikan babu seharusnya diperlakukan lemah lembut sebelum dipekerjakan sebagai buruh kasar.”

Aku menatap melotot. Eh, maksudnya apa? Membersihkan segalanya, aku sendirian? Aku juga kucing dibilangnya? Aku babu? Hah, tidak salah dia bilang begitu?

“Di mana pembantu yang lain?” Spontan pertanyaan itu terlontar. Logikanya, tidak mungkin di sini tidak ada yang namanya pembantu. Sebab rumah ini besar dan luas. Kalau aku yang mengerjakan sendiri, aku pasti akan bilang menyerah. Tidak sanggup.

Zacky menyeringai, memperbaiki posisi duduknya. “Pembantu? Apa aku tidak salah dengar?”

“Aku melakukannya sendirian?”

Zacky menatapku melotot, “Kamu kira aku bawa ke sini untuk aku jadikan ratu, hah? Kamu kira kamu itu spesial, hanya karena kamu cantik lalu aku nikahi? Kamu kira kamu menarik, sampai-sampai membuat aku betulan cinta sama kamu? Jangan harap itu terjadi, perempuan tolol!

Pria itu berdiri dari duduknya, lalu mendekatiku. Tanpa tedeng aling-aling, tangan kekar dan besarnya menjambak rambut belakangku. Demi Tuhan, itu sakit sekali rasanya.

“Perempuan seperti kamu pantasnya diperlukan seperti ini. Kamu suka dikasarin kan?”

“Kak Zacky, sakit.” Aku meringis. Satu tangan menahan tangan Zacky supaya tidak menjambak rambutku sekuat tenaga.

“Hah, sakit? Kamu bisa merasakan sakit juga, ya? Bagaimana kalau dengan yang ini?”

Ah, aku makin meringis. Dia memperkuat tangannya mencengkram rambutku. Rasanya kulit kepalaku akan lepas dari tengkorak kepala. Tanpa terasa air mata keluar di pelupuk retina, kemudian jatuh dan membentuk parit di pipi. Aku menangis, jelas itu aku lakukan. Sebab rasa sakit ini tidak bisa ditahan sama sekali.

“Inilah derita yang harus kamu terima. Sebuah kesakitan yang juga adikku alami.” Dia berkata lirih di telinga, kemudian mendorong tubuhku jatuh ke lantai. Aku terisak pelan.

Ini baru sehari dan dia telah menyiksaku begini. Aku tidak mengerti entah apa salahku, sampai-sampai diperlakukan macam hewan. Aku tidak punya masalah dengannya, tetapi kenapa dia melakukan itu.

“Bagaimana rasanya? Enak? Atau sakit?” Zacky jongkok di depanku, mengamati wajah yang telah menggugurkan air mata. Aku mengusap pipi, menghapus lelehan air mata. Lalu menatapnya sesaat.

“Kenapa kakak melakukan ini?” Aku bertanya diiringi tangisan tersedu-sedu.

“Kamu mau tahu jawabannya?”

“Tolong beritahu aku. Salahku apa, sampai-sampai kakak tega dan tidak manusiawi seperti ini padaku. Aku tidak pernah berbuat salah sama kakak, lalu kenapa aku diperlakukan begini?”

“Salah kamu itu satu, kenapa kamu harus hidup di dunia ini.” Zacky menarik pergelangan tanganku, memaksa aku berdiri. “Hari ini kamu istirahat dulu di kandang hewan peliharaanku. Besok kamu baru boleh tidur di dalam rumah ini.”

“Aku nggak mau. Kak Zacky, jangan!” Aku meronta, berusaha berontak, melepaskan cengkraman tangannya yang kian kuat. Dia menyeretku, membawa keluar ke arah belakang rumah, melewati sayap samping kiri. Sekuat apapun aku melawan, kenyatannya aku tidak bisa mengalahkan dia.

Tempat itu menembus ke taman (seperti taman Zen), ada semacam pondok berkubah dicat hijau, bangunan di bawah kubah pondok itu dicat warna merah. Jalan setapak yang kami lalui (tanah yang kami pijak) dipasang batu pualam pipih sebagai lantainya. Dipasang berjarak, sesuai rentang kaki. Diantara jalan kami ada pagar beton pembatas rumah setinggi empat atau lima meter, ditambah jeruji kawat di atasnya, membentang sepanjang tanah seluas mata memadang.

Sepanjang perjalanan dia menyeret, aku berusaha melawan. Aku memang tidak paham apa salahku, sampai-sampai dia berani berbuat kasar. Tetapi sebagai kaum yang tidak pernah salah, aku berhak mempertanyakan apa yang salah dariku padanya? Namun tetap saja, pria itu tak bergeming. Malah bertindak arogan.

Tibalah kami di sebuah bangunan, seperti bentukan kandang sapi di peternakan Swedia. Tapi bentuknya menyerupai bungker persegi kotak. Kandang itu besar dan tinggi. Pintunya saja ada dua, yang kalau didorong berbentuk dua arah, ke kanan dan ke kiri. Ketika pria itu mendorong daun pintu yang dibantu penjaga gudang, dia melempar tubuhku ke lantai tanpa perasaan. Sampai aku jatuh di tumpukan jerami kering.

Aku terpental, sudut sikuku terluka. Aku menangis saat itu, hendak protes. Tapi pria itu telah berada di depanku, tangan kasarnya meremas daguku, mendongak, memaksa kami saling bertatapan sengit.

“Kamu bajingan!”

“Ya, aku memang bajingan. Tapi ini belum seberapa dengan apa yang akan kamu terima besok dan besoknya lagi.” Dia tersenyum menyeringai.

Aku memalingkan wajah, sedikit agak bergidik takut ketika melihat sorot tatapan matanya yang tajam dan sombong. Aku menahan geram, amarahku berada di puncak, degup jantung dan napasku membuncah cepat.

“Kamu pria bedebah, pria berengsek, manusia sialan. Aku benci kamu!” Aku membabi buta, tanpa kusadari aku telah melepaskan satu pukulan keras, melesak dan meledak di muka Zacky.

Aku lumayan terkejut atas tindakan yang baru saja aku lakukan. Masalahnya, pria itu menatapku nyalang, sesaat setelah tamparan itu membuatnya terseok, berpaling muka ke kiri. Sudut bibirnya terluka, darah mengalir keluar. Cap tanganku tergambar di pipinya cukup jelas dan memerah. Namun keadaan berikutnya membuatku merinding, bukannya dia terlihat kesal, pria itu justeru kembali menyeringai.

“Bagus. Baru beberapa menit di sini kamu sudah menamparku. Rupanya kamu belum tahu berurusan dengan siapa.” Zacky mengangkat tangannya, bersiap melayang di udara, hendak menamparku.

Kurasa begitu. Aku menutup mata, takut sekali tamparan itu keras, sampai membuat wajahku bengkak dan memar. Namun tidak. Tangannya tak sampai di wajahku. Padahal diri ini siap menerima resiko atas apa yang aku lakukan. Bahkan sudah memejamkan mata, supaya bisa meredam rasa sakit. Aku yakin bahwa tenaga dalam kak Zacky jauh melampaui apa yang aku bayangkan.

Aku membuka mata pelan, memandang dirinya yang terus tersenyum ambigu. Tangan kekar itu mendarat di pipiku, diusap lembut tapj syarat akan sebuah makna. “Untuk sekarang, kamu tidak perlu aku kasari. Tapi mungkin besok.”

“Cih, bajingan!”

“Ya, memakilah sepuas hati. Karena akan ada tibanya hari pembalasan, kamu akan memohon padaku untuk diberikan kebebasan.”

“Bos, maaf mengganggu. Anak buah kita telah siap untuk pengiriman perdagangan manusia ke Meksiko.” Satu pria menyela. Suara itu mirip suara yang semalam mengetuk kaca jendela kamarku. Tidak salah lagi, dia orangnya.

Zacky berdiri dihadapanku, tatapannya masih sama Menyeramkan. “Aku akan menyusul. Kamu ikat dia, borgol dengan besi-besi. Pastikan dia membeku karena dipasung seharian.”

“Siap, bos. Dilaksanakan.” Pria itu mengangguk. Zacky meninggalkan gudang.

Pria yang tadi bicara pada pria itu menarik lenganku. Perlakuannya cukup lembut, tidak kasar-kasar amat. Membawaku masuk ke dalam gudang, jauh ke dalam sana. Sampai tiba di tengah gudang, aku terperanjat kaget ketika hewan-hewan buas mengaum garang. Menatap lapar ke arah kami yang melintasi sel jeruji besi, pengurung hewan buas.

Yang di kiri ada harimau dan macan. Sel jeruji sebelah kanan adalah kandang beruang dan singa. Aku menelan ludah takut. Suara auman hewan buas itu membuatku nyaris mati berdiri. Berjalan mondar-mandir, menatapku lapar, seakan akulah umpan makan siang mereka kali ini.

“Maaf, Nyonya. Ini perintah bos.” Pria itu berkata lirih, memasangkan tangan dan kakiku dengan borgol rantai besi berkarat. Itu cukup berat, aku bahkan tidak yakin bisa mengangkat rantai-rantai yang telah terkunci di tangan dan kaki serta di leher. “Tuan sebelumnya memerintahkan bahwa Nyonya akan tidur di sini dengan hewan peliharaannya. Dapat jatah makan dua hari sekali. Untuk dua hari kedepan tidak akan ada yang ke sini.”

Aku melongos, buang muka. Posisiku saat itu berada di ujung lorong, diantara empat jeruji besi yang mengurung dan memisahkan empat hewan buas. Aku meringkuk, duduk di lantai, menangkup muka, bersembunyi dan diam dalam tangisan. Entahlah, aku bingung dengan situasi yang aku hadapi. Masalahnya, aku tidak paham kenapa aku harus menerima kenyataan ini. Sementara aku merasa bahwa aku tidak pernah bersalah dengan Zacky.

“Lalu, bagaimana dengan makanan hewan-hewan buas itu?” Aku bertanya, sebelum pria yang tadi sempat bicara dengan Zacky melangkah keluar dari gudang hewan buas.

“Mereka diberikan makan setiap hari. Tapi tidak dari sini, melainkan dari sana,” katanya menunjuk ke arah atap di atas kurungan hewan. Ada celah besar, ada troli dan pengait daging. Aku paham maksudnya, mungkin mereka memberikan santapan para hewan buas itu dari atas.

Aku menghela napas, miris memikirkan kejadian hari ini. Seharusnya aku tidak merasakan hal ini, bukan? Apa yang aku bayangkan tentang kebahagiaan kak Irma, kini malah jadi petaka bagiku sendiri. Zacky bilang kesalahanku karena aku hidup, penderitaanku ini pun harus sama seperti yang diderita adiknya. Pertanyaanku, siapa adik Zacky yang pernah aku sakiti, sampai pria itu nekat membalaskan dendamnya padaku. Bahkan bersikap kasar, tidak pandang bulu bahwa aku perempuan.

Pada akhirnya, malam yang dingin menyelimuti tubuhku yang meringkuk di lantai bertumpuk jerami.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED