Pekan ini keluarga kami tengah sibuk-sibuknya. Sebab saudari tertuaku, Kak Irma bakalan melangsungkan pernikahan dengan pria super tajir dan menawan. Macam manusia yang keluar dari Webtoon yang sering kubaca. Seorang bos besar, CEO muda atau apalah itu. Aku kurang tahu apa profesi utama beliau. Aku tidak terlalu pengin tahu tentangnya. Cukup tahu saja bahwa dia akan jadi kakak iparku nanti.
Aku dipilih sebagai bridesmaid yang akan mengiringi kak Irma di pelaminannya, tidak lama lagi. Dalam undangan yang disebar, hari Minggu jadi hari di mana acara itu akan dilangsungkan. Bahkan sebagai pengiring pengantin wanita, kami telah merencanakan akan menggunakan gaun putih berpadu dengan warna mint sebagai dress code. Oh, membayangkannya pasti sangat mewah acara pernikahan itu. Dua sepupuku dan satu sahabat kak Irma juga jadi pengiring pengantin wanita yang akan berdampingan denganku esok.
Aku bertanya-tanya, di mana dan bagaimana bisa kakakku bertemu dengan pria semacam itu. Pria yang bakal jadi suaminya nanti. Jika aku ada diposisinya, barangkali aku juga bakal bahagia. Sebab akhirnya bisa menikah dengan manusia sesempurna itu.
Maksudku, kakak sangat beruntung punya calon suami yang romantis, ramah, baik, memperlakukan keluarga kami dengan sopan, menyayangi ayah dan ibu kami. Bahkan dia juga perhatian. Selain nilai plusnya itu, calon kakak ipar juga punya penampilan yang cukup menawan, badannya tinggi, selalu berpakaian rapi dan terlihat bugar sepanjang hari.
Aku bertanya-tanya, apa pekerjaan kakak ipar (sekali lagi itu terlintas di dalam benakku). Kak Irma bilang, beliau bekerja sebagai direktur perusahan besar asal Singapura, makanya beliau selalu tampil rapi dan bersolek, tak pernah lepas dari setelan pakaian formal. Aku mengangguk setuju, jika demikian penjabarannya. Bisa dilihat dari sisi manapun, kakak ipar memang sangat pantas dengan riwayat pekerjaannya. Bersolek dengan setelan jas mahal nan rapi.
Kakak ipar berusia tiga puluh empat tahun. Berbeda lima tahun dengan kak Irma. Sementara aku dan kakakku terpaut berbeda lima tahun pula. Sejak kecil aku dan kak Irma hidup bersama dengan ayah dan ibu. Kami adalah teman sepermainan, sampai dewasa pun begitu. Selalu berbagi rahasia, terutama soal siapa yang kami suka. Haha, kedengarannya setiap rahasia yang kami miliki tidak ada yang namanya bersifat rahasia. Karena ujung-ujungnya pun tetap bakal ketahuan juga.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Aku masih memiliki adik lelaki, usianya tujuh belas tahun. Pertengahan tahun depan, dia sudah lulus SMA. Bakal melanjutkan studinya ke Perth, Australia. Rencananya begitu. Keluarga sepakat mengirim Iqbal terbang ke negeri kanguru buat menimba ilmu dan kelak bakal jadi orang hebat. Bah! Ambisi sekali kedengarannya.
Menyoal keluargaku, saat ini aku ingin bercerita dahulu tentang keluargaku. Ayah adalah kepala grup BUMN dan ibu adalah seorang dosen di universitas dalam kota. Sementara kakak adalah presenter, aku adalah sekretaris di perusahaan besar nasional di Jakarta.
Ini adalah tahun keduaku bekerja di perusahaan yang sampai saat ini masih aku datangi. Maksudku, saat ini aku masih bekerja sebagai sekretaris. Ini adalah posisi ternyamanku dalam jenjang karier yang selama ini aku impikan. Untuk urusan percintaan, aku belum kepikiran menjalin hubungan apapun dengan para pria di dunia ini.
Semenjak aku mandiri dan bisa mencari uang sendiri, rasa-rasanya bayangan untuk menikah dan ingin memiliki keluarga selayaknya wanita di luaran sana, ambil contohnya adalah kakakku—barangkali hanya bakal jadi wacana dan angan-angan semata. Masalahnya, aku belum siap untuk itu. Ditambah lagi, apapun yang aku inginkan, aku bisa memenuhinya. Jadi uang bisa mengalihkan pandanganku dari para pria. Sehingga aku tidak akan bergantung pada mereka.
Yah, walau keluarga sudah mengodeku dengan melontarkan pertanyaan “kapan nikah” atau “sudah punya pacar belum?” di dalam pertemuan keluarga, terutama di saat-saat hari raya. Walau pertanyaan itu agak menjengkelkan dan sedikit risih saat didengar, nyatanya aku hanya bisa tersenyum saja. Pura-pura mengiakan pertanyaan bodoh itu yang mengaitkan umur dua puluh empat tahun dan harus diburu-buru menikah takut jadi perempuan tua. Astaga, dikira aku tidak bakal laku, apa?
Heh, padahal aku saat ini dalam puncak karir yang bagus. Mana bisa buru-buru menikah. Lihat kak Irma. Di usianya yang ke-29, dia baru menikah. Walau kurasa kak Irma juga akan mupeng dan pernah melewati masa-masa yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Baiklah, kembali ke topik awal. Tadi beberapa saat lalu, Iqbal—adikku disuruh kak Zacky, calon kakak ipar menemuinya di kamar tamu. Aku mengiakan perintah itu. Sebenarnya aku malas melangkah pergi, karena aku sedang disibukkan mengupas bawang-bawangan. Tetapi barangkali ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, maka dari itu aku akhirnya memilih melangkah pergi. Meninggalkan dulu sebentar pekerjaan dapur ala-ala wanita rumahan.
Masuk ke dalam kamar tamu tempat kakak ipar istirahat, menemuinya. Katanya ingin bicara berdua, ini masalah penting. Aku sebenarnya heran, kenapa beliau ingin aku menemuinya, bicara sesuatu yang orang lain tidak boleh tahu. Padahal bisa saja dia menemuiku di tempat lain, tidak pula harus berada di dalam kamar.
“Permisi, kak Zacky mencariku?” Aku berdiri di perpotongan bingkai pintu. Mengetuk daun pintu itu lebih dahulu, sebelum melangkah masuk ke dalam. Orang yang dimaksud, berdiri di depan kaca jendela yang kordennya telah disingkap ke sisi kanan dan kiri jendela. Pria itu balik badan, menatapku lekat. Kemudian menyeringai tersenyum.
Dia mengangguk, lalu aku melangkah masuk makin jauh ke dalam kamar. Meski ini di rumah keluarga kami sendiri, tetapi jika ada beliau, rasanya aku cukup segan untuk saling bertegur sapa. Aku menelan ludah gugup.
“Oh, ya. Tadi kakak suruh Iqbal buat minta kamu datang ke sini.” Pria itu tersenyum lagi, aku pun membalas dengan senyuman canggung. “Ehm, kamu senggang nggak?”
Aku mengangguk pelan, “Ya, kayaknya sih. Kenapa memangnya, Kak?”
“Nggak ada apa-apa, sih. Sebenarnya kakak mau minta bantuan kamu. Jadi kakak mau buat suprise untuk Irma pas acara pernikahan nanti. Kakak perlu bantuan kamu buat memilih dekorasi yang bagus di acara pernikahan. Menurut kamu, ini konsepnya yang bagus yang mana, ya? Kakak mau minta pendapat aja sih.”
“Boleh aku lihat?”
“Tentu saja boleh. Ini, lihat aja.”
Kak Zacky menyodorkan tablet besar di tangannya kepadaku. Aku menyambut benda persegi empat itu. Lantas mengamati layar gambar itu dengan seksama. Awalnya aku heran, gambar apa yang dimaksud? Tak ada pula gambar konsep pernikahan yang ingin ditunjukkannya padaku. Hanya gambar gelap sebuah ruangan. Itu macam CCTV yang dipasang di pojok bangunan, tapi aku kenal ruangan itu. Tidak terlalu asing.
Tempat tersebut adalah tempat kakakku nanti naik ke atas pelaminan. Itu adalah aula pernikahan di tengah gereja. Tepatnya ruang tengah tempat jemaat gereja beribadah yang kursi-kursi partisipan disingkirkan dulu. Tempat yang sudah didekorasi menggunakan konsep pernikahan ala pemandangan di Santorini, Yunani. Sepekan silam konsep ini telah dimatangkan, kak Irma yang memilihnya melalui jasa wedding organizer.
Dahiku mengerut, otak lekas berpikir jauh dari asalnya. Kenapa kak Zacky memintaku melihat gambar di dalam tablet. Sementara jelas bahwa di sana tidak ada apapun, selain penampilan ruangan temaram dengan tirai biru laut menjuntai di seisi bangunan gereja.
“Ini maksudnya apa, kak?” Aku bertanya, menelan ludah kemudian. Hendak meliriknya, pria itu malah menyeringai. Kedua tangannya naik ke atas pundak, lalu dia berdiri di belakangku. Dia membisik, berkata lirih tepat di telingaku.
“Itu adalah tempat pernikahan kita. Aku ingin kamu melihatnya dulu, sebelum kita melangsungkan pernikahan besok.”
Aku bergidik merinding. “Kakak tolong jangan bercanda. Aku ini calon adik iparmu!”
“Oh, siapa bilang aku bercanda? Aku nggak bercanda sama sekali, Indah. Aku bicara serius. Itu tempat pernikahan kita besok. Kamu lihat ini, lampu laser yang bergerak di ruang gereja, itu adalah lampu laser pelatuk senapan laras panjang. Dan kamu lihat celah ini, nah, itu adalah para soldier yang akan menjaga ketat acara pernikahan kita nanti. Aku menugaskan mereka buat berjaga di sekitar sana.”
Kak Zacky menggulir layar tablet, menggesernya ke arah beberapa orang berpakaian seragam lengkap macam abdi negara seperti Kopasus. Pakai pelindung badan, rompi anti peluru, helm, wajah ditutup masker khusus pegawai negara serta senjata api yang dimaksudnya tadi. Pakaian mereka serba hitam. Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru aku dengar barusan. Pria itu melanjutkan ucapannya lagi.
“Besok, yang akan menikah denganku bukanlah Irma, tapi kamu. Jadi aku hanya memberitahu bahwa kamu harus tampil cantik ketika sampai di gereja. Kalau sampai kamu tidak mengindahkan apa yang aku katakan sekarang, kamu lihat bagian ini. Nah, di situ ayah dan ibumu berdiri, maka duar ...., peluru senapan anak buahku akan menembus tengkorak kepala mereka. Boom, mati.”
“K—kak ....”
“Ssst ..., jangan kaget. Aku sedang tidak bercanda. Aku beritahu kamu satu hal, sebenarnya aku datang dalam keluarga ini, pura-pura baik dan pura-pura bersikap macam menantu idaman keluarga sebenarnya bukan tertuju untuk Irma, tetapi untuk kamu. Karena sejak awal yang ingin aku nikahi bukanlah dia, tetapi kamu.”
“Satu hal lagi, ini hanya rahasia kita berdua saja. Kamu harus tahu, bahwa kamu tidak akan bisa menolak sebagai istriku. Karena aku adalah kepala Mafia. Sekali kamu berurusan dengan orang-orang mafia, maka tamat sudah riwayat hidup kamu. Saat ini kamu hanya diberikan satu pilihan, menuruti perintahku atau kedua orang tua bangka itu mati.”
Badanku gemetar dan gugup seusai pria di belakangku bicara amat dekat di telinga. Rasanya aku sudah tidak mampu berdiri lagi saat itu, terutama membayangkan bahwa aku benar-benar akan tewas. Aku baru tahu bahwa dia adalah seorang mafia. Sementara itu dia mengancam dengan memperalat ayah dan ibu.
Aku menelan liur tak sedap. Bagai Dejavu, semua yang kurasa saat itu terasa seperti mimpi. Orang yang baru saja aku kagumi karena kesempurnaannya ternyata adalah orang yang terdengar cukup kejam. Aku ingin membantah bahwa kak Zacky sedang bercanda, membuat ancaman itu sebagai bentuk kejutan di hari pernikahan nanti. Namun melihat keseriusannya dalam bicara, kukira ini bukanlah lagi sebagai ancaman semata, tetapi lebih dari itu.
“Bagaimana? Sudah bisa mengambil keputusan yang tepat?” Dia berkata lagi.
Aku masih melamun, pikiranku sedang melayang antara takut dan tidak percaya. Bingung tidak bisa menjawab. Situasi ini seperti pernah kulalui, tapi ini jauh lebih menakutkan daripada apa yang aku duga.
“K—kak, ini pasti bercanda, kan?” Aku bertanya lagi, lebih ke-memastikan. Sebab aku masih takut dan tremor mendengar pengakuannya tadi. Apalagi dia juga menyorot orang-orang buat mengetatkan acara pernikahan besok. Masalahnya, dia mengancam nyawa. Itu yang membuatku terasa seperti tidak lagi menapak lantai.
“Aku tidak pernah bercanda sebelumnya. Bahkan dalam hidupku kata bercanda telah lenyap saat aku berusia sepuluh tahun. Aku menyampaikan ini supaya saat Irma naik ke atas altar, ketika pendeta meminta kami mengucapkan janji pernikahan, maka saat itu juga aku menggagalkannya. Lalu aku akan memanggilmu naik ke atas, bahwa aku akan menikahi kamu, bukan Irma. Kalau kamu ikut skenario yang aku rancang, maka semua keluarga kamu akan selamat. Tetapi kalau kamu menolak menikah dan menggantikan Irma, maka bersiaplah kalau kalian harus kehilangan nyawa.”
Kak Zacky membisik lagi di telingaku.
“Dengar, inilah tujuanku masuk ke dalam keluarga ini. Aku menginginkan kamu, bukan Irma. Jadi bersiap ikuti instruksiku besok. Ingat juga, aku tegaskan kalau kamu tidak akan bisa pergi. Karena orang-orangku selalu setia mengawasi kamu. Sekarang, keluarlah dari kamar ini. Pikirkan dengan matang apa yang harus kamu lakukan besok. Karena apa yang kamu putuskan akan menentukan masa depan keluarga ini.”
Jantungku serasa ingin melompat-lompat. Semalaman aku tidak bisa tidur. Bahkan menggigit bibir berkali-kali sampai berdarah. Ucapan kak Zacky kemarin masih terngiang-ngiang diingatan. Dia tidak bercanda, aku pun menanggapinya serius. Jikalau itu memang bercanda, tidak mungkin wajah yang terlihat ramah dan baik selama ini berubah menjadi sedikit arogan dan menakutkan.
Tadi malam juga pria itu telah membuktikan keseriusan ancamannya. Seseorang mengetuk jendela kamarku. Saat itu aku tidak takut, bukan karena akan dibunuh. Aku tak mengapa jika harus mati, jika seandainya kak Zacky betulan merealisasikan rencananya. Cuma, aku masih memikirkan keluargaku. Bagaimana jika dia melenyapkan kami semua. Aku sendiri tidak tahu motifnya apa, memintaku menggantikan kak Irma sebagai pengantin. Ini pertanyaan yang seharusnya kutanyakan sebelumnya.
Padahal jelas sekali kalau yang akan dinikahi pria itu adalah kakakku, bukan aku. Semalam saat seseorang menggedor jendela kamarku pelan, dia berkata tanpa peduli apakah aku mendengar atau tidak. Tetapi aku yakin, orang itu paham bahwa aku mendengarkannya.
“Ikuti perintah bos besar, kalau kamu mau selamat. Aku tangan kanan bos besar, ditugaskan untuk mengawasi apapun yang kamu lakukan. Katakan padaku jika kamu mau bekerjasama. Jika kamu memilih apa yang bos bilang, maka kamu tidak perlu khawatir mengenai nyawa orang tuamu.”
Pria itu menjeda kalimatnya sebentar.
“Satu lagi, senapan angin dan pelurunya telah siap mengoyak tengkorak kepala siapa saja yang menentang perintah bos besar. Jadi ini bukan hanya ancaman saja, melainkan lebih dari itu. Besok pagi pukul empat, ketuk jendela ini tiga kali, kalau kamu menyetujui perintah bos besar. Kalau aku tidak mendengar kode itu, berarti acara pernikahan ini bakal berakhir jadi pesta kematian.”
Suara di senyap-senyap malam itu kemudian menghilang. Langkah kakinya terdengar melandai lembut, hilang terbawa gelombang angin. Aku memejamkan mata sejenak, berusaha menafsirkan segalanya. Namun sepanjang memikirkan semua itu, aku tetap dihadapkan satu fakta. Ancaman!
Pernyataannya adalah, kenapa dia masuk ke dalam keluarga kami, meminang kak Irma tapi ujung-ujungnya ingin menikahiku? Sebenarnya, apa tujuan pria itu? Aku bahkan tidak mengerti jalan pikirannya. Aku sekali lagi dibuat takut. Sesuatu yang aku kira ancaman, nyatanya adalah sebuah kebenaran.
Maka pukul empat pagi, setelah bergelung semalaman tak bisa tidur, aku memutuskan mengikuti alur skenario yang dibuat kak Zacky. Dengan mata perih dan kepala yang berat, aku melangkah mendekat ke korden jendela. Mengetuk kaca jendela empat kali, sesuai perintah orang semalam.
Kupikir setelah melakukan itu, semuanya selesai. Ternyata apa yang aku duga tidak akan pernah sesuai dengan related kehidupan. Kemarin ketika aku terdiam membeku tidak bisa berbuat apa-apa, kak Zacky dengan sorot mata yang tajam seperti mengintimidasi, membuat sedikit badan ini bergidik ngeri. Ekspresi wajahnya adalah sesuatu yang baru pertama kali kulihat. Tatapan menakutkan dan kelam.
Sebelumnya, aku selalu melihat beliau dengan tatapan yang hangat, terlihat mengasihi dan perhatian. Lalu ketika dia menatapku seolah ingin membunuh itu membuatku ketakutan setengah mati.
Pukul sembilan pagi, di gereja yang dimaksud tempat dilangsungkannya pernikahan. Aku dan yang lainnya, terutama sebagai pengiring pengantin wanita berada di belakang persis punggung kak Irma. Mengantarnya ke dalam aula gereja menuju ke altar.
Banyak tamu undangan telah menanti kedatangannya. Terlihat juga ada kak Zacky yang sudah menunggu di altar, lengkap dengan Pak pendeta. Pria itu bersetel tuksedo hitam rapi dan terlihat elegan. Takut-takut aku menatap wajah itu. Wajah menakutkan yang balas menatapku dengan tatapan tajam, tidak bersahabat, pemarah dengan aura membunuh. Aku mengerti, dia sedang mengode. Seakan mengatakan melalui telepati bahwa aku harus mengikuti perintahnya kemarin.
Aku menundukkan kepala, merendahkan pandangan. Alibi membuang ketakutan. Aku tahu bahwa aku sedang dalam ancaman ketakutan. Karena itu, daripada ketakutan ini makin terasa dan mudah dipahami lawan, aku sebisa mungkin membuat gerakan peralihan. Namun ketika aku mengedarkan pandangan ke atas, ke langit-langit gereja, aku menyadari sesuatu yang benar-benar membuatku mengakui kalau kak Zacky tidak berbohong.
Ada puluhan laser hijau samar, yang mana setiap sinarnya telah terarah ke atas pucuk kepala orang-orang penting dalam keluargku. Itu adalah laser pucuk senapan. Sama persis seperti yang kak Zacky katakan kemarin. Orang-orang yang dimaksud kak Zacky telah bersiap, siaga melepaskan peluru ke kepala para tamu undangan, juga di kepala kedua orang tuaku. Ucapannya sungguhan benar. Dia tidak pernah dusta. Aku menelan ludah takut. Sesuatu yang aku kira hanyalah propaganda semata, kini menjadi kenyataan rupanya.
“Baiklah, sebelum aku memasangkan cincin di jari pengantin wanita yang akan aku nikahi pagi ini, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Mungkin kalian akan terkejut mendengarnya.”
Kak Zacky menatap semua orang. Satu tangannya memegang tangan kak Irma yang sedang tersenyum bahagia, senyuman yang membuatku senang sekaligus sedih. Sementara satu tangan kak Zacky yang lainnya sedang memegang cincin. Diantara keduanya ada wakil pendeta yang membawa baki berisi mahar pernikahan dan pendeta yang berdiri di tengah-tengah pengantin. Mata kak Zacky beredar, menatap semua tamu undangan dan kerabat.
Deg! Jantungku lagi-lagi berdetak lebih cepat. Keringat dingin mulai melanda. Ketakutan itu datang lagi. Badanku mendadak gugup dan bergetar hebat. Jika saja aku tidak menguatkan diri, barangkali kaki itu sudah terjatuh, tak mampu berdiri di atas lantai datar. Jadi, semua ini betulan terjadi? Bukan Dejavu?
“Sebenarnya aku ingin menyampaikan kalau pengantin wanitaku saat ini bukan seperti yang kalian lihat sekarang. Maksudku, aku ingin menikahi wanita lain di tempat ini, bukan Irma. Jadi aku akan memberitahu kalian semua prihal ini. Maaf jika mendadak, dan dengan berat hati harus disampaikan.” Kak Zacky melanjutkan ucapannya.
Saat perkataan itu didengar semua orang, ratusan tamu undangan bahkan ibu dan ayah juga adikku- Iqbal ikutan terkejut. Sama sepertiku yang menatap dalam kosong. Antara takut, gelisah, cemas, segalanya berpadu dalam satu. Puluhan orang bertanya-tanya, apa gerangan yang sedang disampaikan pengantin pria di atas sana. Kemudian yang lainnya berbisik-bisik, berkata bahwa pengantin pria sedang membuat lelucon.
“Pagi ini aku akan menikahi dia ....” Kak Zacky mengulurkan jemarinya, menunjuk diriku yang langsung menatap melotot. Mendadak tubuhku makin meningkat takut, keringat dingin membasahi badan, tubuh bergetar gugup tak karuan dan membeku. Semua mata telah tertuju padaku. Memandang penuh tanya.
“Indah, apa maksudnya ini?” Ibu bertanya, air muka terlihat jelas meminta penjelasan. Aku menelan ludah gugup. Entah jawaban apa yang hendak aku sampaikan.
Dalam sepersekian detik, tak tahu bagaimana jelasnya, tiba-tiba pria itu ada di depanku. Mengulurkan tangan, mengajakku baik ke atas pelaminan. Jelas saat itu terjadi, lagi-lagi semua mata seakan menusuk, meminta penjelasan lebih. Aku hanya bisa diam, tidak mampu berkata-kata. Semua terjadi cukup cepat, sampai aku merasakannya seperti angin yang berhembus cepat. Wush, kilat itu mengibaskan semua permasalahan ke satu titik.
••••
“Ayah, ibu, maaf jika telah membuat kalian kecewa. Maaf jika aku harus mengubah pandangan kalian tentangku, terutama telah mengecewakan Irma juga. Tetapi sekali lagi, aku berani bersumpah, sejatinya aku jatuh cinta pada Indah. Pertama kali hadir di rumah ini, Indah bagaikan pelangi yang mewarnai hidupku. Jadi tolong, kalian berikan restu kalian untuk kami.” Kak Zacky memohon di kaki ayah yang terlihat kecewa dan ibu yang tidak bisa menahan tangisannya sejak tadi.
Sementara itu, Kak Irma berada di kamarnya, meratapi betapa buruknya hari yang dilaluinya saat ini. Adiknya dituduh merebut calon suaminya, malah di hari pernikahan yang menikah si adik, bukan dirinya. Wanita mana yang telah berstatus pengantin dan sebentar lagi akan jadi seorang istri, lalu tiba-tiba impian indah itu harus pupus di saat yang tepat, satu menit sebelum insiden penyematan cincin itu batal mengalung di jemari.
Saat ini kami telah berada di rumah utama, selepas pulang dari gereja. Tentu diiringi dengan malu yang tidak bisa dibendung. Orang-orang menggunjing prihal kejadian tadi. Aku bahkan tidak ada muka lagi untuk berhadapan dengan mereka, terutama orang tuaku sendiri juga para kerabat dekat.
Dua jam lalu, aku naik ke atas pelaminan tanpa sepatah kata pun. Lalu dalam sekejap, semuanya telah terjadi. Pria itu mencium bibirku selepas mengucapkan janji pernikahan di depan pendeta dan patung Tuhan Yesus yang menggantung di langit-langit gereja. Saking tidak bisa berpikir jernih, aku bahkan tidak bisa mencerna mana itu kenyataan sesungguhnya, mana pula bayangan ketakutan.
Jadi ancaman ‘Keputusan menentukan masa depan’ yang dimaksud kak Zacky adalah ini? —Yaitu membunuh karakter orang lain. Meskipun aku tidak tahu tujuannya, yang pasti jelas kak Zacky ada maksud ingin memecah belah keluarga damai ini dengan aku adalah umpan utamanya. Dia pasti punya tujuan tertentu.
“Bilang sama ibu, apa kesalahan yang telah kami perbuat, sampai-sampai kalian berani berbuat hal mengecewakan seperti ini?” Ibu masih menangis, menatapku kemudian. Aku menundukkan kepala, tidak sanggup untuk berujar sepatah kata. Karena aku tahu, aku benar-benar bersalah dengan mengiakan perintah pria itu.
“Bu, tolong jangan salahkan Indah. Yang salah di sini Zacky karena lebih memilih dia menjadi pengantinku, bukannya Irma yang sudah menemaniku bertahun-tahun ini.” Pria itu menyela. Jawaban yang terlontar itu jelas tidak membuat hati ibu akan meluluh.
“Kalian sama-sama salah. Kenapa harus Indah? Kenapa juga harus menyakiti Irma? Kamu tahu kan kalau Irma itu sayang sekali sama kamu, nak Zacky! Kamu juga, Indah. Kamu tahu kalau dia itu calon suami kakak kamu. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini, hah? Seharusnya kalian bilang sejak awal jika kalian saling mencintai, mungkin kejadian mengejutkan ini tidak akan terjadi. Orang tua mana yang tidak akan kecewa, apalagi pengantin wanita yang calon suaminya menikahi orang lain. Lebih lagi, orang itu adalah adik kandungnya sendiri. Irma di dalam sana pasti lagi frustasi sekarang.”
“B—bu, maaf.” Aku menjawab lirih. Alih-alih bisa membujuk ibu, mencoba memahami apa yang terjadi, ibu malah membentakku.
Aku juga tak mungkin menjelaskan bahwa aku diancam. Aku tidak akan melakukan itu, karena aku sayang nyawa kedua orang tuaku. Hanya saja, aku dipaksa bertindak macam keledai bodoh oleh pria di sampingku. Melihat kemarahan ibu, aku merasa bahwa aku benar-benar tidak berguna. Aku adalah domba yang tersesat.
Tadi saja, saat akan berusaha bicara yang baik-baik, menjelaskan dengan kepala dingin pada kak Irma, dia malah tak menggubris. Banting pintu kamar, tidak menghiraukan aku sama sekali. Diperparah dengan komentar ayah yang tidak mau anaknya diganggu oleh wanita bersifat buruk sepertiku.
“Ayah sama ibu tidak mau mendengar alasan kalian berdua. Lebih baik kalian angkat kaki dari sini. Untuk Zacky, Indah kami serahkan padamu, karena kamu sudah menikahinya dan bertanggungjawab penuh atas segala hal tentangnya. Kedepan, jangan datang lagi ke rumah ini. Karena kalian harus menjaga perasaan Irma yang sekarang sedang terluka berat.”
“Ayah ....” Aku mencoba menyela, tetapi ucapanku terbata manakala kak Zacky menggamit tanganku.
“Ayah benar, sebaiknya kita pergi sekarang.”
“Satu lagi,” Ayah menginterupsi, sebelum kami melangkah pergi. “Indah, ayah sebenarnya tidak mau menyampaikan ini. Mau bagaimanapun, kamu tetap anak ayah. Kalian tidak ada yang dibedakan. Hanya saja, ayah juga cukup kecewa, karena kamu sudah mengacaukan segalanya. Kamu juga sudah membuat keluarga kita malu. Untuk sekarang ayah belum bisa memaafkan tindakan kalian berdua. Tetapi mungkin besok atau kapanpun, ayah bisa memaafkan kalian. Untuk saat ini, tolong jangan pernah menampakkan diri di depan keluarga kami. Karena itu akan terlalu menyakitkan bagi kami.”
“Ayah ....” Aku menangis ketika mendengar pernyataannya. Ucapan itu benar-benar menyakiti hati. Ayah berkata seolah seperti sedang berbicara kepada orang lain, bukan putrinya. Apakah ayah bermaksud membuangku hanya karena alasan ini? Padahal aku tidak melakukan apapun.
Aku ingin protes, ingin pula menuntut kenapa ayah bisa bicara enteng begitu, seakan beliau sedang berkata tanpa beban pada anak yang bukan darah dagingnya. Tetapi lagi-lagi sepasang tangan kekar dan lebar menginterupsi, memegang pundakku, mengajak segera pergi dari sana. Yang membuatku mau tak mau menuruti perintah itu.
Betul sekali. Tindakan Zacky seperti mewakili diriku yang seharusnya tidak perlu berkata apapun lagi. Percuma. Semua orang tidak akan mempercayai aku. Karena apa yang mereka lihat adalah kebenaran. Sebuah kebenaran bahwa aku adalah perusak momen kebahagiaan orang lain!
“Bos, selamat datang.” Beberapa orang menyambut kedatangan kami, setibanya mobil sedan hitam itu menepi di depan lobi rumah besar, bercat putih marmer.
Pria yang dipanggil bos mengangguk. Aku memerhatikan keadaan sekitar. Ada banyak orang. Laki-laki semua. Badan mereka tinggi dan besar, berperawakan menakutkan. Dari semua orang, mungkin hanya Zacky saja yang terlihat paling enak dipandang. Mukanya terlihat menyeramkan, tetapi paling tidak itu yang lebih baik dari yang lain. Misalnya seperti pria yang mukanya ada codet, badan kekar dipenuhi tato. Aku takut melihatnya. Mengerikan.
Mengenai tempat yang baru saja aku datangi, segalanya bisa saja jadi sesuatu yang baru untuk diceritakan. Rumah itu berlipat-lipat lebih luas dari rumah kami di tengah kota. Namun kediaman ini berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian megapolitan. Sepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah bukit, hutan, jalan curam dan bibir pantai. Rumah itu sangat besar, terlihat dari pintu masuk di luar sana. Akan sulit mendeskripsikannya seperti apa.
Rumah ini ada kubah yang dicat biru langit. Ada patung di depan pintu masuk dekat gerbang. Jarak pintu masuk itu kira-kira 200 meter. Jalan berhias paving blok, ada taman dan kolam air mancur di depan rumah. Lobi atau teras dipasang karpet merah. Rumah tiga lantai itu sangat megah. Belum pernah aku melihat rumah semewah ini di pinggir pantai di tengah hutan yang dikelilingi perbukitan.
“Ini Nyonya baru kalian, perlakukan dengan baik.” Zacky memberitahu anak buahnya di depan teras rumah, sebelum masuk ke dalam. Jumlah mereka puluhan. Menunduk mereka kala menyambut kedatangan sang Tuan. Aku menelan ludah. Ternyata apa yang kak Zacky katakan sepenuhnya adalah kebenaran. Dia tidak berbohong. Demi Tuhan. Ternyata aku sedang menjadi tawanan sekaligus istri seorang mafia besar. Katakanlah grand mafia.
“Siap, bos.” Satu-dua menyahut.
Aku mengekori pria berjas hitam itu masuk ke dalam. Tentu masih mengenakan baju yang serupa saat di gereja beberapa jam lalu. Baju bridesmaid yang mungkin terlihat norak. Di rumah besar ini, hanya ada aku dan dia. Orang-orang dengan perawakan menyeramkan itu tidak masuk ke dalam, menunggu di luar saja.
Zacky melempar jas hitamnya ke atas sofa, lalu membanting pantat di samping sofa empuk lainnya di ruang tengah. Pria itu menatapku lekat-lekat. Perempuan yang sedang ketakutan dan gugup bersamaan. “Apa yang kamu tunggu di situ?”
Aku menggeleng, “Aku tidak tahu.”
“Ck, perempuan tolol. Sini aku beritahu. Sekarang kamu memang Nyonya rumah di sini, jadi aku perjelas satu-satu. Tugas kamu di sini membersihkan seisi rumah dan sebagainya, memasak untuk anak buahku, lalu membersihkan kandang macan, singa, harimau dan beruang di kandang belakang. Lalu jangan lupa memangkas bunga-bunga di taman depan. Untuk sekarang, kamu aku izinkan istirahat. Kamu harus mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Kucing yang aku jadikan babu seharusnya diperlakukan lemah lembut sebelum dipekerjakan sebagai buruh kasar.”
Aku menatap melotot. Eh, maksudnya apa? Membersihkan segalanya, aku sendirian? Aku juga kucing dibilangnya? Aku babu? Hah, tidak salah dia bilang begitu?
“Di mana pembantu yang lain?” Spontan pertanyaan itu terlontar. Logikanya, tidak mungkin di sini tidak ada yang namanya pembantu. Sebab rumah ini besar dan luas. Kalau aku yang mengerjakan sendiri, aku pasti akan bilang menyerah. Tidak sanggup.
Zacky menyeringai, memperbaiki posisi duduknya. “Pembantu? Apa aku tidak salah dengar?”
“Aku melakukannya sendirian?”
Zacky menatapku melotot, “Kamu kira aku bawa ke sini untuk aku jadikan ratu, hah? Kamu kira kamu itu spesial, hanya karena kamu cantik lalu aku nikahi? Kamu kira kamu menarik, sampai-sampai membuat aku betulan cinta sama kamu? Jangan harap itu terjadi, perempuan tolol!
Pria itu berdiri dari duduknya, lalu mendekatiku. Tanpa tedeng aling-aling, tangan kekar dan besarnya menjambak rambut belakangku. Demi Tuhan, itu sakit sekali rasanya.
“Perempuan seperti kamu pantasnya diperlukan seperti ini. Kamu suka dikasarin kan?”
“Kak Zacky, sakit.” Aku meringis. Satu tangan menahan tangan Zacky supaya tidak menjambak rambutku sekuat tenaga.
“Hah, sakit? Kamu bisa merasakan sakit juga, ya? Bagaimana kalau dengan yang ini?”
Ah, aku makin meringis. Dia memperkuat tangannya mencengkram rambutku. Rasanya kulit kepalaku akan lepas dari tengkorak kepala. Tanpa terasa air mata keluar di pelupuk retina, kemudian jatuh dan membentuk parit di pipi. Aku menangis, jelas itu aku lakukan. Sebab rasa sakit ini tidak bisa ditahan sama sekali.
“Inilah derita yang harus kamu terima. Sebuah kesakitan yang juga adikku alami.” Dia berkata lirih di telinga, kemudian mendorong tubuhku jatuh ke lantai. Aku terisak pelan.
Ini baru sehari dan dia telah menyiksaku begini. Aku tidak mengerti entah apa salahku, sampai-sampai diperlakukan macam hewan. Aku tidak punya masalah dengannya, tetapi kenapa dia melakukan itu.
“Bagaimana rasanya? Enak? Atau sakit?” Zacky jongkok di depanku, mengamati wajah yang telah menggugurkan air mata. Aku mengusap pipi, menghapus lelehan air mata. Lalu menatapnya sesaat.
“Kenapa kakak melakukan ini?” Aku bertanya diiringi tangisan tersedu-sedu.
“Kamu mau tahu jawabannya?”
“Tolong beritahu aku. Salahku apa, sampai-sampai kakak tega dan tidak manusiawi seperti ini padaku. Aku tidak pernah berbuat salah sama kakak, lalu kenapa aku diperlakukan begini?”
“Salah kamu itu satu, kenapa kamu harus hidup di dunia ini.” Zacky menarik pergelangan tanganku, memaksa aku berdiri. “Hari ini kamu istirahat dulu di kandang hewan peliharaanku. Besok kamu baru boleh tidur di dalam rumah ini.”
“Aku nggak mau. Kak Zacky, jangan!” Aku meronta, berusaha berontak, melepaskan cengkraman tangannya yang kian kuat. Dia menyeretku, membawa keluar ke arah belakang rumah, melewati sayap samping kiri. Sekuat apapun aku melawan, kenyatannya aku tidak bisa mengalahkan dia.
Tempat itu menembus ke taman (seperti taman Zen), ada semacam pondok berkubah dicat hijau, bangunan di bawah kubah pondok itu dicat warna merah. Jalan setapak yang kami lalui (tanah yang kami pijak) dipasang batu pualam pipih sebagai lantainya. Dipasang berjarak, sesuai rentang kaki. Diantara jalan kami ada pagar beton pembatas rumah setinggi empat atau lima meter, ditambah jeruji kawat di atasnya, membentang sepanjang tanah seluas mata memadang.
Sepanjang perjalanan dia menyeret, aku berusaha melawan. Aku memang tidak paham apa salahku, sampai-sampai dia berani berbuat kasar. Tetapi sebagai kaum yang tidak pernah salah, aku berhak mempertanyakan apa yang salah dariku padanya? Namun tetap saja, pria itu tak bergeming. Malah bertindak arogan.
Tibalah kami di sebuah bangunan, seperti bentukan kandang sapi di peternakan Swedia. Tapi bentuknya menyerupai bungker persegi kotak. Kandang itu besar dan tinggi. Pintunya saja ada dua, yang kalau didorong berbentuk dua arah, ke kanan dan ke kiri. Ketika pria itu mendorong daun pintu yang dibantu penjaga gudang, dia melempar tubuhku ke lantai tanpa perasaan. Sampai aku jatuh di tumpukan jerami kering.
Aku terpental, sudut sikuku terluka. Aku menangis saat itu, hendak protes. Tapi pria itu telah berada di depanku, tangan kasarnya meremas daguku, mendongak, memaksa kami saling bertatapan sengit.
“Kamu bajingan!”
“Ya, aku memang bajingan. Tapi ini belum seberapa dengan apa yang akan kamu terima besok dan besoknya lagi.” Dia tersenyum menyeringai.
Aku memalingkan wajah, sedikit agak bergidik takut ketika melihat sorot tatapan matanya yang tajam dan sombong. Aku menahan geram, amarahku berada di puncak, degup jantung dan napasku membuncah cepat.
“Kamu pria bedebah, pria berengsek, manusia sialan. Aku benci kamu!” Aku membabi buta, tanpa kusadari aku telah melepaskan satu pukulan keras, melesak dan meledak di muka Zacky.
Aku lumayan terkejut atas tindakan yang baru saja aku lakukan. Masalahnya, pria itu menatapku nyalang, sesaat setelah tamparan itu membuatnya terseok, berpaling muka ke kiri. Sudut bibirnya terluka, darah mengalir keluar. Cap tanganku tergambar di pipinya cukup jelas dan memerah. Namun keadaan berikutnya membuatku merinding, bukannya dia terlihat kesal, pria itu justeru kembali menyeringai.
“Bagus. Baru beberapa menit di sini kamu sudah menamparku. Rupanya kamu belum tahu berurusan dengan siapa.” Zacky mengangkat tangannya, bersiap melayang di udara, hendak menamparku.
Kurasa begitu. Aku menutup mata, takut sekali tamparan itu keras, sampai membuat wajahku bengkak dan memar. Namun tidak. Tangannya tak sampai di wajahku. Padahal diri ini siap menerima resiko atas apa yang aku lakukan. Bahkan sudah memejamkan mata, supaya bisa meredam rasa sakit. Aku yakin bahwa tenaga dalam kak Zacky jauh melampaui apa yang aku bayangkan.
Aku membuka mata pelan, memandang dirinya yang terus tersenyum ambigu. Tangan kekar itu mendarat di pipiku, diusap lembut tapj syarat akan sebuah makna. “Untuk sekarang, kamu tidak perlu aku kasari. Tapi mungkin besok.”
“Cih, bajingan!”
“Ya, memakilah sepuas hati. Karena akan ada tibanya hari pembalasan, kamu akan memohon padaku untuk diberikan kebebasan.”
“Bos, maaf mengganggu. Anak buah kita telah siap untuk pengiriman perdagangan manusia ke Meksiko.” Satu pria menyela. Suara itu mirip suara yang semalam mengetuk kaca jendela kamarku. Tidak salah lagi, dia orangnya.
Zacky berdiri dihadapanku, tatapannya masih sama Menyeramkan. “Aku akan menyusul. Kamu ikat dia, borgol dengan besi-besi. Pastikan dia membeku karena dipasung seharian.”
“Siap, bos. Dilaksanakan.” Pria itu mengangguk. Zacky meninggalkan gudang.
Pria yang tadi bicara pada pria itu menarik lenganku. Perlakuannya cukup lembut, tidak kasar-kasar amat. Membawaku masuk ke dalam gudang, jauh ke dalam sana. Sampai tiba di tengah gudang, aku terperanjat kaget ketika hewan-hewan buas mengaum garang. Menatap lapar ke arah kami yang melintasi sel jeruji besi, pengurung hewan buas.
Yang di kiri ada harimau dan macan. Sel jeruji sebelah kanan adalah kandang beruang dan singa. Aku menelan ludah takut. Suara auman hewan buas itu membuatku nyaris mati berdiri. Berjalan mondar-mandir, menatapku lapar, seakan akulah umpan makan siang mereka kali ini.
“Maaf, Nyonya. Ini perintah bos.” Pria itu berkata lirih, memasangkan tangan dan kakiku dengan borgol rantai besi berkarat. Itu cukup berat, aku bahkan tidak yakin bisa mengangkat rantai-rantai yang telah terkunci di tangan dan kaki serta di leher. “Tuan sebelumnya memerintahkan bahwa Nyonya akan tidur di sini dengan hewan peliharaannya. Dapat jatah makan dua hari sekali. Untuk dua hari kedepan tidak akan ada yang ke sini.”
Aku melongos, buang muka. Posisiku saat itu berada di ujung lorong, diantara empat jeruji besi yang mengurung dan memisahkan empat hewan buas. Aku meringkuk, duduk di lantai, menangkup muka, bersembunyi dan diam dalam tangisan. Entahlah, aku bingung dengan situasi yang aku hadapi. Masalahnya, aku tidak paham kenapa aku harus menerima kenyataan ini. Sementara aku merasa bahwa aku tidak pernah bersalah dengan Zacky.
“Lalu, bagaimana dengan makanan hewan-hewan buas itu?” Aku bertanya, sebelum pria yang tadi sempat bicara dengan Zacky melangkah keluar dari gudang hewan buas.
“Mereka diberikan makan setiap hari. Tapi tidak dari sini, melainkan dari sana,” katanya menunjuk ke arah atap di atas kurungan hewan. Ada celah besar, ada troli dan pengait daging. Aku paham maksudnya, mungkin mereka memberikan santapan para hewan buas itu dari atas.
Aku menghela napas, miris memikirkan kejadian hari ini. Seharusnya aku tidak merasakan hal ini, bukan? Apa yang aku bayangkan tentang kebahagiaan kak Irma, kini malah jadi petaka bagiku sendiri. Zacky bilang kesalahanku karena aku hidup, penderitaanku ini pun harus sama seperti yang diderita adiknya. Pertanyaanku, siapa adik Zacky yang pernah aku sakiti, sampai pria itu nekat membalaskan dendamnya padaku. Bahkan bersikap kasar, tidak pandang bulu bahwa aku perempuan.
Pada akhirnya, malam yang dingin menyelimuti tubuhku yang meringkuk di lantai bertumpuk jerami.