"Valeta," gumam Deo kaget di mana pandangan ketiga sahabatnya kini tertuju pada Deo.
"Bukankah itu Valeta? Apa yang ia lakukan bersama dengan Thomas?" tanya Karel pada Deo.
Deo hanya diam dengan tatapan mata yang tertuju pada tangan Thomas yang bertengger di pinggang ramping Valeta.
"Yaelah, baru juga mau ngelakuin misi, masih harus CLBK segala," sindir Savero yang mana hal itu membuat Deo menatap sinis Savero.
"Mantan pakai lewat segala, kan jadi gagal misinya," ledek Melvin sembari menuang koktailnya ke dalam gelas.
BRAK
Melvin yang hendak meraih gelas slokinya kini terperanjat kaget kala Deo menghentakkan sepatu bootsnya.
"Siapa bilang gagal, enggak ada yang namanya perempuan dalam sebuah misi," ujarnya lalu melenggang pergi untuk menghampiri Thomas.
Mereka bertiga yang melihat hal itu sontak langsung bertepuk tangan secara bersamaan.
"Kira- kira hatinya terbuat dari apa?" gumam Karel bertanya.
"Kira- kira perempuan mana yang akan meluluhkan hatinya kelak?" kini giliran Melvin yang bertanya.
"Enggak usah kira- kira, entar kalau udah ketemu yang cocok tuh anak juga bakal bulol pada waktunya, kayak enggak pernah lihat film aja," sarkas Savero sembari melenggang pergi menyusul Deo.
"Kenapa ia selalu mematahkan imajinasi kita?" tanya Melvin yang heran dengan sikap Savero.
"Lagian kan kita beda, kita fiksi mereka nyata," kini giliran Karel yang berpendapat membuat Melvin menghela napas gusar.
"Entah kenapa aku selalu merasa hipertensi setiap kali hanya mengobrol dengan kalian," gumam Melvin frustasi.
Sedangkan di ruang VVIP kini Thomas sedang melakukan transaksi dengan Valeta di sampingnya.
Tangan kekar itu bahkan tidak lepas dari pinggang ramping Valeta.
Tok tok
Semua menoleh tampak Deo bersandar di pintu sembari melayangkan senyum manisnya.
"Deo," gumam Valeta terkejut kala melihat Deo untuk kali pertamanya setelah putus dulu.
"Hei, kita jumpa lagi," sapanya pada Thomas tanpa menatap Valeta sedikitpun.
Deo masuk disusul ketiga temannya yang kini tengah berjaga di ambang pintu.
Deo yang melihat pria China yang duduk berhadapan dengan Thomas tersebut enggan pergi sontak Melvin langsung maju.
Melvin dengan begitu lancarnya berbicara bahasa China dengan orang itu membuat Deo tersenyum tipis.
Savero dan Karel yang berada di belakang, kini merasa takjub dan kagum dengan keahlian khusus Melvin dalam berbicara berbagai bahasa.
"Siapa yang percaya jika dibalik otak mesumnya ia sangat cerdas," gumam Savero yang diangguki oleh Karel.
"Besok- besok kalau gue nikah terus honeymoonnya di Switzerland, masak iya gue harus ngajak Melvin," Savero menoleh menatap jengah Karel.
Pria China itu pergi begitu saja membuat Thomas langsung marah dan berteriak untuk bisa menghentikan pria tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengusirnya?" teriaknya begitu keras membuat Deo hanya tersenyum dan duduk manis di depan Thomas.
"Ayolah jangan marah, aku hanya ingin menyapamu," ucapnya dengan santai sembari meraih botol sampanye tersebut dan langsung menenggaknya hingga tandas.
Brak
Thomas menggebrak meja di depan Deo hingga sampanye yang ia tuang tadi tumpah.
"Apa kau mencari masalah denganku? Kau lupa, aku bisa saja menghabisimu sekarang ini, jadi jangan banyak tingkah hanya karena kau seorang pemimpin Klan Wolf," oloknya yang begitu marah dan kesal terhadap Deo.
"Lalu habisi aku sekarang," perintahnya pada Thomas.
Valeta yang sejak tadi berdiri di samping kiri Thomas tak mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Deo.
"Kenapa? Kau tak punya senjata? Mau kupinjami?" tanyanya dengan meledek sembari memainkan revolverlnya.
Thomas diam sembari menatap tajam Deo yang telah menghancurkan penjualan marijuananya.
"Aku tidak akan memainkan pistol ini, asal," ujar Deo yang menjeda ucapannya.
Thomas dengan cepat langsung menarik Valeta sebagai tamengnya sembari memegang pisau kecil di dekat leher Valeta.
"Jangan banyak bicara, jika kau tak ingin wanita ini terluka," ancamnya pada Deo.
Deo tersenyum lalu menyempatkan diri untuk minum sampanye yang tadi sudah ia tuang.
"Kau tidak tahu berita di internet, sudah lama aku dikabarkan homo, dan aku paling benci dengan sosok yang bernama wanita, jangan jadikan wanita sebagai senjatamu, itu hanya akan menunda kematianmu," beritahunya dengan begitu jelas dan penuh penekanan seakan tengah menyindir Valeta saat ini.
Valeta yang mendengar hal itu kini menahan tangisnya.
Thomas tersenyum mendengar ucapan Deo.
"Kau sungguh lucu sekali, mana mungkin kau tega melukai wanita, jangan jadikan berita di internet sebagai alasanmu," tolak Thomas yang tidak mau mengakui jika Deo membenci sosok wanita.
"Terserah, aku sudah memperingatimu, jika aku sangat membenci wanita. Mereka hanya membuat susah dan memperumit keadaan," jelasnya pada Thomas sembari memainkan revolvernya.
"Deo," panggil Valeta setelah sekian lama ia diam sejak tadi.
Deo seakan tuli dan buta, ia bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Cepat Thomas, beritahu di mana kau simpan semua marijuanamu yang kau impor minggu lalu, dengan begitu aku akan mengampunimu," ucap Deo yang memberikan kesempatan satu kali pada Thomas.
Thomas tertawa mendengar hal itu.
"Kau pikir aku bodoh? Tentu aku tidak akan memberitahumu," tolak Thomas dengan ledekan membuat Deo hanya tersenyum sembari mengongkang senjatanya.
DOR
"DEO," teriak ketiga sahabatnya kala Deo dengan gamblang dan santainya menembak Valeta, mantan kekasihnya dulu.
Thomas yang sejak tadi memegangi tubuh Valeta, kini kakinya terasa sangat lemas sekali kala melihat darah keluar dari dada depan Valeta.
Brugh
Valeta terjatuh di lantai dan Thomas terlihat masih syok dan tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.
"Sudah kubilang, aku paling benci sosok yang bernama wanita, mereka hanya memperumit keadaan," ujarnya sembari menodongkan revolvernya pada Thomas.
Pisau yang sejak tadi Thomas genggam kini terjatuh di lantai saking syoknya.
"Sekarang katakan, di mana marijuana itu kau simpan?" tanyanya sekali lagi.
Thomas langsung bersimpuh di depan kaki Deo.
"Aku menyimpannya di desa Pinus, Shelby yang mengambil alih semua marijuana itu," beritahunya pada Deo.
Deo kembali mengongkang senjatanya membuat Thomas semakin bersujud.
"Kemungkinan Shelby membangun markas di tengah hutan untuk menyimpan semua marijuana itu," ujarnya dengan jujur namun yang namanya Deo Morte Picasso, tidak bisa tahan jika tidak melihat darah dari seorang pengkhianat seperti Thomas.
DOR
DOR
Dalam hitungan detik Thomas sudah tergeletak di lantai dengan bersimpah darah.
"Wah apa itu sungguh menyenangkan bagimu? Kau menghabisinya setelah ia berkata jujur," ujar Melvin yang heran dengan pemikiran Deo.
"Siapa yang tahu jika ia akan berkhianat," jawabnya dengan santai sembari beranjak dari kursi dan memasukkan revolverlnya ke dalam saku.
"Lalu bagaimana bisa kau dengan tega menembak mantanmu sendiri? Kau tidak ingin balikan?" tanya Savero yang menggoda Deo.
"Mereka hanya membuat masalah dan memperumit keadaan, aku tak akan berurusan dengan sosok yang namanya wanita, kalian camkan hal itu," tegasnya sekali lagi pada ketiga sahabatnya lalu melenggang pergi keluar dari ruang VVIP.
Mereka bertiga menghembuskan napas dan menatap iba kedua orang yang tewas di tangan Deo tersebut.
"Bagaimana jika roh Valeta gentayangan karena CLBK?" tanya Melvin yang sempat- sempatnya memikirkan hal itu.
Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.
Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.
Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.
"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.
Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.
Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.
Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.
Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.
Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.
"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di ruang tamu.
"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.
"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.
"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.
Tentu tentang kontes perjodohan.
Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Pluk
Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.
"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.
Deo menghembuskan napas beratnya.
"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.
"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.
"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.
"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.
"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.
"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.
"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.
Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.
"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.
Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.
"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.
"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.
"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.
Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.
"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.
"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.
Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.
"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.
Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.
"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.
Deo menatap papanya tersebut.
"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.
"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.
"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.
Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.
Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.
Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.
Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.
Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.
"Ya tuan,"
"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.
"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.
Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.
Hei semua
Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?
Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.
Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.
Jika berkenan silahkan mampir.

Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.
Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.
Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.
"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.
Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.
Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.
Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.
Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.
Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.
"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di ruang tamu.
"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.
"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.
"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.
Tentu tentang kontes perjodohan.
Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Pluk
Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.
"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.
Deo menghembuskan napas beratnya.
"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.
"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.
"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.
"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.
"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.
"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.
"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.
Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.
"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.
Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.
"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.
"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.
"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.
Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.
"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.
"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.
Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.
"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.
Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.
"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.
Deo menatap papanya tersebut.
"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.
"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.
"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.
Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.
Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.
Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.
Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.
Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.
"Ya tuan,"
"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.
"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.
Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.
Hei semua
Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?
Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.
Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.
Jika berkenan silahkan mampir.
IG: Sherlynursafitri