Bab 1

"Murni tolong nasehati anakmu itu! Menikah dengan putri keluarga Haris Manggala itu sebuah anugerah. Tidak sembarang orang bisa menikahi anak gadis semata wayangnya itu! Dia malah punya pilihan sendiri yang dari kalangan sama seperti kamu" Adhyatsa geram dengan penolakan Revan yang dianggapnya pembangkang di keluarga ini.

Revan mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Kesal saat mendengar penghinaan sang kakek pada wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. Sang Bunda hanya diam saja saja tanpa berani membantah ayah mertuanya. Sejak--Panji Adhyatsa meninggal, mereka masih diizinkan untuk tinggal di rumah ini. 

"Revan, menikahlah dengan putri Tuan Haris. Bunda yakin, putri mereka adalah gadis baik. Bantulah sedikit Bundamu yang sudah tua ini, Nak," lirih Murni sambil menahan air matanya yang hendak menetes saat ini.

Murni tidak bisa melawan sikap otoriter ayah mertuanya. Mendiang Panji adalah putra satu-satunya keluarga Adhyatsa. Saat ini perusahaan mereka yang bergerak dibidang pariwisata, keuangan, dan properti sedang diambang kebangkrutan. Ada yang salah dalam manajemen keuangan mereka. 

Kedua saudara ipar Murni--Santi dan Linda juga ikut membantu keponakan meraka agar setuju menikah dengan putri konglomerat itu. Tujuan pernikahan bisnis itu adalah menyelamatkan perusahaan mereka dari kebangkrutan. Sayang Revan tidak menginginkan semua itu. Ia mencintai sosok Mayang.

Mayang Mandasari, gadis yang telah mencuri hatinya sejak tujuh tahun lalu. Tepatnya sejak gadis itu duduk di bangku kelas 1 SMA. Secara kebetulan, ibu gadis itu bekerja di rumah Adhyatsa sebagai asisten rumah tangga. Naif memang, cinta pada pandangan pertama yang dialami oleh Revan.

"Bunda ... harus berapa kali aku harus jelaskan jika aku mencintai Mayang. Hubungan kami serius," kata Revan sambil menahan amarah pada sang kakek yang selalu memuja bibit, bebet, dan bobot.

Belum sempat Murni menjawab ucapan sang putra,  Adhyatsa mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Pun dengan kedua tante Revan--adik kandung mendiang ayahnya yang ikut mendesak perjodohan itu. Perusahaan mereka benar-benar diambang kehancuran saat ini. Semua orang sangat egois saat ini.

"Kamu mau menikahi anak pembantu itu? Meskipun dia sudah sarjana sekali pun tidak akan mengubah status sebagai anak pembantu! Hasilnya apa? Lihat Bundamu yang datang dari kalangan gembel, Panji harus meninggal muda!" Adhyatsa mengucapkannya dengan suara lantang.

Murni menghela napas berat. Memang benar pernikahan mereka ditentang oleh Adhyatsa. Mendiang Panji-lah yang nekat menerima kehadiran Murni karena lahir penerus Adhyatsa--Revan. Revan tidak terima saat mendengar ucapan sang kakek.

"Revan, Bunda minta. Tolong menikahlah dengan putri dari keluarga Manggala." Kali ini Murni berlutut di kaki Revan sebagai permohonan.

"Bun-Bunda ... jangan seperti ini. Revan mohon bangunlah." Revan mencoba mengangkat sang Bunda agar tidak berlutut.

Hati Revan hancur seketika saat melihat wanita yang dicintainya itu harus memohon dan berlutut di kakinya. Semua tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Murni. Mereka merasa ini adalah hal baik. Kelemahan Revan ada pada Murni.

"Baiklah. Aku akan menikahi putri keluarga Manggala." Revan akhirnya setuju dengan usulan sang kakek.

Murni langsung memeluk Revan dan mengucapkan banyak terima kasih pada putra semata wayangnya. Beliau tidak ingin mendapatkan masalah lebih besar lagi. Kehadirannya dalam keluarga ini tidak pernah dianggap oleh mertua dan saudara iparnya itu. Perlakuan tidak menyenangkan seringkali diterima oleh Murni.

"Tapi, aku punya syarat," kata Revan dengan nada dingin dan menatap pada ketiga orang yang sangat dibencinya itu.

"Wah ... cecunguk kecil ini berani meminta negosiasi. Memang apa syarat kamu? Hah!" Adhyatsa membentak cucu sulungnya itu dengan kasar.

"Perlakukan Bundaku dengan baik. Bunda bukan seorang pembantu yang bertugas menyelesaikan semua kebutuhan orang di rumah ini. Jika kalian tidak sanggup aku akan membatalkan rencana perjodohan ini. Aku akan pergi ke tempat jauh. Tidak apa melepaskan semua fasilitas yang telah kakek berikan." Revan ingin semua orang menghargai keberadaan wanita yang telah melahirkannya itu.

Adhyatsa hanya menghela napas panjang. Ternyata cucunya lebih cerdas dari apa yang dibayangkannya. Kehadiran Murni di rumah besar miliknya memang untuk dijadikan pembantu gratis. Lumayan tidak mengeluarkan uang untuk membayar asisten rumah tangga. 

"Kakek dan Tante setuju?!" Suara Revan menggelegar di seluruh ruang keluarga Adhyatsa. 

"Baiklah." Adhyatsa tidak mau berdebat lagi dengan cucu laki-laki satu-satunya.

Adhyatsa segera meninggalkan ruang keluarga dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Senang sekaligus tidak suka dengan syarat yang diajukan oleh Revan. Pun dengan Santi dan Linda yang juga akhirnya meninggalkan ruang keluarga. Mereka tidak akan tahu, betapa sakitnya hati Revan saat ini.

Terpaksa harus memutuskan hubungan dengan Mayang adalah salah satu fase hidup menyakitkan bagi seorang Revan. Gadis itu sedang berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya. Sebab, selesai kuliah, Revan berjanji akan menikahinya. Sayang janji itu tak akan pernah terwujud.

Murni bukan tidak tahu jika Revan sangat mencintai Mayang. Sejak awal gadis berkulit putih bak porselen datang bersama ibunya, anak semata wayangnya sudah menaruh hati pada Mayang. Gadis pemalu yang mampu memikat hati Revan dengan sikapnya yang sopan.

"Nak, jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Mungkin dengan menikahi putri Tuan Haris, semua akan berubah baik-baik. Bunda bukan tidak tahu jika kamu sangat mencintai Mayang. Tapi, Bunda minta maaf, tolong kabulkan permintaan Bunda. Usia tidak ada yang tahu, anggap saya ini permintaan Bunda yang terakhir." Murni mengatakannya dengan suara parau menahan tangis.

Revan menahan napas beberapa detik. Matanya sebak, menahan agar air matanya tidak jatuh. Bukan malu untuk menangis, tetapi ia merasa nasib selalu tak berpihak baik padanya. Revan mengepalkan tangannya dengan erat hingga terlihat buku-buku tangannya memutih.

"Bunda ... andai Ayah masih ada ...." Revan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena sesak yang dirasakan dalam dada. 

Seperti ada jutaan paku yang menancap di dadanya. Menyakitkan! Ia bahkan tidak tahu harus bagaimana saat ini. Perusahaan dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ada banyak karyawan dan karyawati yang menggantungkan nasib pada perusahaan Adhyatsa grup.

"Ayahmu pasti juga akan menyetujui permintaan Kakekmu. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya bernasib buruk. Semua demi kebaikan bersama. Ingat, Ayahmu juga Kakekmu membangun perusahaan dengan tetesan keringat, air mata, yang sangat luar biasa. Mereka bekerja dari nol. Bukan seperti saat ini. Maka, bantulah Kakekmu saat ini. Anggap, sebagai baktimu pada beliau," kata Murni sambil berusaha tegar karena tidak sanggup melihat kesedihan di mata sang putra.

"Baiklah, jika memang Bunda sepaham dengan Kakek. Aku akan menuruti apa pun yang Bunda turuti. Aku permisi dulu," pamit Revan meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke lantai dua.

Revan segera mengunci pintu kamarnya. Sesak di dadanya benar-benar menyakitkan. Bagaimana ia akan menyampaikan ini semua pada Mayang? Rasanya ia tidak akan sanggup. Mengingat senyum gadis pujaan hatinya saja sudah membuatnya tidak tega untuk memutuskan hubungan itu.

Bab 2

Malam semakin larut, Revan biasanya akan menghubungi Mayang sebelum tidur. Kali ini tidak, ia butuh menenangkan hati. Tidak semudah itu melepaskan seorang Mayang Mandasari. Rumah yang dibelinya beberapa waktu lalu di sebuah pinggiran Kota Jakarta bersama dengan Mayang akan diberikan untuk gadis yang namanya akan selalu di hatinya.

Hingga pagi menjelang, Revan sama sekali tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Rasa kantuknya hilang, entah menguap kemana. Bayangan air mata Mayang menghantuinya ketika nanti harus mengatakan sebuah kejujuran; dirinya dijodohkan.

"Pagi semua," sapa Adhyatsa saat semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan pagi bersama. 

Kali ini Murni ikut duduk bersama dengan merak semua. Linda dan Santi tampak jijik menatap ke arah kakak iparnya. Revan paham dengan arti tatapan kedua tantenya. Tangan Murni mencekal lengan putra semata wayangnya; memberikan kode agar tidak membuat masalah pagi ini.

"Baik, karena sudah berkumpul, maka saya akan mengumumkan sesuatu. Minggu depan, kita akan kedatangan keluarga Haris Manggala. Jadi, Revan, kamu harus sudah putuskan hubungan dengan anak babu itu! Saya akan menepati janji ketika kamu sudah memutuskan hubungan dengan anak babu itu!" Tatapan tajam seperti pedang menghunus tepat ke arah Murni dan Revan. "Kamu bersedia? Jika tidak, Bunda kamu akan tetap menjadi babu di rumah ini," lanjutnya dengan sombong.

Revan menghela napas dengan kasar. Tidak bisa menerima ucapan Kakeknya. Ia tidak habis pikir, mengapa hingga saat ini Adhyatsa masih saja membenci sang bunda. Kebencian yang tidak berdasar.

"Baik." Revan hanya menjawab singkat dan dingin ucapan Adhyatsa. Saya pergi kerja dulu," lanjutnya sambil beranjak hendak meninggalkan meja makan.

Revan berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. Rasa laparnya mendadak hilang seketika. Muak dengan sikap sang kakek yang otoriter dan selalu merendahkan sang Bunda. Baginya, Bunda adalah wanita yang paling baik.

Sesampainya di kantor, semua karyawan mengangguk sebagai rasa hormat pada calon pewaris perusahaan ini. Revan--cucu Adhyatsa yang sikapnya sangat dingin itu disegani oleh banyak pihak tanpa kecuali. Tangan dinginnya saat mengerjakan tender dengan berbagai perusahaan selalu mendatangkan hasil. Baru kali ini saja Adhyatsa Group mengalami kemerosotan tajam.

"Hardi, tolong semua berkas yang harus saya tanda tangani bawa ke meja saya, sekarang!" Revan memerintah sekretarisnya yang sudah bekerja selama satu tahun belakangan. 

Revan sengaja mencari sekretaris laki-laki karena mereka tidak akan menyusahkan. Bukan karena kelainan seksual yang dideritanya seperti berita yang entah datang dari mana. Dulu, Anggi--sekretaris Revan selalu saja merepeotkan. Mulai baju yang terbuka bagian dada dan paha dan betapa leletnya pekerjaan wanita itu.

Hingga Revan memutuskan untuk memberhentikan kerja wanita itu. Hardi dengan sigap mengambil semua berkas yang harus dipelajari oleh Revan dan mengekor di belakang calon pewaris perusahaan ini. Hardi tidak banyak bicara saat, ia lebih banyak bekerja dan hasilnya selalu memuaskan Revan. 

"Baik, Pak," jawab Hardi yang sudah membawa tumpukan berkas yang diinginkan oleh Revan.

"Oh, ya, bagaimana kontrak kerja sama kita dengan Cakra Buana?" tanya Revan dengan nada dingin.

"Mereka belum memutuskannya, Pak. Ada kemungkinan tawaran kerja sama kita ditolak oleh Pak Bima." Hardi sangat takut saat menyampaikan informasi ini.

Revan berhenti sejenak. Ia harus mencari cara agar beberapa perusahaan mau bekerja sama dengan Adhyatsa Group. Mereka kalah saing dalam hal modal dan banyak perusahaan besar meragukan perusahaan milik kakeknya itu. Hardi sangat takut karena pagi ini raut wajah Revan sangat suram. 

"Baiklah. Biar aku cari cara lagi untuk meyakinkan mereka. Kamu bisa kembali untuk bekerja," kata Revan saat hendak masuk ke ruangan kerjanya. 

Waktu sudah semakin mendesak. Tagihan bank juga tidak bisa ditunda lagi. Banyak karyawan yang meminta haknya untuk gaji dua bulan. Mendadak kepala Revan berdenyut nyeri. 

Tidak ada pilihan lain kecuali setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang kakek. Minggu depan, ya, minggu depan mereka akan mengadakan pertemuan dengan keluarga Haris Manggala. Revan sama sekali tidak punya pilihan. Rencananya akhir pekan ini akan ke Bandung untuk menemui Mayang. 

"Selamat siang, Pak. Ada tamu yang menunggu di luar. Bolehkah diizinkan masuk?" Hardi tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang kerja Revan saat ini.

"Kamu bisa ga sih ketuk pintu dulu! Ga sopan! Aku sibuk ga bisa terima tamu dari mana pun!" Revan sedang tidak ingin diganggu saat ini.

"Tapi, mereka dari perusahaan Cakra Buana. Ada perwakilan mereka yang hendak bertemu dengan Bapak sekarang," kata Hardi sambil memberikan informasi pada Revan.

Revan meletakkan penanya di atas meja dengan kasar. Moodnya sedang turun naik. Seolah takdir sedang mempermainkannya saat ini. Sama sekali tidak mempunyai pilihan lain.

"Minta masuk mereka. Atau di ruang khusus tamu saja," kata Revan sambil beranjak dari kursi kebesarannya itu.

"Ba-baik, Pak." Hardi segera menemui utusan sari Cakra Buana Group.

Revan segera menuju ke ruang khusus tamu. Ia sudah bisa menduga jika Pak Naga--utusan dari Cakra Buana akan memberikan kabar buruk kali ini. Revan hanya perlu mempersiapkan diri saja saat ini. Gagal bekerja sama dengan mereka akan membuat perusahaan ini semakin terpuruk. 

"Selamat siang Pak Revan," sapa Pak Naga dengan ramah.

Revan menyambut uluran tangan Pak Naga dan mempersilakan laki-laki dengan kisaran usia tiga puluh tahun itu untuk duduk. Naga adalah anak dari pemilik perusahaan Cakra Buana. Entah apa yang membuatnya datang ke kantornya saat ini.

"Jadi?" tanya Revan langsung pada pokok permasalahannya.

"Tenang, Bro, ga usah terlalu formal. Kedatanganku saat ini, hanya ingin menawarkan kerja sama. Ya, kerja sama kita memang hampir gagal. Tapi, aku berubah pikiran. Gimana kalo kita bagi hasil enam puluh dua untuk Cakra dan sisanya untuk Adhyastsa? Lumayanlah agar perusahaan ini ga langsung bangkrut," kata Naga sambil tersenyum jumawa merasa bisa menekan perusahaan kakek Revan ini.

Dada Revan kembang kempis mendengar ucapan Naga. Sebuah penghinaan terselubung. Membalut penghinaan dengan embel-embel kerja sama yang membuatnya muak. Orang-orang seperti Naga memang tidak layak untuk diajak kerja sama.

"Maaf, saya tidak bisa. Jika ada keuntungan maka pembangiannya harus adil. Lima puluh-lima puluh. Bukan seperti yang Anda sebutkan tadi. Tidak apa perusahaan ini gagal mendapatkan tender dari perusahaan Cakra Buana. Sukses selalu," kata Revan dengan dingin dan sambil beranjak pergi dari ruang tamu perusahaan.

Naga tidak terima dengan perlakuan dan sikap Revan yang dianggapnya tidak sopan. Bocah ingusan yang sok pandai! Naga memang mempunyai tujuan jahat; membuat perusahaan Revan bangkrut secara perlahan. Caranya dengan mengubah pembagian hasil keuntungan bersama. 

"Tunggu! Penolakanmu dengan sombong akan mempersulit keadaan perusahaan ini. Ingat, pengaruh Cakra Buana sangat besar saat ini!" Naga mencekal lengan Revan dengan kasar.

Revan segera melepaskan cekalan tangan Naga dengan cepat. Ia menatap tajam ke arah Naga yang saat ini sedang merasa di atas angin. Lihat saja besok dan seterusnya, Revan akan membuat perusahaan milik keluarga Naga akan bertekuk lutut di bawah kaki perusahaan ini.

Bab 3

"Jangan dulu sombong, Pak Naga. Kami memang sedang terpuruk, tetapi bukan berarti bisa diperdaya oleh Anda dengan sesuka hati. Urusan kita sampai di sini. Terima kasih atas kedatangan Anda," jawab Revan dengan nada dingin dan menatap tajam ke arah Naga yang kini mengepalkan tangannya. 

Revan segera kembali ke ruangannya. Ia tidak peduli jika saat ini Naga mengamuk atau semacamnya. Ia sudah bisa menebak ketika perusahaan ini menolak kerja sama dengan Cakra Buana. Efeknya akan luar biasa menyakitkan dan harus berurusan dengan banyak pihak. 

Naga salah satu mafia bisnis. Semua cara dihalalkannya demi keuntungan pribadi. Tak jarang menekan perusahaan kecil agar tunduk di bawahnya. Revan tidak akan sudi bekerja sama dengan perusahaan Cakra Buana itu.

"Pak, apakah Anda memerlukan kopi?" Hardi membawakan kopi untuk bos-nya yang kini sangat tertekan dengan semua pekerjaan juga masalah lainnya.

"Terima kasih. Letakkan di meja. Silakan keluar," jawab Revan tanpa menatap ke arah sekretarisnya itu.

Hari terasa begitu lama kali ini. Revan mengabaikan beberapa panggilan telepon pada ponselnya. Salah satunya dari Mayang. Hatinya belum sanggup untuk kembali mendengar suara ceria dari gadis yang sebentar lagi akan menjadi mantan. 

Mengucapkan kata mantan untuk Mayang adalah sebuah kata keramat untuk Revan. Cintanya luar biasa besar untuk sosok gadis cantik itu. Mayang segalanya bagi Revan. Laki-laki dengan tatapan setajam elang itu pernah melamar Mayang secara pribadi. 

Tentu saja gayung bersambut, Mayang menerima lamaran itu dengan senang hati. Rencananya akhir tahun ini akan melamar Mayang pada keluarganya. Simpel dan bukan rencana yang mewah. Hanya sebuah pernikahan sederhana yang ingin mereka lakukan. 

'May ... andai waktu dan takdir berpihak kepada kita. Tentu saat ini kita masih bahagia dan bisa berbagi cerita,' batin Revan berkata dengan sedih.

Tepat pukul lima sore, seluruh karyawan sudah bersiap hendak pulang. Revan masih berkutat dengan pekerjaannya. Berkutat dengan semua lembaran kertas yang harus diteliti dan ditandatangi. Tidak boleh ada kesalahan saat menandatangi berkas itu. Akibatnya bisa fatal bagi perusahaan. 

"Pak Revan, saya pulang duluan," pamit Hardi dengan sopan.

Revan hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tidak banyak bicara saat ini. Banyak masalah yang harus secepatnya diselesaikan. Hingga tengah malam, Revan barulah pulang ke rumah. 

Revan mematikan komputer dalam ruangannya dan memastikan semua aman. Tidak ada satu pun barang yang tertinggal. Ia segera keluar dari ruangan dan masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai satu, setelah sebelumnya mengunci lemari berankas berisi semua berkas dan dokumen penting lainnya. Revan memang sangat teliti saat bekerja, ia pun segera menuju ke parkiran mobilnya.

"Dari mana saja kamu?!" Adhyatsa sengaja menunggu kedatangan sang cucu. "Kamu berani menolak tawaran kerja sama dari Cakra Buana Group?!" bentak beliau dengan kasar.

Rupanya si tua bangka itu memang bodoh. Wajar saja jika mendadak perusaahan mengalami kebangrutan. Rupanya begitulah bodohnya karen mau diperdaya dan dimanfaatkan oleh orang lain. Sudah berapa saja uang yang dihamburka olehnya dan gagal di beberapa tender?

"Kamu bisa gaji pekerja pakai apa kalo membatalkan kerja sama sesuka hati. Dasar tidak berguna! Sama seperti Bundamu itu!" Ucapan Adhyatsa rupanya membuat Revan sangat marah dan tidak bisa mengedalikan emosinya pada laki-laki berusia tujuh puluh tahun itu.

"Aku punya alasan untuk membatalkan kerja sama itu! Kau tua bangka yang bodoh, jangan pernah mengatakan Bundaku tidak berguna!" Revan mencekal kerah baju Adhyatsa dan hamlir saja membuat laki-laki paruh baya itu terjatuh.

Suara ramai keduanya membangunkan semua penghuni rumah yang sudah terlelap tidur. Murni segera keluar dari kamar karena mendengar suara anaknya. Sudah bisa dipastikan anak semata wayangnya sedang marah saat ini. Gegas wanita berusia empat puluh delapan tahun itu berlari ke arah ruang tamu di mana terdengar suara itu.

Murni terkejut saat melihat Revan mencengkeram kerah baju ayah mertuanya. Murni tidak tahu apa yang membuat Revan sangat marah malam ini. Murni berusaha mendekat dan melerai cucu dan kakeknya. Kedua tante Revan hanya diam saja. Tidak ada ekspresi sama sekali.

"Revan, lepaskan Kakek, Nak. Bicarakan dengan baik semua masalahnya. Jangan gunakan kekerasan yang menuruti hawa nafsumu itu." Murni mengusap pelan pundak sang putra.

Revan menurut; melepaskan kerah baju sang kakek karena mendengar sang Bunda. Adhyatsa hampir saja kehabisan napas karena ulah Revan. Laki-laki tujuh puluh tahunan itu menatap tajam ke arah Murni, seolah menjadi penyebab dari semua masalah itu.

"Ketika seorang babu tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, maka isi kepalanya hanya emosi dan kekerasan. Babu otaknya kosong, menurun pada anaknya!" Adhyatsa masih saja menyakiti hati Murni 

Revan sangat marah mendengar ucapan sang kakek yang selalu menghina bundanya. Tidak sadar diri jika dia-lah sumber dari semua masalah yang tercipta. Awas saja jika suatu saat Revan menemukan tentang kebenaran siapa dalang dibalik kecelakaan tragis yang menimpa sang ayah hingga merenggut nyawanya. Revan tak akan segan membuat orang itu hancur.

Manusia serakah dan tamak seperti Adhyatsa tidak pantas untuk disebut sebagai manusia. Hewan jauh lebih terhormat dari sosok kakek tua yang sombong itu. Tidak hanya itu, setelah ini Revan akan mengajak sang Bunda pindah dari rumah terkutuk ini. Tidak peduli, jika harus tinggal di rumah petak yang sempit. Kedua suami tantenya sering sekali hendak melecehkan sang Bunda. 

"Jaga mulutmu baik-baik tua bangka! Aku masih baik padamu karena mendengar ucapan Bunda. Jika beliau tidak menasihatiku, aku akan membuatmu menyusul Ayahku!" Revan tidak bisa menahan lagi emosinya.

Adhyatsa terkesiap dan mendadak diam seribu bahasa saat melihat kilat kemarahan di mata Revan. Kilat mata itu sama persis dengan mendiang Panji saat marah. Wajah Revan sama persis dengan putra sulungnya yang sudah meninggal itu. Adhyatsa memilih menyudahi pertengkarannya dengan Revan.

Masalah demi masalah pasti akan datang. Revan sangat berat menjalani hari-hari. Akhir pekan ini rencananya akan menemui Mayang. Mengakhiri hubungan mereka secara sepihak. Demi permintaan Bunda pada Revan.

Akhir pekan datang dengan cepat. Revan bahkan tidak menyadari jika hari ini sudah Jumat malam. Jam di dinding menunjuk angka sembilan tepat. Ingin langsung ke Bandung, dan menginap di salah satu hotel. Baru besok pagi hendak menemui Mayang--kekasihnya.

Embusan napas berat keluar dari mulut Revan dengan sangat berat. Beban pikiran dan hatinya sangat berat. Antara perusahaan dan cintanya; harus memilih salah satu. Bunda Revan bukan belum mengenal sosok Mayang, beliau sangat mengenal dan menyayangi gadis itu. Sayangnya, kontrak bisnis harus memisahkan cinta mereka berdua.

"Pak Revan, saya izin pulang dahulu," pamit Hardi yang merasa pekerjaannya sudah selesai malam ini.

"Silakan." Revan menjawab dengan nada dingin.

Hardi tidak mau mengganggu bos-nya itu. Saat ini, Revan sedang tidak baik-baik saja. Desakan dari Perusahaan Cakra Buana luar biasa besar. Mereka mengancam akan membuat perusahaan ini bangkrut dalam hitungan minggu. Tentu saja, Revan tidak bisa berkutik saat ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED