Ya Tuhan, hati terasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum peniti. Perihnya hingga ke tulang begitu tersiksa batin dan jiwa. Adik yang kupercaya telah menikam dari belakang hingga tembus terkena dalam jantung. Masih teringat saat aku menemukannya tergeletak di lantai dengan bersimbah darah karena keguguran. Yah, suaminya yang arogan telah begitu tega menyiksanya lahir dan batin.
Flashback
"Assalamualaikum", kuketuk pintu berulang kali dan mengucapkan salam namun tidak ada jawaban.
Aku hanya berdiri di depan pintu rumah adikku Nisa sembari terus mengetuk pintu tapi tidak juga ada jawaban. Dengan terpaksa Mas Beno mendobrak pintu masuk utama rumah dengan kasar. Firasatku semakin tidak enak karena mengkhawatirkan kondisi Anisa yang terakhir menghubungiku dengan isak tangis. Begitu pintu usai didobrak alangkah terkejutnya aku melihat kondisi Anisa.
"Astaga, Anisa!" apa yang terjadi denganmu, Nis?" aku mengguncangkan tubuh Anisa yang tak sadarkan diri. Darah keluar deras dari pangkal pahanya.
"Sepertinya, Anisa pingsan," timpal Mas Beno.
"Anisa, bangunlah! Ini, Mba Rea. Anisa," kutepuk-tepuk pipinya agar ia sadar dan bisa mendengar suara panggilanku.
"Sayang, sebaiknya kita bawa Anisa ke rumah sakit," ucap Mas Beno yang juga panik.
"Ayo, Mas! Sepertinya Nisa mengalami pendarahan hebat darahnya tidak mau berhenti mengalir," tukasku.
Mas Beno segera membopong tubuh Anisa yang masih tak sadarkan diri. Kami bergegas membawa Anisa ke rumah sakit tempatku bertugas.
Dengan kecepatan tinggi Mas Beno mengendarai mobil agar segera sampai di tempat tujuan.
"Mas, cepatlah aku takut terjadi sesuatu pada, Nisa karena terlambat menolongnya," titahku.
"Sabarlah, Sayang! aku juga sudah berusaha untuk fokus menyetir agar kita bisa segera sampai," seru Mas Beno yang masih fokus menyetir. Sementara aku panik terus memangku Nisa yang terlihat pucat pasi.
Tubuh Anisa kurasakan sedingin es tanpa aliran darah yang berdesir. Bibirnya pucat kebiruan, wajah cantiknya begitu layu dan tak berdaya. Banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Sungguh miris mataku menyaksikan adikku yang begitu tersiksa menjalani rumah tangganya.
Aku tau kalau suami Anisa sangat kejam, bahkan tak segan-segan memberi saat ia melakukan salah walaupun kesalahan itu hanya masalah sepele saja. Sudah berulang kali aku menyarankan agar ia mengakhiri pernikahannya tidak bahagia tapi Anisa selalu menolak menggugat cerai karna takut dengan ancaman suaminya.
***
Tiba kami di rumah sakit segera kami bawa Anisa ke ruang UGD.
"Suster, tolong siapkan ruang operasi untuk pasien adikku," ucapku memberi perintah kepada suster jaga.
"Baik, Dok," setengah berlari para suster dengan ceketan mempersiapkan kamar operasi.
"Mas, tolong selesaikan registrasi Anisa, ya," ujarku pada Mas Beno.
Mas Beno mengangguk "Iya, sayang".
Selama satu jam aku di ruang operasi menolong Anisa. Dengan peralatan yang serba canggih akhirnya bayi yang berusia dua bulan dalam kandungannya bisa aku keluarkan. Anisa masih terlihat lemah dan belum sadarkan diri. Selang oksigen terpasang di hidungnya yang mancung. Terlihat nafasnya beraturan, detak jantungnya pun semakin normal. Kuelus wajah cantiknya yang masih pucat dan kugenggam erat tangannya yang masih dingin terasa ada aliran darah yang menjalar keseluruh tubuhnya.
Perlahan Anisa sadarkan diri setelah obat bius hilang. Matanya yang indah dengan bulu lentik mengerjap dan membuka secara perlahan. Aku tersenyum bahagia melihat kondisi adikku yang sudah sadar.
"Nis, kamu sudah sadar?" tanyaku.
"Mba Rea, aku dimana?" tanyanya dengan penasaran. Ia memandang sekeliling dinding yang bernuansa putih berkhas aroma karbol.
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan," Kamu di rumah sakit, Nis".
"Aku kenapa, Mba? Kenapa bisa sampai di rumah sakit? siapa yang sudah membawaku ke rumah sakit?" pertanyaan Nisa bertubi-tubi diajukan padaku.
"Mba, yang sudah membawamu kesini Nis. Mas Beno tadi yang sudah mendobrak pintu rumahmu karena tidak ada jawaban dari dalam jadi kami terpaksa melakukan tindakkan," ujarku menjelaskan.
Anisa kelihatan shock dan menangis kemudian mengusap perutnya yang sedikit kempes.
"Bayiku," ucapnya lirih.
"Maafkan, Mba terpaksa harus mengkuret bayimu untuk menyelamatkan nyawamu," ujarku yang mencoba menenangkannya. Aku tau jiwanya pasti terguncang setelah apa yang dialaminya sekarang.
Anisa menangis tatapannya kosong, gairah semangat hidupnya pudar.
"Mas Reno, sudah menyiksaku, Mba. Dia tidak suka kalau aku hamil dan menyuruhku menggugurkan kandungan setelah ia tahu aku hamil anaknya," lirihnya. Seraya menangis dengan pilu ke dalam pelukanku.
"Ini tidak bisa di diamkan, Nis. Reno seharusnya dilaporkan atas tindakan KDRT".
"Aku takut, Mba," ucapnya menyela perkataan ku.
"Nisa, tindakkan Rena itu sudah kriminal".
"Tolong jangan laporkan dia kepolisi, Mba! aku mohon," pintanya memelas.
"Kenapa, Nis? Kamu jangan takut, Mba pasti akan menyewa pengacara untuk menuntutnya," seruku dengan kesal.
"Reno, sangat licik, Mba. Dia mengancamku akan menyebarkan fotoku yang tanpa busana saat di kamar jika aku berani melaporkannya ke polisi atau pun berani mengadu padamu," jawab Nisa yang sontak membuatku shock dengan penuturannya.
"Apa?!" tanyaku tak percaya.
"Mas Reno, pasti akan memberi alibi kalau aku istri panggilan. Ia menyuruhku berdandan seperti wanita pelacur dan memakai pakaian seksi kemudian setelah kami berhubungan ia dengan sengaja merekam di ponselnya. Ini senjata yang digunakan agar aku tidak pernah berani menuntutnya," Nisa menjelaskan panjang lebar kenapa alasannya selama ini tidak berani menuntut suaminya.
" Gila, ini benar-benar sudah tindakkan kriminal, Nis. Bagaimana bisa seorang suami memperlakukan istri tidak bermoral seperti itu," ucapku berdecak kesal.
"Dia juga menyuruhku untuk melayani teman rekan bisnisnya di kamar hotel demi mendapatkan ambisinya untuk kerja sama dengan temannya dan memenangkan tender," tukasnya lagi.
"Jadi benar kemarin lusa kita bertemu karena kamu lari dari Reno," tanyaku penasaran.
Nisa mengangguk "Iya".
"Lalu, kenapa kamu hanya diam saja Nis? Seharusnya kemarin kamu katakan pada, Mba! Pantasan saja Mas Beno menemukanmu di hotel yang sama saat menghadiri seminar dengan keadaan acak-acakkan," emosi begitu di ubun-ubun ingin rasanya aku membalas perlakuan Reno yang kasar.
Aku meninggalkan Nisa di ruang perawatan karena kondisinya yang masih lemah.
***
"Apa ini, Mas?" tanyaku yang melihat Mas Beno menyodorkan selembar kertas.
"Tanda tangani ini karena aku akan menikah secepatnya dengan adikmu, Anisa," ucapnya dengan menatapku dingin.
Ekspresi wajahku memerah tapi bukan kerana malu, tapi sebaliknya meluapkan kemarahan dan menggebrak meja. Seketika aku bangkit dari duduk dan menatap wajah suamiku yang kini kubenci." Dimana nalurimu, Mas? Bahkan binatang pun punya hati, tapi kamu yang sudah bertahun-tahun ku kenal tega meminta menandatangani izin untuk berpoligami dengan adik kandungku".
Kurobek surat yang berisikan surat izin untuk berpoligami dan menghempaskannya ke wajah Mas Beno menjadi serpihan kecil-kecil.
"Aku tetap akan menikahi, Anisa walaupun kamu tidak memberi ijin," ucapnya dengan percaya diri.
"Silahkan, kau nikahi dia jika itu keputusanmu," jawabku dengan setengah berteriak.
"Ini", Mas beno menyerahkan amplop berwarna coklat.
"Apa lagi yang kau inginkan dariku, Mas? Belum cukupkah kau hancurkan rumah tangga ini dengan menikahi adik kandungku," celetuk ku dengan kasar.
"Aku sudah mendaftarkan perceraian kita di pengadilan dan kamu aku jatuhkan talak satu," ucapnya dengan keras.
Aku terduduk lemas ketika kudengar kata talak dari Mas Beno. Sendi-sendiku terasa sakit, tanganku gemetar membuka amplop coklat yang ia berikan.
"Aku terima talakmu, Mas," ucapku dengan lirih. Dengan sisa tenaga menguatkan hati agar tidak menangis di hadapannya.
Mas Beno berlalu dari ruanganku dengan senyuman miring dari sudut bibirnya. Seakan belum puas ia menyakitiku dengan perselingkuhan yang dilakukan kini ia kembali menyayatku dengan sembilu. Ucapan talaknya telah menjatuhkan harga diri ini. Aku menangis membenamkan wajah di atas meja tanpa ada seorang pun yang tahu.
Tok...Tok...
Suara pintu diketuk dari arah luar ruangan. Kuhapus air mata yang tersisa membasahi pipi. Aku berusaha tegar dengan tersenyum saat mempersilahkan tamu yang berada diluar masuk.
"Masuklah".
Dokter Maya masuk ke dalam ruanganku. Ia tersenyum menyapaku.
"Rea, aku tau apa yang kamu alami sekarang. Jadi gak usah pura-pura tegar di hadapanku," ucapnya.
"Aku baik-baik saja, May," tukasku dengan senyum sebisa mungkin kubuat alami di depan dokter Maya. Dokter Maya adalah sahabat yang sekaligus merawatku selama aku hamil. Kami bertugas di tempat yang sama .
"Alibi gak cocok untuk wajahmu yang polos, Rea," celetuknya dengan candaan menggoda.
Aku segera menghambur dalam pelukannya menumpahkan keluh kesah yang selama ini aku rasakan getir.
"Aku gak sanggup, May," lirihku dengan isak tangis.
"Aku tau, Rea! Sedari tadi aku mendengar percakapanmu dengan Beno di luar saat hendak mengantarkan hasil USG janin," ujarnya menjelaskan dengan detail.
"Jadi, kamu mendengar semua yang kami bicarakan tadi?" Aku balik bertanya.
"Iya, Rea. Seharusnya kamu katakan sebenarnya kalau kamu hamil. Jadi Beno bisa membatalkan pernikahannya dengan adikmu".
"Itu tidak mungkin, May".
"Kenapa tidak mungkin, Rea?" tanyanya penasaran.
Aku menjawab dengan ekspresi tatapan kosong" Anisa, hamil".
Mata Maya membulat seakan melotot tidak percaya mendengar penuturan.
"Apa?"
"Iya, May. Tanpa sepengetahuanku selama ini mereka berselingkuh di belakangku dan menyimpannya begitu rapi hingga aku tidak tahu hubungan mereka sudah terlalu jauh dan menyebabkan ia hamil di luar nikah dan itu anak Beno," kataku menjelaskan.
"Aku tidak menyangka kalau dokter Beno akan melakukan hal serendah itu. Di mata masyarakat ia terkenal santun dan mempunyai jiwa penolong tapi kenyataannya jauh dari kata baik," seru Maya kesal.
"Aku belum memberitahukan pada Beno kalau aku juga hamil, May. Jika dia tau aku hamil pasti Anisa tidak jadi menikahinya. Aku tidak mau kalau anak yang ia kandung tidak punya status jadi biar aku saja yang mengalah," akhirnya tangisku pun pecah tak mampu kubendung lagi yang sedari tadi sudah kutahan hingga membuatku terasa perih.
"Sabar, Rea! Kamu pasti bisa melalui semua ini dengan tabah," Maya kembali merengkuhku dalam pelukannya memberiku kekuatan.
"Makasih, May. Kamu adalah sahabat terbaikku," jawabku dengan mengulas senyum.
Jarum jam sudah menunjukkan angka lima sore. Aku pun bersiap-siap hendak melangkah keluar dan pulang kerumah. Udara rumah sakit yang berbau alkohol sedikit membuatku mual. Mungkin ini adalah bawaan ibu hamil saat lagi ngidam. Biasanya aroma terapi yang aku sukai mampu membuat perasaanku tenang tapi kali ini membuatku semakin pusing.
***
Bersambung.
Suasana yang begitu syahdu mengingatkanku pada masa saat bersama Mas Beno. Sepanjang jalan kenangan yang kami lalui terasa begitu indah. Barisan pohon mahoni yang berjejer di jalan juga hiasan lampu yang berkelap-kelip semakin menambah cantik ibu kota yang tidak pernah sepi dari sebagian kendaraan yang melintas.
Aku mengemudikan mobil menuju di sebuah restoran cepat saji. Memarkirkan mobil di halaman depan. Niat ini untuk membeli makanan sebagai bekal makan malam tiba-tiba harus diurungkan. Terlihat keramaian yang berada di sudut rumah makan yang tak jauh dari tempat parkir Seorang wanita sedang dibuli dengan lemparan tomat dan saus cabe yang berwarna merah jingga.
"Astagfirullah." Aku mengucap istighfar menyaksikan pemandangan yang menyedihkan.
Anisa sedang dilempari oleh ibu-ibu berdaster yang membawa sekantong plastik tomat busuk dan botol saus.
Segera menembus kerumunan para wanita yang sedang melempari perempuan. Wajah seorang wanita yang tidak asing lagi di mataku terlihat menangis dan terduduk lemah di halaman depan parkir dengan pakaian yang sudah penuh noda merah akibat lemparan tomat yang berbau busuk. Tidak berhenti begitu saja, caci maki dan kata-kata kasar juga terlontar dari mulut mereka.
"Dasar pelakor perebut laki orang," ucap salah satu wanita yang berdaster dan bertubuh tambun.
"Wanita murahan," timpal wanita yang satu lagi sembari menjambak rambut.
"Kamu, perempuan gak tau malu sudah di kasih hati malah mencuri," seorang wanita muda perawakan kurus menimpali dan melempar tomat busuk ke wajahnya.
Bisik-bisik para wanita menggunjingkan dengan semangat. Mereka berseteru tidak mau kalah," Lempar saja, wanita ini! Ayo kita lempari lagi dengan tomat busuk!"
Ucapan para wanita yang merasa emosinya terkuras seakan meledak tanpa henti. Mereka semakin ganas membuli tanpa ampun. Sementara wanita yang di buli hanya diam tak berkutit tanpa bisa membalas perbuatan mereka.
"Hentikan!" teriakku dengan keras menghentikan pembulian.
Serentak para wanita itu menoleh ke arahku dan menatap kaku. Anisa bergeming.
"Apa yang kalian lakukan pada wanita yang malang ini? " tanyaku mendelik.
"Minggir, Non! Dia adalah pelakor gak pantas untuk di belain," sahut seorang ibu muda cantik.
"Iya-iya, dia pantes di buli!" teriak para wanita itu dengan semangat.
Aku segera menarik tangan wanita yang sedang dibuli dan menyembunyikannya di balik punggungku," Stop".
Seketika mereka diam, begitu juga dengan Anisa bergeming mendengar bentakan ku yang keras.
"Negara dan agama kita punya hukum. Melarang tindakan kekerasan, apakah kalian mau di tuntut karena sudah menyiksa seorang wanita tak berdaya?" tanyaku kesal.
"Kamu, siapa?" sahut ibu paruh baya maju dua langkah ke arahku. "Perempuan seperti itu tidak pantas untuk dibela".
"Aku adalah sama seperti kalian seorang wanita yang punya hati nurani," tukasku. Kupandangi wajah para wanita yang sedang gencar dengan tatapan tajam satu persatu.
"Tapi, kamu tidak tau kalau wanita ini adalah perusak rumah tangga orang," ujarnya menjelaskan.
"Memang kenapa kalau dia pelakor? Apakah ada salah satu dari kalian yang suaminya direbut?" tanyaku kembali.
Para ibu-ibu berdaster seketika bertatapan saling pandang ke arah yang lain. Mereka bergumam seakan kembali mempertanyakan apakah suaminya baik-baik saja.
"Jawab! Kenapa diam? Apakah salah satu dari kalian yang menghujat wanita ini yang telah direbut suaminya? Jawab!"
Tidak ada yang berani maju dan menjawab kecuali hanya bisik-bisik kecil. Mungkin benar Anisa merebut suamiku, namun bukan berarti bebas menghukumnya sesuka hati.
"Tidak ada," jawab seorang wanita maju ke arah depan.
"Lalu, kenapa kalian menganiayanya? Ada hukum dan karma yang akan diterima di setiap perbuatan yang kita lakukan walaupun hanya sebesar biji sawi, tapi tetap dosa itu akan dicatat para malaikat," ujarku menerangkan.
"Nyonya tidak tau, kalau perempuan ini sudah merusak rumah tangga kakak kandungnya sendiri," celetuk seorang ibu yang sedang menggendong bayinya.
Aku terdiam sesaat memikirkan apa yang telah diucapkan oleh seorang wanita tadi yang tentu saja tidak kukenal. Entah dari mana wanita itu mendapat informasi tentang gosip murahan itu.
"Dari mana kalian tau kalau dia sudah merusak rumah tangga kakak kandungnya? Apa buktinya?" Tanyaku penasaran.
"Ini," salah seorang ibu muda berdaster menunjukkan foto Anisa sedang mengenakan bikini dan berpose mesra dengan Mas Beno.
Aku mundur dua langkah kebelakang dengan memegangi dadaku yang terasa sesak melihat adikku berfoto syur di sosmed dengan Mas Beno.
"Astaga," gumamku.
"Nyonya, sudah lihat dia adalah Anisa adik kandung dokter Rea istri dokter Beno yang sudah direbutnya," jawabnya dengan wajah ekspresi marah.
Aku yakin mereka tidak mengenalku, itu terlihat dari bicara para wanita tadi dengan bersemangat mengumbar aib Nisa. Memang aku jarang menampakkan diri di publik terlebih jadwalku dinas menyita banyak waktu, hanya orang tertentu saja yang mengenaliku. Itu pun saat mereka berkunjung di rumah sakit atau tidak sengaja berpapasan denganku di jalan.
"Dari mana kalian mendapatkan foto-foto itu?" tanyaku lagi.
"Dari akun yang tidak kami kenal," ucapnya.
"Itu semua bohong dan tidak benar. Jangan langsung percaya kepada berita hoax jika belum akurat," ujarku berdecak kesal.
"Memang benar, kan? Kenyataannya tadi aku melihat dia bergandengan mesra dengan dokter Beno di apartemen. Karena apatemen yang ia tempati bersebelahan denganku."
"Cukup! Sekarang semuanya bubar! Tidak ada gunanya lagi main hakim sendiri."
Mereka langsung bersorak ramai," Hu."
"Bubar atau akan aku panggilkan polisi," teriakku mengancam.
Satu persatu wanita yang membuli tadi membubarkan diri. Terlihat rona kesal dan kecewa di wajah mereka karena tidak berhasil meneruskan aksinya.
Kuambil ponsel dari tasku dan menelpon Mas Beno. Pasti ia terkejut bila melihat istrinya sedang dianiaya para ibu-ibu.
"Hallo," suara sahutan terdengar dari arah seberang.
"Hallo, Mas! Kamu harus secepatnya kemari Anisa sedang dibuli para ibu-ibu di depan restoran cepat saji," tukasku.
"Apa?" jawabnya terkejut.
"Cepatlah segera, kamu urus Anisa akan aku sms, kan alamatnya sekarang."
"Ok, ok, aku akan segera meluncur kesana," sambungan telepon langsung diputus sepihak.
Saat ini perasaanku hampa. Pikiran ini kosong memandang adik yang kusayangi harus menerima penghinaan dari para wanita yang tak dikenal. Hatiku sakit bahkan terasa perih.
Tiga puluh menit berlalu akhirnya Mas Beno sampai di tempat yang kuberi alamat tadi. Ia langsung menghampiri.
"Anisa," panggilnya panik. Seraya langsung menghampiri Anisa yang masih tertunduk diam tanpa berbicara.
"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya penasaran dengan wajah panik. Ekspresi Mas Beno menatapku dingin.
Wajah itu yang dulu kukenal teduh kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi dingin seperti orang asing.
"Aku tidak tau, Mas, karena dari awal aku datang keadaannya sudah seperti itu."
Mas Beno menatapku tajam seakan tidak puas menerima jawabanku," Katakan, Rea! Apa ini salah satu trik kamu untuk mempermalukanku?"
Aku terkejut dengan tuduhannya yang tak beralasan dia lontarkan tanpa bertanya dulu kepadaku secara baik-baik.
"Jangan menjadikan aku kambing hitam, Mas. Kamu yang berkhianat dan aku yang terkhianati. Tapi berasumsi seolah aku yang menyakiti."
"Lalu, apa yang terjadi ini hanya kebetulan?"
Mas Beno masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dan menuduh aku sekali lagi tanpa alibi.
Tenggorokanku kering, bibirku keluh menahan air mata yang sudah tadi berembun," Cukup, Mas!"
"Aku sungguh membencimu, Rea. Sungguh sangat membencimu," ucapnya dengan tatapan tajam.
"Apa kamu kira aku akan baik-baik saja, Mas. Setelah apa yang kamu lakukan di belakangku. Jangan menghukumku untuk kesalahan yang tidak pernah aku lakukan?" teriakku.
"Inikan yang kamu lakukan melihatku bersama, Anisa. Lalu, membalas kejahatanku?" Mas Beno balik menghujamku dengan pertanyaan menyudutkan.
"Aku kehilangan impian dan semangat hidup. Kehilangan cinta dan harapan, tapi apa yang aku dapatkan, Mas? Merasa tanpa dosa kamu menikam jantung ini dan membunuhku secara perlahan dengan perselingkuhanmu. Menjadikan adik kandungku sebagai madu pilihanmu. Lantas, apa salahku hingga kamu menuduh hina dengan melakukan perbuatan tak bermoral seperti ini?" pertanyaan bertubi-tubi ku lontarkan kepada Mas Beno yang terus saja menuduh tanpa bukti.
Rea," bentaknya dengan berteriak. Tangan Mas Beno mengepalkan tinju.
Sakit ya ALLAH. Ini sungguh sangat menyakitkan sekali melebihi tikaman seribu belati. Aku tidak sanggup melihat kedekatan Mas Beno dengan adikku Anisa. Meskipun aku berusaha ikhlas dan merelakannya tapi jujur hatiku masih terasa ngilu bagai di sayat sembilu.
"Mas, jangan salahkan, Mba Rea!" potong Anisa angkat bicara.
"Jangan membela kakakmu, yang jelas-jelas bersalah!" katanya.
"Aku tau ini perbuatan, Reno yang sudah mengunggah fotoku di sosmed", ucapnya lirih.
"Agh," tangan Mas Beno mengepalkan tangannya keras hingga menonjolkan semua urat-uratnya.
Aku terluka Mas, tidakkah kamu hargai perasaan ini sakit? Rumah tangga yang kita lalui tiga tahun hanya menyisakan kehancuran. Mengapa harus Nisa yang kau pilih menjadi istrimu? Tidakkah kamu hargai jerih payahku selama ini yang sudah membelanya habis-habisan.
Air mata kian deras hingga kurasakan mata pedih karena terlalu banyak mengucurkan buliran kepedihan. Kutinggalkan Restoran itu tanpa membeli sedikitpun makanan yang aku niatkan tadi untuk memesannya. Ku kemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju arah pulang.
Hati ini hancur bagai kaca yang jatuh berserakan ke lantai. Mereka berbahagia di atas luka. Tidakkah ia tahu kalau aku juga wanita yang butuh perhatian dan kasih sayang. Bohong jika aku tidak terluka melihat mereka bahagia.
Bagaimana dengan nasib anakku ini? Jika nanti dia besar apa yang aku katakan. Tidak mungkin kujawab dengan jujur kalau ayahnya pergi dengan wanita lain. Suatu hari nanti mereka akan menyadari kesalahan, namun semuanya sudah terlambat.
Mengapa harus suamiku yang harus ia ambil? Mengapa harus Anisa yang harus menjadi maduku? Tidakkah ia pikirkan hati, jiwa dan perasaan hancur, terluka. Sementara mereka hanya tertawa dan bersenang-senang.
***
Bersambung.