Bab 1

“Maaf, sepertinya aku tidak pantas buatmu ….”

Sudah satu bulan lamanya Irfan masih termenung memikirkan jawaban yang diberikan oleh perempuan yang didambakannya.

Kata-kata seperti itu bukannya sering digunakan untuk menolak seseorang dengan cara yang lembut?

Itulah yang dilakukan Iffah kepada Irfan.

Mengapa Iffah menolak niat baik seseorang yang mungkin bagi sebagian perempuan, Irfan adalah laki-laki idaman?

Apakah Irfan jelek?

Tidak! Justru dia memiliki wajah putih bersih dan badan yang tinggi ideal.

Apakah Irfan tidak pintar?

Salah! Bahkan dia jadi salah satu lulusan terbaik di kampusnya.

Agamanya bagaimana?

Tekun! Sering kali dia menjadi imam di mushola dekat rumahnya.

Terus apa lagi? Apa yang menjadi alasan Iffah menolak Irfan?

Mungkinkah, status keluarga Irfan yang sederhana sebab dibuat pertimbangan?

Apabila ini akar permasalahannya, maka benar adanya. Irfan bukanlah golongan dari keluarga kaya.

Pun apabila itu alasannya, Irfan rasa dunia ini tak adil. Mengapa materi dijadikan parameter utama sebuah jawaban. Tak adakah pertimbangan-pertimbangan yang lebih utama daripada itu?

Irfan masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Dia masih tak menyangka perempuan itu menolaknya tanpa memberikan alasan.

“Lupakan saja Iffah!”

Apa yang dikatakan Awi kepada Irfan tidak semudah ucapan lisan. Sudah 5 tahun lamanya Irfan menyukai Iffah, bahkan saat itu masih dibangku sekolah. Diam-diam Irfan menyisipkan doa untuk Iffah, berharap Allah mendekatkan dengan perempuan yang disukainya itu.

Irfan mengakui bahwa Iffah sejatinya perempuan yang baik. Tidak suka banyak mengobrol dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Auratnya tertutup dengan balutan jilbab yang sempurna.

Bagaimana Irfan bisa melupakan Iffah?

Bagi Irfan, Iffah adalah dambaan. Teman-temannya pun mengakui bahwa Iffah adalah bidadari yang kesasar di dunia. Wajahnya cantik, putih, senyumnya manis, tutur katanya sopan, walau diberikan anugerah besar seperti itu, dia memilih menjadi perempuan yang asing, tidak suka pamer foto di media sosial.

“Kan dia cantik, mungkin banyak yang suka!”

Awi kembali berbicara kepada Irfan. Irfan masih sulit menerimanya. Irfan yakin bahwa Iffah adalah perempuan yang menjaga dirinya dengan baik. Walau tidak sering bertemu dengannya, tidak sering bisa chat dengannya, Irfan tahu dari teman-teman perempuan Iffah. Iffah enggan dirayu, digombali oleh para buaya-buaya.

Bukankah Irfan dan Iffah memiliki kesamaan?

Apabila Iffah demikian, pun dengan Irfan yang sampai sekarang berusaha menjaga dirinya, tidak mudah mengatakan cinta kepada perempuan, berucap tegas saat mengobrol dengan perempuan. Lalu apa lagi yang salah?

Irfan kembali merenung, mengingat-ingat sebulan yang lalu ketika berada di rumah Iffah. Bu Aisyah, bundanya Iffah terkaget ketika Iffah menolak lamaran Irfan. Bundanya sampai-sampai terus mempertanyakan keputusan yang diambil oleh putrinya seamata wayang itu.

Apakah Iffah tidak mau memikirkan dulu sebelum menolaknya?

Berulang kali Bu Aisyah menyampaikan pandangannya kepada Iffah. Beliau mengatakan bahwa Irfan adalah laki-laki yang baik, bertanggung jawab, tidak plin-plan, artinya memiliki prinsip. Apabila berani datang ke rumah ini, berarti dia sudah serius dengan Iffah.

Tetap saja!

Iffah menggelengkan kepala. Iffah tidak banyak berbicara. Tidak ada alasan penolakan yang keluar dari lisannya, kecuali satu kalimat yang dikatakan itu.

Bu Aisyah kembali mengingatkan putrinya agar berpikir jernih. Lebih baik istikharah terlebih dahulu daripada memutuskan sesuatu dengan gegabah. Beliau tidak mau terjadi sesuatu yang merugikan putrinya.

Irfan itu laki-laki soleh loh, Nak!

Iffah diam mendengarkan penjelasan bundanya. Bu Aisyah masih berharap putrinya kembali menarik perkataannya. Bukankah apabila ada laki-laki soleh yang mendatangi keluarga perempuan untuk niat yang baik, maka tidak ada alasan untuk tidak menerimanya?

Iffah masih diam. Setelah itu meninggalkan perbincangan itu.

Kini, harapan Irfan untuk mempersunting Iffah telah gagal. Hati Irfan menjadi tidak karuan. Irfan sadar sebagai muslim yang baik, harus bisa menerima setiap apa yang menjadi takdir.

Sabar!

Irfan sudah mencoba bersabar. Tetap saja dia tidak bisa bohong kalau hatinya masih sakit. Hatinya bak gelas yang jatuh ke lantai. Pecah! Sulit tuk diperbaiki.

Bagaimana dengan Iffah?

Irfan tidak tahu-menahu bagaimana keadaan Iffah setelah itu. Mungkin Iffah tidak lagi memerdulikan Irfan. Tiada tempat bahkan sedikit pun dihatinya untuk Irfan.

“Mungkin Iffah sudah punya laki yang disukainya!”

Awi kembali berbicara. Apa benar seperti itu? Jika demikian, mengapa Iffah tidak jujur saja kepada Irfan?

Apakah Iffah ragu akan alasannya itu bisa membuat Irfan bertambah sakit?

Justru dengan jawaban tanpa alasan menyebabkan hati Irfan tidak menentu. Perasaannya serasa dipompa, terasa naik turun. Sakit. Sakit sekali!

Bu Aisyah juga tidak tahu banyak tentang masalah itu.

Irfan lelah akan keadaan ini. Begini ya rasanya apabila terlalu suka pada perempuan yang bahkan belum tahu dia jodohnya atau bukan.

Ikhlas … ikhlas … sulit sekali mengikhlaskan sesuatu yang sudah tertanam dihati. Rasa-rasanya hati terasa hampa. Rasa-rasanya hati terasa sesak.

‘Mana imanmu? Mana taqwamu?’

Batin Irfan memberontak! Hanya karena perempuan mengapa engkau menjadi lemah, Irfan. Apa tidak malu pada Allah yang senantiasa paling dekat, paling sayang, paling cinta kepada hambanya. Dan kini lebih memilih memikirkan perempuan yang jelas-jelas sudah menolak niat baikmu, Irfan?

Mengapa engkau menjadi tidak bersemangat seperti dulu? Tidakkah kau tahu bahwasanya di atas ‘arasy sana sedang merindu tahajudmu?

Kini Irfan, kau bukanlah yang dulu. Malammu digunakan sibuk memikirkan perempuan itu, sampai-sampai melupakan waktu qiyamulailmu, Al Quran tak lagi dibuka, Subuh seringkali dibuat tidur, dengan dalih tidak mood, letih, capek.

“Kamu bukan Irfan yang ku kenal!”

Awi lagi-lagi menampar hati Irfan dengan lisannya. Bagaimana Irfan bersikap, sedang hatinya masih menyimpan file bernama Iffah. Irfan tidak tahu bagaimana cara menghapus file itu. Tapi, apakah benar Irfan ingin menghapusnya? Jujur, iya atau enggak?

Kenyataannya tidak! Daripada dihapus, Irfan memilih memberikan password paling rumit untuk file bernama Iffah dalam hatinya. Irfan berdalih itulah satu-satunya cara dia bisa melupakannya. Melupakan tidak harus dihilangkan, tetapi cukup dikunci dengan sangat kuat hingga dia tak mampu lagi melihat isi dari filenya.

Irfan sendiri berharap lupa akan password yang diberikannya sendiri. Biarlah file itu mengendap, lupa, bersama perasaan.

Irfan harus menjadi dirinya seperti yang dulu-dulu. Tentang perempuan? Ahh, dia sementara ini tak ingin membahas itu dulu. Hatinya yang bak gelas yang jatuh ke lantai tadi, serpihan pecahannya perlahan disatukan kembali.

Memang tidak bisa sempurna seperti sediakala. Tetapi setidaknya, serpihan di lantai tadi tidak ikut melukai seseorang yang melewatinya. Yaah, Irfan tidak mau karena sikapnya menjadikan orang terdekatnya ikut tersakiti.

Maafkan emosi Irfan. Maafkan kegaulauan Irfan. Irfan akan bangkit dan menunjukkan kepada tuhan, bahwa dia tetap Irfan yang dulu, yang senantiasa mewarnai kesehariannya dengan sesuatu yang bermanfaat, disetiapnya berisi kebaikan-kebaikan.

Tentang Iffah, Irfan tak lagi peduli!

Bab 2

Rabbana laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmah, innaka antal wahhaab

‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan, setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.’

Irfan mengulangi hafalan surat Ali ‘Imran ayat 8. Air matanya meleleh membayangkan apabila hatinya condong akan kesesatan.

Ya Allah, Irfan bukanlah malaikat yang senantiasa tunduk dan patuh akan perintah-Mu …

Ya Allah, Irfan bukanlah nabi atau rasul yang senantiasa teguh dalam pendirian akan ketentuan-ketentuan-Mu …

Irfan adalah manusia biasa yang berusaha taat dengan sekuat apa yang menjadi batasannya. Kadangkala imannya akan naik dan kadangkala akan turun. Walaupun bisa melakukan cobaan-cobaanmu Ya Allah, mohon jangan meninggalkannya walaupun sebentar. Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan, lebih membuat tenang, terkecuali ada tuntunanmu yang menyertai.

Mentari mulai menampakkan kehangatan pada sinar yang dipancarkan. Tetumbuhan nampak girang, mereka perlahan melebarkan sayap-sayap dedaunannya. Burung-burung sudah bersiap menggais rezeki hari ini. Mereka selalu percaya akan bisa pulang dengan kondisi perut kenyang.

Pagi ini, sudah sebulan nama Iffah perlahan dilupakan Irfan. Irfan kembali menjalani rutinitas seperti sediakala. Sebagai lulusan program studi Ilmu Komunikasi, Dia bisa memanfaatkan ilmunya untuk mengabdikan dirinya menjadi relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) khususnya sebagai penghubung informasi antar bagian divisi.

Walau beralamat di Surabaya, Irfan justru sering berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Irfan juga mendampingi kegiatan seperti memberikan bantuan makanan bagi keluarga miskin di pojok kota, dan tentu saja pada bulan tertentu dia akan ditugaskan ke Palestina untuk memberikan bantuan makanan dan obat-obatan.

“Ciee … wajahnya sudah kembali ceria nih.”

Seperti biasa, siapa lagi sahabat Irfan yang paling dekat dengannya kalau bukan Awi. Apabila Irfan dilanda masalah, maka Awi adalah orang pertama yang mengetahui permasalahan Irfan.

Irfan akan cerita semuanya kepada sahabatnya itu. Kepercayaannya kepada Awi melebihi apapun. Dialah sahabat baiknya.

“Tambah ganteng kan?”

Sekalian Irfan menambahkan. Bercanda beginian sering mereka lakukan. Satu dari keduanya sudah paham akan karakternya masing-masing.

“Maap nih yee. Sekali lagi maap barangkali menyinggung. Kalau kata kakek gua sih pernah ngomong kalau laki itu akan fiks dikatakan ganteng kalau ada perempuan yang menyukainya, dengan kata lain sudah punya istri. Laah, kamukan ….”

“Heeettt.” Irfan memotong pembicaraan Awi, “Lah, kamukan …. Gimana, gimana, coba lanjutkan ….”

Tangan kanan Irfan mengepal. Gawaat! Sepertinya Irfan mau marah. Mata Awi melotot melihat tangan Irfan yang bersiap menyantap tubuhnya itu.

“H-hem, g-gimana yaa ….”

Awi tidak jadi melanjutkan perkataannya. Tangan Irfan yang mengepal perlahan direnggangkan, wajahnya sedikit menesu.

“Maaf yaa ….”

Tangan kanan Irfan memegang pundak Awi, kemudian dia meminta maaf. Dia mencoba untuk melupakan Iffah seutuhnya, maka dia meminta agar sahabatnya itu tidak lagi membahas sesuatu yang berhubungan dengannya.

“Oh itu, iyaa aku paham. Bukannya aku yang seharusnya minta maaf?”

“Iya iya, harusnya kamu tuh ….”

“Tapi karena kamu duluan, ga jadi deh. Haha ….”

Irfan dan Awi tertawa. Dari peristiwa singkat itu, Awi paham bahwa Irfan ingin berusaha melupakan Iffah, terkait apakah Irfan masih ada rasa atau tidak tentang Iffah, sungguh hanya hatinya dan tuhannya saja yang tahu.

**

Masih di kota pahlawan, terdapat satu restoran yang tidak pernah sepi. Setiap harinya selalu datang bergantian orang-orang yang menjadi pelanggan untuk makan di sana. Sekitaran restoran memiliki tempat bersantai.

“Enak banget makanan di resto ini yaa ….”

Pujian seperti itu sering didapatkan lantaran pengunjung merasa puas dengan masakan yang enak, tempatnya pun juga nyaman, dan tentu saja ada pelayanan yang juga cukup baik.

Restoran ini juga terkenal akan kedermawanannya. Setiap hari Jumat akan ada makan gratis di restoran, juga akan dibagikan untuk anak yatim piatu di panti. Maka tak heran, restoran yang bernama ‘Resto Berkah’ ini menjadi rekomendasi dari banyak kalangan.

Restoran yang memiliki visi ‘Dari resto menunju Jannah’ ini memerhatikan banyak hal, khususnya terdapat integrasi nilai Islami di dalamnya.

Misalnya di dinding-dinding resto terdapat anjuran beradab terhadap makanan, diantaranya seperti makan menggunakan tangan kanan, makan sambil duduk, membaca doa sebelum dan sesudah makan.

Dari pusat restoran, terdapat beberapa orang bergerumbul sepertinya bersiap akan ada sesi wawancara dari salah satu stasiun televisi.

“Terima kasih telah meluangkan waktunya ya kak.”

Seorang reporter berbaju hitam sedang mewawancarai perempuan di tengah-tengah restoran.

“Boleh saya bertanya beberapa hal kak?”

“Silakan, akan saya jawab sebisa saya yaa.”

Tim syuting fokus mengambil video mereka, beberapa kru lainnya melihat channel televisi kebanggaan orang Surabaya ini diHpnya, mereka memastikan apakah tayangan berlangsung lancar, tanpa ada kendala.

Reporter melanjutkan pertanyaannya,

“Banyak kabar burung yang mengatakan resto ini menjadi tempat ternyaman kedua setelah masjid ya kak?”

“Tentang sebutan itu memang benar. Tetapi kami tidak berfokus pada itu, melainkan bisa mengajak kebaikan aja dan targetnya adalah pengunjung resto. Oleh sebab itu, pengiring musik resto diganti dengan syair-syair yang mendekatkan diri kepada Allah dan solawat mengingat nabi.”

“Jadi, apakah artinya resto ini hanya untuk orang muslim saja?”

“Tidak! Justru beraneka ragam agama, tidak hanya orang muslim saja yang datang. Ada juga rombongan dari banyak agama menjadi satu, memesan makanan dan makan bersama-sama. Mereka menikmatinya.”

“Berarti masakan di sana halal semua kan?”

“Tentu saja! Menarik juga diamati karena banyak mahasiswa non muslim yang sering mengadakan penelitian di restoran.”

Reporter terkejut.

“Keren banget ya ini restoran. Kalau boleh tahu, bagi-bagi dong gimana strateginya hingga resto ini bisa ramai sekali, banyak pengunjung, bahkan banyak yang melakukan penelitian?”

Perempuan yang ditanyai bergumam,

“Heem … gimana yaa ….”

Reporter mencoba bertanya pelan,

“Maaf, tidak bisa yaa kak?”

“Bukan tidak bisa. Tapi jujur saya tidak begitu tahu hehe. Posisi saya di sini sebagai pengelola restoran saja, jadi tugas saya terbatas berhubungan dengan pengecekan makanan, alat-alat makanan, dan kebersihan tempat.”

Mendengar jawaban perempuan, reporter mengangguk pelan. Awalnya dia merasa perempuan ini adalah yang paling berkuasa di restoran ini, ternyata bukan.

Perempuan kembali melanjutkan ucapannya, telunjuk tangan kanannya mengarah ke arah perempuan bergamis merah muda yang baru saja keluar dari kantor restoran.

“Nah nah, itu diaa ….”

Reporter memalingkan kepala. Tim syuting dan kru ikutan melihat ke arah yang dimaksud.

“Jadi, perempuan muda itu adalah yang paling berkuasa di restoran ini?”

Perempuan menganggukkan kepala, kemudian menambahkan ucapannya lagi,

“Benar. Dialah yang paling berperan atas kesuksesan restoran ini. Kegiatan-kegiatan sosial rutinan untuk anak yatim, makan gratis hari jumat, semua berasal dari idenya.”

Reporter masih memandang ke arah perempuan muda di sana.

“Udah masih muda, pinter, cantik yah? Duh duh duh.”

Mendengar pendapat itu, sepertinya mereka pada setuju. Tim syuting dan kru terlihat menahan diri, jangan sampai ada satupun suara yang sengaja maupun tidak sengaja keluar dari lisan mereka.

Reporter terus penasaran tentang sosok perempuan muda itu,

“Kira-kira bolehkah saya mewawancarainya?”

“Jangan sekarang. Beliau kalau jam segini sedang sibuk, sebentar lagi beliau mau ke panti asuhan untuk membagikan makanan.”

“Haduh, sayang sekali ya pemirsa. Kita tidak bisa bertanya lebih dekat dengan pemilik restoran ini.”

Reporter menyayangkan sekali kesempatan yang ada di depan matanya itu, namun dia yakin nanti akan ada waktu tersendiri bisa berbincang panjang dengannya.

Reporter kembali bertanya, sebelum menyelesaikan wawancaranya itu,

“Ohya pemirsa di rumah mungkin juga penasaran kan?. Kak, perempuan muda tadi itu siapa sih?”

“Dia adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan Book Group. Papanya bernama Pak Rohman dan bundanya bernama Bu Aisyah”

Reporter mengangguk, kemudian kembali bertanya,

“Kalau putrinya kak?”

“Namanya Iffah ….”

Bab 3

Reporter dan tim sudah selesai melakukan wawancara. Mereka belum berhasil mewawancarai Iffah. Disaat yang bersamaan dengan itu, Iffah baru saja pergi menuju panti asuhan ditemani sahabatnya bernama Arini.

“Mbak Iffah ….”

Arini yang menyetir mobil memanggil Iffah yang berada di sampingnya. Di mobil itu berisi sekitar 100 box ayam geprek dan minuman botolan sari kedelai.

“Iya, gimana Mbak Rin?”

“Mbak Iffah kan yang mengendalikan resto. Heem, apa gak rugi mbak tiap Jumat gini kasihkan 100 box ayam geprek gratis kepada panti?”

“Yaa engg- ….”

Iffah belum menjawab, Arini kembali berbicara.

“Udah 100 box, belum lagi makan gratis di resto setiap jumat juga, sekitar 200 makanan. Jadi, totalnya 300 makanan, belum lagi minumnya, juga 300-an. Waah banyak banget.”

“T-tapi kaa ….”

Lagi-lagi sahabatnya itu memotong perkataan Iffah. Iffah tersenyum mendengar sahabatnya berbicara. Dia mencoba mengalah karena sadar bahwa sahabatnya itu memang berkarakter seperti itu.

“Gini loh gini Iffah ... temanku, sahabatku dari kecil, dari unyu-unyu malahan. Maksudku gini, itukan banyak banget kan yaa. Kalau dihitung-hitung 1 box ayam geprek dan minumnya aja 20 ribu, nah 20 ribu kali 300, waah bentar bentar berapa tuh ya?”

Seperti biasa, Arini tidak bisa tenang.

“E-eeh, mau ngapain?”

“Ambil Hp, kayaknya di dalam tasku deh.”

“Lah … buat apa? Udah nanti aja ….”

“Hiiih, buat buka kalkulator, hitung tadi loh abis berapa?”

“Astaqfillah … Ya Allah … Hiihh … gemes deh sama kamu Riiin. Sudah fokus nyetir, kalau banyak goyah entar nabrak loh.”

“Ya janganlah, masih belum mau mati tau! kan lagipula aku juga belum nikah, kan gak enak kalau di akhirat pas dibangkitkan gak punya pasangan. Eh, kayaknya Mbak Iffah kan juga belum nikah hehe ….”

“Ariniiii … udaah, fokus nyetir dulu ….”

“Hehe … siaap Mbak Iffah!”

“Oke, tenangkan dulu dirimu yah. Sudah tenang?”

“Iyaa, sudah mbak.”

“Baik, jadi yang tadi kalau ditotal itu habis 6 juta.”

Arini lagi-lagi terkaget.

“Whaaaaaat? 6 juta per pekan, kalau sebulan dikali empat, jadi 25 juta.”

“Eh, 6 juta kali empat kok 25 juta, bukannya 24 juta yah?”

“Iya 24 juta, kan sama biaya transportnya, beli bensin mobil, kadang Mbak Iffah juga baik hati sepulang dari panti, aku diajak jalan-jalan dibeliin sesuatu. Jadi yaa itu sekitar 1 juta. Makanya totalnya 25 juta.”

Iffah menghela nafasnya.

“Huff … Arini kan ada-ada aja deh.”

“Tapi, mbak ….”

“Ada apa lagi?”

“Anu mbak, mau nanya, hem, apa nggak rugi kah kalau gini terus?”

“Gimana-gimana?”

Iffah menatap ke arah sahabatnya itu dan Arini mencoba menjelaskannya lagi.

“Maksudku, daripada habis per bulan sampai 25 juta, apa ngga sebaiknya uangnya ditabung yaa? Kan kebutuhan Mbak Iffah juga banyak.”

Iffah tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya itu.

“Arini, rezeki itu ada yang mengatur kok, jadi tidak perlu khawatir.”

“Tapi 25 juta loh mbak.”

“Iya terus kenapa kalau 25 juta?”

“Yahh .. bisa buat skin care yang mahal ituloh yang harganya 10 jutaan, nanti wajah kita jernih, kulit kita bersih deh. itupun ada sisanya, buat beli parfum, baju, hiihh banyak deh.”

Arini memang begitu, dan sekali lagi Iffah berusaha memahami karakternya.

“Arini sayang. Kalau itu maa namanya kita boros. Sedikit-sedikit ada uang, dibuat belanja. Aku tuh takut kalau tidak bisa mengontrol diri. Jadinya yaa tidak akan pernah puas gitu.”

Arini diam. Dia mulai berpikir tentang hal itu, kemudian kembali menanggapi perkataan Iffah.

“Kalau begitu ditabung saja, kan biar banyak.”

“Kalau sudah banyak, terus diapain?”

“Yaa … dikumpulin terus, biar tambah banyak.”

“Kalau udah sangat buanyak uangnya, terus …?”

“Hem. Diapain yaa?”

Arini mulai bingung. Di sinilah kesempatan Iffah untuk menjelaskan.

“Nah bingung kan hayoo hehe … maksudku gini, kita itu hidup di dunia cuma bentaaar banget. Bahkan kita mati aja gatau kapan, bisa saja 50 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau bahkan pekan depan. Kita tidak pernah tahu. Jadi, apa salah selagi masih hidup kita lakuin untuk melakukan kebaikan-kebaikan semampu kita?”

Arini diam, merenungi perkataan dari Iffah.

“Ini aja aku alhamdulillah banget. Allah udah lancarin usaha resto ini. Omzetnya juga besar per bulannya. Awalnya aku sama sempat punya pikiran seperti Arini, apa yaa uangnya dibuat beli baju ya, buat jalan-jalan ya, buat beli rumah aja ya yang banyak. Tapi … pada satu titik, aku akhirnya sadar bahwa di luar sana masih ada yang susah makan, di luar sana bahkan banyak yang jadi pengangguran, butuh uang untuk hidup mereka. Jadi itulah mengapa aku buat program pekanan seperti itu.”

“Tapi Mbak Iffah itu cantik. Jadi kek sayang banget gitu, capek-capek, kadang bantu angkat-angkat, kadang kepanasan. Mending bekerja di kantor resto saja mbak, kalau untuk sedekah kan gak harus tiap pekan. Sebulan sekali juga bisa kan. Lagian Allah juga pasti ngerti kalau Mbak Iffah juga orang yang baik.”

“Rin …, Menurutku seperti cantik, baik, dan seperti menutup aurat pun gak cukup buat muslimah. Harus ditambah satu hal yaitu dengan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Aku ingin jadi seperti itu, Rin. Selagi aku bisa melakukan itu mengapa tidak. Tidak mudah memang untuk istiqomah, tetapi aku tetap akan berusaha. Aku itu sayang sama Allah. Dengan itu aku pengen banget jadi hambanya yang baik.”

Arini terenyuh mendengar apa yang disampaikan Iffah. Pesan-pesan kelembutan dari lisan Iffah menghanyutkan hatinya, seolah-olah menyadarkannya bahwa memang manusia harus saling berbaik kepada manusia yang lain.

“Kamu sayang kan sama Allah, Rin?”

Iffah bertanya kepada sahabatnya itu dengan lirih dan lembut. Setelah itu Arini melihat ke wajah Iffah. Di sana terlihat bola mata ketulusan, terlihat bening dan sejuk.

“Iya Mbak Iffah, Arini sayang sama Allah.”

Mendengar perkataan itu, Iffah memeluk Arini.

“Allah sayang sama aku juga kan, Mbak?”

Arini yang masih memeluk sahabatnya itu, berbisik panjang kepadanya.

“Allah tidak sayang Arini, tapi Allah tuh sayaaaang banget sama Arini ….”

Air mata Arini tumpah membasahi bajunya. Arini mulai sadar bahwa tak perlu lagi memberatkan urusan dunia, tak ada gunanya menuruti nafsu untuk perhiasan dunia, bukannya manusia diciptakan di dunia oleh Allah untuk diuji, mana hambanya yang terbaik imannya, yang baik akhlaknya, yang banyak kontribusi kebaikannya.

Bukan hamba yang mementingkan diri sendiri, senang akan harta, perhiasan, rumah, kemudian tidak mau berbagi, tidak mau saling menolong yang sedang membutuhkan. Sungguh Allah tidak menyukai hamba yang seperti itu.

Setelah percakapan mereka, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan panti. Di sana terlihat agak ramai, terlihat beberapa laki-laki yang menurunkan baju dari mobil depan panti.

Iffah dan Arini segera turun dari mobil, hendak mereka menuju panti untuk mengonfirmasi kepada ketua panti bahwa makanan untuk adek-adek panti sudah datang, tiba-tiba dari arah mobil di depan panti keluar laki-laki yang memakai gamis, dia melihat Iffah mau berjalan masuk panti.

“Iffah yah?”

Mendengar ada yang memanggil, Iffah menoleh ke arah sumber suara. Dihadapannya ada sosok laki-laki yang tidak asing baginya, dia adalah Irfan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED