Di sebuah desa, terdapat gadis cantik yang sedang termenung memikirkan tentang kehidupannya yang begitu sangat rumit. Dia bukan memikirkan tentang dirinya sendiri, melainkan tentang nasib Ibu dan juga adiknya, kepergian sang Ayah 5 tahun yang lalu karena kecelakaan membuat gadis itu harus berjuang untuk Ibu dan juga adiknya. Namanya adalah Lyana Aufa Almahyra. Dia biasa di panggil dengan sebutan Lyana, Lyana hanya bekerja di sebuah toko baju kecil di dekat desanya.
Tapi bayaran yang di perolehnya tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari harinya, terkadang juga Liana harus berhutang di warung karena keterbatasan ekonomi.
" Ya Allah, berikanlah petunjukmu??" Pinta Lyana berharap akan ada sebuah mukjizat yang turun padanya
Karena hari sudah menjelang sore, Lyana pun kembali ke rumahnya dengan membawa sebuah makanan untuk Ibu dan juga Adiknya.
"Assalamualaikum ," ucap Lyana mengucapkan salam
"Waalaikum sallam" jawab ibu dan juga Adik Liana yang saat ini sedang menunggunya.
"Mbak udah datang??" Tanya Adik Lyana yang bernama Rika
"Iya Rik, mbak udah pulang. Dan ini makanan buat kamu sama ibu," ucap Lyana sambil menyerahkan makanan yang tadi dia beli.
"Alhamdulillah, makasih ya mbak" ucap Rika dengan tersenyum bahagia saat dia mendapatkan makanan dari Lyana.
Rika pun langsung membawa makanan itu kemeja makan dan menghidangkannya untuk ibunya juga.
" Alhamdullilah Bu, mbak bawah makanan. Ayo kita makan Bu," ucap Rika tertawa bahagia
" Alhamdulliah." jawab Ibu dengan rasa syukur
Lyana tersenyum saat melihat ibu dan juga adiknya makan dengan sangat lahap. Tiada kebahagian tersebar bagi Lyana saat meliaht keluarganya bahagia.
" Eh, Lyana. Kamu udah makan apa belum Nak??" Tanya Ibu sambil melihat ke arah Lyana
"Lyana udah makan kok, Bu. Ibu makan saja sama Rika." ucap Lyana tersenyum
Sebenarnya, sejak tadi pagi Liana hanya makan roti yang tadi dia beli di toko. Dan itu pun hanya sepotong roti, tapi bagi Lyana keluarganya adalah yang terpenting.
"Tidak apa, asalkan Ibu dan juga Rika makanan aku sudah ikut kenyang" ucap Lyana dalam hati
Malam hari pun kembali menyapa, saat ini Lyana sedang menatap ke arah luar jendela. Dia sedang memikirkan tentang nasib yang akan dia jalani esok pagi.
" Semoga besok pagi ada rejeki dan bisa membeli obat buat ibu." ucap Liana sambil menatap ke atas langit
Dan tiba tiba pintu kamarnya Lyana terbuka dan terlihat Rika yang sedang mengintip ke arah Lyana.
"Apa mbak sudah tidur??" Tanya Rika sambil mengintip
" Tidak Rika, ada apa ??" Tanya kembali Lyana dan melihat ke arah Rika
Rika pun langsung masuk ke dalam dan menghampiri Lyana.
" Ada apa Rika??" Tanya Lyana kembali pada Rika
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama mbak. Ini tentang uang SPP di sekolah mbak," ucap Rika sambil menundukkan kepalanya
Lyana menelan Saliva dalam, dia hampir saja lupa bahwa dia belum memberikan uang pada Rika untuk membayar SPP nya yang sudah menunggak selama tiga bulan. Lyana mengelus kepala Rika, sambil berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
" Maafkan mbak ya Rik, mbak sampai melupakan biaya sekolah kamu. Kamu tenang saja ya dek, mbak akan berusaha untuk mencari pinjaman buat bayar uang SPP mu itu" ucap Lyana sambil berusaha membuat Rika tenang
Rika pun menatap ke arah Lyana dengan wajah tidak tega. Rika tidak tega saat melihat wajah lelah kakaknya dan juga beban yang dia pukul untuk keluarganya.
" Mbak, aku mau berhenti aja sekolah. Aku mau bantu Mbak buat cari uang, aku benar benar tidak tega saat melihat mbak harus bingung mencari biaya buat aku mbak. Lagian aku bisa kok bekerja di pasar, atau di toko baju " kata Rika berusaha membujuk Lyana
" Rika, kamu harus tetap sekolah dek. Bagaimana pun juga, kamu adalah tanggung jawab mbak. Mbak akan berusaha untuk kamu dek, agar kamu bisa sekolah tinggi dan meraih cita cita mu. Jangan seperti mbak, yang tidak memiliki pengetahuan apapun. Hanya kamu harapan mbak dek." ucap Lyana sambil memeluk Rika.
Hari pun berganti dengan begitu cepat, Lyana tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya yang bernama Putri. Dan saat ini Putri sedang bekerja di kota, dan putri juga yang mengajak Liyana untuk bekerja bersamanya di kota.
Tanpa berpikir panjang, Lyana pun menyetujuinya untuk ikut Putri di kota. Karena setelah Putri menceritakan tentang pekerjaannya Lyana pun langsung setuju, di tambah lagi bayarannya yang cukup besar bagi Lyana.
" Aku akan ikut Put, tapi aku harus minta ijin dulu sama Ibu ku ya," ucap Lyana bahagia
" Iya Lyana, kamu ijin aja dulu sama ibu kamu. Dan kalau kamu udah di ijinin kamu hubungin aku ya. Ini nomer aku." ucap Putri sambil memberikan selembar kertas yang berisi nomernya.
Lyana pun berjalan dengan langkah cepat agar cepat sampai ke rumahnya. Lyana sudah tidak sabar untuk memberitahukan pada ibunya bahwa dia akan pergi ke kota dan mendapatkan bayaran yang besar. Lyana ingin mengobati ibunya ke dokter, karena sudah 2 tahun ini Lyana tidak bisa membawa ibunya untuk periksa ke dokter. Lyana hanya membelikan obat warung pada ibunya.
"Assalamualaikum," salam Lyana dengan semangat dan terburu buru
"Waalaikum sallam Lyana. Ada apa Nak??" Tanya ibu
"Bu, aku akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang bayarannya lumayan besar Bu," ucap Lyana dengan semangat
" Ah, benarkah Nak, Alhamdulillah," ucap syukur ibu
" Emangnya kamu kerja dimana nak??" Tanya ibu pada Lyana
" Lyana ikut Putri Bu, temen Lyana waktu SMP dulu. Dan Lyana akan bekerja di kot, Bu." ucap Lyana menjelaskan sambil tersenyum lebar.
Ibu Lyana tercengang, dengan ekspresi wajah terkejut saat mendengar penuturan anaknya yang ingin bekerja di kota yang berarti dia akan berpisah darinya.
" Aada apa Bu??"' tanya Lyana menghampiri sang Ibu
" Nak, jika kau bekerja di kota itu berarti kau akan meninggalkan kami berdua?" kata Ibu dengan wajah sedih
" Bu, di sana Lyana akan sering menghubungi Ibu, Lyana juga akan menjaga diri Lyana dengan baik di sana. Bu , Lyana lakukan ini semua karena Lyana ingin Ibu sembuh dan Rika mendapatkan pendidikan yang layak Bu." ucap Lyana dengan wajah sedih
Ibu Lyana pun merasa sangat sedih karena harus melihat anaknya berjuang untuk diri nya dan adik nya yang masih sekolah. Ibu Lyana sangat benci dengan keadaannya yang sekarang, dia lumpuh dan tidak bisa melakukan apapun untuk anaknya. Dia hanya bisa berbaring di ranjang dan bergantung pada anaknya. Sungguh dia selalu berfikir bahwa dia menyusahkan ke dua anaknya.
Tidak seharusnya, anak gadis seperti Lyana harus menanggung beban seberat ini. Terkadang ibu Lyana berfikir untuk segear meninggal karena percuma dia tinggak di sini hanya untuk menjadi beban anak anaknya.
"Maaf ibu Nak, tidak seharusnya kau berjuang untuk Ibu. Maafkan ibu karena selalu menyusahkan mu hiks hiks. Kenapa tidak ambil saja nyawanya Ya Allah agar aku tidak menyusahkan anak anak ku,''tangis Ibu Lyana
"Bu, kenapa kau bicara seperti itu. Ibu sama sekali tidak pernah membuat Lyana susah Bu, ini sudah kewajiban Lyana untuk merawat ibu hiks. Jangan pernah mengatakan untuk pergi Bu, jika ibu pergi. Lyana dan juga Rika akan sangat sedih, karena kami berdua masih membutuhkan Ibu." ucap Lyana mengusap air mata ibunya
Ibu Lyana pun tersadar, apa yang di katakan oleh Lyana adalah benar. Bahwa Lyana dan juga Rika masih membutuhkannya.
" Maafkan ibu Nak, tidak seharunya ibu berkata seperti itu. Hanya saja ibu tidak ingin terus melihatmu seperti ini, ibu tidak ingin terus menjadi beban dalam hidup,Nak." ucap Ibu sambil menangis tersedu sedu
" Bu, ibu tidak akan pernah menjadi beban dalam hidupku. Tapi karena Ibu lah aku memiliki semangat untuk berjuang. Ibu dan juga Rika lah penyemangatku, jadi Ibu jangan pernah katakan hal seperti itu lagi." ucap Lyana pada sang ibu lalu memeluknya dengan erat.
Lina tidak bisa menahan air matanya, dia menangis di pelukan anaknya. Dia sungguh tidak berguna, kenapa dia harus hidup jika hanya menjadi beban dalam keluarganya.
"Ibu benar benar minta maaf padamu. Kau harus menanggung beban seberat ini, tidak seharusnya anak seusiamu merasakan semua beban ini. Ya Allah, lancarkan lah segala urusan anakku, mudahkan lah dia dalam mencari Rizki yang halal bagi Mu Ya Allah " ucap Lina dalam hati dengan penuh harap.
Tidak banyak yang bisa dia lakukan selain berdoa kepada Sang Khaliq. Karena sejatinya, Dia lah yang maha memberi Rizki dan juga musibah. Hanya satu yang selalu Lina yakinkan dalam hatinya, bahwa suatu hari nanti kebahagian akan menghampiri anak anaknya.
Setelah mendapatkan setuju dari keluarganya, Lyana pun menghubungi Putri untuk memberitahukan bahwa dia bisa ikut ke kota dan bekerja bersamanya.
"Put, Alhamdulillah Ibu dan juga Adikku setuju untuk aku pergi ke kita,'' ucap Lyana dengan senang
"Baik lah Lyana. Dua hari lagi aku akan menjemputmu dan kita akan pergi ke kota ya." ucap Putri dari seberang sana
"Baik lah Put. Makasih banyak ya, Assalamualaikum,"
"Iya. Waalaikumsallam." jawab putri
Lyana pun mematikan telefonnya dan menyiapkan semua keperluannya untuk dia bawah ke kota.
Dan waktu pun berjalan begitu cepat, kini Lyana sudah tiba dimana dia akan berangkat ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan.
"Bu, doain Lyana ya. Semoga di sana Lyana mendapatkan pekerjaan dan semoga juga Lyana di permudahkan dalam mencari Rizkinya, Bu hiks" ucap Lyana meminta doa pada Sang Ibu sambil menangis
"Amin Nak. Ibu selalu mendoakan kamu yang terbaik, semoga kamu di sana baik baik saja. Satu pesan ibu Nak, jangan pernah lupakan sholatmu ya." pesan Sang Ibu
"Iya Bu," Lyana pun menghampiri Rika yang saat ini tengah menangis.
" Dek, Mbak titip ibu ya. Jaga Ibu buat mbak ya dan ingat kamu harus belajar dengan sungguh sungguh, gapai lah cita citamu, Rika. Kau harus menjadi orang sukses dan bisa membanggakan mbak juga Ibu." ucap Lyana pada Rika lalu memeluknya
" Iya mbak. Rika janji bakalan jagain ibu dan juga belajar dengan giat, aku tidak akan mengecewakan mbak yang sudah bersusah payah membiayai sekolah Rika." ucap Rika sambil menangis di pelukan Lyana
Lyana pun menghapus air matanya, lalu mengambil tas dan juga perlengkapan yang akan dia bawah ke kota.
" Titip Lyana ya, Nak" ucap Sang Ibu pada Putri
" Iya Bu. Insya Allah aku akan jaga Lyana dengan baik di sana." jawab putri sambil tersenyum
" Baik lah. Lyana pamit dulu ya Bu, Rik. Assalamu'alaikum" ucap Lyana menyalami tangan ibunya
"Waalaikumsallam." jawab Ibu dan juga Rika bersamaan
" Jangan lupa Nak ,sering sering hubungi kami.'' ucap Ibu sambil melihat kepergian Lyana
" Iya Bu. Lyana pasti akan sering sering menghubungi Ibu." jawab Lyana sambil berteriak
Lyana menangis di dalam mobil, dia tidak menyangka bahwa dia akan meninggalkan Ibu dan juga adiknya. Tapi Lyana harus kuat, semua ini dia lakukan untuk keluarganya. Dia harus berjuang agar keluarganya mendapatkan kebahagian yang seperti yang lainnya.
"Kau harus kuat Lyana. Semua ini kamu lakukan untuk keluargamu, untuk pengobatan Ibunya dan juga untuk biaya sekolah adikmu. Ayo Lyana, kau harus semangat." ucap Lyana dalam hati menyemangati dirinya sendiri
Dan setelah tiba di kota, Lyana menatap sepanjang perjalanan. Dia sangat kagum dengan gedung gedung bertingkat tinggi dan juga gemerlap lampu di sepanjang jalan yang menerangi perjalanannya.
"Ya Allah Putri, itu beneran bangunan. Itu yang buat butuh berapa tahun, tinggi bener putri??" ucap Lyana dengan kagum
" Hahah..Kau ini lucu banget ya, Ly. Kita itu udah hidup di jaman modern dan kalau kamu masih berpikir kuno, pasti bangunan itu gak akan selesai sampai kamu punya cucu." ucap Putri ngeledek ke arah Lyana.
"Heheh.. Iya Put. Maklum lah, orang desa masuk kota jadi agak sedikit norak." ucap Lyana tersenyum
" Ya udah. Sebentar lagi kita akan sampai di kontrakan aku, dan mungkin besok kamu sudah bisa interview. Semoga aja kamu di terima dan kita bisa bekerja di tempat yang sama."
" Iya Amin Put. Semoga aja aku di terima dan aku bisa satu kerjaan sama kamu. Pasti sangat menyenangkan, bekerja sama sahabat sendiri." ucap Lyana tanpa melupakan senyumannya
" Oh ya nanti kalau udah sampai. Jangan lupa kasih kabar ke Ibu kamu, biar mereka gak khawatir sama kamu." ucap Putri memberikan hpnya
Benar, di rumahnya Lyana hanya memiliki satu hp dan dia berikan pada adiknya agar saat di kota dia bisa menghubungi keluarganya. Dan karena dia tidak memiliki uang untuk membeli hp baru jadi dia meminjam hp Putri untuk menghubungi keluarganya di desa.
" Iya Put. Nanti aku pasti akan menghubungi mereka, makasih banyak ya put karena kamu udah ngebantu aku. Aku tidak tau harus bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikan mu." ucap Lyana sambil menundukkan kepalanya
" Lyana, kita ini adalah sahabat dan sesama sahabat kita harus saling membantu. Apalagi waktu masih sekolah, kamu sering membantu aku. Dan sekarang sudah waktunya untuk aku membalas semua kebaikan kamu." ucap Putri lalu memeluk Lyana.
Lyana pun mengambil hp yang tadi diberikan oleh Putri. Lyana pun menekan nomor ponsel keluarganya dan dengan cepat nomer itu langsung tersambung.
''Assalamualaikum,'' ucap Lyana saat telefonnya terangkat.
''Waalaikumsallam, Mbak.'' Rika menjawab telefon Lyana dengan perasaan gembira.
''Dek, Mbak udah sampai di kota dan Alhamdulillah Mbak besok sudah langsung interview di tempat pekerjaannya, Mbak.'' ucap Lyana memberikan kabar pada Rika
''Alhamdulillah, selamat ya Mbak. Semoga Mbak bisa diterima bekerja dan disana tanpa halangan apapun.'' ucap Rika memberikan doa pada Lyana
''Amin, Dek. Makasih ya udah doain Mbak. Oh ya Ibu kemana Dek, Mbak mau bicara sama Ibu.''
''*Bentar ya Mbak, aku kasih ke Ibu dulu." Rika berjalan ke kamarnya Ibu sambil memberikan hpnya.
"Assalamu'alaikum Lyana," ucap Ibu dengan suara lemah seperti ingin menangis*
"Waalaikumsallam, Bu. Ibu lagi apa??" tanya Lyana basa basi meskipun saat ini dia tengah menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Ibu sedang sholat, Nak. Gimana kamu udah sampai kan di kota, Nak??" tanya Lina dengan perasaan cemas
"Alhamdulillah, Bu. Lyana udah sampai kok dan doain Lyana ya Bu, Semoga besok Lyana acara interviewnya berjalan dengan lancar dan Lyana bisa diterima di sana, Bu." ucap Lyana pada sang Ibu meminta doanya.
"Tentu saja, Nak. Ibu pasti doakan Lyana disana , Semoga kamu baik baik saja dan segera mendapatkan pekerjaan. Maafkan Ibu, Lyana karena Ibu kamu harus berjuang menjadi tulang punggung keluarga. Maafkan Ibu yabg tidak berguna ini, seharusnya kau tidak merasakan semua kesusahan ini. Tidak seharusnya kau harus memikul beban seberat ini, Lyana." ucap Ibu sambil menangis, tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Lina sangat terpukul saat harus melepas Lyana bekerja di kota dan jauh darinya. Tapi dia juga tau bahwa kebutuhannya disini juga banyak, jadi mau tidak mau. Lina harus merelakan putri sulungnya untuk bekerja di kota demi membiayai semua kebutuhannya dan juga adiknya yang masih duduk di bangku SMA.
Lyana berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Tapi dia tidak bisa saat mendengar suara Ibunya yang terisak dan membuat air matanya jatuh.
''Ibu, Ibu jangan berfikir seperti itu. Sudah berapa kali Lyana katakan pada Ibu, semua kebutuhan Ibu dan juga Rika sudah menjadi tanggung jawab Lyana. Jadi Ibu jangan pernah menyalakan diri Ibu sendiri, Lyana juga ikhlas dalam menjalani semua takdir kehidupan Lyana. Meskipun Lyana harus pergi jauh dari Ibu dan juga Rika, tapi ini hanya sementara, Bu. Jika suatu hari nanti Lyana sudah mendapatkan uang yang cukup banyak, Lyana akan pulang kok, Bu. Lyana akan tinggal disana bersama Ibu dan juga Rika. Lyana juga akan memulai usaha kecil kecilan agar Lyana tidak perlu bekerja di kota lagi.'' ucap Lyana menjelaskan semua keinginannya dan berusaha menenangkan hati Ibunya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Lyana pada Ibunya. Dia memiliki rencana jika suatu hari nanti dia telah memiliki beberapa tabungan yang cukup, maka Lyana akan kembali ke desanya dan memulai usaha kecil kecilan. Lyana akan memulai usahanya dari nol dan jika Lyana memiliki rejeki yang lebih, maka dia akan melanjutkan pendidikan sang adik hingga dia sukses dan apa yang dia cita cita kan bisa terwujud.
Itu lah Rencana Lyana selama ini, membahagiakan keluarganya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Lyana ikhlas jika dia harus bekerja keras tapi membuat keluarganya bahagia tanpa kekurangan apapun seperti yang pernah mereka alami.
Kini Lyana bertekad mengadu nasib di kota agar dia dan keluarganya tidak lagi merasakan kesusahan dan yang terpenting bagi Lyana adalah mereka semua dalam keadaan sehat dan berkecukupan.
''Amin, Nak. Semoga semua kerja kerasmu bisa mendapatkan hasil yang kau inginkan dan apa yang menjadi cita cita mu bisa segera terwujud, Lyana. Ibu disini hanya bisa mendoakan mu agar kau disana baik baik saja.'' ucap Ibu dengan perasaan lega
''Amin, Bu. Ya udah ya Bu, Lyana mau istirahat dulu. Lyana juga capek dan besok Lyana juga harus interview lebih awal jadi Lyana harus bangun pagi untuk bersiap siap.'' ucap Lyana mengakhiri pembicaraannya.
''Iya, Nak. Assalamu'alaikum,''
''Waalaikumsallam, Bu.'' Lyana pun mematikan telefonnya.
Lyana pun memberikan kembali hpnya pada Putri.
''Makasih banyak ya, Put. Kamu udah mau meminjamkan hpnya sama aku.'' ucap Lyana berterima kasih.
''Iya sama sama, Ana. Lagian cuma masalah hp kok.'' ucap Putri dengan santai sambil tersenyum kearah Lyana.
Pagi hari pun kembali menyapa, saat ini Lyana sudah bersiap untuk menjalankan interview di tempat dia akan bekerja. Meskipun merasa gugup Lyana berusaha menenangkan dirinya, agar tidak gugup.
''Ana, Kamu udah siap??'' tanya Putri menghampiri Lyana yang saat ini tengah bercermin dengan ekspresi wajah tegang.
''Eemm..Aku sedikit gugup Put, aku takut nanti jika aku malah salah bicara.'' ucap Lyana dengan perasaan panik.
Putri pun menghampiri Lyana yang saat ini tengah panik. Dia mencoba menenangkan Lyana.
''Ana, kamu gak usah gugup kayak gini. Lagian insya Allah nanti kamu bakalan diterima kok, Manajer yang ada di tempat kita bekerja meminta aku untuk mencarikan seseorang yang niat dalam bekerja. Jadi nanti kamu gak usah tegang, santai aja. Ok,'' ucap Putri berusaha membuat Lyana tenang.
Setelah mendengar ucapan Putri, Lyana pun mengambil nafas dalam dan berusaha untuk menenangkan dirinya.
''Udah tenang Lyana??'' tanya Putri saat melihat Lyana tersenyum
''Iya Put, Ayo kita berangkat.'' ajak Lyana pada Putri
Akhirnya mereka berdua pun berangkat bersama ketempat kerja mereka. Dan setelah setengah jam menaiki angkutan umum, mereka pun telah tiba di tempat kerja mereka.
Mereka bekerja di sebuah hotel swasta yang berada di kota Jakarta. Dan saat ini mereka berjalan masuk kedalam untuk melakukan tugas mereka. Sedangkan Lyana, Putri mengantar Lyana menuju ketempat manajer untuk melakukan interview.
''Assalamualaikum, Mbak.'' Putri mengetuk pintu ruangan manajer.
''Waalaikumsallam, silahkan masuk.'' ucap seseorang dari dalam ruangan itu.
Putri dan juga Lyana pun masuk kedalam ruangan manajer. Dan mereka berdua pun langsung duduk.
''Ini temen kamu, Put??'' tanya Siska yang menjadi HDR di hotel ini.
''Iya Mbak. Ini temen aku yang kemaren aku ceritain sama, Mbak.'' jawab Putri memperkenalkan Lyana.
''Perkenalkan Mbak, Nama saya Lyana.'' ucap Lyana memperkenalkan dirinya.
Siska pun mengulurkan tangannya dan diterima langsung oleh Lyana sambil tersenyum.
''Perkenalkan nama saya Siska. Saya manajer disini,'' ucap Siska memperkenalkan dirinya
''Oh ya. Apakah kamu memiliki pengalaman dalam bekerja??'' tanya Siska
''Waktu di kampung, saya pernah bekerja di toko baju, Mbak. Dan selain itu saya tidak memiliki pengalaman pekerjaan apa lagi.'' jawab Lyana.
''Oh jadi kamu udah pernah bekerja di toko baju. Lyana, apakah kamu bersih bersih??'' tanya Siska
''Kalau masalah bersih bersih, setiao hari saya bersih bersih di rumah Mbak. Dan saya juga bisa melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan pekerjaan rumah tangga. Saya bisa memasak, mencuci baju, mengepel dan lainnya, Mbak.'' ucap Lyana mengatakan semua yang dia bisa.
Siska pun tersenyum saat melihat suara polos Lyana yang membuatnya sangat lucu.
''Baik baik lah. Kamu tidak usah melakukan semua pekerjaan itu, Lyana. Kamu hanya perlu membersihkan ruangan hotel yang kotor atau tempat tempat yang perlu di bersihkan.'' ucap Siska menjelaskan pekerjaannya.
''Cuma itu doang, Mbak. Saya pikir pekerjaannya akan berat,''
'' Cukup berat jika kamu tidak berpengalaman, tapi saya rasa kamu sangat berpengalam dalam urusan bersih bersih. Dan selamat Lyana kamu di terima bekerja disini,'' ucap Siska dan membuat Lyana bahagia.
''Mbak beneran??, Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Mbak.'' ucap Lyana dengan perasaan bahagia sambil mencium tangan Siska.
''Ya ampun Lyana gak usah sungkem juga kali,'' ucap Siska menarik tangannya.
''Maaf Mbak. Aku seneng banget akhirnya bisa diterima bekerja disini dan terima kasih banyak, Mbak. Insya Allah Lyana akan bekerja dengan sungguh sungguh dan tidak akan mengecewakan, Mbak.'' ucap Lyana dengan bersemangat
''Semoga saja Lyana. Dan Bayaran kamu selama satu bulan yaitu sekitar 3 juta, tapi jika pekerjaan kamu bagus dan juga rajin. Maka gaji kamu akan saya tambahin sesuai kinerja kamu.'' ucap Siska menjelaskan bayarannya yang akan dia terima selama bekerja disini.
Lyana tampak terkejut saat mendengar bayaran yang akan dia terima. Karena bayaran 3 juta di kampung itu sangat besar, lain halnya jika di kota. Semua biaya makan, transportasi dll nya itu mahal. Dan Lyana sudah senang saat mendengar bayaranya yang menurut Lyana itu besar.
''Alhamdulillah. Iya Mbak, iya. Lyana bakal kerja dengan sungguh sungguh dan tidak akan malas malasan.'' ucap Lyana mengatakannya dengan yakin.
''Syukur lah Lyana. Semoga saja kamu tidak mengecewakan saya ya,''
''Insya Allah Lyana tidak akan mengecewakan Mbak Siska.'' ucap Lyana sambil tersenyum.
Setelah menjalankan interview dan Lyana di terima bekerja di hotel tersebut. Putri pun menyuruh Lyana untuk kembali ke kostannya dan memberikan dia sejumlah uang untuk biaya ongkosnya.
"Ana, Ini uang buat kamu." ucap Putri memberikan uang kepada Lyana.
"Ini uang buat apa Put??" tanya Lyana dengan perasaan bingung.
"Ini ongkos buat kamu kembali ke kost, Ana." jawab Putri
"Gak usah, Put. Aku punya uang kok, dan aku rasa uang ini masih cukup kok." Lyana menolak uang yang diberikan oleh Putri.
"Udah ambil aja. Uang yang kamu punya itu buat kebutuhan kamu yang lain aja, Ana."
"Tapi, Put-" belum selesai Lyana menyelesaikan kalimatnya, Putri memotongnya.
"Udah Lyana, ambil saja. Dan sekarang kamu cepat cari angkot takutnya gak ada angkot lewat lagi." ucap Putri mendorong tubuh Lyana agar dia cepat pergi.
"Makasih banyak ya, Put. Kamu udah mau membantu aku." ucap Lyana sebelum dia menaiki angkotnya.
"Iya sama sama. Udah ah sana, nanti kita ketemu lagi.'' Putri melambaikan tangannya saat Lyana sudah menaiki angkotnya.
Putri memberikan uang tersebut agar Lyana tidak banyak mengeluarkan uang. Apalagi Putri tau bahwa Lyana hanya memiliki uang pas Pasan. Dan dengan ikhlas Putri membantu Lyana yang saat ini tengah kesusahan.
Di dalam angkot Lyana melihat uang yang diberikan oleh Putri tadi. Lyana tersenyum sambil menghapus air matanya yang jatuh karena dia terharu atas kebaikan Putri yang selalu membantunya.
"Terima kasih banyak, Put. Insya Allah jika nanti aku udah memiliki rejeki aku tidak akan lupa dengan kebaikan kamu ini dan aku juga akan membalas semua yang telah kamu berikan padaku." ucap Lyana sambil menggenggam uang pemberian dari Putri.
Setelah sampai di kostannya, Lyana pun langsung membereskan kostannya itu dan di saat malam tiba. Lyana menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Assalamu'alaikum," ucap Putri dan membuka pintu kostannya. Dan betapa terkejutnya Putri saat melihat Lyana tengah memasak makanan untuknya.
"Waalaikumsallam." jawab Lyana dari dalam dapur.
" Ya ampun Ana, kamu ngapain??" tanya Putri menghampiri Lyana yang saat ini tengah memasak makan malam.
" Eh, Kamu udah datang Put. Aku lagi masak nih buat makan malam kita, ya udah sekarang kamu tunggu di sana dulu. Makanannya sudah siap kok," ucap Lyana sambil menyiapkan makan malamnya.
Putri menggelengkan kepalanya saat melihat Lyana yang tengah kelimpungan menyiapkan makanan buat mereka berdua.
"Ana, Kamu ngapain repot repot masak kayak gini??" Putri melihat beberapa makanan yang dimasak oleh Lyana.
"Gak papa, Put. Lagian aku masaknya makanan sederhana. Ya udah ayo kita makan bersama." ucap Lyana mengajak Putri.
Dan akhirnya mereka berdua pun makan malam bersama.
Mentari pun kembali menampakkan sinar paginya. Saat ini Lyana dan juga Putri sudah bersiap untuk berangkat bekerja.
Dan setelah sampai di tempat kerjanya, Lyana langsung mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Bahkan dalam satu bekerja Lyana sudah mendapatkan nilai positif dari atasannya.
"Dia anak baru itu??" tanya pemilik hotel tersebut.
"Benar, Pak. Dia baru sekarang ini bekerja dan bagaimana menurut Bapak??" tanya Siska pada pemilik hotel tersebut
"Dia cukup rajin bahkan semua pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik. Saya suka dengan cara dia bekerja, Sis. Laporkan pada saya jika terjadi sesuatu pada dia." ucap sang pemilik Hotel pada Siska.
"Siap, Pak." jawab Siska.
Waktu pun berjalan begitu cepat, sudah satu bulan lamanya dia bekerja di sini. Dan saat ini bayaran pertama baginya.
"Ini Lyana bayaran buat kamu." Siska. memberikan gajinya pada Lyana.
Lyana menerimanya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Mbak." ucap Lyana tersenyum dan menerima gajinya.
"Ada sedikit bonus buat kamu Lyana, karena kinerja kamu yang cukup memuaskan. Saya harap kamu bisa mempertahankan kinerja kamu ini." ucap Siska mengatakan tentang kinerjanya yang baik.
"Benarkah, Mbak. Alhamdulillah, terima kasih banyak Mbak. Insya Allah saya akan lebih rajin lagi. Terima kasih banyak, Mbak.'' ucap Lyana sangat senang karena ia mendapatkan bonus dan Lyana bisa segera mengirimkannya pada keluarganya.