Dira seharusnya sudah sembuh.
Setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri saat pesawatnya mendarat di kota ini-kota yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan hancur.
Tiga tahun sudah berlalu sejak malam itu. Malam ketika ia mendapati Reza bersama wanita lain, dan hatinya terkoyak tanpa bisa diperbaiki lagi. Sejak saat itu, ia berusaha membangun ulang hidupnya di kota yang berbeda, jauh dari semua kenangan yang menyakitkan.
Namun kini, takdir membawanya kembali.
Dira menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. Matanya menatap keluar jendela taksi yang membawanya menuju hotel tempat ia akan menginap. Jalanan yang dulu terasa begitu familiar kini seperti dunia lain. Kota ini tetap sama, tapi entah mengapa, ia merasa seperti orang asing di dalamnya.
Ia menggigit bibirnya. Ia bisa melewati ini. Ia sudah jauh lebih kuat daripada tiga tahun lalu.
Bukan, Dira. Kau hanya ingin percaya bahwa kau sudah kuat.
Dira mengalihkan pandangannya ke luar jendela lagi, berusaha mengusir suara di kepalanya.
Taksi berhenti di depan sebuah hotel mewah di pusat kota. "Ini tempatnya, Bu," kata sopir taksi dengan ramah.
Dira tersenyum tipis dan menyerahkan sejumlah uang sebelum turun. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir perasaan tak nyaman yang tiba-tiba merayapi dadanya.
Ia datang ke kota ini bukan untuk mengenang masa lalu. Ia datang untuk bekerja.
Tapi kehidupan memang punya cara kejam untuk mempermainkan manusia.
Hari itu, seharusnya menjadi awal baru baginya. Tapi semua rencana itu hancur seketika saat ia masuk ke ruang rapat perusahaan tempat ia akan bekerja selama beberapa bulan ke depan.
Di sana, duduk di ujung meja dengan jas hitam dan wajah tanpa ekspresi, adalah pria yang selama ini ia hindari.
Reza.
Dira membeku di ambang pintu. Napasnya tercekat. Dadanya bergemuruh hebat, seolah seseorang baru saja meninju ulu hatinya.
Tidak mungkin.
Matanya melebar, dan untuk beberapa detik, ia tidak bisa bergerak.
Reza juga menatapnya. Tatapannya tidak lagi penuh kasih seperti dulu. Tidak ada lagi kelembutan di sana. Yang tersisa hanyalah sepasang mata tajam dan dingin-seolah ia hanyalah orang asing yang kebetulan masuk ke dalam ruangannya.
Semua orang di ruangan terus berbicara, tapi bagi Dira, dunia terasa hening. Suaranya menghilang, hanya ada detak jantungnya yang berdebar tak terkendali dan tatapan Reza yang menelannya bulat-bulat.
Kenapa dia ada di sini?
Kenapa dari sekian banyak perusahaan, proyek yang kutangani harus milik dia?
"Silakan duduk, Bu Dira."
Suara seseorang menyadarkan Dira dari kekosongan itu. Dengan cepat, ia mengendalikan ekspresi wajahnya, menekan semua emosi yang tadi hampir menyeruak. Ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak di hadapan pria itu.
Dengan dagu terangkat, ia melangkah masuk dan duduk di kursi kosong di seberang Reza. Ia bisa merasakan tatapan pria itu masih tertuju padanya, tapi ia tidak menggubrisnya.
Rapat dimulai.
Orang-orang mulai mempresentasikan proyek renovasi kantor besar yang akan Dira tangani. Mereka berbicara tentang konsep desain, target penyelesaian, dan anggaran.
Tapi Dira nyaris tidak bisa berkonsentrasi.
Hanya ada satu kesadaran yang terus menghantui pikirannya-ia sedang berada dalam satu ruangan dengan Reza.
Dan Reza belum mengatakan apa pun sejak ia masuk.
Namun, saat rapat hampir selesai, pria itu akhirnya berbicara.
"Saya harap Anda bisa bekerja dengan profesional, Bu Dira," katanya, dengan suara yang begitu dingin dan terukur.
Seolah tidak pernah ada masa lalu di antara mereka.
Seolah mereka benar-benar orang asing.
Dira menguatkan dirinya. Ia menatap lurus ke matanya, tidak ingin menunjukkan sedikit pun kelemahan.
"Tentu saja," jawabnya datar.
Reza menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya, lalu mengalihkan pandangannya.
Dira merasakan sesuatu di dadanya mencelos. Ia tidak tahu apa yang lebih menyakitkan-tatapan dingin itu, atau kenyataan bahwa Reza bisa berpura-pura seolah tidak pernah ada apa pun di antara mereka.
Tapi ia menolak untuk peduli.
Rapat selesai, dan semua orang mulai keluar dari ruangan. Dira mengemasi dokumennya dengan tangan sedikit gemetar.
Saat ia berdiri dan hendak pergi, ia mendengar suara Reza berbicara dengan seseorang di dekat pintu.
Ia tidak berniat menguping, tapi kata-kata yang ia dengar berikutnya membuat tubuhnya menegang.
"Waktuku tidak banyak lagi."
Langkah Dira terhenti.
Napasnya tercekat. Apa maksudnya?
Ia berbalik untuk melihatnya, tapi Reza sudah pergi, meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun.
Dira berdiri di tempatnya, hatinya tiba-tiba dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia abaikan.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Dan kenapa hatinya masih bergetar saat memikirkannya?
Malam itu, Dira berdiri di balkon kamarnya, menatap langit kota yang kelam. Angin dingin menerpa wajahnya, tapi ia hampir tidak merasakannya.
Bayangan Reza terus menghantui pikirannya.
Selama tiga tahun ini, ia mencoba menghapus pria itu dari ingatannya. Ia berpikir Reza adalah bagian dari masa lalu yang tidak akan pernah ia sentuh lagi.
Tapi pertemuan tadi siang membuktikan bahwa semua luka itu masih ada.
Matanya terpejam. Ingatan tentang malam penuh pengkhianatan itu kembali menyerang.
Bagaimana ia bisa melupakan rasa sakit yang begitu dalam?
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak boleh lemah.
Besok, ia akan bekerja di perusahaan Reza setiap hari. Ia tidak bisa membiarkan masa lalu mengendalikan dirinya.
Dira menghembuskan napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam kamarnya.
Namun, sebelum ia menutup pintu balkon, matanya menangkap sosok seseorang di trotoar seberang jalan.
Seseorang yang mengenakan jas hitam, berdiri di bawah cahaya lampu jalanan.
Jantung Dira berdegup kencang.
Reza.
Pria itu berdiri di sana, menatap ke arah hotelnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
Dira menelan ludah. Mereka berdiri terpisah oleh jarak yang cukup jauh, tapi entah kenapa, rasanya seperti hanya ada mereka di dunia ini.
Detik berikutnya, Reza berbalik dan berjalan pergi, menghilang di balik bayangan kota.
Dira masih berdiri di tempatnya, matanya tertuju ke arah pria itu menghilang.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari kemarahan di dalam dirinya.
Sebuah pertanyaan yang mengusik hatinya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Reza?
Dan kenapa ia merasa... ada sesuatu yang salah?
Dira menatap pria yang berdiri di hadapannya.
Reza kini bukan pria yang sama.
Matanya masih tajam seperti dulu, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana—sesuatu yang dingin, keras, dan sulit dijangkau. Ia tidak lagi menunjukkan kehangatan yang dulu selalu membuat Dira merasa aman.
Dan yang lebih mengganggu adalah caranya berbicara.
Setiap kali Dira bertanya, Reza hanya menjawab seperlunya.
Seolah-olah ia sudah membangun dinding yang begitu tinggi di sekelilingnya, menolak siapa pun untuk masuk.
“Sejak kapan kau kembali bekerja di sini?” tanya Dira, mencoba memecah keheningan.
Reza tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang sebelum akhirnya berkata, “Baru beberapa bulan.”
Dira menunggu, berharap ada tambahan penjelasan. Tapi tidak ada.
Hanya itu.
Jawaban yang singkat dan tidak membantu.
Dira mengepalkan tangannya di bawah meja.
Dulu, Reza selalu bercerita tentang apa pun padanya. Tapi sekarang, ia seperti orang asing.
Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini.
Toh, mereka bukan siapa-siapa lagi.
Namun, ada sesuatu yang mengganggunya.
Sesuatu yang terasa salah.
Tatapan Reza. Cara bicaranya.
Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Hari-hari berlalu, tapi Dira tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang mengusiknya setiap kali ia berada di dekat Reza.
Ada saat di mana ia menangkap pria itu sedang menatapnya.
Bukan tatapan biasa.
Tatapan itu seakan menyimpan sesuatu.
Tapi begitu mata mereka bertemu, Reza langsung mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Dira berusaha tidak memikirkannya, tapi semakin ia mencoba, semakin pikirannya dipenuhi oleh teka-teki yang belum terpecahkan.
Hingga suatu malam, ia menemukan jawabannya.
Saat itu sudah malam, dan kantor hampir kosong.
Dira kembali ke ruangannya untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Tapi sebelum ia sempat membuka pintu, suara rendah Reza menarik perhatiannya.
Dira berdiri diam di balik dinding, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.
Suara Reza terdengar serius, berbeda dari biasanya.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi,” suaranya pelan tapi tegas.
Dira menahan napas.
Apa maksudnya?
“Aku akan mengurus semuanya. Jangan bilang apa pun padanya.”
Dira mengerutkan kening.
Siapa yang ia maksud dengan 'padanya'?
Dira semakin penasaran.
Ia mengintip sedikit dari celah dinding dan melihat Reza berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Rahangnya mengeras, tangan kirinya mengepal.
Sekilas, pria itu terlihat tegang.
Terlalu tegang.
Seakan ia sedang menghadapi sesuatu yang besar… sesuatu yang berbahaya.
Dan yang lebih aneh lagi, setelah menutup teleponnya, Reza tidak langsung pergi.
Ia berdiri diam di tempatnya, menundukkan kepala, lalu mengusap wajahnya dengan kasar—seperti seseorang yang sedang berjuang melawan perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.
Dira tidak bisa bergerak.
Ia tidak pernah melihat Reza seperti ini sebelumnya.
Dingin. Jauh. Dan… menyimpan sesuatu yang gelap.
Pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.
Apa yang Reza sembunyikan?
Siapa yang ia ajak bicara?
Dan yang paling penting—apa maksudnya dengan "waktu yang hampir habis"?
Sebelum Dira bisa berpikir lebih jauh, suara langkah kaki mendekat.
Ia buru-buru melangkah mundur, jantungnya berdegup kencang.
Ia harus pergi sebelum Reza menyadari keberadaannya.
Tapi satu hal yang pasti.
Reza tidak hanya berubah.
Pria itu sedang menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang pernah Dira bayangkan.
Dan entah bagaimana… firasatnya mengatakan bahwa ini hanya permulaan dari sesuatu yang lebih buruk.