“Enggak usah pulang! Nginep aja sekalian!” Begitu pesannya tiap kali aku telat pulang. Kami berkenalan dalam waktu dekat, lalu memutuskan menikah dalam kurun waktu 4 bulan. Dulu sebelum menikah tuturnya lembut dan santun. Namun, lambat laun semua berubah.
“Aku pulang jam 12 malam.”
“Sekalian enggak usah pulang,” balasnya lagi. Ini tahun kelima kami menikah. Dia selalu mengekang. Tidak ada lagi kebebasan juga kenyamanan dalam rumah. Hari-hari berlalu begitu. Dia yang hanya sibuk dengan anak-anak, juga ibu serta adikku yang selalu menuntut di belikan barang yang harganya fantastis. Dilra tak banyak bicara saat kami bertemu, mungkin sungkan dengan ibu. Bagaimanapun memarahi seorang anak di depan ibunya, mungkin dia tak berani. Saat marah dia akan mendiamkan seharian, hari demi hari sikapnya semakin menjadi. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi. Seingatku sebelum melahirkan istriku tak begitu menuntut menemani di samping. Namun, setelah ada anak sikapnya benar-benar berubah. Kadang muak. Mengingat perjuangannya saat melahirkan Dion, hati ini luluh kembali.
“Mau kamu apa? Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, aku juga capek kerja banting tulang, sampai rumah kamu diamkan aku, enggak jelas!” Aku sedang di bengkel, dan dia malah mengirimkan pesan lagi.
“Kalau enggak mau pulang, aku bunuh anak-anakmu sekarang juga.”
Gila, bagaimana aku tak panik. Setibanya di rumah beruntung tak ada yang terjadi Dilra malah duduk murung di pojok kamar seraya memeluk lutut, sedang anakku tertidur dengan pulas. Gegas kuperiksa deru nafasnya masih hidup. Syukurlah Dion masih bernafas.
“Kamu gila Dilra!” Dia justru makin terisak.
“Mana Ibu biar kuberikan anak-anak sama Ibu!” Aku segera menggendong Dion, tetapi Dilra langsung berdiri, dengan cepat merebut bayi itu.
“Kembalikan!” katanya.
“Kamu kalau mau mati, mati saja sendiri! Enggak usah bawa-bawa anak, dasar gila!” Aku kalap waktu itu, hingga tak sadar mengucapkan kalimat yang terlampau tajam.
“Kembalikan!” katanya seraya bersiap merebut Dion. Aku kembali menepis. Bagaimana bisa memberikan bayi ini pada orang yang jelas berniat membunuhnya. Sudah kurasakan ada yang tak beres dengan Dilra. Sejak dulu harusnya aku menyadari lebih awal.
“KEMBALIKAAAAAN, ITU ANAKKU!!!” Aku terenyak tanpa sadar bayi Dion telah berpindah ke tangannya. Untuk pertama kalinya Dilra berteriak. Bukan hanya itu, entah dapat kekuatan dari mana. Dia mampu mendorong tubuhku dengan kasar hingga keluar kamar. Tiba-tiba saja pintu kamar dibanting dengan keras. Dion tak lagi menangis. Aku yang panik kembali masuk ke dalam.
“Kamu apakan anakku?” Dilra hanya menatap datar, sementara itu bayi Dion tengah menghisap ASI. Usia Dion masih 4 bulan. Seharusnya Dion anak ke tiga kami, tetapi Tuhan berkehendak lain. Kedua anak kami telah menghadapnya lebih dulu. Dilra keguguran dua kali. Mengingat soal kegugurannya aku mulai mengaitkan peristiwa demi peristiwa. Dia sering menangis setelah keguguran yang kedua. Aku sempat menyalahkan atas kecerobohannya, bayangkan saja sudah dua kali kami kehilangan calon buah hati.
Hari itu kata Ibu, istriku jatuh dari motor, sudah kubilang padahal jangan pergi naik motor, tapi dia tetap nekat. Dia tak banyak protes waktu itu hanya diam dan sesekali menangis saat malam. Sejak saat itu dia jadi makin menutup diri, setahuku dia punya arisan setiap dua minggu sekali dengan tetangga tapi belakangan dia tak pernah ikut berkumpul lagi, puncaknya saat acara makan-makan dengan tetangga, ia memilih tinggal katanya tak enak badan padahal setahu dia baik-baik saja.
“Kalau ada masalah bisa enggak sih dibicarakan baik-baik.”
“Maaf.” Satu kata yang membuatku muak. Kutinggalkan dia sendiri. Tentunya setelah memastikan Dion tertidur dengan pulas. Hari ini kebetulan Ibu dan Mia tak ada jadi pasti berani berbuat kasar. Seraya menyesap batang rokok. Mencoba menetralkan pikiran yang mulai runyam. Dilra itu baik, tak menyangka dia berubah drastis macam sekarang. Keesokan paginya aku dibangunkan Ibu, nyatanya aku ketiduran di Sofa.
“Kenapa kamu tidur di sini?”
“Oh Galang ketiduran, Bu.”
“Istri kamu itu memang keterlaluan. Setiap Ibu keluar pasti ribut. Harusnya kamu tegur! Biar tahu cara menghormati suami.”
“Iya nanti aku tegur.”
“Sekarang ke mana dia, kenapa enggak ada di kamar?”
“Ke warung paling.”
“Baguslah, sini Ibu mau ngomong serius!”
“Kenapa, Bu?”
“Sini duduk, Lang!” ajak Ibu menyuruh duduk mendekat padanya.
“Kamu punya istri kurang ajar kayak gitu mending pisah!” kata Ibu. Lagi-lagi bayangan Dilra yang menahan sakit saat melahirkan wajah pucatnya aroma amis darah semua masih terekam jelas di benakku. Sudah kali ke tiga sejak menikah ibu selalu saja menyarankan kami untuk pisah. Aku tak banyak menanggapi tetapi kali ini agaknya Dilra sudah keterlaluan. Di bengkel pikiranku benar-benar kacau, apa harus kupertimbangkan permintaan ibu kali ini.
“Kenapa? Gelisah amat ?” sapa Ardi teman sekaligus partner bisnisku.
Kami membangun bengkel mobil ini berdua.
“Gue mau pisah.”
“Serius lo? Kenapa?” Ardi yang tadinya duduk di atas meja kerjanya kini berjalan mendekat ke arahku.
“Gue capek sama Dilra.”
“Perempuan kalem kayak Dilra masih aja kurang, apalagi bini gue.”
“Lo enggak tahu sikap Dilra ke gue bagaimana? Ketus, enggak kayak dulu lembut pemaaf, sekarang bikin enggak betah di rumah.”
Ardi malah tertawa mendengar keluhanku.
“Memangnya lo benar jadi suami?”
“Maksud lo?”
“Pikir sendiri, waktu lo susah Dilra ada tuntut lo minta duit lebih?”
“Enggak.”
“Nah sekarang pas lo kaya, dia nuntut minta duit, wajarlah.”
“Bukan masalah duit, kalau masalah itu dia enggak pernah tuntut, semuanya gue serahkan ke ibu.”
“Apa? Lo kasih ke siapa duitnya?”
“Ibu, kenapa? Mereka kan serumah, biar enggak ribet, lagian Dilra juga boros enggak pintar atur uang.” Ardi malah menggeleng kepala
“Bisa ya, memang bini lu enggak pernah protes?”
“Sering, tapi lebih pilih mengalah karena Ibu suka enggak mau kalah, ujung-ujungnya ibu malah bikin masalahnya jadi rumit.
“Parah! Berapa tahun lu rumah tangga sama Dilra?”
“5 tahun.”
“Selama itu juga lu menyakiti anak orang, harusnya lu bisa bedakan tanggung jawab sebelum dan setelah nikah, lu boleh kasih orang tua, tapi enggak pakai atur keuangan rumah tangga lu juga.”
“Tapi Dilra enggak pernah protes.”
“Gak pernah protes tapi dia sering marah buat urusan yang enggak jelas apa namanya?
Aku diam. Memikirkan Dilra yang memang berubah pemarah terlebih sejak aku membuat keputusan untuk mengajak Ibu turut serta mengatur keuangan kami. Awalnya memang Dilra yang mengatur semuanya sayang hanya bertahan 3 bulan setelah itu. Mengingat Dilra yang juga baru saja keguguran, aku mempercayakan semuanya pada ibu termasuk keuangan kami dan itu berlanjut sampai hari tak pernah terlintas kalau itu menyakiti hati Dilra. Dia memang kerap protes tapi seperti tak benar-benar menuntut untuk kembali mengambil kendali, aku jadi tak terlalu mengindahkan permintaannya.
“Di.”
“Apa lagi?”
“Istri lo pernah enggak sih kayak melamun terus sering murung, bahkan kayak menutup diri.”
“Kagaklah bini gue, setiap hari ada saja maunya enggak pernah bisa diam. Tugas gue cuma bisa menuruti kemauannya dari pada kena amuk.”
“Takut istri lu ya?”
“Mending gue takut istri dari pada bini seteres. Sudah ah gue mau kerja.”
“Sialan, lo pikir Dilra seteres.”
“Ya lo pikir sendiri, orang seteres awalnya dari apa coba? Kebanyakan beban, dipendem sendirian.”
Kenapa rasanya seperti di tampar. Semua yang diucapkan Ardi itu begitu menyinggungku. Tak mau buang waktu aku segera pulang ke rumah saat jam istirahat. Entah siapa yang memarkir motor sembarangan persis di depan rumah, siapa gerangan yang mampir. Aku mengintip lewat celah pagar, mengurungkan niat untuk masuk ke dalam. Dilra menyerahkan uang pada pria berkemeja itu. Lalu pria itu menyerahkan sobekan kecil dari bukunya. Begitu berbalik ternyata itu Pak Rudi. Bank keliling harian yang biasa meminjami Ibu-ibu sekitar rumahku, tetapi itu dulu saat di rumah yang lama. Entah kenapa dia bisa kemari. Jadi Dilra diam-diam meminjam uang tanpa sepengetahuanku?
"Dil, siapa tadi? Bank keliling ‘kan?” tanyaku. Tatapan Dilra langsung berubah tak suka.
“Untuk apa pinjam-pinjam segala, itu riba!” sentakku kala Pak Rudi, sudah memacu motornya.
“Enggak pernah dikasih uang ya pinjam,” jawabnya datar. Tidak tampak raut bersalah sama sekali, malah membalik badan dan berjalan begitu saja. Kuikuti ke mana arah langkahnya tertuju, ke arah dapur rupanya.
“Dilra, kamu masih menghargai Mas, enggak? Butuh uang berapa sih, apa susahnya tinggal bilang sama Ibu? Kalian serumah, tahu dosa enggak sih kamu! Boleh kamu pinjam kalau kepepet, aku kerja mati-matian kalau bukan buat kamu.” Dilra yang tengah mengambil cangkir yang menggantung di mini bar mendadak meletakannya kembali. Kini dia berjalan mendekat.
“Kenapa, mau marah lagi?” Dilra hanya menatap tajam. Seperti dugaank dia marah lagi. Dadanya naik turun, menahan emosi, mata yang mulai memerah semakin menjelaskan semua itu. Kulihat tangannya mulai meremas kuat, hingga buku-buku jarinya tampak memerah.
“Aku pinjam karena butuh, salah?”
“Berapa yang kamu pinjam, seberapa besar yang bisa dia kasih?”
“Dua ratus ribu.” Sungguh tidak habis pikir. Aku sedikit terkekeh, uang sekecil itu kenapa harus meminjam.
“Hanya dua ratus ribu kamu pinjam ke Bank?”
“Kenapa kamu ketawa Mas, lucu ‘kan? Istri pemilik bengkel mobil besar, pinjam uang dua ratus ribu ke bank keliling?”
“Jangan bercanda Dil, bilang berapa hutangmu?”
“Ya sudah kalau enggak percaya, tanya ke Pak Rudi.”
“Aku kasih ibu uang 10 juta hanya untuk kebutuhan makan dan kamu malah pinjam ke Pak Rudi dua ratus ribu buat apa, masih belum cukup juga?” Aku sedikit berteriak karena dia seakan acuh, memilih meneruskan membuat kopi yang tadi, sempat tertunda.
“Itu buat ibumu bukan buatku.”
“Apa maksudmu bilang begitu, jelas itu buat kita semua.”
“Ah, berisik tahu. Ini kopi minum aja. Besok-besok enggak usah minta bikin kopi, kalau enggak mau didatangi rentenir ke rumah.”
“Dilra! Begitu caramu melayani suami?" Lagi pula sedang puasa kenapa juga malah menyuguhkan kopi, apa dia melupakannya?
“Ya terus, maunya bagaimana?”
“Dilra kamu keterlaluan, aku selama ini sabar sama kamu tapi kalau cara kamu begini ....”
“Mas mau apa, kenapa sih mas cerewet banget. Aku butuh uang buat beli kopi gula, siapa yang minum? Kamu juga ‘kan? Masih mending anakmu minum ASI, jadi enggak perlu repot-repot keluar biaya.”
“Sekali pun Dion minum susu formula aku masih mampu!”
“Oh, ya? Kalau hanya masalah gula kopi hutang ke Pak Rudi, bagian mana yang kamu sebut mampu, Mas? Sudahlah aku mau nyapu.”
Plakk!!
“Cukup Dilra, kamu keterlaluan!” Kali ini aku kalap lagi, tak sengaja menamparnya. Untuk pertama kalinya juga aku melakukan ini, tapi kurasa ini setimpal untuk istri yang selalu melawan. Dilra tampak mengusap pipinya yang memerah, matanya menatapku nanar tapi tak lama dia mengusap air mata yang mengalir dengan cukup kasar. Setelahnya, seolah tak terjadi apa-apa Dilra malah meraih sapu. Aku berpikir dia akan melawanku tapi malah menyapu lantai. Aku jadi merasa bersalah.
“Dil, Mas minta maaf.”
“Hmm.” Dilra tidak mau melihat ke arahku sama sekali, pandangannya ke lantai masih fokus dengan sapu di genggamannya.
“Dil.” Kali ini aku menahan lengannya, lalu menangkupkan kedua tanganku di wajah wanita itu. Ada jejak merah berbentuk telapak tangan di sana, tapi seakan dia tak merasa tersakati sama sekali.
“Sakit, Dil?” Aku mengusap pipinya pelan, perlahan sapu di genggamannya terlepas, kini kami saling menatap.
“Maaf, Mas kelepasan, pasti sakit. Biar dikompres pakai es ya.” Mata Dilra terlihat berembun, tapi lagi-lagi dia tak mau membuka suara. Tangannya malah menggenggam kedua tanganku.
“Lepas!!!” ketusnya, sungguh membuatku terkejut bukan main. Setelahnya langsung menghempas tanganku dengan kasar. Sekarang malah pergi ke kamar, membiarkan sapu tergeletak begitu saja. Aku berniat menghampiri, tapi begitu mengetuk pintu dia seperti sengaja tak ingin ditemui. Pintunya dikunci dari dalam. Aku menyerah sudah diketuk berkali-kali, tetap tak mau keluar. Dia menulikan diri meski seharusnya merasa terganggu. Sempat terdengar jeritan bayi Dion, karena terkejut dengan suaraku, tapi Dilra masih kukuh tak mau membuka pintu.
Aku memutuskan tak kembali ke bengkel, menunggu sampai Dilra mau keluar kamar. Ternyata rumah sepi sekali saat siang hari, Ibu dan Mia entah pergi ke mana dari siang sampai sore belum juga pulang, hingga pukul empat. Aku dengar suara pintu di buka, ada Ibu dan Mia di balik sana. Mereka tampak riang dengan beberapa tas belanja berisi pakaian dan camilan. Aku memperhatikan dari lantai dua. Sampai sekarang mereka belum sadar akan kehadiranku.
Jam menunjukkan pukul 4.30 sudah setengah jam aku memperhatikan mereka dari dalam sini. Sesekali tawa mereka terdengar riang, tanpa sadar membuatku tersenyum. Akhirnya aku bisa membuatmu bahagia Bu. Saat itu juga Dilra keluar dari kamar. Dia melewati begitu saja, seolah aku ini tak tampak baginya.
“Dil.”
“Aku mau masak Mas, jangan ikuti aku!” Ya sudahlah aku menyerah. Aku turun ke bawah tak lama setelah Dilra berada di dapur.
“Eh kami kok udah ada di rumah Lang?” Ibuku tampak gugup menyadari kehadiranku. Dia tampak gelisah memasukkan asal barang belanjaannya ke dalam tas.
“Enggal usah disembunyikan, aku sudah liat semuanya.” Seketika Ibu tertunduk, mungkin merasa bersalah.
“Enggak apa-apa Bu, Galang senang kalau bisa bikin Ibu bahagia.”
“Benar enggak apa-apa, Lang?”
“Ya, Bu.” Ibu malah menangis haru. Dia selalu begitu begitupun Mia yang malah mengikuti Ibunya. Sementara di dapur Dilra seolah tak peduli sama sekali. Dia tetap asyik bergulat dengan sayur mayur dan alat masaknya.
Ruang keluarga memang sengaja dirancang mengarah langsung ke semua tempat. Dilra yang mengusulkan katanya biar mudah mengontrol anak-anak kami dari sini, awalnya Ibu juga menolak tapi alasan Dilra cukup masuk akal kali itu. Dilra dan Ibu hampir selalu beda pendapat sejak dulu bahkan sampai sekarang. Seringnya Dilra mengalah, katanya cuma ingin hidup dengan tenang dan damai. Itu dulu kalau sekarang kutanya kenapa dia mau mengalah, maka dia akan berkata, malas ribet. Dia telah berubah, aku hampir kehilangan sosok Dilra yang lembut.
“Ibu enggak salat?” tanyaku.
“Oh iya, Ibu lupa.”
“Ya sudah salat dulu!”
“Nanti saja sudah terlanjur juga, lihat! Sudah jam 5.” Begitulah Ibu setiap kali diminta ibadah alasannya banyak. Aku menatap lembut, tanpa bicara apa pun. Berharap dia mengerti dan mau menunaikan kewajibannya segera.
“Ibu juga belum mandi, kotor, bau masa salat enggak mandi.”
“Enggak mandi juga boleh, kalau waktunya sudah mepet Bu.”
“Enggak ah, mana bisa begitu, enggak sah salatnya.”
“Bu ….”
“Nanti Ibu salat magrib Lang, sudah ya, Ibu mau ke kamar dulu.”
“Mia, kamu salat sana!”
“Aku mau ke kamar dulu, Bang!”
“Mi kamu sudah gede loh, masa salat saja harus diingatkan terus.”
“Mia nanti salat di kamar saja.”
“Bener ya?” Mia mengangguk, lalu setengah berlari menuju kamarnya dan entah dia salat atau tidak karena kuperhatikan dia tak keluar kamar lagi. Hanya kamar Mia yang tak punya kamar mandi, jadi bisa kupastikan dia tak salat kali ini. Sedih jika memikirkan keluargaku, mereka jauh dari agama, ditambah lagi Dilra yang malah meminjam uang ke bank keliling susah sekali menasihati mereka. Aroma masakan tercium sampai ke ruang tamu, rupanya Dilra telah selesai masak, dia menyusun makanannya di meja. Azan magrib tinggal beberapa menit lagi, Ibu dan Mia baru keluar.
“Enggak mandi dulu, Mi?”
“Ah nanti saja Bang,” jawabnya dengan wajah malas.
“Tadi enggak salat?” tanyaku. Jujur saja aku sedikit kesal. Seumuran Mia seharusnya sudah mengerti tentang kewajibannya. Dia bukan lagi anak kecil yang harus selalu diingatkan.
“Hehehe.” Begitulah Mia, bukannya merasa bersalah, dia malah tertawa tanpa dosa. Kami semua berkumpul dalam satu meja, saat Azan berkumandang Dilra masih saja sibuk mengangkat gorengan yang masih tersisa di wajan.
“Sudah Dil buka dulu.” Dila hanya menengok, tapi kulihat dia meminum segelas air putih setelahnya.
“Sudah biar saja, nanti juga makan sendiri," sahut Ibu. Benar juga, tak lama Dilra duduk bergabung dengan kami. Dia dengan cepat mengambil nasi dan lauk pauknya baru saja akan menyuap ibu malah mengajaknya bicara.
“Ambil Dion dulu Dil, masa anakmu udah masuk magrib ditinggal sendirian.”
“Iya, Bu,” sahutnya. Dilra langsung pergi mengabaikan nasi dan lauk pauk yang hampir masuk ke mulutnya, tak lama dia datang dengan Dion. Ditariknya keranjang goyang bayi ke dekat meja makan. Ketika Dilra baru duduk Ibu malah meminta untuk mengangkat bayinya. Katanya bayi enggak boleh ditinggal pas magrib, harus digendong. Dilra menurut lagi dia menggendong Dion, kebetulan saat itu Dion juga menangis, jadi kali ini niat istriku makan urung lagi.
“Biar Mas saja.” Raut wajah Dilra yang merengut, seakan kembali bersinar tapi seketika langsung padam.
“Sudah kamu kan habis kerja, makan saja, biarkan sama Ibunya diberi ASI bentar juga diam.” Saat itu Dilra memilih pergi menjauh dari kami, dia berjalan ke arah belakang.
“Mau ke mana, sudah enggak usah di susul.”
“Mau salat Bu.” Sebenarnya aku berbohong, tak tega melihat Dilra yang pasti sama laparnya. Sedikit mengendap-endap aku mengikuti Dilra. Dia masuk ke area dapur kotor, menuangkan nasi dari penanak nasi otomatis, lalu sisa sayur di wajan. Aku bisa melihat kalau dia hanya makan dengan kuah, tak ada potongan sayuran sama sekali.
“Mau makan saja ribet!” gerutunya pelan. Aku menyunggingkan bibir karenanya. Di depan Ibu dia tak banyak protes tapi di belakang malah menggerutu. Sekarang dengan Dion dalam gendongannya. Dia tampak melafalkan doa buka puasa, lalu sejenak menatap wajah Dion, tampak senyum melengkung di bibirnya. Setelahnya Dilra langsung makan dengan lahap. Meski dengan hanya kuah sayur sisa, dengan posisi duduk di lantai dapur tanpa alas sembari menggendong Dion. Sesekali Dion menangis, tapi dia cepat menenangkannya dengan Asi. Setelah itu Dilra kembali makan, tapi entah kenapa dia tiba-tiba mengunyah dengan sedikit pelan. Tidak lagi buru-buru seperti awalnya. Bisa kulihat dari sini air matanya tiba-tiba saja keluar. Pandangan Dilra masih lurus ke depan. Semakin lama dia melambatkan kunyahannya dan akhirnya berhenti, dia tak lagi mengunyah juga tak menyuapkan nasi lagi.Piring itu malah digeletakkan ke lantai dengan kasar, setelahnya malah didorong ke depan juga, hingga setelahnya isi dalam nasi itu jadi berantakan, lantas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kali ini, runtuh sudah pertahanannya, dia menangis tergugu, meski tanpa suara.
“Mending takut istri dari pada bini gue seteres!"
Seketika kalimat yang diucapkan Ardi tadi siang tiba-tiba saja terlintas. Kali ini aku baru paham. Sakit sekali membayangkan kalau itu jadi nyata. Melihatmu terpuruk saja sudah seperih ini. Aku benar-benar gagal menjadi ayah dan suami untuk kalian. Kuhapus air mataku, lalu segera melangkah mendekati istriku.
“Dil.” Kuusap pelan rambut Dilra. Bisa kurasakan dia menghentikan isaknya, tapi tetap tertunduk tak mau menoleh, bayi Dion sudah tertidur lagi.
“Biar Mas yang gendong Dion.”
“PERGI!” aku terperanjat, hampir saja melompat. Begitupun Dion yang menangis menjerit. Dia juga sama terkejutnya denganku. Apa Dilra tak sadar. Dia berteriak tiba-tiba dengan sangat kencang. Sayang kamu baik-baik saja ‘kan? yang diucapkan Ardi, semua tidak benar, Enggak akan terjadi ‘kan?
"Mau apa?” ketusnya.
“Mas cuma mau ambil Dion.”
“Enggak usah!”
“Dek sayang, Mas gendong Dion biar kamu bisa makan ya?” Dia tak menjawab tak juga berinisiatif memindahkan bayinya padaku, hanya menatap lekat tanpa satu patah kata pun terucap. Sejenak kami terdiam, sorot matanya pilu seperti ada kecewa yang teramat sangat di sana.
“Loh kalian sedang apa di sini? Kok ini piringnya berantakan.” Suara Ibu tiba-tiba terdengar, merusak suasana saja. Dilra tampak menghembuskan nafasnya pelan, terlihat sekali dia berupaya menetralkan semua sakit yang mendera. Ekspresinya berubah dalam sekejap, tak ada lagi raut sendu, berganti senyum palsu yang kini menghiasi wajahnya.
“Oh ini tadi tumpah, nanti biar Dilra beresin,” katanya tenang.
“Ini biar Dilra saja yang cuci, sekalian sama yang berantakan,” tambahnya lagi. Aku masih diam memperhatikan perubahan sikap Dilra yang drastis.
“Kamu kenapa sih Lang, kok bengong kayak orang bingung?” Sejenak kucuri pandang dengan Dilra, rupanya dia juga tengah menatapku.
“Enggak apa-apa, Ibu salat saja sana, katanya mau magrib.”
“Eh Ibu ... ya sudah Ibu salat magrib dulu.” Ibu terlihat tak nyaman, aku tahu dia pasti tak akan salat lagi, tapi kali ini urusanku dengan Dilra perlu diselesaikan dengan segera. Dilra masih menyusui Dion sambil menimangnya. Sedang aku memutuskan mencari sapu, membersihkan bekas nasi Dilra yang berantakan. Melihatku menyapu lantai, perempuan itu hanya menatap datar, tanpa ekspresi seperti biasanya, sempat melirikku sekilas tapi setelahnya malah acuh. Jangankan ucapkan terima kasih sih, sekedar peduli pun dia tidak mau. Apakah sudah sekeras itu hatimu Dil.