Bab 1

"Ahelah, ini kelas gue dimana coba!"

Ify melangkah lebih cepat menyadari koridor menuju kelas terasa semakin sunyi,

dia celingukan ke kanan dan kiri, rasanya seperti melewati jalanan yang sama berulang kali tapi ruangan yang dicarinya belum juga ketemu.

"Kalau gini ceritanya, nyesel gue bilang ke Bu Ira buat nyari kelas sendiri” omelnya masih celingukan mencari nama disetiap pintu yang dia lewati, berharap ada petunjuk.

Brukk…

“Aduh” Ify meringis menyadari dirinya jatuh tersungkur di sisi kanan koridor, rupanya dia hilang focus sehingga tidak menyadari jika lantai yang dia lewati lebih tinggi dari lantai sebelumnya hingga membuatnya tersandung. Dia menyipitkan mata, mengamati tulisan di dekat pintu dan menghela nafas lega kemudian, cepat saja mengayunkan tangan, “Permisi, Assalamuaikum…”

"Masuk..."

Ify melangkah masuk, "Permisi Bu, maaf saya terlambat, tadi saya nyasar, Bu" jelas Ify sopan.

"Oh, Iya tidak apa-apa, Saya Bu Winda, wali kelas kamu"

Ify tersenyum senang, sepertinya Bu Winda ini guru yang ramah, cantik lagi, baik, dia jadi tidak sabar memulai hari pertama sekolah bersama beliau.

"Baiklah anak-anak, karena hari ini kita kedatangan teman baru, kita kenalan dulu ya, yuk silakan perkenalkan diri kamu”

Ify mengangguk, "Perkenalkan nama saya Alyssa Saufika biasa dipanggil Ify, salam kenal ya semuanya..."

Prok..

Prok…

Prok…

Tepuk tangan menyambut perkenalan sederhana yang membuat Ify tersenyum semakin lebar, senang kehadirannya disambut dengan baik.

"Baiklah Ify, kalau begitu kamu duduk dibangku kosong sebelah sana ya" suruh Bu Winda menunjuk bangku kosong kedua dari pojok kanan. Disebelahnya ada seorang siswa lain yang duduk dengan muka tertelungkup diatas meja. Ify diam saja dan segera menggeser bangku itu untuk duduk.

Bunyi kursi berderit itu rupanya cukup menganggu dan membuat siswa laki-laki tadi bangun dari posisinya dan menatapnya binggung, "Siapa lo? ngapain lo disini?" ujarnya datar, tampaknya laki-laki ini tidak suka kursi disebelahnya di tempati orang lain.

"Gu-gue Ify, K-Ka-kata Bu Winda gue disuruh duduk disini" jawabnya Ify takut.

"Hah!"

Ify terkejut bukan main saat tiba-tiba siswa di sampingnya bangkit sambil melepas headset dari telinganya, 'jadi daritadi nih anak dengerin musik?'

"Maaf, Bu. tapi bangku ini tidak kosong, bagaimana mungkin Ibu meminta orang lain untuk duduk disini?" Intrupsinya keberatan.

"Saya rasa bangku itu kosong, Rio"

"Tapi, ini bangku Alvin, Bu!”

"Alvin nanti biar jadi urusan saya!" Balas beliau santai.

"Taa... tapi Bu?" Rio masih tidak terima. enak saja, istana megahnya dengan Alvin mau diserahkan orang lain, tidak bisa begitu.

"Tapi apa? memangnya kamu keberatan duduk sama Ify?"

"Yah.. tidak juga sih. tapi kan, saya sudah duduk sama Alvin dari jaman kapan juga!" Rio tidak mau kalah.

"Saya Wali Kelas kamu, Saya punya hak mengatur tempat duduk kamu dan siswa yang lain, Lagipula kamu kalau disatukan sama Alvin bikin ribut terus dikelas saya"

"Yaah Bu, tapi kan ..."

"Kamu mau duduk atau belajar di luar!" Tutup Bu Winda yang seketika membuat siapapun tidak kuasa membantah.

"Oke deh, Bu. Saya nyerah." akhirnya, Rio melambaikan tangan ke kamera. ah ralat, melambaikannya ke udara lalu kembali duduk dengan kesal.

Ify menelan ludah, sepertinya cowok bernama Rio ini mengancam ketentramannya dimasa depan.

"Ify, Ayo duduk, mau sampai kapan kamu berdiri disitu?" tanya Bu Winda lembut seperti pertama kali mereka berbicara, berbanding terbalik dengan apa yang baru saja dia lihat.

"Bu, sepertinya lebih baik saya duduk dibelakang saja deh, masih kosong kok" katanya mencari garis tengah. Malas memulai masalah disekolah baru.

"Alyssa, saya memerintahkan kamu untuk duduk disamping Rio. Jadi jangan membantah!" Lanjut beliau telak. Ify terlonjak dan tanpa berkata apa-apa dia lansung duduk.

"Gila, padahal kelihatannya ramah, ternyata ganas juga" dumel Ify sambil mengeluarkan buku tulis dan pensil.

Rio tersenyum tipis melirik gadis itu, "Emang susah ngebantah Bu WInda mah, Macan berbulu Kucing. baru ketemu aja kelihatannya baik, tapi ya gitu, lo liat sendiri ganasnya beliau kayak apa!"

"Emang Bu Winda itu galak banget ya?"

"Nggak kok, Singa aja takut sama dia."

"Hah? serem amat!" Ceplos Ify ngeri

"Ehmm, Masih sereman gue sih kayaknya" Rio senyum-senyum sendiri melihat muka kaget Ify.

"Huuu... aneh Lo!"

"Waah... Lo orang ke sekian yang bilang gue aneh" sahutnya enteng. "Oiya, kita belum kenalan, nama gue Mario. panggil Rio aja" Rio mengulurkan tangannya dihadapan Ify.

"Gue Alyssa, panggil Ify aja" Ify membalas jabatan Rio ramah.

Selang beberapa menit kemudian pintu kelas kembali terbuka, menampakkan dua siswa yang datang bersamaan dengan nafas terengah.

"Maaf Bu, saya terlambat..."ujar keduanya nyaris bersamaan

"Kenapa kalian terlambat, lagi? Alvin? Shilla?" Tanya Bu Winda sakartis. Dua muridnya ini sering sekali terlambat, sampai-sampai beliau binggung harus memberi hukuman apa.

"Mobil saya mogok, Bu" jawab Shilla melirik Alvin sangar.

"Kamu Vin?"

"Biasa Bu, macet" jawab Alvin yang masih mengatur nafas.

"Kamu tidak punya alasan yang lebih kreatif, Alvin Jonathan" komentar Bu Winda galak. Beliau sudah bosan dengan kelakuan dan alasan yang selalu sama dari muridnya satu ini, sebelas-duabelaslah sama Rio.

"Maaf, tidak ada Bu"

"Baiklah, kalau begitu sebagai hukumannya, Kamu duduk sama Shilla dibelakang bangku Rio dan Ify" perintah Bu Winda.

"Hah!?" Pekik Alvin dan Shilla kompak, shock.

"Saya tidak mau sebangku sama dia Bu!" Alvin menatap Shilla yang masih berdiri disampingnya, baru sadar kalau ternyata mereka telat bersama, lagi.

"Saya juga Bu!" keukuh Shilla

"Saya tidak menerima bantahan, silahkan kalian duduk karena pelajaran harus dilanjutkan kembali" Putus Bu Winda.

Seketika, nyali keduanya menciut melihat tatapan garang Bu Winda. Alvin berjalan lebih dulu menuju bangku yang ditunjuk gurunya dan duduk disana.

"Ini mah bukan hukuman tapi siksaan batin," Bisik Alvin setengah hati. lagipula Bu Winda tuh maunya apa sih? kenapa bisa beliau memintanya duduk satu bangku dengan cewek freak yang sudah lama menjadi musuh bebuyutannya dikelas ini.

"Sabar Vin, gue juga tadi abis disemprot Bu Winda!" hibur Rio sekenanya, yaaah mau bagaimana lagi.

"Tapi kali ini parah man, masa cuma gara-gara telat gue harus duduk sama nenek lampir?”

"Heh, lo fikir gue kesenengan gitu duduk sebangku sama lo? Ngimpi!" Balas Shilla sakartis.

"Elaah, kemakan omongan sendiri aja tahu rasa!" kata Rio asal yang lansung mendapatkan deathglare gratis dari dua orang yang duduk dibelakangnya.

Rio meringis sambil cengar-cengir melihat ekspresi Shilla, baru mau angkat bicara, Bu Winda gesit melempar meja mereka dengan spidol yang membuat ruangan X-A1 seketika hening dan kembali focus pada pelajaran.

***

Bel pulang berbunyi.

“Lo pulang sama siapa, Fy?” Ify dan Shilla berjalan di sepanjang koridor menuju gerbang utama SMA Cakrawala sementara Rio dan Alvin sudah pamit duluan ke lapangan karena mereka ada latihan basket.

"Nunggu di jemput sih, soalnya gue belum tahu jalanan sini"

“Sama dong. gimana kalau kita nunggunya sambil nonton basket aja?" tawar Shilla daripada bosan di gerbang sekolah terus.

"Boleh deh"

Mereka berdua berjalan ke lapangan outdoor yang berada di ujung lorong. Ify menikmati perjalanan sambil sesekali melihat lingkungan sekolah barunya yang ternyata luar biasa luas. kalau saja dia sendirian, sudah bisa dipastikan dia akan kebingungan seperti tadi pagi. Sampai kemudian entah karena terburu-buru atau apa, tahu-tahu ada siswa yang keluar dari kelas hingga menabrak bahu Ify yang membuat keduanya terjatuh.

"Aww" Rintih Ify kesakitan, pinggangnya terasa agak ngilu karena jatuh terduduk untuk kedua kali hari ini.

"Adduh, Sorry ya, Gue buru-buru" sesal siswa yang menabrak.

Ify menoleh, ternyata cowok. "Iya, nggak apa-apa kok" balasnya masih meringis, seraya mencoba bangun dari posisi tidak mengenakkan itu.

"Ya ampun Yel, kamu nggak apa-apa?" disaat bersamaan ada juga cewek yang tergopoh-gopoh menghampiri laki-laki itu, membantunya bangun.

"Nggak apa-apa kok Vi, makasih ya" balas cowok itu.

"Sekali lagi maaf ya, Gue beneran nggak sengaja" kata cowok itu lagi, kali ini sambil mengulurkan tangan membantu Ify berdiri.

"Iya... santai aja" Ify tersenyum manis.

Cowok itu ikut tersenyum dan membuat Ify malu sendiri, "Sekali lagi, sorry ya..." kata cowok itu lagi agak gantung karena kesulitan membaca name tag gadis di hadapannya ini.

"Ify, nama gue Ify"

"Yel, Buruan!" sekali lagi ada suara lain yang memanggil.

"Iya udah kalau gitu, Ify. gue udah harus pergi nih, sekali lagi sorry ya" pamit cowok itu menyusul temannya yang lari lebih dulu ke lapangan.

Ify melihat kepergian mereka dengan mata bersinar.

"Fy, Are you okay?" Shilla jadi takut melihat Ify senyum-senyum sendiri.

Ify nyengir. "Oiya Shil, yang barusan itu siapa sih?" tanyanya ingin tahu.

"Oh, itu Kak Gabriel, dia ketua Osis disini. Kalau yang cewek itu Kak Sivia. Nah yang cowok nyusul tadi itu namanya Kak Cakka" jelas Shilla seadanya.

"Keliatannya dia baik ya, Shill? Udah mana Ketua Osis, ganteng lagi"

Shilla mengangguk, "Setahu gue Kak Iyel emang baik sih, ramah lagi. Emangnya kenapa? jangan bilang Lo naksir sama dia?" tebak Shilla.

"Hah...? enggak kok, Emm... Gue… emm gue cuma penasaran aja kok"

"Yaudah, ke lapangan yuk"

"Ayuk..."

***

TBC

Bab 2

Lapangan Outdoor Cakrawala menunjukkan nuansa berbeda, lebih dari setengah persen siswa siswi ada disini, meneriakkan nama pemain dan yel-yel untuk menyemangati sepanjang latihan berlansung dan lagi-lagi Ify menemukan siluet Gabriel berlari di lapangan yang membuatnya semakin penasaran dengan sosok itu.

"Eh Shill, Dia anak basket juga ya?" tanyanya tidak sabar

“Siapa?”

"Gabriel lah!"

Shilla mengangguk "Kak Iyel mah emang tim inti basket sekolah”

“Ooooh…” Ify mengangguk, semakin terpesona saja dia rasanya melihat seorang Gabriel bermain dengan begitu lincah. 'Kok bisa ya ada manusia seperti Gabriel, sudah tampan, ramah, baik hati, ketua Osis, jago main basket, ah rasanya dia nggak bakal nolak kalau misal harus berumah tangga dengan cowok itu'

Ify menikmati permainan sembari menunggu sopirnya datang, meskipun dia tidak tahu banyak soal basket, tapi melihat mereka bermain seperti itu rasanya dia ingin belajar supaya suatu hari dia bisa merasakan sensasinya bermain basket itu seperti apa.

Sementara itu di di tengah lapangan tampak para pemain mulai menepi setelah 30 menit, digantikan oleh tim lain yang sudah dibentuk sebelumnya oleh Pak Jo sebagai guru olahraga.

"Gila sih, makin keren aja lo mainnya!” Alvin merangkul Rio mengajak lelaki itu menepi.

“Bacot!”

"Yey! keren banget sih mas Bro..." Agni melempar dua botol minuman dan handuk, kemudian duduk diantara Rio dan Alvin.

"Menurut lo, gue tadi mainnya bagus nggak Ag?" tanya Alvin sembari mengelap keringat.

"Bagus dong…”

"Tapi gue ngerasa kurang greget sih.”

"Itu mah lo kurang pemanasan, aja. Iya nggak Yo?" jawab Agni seraya menoleh ke Rio untuk meminta pembelaan.

"Yo," Agni menoleh saat tak mendengar respon apapun. Dilihatnya Rio sedang memandang kearah lain dengan tatapan yang sulit diartikan. Agni dan Alvin mengikuti arah pandang Rio dan ternyata tengah menatap Gabriel yang sibuk bercanda dengan gadis cantik diujung sana, Sivia namanya. mereka kelihatan dekat. Gabriel tampak menatap mesra Sivia yang membuat gadis itu tidak berhenti tersenyum. bagaimana Rio tidak goyah melihat mereka berduaan begitu, apalagi mereka tahu Rio suka sama Sivia sejak mereka masih kecil dulu.

"Betapa sakitnyaaaa... betapa perihnya hatiku..." Alvin bernyanyi keras-keras mengacaukan perhatian, Rio menoleh sangar lalu menggeplak kepala alvin sekenanya.

“Eh, anjir! Sakit keles!” heboh Alvin.

“Lagian niat banget sih!" dumelnya sebal.

"Duileh, merasa nih yee..." Alvin terus menggoda dengan wajah tanpa dosa yang membuat Rio semakin sebal.

"Udahlah! Nggak usah dibahas!" Rio menengguk minumannya, berharap air itu mampu mendinginkan hati dan pikiran yang terasa mau meledak.

"Lo sih, kan dari dulu gue udah bilang tembak Yo, tembak! tapi lo lama," tambah Alvin belum puas.

"Ya udah sih, keliatan juga Sivia sukanya sama siapa" pasrah Rio masih menatap Gabriel dan Sivia.

"Kayak lagunya Ungu, yaaa... Cinta dalam Hati" sambung Agni berhadiah jitakan maut dari korbannya.

"Belom ngerasain sih lo!"

"Biarin, Wlee... Eh, Vin ada Shilla tuh" Agni gantian menggoda Alvin begitu melihat Shilla lewat tidak jauh dari mereka.

Pluuk.

Alvin melempar botol kosong kearah Agni.

"Apaan sih?" Sela agni

"Menurut Lo!" sewot alvin.

Agni malah meringis.

PRIIIIIITTTT...

PRIIIT...

PRITTTT...

Waktu istirahat selesai. Pak Jo memberi Intruksi pada semua pemain untuk berkumpul, Rio dan Alvin berlari ketengah lapangan disusul Gabriel dan teman-temannya yang lain. "Lansung saja ya anak-anak, berdasarkan latihan hari ini dan minggu sebelumnya. Bapak sudah melihat dan menilai kemampuan kalian. Semuanya bagus, teknik dan penguasaan bola juga sudah mulai tepat, untuk itu kalian pertahankan, oke?"

"Siap, Laksanakan!"

"Bagus. kalau begitu sekarang Bapak akan meminta Rio dan Gabriel untuk bermain One and One demi menentukan formasi tim inti yang baru mengingat kakak-kakak kalian yang kelas 3 akan jarang masuk tim karena kebijakan sekolah seperti yang sudah kelian ketahui. Gimana, Rio? Gabriel?

Ready?”

Keduanya mengangguk.

Priiiiiiit…

Permainan One and One dimulai.

"RIO... RIO... RIO..."

"IYEL... IYEL... IYEL..."

Riuh, sorak-sorai suporter menyebut nama jagoan mereka membuat permainan menjadi meriah, bagaimana tidak? Dua pemain basket yang sedang bertanding kali ini bukan lawan sembarangan, keduanya memiliki kemampuan dan refleks penyerangan yang bagus. keduanya sama-sama jago bermain, luwes, dan pintar mengambil peluang, jangan lupakan kepiawaiannya memanfaatkan bola dan Teknik serangan beruntun yang bisa membuat lawan kalah dengan cepat.

Saat ini, Gabriel menguasai bola, melakukan operan pendek dan shoot up untuk mengumpulkan poin. Rio berusaha mangambil alih bola, tidak begitu sulit, hanya dengan melakukan beberapa gocekan ringan akhirnya dia menguasai bola.

Gantian, Rio yang menguasai bola, berusaha mencari celah untuk mencetak angka sedangkan Gabriel membayangi dari belakang.

"Permainan lo tambah bagus aja" puji Gabriel pada Rio yang masih mendrible bola.

"Makasih, tapi gue nggak gila pujian" Rio melewati Gabriel dan cepat mengarahkan bola ke dalam ring, tembakan three point, shoot dan ...

"Masuk..."

Prriiiiittt

Peluit panjang membuat tembakan tadi menjadi akhir pertandingan kali ini, Rio menang tipis dari Gabriel dengan score 18-16.

"Jadi, setelah melihat permainan kalian tadi, Bapak semakin yakin untuk menempatkan kalian berdua dalam satu tim. Di tim inti yang baru. sanggup?" Pinta pak Jo setelah menyelesaikan wejangan sebelumnya.

"Bi—

"Maaf, Pak. Tapi saya tidak bisa!” intrupsi Rio cepat.

Seketika Gabriel bungkam, baru saja dia hendak menyanggupi permintaan tersebut saat suaranya justru terputus oleh jawaban lantang Rio yang tahu-tahu sudah berdiri dibelakangnya.

"Kenapa tidak bisa, Rio?"

"Karena saya merasa kita tidak cocok, Pak. tidak akan pernah cocok lebih tepatnya” kata Rio yakin.

"Tapi menurut bapak kalian berdua cocok..."

Rio keukuh menggeleng, “Maaf pak, tapi saya tidak bisa satu tim dengan Gabriel. Saya lebih baik mengundurkan diri jika Bapak tetap memaksa saya!”

"Kalau menurut kamu, Gabriel?” Pak Jo mengalihkan pembicaraan kepada Gabriel yang sejak tadi betah diam.

"Hmm... kalau saya sih," Gabriel melirik Rio sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya, jelas ada tatapan penuh kebencian disana. "saya bersedia, Pak. Tapi kalau pihak kedua tidak berkenan ya mau bagaimana lagi. Saya menerima apapun keputusan bapak”

"Ya sudah kalau begitu, bapak akan diskusikan ini dulu dengan yang lain, kalian boleh pulang..."

Rio melangkahkan kakinya lebar-lebar, berusaha membuat jarak dengan Gabriel yang terus berusaha menyamakan langkah dengannya, sampai mengejar bahkan menghadangnya.

"Tunggu, Yo! kita harus bicara!”

“Minggir!”

“Sebentar aja, yo” Gabriel menahan lengan Rio sebelum anak itu semakin jauh dan membuat mereka kembali berhadapan.

“Lepas!”

“Nggak! Sebelum lo kasih tahu gue kenapa lo kayak gini? Salah gue apa?”

“Banyak!”

“Kalau gitu bilang! Gue butuh penjelasan kenapa lo sebenci ini sama gue!"

"Pikir aja sendiri!" Rio berjalan menjauh.

Gabriel menarik lengan Rio sekali lagi dan memaksanya berhenti, "Tapi ini udah 5 tahun, yo! gue nggak bisa kayak gini terus"

"Gue.nggak.pe-du-li!”

“Oke! oke! tapi setidaknya lo pulang sesekali, kasihan Mama, dia nanyain lo terus”

“Bacot lo!” Rio menepis kasar tangan Gabriel hingga membuatnya terdorong kebelakang.

Sivia yang melihat kejadian itu berlari menghampiri mereka, membantu Gabriel bangun lalu menarik lengan Rio yang refleks berhenti tidak jauh darinya, “Kamu apa-apaan sih? nggak bisa banget ya diajak ngomong baik-baik? Biar gimanapun Iyel itu kakak kamu, yo. nggak seharusnya kamu kelewatan sama kakak kamu sendiri”

“Terus, terus aja, belain aja dia terus. Emang di mata kamu aku nggak pernah ada benarnya dibandingin sama anak mama kayak dia!" Rio melangkah pergi tanpa menoleh, menyisakan Gabriel yang menatap miris kepergian Rio yang sekaligus menamparnya pada kenyataan bahwa perjuangannya masih sangat panjang.

***

Ify melangkah ringan menaiki tangga, senyumnya merekah cerah mengingat pertemuannya dengan Gabriel di sekolah tadi. Sepanjang perjalanan pulang dia masih dibayang-bayangi pertemuan mengesankan dengan ketua osis Cakrawala yang jago main basket, ganteng dan baik hati hingga…

BLUKK...

Bayangan indah tentang Gabriel seketika buyar saat tiba-tiba ada benda empuk dengan aroma luar biasa melayang tepat di depan wajahnya, dia menatap pintu kamar adiknya yang terbuka. Deva mematung di depan pintu.

"DEEEVAAA... !" teriak Ify kencang

BRAAKK...

"Woy setan bali, buka pintunya! gue bakal bikin perhitungan sama Lo" marah Ify dari luar pintu yang tertutup dalam hitungan detik.

"Bukan gue kak yang ngelempar tuh bantal, Ray tuh! Suueer deh! bukan gue"

"Bodo amat, buka nggak pintunya!"

"Ogah, Gue masih pengen hidup dengan layak" balas Deva membuat Ify semakin kesal.

"Awas Lo, tunggu pembalasan gue!"

Mendengar langkah kaki menjauh, Deva dan Ray mendesah lega.

"Lo sih Ray, hampir aja kita mati muda" Deva bersandar dibalik pintu.

"Lah, siapa suruh lo mau kabur terus buka pintu!" bela Ray duduk dikasur Deva.

"Gue jamin lo nggak bisa keluar dari sini dengan selamat" kata Deva sok dramatis

"Hamasah! sadis banget dong Kak Ify" kata Ray lebay

"Gue tersiksa lahir batin tiap hari sama dia"

"Ya Tuhan... Gue belom mau temenan sama malaikat kali, Dev. lo cari cara dong buat selametin gue"

"Kak Ify Cuma jinak sama cowok Cakep, Ray!"

"Lah, Lo nggak sadar apa kalau gue cakep" kata Ray menunjuk dirinya sendiri.

"Yaaah, mana mau Kak Ify sama bocah"

Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal, binggung harus melakukan apa. 'cowok cakep, cowok cakep, hmmm' rapalya dalam hati.

"AHAAA...! gue tahu siapa cowok cakep yang bisa nyelametin gue" kata Ray bangga dengan idenya sendiri.

"Siapa ndrong?"

Ray membisikkan sesuatu yang lansung diangguki Deva, mereka berdua mulai memperlihatkan cengiran aneh khas keduanya saat mendapatkan ide brilliant.

Selesai berganti pakaian, Ify buru-buru membuka pintu hendak ke meja makan karena Mamanya sudah memanggil, dan lagi disaat yang sama pintu kamar Deva terbuka dengan seorang cowok yang berjalan keluar. Ify berusaha mengerem langkahnya tapi gagal.

Bruukk...

Double kill

Ify menabrak orang itu, keduanya jatuh.

Ray dan Deva yang masih di dalam kamar hanya mematung.

"Duh…" keluh Ify berdiri sambil memegangi punggungnya yang nyeri sana-sini. "Devaaaaa... Raaay… Lo berdua nggak bisa ya nggak bikin masalah hah!" teriaknya sambil sesekali meringis

"Buu... Bukan kita Kak!" Jawab Deva dan Ray gugup.

"Terus siapa hah! Emang ada berapa bocah aneh disini!" Ify menatap Deva dan Ray yang katakutan.

"Ituuu... Ituu..." Deva menunjuk seseorag lagi yang masih tergeletak dilantai. shock atas kejadian jatuh tadi.

"Hmmm... Sorry ya, gue nggak sengaja" kata orang itu yang masih berusaha mengontrol dirinya dibelakang ify.

Ify yang terlanjur kesal marah-marah lagi "Heh, Bocah! Lo gak punya mata ya!"

"Maaf, gue beneran nggak sengaja" orang itu berdiri lalu memutar wajah menghadap kearah ify, seketika keduanya terdiam.

"Loh, Ify" kata orang itu yang ternyata...

"Kak Gabriel?"

"Kedua kalinya ya, sorry, Gue beneran nggak sengaja" ulang Gabriel, kali ini sambil tersenyum.

“Iya, nggak apa-apa. Lo ngapain disini Kak?"

"Jemput adek gue"

"Ray?" tanya Ify lagi.

Gabriel mengangguk.

Ify menatap Ray dan Gabriel bergantian, "Kok bisa sih!" Ify memandang keduanya heran.

"Apanya?"

"Yaa... lucu aja. Kakak itu kan Ketua Osis, jago main basket, ganteng, kalem, baik lagi. Sementara Ray yang gue kenal itu biang rusuh, berisik, ganteng sih, tapi gimana bisa kalian ternyata saudaraan?”

Ray melirik Ify tidak suka lalu menepuk pundak deva sejenak sebelum berjalan menuruni tangga lebih dulu.

“Yaudah. Fy, Dev, Kakak pulang dulu yaa? Ray ngambek tuh, sekali lagi sorry ya, Fy" pamit Gabriel buru-buru turun menyusul Ray.

Ify masih bengong, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

***

Gabriel duduk dibangku kemudi dengan Ray disampingnya. sepanjang jalan Ray betah diam, tidak mengomel atau mengomentari isi mobil Kakaknya seperti biasa.

"Udah ya, Ray! Omongan Ify tadi nggak usah di masukin hati" Gabriel menepuk pundak Ray pelan.

"Kak Ify bukan orang pertama yang ngomong gitu, emang keliatan banget ya perbedaan lo sama gue?"

"Gue nggak peduli orang mau ngomong apa. Buat gue lo tetep adek kecil gue, ngerti kan?”

"Gue ngerasa nggak pantes jadi adek lo," Ray menghela nafas berat "Gue malu kak, Gue malu dilihatin orang sebagai adek lo. Gue nggak pinter, Gue nggak keren, apalagi berprestasi. Gue beda sama Lo! Gue juga beda sama adek lo satu lagi, Gueee... Guu... Gueee" Ray tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Gabriel menepikan mobilnya lalu merangkul Ray memberikan ketenangan.

"Gue tahu, Kalian memang beda. Tapi gue sayang kalian berdua. Buat gue kalian layaknya tangan kanan dan kiri yang selalu gue butuhin dan punya fungsinya sendiri, biarin orang menilai hubungan kita kayak apa, Gue cuma punya lo sekarang, Lo ngerti kan?" Gabriel memberi pengertian sederhana untuk mengembalikan semangat Ray yang hilang.

Ray mengangguk seraya dia menghapus airmatanya dan memasang senyuman lebar.

***

TBC

Bab 3

___ Kaum hawa, laksana permata yang harus dilindungi dengan cara luar biasa. Karena bagaimanapun juga, permata sanggup mengalahkan emas dan bongkahan batu lain dengan keelokan warnanya___

***

"CAKKA... CAKKA... CAKKA..."

"AGNI... AGNI... AGNI..."

Suara riuh siswa-siswi Cakrawala menyebutkan nama Cakka dan Agni menggema dilapangan saat Gabriel melintas, kelihatannya ada pertandingan One by One disana yang membuat sebagian anak SMA Cakrawala menyerukan nama mereka berdua.

Sementara itu Rio dibuat binggung dengan lapangan yang mendadak ramai di jam pulang seperti ini. cepat saja dia menerobos ke barisan paling depan. Disana sudah ada Alvin yang menatap intens ke tengah lapangan.

“Woy, ada apaan sih?” tanya Rio menepuk pundak sohibnya meminta penjelasan.

"Cakka sama Agni sparring, gue nggak tahu siapa yang nantangin siapa!" jawab Alvin menunjuk permainan dengan dagunya, pertandingan mulai memanas, aksi rebutan bola dan mencetak poin sebanyak-banyaknya terasa begitu hidup dalam permainan itu.

"Heh, sini lo! ambil bola gue, bisa main nggak sih! ngakunya pemain terbaik" sindir Agni yang masih mempertahankan bola ditangannya.

"Nggak usah banyak omong lo!" Cakka berusaha merebut bola, namun stratginya selelu terbaca oleh lawan mainnya ini. Permainan Cakka mulai berantakkan karena Agni yang terus menyulut emosinya saat pertandingan.

Bruukk

Agni terjatuh, tidak sengaja terjegal kaki Cakka yang mencoba mengambil bola darinya. Agni bangkit dengan emosi memuncak, dia sudah siap melayangkan tinjunya kearah Cakka. Rio, Alvin dan Iyel berlari ketengah lapangan untuk menghalangi adu hantam yang hampir saja terjadi.

"Ag, apaan sih lo!" Alvin memegang tangan Agni yang sudah melayang keudara.

"Lo yang apa-apaan, cowok kurang ajar kaya dia pantes dikasih pelajaran!" marah Agni berusaha menyentakkan genggaman Alvin.

"Yee... lo tuh cewek jadi-jadian" emosi Cakka yang semakin membuat Agni naik pitam.

"Lo tuh! kalo nggak bisa main nggak usah pake acara ngejatuhin lawan dengan trik murahan kaya gitu, udah kebaca" sewot Agni.

"Lah, nggak sadar kalo sendirinya juga nggak jelas, cewek kok kelakuan kaya preman!" balas Cakka tak kalah sewot. Agni menatap penuh emosi kearah Cakka, dia harus memberi cowok itu pelajaran,

Agni mengepalkan tangannya keras. Baru saja akan menghantamkannya kearah Cakka.

BUGG...

Bruuuk...

Kejadiannya begitu cepat, entah bagaimana ceritanya tahu-tahu Rio sudah berdiri didepan Cakka beberapa detik sebelum Agni melayangkan pukulannya. Alhasil, Rio ambruk ditengah lapangan dengan darah yang mengalir dari hidung dan ujung bibirnya. Semua yang ada disana menatap Agni dan Rio bergantian, shock dengan apa yang terjadi. Refleks Agni menurunkan tangannya. Alvin yang posisinya paling dekat lansung jongkok dan membantu Rio bangun.

"Yo, are you okay?"

Rio menggeleng, Agni yang menyadari sesuatu segera membantu Alvin membersihkan darah Rio dengan sapu tangan.

"Sorry Yo, gue nggak sengaja" sesal Agni, Rio mengangguk pelan menjawabnya.

"Lagian, Lo ngapain sih pake sok jadi pahlawan segala! Kena bogem gue kan? aturannya Lo biarin aja gue nyerang Cakka, cowok kaya gitu pantas diberi pelajaran" Omel Agni masih membersihkan darah Rio yang lumayan parah. Dia sadar pukulannya tadi masuk dalam kategori kelas berat.

"Udahlah Ag, Rio udah begini malah Lo omelin" bela Alvin yang menopang Rio dengan badannya.

"Lebih baik lo berdua bantu gue ke UKS" keluh Rio setelah lama terdiam. Alvin dan Agni lansung memapah Rio, pelan-pelan mereka berjalan ke UKS Sekolah.

"Urusan kita belom selesai, Dasar playboy gila!”

"Gue tunggu!" balas Cakka sakartis. Hari ini benar-benar sial untuknya, dia merasa harga dirinya sudah diinjak-injak paksa oleh Agni.

Gabriel melihat kejadian itu dengan seksama, sebenarnya Dia ingin sekali membantu Rio, tapi dia takut Rio justru akan marah dan menyalahkan niat baiknya. Dia mengarahkan pandangan ke sekitar lapangan basket, masih banyak siswa yang duduk sambil berkasak-kusuk tentang apa yang mereka lihat.

"Sebaiknya kalian semua Bubar, kembali ke kelas masing-masing!" intrupsi Gabriel yang lansung menghinpnotis siapa saja untuk menuruti perintahnya.

"Kita juga balik Cakk!" ajak Gabriel. Cakka yang masih kesal hanya diam dan mengikuti Gabriel keparkiran, untuk kesekian kalinya dia nebeng Gabriel pulang.

***

Rio tiduran di UKS sementara Alvin kembali ke lapangan untuk mengambil ransel yang ketinggalan.

"Lo gimana sekarang Yo?" tanya Agni sambil menyiapkan minuman. Syukurlah Pendarahannya sudah berhenti. tapi tetap saja Agni merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.

"Better" jawab Rio pelan. Setidaknya nyeri dikepalanya masih bisa diajak kompromi.

"Sekali lagi gue minta maaf, harusanya gue nggak ceroboh kayak tadi" sesal Agni lagi, biar bagaimanapun ini salahnya karena tidak bisa menahan emosi saat berbicara dengan Cakka. Terlebih Cakka selalu memancing emosinya dengan kata-kata yang dia tidak suka.

"Slow aja Ag, Gue nggak kenapa-napa ini, lebih baik kita pulang. Keburu nggak ada bis kalau kesorean" kata Rio. Bersamaan dengan itu Alvin muncul dibalik pintu dengan 3 ransel dipundaknya.

"Di lapangan udah sepi, sekolah juga sepi" kata Alvin memberitahu, nafasnya memburu karena terlalu cepat berlari.

"Lo duduk dulu bentaran, Abis itu kita pulang" Suruh Rio menyandarkan badannya ke tembok. Alvin duduk di kursi plastik tidak jauh dari ranjang.

"Lo yakin mau pulang? nggak istirahat dulu?" Alvin kembali bersuara.

Rio mengangguk, “Buruan deh, keburu nggak ada bus yang lewat" jelas Rio yang sudah turun dari ranjangnya, Agni sudah sigap membantunya berjalan kearah gerbang, Alvin menyusul dibelakang sambil membawa ransel mereka.

Tidak menunggu lama, Bus yang mereka tunggu datang, cepat saja ketiganya masuk dan menempati tempat duduk yang ada.

***

Gabriel berusaha menenangkan Cakka sepanjang jalan mengantar cowok itu pulang, tapi bukannya mereda rasa kesal Cakka sepertinya malah semakin menjadi saja.

“Asal lo tahu, Yel! Rasanya harga diri gue tuh udah di injek-injek sama dia. Gue nggak habis fikir, gimana bisa dia marah berkelanjutan cuma gara-gara gitar doang. Padahal gue udah inisiatif memperbaiki, gue juga udah minta maaf, tapi dia malah ngajakin sparring terus” adu Cakka frustasi.

"Tapi gue akuin Agni itu cewek yang tangguh, Cakk" kata Gabriel.

"Tangguh darimana? cewek Tarzan, Iya!”

"Lo nggak usah muna, Cakk! Percaya nggak percaya, cuma Agni satu-satunya cewek yang berani dan bisa bikin lo mati kutu kayak tadi, lo tahu ini bukan pertama kalinya kalian berantem dan gue rasa lo nggak pernah kalah soal cewek kecuali sama Agni” jelas Gabriel.

"Ah, enggak, enggak!" tolak Cakka tak terima "Pokoknya gue bakal bikin perhitungan sama tuh cewek"

“Terserah, Pokoknya pesan gue, Lo hati-hati aja"

"Maksud Lo?"

"Ini pertama kalinya Lo punya rival"

"Musuh" sela Cakka tidak terima. Gabriel tersenyum mendengar pembelaan Cakka dan kembali melanjutkan kata-katanya.

"Oke, Musuh dan sayangnya dia cewek, jadi gue sangat berharap apapun yang bakal lo lakuin, tetap pakai otak lo. jangan sampai lo pakai kekerasan kerena sekuat apapun Agni, dia tetep cewek yang harus kita jagain”

"Hahaha, bahasa lo ketinggian. Pokoknya gue janji bakal bikin Agni bertekuk lutut sama gue, lo liat aja!” tutup Cakka sakartis. Kejadian pertengkaran dengan Agni tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Flashback On :

Pagi ini, seperti biasa Cakka memasuki gerbang sekolah menuju parkiran dengan santainya sambil bersenandung, tidak ada yang aneh pagi itu sampai tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dengan keras dan gesekan ban motor yang hampir terguling karena jalan yang licin.

CKIITTTT....!

bruukk

brakkk

srrraaakk

Kejadiannya begitu cepat, suara motor yang direm mendadak bersamaan dengan jatuhnya Agni beserta barang bawaannya, kertas tugasnya juga berantakkan.

"Aduhhhh...." rintih agni kesakitan

"Duh, sorry banget yaaa... Gu...? ELO!" suara pengendara motor itu berhenti saat tahu siapa yang ditabraknya.

"Hahaha... kena karma juga kan Lo..." kata Cakka puas membuat Agni mendelik sebal.

"Huuft, apes banget gue pagi-pagi ketemu cowok aneh. udah nabrak nggak minta maaf malah ngatain lagi" gerutunya yang sudah berdiri. Dia membereskan barang-barangnya cepat. Cakka tidak sengaja melihat gitar agni tergeletak tak jauh darinya. Dengan cepat Cakka mengambil gitar itu.

"Jangan sentuh gitar gue!"

"Lo mau gitar ini? Iya?" Balas Cakka menggoda.

"Balikin gitar gue, dan gue bakal ngelepasin Lo..." kata Agni lagi, wajahnya berubah sedih. Cakka tertawa cukup keras

"Waah, Gue jadi penasaran seberapa penting gitar ini buat Lo," Cakka berjalan ke jalan raya. berniat mengancam Agni dengan berpura-pura melempar gitar itu ke jalanan, agar agni memohon padanya untuk mengembalikan gitar itu.

Agni melotot melihat apa yang akan cakka lakukan, "balikin gitar gue CAKKA!" Katanya keras. tapi Cakka tidak mau mendengarnya dan tetap berjalan menuju gerbang utama.

"BALIKIN GITAR GUE..."

"NGGAK, SEBELUM LO MINTA MAAF!"

"BALIKIN GUE BILANG!"

"NGGAK..."

"BALIKIN..."

"NGGAK..."

"BALIKINNNN,,,,"

"NGGAAAK..."

"BAAA...LI...KIN" Agni menarik gitarnya kuat, namun pegangan cakka lebih kuat sehingga cengkraman agni terlepas, Cakka kehilangan keseimbangan sampai jatuh.

Wiiiing... gitar Agni terlempar karena Cakka tidak sengaja melepas pegangannya demi menahan dirinya sendiri. Daaaaan....

BRAAKK

Dari arah berlawanan ada mobil dengan kecepatan lumayan melaju dan menabrak gitar Agni. Kejadiannya bergitu cepat sehingga baik Cakka atau Agni tidak bisa menyelamatkannya.

Agni berlari mendekati gitarnya yang sudah tercerai-berai, tangannya bergetar menyentuh kepingan kayu disekitarnya. Cakka ikut bangun menghampiri Agni.

"Ag... Sorry, Gu... Gue..." Katanya tak enak.

BUUGGHH

Agni memukul Cakka keras membuatnya kembali terjatuh.

Flashback Off

***

TBC

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED