Bab 1

"Mas Bima pasti sedang bercanda, kan?" Dengan suara tercekat di tenggorokan, Larasati bertanya pada Abimana. Suami yang menikahinya setahun silam.

Pria dewasa yang berdiri di samping ranjangnya itu lalu melipat kedua tangan di dada. "Aku tidak bercanda, Ra. Kita sudah resmi berpisah dan kamu bisa baca sendiri surat yang tadi telah kamu tanda tangani." Abimana menatap dingin pada wanita yang baru saja melahirkan putranya. Tatapan itu tidak seperti biasanya yang selalu hangat dan penuh dengan cinta. 

Wanita muda yang masih tergolek lemah di ranjang pasien itu menatap nanar lembar putih bermaterai yang tadi dia tanda tangani, di tengah rasa sakit yang mendera. Lembar putih yang ternyata adalah surat cerai dan juga perjanjian persetujuan hak asuh sang putra yang baru saja dia lahirkan, pada Abimana. Tangan Larasati bergetar, dadanya bergemuruh, dan air mata seketika luruh tanpa dapat dia cegah.

"Tapi kenapa, Mas? Apa salahku? Kenapa Mas lakukan ini padaku?" cecar Larasati, tetapi Abimana bergeming. 

Pria berkulit kuning langsat itu hanya menghela napas panjang. Dia alihkan tatapannya dari Larasati, istri yang kini telah menjadi mantan. Sejumput rasa iba hadir, tetapi segera dia tepiskan. 

Ruang rawat berukuran sempit tersebut dipenuhi oleh suara isak tangis Larasati. Wanita muda yang baru saja melahirkan itu merasakan perih bukan hanya di area inti tubuhnya, tetapi juga di hati. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau di hari persalinannya dia akan mendapatkan kado istimewa seperti ini. 

Abimana masih mematung di tempatnya semula. Tidak ada yang dapat dia lakukan, kecuali membiarkan Larasati menumpahkan semua kesedihannya. Ingatan pria itu tertuju pada masa setahun silam, saat dia melamar Larasati untuk menjadi istrinya. 

"Apa yang Mas Bima katakan barusan serius?" tanya Larasati seraya menatap lekat pria dewasa yang merupakan kekasihnya. Netra indah itu berbinar, menunjukkan betapa bahagia dirinya.

Wanita belia yang sebelumnya tidak pernah mengenal cinta itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Abimana. Pria yang baru beberapa minggu dikenalnya. Pria dewasa yang menawarkan hubungan serius pada Larasati Prihatina, wanita berhijab yang hidup sebatang kara. 

"Aku serius, Ra. Nanti sore sepulang dari kantor, aku akan mengenalkan kamu pada orang tuaku," kata pria berkumis tipis itu, sambil menggenggam erat tangan Larasati.

Ya, sekitar tiga bulan lalu, Larasati yang bekerja di sebuah restoran bertemu dengan Abimana. Pria yang memiliki postur tinggi tegap itu sedang ada rapat dengan rekan-rekan kantornya di sana. Pertemuan yang tidak disengaja karena Larasati menabrak Abimana. 

Setelah pertemuan pertama, mereka kemudian sering bersua. Abimana memang sengaja mendekati Larasati, dia menyukai sikap wanita muda itu yang ramah dan bersahaja. Ada saja alasan yang dibuat oleh Abimana ketika berkunjung ke restoran agar gadis manis yang bekerja sebagai pelayan restoran tersebut, tidak curiga padanya.

Kegigihan Abimana dalam mencuri perhatian Larasati, tidaklah sia-sia. Wanita berwajah manis dan berhijab itu mulai merasa nyaman dengan kedekatan mereka berdua. Gayung cinta Abimana bersambut dan setelah enam minggu masa pendekatan, mereka berdua kemudian menjalin hubungan asmara. 

Setelah beberapa minggu mereka berpacaran, Abimana mengungkapkan keinginan dan mengajak Larasati untuk menjalani hubungan yang lebih serius, yaitu ke jenjang pernikahan. Dan di sinilah mereka berdua saat ini berada, di kafe favorit untuk makan siang bersama dan membicarakan tentang masa depan. Abimana dapat melihat binar bahagia terpancar dengan jelas dari netra indah wanita yang duduk di hadapan. 

"Aku sudah menyiapkan rumah untuk kita, Ra. Rumah itu sudah aku atas namakan kamu. Memang tidak besar, tapi nyaman dan aku yakin kamu pasti akan betah tinggal di sana," lanjut Abimana, meyakinkan. 

Wanita muda itu semakin tidak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang saat ini mewakili perasaan bahagianya. Larasati merasa sangat terharu dengan kesungguhan dan ketulusan Abimana. 

"Tinggal di mana saja asal sama Mas Bima, Lara pasti akan betah, Mas. Lara senang bisa mengenal laki-laki baik seperti Mas Bima. Terima kasih, Mas. Terima kasih karena Mas Bima mau menerima Lara apa adanya." Wanita berhijab itu lalu mengeratkan genggaman tangan Abimana dan nama pria dewasa di hadapan, semakin dalam masuk ke relung hatinya. 

"Lara mencintai Mas Bima," lanjutnya yang kemudian mencium punggung tangan Abimana. 

Pria dewasa tersebut tertegun, sedikit merasa bersalah, dan juga tidak enak hati. Namun, semua hanya sekejap saja karena setelah itu Abimana berhasil memainkan perannya kembali.

tbc ...

Bab 2

Pria dewasa tersebut tertegun, sedikit merasa bersalah, dan juga tidak enak hati. Namun, semua hanya sekejap saja karena setelah itu Abimana berhasil memainkan perannya kembali. "Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu." Abimana tersenyum lalu mengecup punggung tangan wanita muda yang merupakan kekasihnya. 

"Maaf, Ra, aku harus balik ke kantor sekarang. Kamu juga harus balik ke resto, kan? Aku antar kamu dulu." Abimana melihat jam tangan mahal yang melingkar di tangan kanannya.

"Iya, Mas," balas Larasati dengan senyuman yang senantiasa tersungging di bibir tipisnya. 

Mereka berdua lalu beranjak, meninggalkan kafe menuju ke parkiran dengan bergandengan tangan mesra. Abimana segera melajukan mobil, setelah memastikan sang kekasih duduk nyaman di sampingnya. Perjalanan yang cukup panjang, terasa sangat singkat jika hati tengah berbunga-bunga. 

"Jangan lupa, bersiap yang cantik untuk nanti sore," pesan Abimana seraya tersenyum, sebelum Larasati turun dari mobil mewahnya. 

Wanita muda itu pun membalasnya dengan tersenyum manis seraya menganggukkan kepala. "Mas Bima hati-hati, ya." Penuh perhatian dan kelembutan, Larasati berpesan dan dibalas Abimana dengan anggukan.

Abimana melajukan mobil kembali, setelah Larasati berjalan menjauh, dan kemudian melambaikan tangannya. Pria dewasa tersebut menyetir sambil bersenandung ria. Mengisyaratkan bahwa saat ini dia sedang sangat bahagia.

Waktu bergulir terasa begitu cepat. Tanpa disadari, senja pun datang menyapa. Abimana benar-benar memenuhi janjinya. Dia menjemput Larasati lalu dibawa ke rumah yang sudah dia beli untuk kekasihnya.

Kedatangan Abimana beserta seorang wanita muda, disambut hangat oleh kedua orang tuanya yang baru saja datang dari luar kota. Pria dewasa itu lalu mengenalkan Larasati sebagai calon istrinya. Mereka pun nampak sangat setuju dengan pilihan sang putra.

"Kalau kalian sudah saling merasa cocok, kenapa tidak langsung menikah saja?" Laki-laki paruh baya yang memiliki garis wajah mirip Abimana itu menatap sang putra dan Larasati, secara bergantian.

"Benar, Nak. Mumpung papa dan mama ada di sini karena lusa kami harus pulang," timpal sang mama dengan tidak sabar, membuat Larasati berdebar. 

"Kalau Bima, sih, terserah bagaimana Dik Lara saja, Ma, Pa," balas Abimana seraya menatap dalam netra indah kekasihnya.

"Jika Dik Lara setuju, besok pun Bima siap menikahinya," lanjutnya sambil tersenyum.

Larasati menatap tidak percaya pada Abimana. Pria dewasa itu menganggukkan kepala, sebagai isyarat bahwa dia serius dengan perkataannya. Larasati kemudian mengangguk dan bersedia menikah dengan Abimana. 

"Mas Bima, ayo!" Suara seorang wanita seusia Abimana yang menggendong bayi, membuyarkan lamunan panjang pria itu. 

"Iya, Sayang. Tunggu sebentar," balas Abimana seraya menoleh ke arah sumber suara. Di sana, sang istri pertama yang sudah menanti sedari tadi, nampak tidak sabar.

"Ra, kamu sudah tahu semuanya, kan? Anak itu akan kami asuh. Jangan khawatir, istriku pasti akan menyayanginya." Abimana mengambil kembali lembar putih dari tangan Larasati dengan sedikit kasar. "Aku akan mengirimkan salinan surat ini ke rumahmu," lanjutnya seraya menyimpan surat penting tersebut ke dalam map, tanpa menatap wanita yang merupakan ibu dari sang putra. 

"Jadi, Mas Bima menikahiku hanya untuk mendapatkan anak?" Isakan kecil Larasati, berubah menjadi tangis yang menya*yat hati. 

Pria itu menghela napas panjang. "Maafkan aku, Ra. Aku terpaksa melakukannya," kata Abimana tanpa berani menatap Larasati.

Pria itu segera berlalu meninggalkan Larasati yang hanya bisa terdiam tanpa dapat melakukan perlawanan karena kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah, pasca persalinan. Abimana segera berlalu sambil memeluk mesra pinggang sang istri yang menggendong bayi merah, yang baru saja dilahirkan. Sepasang suami-istri itu sama sekali tidak peduli meski sang bayi terus menangis, seolah mengetahui bahwa dia dan ibu kandungnya telah dipisahkan.

tbc...

Bab 3

Sepeninggal Abimana yang membawa sang buah hati, wanita muda yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki itu terus saja mengeluarkan air mata. Larasati merutuki perbuatan Abimana beserta sang istri yang tega bersekongkol dan memanfaatkan keluguannya. Begitu pula dengan kedua orang tua Abimana yang senantiasa bersikap baik dan penuh kasih terhadapnya. 

"Aku yang bodoh atau mereka yang terlalu pandai menyembunyikan semuanya?" gumam Larasati bertanya pada diri sendiri, di sela isak tangis yang tidak kunjung berhenti. 

Wanita yang kini pipinya terlihat sembab itu, ingat betul dengan kebahagiaan semua orang di hari pernikahannya. Pernikahan yang dilangsungkan sangat mendadak karena persiapannya hanya sehari saja. Pernikahan tersebut mendapatkan restu bukan hanya dari kedua orang tua, tetapi juga seluruh keluarga besar Abimana. 

Keluarga kakaknya yang berada di luar kota juga hadir di sana. Pun dengan keluarga kecil adik perempuan Abimana yang tinggal di luar Jawa, mereka juga hadir di pernikahannya. Hal itu membuat Larasati benar-benar tidak percaya bahwa mereka bisa bekerjasama untuk membodohinya. 

"Aku juga tidak menyangka, Mama Hilda yang terlihat tulus menyayangiku dan menganggap aku seperti putrinya sendiri, ternyata kasih sayangnya semu!" Kedua tangan Larasati mengepal dengan sempurna. 

Ya, selama Larasati mengandung, Mama Hilda hampir setiap bulan pasti datang berkunjung ke rumah dan menginap di sana. Wanita paruh baya itu senantiasa menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya. Jika Abimana tidak dapat mengantarkan Larasati periksa ke dokter kandungan, maka sang mama mertualah yang menemaninya.

"Nak, vitaminnya jangan lupa diminum. Setelah itu, kamu istirahatlah biar Mama yang menunggu Bima pulang," titah Mama Hilda, setelah memijat kaki Larasati yang sedikit membengkak efek kehamilan yang semakin membesar. 

"Biar Lara ikut nunggu Mas Bima, Ma. Lagian, ini juga belum ada jam sembilan," tolak Larasati dengan halus. "Lara suka tidak bisa tidur kalau tidak dielus sama Mas Bima, Ma," lanjutnya malu-malu, seraya mengusap lembut perutnya yang semakin membuncit. 

Mama Hilda tersenyum, mengerti. "Ya, sudah. Terserah kamu saja, Ra. Tapi kamu minum vitamin dulu, ya, biar tidak kelupaan." Mama Hilda segera menyiapkan vitamin untuk ibu hamil dan segelas air putih hangat untuk sang menantu. 

"Selamat siang, Bu Larasati." Suara merdu seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruang perawatan dan berhasil membuyarkan lamunan panjang wanita muda itu. Di belakangnya mengekor seorang perawat sambil mendekap map yang berisi data pasien. 

"Siang, Dok," balas Larasati seraya mengusap kasar sisa air matanya. 

"Saya periksa dulu ya, Bu, untuk menentukan apakah Ibu sudah bisa pulang atau belum?" Dokter wanita tersebut tersenyum ramah dan kemudian mendekat ke ranjang pasien. 

Wanita yang masih merasakan lunglai di sekujur tubuhnya karena persalinan yang memakan waktu cukup panjang bakda shubuh tadi, hanya dapat mengangguk lemah. Larasati menurut saja ketika dokter spesialis itu melakukan tugasnya. Ya, persalinannya di pagi buta tadi memakan waktu yang cukup lama karena ternyata posisi sang janin sungsang dan itu baru diketahui setelah pembukaan hampir sempurna. 

Masih terbayang jelas dalam ingatan, bagaimana rasa sakitnya ketika mengejan, tetapi sang janin tidak kunjung lahir ke dunia. Hingga dokter lalu mengambil tindakan episiotomi dan membuat sayatan cukup panjang di perineum, yaitu antara anus dan vagi*nanya. Sayatan yang harus dijahit dan berhasil membuat Larasati merasakan kembali kesakitan tiada tara. 

Belum hilang rasa sakit di area inti pasca melahirkan, sang suami yang menghilang setelah dia melahirkan tiba-tiba datang dengan membawa kabar yang melukai hati dan perasaannya. Abimana menceraikan Larasati dan mengambil hak asuh sang putra. Pria itu datang bersama seorang wanita yang diakui sebagai istri dan wanita tersebut sama sekali tidak mengijinkan Larasati untuk melihat apalagi menyentuh putra yang baru saja dia lahirkan dengan bertaruh nyawa. 

"Semuanya baik, Bu. Hanya tekanan darah Bu Lara cukup tinggi, tapi Ibu jangan khawatir karena Bu Lara bisa segera menyusui bayi Ibu. Dengan menyusui, dapat membantu menurunkan tekanan darah," terang dokter tersebut sambil membetulkan letak kacamatanya. 

Mendengar keterangan dokter barusan, hati Larasati menjerit. Bagaimana mungkin dia dapat menyusui sang buah hati, jika mereka berdua telah dipisahkan bahkan oleh orang terdekatnya sendiri?

tbc ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED