“Satu latte ukuran medium, please,” pinta seorang gadis cantik bernama Milly saat berada di meja kasir sebuah café yang berada di dekat wilayah perkantoran di kota Manhattan.
“Tunai atau dengan kartu, Nona?” tanya petugas kasir yang melayani pesanan.
“Kartu.” Milly menyodorkan kartu debit yang baru saja dia ambil dari dalam dompet.
Petugas kasir tadi meraih kartu milik Milly, menggeseknya cepat di mesin pembayaran setelah memproses tanda terima pada aplikasi, diakhiri dengan satu lembar struk yang keluar dari print termal. “Silakan kartunya, dan mohon ditunggu sebentar untuk pesanannya. Akan kami panggil sesuai dengan nomor antrian, terima kasih dan datang kembali,” ucap petugas kasir itu ramah.
Milly tersenyum sambil menerima kartunya kembali. “Terima kasih.”
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Milly Benson, hari pertama masuk kerja. Perjuangannya selama bertahun-tahun untuk menjadi seorang pengacara akhirnya terwujud. Apalagi, firma yang menaunginya sebagai seorang penegak hukum adalah Wardwell Law Firm—salah satu firma hukum besar di Manhattan. Setiap pengacara pasti memiliki impian untuk bisa menjadi bagian dari firma itu, dan Milly adalah salah satu dari mereka yang sangat beruntung.
Kepala Milly menunduk untuk memeriksa halaman sosial medianya. Tidak ada apa-apa sebanarnya, dia hanya membunuh waktu untuk menunggu antrean pesanannya. Tak sengaja, saat Milly mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan café, dia justru melihat hal yang membuatnya mengerutkan kening. Seorang waitress yang membawakan pesanan kopi pada seorang pria baruh baya di meja paling ujung terlihat sangat tidak nyaman.
Milly beringsut ke meja sebelahnya agar bisa melihat kejadian itu lebih jelas. Instingnya sebagai seorang yang bertekad untuk menegakkan hukum di mana saja, membuatnya selalu memperhatikan hal detail yang menurutnya tidak benar, dan raut wajah waitress itu sedikit mengganggunya.
Mata Milly membelalak lebar saat tangan pria paruh baya itu meraba paha waitress yang berjingkat kaget. Kopi yang akan diletakkan di meja terjatuh ke lantai. Genangan kopi hitam membasahi lantai dan menciprat ke sepatu mereka.
“Jalang sialan!” sentak pria paruh baya itu pada waitress yang dengan sigap mengambil pecahan gelas dan meletakkan dengan hati-hati di nampan. “Kau tidak tahu berapa harga sepatuku ini?! Dengan gajimu beberapa bulan saja tidak akan mampu membelinya!”
Waitress tadi terus meminta maaf dan mencoba membersihkan sepatu pria paruh baya itu dengan kain lap yang selalu terselip di apron pinggangnya.
“Jangan sentuh!” Tidak disangka, pria paruh baya itu menendang waitress yang sedang membungkuk di kakinya sampai dia jatuh terduduk.
Milly tidak bisa tinggal diam. Bahkan saat nomor antreannya dipanggil, dia justru melangkah ke arah pria paruh baya itu dan waitress yang tampak sedang menahan tangis.
“Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?” tanya Milly setelah dia berjongkok di sebelah waitress tadi, kemudian membantunya berdiri.
“Hei! Lebih baik kau tidak ikut campur masalahku dengan jalang itu!” sergah pria paruh baya itu sambil menatap remeh pada Milly.
Mata Milly menyipit, kemudian melepas tangannya pada lengan waitress itu dan berjalan maju untuk mendekat ke arah pria paruh baya yang telah berdiri. “Kau menyebut dia jalang?”
Tatapan mata Milly yang mengintimidasi membuat pria paruh baya itu mundur selangkah. “Y-ya! Si jalang itu yang sudah menumpahkan kopi di sepatu mahalku! Kau pasti akan langsung dipecat kalau aku melapor pada pemilik café ini!” sentaknya sambil mengarahkan telunjuknya pada waitress yang mulai gemetaran.
“Kau yang akan mendapat masalah jika masih saja mengganggunya,” ucap Milly kesal. “Aku melihatmu meraba paha gadis itu. Cepat minta maaf sekarang juga!”
Pria paruh baya itu mendelik saat mendengar kalimat terakhir Milly. Sebelah tangannya melayang cepat, mengarah pada wajah Milly. “Kurang ajar!”
“Kau yang harus disebut sebagai pria kurang ajar yang tidak tahu diri!” Tangan Milly menahan tamparan pria paruh baya itu.
“Sudah kubilang jangan ikut campur! Atau kau akan…” Pria paruh baya itu tidak melanjutkan kalimatnya karena Milly sudah menendang tulang keringnya sampai pria itu berlutut dan mengaduh kesakitan.
Beberapa pengunjung café telah berkerumun untuk melihat kekacauan itu, termasuk beberapa waitress lain yang dengan cepat mengamankan rekannya. Sementara seorang berjas rapi dengan wajah tampan menenteng segelas kopi yang baru saja dia ambil di meja pengambilan.
“Mau kubawa kasus ini ke jalur hukum? Aku bahkan memiliki bukti saat kau melecehkan gadis itu di ponselku.” Milly menepis tangan pria paruh itu dan menatapnya dengan gestur menantang.
“Brengsek!” Tanpa diduga, pria paruh baya itu menyerang Milly untuk merebut ponsel yang ada di genggamannya. Dorongan keras pada badan Milly membuat gadis itu terjatuh, tapi masih dengan mempertahankan ponselnya untuk tidak direbut oleh pria paruh baya itu.
“Hah! Kau benar-benar membuat kesabaranku habis, Pak Tua!” seru Milly emosi.
Milly berdiri dengan menggeram kesal. Dia sudah bersiap untuk membalas serangan pria paruh baya itu saat beberapa orang mencoba untuk menghentikannya.
“Lepaskan! Aku harus memberi pelajaran pada orang yang tidak memiliki etika dan sopan santun seperti orang itu!” sentak Milly. “Panggilkan polisi! Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada waitress tadi!”
Mendengar kata polisi, pria paruh baya itu segera meraih tas kerjanya dan berlalu cepat, melewati Milly yang masih dipegangi oleh beberapa pengunjung. “Lepaskan!”
“Maaf, Nona. Biarkan saja dia pergi, kau akan terkena masalah jika terus menantangnya,” ucap waitress yang dibela oleh Milly.
Milly memandang waitress itu, menghampirinya. “Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada hal lain yang dilakukan oleh pria itu padamu, kan?”
Waitress itu menggeleng, tersenyum dengan wajahnya yang masih merona merah. “Aku sungguh tidak apa-apa. Biar bagaimanapun, aku salah karena menumpahkan kopi pada sepatunya.”
“Tidak! Kau tidak salah! Pria itu yang memang brengsek.” Milly menghela napasnya lagi. “Aku benar-benar ingin menghajarnya!”
Kerumunan pengunjung telah bubar. Menyisakan Milly dan waitress tadi.
“Terima kasih karena telah membelaku, Nona. Aku … sungguh menyesal karenaku, kau menjadi terkena masalah juga.” Waitress itu menunduk, dia benar-benar merasa tidak enak pada Milly.
Milly tersenyum, mengusap pundak waitress itu. “Jangan merasa begitu. Aku memang tipe orang yang suka mendatangi masalah. Lain kali, hubungi aku kalau ada yang melecehkanmu lagi. Aku akan membelamu dan menghajar para laki-laki brengsek yang menggodamu, ok?” Milly menuliskan nomornya di atas tisu, kemudian menyerahkannya pada waitress itu.
“Terima kasih, Nona…”
“Milly, panggil saja aku Milly.” Mata Milly melirik ke jam tangannya. “Astaga! Aku sudah terlambat! Maaf, aku harus pergi!”
Milly berlari menuju meja pengambilan pesanan, kemudian menyambar gelas latte-nya yang mulai dingin dan kembali berlari menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar pergi, dia kembali menolehkan kepalanya pada waitress tadi.
“Ingat ya, hubungi aku kalau ada masalah, bye!” ucap Milly sambil berlari—tetapi tanpa disadari ada pria tampan berdiri tegak sedang memegang kopi, menatap pertengkaran antara Milly dan pria paruh baya itu.
“Aku seperti pernah melihat gadis liar itu,” ucap pria tampan itu sambil menyesap kopinya.
Milly membungkuk dengan napas tersengal saat akan masuk ke dalam lobi gedung. Dia benar-benar berlari dari café ke gedung firma yang berjarak sekitar dua kilometer. Peluhnya terlihat mengumpul di pelipis, padahal cuaca musim gugur mulai semakin dingin.
Beberapa orang yang melintas di sebelahnya hanya melihatnya heran tanpa ada niatan untuk bertanya. Lagi pula, mereka tidak saling kenal. Saat napasnya mulai berada di ritme yang tepat, Milly melangkah ke meja respsionis dan menyapa ramah.
“Selamat pagi, permisi. Saya pengacara baru yang mulai berkerja hari ini di Wardwell Law Firm. Ini surat penerimaan saya.” Milly menyerahkan selembar kertas yang menyatakan dia diterima sebagai bagian dari tim hukum Wardwell Law Firm.
“Anda, Nona Milly Benson?” tanya sang resepsionis.
Milly mengangguk cepat. “Ya, aku Milly Benson.”
“Baik, Nona Benson.” Resepsionis merespon ramah setelah membaca surat penerimaan itu. “Silakan Nona tunggu di kursi tunggu itu, saya akan menyambungkan permintaan anda pada divisi HR.”
Milly tersenyum setelah menoleh pada tempat yang ditunjuk. “Baik, terima kasih.”
Milly duduk di kursi tunggu, dengan senyuman yang benar-benar tidak bisa dia sembunyikan. Pada akhirnya, dia benar-benar telah menjadi pengacara di firma yang dia inginkan. Hal itu membuatnya bangga dengan dirinya sendiri.
“Nona Milly Benson,” sapa seseorang yang bertubuh ramping dengan rambut dicepol ke belakang. Setelan jas kerjanya yang berwarna cream dipadukan dengan blouse putih tampak sangat cantik.
Milly mengerjap sekali, kemudian segera berdiri dan membalas sapaan itu dengan ramah.
“Maaf karena menunggu lama. Perkenalkan, saya Celine dari divisi HR yang akan mengantar Anda ke lantai tiga, tempat para pengacara dan mengenalkan Anda pada mereka. Mari ikuti saya,” ucap Celine sambil mempersilakan Mily dengan gerakan tangannya yang sopan.
Milly mengangguk, mengekor pada Celine yang telah berjalan menuju ke lift.
Di lantai tiga, Celine lansung mengajak Milly untuk masuk ke ruangan pengacara satu per satu. Sebab, pada dasarnya Milly adalah seorang yang pendiam saat bertemu dengan orang asing—pengecualian ketika dia menemukan kasus seperti di café tadi—dia hanya mengucapkan nama dan mengatakan ‘Senang bertemu denganmu’.
“Saya harap, Anda betah menjadi bagian dari keluarga besar Wardwell Law Firm.” Celine berkata sambil tersenyum pada Milly setelah mereka keluar salah satu ruangan pengacara.
Milly tersenyum sopan. Ada satu semangat yang menyala hebat setelah mendengar ucapan dari Celine. “Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk firma ini.”
Celine membalas senyuman Milly, sambil menunjukkan beberapa fungsi ruangan yang ada di lantai itu. Pantry tempat yang biasa digunakan saat coffee break, ruangan khusus untuk foto copy, gudang penyimpanan alat kantor, serta kamar mandi dan sebuah balkon yang jarang dikunjungi oleh penghuni lantai ini.
“Saya dengar, Anda adalah lulus terbaik dan mendapat ujian advokat dengan nilai yang sempurna. Anda pasti berusaha dengan keras selama ini,” ucap Celine memulai sebuah percakapan.
Muka Milly bersemu merah. “Menjadi pengacara adalah impian saya, karena itu saya selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik.”
“Percayalah, Anda pasti akan menjadi pengacara yang hebat,” ucap Celine lagi sambil tersenyum. Langkah mereka berhenti pada satu ruangan terakhir yang akan dikunjungi oleh Milly. “Bersiaplah. Beliau adalah pengacara senior terbaik yang dimiliki oleh firma kita.”
Milly mengangguk dan sedikit gugup bertemu dengan pengacara senior.
Celine mengetuk pintu tiga kali.
“Masuk,” ucap pengacara itu dari dalam.
Celine membuka pintu perlahan. Milly masih mengekor di belakangnya, mengintip ruangan luas yang membuatnya terperangah di balik pundak Celine.
Dua sofa hitam berhadapan dengan satu meja kaca di tengahnya yang langsung menyambut saat pintu dibuka, rak buku yang berjajar banyak buku tentang hukum, serta beberapa tumbuhan hijau yang membuat ruangan ini menjadi terasa seperti rumah.
“Permisi, Tuan Zayn Ducan. Saya ingin memperkenalkan pengacara baru yang mulai hari bergabung dengan firma kita,” ucap Celine membuka perkenalan.
Milly mengerutkan keningnya. Wajah sosok pria tampan di hadapannya itu, terlihat tidak asing di matanya. Namun, dia tidak mengingat di mana pernah bertemu dengannya. Otaknya berusaha mengingat, tapi tetap tak kunjung mengingat.
Zayn bergerak mendekat, kedua matanya memicing tajam pada Milly, membuat gadis itu merasa canggung. Sorot yang dilempar oleh Zayn membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
“Kau pengacara baru di sini?” tanya Zayn dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Milly sedikit terkejut dengan sambutan Zayn yang berbeda dari pengacara lainnya. Meskipun begitu, dia tetap mengembangkan senyumnya, kemudian mengulurkan tangannya pada Zayn. “Benar, saya Milly Benson, mulai hari ini saya resmi bergabung di firma ini. Mohon kerja samanya.”
Zayn menatap Milly dari atas ke bawah tanpa menyambut uluran tangan Milly. “Baiklah, selamat bekerja,” jawabnya, berbalik menuju mejanya.
Milly terperangah dengan sifat Zayn yang menurutnya sangat arogan. Bagaimana bisa pria itu tidak menyambut uluran tangannya? Milly mengepalkan tangannya, kemudian keluar ruangan, mengikuti Celine yang akan menunjukkan ruangannya sendiri.
Sementara itu, Zayn duduk di kursinya sambil terus menatap tajam pada Milly sampai gadis itu menghilang dari pandangan. “Gadis itu lebih cocok menjadi preman daripada pengacara,” gumamnya sambil mengembuskan napas panjang.
Tumpukan berkas kasus terlihat menggunung di mejanya, belum lagi yang teronggok di lantai, sebelah kursinya. Sebagai seorang pengacara senior cukup hebat yang dimiliki oleh firma, Zayn seakan tidak memiliki waktu luang. Banyak kasus yang harus dia menangkan.
Sebelah tangannya meraih gelas kopi yang masih utuh. Americano adalah favoritnya untuk membangun mood di pagi hari. Namun, tak jarang juga dia memesan flat white. Zayn menyesap americano-nya yang mulai dingin sambil memeriksa perkembangan status di layar monitor.
Wajahnya terlihat datar, sampai satu email dari tim direksi firma membuatnya mengerutkan kening. “Apa-apaan ini?” desisnya kesal.
Telunjuk kanannya bergerak lincah saat menggulirkan scroll mouse. Email dan lampiran yang dikirim padanya berkali-kali dia baca untuk memastikan informasi yang dikirimnya benar-benar valid. Sayangnya, berapa kali pun Zayn memastikan, tetap saja hasilnya sama. Dimulai hari ini, Zayn akan menjadi mentor dari pengacara baru yaitu Milly Benson.
“Ck! Kasusku sudah terlalu rumit, aku tidak bisa menjadi mentor dari seseorang yang bahkan tidak cocok menjadi pengacara,” gumam Zayn lagi dengan nada gusar.
Telunjuknya mengarah pada menu balas email. Setelahnya, kedua tangannya bergerak lincah di atas keyboard untuk mengetik balasan penyanggahan. Tanpa pikir dua kali lagi, Zayn telah mengirim balas email itu.
Tring!
Notifikasi email kembali terdengar. Balasan langsung dari pihak direksi yang menolak balasan penyanggahan Zayn. Mau tidak mau, Zayn harus menjadi mentor bagi Milly. Zayn mengerang frustrasi. Kejadian yang dia lihat di café tadi kembali terngiang. Detik berikutnya, Zayn menegakkan badan dan mendengkus kesal. Dia kembali membaca balasan email yang berhasil membuatnya suasana hatinya berantakan.
“Shit! Kenapa harus aku yang menjadi mentor dari gadis preman itu?!”
Zayn memanggil timnya ke ruang meeting, termasuk Milly yang mulai hari ini tergabung di dalamnya—dengan terpaksa—Milly masuk ke dalam ruangan dan langung duduk di kursi yang paling jauh dari tempat Zayn. Gadis itu benar-benar tidak nyaman, apalagi melihat wajah Zayn yang terlihat lebih menyeramkan dari perkenalan tadi.
“Hai,” sapa seseorang yang duduk di sebelah Milly.
Milly tidak begitu memperhatikan karena terlalu sibuk menghindari tatapan tajam yang berasa dari Zayn. Berkali-kali Milly berusaha untuk menghela napas agar rasa gugupnya berkurang. Dia bahkan tidak tahu alasan apa yang membuat Zayn bersikap dingin padanya.
“Kau berada di tim ini juga?” sapa seseorang itu lagi.
Kali ini, Milly menoleh dan mendapati salah satu pengacara yang tadi mengenalkan dirinya dengan ramah. “Ah, Rey. Maaf aku tidak segera menyapa balik.”
Rey, salah satu pengacara di sana melukiskan senyum. “It’s ok, kau pasti gugup di hari pertamamu. Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar. Kau beruntung bisa masuk tim ini.”
Milly meringis di balik ekspresi wajahnya yang tak baik. Benarkah dia beruntung karena masuk ke dalam tim ini? Namun, kenapa justru terasa menjadi beban karena jelas sekali Zayn seperti tidak suka padanya. Bahkan dia tidak menerima jabatan tangannya tadi. Jika dipikir lagi, hal itu membuat Milly menjadi kesal.
“Karena tim sudah berkumpul semua, kita mulai meeting-nya.” Zayn memulai pembicaraan.
Tiga orang yang sebelumnya telah menjadi anggota tim Zayn segera membuka buku agendanya masing-masing. Rey, seorang pengacara rekanan yang selalu menjadi partner dari Zayn, dan dua orang lain yang bertugas sebagai penasihat, dan mitra non pengacara. Melihat itu, Milly ikut membuka buku agenda yang sudah disediakan di ruangannya tadi.
“Kalian pasti sudah saling berkenalan dengan anggota baru firma ini,” kata Zayn lagi. “Mulai saat ini, Milly Benson akan tergabung di dalam tim ini dan membantu semua hal yang membutuhkan bantuan.”
Semua mata tertuju pada Milly, membuat gadis itu mengangguk pelan sambil tersenyum canggung.
Zayn kembali menatap dingin dan tegas pada Milly. “Pastikan kau tidak membuat masalah karena kasus yang kita hadapi tidak main-main. Perlu diingat, ini adalah dunia kerja, bukan dunia kuliah lagi.”
Milly kembali terperangah dengan sikap Zayn yang luar biasa menyebalkan. Tidak, bahkan saat ini Milly merasa sangat diremehkan olehnya. “Baik.” Pada akhirnya hanya satu kata itu yang diucapkan oleh Milly.
Meeting berakhir setelah tiga jam kemudian. Kasus yang mereka bicarakan membuat adrenalin Milly terpacu. Dia benar-benar merasa bahwa dirinya sekarang adalah seorang pengacara. Saat mereka keluar satu persatu dari ruangan meeting, Milly memberanikan diri untuk memanggil Zayn. Meskipun dia masih kesal dengan semua sikap yang dilemparkan padanya, tetap saja Zayn adalah pengacara senior yang menjadi mentornya di tim ini.
“Ada apa?” tanya Zayn dingin.
Milly yang kembali diserang dengan sikap dingin Zayn menjadi gugup untuk berkata. “Begini, sebelumnya terima kasih karena telah bersedia menjadi mentorku. Selain itu, terima kasih juga karena diperbolehkan masuk ke dalam tim ini. Kedepannya, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik. Mohon bimbingannya,” ucapnya seramah mungkin.
Zayn kembali menatap Milly dengan sorot menghakimi. “Pastikan saja kau tidak membuat masalah di sini.”
Sebelum Milly sempat menjawab, Zayn sudah berlalu, meninggalkan Milly yang mendengkus kesal.
“Hei, kau baik-baik saja?”
Milly berjingkat terkejut saat mendengar Rey yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. “Astaga, kau mengagetkanku,” kata Milly sambil memegang dadanya.
“Oh, maafkan aku.” Rey terlihat menyesal karena telah mengejutkan Milly.
Melihat itu, Milly buru-buru menggeleng sambil menggoyangkan tangannya cepat. “Tidak apa-apa.”
Rey kembali tersenyum lebar. “Sudah masuk jam makan siang, kau mau makan bersama dengan yang lain? Kita akan pergi makan di restoran langganan sebelah gedung.”
Milly melihat jam tangannya. Benar saja, tidak terasa setengah hari telah berlalu dengan cepat. Beberapa orang melambaikan tangannya untuk menyuruh Rey bergegas.
“Bagaimana? Kau mau ikut?” tanya Rey lagi.
Milly mengangguk. “Tentu saja, aku akan mengambil tasku dulu di ruangan.”
“Aku akan menunggumu di lobi depan. Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru,” jawab Rey ramah.
***
Sepiring pasta ravioli terhidang di depan Milly. Asapnya yang masih mengepul mengantarkan aroma pasta kesukaannya itu. Beberapa rekan kerjanya juga telah menyantap makan siangnya masing-masing.
“Selamat makan,” ucap Rey yang duduk di depannya dengan nada riang.
Milly terkekeh. “Selamat makan.”
Saat menyuap ravioli-nya, Milly kembali teringat dengan sikap Zayn yang membuatnya berkali-kali terperangah di hari pertamanya kerja. Dia sempat mengira sifat Zayn memang seperti itu, tapi saat dia akan keluar untuk makan siang, dia sempat melihat Zayn yang sedang berinteraksi dengan salah satu rekan pengacara yang lain. Well, di mata Milly, sikap pria itu sangat berbeda dibandingkan saat berhadapan dengannya.
“Rey, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Milly seperti begitu penasaran.
Rey mendongak untuk memandang Milly. “Tentu saja, kau mau bertanya apa?”
Milly menggigit bibir bawahnya. Sejenak, dia tampak ragu untuk menanyakan hal ini pada Rey. Namun, dia merasa harus tahu apakah Zayn juga bersikap dingin pada orang lain selain dirinya.
“Mengenai sikap Zayn. Aku tidak bermaksud untuk mengeluh. Tapi apakah dia memang selalu bersikap dingin, ketus, dan arogan sama orang lain?” tanya Milly setengah berbisik.
“Apakah Zayn bersikap seperti itu padamu?” tanya Rey balik.
Milly mengangguk cepat. Sorot matanya terlihat terluka, dia menghela napas panjang. “Sejak awal aku mengenalkan diriku padanya, dia seperti menganggapku sebagai musuh. Bahkan dia tidak membalas tanganku yang mengajaknya berjabat tangan.”
Rey terkekeh rendah. “Zayn memang selalu bersikap begitu dengan orang asing. Dingin, arogan, dan menyebalkan. Tapi percayalah, sikapnya akan berubah kalau kalian sudah semakin akrab.”
Milly memiringkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya. Jelas dia tampak ragu dengan ucapan Rey. “Apakah kau dulu juga diperlakukan seperti itu?”
Rey terlihat berpikir. “Sejujurnya, aku sedikit lupa dengan awal pertemuanku dengannya. Tapi, menurutku biasa saja. Mungkin karena kita sesama pria, jadi aku tidak pernah mempermasalahkan sikapnya. Lebih tepatnya, aku tidak peduli.”
Milly tertawa pelan mendengar jawaban dari Rey. Benar juga, pria jarang menggunakan perasaannya saat menyikapi sebuah masalah. Mungkin, dirinya terlalu sensitif menanggapi masalah ini.
“Mungkin, kau bisa mencoba untuk bersikap sepertiku.”
“Bagaimana? Bersikap tidak peduli?”
Rey mengangguk. “Benar. Cobalah untuk tidak memasukkan hati atas semua ucapan dan tingkah Zayn yang menurutmu terlihat dan terdengar ketus. Perlahan, sikapnya pasti berubah. Zayn sebenarnya memiliki sifat yang hangat. Asalkan kau bisa dekat dengannya.”
“Dekat dengannya?” Milly tanpa sadar mengeluarkan raut wajah tidak suka sampai membuat Rey tertawa.
“Bukan dekat dalam artian ‘dekat’. Pada intinya, Zayn adalah sosok yang hangat bagi orang yang telah dikenalnya dengan baik.” Rey mencoba untuk menjelaskan agar Milly tidak salah paham.
Milly mengangguk-angguk. Walaupun sepertinya itu adalah hal yang sulit, tapi mungkin dia bisa memulai dengan bersikap tidak peduli dengan semua kelakuan Zayn yang membuatnya kesal.
“Baiklah, aku akan mencobanya. Terima kasih, Rey,” ucap Milly sungguh-sungguh.