Bab 1

Bukan di ruang meeting berpendingin udara, bukan pula di balik meja marmer yang mengkilap, tetapi di bilik ruko pinggir jalan yang sempit itulah Naruga Indra-atau akrabnya dipanggil Ruga-merasa paling berkuasa. Tempat itu adalah singgasananya, bukan karena kemewahan, tapi karena di sanalah ia menjadi dirinya sendiri. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada drama. Hanya aroma mie ayam dan suara wajan yang beradu.

Di sana, aroma kuah mie ayam mendidih dan asap panas dari adonan kulit pangsit selalu menyambutnya, aroma yang jujur dan tak berpura-pura. Itulah rumah. Kontrasnya, beberapa jam yang lalu, Ruga baru saja menyelesaikan joki tugas kalkulus termudah namun termahal dalam hidupnya. Kliennya? Seorang anak Menteri yang otaknya sekosong dompetnya. Ruga menggelengkan kepala, miris. Betapa mudahnya uang membeli segalanya, bahkan "otak".

Ruga, si kurus tinggi berkacamata yang harusnya cuma anak kelas 2 SMA biasa, adalah sebuah anomali. Ia adalah si jenius miskin dengan pride selangit, yang hidup dari ironi: mencerdaskan anak-anak orang kaya yang bodoh. Uang yang ia dapat dari satu lembar jawaban bisa menghidupi ruko mie ayam ibunya selama seminggu. Ironi yang membuatnya muak, namun juga memberinya kekuatan. Ia tidak akan menyerah pada keadaan.

"Mau sampai kapan kamu jadi joki tugas bayangan, Ga?" Ibu Ruga, wanita sederhana dengan tangan kasar bekas adonan, bertanya sambil mengelap meja. Kerutan di wajahnya semakin terlihat jelas saat ia menatap Ruga dengan tatapan khawatir.

Ruga tersenyum, merapikan kacamata tingginya. "Sampai mereka sadar, Bu, uang nggak bisa beli otak. Tapi tenang aja, uangnya bisa beli mie ayam enak buatan kita." Senyumnya tulus, mencoba menenangkan ibunya. Ia tahu ibunya khawatir, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini adalah cara satu-satunya untuk bertahan hidup.

Ruga mencintai kecerdasannya. Ia membenci kenyataan bahwa orang kaya selalu berada di atas, tetapi ia bangga karena ia bisa duduk di sana, setidaknya di balik layar, sebagai otak mereka. Sisi sinisnya mengatakan, ia adalah kuman yang bermutasi menjadi virus di tubuh para elit. Ia tidak meminta-minta, ia menjual harga dirinya yang paling mahal: kecerdasan tak tertandingi. 

Ia adalah Robin Hood versi modern, mencuri dari yang kaya untuk memberi makan dirinya dan ibunya.

Malam itu, Ruga harus menyelesaikan misi terakhirnya sebelum deadline gila besok pagi. Ia harus mengantarkan bundel tugas Fisika Kuantum ke loker salah satu siswa SMA Melody. SMA elit, benteng kemewahan dan kekuasaan, tempat para politikus dan konglomerat menanam benih-benih pewaris mereka. Tempat di mana uang berbicara lebih keras daripada akal sehat.

Ruga mengenakan jaket hoodie gelap, membawa tas ransel lusuh yang berisi tumpukan kertas putih penuh rumus, dan mulai menyusuri trotoar menuju SMA Melody. Setiap langkah terasa seperti melintasi batas kasta. Ruko sederhana perlahan berganti menjadi pagar besi tempa tinggi, lampu taman kristal, dan mobil-mobil mewah yang terparkir seolah dipamerkan. SMA Melody bukan sekadar sekolah, ini adalah istana es. Istana yang dibangun di atas uang dan kekuasaan.

Di SMA Melody, Ruga tahu ada seorang gadis yang menjadi mitos menakutkan dan dingin yang paling ia hindari: Kayana Setiawan. Donatur No. 1 di yayasan. Sosok angkuh, berambut hitam panjang, dan matanya selalu memancarkan penghinaan. Ruga pernah melihat Kayana sekali. Cukup sekali untuk memahami bahwa di mata gadis itu, semua orang miskin adalah sampah, termasuk dirinya. Ia adalah kebencian yang bergerak, dan Ruga, dengan pride-nya, selalu menjadi target empuk untuk dibenci. Kayana adalah representasi dari semua yang ia benci dari dunia ini.

"Kayana Setiawan," gumam Ruga dalam hati. Nama itu terasa seperti kristal dingin yang tajam. Ia adalah antitesis dari segala hal yang Ruga yakini, dan itulah sebabnya Ruga tertarik sekaligus jijik. Villain yang sempurna. Musuh yang sempurna untuk dilawan.

Ruga berhasil menyelinap masuk melalui gerbang samping yang dijaga longgar, pura-pura sebagai kurir yang tersesat. Satpam hanya meliriknya sekilas, terlalu malas untuk memeriksa lebih lanjut. Aula utama Melody begitu hening, marmernya memantulkan cahaya lampu yang membuat Ruga merasa telanjang dan salah tempat. Ia berjalan cepat, mencari deretan loker di gedung utama, tempat ia akan meninggalkan 'karya' fisika-nya. Ia merasa seperti penyusup di dunia yang bukan miliknya.

Saat ia mencapai koridor loker, ia merasakan hawa dingin yang aneh. Bukan dingin AC, tapi dingin yang mencekam. Langkah kakinya dipercepat. Ia harus segera meletakkan bundel tugas milik kliennya itu dan bergegas pergi, kembali ke kehangatan ruko mie ayamnya. Kembali ke tempat di mana ia merasa aman dan nyaman.

Tiba-tiba, mata Ruga menangkap gerakan di lantai atas, di rooftop gedung yang paling tinggi. Siluet samar, hanya bayangan. Ruga mengerutkan kening. Sedikit pride-nya menyuruhnya untuk tidak peduli, ini bukan urusannya. Namun, rasa penasaran yang selalu menjadi bahan bakarnya, memaksa Ruga berhenti. Rasa penasaran yang membuatnya menjadi jenius, dan rasa penasaran yang mungkin akan menghancurkannya.

Ruga mendongak, matanya yang tajam menembus kegelapan. Ia melihat bayangan itu bergerak, seolah sedang bergumul. Sesaat kemudian, sebuah benda, bukan benda, melainkan sosok, melayang ke bawah. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?

Waktu terasa berhenti. Jantung Ruga berdebar brutal, memukul rusuknya seperti genderang perang. Ia merasa seperti sedang menyaksikan adegan dalam film thriller.

Brak!

Suara itu! Suara benda keras menghantam lantai, memecah hening malam SMA Melody. Tepat di hadapan Ruga, hanya beberapa meter darinya, tergeletak seorang siswa berseragam Melody. Darah mulai menyebar di ubin marmer yang mengkilap, memantulkan lampu neon sekolah yang dingin. Pemandangan yang mengerikan dan tak terlupakan. Wangi anyir darah kian pekat penciuman bersamaan dengan seorang lelaki muda dengan seragam yang tergeletak tengkurap tak bergerak. 

Ruga ambruk mematung syok. Ia seorang jenius, tetapi tubuhnya bereaksi seperti manusia biasa yang melihat kengerian tak terduga. Ia harus memanggil bantuan. Ambulans! Polisi! Otaknya bekerja keras, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.

"Sialan!" teriak Ruga, bergetar, tangannya meraih ponsel. Ia mencoba menenangkan diri, mengatur nafasnya.

Namun, sebelum jemarinya sempat mendial nomor, pandangan Ruga tertuju pada sesuatu yang terlepas dari tubuh korban. Sebuah name tag siswa. Tertulis jelas: Pangeran Setiawan. Ruga teringat. Pangeran. Bocah kaya terkenal, anak hasil perselingkuhan gelap keluarga Setiawan. Sebuah altar dari sistem patriarki dengan laki-laki yang harus menjadi calon pewaris. Jadi, ini adalah Pangeran Setiawan yang selama ini menjadi perbincangan di sekolah.

Dan kemudian, di dekat name tag Pangeran, di samping genangan darah yang makin meluas dari pucuk kepala yang terkulai, tergenggam erat sebuah name tag lain. Terlepas, seolah ditarik paksa dari seragam pemiliknya. Sebuah petunjuk?

Ruga meraihnya dengan tangan gemetar. Di sana, tertulis nama yang membuatnya kaku. Nama yang selama ini ia hindari.

Kayana Setiawan.

Kenapa... kenapa name tag Kayana ada di sini? Apa hubungannya dengan kejadian ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benaknya.

Ruga merasakan adrenalin membanjiri dirinya. Ia mengantongi name tag Kayana. Bukti. Bukti yang mungkin bisa membantunya mengungkap kebenaran.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berdentum keras dari koridor lain. Sepatu kulit mengilap. Gerombolan pria berjas hitam, bodyguard sekolah, berlari ke arahnya. Wajah mereka tegang dan tanpa ekspresi. Mereka adalah aparat yang disewa untuk menjaga citra sekolah. Mereka terlihat seperti tentara bayaran yang siap melakukan apa saja untuk melindungi kepentingan sekolah.

Ruga hendak berteriak, hendak menjelaskan. "Saya gak ngapa-ngapain! Saya cuma mau-" Ia mencoba menjelaskan situasinya, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Grep!

Ia disergap. Kuat. Ranselnya direnggut. Ruga meronta, tetapi tenaga mereka terlalu besar. Ia merasa seperti seekor tikus yang tertangkap dalam perangkap.

"Tenang, Nak. Kami akan urus ini." Suara berat datang dari belakang. Kepala Sekolah Wira, pria paruh baya dengan senyum ramah yang tidak mencapai mata. 

Ia adalah ayah dari Galih, Donatur No. 2, dan sekutu dekat keluarga Kayana. Senyumnya tidak tulus, matanya dingin dan perhitungan.

Ruga di bawa bukan ke kantor polisi, melainkan ke ruang rahasia di bawah tanah gedung yayasan sekolah. Ruangan itu kedap suara, dihiasi perabotan kulit mahal, dan terasa seperti tempat eksekusi senyap. Ruangan yang dirancang untuk menyembunyikan kebenaran.

"Naruga Indra. Usaha mie ayam di ruko pinggir jalan. Murid jenius, tapi miskin. Dan... joki profesional." Wira tersenyum. Senyum yang meremehkan dan menghina. 

"Kau melihat sebuah 'kecelakaan', Nak. Benar?"

Ruga menatap mata Wira. "Itu bukan kecelakaan. Saya lihat bayangan di atas. Ada yang dorong dia." Ia mencoba meyakinkan Wira, tapi ia tahu Wira tidak akan percaya.

Wira tertawa kecil, tawa yang dingin dan menyinggung. "Kau terlalu dramatis, Nak. Itu hanya bunuh diri. Tekanan dari kehidupan elit, kau tahu. Remaja rapuh yang broken home. Itu saja." Wira mencoba meremehkan kejadian yang sebenarnya.

"Tapi name tag Kayana Setiawan-" Ruga mencoba menunjukkan bukti yang ia temukan.

"Ah, Kayana. Gadis yang angkuh. Dia sering ke rooftop untuk merokok, mungkin name tag-nya jatuh. Dia Donatur No. 1, Ruga. Kau tidak bisa menuduhnya sembarangan," potong Wira dengan nada mengancam yang lembut.

Ruga merasakan cengkeraman tak terlihat di lehernya. Ia tahu Wira berbohong. Ia tahu Kayana terlibat, entah sebagai pelaku atau saksi. Dan Ruga, dengan pride seorang jenius, tidak suka dibohongi. Ia merasa diremehkan dan dipermainkan.

Wira beranjak, mengambil sebuah map tebal. "Dengar, Ruga. Kau jenius. Tapi sayang, jeniusmu terbuang di warung mie ayam dan sekolah SMA yang kumuh. Aku punya tawaran, sebuah kesepakatan iblis untukmu." Wira menawarkan sesuatu yang tidak bisa ia tolak.

Wira menyodorkan dokumen beasiswa. "Beasiswa penuh. Seragam, buku, SPP, semua gratis. Di SMA Melody. Kau akan belajar di antara para elit, kau akan punya akses ke kekayaan yang tak pernah kau bayangkan. Kami butuh murid sepertimu untuk mendongkrak reputasi akademik kami. Kau akan menjadi 'pahlawan' kami." Tawaran yang sangat menggoda.

Ruga menatap dokumen itu. Ini adalah gerbang ke dunia yang ia benci, sekaligus kesempatan yang tak mungkin didapatkan seumur hidupnya. Ini adalah peluang untuk membongkar kebenaran di balik SMA Melody, kebenaran di balik Kayana Setiawan. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia tidak bisa dibeli dengan uang.

"Syaratnya?" tanya Ruga, suaranya serak. Ia tahu ada harga yang harus dibayar untuk semua ini.

"Sederhana," ujar Wira, senyumnya melebar. 

"Tutup mulutmu. Lupakan semua yang kau lihat malam ini. Kau hanya 'murid miskin beasiswa' yang beruntung. Jika kau coba buka suara, aku akan pastikan hidupmu, dan ruko mie ayam ibumu, musnah. Mengerti?" Ancaman yang jelas dan tegas.

Ruga menarik napas panjang. Ia menatap Wira, lalu membayangkan wajah Pangeran yang tergeletak berlumuran darah. Ia memilih. Bukan karena uang, tapi karena tantangan dan naluri penyelidikannya. Ia, si jenius miskin, akan masuk ke sarang singa. Ia akan mengungkap kebenaran, apapun resikonya.

"Setuju," jawab Ruga, pride-nya berteriak melawan, tetapi otaknya mengangguk. "Saya akan jadi murid teladan. Tapi jangan salahkan saya kalau kecerdasan saya nanti malah bikin rencana busukmu berantakan, Pak Wira." Ia menerima tawaran itu, tapi dengan syaratnya sendiri.

Wira tertawa keras. "Bagus. Aku suka keberanianmu. Tapi ingat, di sini, uang adalah segalanya. Jenius sepertimu hanya pion. Selamat datang di SMA Melody, Naruga Indra." Wira merasa menang, tapi ia tidak tahu apa yang menantinya.

Ruga berdiri tegak. Ia keluar dari ruangan itu bukan lagi sebagai joki tugas, melainkan sebagai mata-mata yang menyamar. Ia meraba saku jaketnya, merasakan tekstur keras name tag Kayana Setiawan. Ia memegang bukti itu erat-erat.

'Kayana. Lo yang dorong dia? Atau lo korban selanjutnya? Gue akan cari tahu, dan gue pastiin, lo gak akan bisa main-main sama gue.' 

Ia bertekad untuk mengungkap kebenaran di balik semua ini.

Senja telah berakhir, digantikan malam yang penuh intrik. SMA Melody, benteng para elit, baru saja mendapatkan penyusup terjenius sekaligus termiskinnya. Takdir Lovely Rivalry antara Naruga Indra dan Kayana Setiawan, si miskin jenius dan si Ratu Es yang angkuh, baru saja dimulai di atas genangan darah seorang siswa yang koma. 

Pertarungan antara kebenaran dan kebohongan, antara keadilan dan kekuasaan, baru saja dimulai.

Bab 2

Udara SMA Melody berbau kemewahan. Bukan hanya wangi parfum import yang menyengat, tapi juga aroma kekuasaan yang tak terlihat, terserap dalam karpet beludru, tirai sutra, dan dinding marmer setinggi langit-langit. Bagi Naruga Indra, aroma itu menusuk hidungnya seperti disinfektan kuat-menjijikkan, tetapi mau tidak mau, harus ia hirup. Ia membayangkan aroma itu seperti asap knalpot mobil mewah, mematikan secara perlahan.

Hari ini adalah hari pertamanya sebagai siswa SMA Melody, si kumis (kuman miskin, istilah sinis yang ia ciptakan sendiri) yang menyusup ke sarang berlian. Ia berdiri di tengah lapangan upacara yang luas, mengenakan seragam baru yang terasa kaku dan aneh. Kemeja putihnya terlalu putih, tidak ada noda debu, tidak ada aroma minyak goreng dari ruko mie ayam. Ia mencoba tersenyum, senyum ceria yang selalu ia pakai sebagai perisai, tetapi matanya yang tersembunyi di balik kacamata tebal sedang merekam setiap detail. Ia merasa seperti mata-mata dalam film laga, mengamati setiap sudut dan celah.

Siswa-siswa Melody yang lain-anak-anak pejabat, politikus, dan pengusaha-menatapnya seperti melihat spesies asing dari planet lain. Bisik-bisik mereka terdengar seperti desisan ular berbisa. Ruga tahu, di mata mereka, ia hanyalah seorang freak.

"What the heck, siapa dia? Seragamnya kok kayak baru keluar dari deterjen paling murahan?"

"Pasti anak beasiswa. Tuh lihat kacamatanya, so last decade."

"SMA Melody nerima anak miskin? Ew, jangan sampai satu kelas sama gue."

Ruga mengabaikan mereka. Pride-nya tinggi. Ia tidak meminta beasiswa, ia menjual kebisuan dan kepintarannya. Justru, ia merasa kasihan pada mereka. 

Mereka berpakaian mahal, tetapi jiwanya kosong. Mereka seperti robot yang diprogram untuk menjadi kaya dan berkuasa.

Tak lama, sosok yang menjadi pusat gravitasi dingin di sekolah itu muncul. Kayana Setiawan-rambut hitam panjang tergerai sempurna, langkahnya tegas, aura dinginnya menyelimuti koridor seperti kabut es. Tingginya, yang hanya sebatas dada Ruga, membuatnya terlihat seperti ratu angkuh yang menatap dari singgasana rendah. Ia dikelilingi oleh antek-antek setianya: Stella, si bodyguard wanita yang loyal dan selalu siap tempur, dan Fariz, si playboy sok keren yang ironisnya adalah salah satu klien joki Ruga. Ruga merasa jijik melihat Fariz berpura-pura tidak mengenalnya.

Kayana berjalan melintas, matanya yang tajam menelisik Ruga dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Ada nyala api jijik di sana, api yang sudah Ruga antisipasi. Kayana berhenti tepat di depan Ruga.

"Minggir," perintah Kayana, suaranya sedingin es batu. Ia bahkan tidak repot-repot menatap Ruga.

Ruga tersenyum, senyum yang sengaja ia buat menyebalkan. "Maaf, Nona Kayana. Jalanan ini milik umum, at least sebelum gue bayar semua Donatur di sini, jadi lo yang minggir duluan." Ia sengaja menekankan kata 'Donatur' untuk menyindir Kayana.

Kayana terdiam, terkejut dengan keberanian Ruga. Matanya menyipit. "Oh, lo yang anak beasiswa itu? Naruga Indra, ya? Gue udah denger. Kuman yang masuk ke rumah berlian. Coba, kuman itu harusnya tahu tempatnya." Nada bicaranya merendahkan dan menghina.

Tanpa peringatan, Kayana mengayunkan gelas berisi iced coffee mahal yang ia pegang. Bukan ke wajah Ruga, melainkan tepat ke sepatu kets Ruga yang sederhana. Cairan coklat kental itu memercik, merusak kemurnian sepatu putih Ruga. Ruga merasakan amarahnya mendidih, tetapi ia berusaha menahannya.

"Ups. Maaf. Tangan gue kepleset." Kayana memasang wajah datar, tanpa penyesalan sedikit pun. "Dasar orang miskin. Pura-pura bego di sini, padahal lo cuma pengemis cerdas. Ambil aja sisa minuman gue. Biar lo nggak kehausan." Ia tertawa sinis, menikmati penghinaannya.

Ruga merasakan panas naik ke tengkuknya. Bukan karena marah, tetapi karena harga dirinya diinjak-injak. Ia tidak akan membungkuk. Ia tidak akan memberikan Kayana kepuasan melihatnya marah.

Ruga menatap mata Kayana, mengambil tisu dari sakunya dengan santai, dan mulai membersihkan sepatunya. Ia melakukannya dengan gerakan yang lambat dan teliti, seolah sedang melakukan ritual sakral.

"Lo buang-buang minuman, Kaya," ujar Ruga, nadanya tenang tetapi tajam. "Gue buang waktu buat ngelap sepatu. Tapi it's okay, at least lo nunjukin kasta lo emang di bawah gue, secara attitude. Di dunia gue, buang-buang makanan itu dosa." Ruga ingin Kayana tahu bahwa ia tidak terpengaruh oleh penghinaannya.

Kayana terperangah. Baru kali ini ada yang berani membalasnya, apalagi anak miskin. Stella dan Fariz terlihat gelisah. Fariz bahkan pura-pura tidak mengenal Ruga, meskipun Ruga baru saja menyelesaikan PR-nya dengan biaya jutaan rupiah tadi malam. Ruga tersenyum sinis melihat kepengecutan Fariz.

"Lo pikir lo siapa? Lo cuma... joki tugas! Gue tahu!" seru Kayana, membiarkan kebenciannya meledak. Ia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya lagi.

Ruga hanya tersenyum sinis. "Ah, Kayana. Ternyata lo tahu ya. Bagus deh. Kalo lo butuh nilai bagus di pelajaran yang lo benci, lo tahu harus lari ke mana. Gue cuma mau bilang, jangan sampai pride lo lebih gede daripada kebutuhan lo buat lulus." Ia sengaja mengingatkan Kayana bahwa ia membutuhkan bantuannya.

"Gue udah terlalu pintar untuk pakai jasa murahan lo. Ruga. Anak baru, miskin, yang sombong." Kayana menunjuk-nunjuk dada pria di depannya dengan kasar.

Ruga memberikan senyum sinis. "Kayana, produksi hormon stres, kortisol, yang merusak kolagen dan menghambat peremajaan kulit lo, serta menyebabkan otot wajah menegang dan membentuk garis halus, bikin lo cepat tua. Sayang kan, kalau muka mungil dan cantik lo itu cepet kriput." 

"Sialan lo!"

Ruga dengan refleks menangkap telapak tangan Kayana yang dilayangkan tepat menuju pipinya. Ia menarik tangan mungil itu ke udara, memaksa nona yang tingginya hanya sebatas dada Ruga untuk berjinjit. "Kalau mau cium gue, pakai bibir, jangan pakai tangan." Pria itu menunduk sambil membisikkan kalimat di kuping Kaya. Kalimat horor yang hanya bisa ia dengar sendiri dikarenakan volume yang persis seperti sebuah desisan. 

Kayana mengepalkan tangannya. "Lo... menjijikkan!" Setelah pegangan longgar Ruga terlepas, ia berbalik melangkah pergi bersama antek-anteknya. Aura kemarahannya tertinggal di koridor. Ruga merasa menang, setidaknya untuk saat ini.

Ruga tahu, untuk bertahan, ia harus membangun kekuatannya sendiri. Ia tidak bisa melawan Kayana di bidang uang, tetapi ia bisa melawan di bidang yang ia kuasai: kecerdasan dan informasi. Ia harus menjadi lebih pintar dari mereka semua.

Misi pertamanya adalah mencari tahu lebih banyak tentang Pangeran Setiawan dan Kayana. Ruga mulai menggunakan kepintarannya untuk mendekati lingkaran Kayana. Klien joki pertamanya di Melody adalah Galih Wira, putra Kepala Sekolah, Donatur No. 2. Ruga melihat Galih sebagai kunci untuk membuka rahasia SMA Melody.

Galih adalah tipe elit yang kalem, tidak suka keributan, tetapi sangat insecure soal nilai. Ia diam-diam mengagumi Kayana dan membenci siapa pun yang mengganggu Kayana. Ironisnya, ia harus bergantung pada Ruga. Ruga melihat ironi itu sebagai keuntungan.

Ruga menemui Galih di kantin, menawarkan paket joki eksklusif. Ia tahu Galih tidak bisa menolak tawarannya.

"Tugas Kimia lo, Galih," ujar Ruga, menyodorkan jawaban dengan perhitungan yang detail. "Lo harusnya nyewa guru privat yang bisa lo ajak diskusi, bukan cuma gue. Or... lo emang mau nyembunyiin kebodohan lo dari bokap lo, Pak Wira?" Ia sengaja menekan Galih dengan informasi yang ia ketahui.

Galih terlihat pucat. "Jaga omongan lo, Ruga! Gue bayar lo buat diam!" Ia merasa terancam dengan perkataan Ruga.

"Gue diam, asalkan lo juga gak ganggu gue," balas Ruga. "Atau... lo bisa bantu gue. Lo Donatur No. 2, lo tahu banyak hal di sini. Kayana Setiawan. Kenapa dia benci banget sama orang miskin?" Ruga mencoba memancing informasi dari Galih.

Galih, terpaksa, mulai terbuka. Ia menceritakan bagaimana Kayana begitu keras pada dirinya sendiri, dan bagaimana ibunya hancur karena Ayahnya selingkuh dengan guru kontrak, Mama Tiri, yang miskin dan licik. Ia menceritakan semua dengan nada yang pahit dan getir.

"Di mata Kaya, semua orang miskin itu jahat. Mereka cuma ngincer harta. Dan guru kontrak itu sekarang nikah sama bokapnya. Pangeran itu adik tirinya Kaya," jelas Galih, matanya melirik ke arah Kayana yang duduk jauh di pojok VIP kantin, makan dengan anggun. Ruga mengikuti arah pandangnya.

Ruga mengangguk. Sekarang ia mengerti alasan di balik kebencian Kayana yang begitu dalam. Itu adalah perisai trauma. Sial. Ternyata nggak sesederhana bully. Ia merasa sedikit iba pada Kayana, meskipun ia tidak menyukainya.

Sementara itu, Ruga terus membangun jaringannya. Ia membantu siswa-siswa lain yang kesulitan, bahkan di luar lingkaran elit. Berita tentang 'Jasa Joki Dewa Ruga' menyebar. Anak-anak yang terbantu oleh Ruga mulai diam-diam menghormatinya. Ruga merasa senang bisa membantu orang lain, meskipun dengan cara yang tidak konvensional.

Pagi hari ini, di pelajaran olahraga, kelas Ruga dan kelas Kaya digabung. Terlihat masih ada beberapa orang yang benci dengan Ruga. Menjahili dengan menusuk-nusuk pensil di punggung Ruga.

Stella dan Galih menatap horror. Ratu Es yang masih sibuk duduk di pinggir lapangan olahraga indoor itu hanya melipat tangannya mengawasi dengan tatapan tidak suka. 

"Sialan. Pegangin." Kaya melempar asal handphone nya dengan logo apple digigit keluaran terbaru dengan asal ke samping badan. Dengan sigap Stella mengambil lemparan itu dengan tangkapan lihai. Mencoba bergerak mengikuti kemana Kayana pergi.

Menghampiri si kumis. Kuman Miskin.

Hanya dengan tatapan diam, para siswa yang menjahili Ruga kompak berhenti. Laki-laki kurus tinggi itu seolah acuh, ia malah cuek membersihkan kacamata miliknya dengan baju kaos olahraga. 

"Sepertinya kalian. Satu sekolah. Perlu gue pertegas dan gue peringatkan." Kayana menatap satu lapangan tanpa ekspresi. Bahkan guru olahraga pun terdiam tidak berani menyela perkataan Kayanya. Donatur No.1 di sekolah ini.

"Ruga itu milik gue. Dia punya gue. Kalau kalian masih jailin dia lagi. Tau kan akibatnya apa?" Kayana mendelik ke arah dua orang anak politikus namun bahkan tidak masuk peringkat donasi 50 besar, yang barusan menjahili Ruga. Tatapan sinis, dingin, tajam, khas Kayana. Tatapan maut yang bisa membuat orang merinding hanya dengan melihatnya.

Semua terdiam. Hening. Bahkan Stella yang sahabat setia Kayana terhenti langkahnya. 

"Bilangin sama guru-guru yang lain. Kalau ada yang sampe bully Ruga lagi. Dia berurusan sama Kayana." Guru kontrak olahraga itu tidak membalas perkataan. Hanya mengangguk takut.

"Ikut gue."

Kayana menarik paksa lengan baju Ruga, menuju ruang klub pribadi milik Kayana di sekolah. Membuka pintu dengan bantingan keras kaki. Ia mempersilahkan pria itu duduk di sofa empuk.

"Lo suruh orang jangan bully gue? Lo lupa? Tadi pagi siapa yang masukin kecoa di tas gue." Ruga memberikan senyuman itu, senyuman yang malah membuat Kayana emosi. 

Smirk smile menyebalkan.

Kayana memandang acuh, ia sibuk untuk mengambil kotak P3K di dalam laci penyimpanan.

"Gue gak pernah main fisik. Ruga." Kayana menatap pria menyebalkan itu dengan tatapan datar.

"Kalau bola basket yang kemarin lo lempar? Apa bukan main fisik, Kaya?" Pria bernama asli Naruga itu mencoba memegang ujung rambut Kayana yang terurai di pipi, mencoba memasukkannya ke sela kuping. 

"Buka baju lo."

"Aih... Gue belum siap, Kayana." Ruga membuat ekspresi malu, mencoba menutup dadanya dengan kedua tangan.

"Mau diobatin. Atau lo gue tinggal?"

Ruga tersenyum lagi, senyum mengejek. "Buka sendiri. Berani?"

Kayana memberikan tatapan dingin tanpa ekspresi. Dengan kasar ia menarik kaos olahraga milik Ruga yang hanya terduduk pasrah, diam. Kayana melihat sekilas disana. Meskipun pria ini kurus, tetapi anehnya dadanya terlihat sedikit kekar, dengan sedikit beberapa ukiran otot di perut pria itu. 

Kayana menoleh panik, gadis itu bangun dari duduknya lalu dengan cepat melirik punggung Ruga yang terkena goresan pensil. Hanya sedikit lecet. Tidak parah. Kayana meneteskan asal obat merah, Ruga hanya terdiam. Masih tersenyum meledek.

"Debaran jantung lo sudah diatas 100 detak per menit, gue tebak hormon adrenalin dan dopamin lo meningkat. Karna liat dada gue barusan."

"Gue gak nafsu sama orang miskin."

Ruga memutar kepalanya ke arah belakang, melihat Kayana tertunduk. 

"Hasrat seksual bisa muncul tiba-tiba karena berbagai faktor seperti fluktuasi hormonal, stimulasi dari lingkungan (visual, suara, atau sentuhan). Dan lo lagi melakukan aktivitas yang mendukung itu semua, ke gue. Jadi... kalau lo mau kita bisa coba hal yang seru banget. Jauh lebih seru dari materi fisika kuantum dan sejarah sastra yang ada." Ruga memutar badan, menarik gadis itu ke arah sofa. Mencoba merengkuh gadis dengan julukan Ratu Es tanpa perasaan. 

Gadis itu mencoba memasang topeng stoic dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. Tatapannya meracau gelisah, membidik apa yang 'layak' untuk ditatap saat ini. 

Matanya? Hidungnya? Atau Bibirnya? Selain dada yang terekspos tentunya. 

Tangan pria jenius dengan jahil meraba leher Kayana. Membuat gadis itu terkaku diam. Memilin jari-jari iseng di area tengkuk. Ruga tahu hal ini akan jadi sumber masalah baru di kemudian hari, namun pria itu tidak peduli. Dengan perhitungan kalkulasi dan analisis, Ruga melihat sebuah tangan kanan melayang di ekor mata. Tangan mungil gadis berayun pelan, tetapi terlambat. 

Ruga dengan jahil mencium leher Kayana. Bau keringat orang kaya memang berbeda. Hanya wangi parfum bunga yang jika Ruga prediksi adalah bunga mawar, dengan sedikit campuran lily, sangat identik dengan brand parfum ternama yang mendunia.

Laki-laki itu terlompat dari sofa. Memakai kaos olahraganya asal. Kabur setelah membully balik Kayana yang diam mematung.

Beberapa hari berlalu. Permusuhan Ruga dan Kayana makin intens. Kayana mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan Ruga, tetapi Ruga selalu membalas dengan kecerdikan yang membuat Kayana gigit jari. Mereka seperti Tom dan Jerry, selalu bertengkar dan saling menjahili.

Kayana tahu Ruga adalah ancaman, bukan hanya bagi pride-nya, tetapi juga bagi ketenangannya. Ruga adalah cermin, selalu memantulkan kembali kerapuhan dan kelemahan Kayana. Ia tidak bisa mengendalikan Ruga, dan itu membuatnya frustasi.

Suatu hari, di papan mading, terpajang daftar Donatur 50 Teratas. Itu adalah papan kasta Melody, terbuat dari kuningan yang mengkilap, mencantumkan nama dan foto para penyumbang terbesar. Ruga melihat papan itu sebagai simbol ketidakadilan dan kesenjangan sosial.

Kayana Setiawan.

Galih Wira.

Pangeran Setiawan.

... dan seterusnya.

Ruga memperhatikan daftar itu. Kasta sosial di sini diukur dari besarnya sumbangan, bukan dari prestasi. Pangeran Setiawan, si koma, masih masuk di urutan ketiga. Itu menunjukkan betapa pentingnya keluarga Setiawan bagi SMA Melody.

Saat istirahat, Ruga sedang sendirian di koridor. Tiba-tiba, ia diserang oleh Bayu, siswa Donatur Peringkat 15. Bayu, yang otaknya seukuran kacang, merasa terganggu dengan keberanian Ruga. Bayu adalah tipe bully klasik, menggunakan kekerasan untuk menunjukkan kekuasaannya.

"Hei, anak mie ayam! Lo pikir lo keren di sini?" Bayu menendang tas Ruga hingga isinya berhamburan. "Lo gak pantes sekolah di sini. Balik ke got lo!" Ia tertawa mengejek.

Ruga menghela napas. Ia membungkuk, mengumpulkan buku-buku. 

'Sabar, Ruga. Jangan sampai emosi lo merusak rencana.' Ia mencoba menenangkan dirinya, menghitung sampai sepuluh dalam hati.

"Kalau lo punya masalah sama gue, Bayu, mending lo kasih PR yang susah. Jangan kayak anak kecil, nendang tas," balas Ruga, datar. Ia tidak ingin terpancing emosi.

Bayu makin menjadi-jadi. Ia mengambil buku Fisika Ruga, merobek beberapa halaman. "Lo pikir lo pinter? Lo cuma joki! Miskin tetap miskin!" Ia merasa berhak melakukan apa saja karena ia kaya.

Saat Ruga hampir kehilangan kesabaran dan siap membalas, sebuah keheningan menyelimuti koridor. Ruga merasakan hawa dingin yang familiar.

Kayana Setiawan datang. Wajahnya datar, dingin, dan tatapannya seperti laser yang siap membakar. Tetapi, Kayana tidak menatap Ruga. Ia menatap Bayu.

Bayu, yang takut pada Kayana, langsung menciut. "Kaya, gue cuma... ngasih pelajaran ke dia." Ia mencoba membela diri.

Kayana tidak menjawab. Ia berjalan santai ke arah Bayu, lalu ke mading Donatur. Tanpa ekspresi, ia mengeluarkan pisau lipat kecil dari tasnya-pisau kecil yang biasa dipakai untuk membuka surat penting-dan dengan gerakan brutal, ia mencungkil papan nama kuningan bertuliskan 'Bayu - Donatur No. 15' dari tempatnya. Semua orang di koridor terkejut.

Cring! Papan nama itu jatuh ke lantai. Suara itu memecah keheningan. Semua mata tertuju pada Kayana.

Kayana menatap Bayu, suaranya pelan tetapi menusuk. "Lo pikir sekolah ini punya lo? Bully orang miskin boleh, itu memang takdir mereka, harusnya mereka diam. Tapi bully orang yang gue target, itu artinya lo ngerusak mainan gue." Ia sengaja menekankan kata 'mainan'.

Bayu, terkejut dan malu, hanya bisa terdiam. Ia tidak berani menatap mata Kayana.

Kayana melempar papan nama itu ke kakinya. "Copot. Lo cuma Donatur No. 15. Papan nama lo nggak pantes ada di sini lagi. Next time, watch your back, Bayu." Ia mengancam Bayu dengan nada yang dingin dan menusuk.

Kayana berbalik, menyuruh Stella dan Fariz membawanya pergi. Ruga, yang masih memegang buku Fisika yang robek, menatap Kayana yang menjauh dengan tatapan tak percaya. Ia merasa bingung dan penasaran.

'Kenapa dia ngebela gue? Apa motifnya?'

Ruga tahu, itu bukan pembelaan. Itu adalah arogansi kepemilikan. Kayana tidak ingin ada orang lain yang berani menyentuh objek kebenciannya. Ia ingin Ruga tetap di sana, tetap menjadi sasaran kemarahannya. Tetapi, tindakan itu menciptakan lapisan perlindungan yang aneh bagi Ruga, sesuatu yang tak terduga. Ia merasa seperti pion dalam permainan catur yang rumit.

Ruga berjalan mendekati Kayana yang hendak masuk ke ruang klub pribadinya. Ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

"Jangan asal ngomong, lo gak bisa mainin gue, Kaya!" tanya Ruga, suaranya kini penuh tantangan. Ia tidak ingin menjadi boneka Kayana.

Kayana berhenti, tanpa menoleh. "Lo pikir lo bisa nantangin gue, Ruga? Lo tuh cuma bahan hiburan gue. Sekarang minggir."

Kayana melempar asal buku Fisika miliknya yang dikeluarkan dari dalam tas. "I'm bored with you." Ia meremehkan Ruga dengan nada yang dingin dan acuh tak acuh.

Pria itu menangkap dengan akurat buku Kayana, seperti buku fisika yang belum tersentuh sedikitpun. Bahkan buku yang barusan dilemparkan oleh Kayana masih berisi jejak-jejak lem di pinggir buku. Seperti buku baru.

Kayana masuk, menutup pintu. Meninggalkan Ruga dengan perasaan campur aduk. Ia adalah joki tugas yang jenius, tetapi Kayana adalah teka-teki yang jauh lebih rumit daripada fisika kuantum mana pun. Ruga tahu, ia harus lebih dekat, lebih dalam, untuk mengungkap apa yang sebenarnya Kayana sembunyikan di balik topeng Ratu Es-nya. Dan ia akan menggunakan satu-satunya cara yang ia punya: kecerdasannya, untuk membuat Kayana tunduk. Ia merasa tertantang untuk memecahkan teka-teki Kayana.

Ruga memungut buku Fisikanya yang robek. Ia menatap pintu ruang klub Kayana dengan tatapan yang penuh tekad. Pertarungan antara mereka. Siapa yang akan menang?

Bab 3

SMA Melody adalah museum kekayaan yang hidup, dan di tengah kemegahan itu, terdapat artefak paling penting: Papan Nama Kasta Donatur. Papan itu terbuat dari perunggu mengilap, terpasang kokoh di dinding marmer di samping aula utama, menampilkan peringkat nama-nama keluarga yang menjadi penyokong terbesar Yayasan. Ini adalah Daftar 50 Teratas, penentu hierarki, barometer kekuasaan yang sesungguhnya. Setiap nama terukir dengan huruf kapital yang tegas, seolah berteriak tentang hak istimewa dan pengaruh yang tak terbantahkan.

Naruga Indra menghabiskan waktu istirahatnya untuk menganalisis papan nama itu. Ia berdiri agak jauh, pura-pura membaca pengumuman ekstrakurikuler, padahal matanya sibuk memetakan kekuatan musuhnya. Ia merasa seperti seorang jenderal yang mempelajari peta medan perang sebelum terjun ke dalam pertempuran.

"Kayana Setiawan. Nomor satu," gumam Ruga dalam hati. Kayana bukan hanya anak donatur, ia adalah pewaris tunggal yayasan. Itu memberinya kekuasaan absolut, di atas kepala sekolah sekalipun. Ia membayangkan Kayana sebagai seorang ratu yang duduk di atas takhta es, memerintah dengan dingin dan tanpa ampun.

Ruga sudah mulai menjual jasa joki dan bimbingan belajarnya secara sembunyi-sembunyi, membangun jaringan loyalitas yang terdiri dari para siswa elit yang bodoh namun haus nilai. Klien-klien ini menjadi sumber informasinya, seperti akar yang menyerap nutrisi busuk dari tanah. Ia merasa jijik dengan sistem ini, tetapi ia tahu bahwa ia harus memanfaatkannya untuk bertahan hidup.

"Hei, Naruga!"

Sebuah suara memotong lamunannya. Galih Wira, Donatur No. 2, putra Kepala Sekolah, mendekat. Galih adalah tipe yang memakai kepintaran Ruga sebagai bantal tidur agar ayahnya tidak mengamuk. Wajahnya selalu terlihat khawatir. Ia merasa tertekan oleh ekspektasi ayahnya dan ketidakmampuannya sendiri.

"Gue butuh bantuan lo lagi," bisik Galih, matanya melirik ke sekeliling, takut ada yang melihatnya berbicara dengan Ruga. "Kimia gue anjlok. Bokap gue bisa bunuh gue. Lo harus joki ulangan harian gue besok." Ia memohon dengan nada putus asa.

Ruga menyeringai tipis. "Gue butuh info. Tentang Pangeran Setiawan. Kenapa nama dia masih ada di peringkat tiga padahal dia koma?" Ia mengajukan syarat yang tegas. Ia tidak akan membantu Galih tanpa mendapatkan sesuatu sebagai imbalan.

Galih bergidik. "Ssst! Jangan sebut-sebut dia! Itu topik sensitif. Bokap gue, Pak Wira, itu yang paling keras nutupin kasusnya. Pokoknya, Pangeran itu anak kesayangan Papa Kayana. Meskipun dia anak diluar nikah, dia dianggap penerus utama. Makanya Kayana benci dia, dan terutama benci Mama Tiri. Kayana merasa warisan ibunya direbut." Ia menceritakan semua itu dengan nada ketakutan dan kehati-hatian.

Ruga mencatat mental-mental informasi itu. Jadi, konflik di keluarga Setiawan ini bukan sekadar uang, tetapi perebutan pride dan trauma. Kayana, si Ratu Es, adalah korban di tengah perebutan warisan. Ia merasa sedikit iba pada Kayana, meskipun ia tetap tidak menyukainya.

"Dan Kayana," lanjut Galih, merendahkan suara, "dia benci lo banget, Ruga. Karena lo ngingetin dia sama Mama Tiri dan semua kepalsuan di hidupnya. Lo itu kayak cermin yang nunjukin semua kebusukan orang miskin di mata dia. Tapi... dia juga takut sama lo."

"Takut kenapa?" tanya Ruga, penasaran.

"Karena lo jenius. Kayana dipaksa bokapnya buat sempurna. Nilainya harus perfect. Tapi dia lemah di mata pelajaran eksak, terutama Sejarah dan Filsafat. Lo lihat Fariz, temen deketnya? Itu Fariz sering joki ke lo, kan? Kayana pasti tahu lo adalah jalan tercepat dia buat 'sempurna'. Itu yang bikin dia benci sekaligus tertekan." Ia menjelaskan dengan nada yang jujur dan terbuka.

Ruga kini mengerti. Kebencian Kayana adalah campuran antara trauma, kecemburuan, dan kebutuhan tersembunyi. Ruga adalah drug yang Kayana butuhkan, dan dia benci mengakui dirinya pecandu. Ia merasa kasihan dan jijik pada Kayana pada saat yang bersamaan.

"Oke, deal," Ruga akhirnya menyetujui. "Gue akan urusin Kimia lo. Sebagai gantinya, lo harus standby buat kasih gue informasi tentang pergerakan Kayana di Yayasan. Jangan sampai lo jadi informan yang bodoh."

Galih mengangguk cepat. "Siap, Ruga! Pokoknya asal gue lulus, gue nurut!" Ia merasa lega bisa mendapatkan bantuan Ruga.

Ruga telah menanamkan akarnya. Ia kini bukan hanya siswa beasiswa, ia adalah shadow power di balik Donatur No. 2. Ia merasa seperti dalang yang menarik tali boneka.

Konflik kian memanas. Kabar tentang keberanian Ruga membalas bullying Kayana dengan sindiran tajam dan kemampuan intelektualnya menyebar seperti api. Hal ini membuat beberapa siswa elit merasa terancam, terutama mereka yang beranggapan bahwa uang harusnya membeli superioritas. Mereka merasa bahwa Ruga telah melanggar aturan yang tidak tertulis.

Salah satunya adalah Bayu, Donatur No. 15, yang papan nama nya dicabut Kayana. Bayu merasa gengsinya jatuh, dan ia menyalahkan Ruga. Ia harus membalas dendam untuk mendapatkan kembali pride-nya di mata teman-temannya. Ia merasa dipermalukan di depan umum.

Bayu menyergap Ruga di koridor menuju kantin. Ia tidak sendirian. Ada dua temannya, sama-sama berotak kosong dan berdompet tebal, mengapitnya. Mereka terlihat seperti bodyguard yang siap melakukan apa saja untuk melindungi kepentingan Bayu.

"Woi, anak ruko! Mau ke mana lo? Mau ngumpulin remah-remah sisa makanan elit, hah?" cibir Bayu, nada suaranya dibuat keras agar didengar oleh semua siswa di kantin. Ia ingin mempermalukan Ruga di depan umum.

Ruga berhenti. Ia tidak menunjukkan emosi, tetapi matanya memancarkan rasa jijik. Ia membawa buku catatan kecil, selalu siap mencatat ide atau rumus. Ia merasa muak dengan kesombongan dan kebodohan Bayu.

"Gue mau ke kantin, Bayu. Lo mau ikut? Mungkin otak lo butuh nutrisi. Sayang, di kantin sini nggak jual vitamin IQ," balas Ruga, datar. Ia membalas hinaan Bayu dengan sindiran yang tajam.

Bayu marah. Ia mendorong Ruga hingga punggungnya membentur dinding koridor. "Anjing! Lo pikir lo lucu?! Cuma karena lo beasiswa, lo pikir lo bisa ngomong seenaknya sama Donatur?!" Ia merasa harga dirinya terluka.

Ruga merapikan kacamatanya, tidak gentar. "Gue nggak beasiswa, Bayu. Gue dibayar. Untuk tutup mulut suatu kasus. Gue worth lebih mahal daripada total sumbangan lo tahun ini. Jadi, mending lo minggir. Lo menghalangi jalan orang jenius." Ia membalas dengan nada yang tenang namun tegas.

Bayu, yang kehilangan kesabaran, mengangkat tangannya, siap melayangkan tinju ke wajah Ruga. Ini adalah titik di mana Ruga harus membalas dengan kekerasan, sesuatu yang ia hindari. Ia tidak ingin terlibat dalam perkelahian fisik.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berdentum keras di koridor. Kayana Setyawan. Kayana muncul dari balik tikungan, berjalan dengan langkah anggun namun tergesa, diikuti Stella dan Fariz. Ia baru saja keluar dari sesi privatnya bersama guru les Bahasa Prancis. Ia merasa terganggu dengan keributan itu.

Kayana berhenti. Ia melihat Bayu, tinjunya terangkat, siap menyerang Ruga yang dipojokkan. Ia merasa muak dengan kekerasan dan kebodohan Bayu.

Sejenak, Ruga berpikir Kayana akan tertawa dan membiarkannya dipukul. Itu adalah skenario yang paling logis. Kayana membenci Ruga.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan.

Kayana tidak tertawa. Kayana menatap Bayu dengan mata dingin yang sama, mata yang dulu ia gunakan saat mencabut papan nama Bayu. Tatapan yang membuat Bayu, si Donatur No. 15, langsung kaku di tempat. Ia merasa gentar di bawah tatapan Kayana yang tajam.

"Bayu," suara Kayana menguar, pelan, tetapi setiap suku katanya mengandung ancaman yang fatal. "Lo udah gue peringatin." Ia mengingatkan Bayu tentang konsekuensi dari tindakannya.

Bayu menurunkan tangannya, wajahnya panik. "K-Kaya. Ini, gue cuma-" Ia mencoba membela diri, tetapi suaranya bergetar.

"Lo cuma mau pegang sesuatu yang udah jadi milik gue," potong Kayana, tatapannya beralih ke Ruga, seolah Ruga adalah barang berharga yang ia temukan di tempat sampah. Ia merasa marah dengan keberanian Bayu untuk menyentuh miliknya.

Kayana melangkah maju, melewati Bayu, hingga ia berdiri di antara Bayu dan Ruga. Ia melakukan hal yang sama sekali tak terduga: ia menyentuh lengan Ruga. Hanya sentuhan singkat diatas pangkal tangan, tetapi sarat makna. 

"Ruga adalah mainan gue, Bayu," ujar Kayana, suaranya kini ditujukan kepada semua orang yang mendengarkan di kantin. "Gue yang harusnya bully dia. Gue yang berhak menyentuhnya. Gue yang berhak menghinanya. Lo nggak punya izin. Lo cuma Donatur No. 15. Lo itu kecil. Lo gak bisa ikut campur di urusan personal gue."

Kayana benar-benar menggunakan Ruga sebagai objek yang ia miliki, yang hanya boleh disentuh olehnya. Ini bukan pembelaan tulus, ini adalah Arogansi Kepemilikan.

Kayana kemudian menatap Ruga, lalu kembali menatap Bayu, memberikan pandangan yang mematikan.

"Gue udah bilang, lo nggak pantes ada di daftar Donatur. Lo merusak citra sekolah ini. Dan lo ngerusak barang milik gue. Stella, panggil Wira. Gue mau Ayah lo nyabut semua jatah Donasi keluarga Bayu. Bilang ke Ayah, Bayu sudah crossing the line."

Bayu seketika pucat pasi. Donasi adalah nafas bisnis keluarganya. "Kaya! Jangan! Gue mohon!"

"Keluar. Dari sekolah ini. Sekarang juga," perintah Kayana.

Bayu dan kedua temannya, ketakutan, lari terbirit-birit. Mereka tahu ancaman Kayana bukanlah gertakan. Kekuatan Donatur No. 1 adalah nyata dan brutal.

Kayana berbalik menghadap Ruga, wajahnya kembali datar. Sentuhan di lengan Ruga sudah hilang.

"Jangan diam kalau di bully. Lawan." tatap Kayana, dingin.

"Maksud lo? Gue boleh ngelawan kalau lo bully? Begitu, Kaya?"

Kayana hanya diam, dirinya berangsur melangkah maju perlahan, membuat Ruga mundur teratur kebelakang. Keringat di pelipis wajahnya tidak bisa membohongi, Ruga, menatap mata seduktif penuh kebencian dari perempuan yang bahkan tingginya tidak melewati ambang batas dadanya. Perempuan ini, diam, menatap marah, tidak melakukan hal apapun. Namun sekujur badan Ruga merinding.

"Kenapa masih kepikiran mau lawan gue? Lo milik gue Naruga Indra. Cuma gue. Yang boleh. Bully lo." Kaya memberikan penekanan pada perkataan. Tangannya yang mungil tanpa permisi memegang pipi pria berkacamata di depannya. Mengelus sambil menatap wajah itu sambil berjinjit. Mempersingkat jarak yang absolut.

Ruga terhimpit menyandarkan punggungnya di dinding, sedikit terkejut dengan kecepatan dan ketegasan Kayana dalam menghancurkan lawan. Ia tahu ini bukan tentang dia, ini tentang Kayana.

"Lo... possessive banget, Kaya. Gue cuma kemeja putih lo. Lo nggak mau ada noda yang bukan dari lo, gitu?" sindir Ruga.

Kayana mendengus. "Lo benar. Lo kemeja putih yang gue benci. Tapi lo hanya kemeja gue. Nggak ada yang boleh nyentuh milik gue tanpa izin. Apalagi Donatur No. 15 yang murahan. Lo akan tetap di sini, menjadi yang paling miskin dan paling jenius. Lo akan jadi bukti bahwa gue bisa melakukan apa pun di sekolah ini, bahkan memiliki lo si miskin cerdas."

"Lantas, kalau lo sudah millikin gue, lo mau apa? Pakai gue untuk bahan bully lo? Atau mau gue memuaskan hasrat seksual lo? Tujuan lo gak berdasar, Kayana." Kalimat itu penuh penekanan, namun tetap dalam volume yang masih terkontrol.

"Buang pikiran kotor lo, Ruga. Gue masih suci! Gue gak akan membuat lo untuk memuaskan gue. Gue cuma... Lo milik gue, lo barang gue, lo mainan gue. Lo harus nurutin semua perkataan gue. Lo gak bisa ngebantah gue. Ngerti!" Kalimat marah Kayana disertai nada yang sedikit bergetar. 

Ruga menyipitkan mata. Ia melihat kelelahan di mata Kayana. Keangkuhan ini terlalu besar untuk ditopang sendirian. Kayana pasti sangat lelah.

"Lo tahu, Kaya," ujar Ruga, nadanya sedikit melunak, meskipun tetap menantang. "Gue nggak tahu seberapa lo benci gue, tapi lo baru aja nyelametin gue dari hantaman tinju. Apapun alasannya, gue hargai. Tapi dengerin baik-baik: gue bukan milik lo dan gak akan pernah jadi milik lo.

Gue punya pride sendiri. Dan pride gue bilang, gue akan joki otak lo sampai lo lulus, baru gue putusin lo akan gue jadikan apa."

Kayana terdiam, terkejut dengan ucapan Ruga yang membalikkan keadaan. Ia merasa seolah Ruga baru saja menciumnya, tanpa ada kontak fisik. Klaim Ruga membuatnya syok.

"Lo ngimpi!" Kayana berteriak mundur, menjauh kembali pada pertahanannya.

"Mungkin," Ruga tersenyum licik. "Tapi lo yang butuh gue, Kaya. Lo butuh guru les yang bisa baca pikiran lo, yang bisa ngajarin lo Sejarah tanpa lo jadiin bahan bully. Dan gue tahu, nilai lo di Sejarah semester ini anjlok parah. Bokap lo pasti bakal ngamuk. Lo gak mau itu terjadi, kan?"

Ruga telah memukul titik lemahnya. Kayana membenci kegagalan, dan Ayahnya membenci nilainya yang tidak sempurna.

"Kenapa lo yakin kalau gue butuh lo untuk memperbaiki nilai gue?"

"Kaya, gue itu cuma miskin. Tapi gue anak terpintar di sekolah ini. Dan cuma gue yang tau, ada nilai lo yang hancur parah. Dan lo udah berusaha nutupin itu bukan? Gue cuma mau bantu lo, sama seperti gue bantu anak yang lain." 

Kayana menatap Ruga, ia melihat kejujuran di mata Ruga yang bersembunyi di balik kacamata. Sial. Dia benar. Ia butuh seseorang untuk menutupi kelemahannya.

"Memang. Gue butuh lo," Kayana akhirnya mengakui, suaranya sangat pelan. Ini adalah pengakuan yang menyakitkan. "Tapi jangan harap gue mau belajar di tempat kotor kayak ruko lo."

"Gue nggak akan minta lo ke ruko kotor gue," balas Ruga cepat. Ia melihat peluang besar di sini. "Gue akan datang ke tempat lo. Tapi it's not a free service. Lo harus bayar gue. Bukan pakai uang, tapi pakai waktu lo, dan lo harus nurut. Lo harus terbuka. No more bullying, only studying. Kalo lo coba bully gue saat gue ngajar lo, gue akan bocorin semua kelemahan lo terutama ke Mama Tiri lo dan Ayah lo."

Kayana menimbang-nimbang. Ancaman Ruga efektif. Jika Ruga membocorkan kelemahannya, Ayahnya akan mencabut semua fasilitasnya. 

"Satu jam setelah pulang sekolah. Di perpustakaan utama," putus Kayana, memberikan lokasi yang paling aman dan formal.

"Bagus," Ruga tersenyum penuh kemenangan. Ia baru saja mendapatkan akses ke Kayana Satiawan, si Ratu Es yang mustahil ditembus. Naruga Indra, si jenius miskin, resmi masuk ke benteng es Kayana.

Di perpustakaan utama, yang tampak seperti ruang baca universitas elit, Ruga dan Kayana duduk di meja yang terpisah jauh dari siswa lain.

Kayana membawa buku Sejarah yang bersih, tanpa coretan. Ruga membawa buku catatan lusuh dan pena murahan. Kontras yang mencolok.

"Gue nggak butuh lo ngajarin gue kayak guru TK. Gue udah baca semua ini," ujar Kayana angkuh, menunjuk bab tentang Perang Dingin.

Ruga hanya tertawa kecil. "Lo baca, tapi lo nggak ngerti. Lo nggak bisa menghubungkan kejadian satu sama lain. Lo cuma hafal. Itulah kenapa nilai lo jeblok, Kayana. Otak lo terlalu sibuk mikirin siapa yang mau lo bully dan siapa yang mau lo singkirin, sampai lo lupa fungsi utama otak: menganalisis."

Kayana terdiam. Lagi-lagi, Ruga benar. Ia tidak bisa menganalisis, ia hanya bisa menghafal. Dan Ayahnya menuntut analisis yang mendalam.

Ruga mulai mengajar. Ia tidak menggunakan metode guru formal. Ia menggunakan analogi.

"Perang Dingin itu kayak hubungan lo sama bokap lo," jelas Ruga, matanya menatap Kayana lurus-lurus. "Ketegangan ada. Konflik ada. Tapi nggak ada yang mau perang terbuka. Lo selalu takut sama Ayah lo, kan? Tapi lo nggak berani bilang. Lo cuma simpen ketegangan itu, sampai lo meledak dalam bentuk bullying ke orang lain."

Kayana terkejut. Ruga tidak hanya mengajar Sejarah, ia sedang mengajar Kayana tentang dirinya sendiri.

"Lo ngaco!" seru Kayana, hampir berteriak.

"Gue nggak ngaco. Gue menganalisis," balas Ruga, kalem. "Sejarah bukan cuma tanggal dan nama, Kayana. Sejarah adalah pola pikir. Lo benci Ayah lo, tapi lo melakukan segala cara buat dia bangga, sama kayak Uni Soviet dan Amerika yang saling bunding di belakang layar. Lo terlalu kaku, Kaya. Lo takut salah. Lo takut gagal. Lo takut dianggap lemah. Dan itulah yang bikin lo nggak bisa lulus mata pelajaran ini."

Kayana merasa dadanya sesak. Ruga telah membuka luka lamanya, luka trauma dan kebutuhan akan validasi. Ia menunduk, tidak bisa lagi menatap mata Ruga.

"Gue... gue nggak butuh lo jadi psikolog gue. Lo cuma joki!"

"Gue joki otak lo. Dan otak lo lagi sakit sayang," Ruga berbisik, nadanya kini penuh empati yang aneh. 

"Dengerin gue. Lo nggak bodoh. Lo cuma tertekan. Lepasin pride lo sebentar. Lo nggak perlu sempurna. Lo cuma perlu jujur sama otak lo."

Selama satu jam, Kayana mendengarkan. Ia menyimak Ruga, si joki miskin, yang kini terasa seperti satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya. Di akhir sesi, Kayana merasa otaknya lebih ringan.

Ruga membereskan bukunya. "Udah selesai. Besok kita lanjut. Gue mau lo jujur sama gue. Tentang Pangeran Setiawan. Kenapa name tag lo ada di TKP?"

Kayana mendongak. Wajahnya pucat. Ruga telah menemukan celah terbesarnya.

"Gue nggak tahu lo ngomongin apa!" Kayana menyangkal, tetapi suaranya bergetar.

"Jangan bohong, Kaya. Gue tahu lo terlibat. Lo takut sama Ayah lo. Lo takut Mama Tiri. Dan Pangeran itu ancaman terbesar lo, kan? Kalau lo mau gue bantu lo, lo harus jujur. Gue cuma percaya otak gue. Dan otak gue bilang, lo bukan pelakunya, lo memang pembully, tapi lo pasti gak sejahat itu." Ruga menatapnya tajam.

Kayana menahan napas. Rasa takutnya lebih besar daripada pride-nya saat ini. Ia menutup buku, perlahan.

"Gue... gue harus balik. Nanti malem gue telepon lo," ujar Kayana, suaranya hampir tidak terdengar. Ia melarikan diri, meninggalkan Ruga di perpustakaan.

Ruga hanya tersenyum dingin. Ia tahu Kayana akan menghubunginya. Ia sudah menanamkan bom waktu di dalam pertahanan Kayana.

Sebelum Ruga keluar dari perpustakaan, ia menggunakan keahliannya. Saat Kayana pergi, Kayana meninggalkan tablet mahalnya di meja. Ruga mengambil tablet itu, menggeser layar, dan dalam waktu kurang dari satu menit, ia berhasil menembus password Kayana.

Ruga mencari file tersembunyi. Dan ia menemukannya: folder berjudul 'WARISAN BUNDA'. Di dalamnya, ada salinan dokumen hukum yang rumit, surat-surat dari rumah sakit jiwa (RSJ) Ibu Kayana, dan yang paling mengejutkan, beberapa foto buram yang diambil dari kamera pengawas.

Di foto itu, beberapa jam sebelum insiden Pangeran, Kayana dan Pangeran Setiawan terlihat sedang bicara serius di area rooftop. Pangeran terlihat panik, Kayana terlihat marah. Dan di foto lain, Kayana terlihat panik, tetapi Pangeran yang memegang name tag Kayana.

Pangeran yang pegang name tag Kayana. Kenapa?

Ruga menyimpan semua data itu. Ia mengembalikan tablet ke tempatnya, merapikan mejanya, dan keluar dari perpustakaan.

***

Ruga baru saja akan tidur, setelah mandi dan bersiap memenuhi tugas jokinya dari beberapa klien, matanya dikejutkan oleh notifikasi pesan.

*+62852-xxxx-xxx*

Halo selamat malam. 

Ini nomor Ruga? 

Perkenalkan saya Kayana. 

Tolong di save. Trims.

Smirk Ruga menyembul. Diantara banyak pria yang ingin mendapatkan nomor sang 'Putri Salju' alias Ratu Es ini, Ruga adalah salah satu yang diberikan nomor personalnya secara suka rela. Apalagi Galih, teman Kayana yang sepertinya punya niat terselubung terhadap Kayana, Ruga sangat tidak menyukai pria itu. Walaupun tentu saja Kayana menghubunginya untuk urusan 'Joki Les Privat'.

*Ruga*

Yes Baby, I'm your prince Ruga. 

Jangan terlalu formal.

*Kayana*

Huek.

*Ruga*

emot cium

Kayana membanting handphonenya ke kasur. 'Dasar orang gila.' Innernya membatin.

Kayana Setiawan bukan hanya musuh yang rapuh. Dia adalah kunci untuk mengungkap konspirasi besar di Yayasan Melody, konspirasi yang melibatkan Kepala Sekolah Wira dan Ayah Kayana. Naruga Indra, si jenius miskin, kini memiliki semua kartu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED