15 menit kemudian, Alex dan Bella keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelit tubuh mereka masing masing.
Alex melangkah sambil menggendong tubuh Bella menuju ranjang. Ia lalu menurunkan tubuh itu di-sana.
Beberapa menit di kamar mandi tadi mereka hanya benar benar mandi tanpa melakukan aktivitas panas di dalam sana, Alex tidak tega harus menggempur tubuh Bella.
Mengingat semalam ia sudah menguras semua tenaga Bella sehingga ia memutuskan untuk menahan hasratnya untuk pagi ini, tapi tidak dengan malam nanti, karena ia akan meminta jatahnya saat itu.
Bella tersenyum mendapatkan perlakuan manis seperti ini setiap harinya, delapan tahun tinggal bersama pria matang tersebut membuatnya begitu diperlakukan bak ratu di rumah pria tersebut. Ia begitu dimanja oleh Alex.
Alex bahkan selalu menuruti perkataannya jika menurut pria itu masih di batas wajar. Hanya saja ia masih bingung sampai detik ini kenapa cinta pria itu begitu besar tapi tak membuatnya kunjung menikahi dirinya.
"Kamu tunggu di sini, Daddy mau ambil-in baju buat kamu." Ucap Alex sambil berjalan ke lemari pakaian berukuran besar tersebut.
Lemari dengan bahan klasik modern itu sangat terlihat begitu mewah.
"Hmm makasih Dad." Ucap Bella tersenyum.
Alex menoleh sebentar sambil tersenyum, lalu kemudian ia beralih ke pakaian yang tersusun rapi disana.
"Oh iya tadi Daddy belum jawab pertanyaan aku, sebenarnya kita mau kemana sih Dad?" Tanya Bella sambil menyadarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Kejutan sayang, Daddy ngga akan kasih tau kamu sebelum sampai di tempat yang akan jadi kejutan buat kamu." Ucap Alex sambil meraih sepasang pakaian untuknya dan juga Bella.
"Ish nggak asik banget deh, aku udah terlanjur penasaran banget Dad." Ucapnya dengan bibir terlihat manyun ke-depan.
Hal itu membuat Bella terlihat lucu dimata Alex. Alex lalu beranjak dari depan lemari melangkah mendekati Bella di atas kasur.
"Ayo pakai baju kamu, setelah itu kita sarapan dulu baru pergi." Ucapnya.
Bella membiarkan Alex memakaikan baju untuknya, terlihat layaknya anak kecil berumur lima tahun yang harus dipakaikan pakaian oleh orangtuanya.
Alex tersenyum melihat wajah Bella yang terlihat pasrah saat dipakaikan pakaian.
"Kamu akhir akhir ini kenapa manja banget sih, Hmm?" Ucap Alex saat sudah memakaikan pakaian pada tubuh Bella.
Bella menaikkan bahunya tidak mengerti. "Aku juga ngga tau kenapa akhir akhir ini aku suka banget manja sama Daddy." Ucap Bella.
"Nggak pa-pa malahan Daddy suka kalau kamu tambah manja sama Daddy." Ucap Alex sambil mengecup pipi Bella.
"Tapi Dad aku pernah dengar dari orang orang kalau biasanya wanita yang tiba tiba manja kayak gini tuh biasanya karena pengaruh hormon kehamilan." Ucap Bella.
"Maksudnya?" Pergerakan tangan Alex pun terhenti saat mendengar penuturan Bella. Ia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud perkataan Bella barusan.
"Hmm aku pernah dengar dari pengalaman orang yang udah pernah hamil kalau tiba tiba perempuan itu manja sama seseorang itu bisa jadi dia hamil Dad." Ucap Bella dengan wajah terlihat senang.
"Hamil?"
"Iya, dan mungkin aja bisa jadi aku hamil Dad mengingat kita udah dua beberapa bulan ini lakuin itu bahkan Daddy nggak pake pengamanan sama sekali kan." Ucap Bella yang langsung membuat raut wajah pria tersebut terlihat dingin. Raut wajah yang baru pertama kali Bella lihat.
"Itu nggak mungkin, selama beberapa bulan ini Daddy selalu buang luar dan itu nggak mungkin terjadi." Ucapnya dengan nada terdengar tidak suka.
Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah Bella seketika sirna saat mendengar ucapan Alex, ucapan pria itu seakan akan tidak ingin dirinya hamil.
"Ya bisa aja kan Dad, siapa yang nggak tau mungkin aja itu bisa terjadi tanpa kita sadari." Ucap Bella lagi.
"Ng-nggak, itu nggak mungkin." Ucap Alex sambil menggeleng kepalanya cepat.
"Daddy kenapa sih kayak nggak suka banget kalau aku hamil, lagian wajar aku hamil karena kita udah mutusin buat lakuin hubungan ini kan." Ucap Bella.
"Ya tapi nggak sekarang juga Bel, kamu tau kan hubungan kita belum diketahui papa sama mama? Dan Daddy ngga mau nambah masalah baru lagi dengan kehamilan yang kamu bilang tadi."
"Daddy berlebihan, lagian Bella juga cuman nebak nebak aja dan belum tentu juga kan kalau Bella hamil." Ucap Bella dengan mencoba tersenyum.
Padahal dalam hatinya sedikit merasa sakit karena ucapan Daddy-nya yang jelas jelas tidak ingin dirinya hamil.
Padahal dengan hadirnya sebuah anak bisa saja membuat pria itu tidak berniat meninggalkan dirinya, ya walaupun Alex pernah mengatakan padanya jika ia tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi tetap saja Bella masih begitu merasa khawatir mengingat pria itu banyak sekali dikejar kejar oleh wanita wanita diluar sana.
"Sudah jangan bahas itu lagi, ayo cepat siap siap kita akan berangkat." Ucap Alex lalu berjalan ke walk in closet untuk berganti pakaian. Bahkan pria itu tidak berganti pakaian didepannya lagi hanya karena ucapannya tadi.
Bella tersenyum kecut melihat punggung kekar itu berlalu masuk kedalam ruangan tersebut.
"Semoga perasaan aku ngga benar kalau Daddy ngga mau anak dari aku, mungkin emang benar kalau hubungan ini belum saatnya punya anak." Batin Bella.
Bella lalu beranjak ke meja rias, memoles wajahnya dengan makeup natural yang terlihat segar.
Sementara Alex termenung sebentar didalam walk in closet, "maaf bukannya Daddy ngga pengen kamu hamil tapi Daddy hanya butuh waktu yang tepat untuk hal itu, Daddy pengen orang tua Daddy tahu terlebih dahulu hubungan kita." Batinnya merasa bersalah.
Beberapa menit kemudian Alex sudah selesai memakai pakaiannya, ia lalu melangkah keluar. Saat sudah di kamar ia tidak mendapati Bella di ruang itu. Keningnya mengerut bingung.
"Dia kemana?" Batinnya, "Bella!" Teriak Alex memanggil Bella. Ia lalu melangkah kearah balkon tapi tak mendapati sosok wanita itu.
"Sayang kamu di mana?" Teriaknya lagi sambil melangkah keluar kamar.
Ia berlari pelan menuju ruang tamu. Saat di-sana ia berpapasan dengan bibi yang kebetulan akan memanggil pria itu untuk segera makan.
"Bi, bibi lihat Bella nggak?"
"Itu Bella nya udah di ruang makan pak, baru beberapa menit yang lalu turun." Ucap bibi Sania.
"Oh ya udah," ucap Alex segera melangkah keruang makan.
Bella menyuapkan makanan kedalam mulutnya dengan wajah yang tidak terlihat semangat.
Alex yang memasuki ruang makan itu, menatap Bella sambil menghela nafasnya pelan. Ia lalu melangkah mendekati wanita cantik yang ia cintai.
"Sayang, kenapa nggak nungguin Daddy? Daddy nyariin kamu loh diatas." Ucap Alex sambil memberikan kecupan pada puncak kepala Bella.
Bella yang sedikit tersentak karena Alex yang tiba tiba sudah berada di belakangnya dan mengecupnya. Ia lalu tersenyum manis yang senyuman itu adalah senyuman dipaksakan.
"Abisnya Daddy lama jadi Bella turun duluan, udah lapar soalnya." Ucapnya tersenyum.
"Lain kali harus nunggu Daddy biar kita makan sama-sama." Ucapnya tersenyum mengelus pipi Bella sebentar kemudian menarik satu kursi di-samping Bella.
Bella mengangguk mengiyakan ucapan Alex. "Iya Dad." Ucapnya.
Keduanya pun melanjutkan makan mereka kali ini suasana terasa hening antara keduanya karena sama sama diam dan hanya fokus pada makanan mereka. Dan hal ini tidak seperti biasanya.
Jika makan seperti ini mereka akan terlibat pembicaraan ringan. Tapi kali ini tidak karena soal kehamilan tadi.
***
Mobil yang yang dikendarai Alex sudah tiba di sebuah bangunan yang begitu besar dan terlihat mewah, tempat dimana orang-orang tertentu yang menempati bangunan tersebut.
Alex memarkirkan mobilnya di loby apartemen mewah tersebut. Ia melirik sekilas kearah Bella yang terlihat dengan wajah bertanya tanya, ia mengulas senyum tipis melihat wanita itu.
"Ayo turun, kamu harus lihat lihat dulu." Ucap Alex membuyarkan lamunan Bella.
"Sayang tapi in-ini apa? Kenapa kita malah ke sini? Bukannya tadi Daddy ngomong kalau ada kejutan buat aku?" Segala pertanyaan itu ia lontarkan kearah pria matang tersebut.
"Udah kamu turun dulu nanti Daddy jelaskan sama kamu." Ucap Alex tersenyum mengusap kepala Bella.
Bella akhirnya mengikuti saja apa yang Alex katakan, ia lalu turun dari mobil itu dengan mata yang terus melihat kearah bangunan tersebut dengan decak kagum.
Alex pun ikut turun lalu menghampiri Bella didepan sana. Ia berjalan mendekati Bella lalu merengkuh pinggang Bella dengan posesif.
"Ayo kita keatas." Ucap Alex.
Bella menatap Alex dengan tersenyum, walaupun ia belum mengerti dengan maksud semua ini.
"Iya Dad." Ucap Bella.
Keduanya pun melangkah masuk kedalam bangunan apartemen mewah tersebut.
Saat sudah berada di unit apartemen yang akan menjadi hadiah untuk Bella nanti, tiba tiba Bella menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Alex mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa?"
"Dad, jangan bilang Daddy mau main itu, di sini?" Ucap Bella yang berpikir Alex ingin mengajak nya main kuda-kudaan di apartemen.
Pletak!
"Aow, sakit Dad." Keluh Bella dengan wajah kesal karena Alex tiba tiba menyentil dahinya.
"Ya abisnya pikiran kamu selalu negatif sama Daddy." Ucap Alex.
"Ya terus kita mau ngapain Dad, ah dari tadi buat Bella penasaran terus ih." Sebalnya sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Udah, ayo masuk kamu harus lihat isinya di dalam sana." Ia lalu memencet pas kode apartemen itu.
Saat melangkah kedalam Bella makin dibuat semakin takjub dengan isinya, begitu terlihat mewah dengan tema klasik modern.
"Dad astaga ini, ini bagus banget." Ia lalu menoleh kearah Alex sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Alex tersenyum. "Gimana, kamu suka?" Tanya alex.
"Ini buat siapa Dad?" Tanya Bella.
"Ini buat kamu. Yang Daddy maksud adalah kejutan buat kamu ya ini." Kata Alex.
"Ap-apa, yang benar Dad? Kenapa tiba tiba?" Ucap Bella.
"Memangnya buat kejutan harus ada waktunya? Daddy ingin kamu punya satu apartemen buat kamu kalau lagi pengen nenangin diri." Ucapnya.
"Aaa makasih Dad." Ucap Bella lalu memeluk tubuh Alex.
"Sama-sama sayang, gimana suka nggak sama Hadianya?"
"Hum suka banget." Ucapnya sambil membenamkan wajahnya di dada Alex.
"Syukurlah kalau kamu suka, Daddy jadi nggak sia sia buat nyari apartemen ini buat kamu." Kata Alex sambil mengecup kepala Bella.
"Sweet banget sih Dad," ucap Bella lalu melepaskan pelukannya, ia meraih kedua rahang tegas Alex lalu memberikan kecupan pada bibir pria mapan itu.
"I love you." Ucapnya setelah kecupan itu terlepas.
"I love you to, sayang." Balas Alex.
Keduanya pun kembali berpelukan di dalam ruangan apartemen itu sambil pandangan mereka mengarah di-setiap sisi ruang tersebut.
***
Pukul jam 2 siang, Alex dan Bella telah tiba di rumah mereka. Setelah beberapa jam yang lalu menghabiskan waktu di luar rumah juga melihat lihat apartment yang Alex beli tersebut, keduanya pun memutuskan untuk kembali pulang.
Bella dan Alex memasuki kamar mereka, "Daddy ganti baju dulu, pasti pengap udah beberapa jam di luar rumah." Ucap Bella sambil bersiap membuka jas Alex.
"Iya kayaknya Daddy akan mandi lagi, kita mandi bareng ya yank." Ucap Alex sambil tersenyum nakal kearah Bella.
"Iya sesuai permintaan Daddy aja." Ucap Bella tersenyum.
Ia lalu menanggalkan seluruh pakaian Alex dan juga dirinya. Dan kini keduanya sama sama polos.
"Ayo kita mandi." Setelah mengatakan itu Alex langsung mengendong Bella ke kamar mandi.
Bella sempat tersentak tapi ia dengan cepat mengalungkan kakinya di-pinggang Alex dengan Alex yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Dasar nggak sabaran." Ucap Bella terkekeh.
Alex tersenyum mendengar ucapan wanita itu.
Setelah berada di kamar mandi. Alex langsung menyalakan shower memposisikan tubuh mereka tepat dibawah shower itu.
Kini tubuh mereka sama sama diguyur air. Alex lalu menyabuni tubuh Bella dari belakang, ia menuangkan sabun itu di punggung halus Bella. Bella pun membiarkan Alex melakukan semua itu.
Semua bagian inci tubuh Bella tak lepas dari sentuhannya, hingga kemudian tangan yang menyabuni Bella mendadak berhenti di kedua bukit kembarnya.
Ia meremas kedua benda kembar itu dengan gerakan lembut. "Eungh Dad." Lenguh Bella sambil mengigit bibirnya.
"Mereka selalu jadi favorit Daddy yang nggak akan Daddy lewatkan," ucap Alex sambil terus meremas keduanya dengan gerakan yang semakin kuat.
Alex lalu membalikkan badan Bella, dan kini mereka saling berhadapan dengan saling memandang lekat wajah satu sama lain.
"Janji sama Daddy kalau tubuh dan hati kamu hanya milik Daddy." Ucap Alex sambil memegang kedua pipi Bella.
Bella tersenyum lalu mengangguk. "Bella janji seluruh yang ada dalam diri Bella adalah milik Daddy." Ucap Bella.
"Jangan pernah tinggalin Daddy apapun yang terjadi." Ujar Alex lalu menyatukan dahi mereka.
"Aku janji, lagipula kemana lagi harus Bella pergi kalau di dunia ini hanya Daddy yang Bella punya." Ucap Bella.
"I love you more and more." Ucapnya.
"Bella juga cinta sama Daddy, jangan pernah tergoda sama cewek cewek cantik di luar sana ya Dad!" Ucap Bella.
"Haha, mana mungkin Daddy mau berpaling kalau di rumah sudah ada perempuan yang lebih dari segalanya buat Daddy." Nafas mereka bahkan tercium karena bibir mereka begitu dekat.
"Daddy akan selalu mencintai kamu, ingat itu." Ucap Alex.
Bella tersenyum. Dan beberapa detik kemudian bibir keduanya pun perlahan menempel.
Alex melumat dengan lembut bibir Bella, Bella tak tingal diam ia juga membalas ciuman itu.
Dan ciuman yang tadinya lembut kini semakin menuntut saat Alex menahan tengkuk bella memperdalam ciuman mereka.
Saling menyesap, melumat, membelit dan merasakan manisnya bibir satu sama lain. Lidah Alex semakin berselancar di dalam rongga mulut Bella, menyapu bersih di dalam sana.
Bella semakin mempererat kedua tangannya di leher Alex saat pria itu membawa tubuhnya kedalam gendongannya.
Dan adegan hiya hiya pun terjadi, di kamar mereka siang terik itu.
***
Di kediaman orang tua Alex.
"Ma, udah buat janji sama Alex belum?" Tanya pria tua yang sedang menyesap kopinya itu, yang tak lain adalah papa dari Alexander Lux.
Mama Alex menoleh kearah suaminya, "Udah, dan dia maunya malam."
"Dia tidak sibuk kan?"
"Kalau malam mungkin tidak, makanya dia mintanya malam." Ucap mama Alex.
"Anak itu selalu aja sibuk, papa jadi heran sama dia dia sibuk sekali sama kerjaan sampai perempuan pun nggak pernah dia dekatiin." Omel papa Alex.
"Ya semenjak dia putus cinta sama mantan pacarnya itu loh Pi, dari situ dia udah ngga mau lagi sama perempuan. Dan dia malah ngadopsi anak dari panti." Ucap mama Alex.
"Haaa papa juga heran, bukannya cari pasangan lalu nikah biar dapat anak kandung, dia malah ngadopsi anak dari panti." Ucap pria tua itu sembari menggelengkan kepalanya.
"Mama jadi curiga kalau gara gara putus cinta dia jadi ngga normal lagi." Ucap mama Alex sambil menatap cemas kearah suaminya.
"Astaga mama ngomongnya seram banget, mana ada keluarga Lux ngga normal." Kesal papa.
"Ya itu buktinya Alex belum juga punya pacar yang dikenalin ke kita, padahal umur dia udah nggak Mudah lagi loh pa." Keluh mama Alex.
"Dia normal papa yakin itu, maka dari itu papa mau rencanakan pertemuan makan malam bersama Alex. Kita akan atur perjodohan Alex dengan putri teman papa. Dia cantik dan juga sama berpendidikan loh ma."
"Oh ya? Teman papa yang mana?" Tanya mama Alex yang terlihat sudah excited.
"Itu loh anaknya pemilik rumah sakit terbesar di ibukota ini,"
"Pa Wahid itu kan pa?" Tebak mama Alex.
"Nah itu, dia orangnya yang putrinya rencana akan papa jodohkan sama Alex. Ya siapa tau aja cocok kan ma." Ucap pria itu.
"Iya juga, mama ikut saran papa aja kalau itu baik buat Alex."
Dan perbincangan itu pun terus berlanjut mengenai rencana perjodohan yang akan mereka lakukan untuk Alex.
***
Berbeda dengan kedua orangtuanya, Alex kini sedang berbaring di-atas ranjang dengan tubuh telanjang bersama Bella. Setelah aktivitas yang menguras banyak tenaga beberapa jam yang lalu, kini keduanya memutuskan untuk berbaring dengan saling memeluk tubuh polos satu sama lain di balik selimut.
"Eungh, aaa jangan digigit Dad. Sakit ih!" Keluh Bella saat Alex dengan nakalnya mengigit kedua puncak dada nya.
"Abisnya gemas sayang, merek berdua pengen banget Daddy manjain." Ucap Alex lalu memasukkan satu puncak payudara Bella di dalam mulutnya.
"Ahmmpt," Bella mengeram sambil menahan kepala Alex agar terus menyesap benda kenyal itu.
Jika mulut Alex sedang sibuk mengulum dan menyesap benda kembar Bella yang satunya, berbeda dengan tangan Alex yang satu lagi ia gunakan untuk meremas benda kenyal Bella yang sedang menganggur itu.
"Hmmpt, sssst." Bella terus mengeluarkan suara suara manjanya.
Sementara Alex terus menyesap dan menyedot kuat kedua benda itu bergantian.
***