Bab 2

Om Daniel mengantarkanku ke kamar yang disediakan untukku di villa yang megah ini. Aku merasa sedikit kikuk, tidak terbiasa dengan kemewahan sekelas ini. Langkah kakiku terdengar seperti bisikan di lantai marmer yang dingin, dan sinar lembut dari lampu gantung di langit-langit memancarkan nuansa tenang di ruangan.

"Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatmu, Lala," ujar Om Daniel dengan senyum lembut. Aku terkejut dan berdebar-debar saat mendengar kata-kata itu. Bagaimana mungkin dia mengingatku? Aku merasa seperti orang biasa yang luput dari ingatannya.

Aku mencoba menyembunyikan perasaanku yang campur aduk dengan senyum gugup. "Benarkah? Aku... Aku pikir mungkin Om sudah lupa padaku."

Om Daniel hanya menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku masih ingat."

Saat Om Daniel berjalan keluar dari kamar, aku merasa dadaku berdesir keras. Kenangan datang menghampiri pikiranku, membawa aku kembali ke masa lalu yang kelam. Aku ingat bagaimana dulu aku menangis tersedu-sedu saat mendengar kabar bahwa Om Daniel akan menikah dengan seorang wanita. Wanita yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya. Rasanya seperti pukulan berat bagi hatiku saat itu, dan luka itu masih terasa, bahkan sekarang.

Aku duduk di pinggiran tempat tidur, meratap dalam hati. Bagaimana bisa aku merasakan getar seperti ini lagi setelah begitu lama? Padahal aku sudah berusaha melupakan semuanya. Tapi entah mengapa, kehadiran Om Daniel membuat semua itu kembali hidup.

Suara langkah kaki Om Daniel semakin menjauh, dan aku merasa sepi di dalam kamar yang mewah ini. Membawaku kembali berpijak pada kenyataan kalau sebentar lagi aku akan menjadi istri Ray. Status yang tidak pernah aku inginkan. 

Aku menghela nafas panjang dan mengusap air mata yang mencoba merayap keluar dari sudut mataku. Aku tidak ingin menangis di sini, tidak ingin Om Daniel atau siapapun melihatku rapuh.

***

Aku melangkah ke bangunan utama villa, merasa udara hangat terhembus lembut di kulitku. Rasa cemas dan tegang merayap perlahan dalam dadaku. Aku tahu Maya butuh bantuanku untuk menyiapkan pesta lajang ini, tapi rasa gelisahku semakin memuncak saat mendengar kalimat yang diucapkannya sebelum pergi.

"Lala, bisakah kamu menunggu di sini? Aku harus pergi sebentar untuk membeli beberapa barang. Om Daniel ada di sini, jadi kamu tidak sendirian," Maya menjelaskan, tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.

Aku mengangguk, mencoba menyembunyikan keraguan di mataku. Om Daniel. Aku mengingatnya sebagai pria tampan dengan aura yang begitu menarik, tapi tak pernah aku berbicara banyak dengannya. Dan sekarang, aku harus berada di sini, berdua dengan dia, dalam suasana yang sepertinya lebih intim daripada yang ku impikan.

Om Daniel berdiri di sisi ruangan, memandangku dengan senyuman hangat. Hatiku berdetak lebih cepat hanya oleh pandangannya. "Hai, Lala. Maya bilang kamu akan menemani aku."

"Hai, Om," sapaanku terdengar canggung, meskipun aku berusaha keras untuk terlihat santai.

Dia melangkah mendekatiku, menawarkan gelas berisi minuman dingin. "Minumlah, ini bisa membantu meredakan kecanggungan."

Aku mengambil gelas itu, menyedot sedikit cairan dingin ke mulutku. Rasa segarnya seolah meredakan sedikit tegang di perutku. "Terima kasih."

Dia tersenyum lagi, matanya berbinar seakan menyimpan rahasia. "Jadi, apa rencanamu setelah pernikahan?"

Pertanyaannya membuatku terkejut sejenak. Ada rasa kecewa yang muncul saat menyadari kalau Om Daniel sudah tahu kalau aku akan menikah dengan laki-laki lain..

"Aku belum terlalu memikirkannya, sebenarnya. Mungkin aku akan berhenti bekerja di perusahaan Maya dan bekerja dari rumah."

 "Ah, itu terdengar hebat. Tapi, apa yang kamu inginkan? Bukan apa yang diinginkan orang lain, tapi apa yang kamu impikan?"

Aku terdiam sejenak, merenung. Dia benar, aku sering kali melupakan apa yang aku inginkan, terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain. Terutama harapan Mama Papa. 

"Aku ingin merasakan kebebasan yang sesungguhnya, melakukan hal-hal yang membuatku bahagia. Tapi aku tidak ingin keinginanku membuat orang-orang terdekatku khawatir, Om," ujarku lirih.  Seolah berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Dia mengangguk perlahan, seolah mengerti. "Kamu tahu, Lala, terkadang kita harus mengambil risiko untuk mengejar apa yang kita inginkan. Tidak apa-apa memprioritaskan diri sendiri."

Pandanganku bertemu dengannya, dan entah mengapa, detik-detik itu terasa lama sekali, seakan waktu berhenti sejenak. Lalu, kami berdua tertawa, seolah menyingkirkan kecanggungan yang masih terasa.

Kami berbicara tentang berbagai hal, dari minat dan hobi, sampai cerita lucu tentang masa kecil. Percakapan kami begitu alami, seakan aku tidak merasa terancam atau dinilai. Aku merasa seperti diriku sendiri, tanpa perlu berpura-pura.

***

Aku memandang dengan kagum ke arah Om Daniel yang sedang berdiri di dekat meja dapur, sibuk memotong-motong berbagai macam buah-buahan dengan hati-hati. Wajahnya penuh konsentrasi, tetapi ada senyum kecil yang terukir di bibirnya. Bau segar dari potongan-potongan buah itu mengisi udara di sekitar kami, menciptakan sensasi yang menggugah selera. Aku merasa tidak enak duduk di sofa sambil hanya melihat Om Daniel bekerja keras. 

"Om, apakah aku bisa membantu?" tanyaku dengan sopan, mencoba untuk tidak terdengar terlalu canggung. Aku ingin berkontribusi meskipun tidak terlalu mahir dalam hal ini.

Om Daniel mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat padaku. "Tentu, Lala. Kamu bisa membantu memotong beberapa apel di sini," jawabnya sambil menunjuk ke sejumlah apel yang sudah disiapkan.

 Aku bangkit dari sofa dan mendekati meja dapur. Dengan hati-hati, aku mengambil pisau yang sudah tersedia dan duduk di samping Om Daniel. Meskipun ada kecanggungan dalam gerakanku, aku berusaha untuk fokus pada tugas ini. Aku mulai memotong-motong apel dengan pelan, mencoba untuk mengikuti jejak Om Daniel.

"Jangan terlalu khawatir soal tekniknya," kata Om Daniel dengan lembut. "Yang penting kamu melakukannya dengan hati-hati."

Senyumnya membuat hatiku melembut. Aku merasa lebih rileks sekarang, dan kami terus memotong buah-buahan bersama-sama. Namun, dalam sekejap, aku merasa sesuatu yang tajam melintas di kulitku. Aku menarik tangan cepat, dan rasa sakit segera menyusul.

 "Ah!" pekikku terkejut.

 Om Daniel langsung berbalik ke arahku, matanya membesar ketika melihat tangan ku yang berdarah. Tanpa ragu, dia bergerak cepat menuju sebuah kotak di sudut dapur dan mengambil perban serta antiseptik.

 "Aku minta maaf, Lala. Aku seharusnya tidak memintamu memotong buah," katanya dengan ekspresi cemas.

 Aku merasa malu atas kejadian ini dan berusaha tersenyum kepadanya. "Tidak apa-apa, ini bukan salah Om."

Om Daniel dengan lembut membersihkan luka di tangan ku dan membalutnya dengan hati-hati. Sentuhan ringannya membuat hatiku berdebar-debar. Aku tak bisa membantu tetapi terpana oleh perhatiannya yang tulus.

"Sudah selesai," ucapnya setelah memastikan luka ku tertutup dengan baik. Matanya masih penuh perhatian padaku.

Terima kasih, Om," kataku dengan suara lembut. Aku merasa begitu terharu oleh kebaikannya. 

Aku membayangkan betapa nyamannya memiliki suami seperti Om Daniel.

Bab 3

Maya membuka pintu kamarku dengan riang gembira. "Lala, ayo, cepat keluar! Teman-teman kita sudah mulai datang!"

Dengan senyum lebar, aku menghentikan apa yang sedang aku lakukan dan bergegas keluar dari kamar. Sinar matahari sore menyilaukan, mengelilingi tubuhku dengan kehangatan yang menyenangkan. Aku melangkah ke teras villa, merasakan sentuhan angin sejuk membelai pipiku.

Beberapa teman kami sudah berkumpul di teras. Aku menyambut mereka dengan ramah.

"Aku senang kalian datang!" sapaku dengan semangat.

"Ciee, Lala! Kamu terlihat cantik banget hari ini," goda Rina sambil tertawa.

Senyum dan tawa mengisi udara, seolah-olah semua beban dan kekhawatiran telah sirna.

Kami beralih ke dalam villa yang dihiasi dengan indah. Hiasan-hiasan warna-warni dan lampu-lampu kecil menciptakan suasana yang akrab dan hangat. Aroma makanan yang lezat menguar dari dapur, membuat perutku bergumam setuju. Maya dan aku bergegas menuju ruangan yang telah kami siapkan untuk pesta.

Aku tersenyum lebar saat melihat sekeliling ruangan. Balon-balon berwarna-warni menghiasi langit-langit, sementara pernak-pernik lucu tersebar di meja dan dinding. "Maya, ini sangat indah!"

Maya mengangguk puas, "Aku senang kamu suka, Lala. Ayo, kita tunggu teman-teman lainnya."

Teman-teman kami mulai berdatangan satu per satu. Senyuman tak pernah lepas dari bibirku saat aku melihat mereka semua berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang selalu bisa menghapuskan rasa cemas dan keraguan dalam diriku.

 "Selamat datang, semuanya!" seru Maya, meraih perhatian kami.

Pesta dimulai dengan semangat. Musik mengalun, mengajak kami untuk bergerak dan menari. Aku merasakan getaran irama memenuhi tubuhku, mengalirkan energi yang positif ke seluruh jiwaku. Kami tertawa, berbicara, dan menikmati setiap momen dengan penuh sukacita.

***

Pesta lajang yang diadakan di villa itu berlangsung dengan riuh rendah. Maya, sahabat terbaikku, memberikan sambutan hangat kepada semua tamu yang hadir. Aku merasa senang, melihat teman-temanku tersenyum dan bercanda di sekitar kolam renang yang terhampar luas. Cahaya lampu-lampu taman menciptakan suasana magis di malam itu.

"Ayo, Lala, jangan hanya berdiri di sini. Mari bergabung dan nikmati pesta!" seru Maya dengan antusiasme yang selalu khasnya.

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Sementara aku berjalan ke arah meja makan yang dipenuhi dengan hidangan lezat, aku mendengar tawa dan candaan dari teman-temanku. Semuanya terlihat begitu bahagia dan ceria. Aku merasa beruntung memiliki mereka di sisiku.

Namun, kesenanganku terganggu oleh suara getaran telepon genggamku. Saat aku mengeluarkan ponsel dari tas, aku melihat nama "Ray" di layar. Nafasku terengah-engah, dan aku merasa seolah-olah segerombolan kupu-kupu berterbangan di perutku. Ray terus menerus menelponku meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya sejak tadi.

"Apa yang dia mau sekarang?" gumamku dalam hati. Dengan perasaan yang agak kesal, aku melangkah menjauh dari kerumunan dan menjawab panggilan itu.

"Apa lagi, Ray?" tanyaku dengan suara yang sedikit merendahkan.

"Dari tadi aku mencoba menghubungimu. Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?" suaranya terdengar kesal.

Aku menahan diri untuk tidak memarahinya di tengah-tengah pesta. "Ray, aku sedang sibuk menikmati pesta. Aku sudah bilang padamu bahwa aku akan pulang setelah pesta selesai. Jadi, bisakah kamu tidak mengganggu aku?"

Ray diam sejenak, tapi aku bisa merasakan kemarahannya melalui nada suaranya. "Kau selalu seperti ini. Selalu menempatkan teman-temanmu di atasku."

Tubuhku kaku mendengar kalimat tersebut. Aku berusaha untuk tetap tenang. "Ini bukan tentang menempatkan siapa pun di atas siapa, Ray. Aku hanya ingin menikmati malam ini bersama teman-temanku. Ini mungkin terakhir kalinya aku bisa menikmati waktuku dengan teman-temanku."

Ray terdengar semakin kesal. "Kamu harusnya berada di sini bersamaku. Kamu harusnya fokus mengurus pernikahan kita, bukan datang ke pesta sembarangan!"

Aku menggigit bibirku untuk menahan emosi. Kenyataan bahwa aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, bahkan sebelum acara besar itu terjadi, semakin jelas bagiku. Namun, aku memilih untuk tidak menjawab kata-kata sinisnya.

"Aku akan pulang setelah pesta selesai," ucapku dengan tegas, mencoba untuk mengakhiri panggilan itu.

Ray mendengus marah di seberang sana. "Baiklah, lakukan apa yang kamu mau. Tapi ingat, aku punya cara untuk membuatmu menurutiku."

Tanganku gemetar saat aku menutup panggilan itu. Aku merasakan adrenalin dalam tubuhku, namun aku berusaha untuk meredam emosiku sebelum kembali ke dalam pesta.

***

Kembali ke ruang pesta, aku melihat teman-temanku mulai menyerbu meja minuman beralkohol. Cahaya lampu gemerlapan menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana pesta yang semakin memanas. Aroma minuman keras dan tawa riang bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang agak kacau.

Tadinya, aku tidak begitu tertarik untuk ikut bergabung dengan mereka untuk minum-minum. Tapi aku butuh sesuatu untuk meredakan kekesalanku. Tidak hanya pada Ray, tapi juga pada Papa dan Mama yang memaksaku untuk menikah dengan Ray.

Aku menyesali saat dimana aku membiarkan ray bertemu dengan kedua orang tuaku, bahkan saat aku belum yakin dengan hubungan kami. Sejak awal mengenalnya, ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku tidak bisa percaya padanya.

Tapi Ray sangat pandai menutupi sifat-sifat aslinya. Dia selalu berperilaku seperti layaknya laki-laki yang baik dan sopan di depan kedua orang tuaku. Membuat mereka percaya bahwa dia adalah calon suami terbaik untukku dan calon menantu untuk mereka.

Tapi itu semua adalah sandiwara. Saat dia menyadari kalau aku sudah terjerat, dia mulai menunjukkan sifat aslinya padaku. 

Aku berjalan mendekati meja minuman, di mana berbagai macam cairan berwarna-warni terpajang dengan menggoda. Tiba-tiba, suara Maya mengalun di telingaku, "Lala, ingatlah untuk tidak minum terlalu banyak. Kamu masih harus menjaga diri."

Aku membalas senyuman Maya dengan setengah hati, sambil meraih sebotol minuman beralkohol. Tetapi hatiku masih berdesir dengan amarah yang aku tahan selama ini. Keputusanku untuk menikahi Ray semakin terasa seperti jerat yang mengikatku. Aku ingin meluapkan semua kekesalan ini, sejenak lupa akan segala beban yang ada di pundakku.

"Aku bukan anak kecil May," kataku dengan nada sinis, mencoba untuk meredakan amarahku dengan bercanda.

Maya menggelengkan kepala, matanya penuh kekhawatiran. "Serius, Lala. Ini bukan malam yang baik untuk minum berlebihan."

Aku mencibir dan mengangkat bahu, seolah-olah mengacuhkan semua perkataannya. Aku merasa sepenuhnya memiliki hak untuk memilih, terlebih lagi di malam yang begitu berat bagiku ini.

Dengan perlahan, aku menyesap minuman itu. Rasa alkohol yang hangat meluncur ke tenggorokanku, membangkitkan sensasi aneh di perutku. Semakin banyak aku minum, semakin jauh aku merasa dari semua permasalahan yang mengganggu pikiranku. Aku mengejar rasa mabuk, berharap bisa lupa sejenak.

Namun, minuman itu ternyata lebih kuat daripada yang kubayangkan. Tubuhku terasa semakin ringan, dan aku merasakan setiap gerakan dan bunyi dengan intensitas yang luar biasa. Tawa-tawa teman-temanku terdengar semakin keras, dan musik yang mengalun di latar belakang terasa seolah-olah meresap masuk ke dalam diriku.

"Kalau begini, aku benar-benar bisa melupakan semuanya," gumamku dalam hati, tetapi rasa sakit di dada masih belum hilang sepenuhnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED