Bab 1

Aku melangkah masuk ke apartemen dengan perasaan lega setelah hari yang panjang. Udara segar dari jendela terbuka membelai wajahku, dan sejenak aku merasa seperti bisa bernafas lagi.

Langkahku pelan saat aku melewati ruang tamu yang kosong. Tempat ini terlihat sepi, tapi dalam keheningan itu, ada perasaan kesendirian yang manis. Aku menghela nafas dalam-dalam, menghirup aroma khas apartemenku yang perlahan menjadi tempat perlindunganku dari dunia luar.

Aku ingin membersihkan diriku dan merasakan segarnya mandi setelah seharian bekerja. Tubuhku merasa lelah, tapi ada semacam kepuasan dalam kelelahan itu. Kurasakan rasa sakit dari sepatuku yang memeluk kaki, sebagai kenangan kecil akan perjalanan hari ini.

Kamar tidurku menanti di ujung koridor, dan aku berjalan dengan langkah pelan. Aku menghidupkan lampu dengan perlahan, membiarkan cahayanya mengisi ruangan. Namun, kejutan menghantamku seperti petir di tengah malam saat aku melihatnya.

Ray. Duduk di atas ranjang, dia terlihat seperti bayangan yang mengejutkan. Matanya memandangku dengan tatapan yang penuh keinginan, dan seolah-olah dia telah menguasai seluruh ruangan itu. Nafas yang kuhembuskan tercekat di tenggorokan, seakan kehadirannya menciptakan perasaan yang rumit dalam hatiku.

"Apa yang kau lakukan di sini?" desisku, mencoba mengendalikan kebingunganku.

Ray mengangkat sebelah alisnya dengan senyuman yang begitu mengganggu. "Aku merindukanmu, sayang. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama."

Aku berusaha untuk tidak menunjukkan getar rasa takut dalam suaraku. Aku tahu betul seperti apa dia saat berada dalam mood yang begini. "Aku capek, Ray. Aku ingin mandi dan istirahat."

Dia menggeleng pelan, seolah tidak peduli dengan alasan apapun yang aku katakan. "Kamu bisa mandi dan istirahat setelah kita melakukannya, Lala."

Rasa getir melintas di hatiku. Mengintip ke dalam mata hitam Ray, aku bisa melihat betapa kuasanya dia merasa atas situasi ini. Dia mendekati aku, menyingkirkan langkahku dengan gerakan perlahan. Ada sesuatu dalam caranya bergerak yang membuatku merinding.

"Ray, aku sedang tidak ingin," kataku dengan tegas, mencoba mengatasi kegelisahanku.

Dia mendekatkan dirinya lebih dekat lagi, menempelkan tubuhku ke tembok. "Oh, come on, Lala. Aku tahu bagaimana cara membuatnya menyenangkan."

Tangan Ray mulai menjelajahi leherku, menyentuh tempat-tempat yang membuatku terkejut. Aku merasa panas, dan bukan karena hasrat, melainkan karena rasa marah yang membara di dalam diriku. "Ray, berhenti!"

Dia tertawa, seperti menikmati ketidaknyamananku. "Kau selalu begini, Lala. Terlalu kaku dan terlalu banyak pemikiran."

Aku menolak menunduk, menatapnya dengan tekad di mataku. "Aku serius, Ray. Aku ingin mandi dan istirahat. Aku tidak ingin melakukan ini."

Dia merasa semakin dekat, hampir mengepungku dengan kehadirannya yang dominan. "Pikiranmu mungkin menolakku, tapi aku tahu tubuhmu menginginkan ini."

Ray meraih lenganku dengan kasar, menarikku mendekat. Aroma alkohol mencampak di hidungku, menggiring ketidaknyamanan yang semakin memuncak.

Aku menelan ludah, mencoba menjauh, tetapi tubuhku terjepit di antara Ray dan ranjang. "Ray, hentikan!"

Dia tidak mendengarkan. Tangannya merayap ke atas, menggapai punggungku. Aku merasakan napasnya yang berat di leherku, dan aku merasa mual. Tubuhku gemetar, tetapi aku tidak bisa berbuat banyak dalam posisiku yang terjepit.

Tangan Ray meraba-raba ke bawah, membuatku merasa jijik. Aku mencoba melawan, menolaknya dengan keras, tetapi usahaku sia-sia. Ray semakin memaksa. Aku merasa hancur. 

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa pasrah, menangis dalam keputusasaan ketika Ray mendesakkan tubuhnya ke dalam tubuhku. Setiap desakan mengirim rasa perih ke seluruh tubuhku. Tubuhku terasa lemah, hatiku hancur berkeping-keping.

Saat semuanya selesai, aku merasa hampa. Aku merosot di sampingnya, airmata masih mengalir dari mataku. Ray melihatku dengan pandangan acuh, seolah-olah aku hanyalah alat untuk memuaskan nafsu bejatnya.

"Kamu milikku, Lala. Jangan pernah lupa itu," bisiknya dengan tawa kejam.

Aku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Aku merasa dunia seolah-olah runtuh di sekelilingku. Lala, kenapa kau membiarkan ini terjadi? Tanyaku pada diriku sendiri.

***

Aku merasakan beratnya kelopak mataku, usai malam yang panjang dan melelahkan. Kurasakan sepasang tangan kekar yang mengusap punggungku, suara pelan membangunkanku dari tidur. Aku membuka mataku dengan susah payah, menemukan Ray dengan wajah dinginnya di dekatku.

"Kau sudah bangun, Lala?" bisiknya dengan suara yang sarat dengan kekerasan. "Aku butuh kopi. Segera."

Aku mengerang dalam hati, tetapi berusaha menahan kelelahanku saat aku menyusuri lorong menuju dapur. Aku merasakan sentuhan dingin lantai di bawah kakiku dan aroma kopi yang menggoda mulai memenuhi udara. Aku merasa seperti budak dalam rumahku sendiri.

Setelah berhasil menyeduh kopi dan menyiapkannya di atas nampan, aku membawanya kembali ke kamar tidur. Ray sudah duduk di tempat tidur, menatap layar ponselnya tanpa memberiku pandangan. Aku merasa sakit hati dan muak dengan cara dia memperlakukan aku.

"Ini," ucapku sambil menaruh cangkir kopi di meja samping tempat tidur. "Tolong jangan lupakan bahwa aku punya pekerjaan juga."

Ray meraih cangkir dengan acuh tak acuh, tanpa mengucapkan kata-kata. Aku merasa jengkel, tetapi berusaha untuk tidak memperlihatkannya saat aku perlahan meninggalkan kamar.

***

Suasana kerja semakin intens saat aku duduk di meja rapat, berbicara dengan tim desain tentang proyek terbaru. Tubuhku masih terasa lelah tapi aku mencoba untuk tetap fokus pada presentasi yang sedang berlangsung. 

Maya muncul di depan pintu ruang rapat dengan senyuman lebar di wajahnya. "Eh, Lala! Jangan lupa, siang ini kita berangkat ke villa untuk persiapan pesta lajangmu!" bisiknya dengan penuh semangat.

Pandangan kami bertemu dan senyumnya yang tulus membuatku merasa hangat. Aku tahu bahwa Maya selalu mendukungku, bahkan ketika aku harus menghadapi cobaan seperti ini.

 "Baiklah," jawabku, mencoba menekan rasa lelahku. "Aku akan datang."

Namun, sebelum aku benar-benar bisa memastikan keputusanku, ponselku berdering. Layar menampilkan nama Ray. Hatiku berdebar-debar saat aku menjawab panggilannya.

 "Kamu tidak akan pergi ke pesta itu, kan?" suaranya penuh dengan amarah. "Aku tidak suka tidak suka kamu pergi sendiri."

Aku merasa darahku mendidih. Sejak berpacaran lalu  aku tidak pernah melakukan apapun tanpa persetujuannya. Aku bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan teman-temanku lagi. Apalagi sekarang, setelah kami bertunangan. Aku tidak bisa terus menerus hidup seperti ini.

Aku ingin mengatakan apa yang ada di pikiranku, menghentikan semua siksaan ini. "Ray, aku sudah mencoba menurutimu selama ini. Tapi kali ini, aku akan pergi ke pesta lajang bersama temanku, dengan atau tanpa persetujuanmu!"

Ray berteriak di ujung telepon, mengeluarkan ancaman dan cacian. Aku menutup telepon dengan tangan gemetar, merasa marah dan lelah oleh kontrol yang dia pegang atas hidupku.

Aku mendapati Maya menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran,

"Lala, apa yang akan kau lakukan?" Maya bertanya dengan nada cemas, menunjukkan dukungan sejati yang selalu dia berikan padaku.

 "Aku tetap akan pergi," aku menyatakan dengan tegas, mataku menyala dengan tekad. "Kali ini aku tidak akan membiarkan Ray mengatur hidupku."

Kami berdua tersenyum satu sama lain, dan aku merasa seperti beban besar telah terangkat dari pundakku. Aku tahu bahwa akan ada konsekuensi, tetapi aku tidak bisa lagi mengabaikan diriku sendiri demi kepuasan Ray.

***

Aku dan Maya duduk di dalam mobil, perjalanan kami menuju Puncak dipenuhi oleh keindahan alam yang melambai di sepanjang jalan. Udara segar pegunungan membelai wajahku saat aku memandangi lembah hijau yang menjalar sejauh mata memandang. Maya, sahabatku sejak lama, duduk di sampingku dengan senyum cerahnya yang selalu menghangatkan hatiku.

"Kamu tahu, Lala," ujar Maya sambil menoleh padaku, "Om Daniel akan berada di villa selama pesta berlangsung. Penjaga villa minta cuti, jadi pamanku yang akan menggantikan posisinya."

Mendengar nama Om Daniel membuat hatiku berdesir. Om Daniel, pemilik villa dan paman Maya, adalah sosok yang telah mengisi pikiranku sejak aku masih duduk di bangku SMA. Dia tampan, gagah, dan memiliki kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku ingat betul bagaimana aku pernah jatuh cinta dengan sosoknya saat aku masih muda dan polos.

Kami akhirnya tiba di villa yang megah. Pemandangan yang sebelumnya hanya aku nikmati dari jendela mobil, kini terbentang luas di depan mataku. Villa dengan arsitektur klasik dan taman yang indah terhampar di hadapanku. Aku menghela napas dalam, merasakan getaran ketegangan yang mulai merayap di perutku.

Pintu mobil terbuka dan aku melangkah keluar, diikuti oleh Maya. Hatiku berdegup kencang ketika pandanganku bertemu dengan sosok yang kini berdiri di depan pintu villa. Om Daniel, dengan senyum hangatnya, menyambut kami dengan tangan terbuka.

"Selamat datang, Lala, Maya," sapanya ramah. Suaranya masih sama seperti yang kuingat, membuat dadaku berdesir hebat.

Aku tersenyum malu-malu, mencoba menahan rasa gugupku. "Terima kasih, Om Daniel. Villa ini begitu indah."

Maya tertawa dan menepuk bahuku dengan lembut. "Lihatlah wajahmu, Lala. Kau merah padam seperti tomat."

Aku menggigit bibirku, merasa malu namun juga bahagia. Bagaimana bisa tidak? Aku berada di dekat Om Daniel setelah begitu lama.

Kami berjalan bersama masuk ke villa. Aroma kayu dan bunga-bunga segar memenuhi udara, menciptakan suasana yang nyaman dan hangat. Ruangan yang kami masuki terbuka lebar, menampilkan pemandangan taman yang mengagumkan melalui jendela-jendela besar.

"Apa kalian ingin berkeliling?" tanya Om Daniel sambil tersenyum. "Atau ada yang ingin minum?"

Kami memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu. Aku melangkah dengan perasaan bercampur aduk. Di setiap sudut villa, aku merasa seperti sedang berjalan di dalam mimpi. Aku mencoba meredakan detak jantungku yang semakin liar.

"Kamu masih ingat, kan?" Maya tiba-tiba berkata, tersenyum penuh arti.

Aku menoleh padanya dengan ekspresi bingung. "Ingat apa?"

Maya tertawa lepas. "Jatuh cinta pada Om Daniel saat SMA?"

Wajahku memerah dan aku segera menggeleng cepat. "Itu hanya masa remaja yang bodoh."

Namun, matanya yang tajam seakan menembus kedok kebohonganku. Aku bisa merasakan bahwa Maya tidak percaya sepenuhnya pada kata-kataku.

Bab 2

Om Daniel mengantarkanku ke kamar yang disediakan untukku di villa yang megah ini. Aku merasa sedikit kikuk, tidak terbiasa dengan kemewahan sekelas ini. Langkah kakiku terdengar seperti bisikan di lantai marmer yang dingin, dan sinar lembut dari lampu gantung di langit-langit memancarkan nuansa tenang di ruangan.

"Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatmu, Lala," ujar Om Daniel dengan senyum lembut. Aku terkejut dan berdebar-debar saat mendengar kata-kata itu. Bagaimana mungkin dia mengingatku? Aku merasa seperti orang biasa yang luput dari ingatannya.

Aku mencoba menyembunyikan perasaanku yang campur aduk dengan senyum gugup. "Benarkah? Aku... Aku pikir mungkin Om sudah lupa padaku."

Om Daniel hanya menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku masih ingat."

Saat Om Daniel berjalan keluar dari kamar, aku merasa dadaku berdesir keras. Kenangan datang menghampiri pikiranku, membawa aku kembali ke masa lalu yang kelam. Aku ingat bagaimana dulu aku menangis tersedu-sedu saat mendengar kabar bahwa Om Daniel akan menikah dengan seorang wanita. Wanita yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya. Rasanya seperti pukulan berat bagi hatiku saat itu, dan luka itu masih terasa, bahkan sekarang.

Aku duduk di pinggiran tempat tidur, meratap dalam hati. Bagaimana bisa aku merasakan getar seperti ini lagi setelah begitu lama? Padahal aku sudah berusaha melupakan semuanya. Tapi entah mengapa, kehadiran Om Daniel membuat semua itu kembali hidup.

Suara langkah kaki Om Daniel semakin menjauh, dan aku merasa sepi di dalam kamar yang mewah ini. Membawaku kembali berpijak pada kenyataan kalau sebentar lagi aku akan menjadi istri Ray. Status yang tidak pernah aku inginkan. 

Aku menghela nafas panjang dan mengusap air mata yang mencoba merayap keluar dari sudut mataku. Aku tidak ingin menangis di sini, tidak ingin Om Daniel atau siapapun melihatku rapuh.

***

Aku melangkah ke bangunan utama villa, merasa udara hangat terhembus lembut di kulitku. Rasa cemas dan tegang merayap perlahan dalam dadaku. Aku tahu Maya butuh bantuanku untuk menyiapkan pesta lajang ini, tapi rasa gelisahku semakin memuncak saat mendengar kalimat yang diucapkannya sebelum pergi.

"Lala, bisakah kamu menunggu di sini? Aku harus pergi sebentar untuk membeli beberapa barang. Om Daniel ada di sini, jadi kamu tidak sendirian," Maya menjelaskan, tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.

Aku mengangguk, mencoba menyembunyikan keraguan di mataku. Om Daniel. Aku mengingatnya sebagai pria tampan dengan aura yang begitu menarik, tapi tak pernah aku berbicara banyak dengannya. Dan sekarang, aku harus berada di sini, berdua dengan dia, dalam suasana yang sepertinya lebih intim daripada yang ku impikan.

Om Daniel berdiri di sisi ruangan, memandangku dengan senyuman hangat. Hatiku berdetak lebih cepat hanya oleh pandangannya. "Hai, Lala. Maya bilang kamu akan menemani aku."

"Hai, Om," sapaanku terdengar canggung, meskipun aku berusaha keras untuk terlihat santai.

Dia melangkah mendekatiku, menawarkan gelas berisi minuman dingin. "Minumlah, ini bisa membantu meredakan kecanggungan."

Aku mengambil gelas itu, menyedot sedikit cairan dingin ke mulutku. Rasa segarnya seolah meredakan sedikit tegang di perutku. "Terima kasih."

Dia tersenyum lagi, matanya berbinar seakan menyimpan rahasia. "Jadi, apa rencanamu setelah pernikahan?"

Pertanyaannya membuatku terkejut sejenak. Ada rasa kecewa yang muncul saat menyadari kalau Om Daniel sudah tahu kalau aku akan menikah dengan laki-laki lain..

"Aku belum terlalu memikirkannya, sebenarnya. Mungkin aku akan berhenti bekerja di perusahaan Maya dan bekerja dari rumah."

 "Ah, itu terdengar hebat. Tapi, apa yang kamu inginkan? Bukan apa yang diinginkan orang lain, tapi apa yang kamu impikan?"

Aku terdiam sejenak, merenung. Dia benar, aku sering kali melupakan apa yang aku inginkan, terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain. Terutama harapan Mama Papa. 

"Aku ingin merasakan kebebasan yang sesungguhnya, melakukan hal-hal yang membuatku bahagia. Tapi aku tidak ingin keinginanku membuat orang-orang terdekatku khawatir, Om," ujarku lirih.  Seolah berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Dia mengangguk perlahan, seolah mengerti. "Kamu tahu, Lala, terkadang kita harus mengambil risiko untuk mengejar apa yang kita inginkan. Tidak apa-apa memprioritaskan diri sendiri."

Pandanganku bertemu dengannya, dan entah mengapa, detik-detik itu terasa lama sekali, seakan waktu berhenti sejenak. Lalu, kami berdua tertawa, seolah menyingkirkan kecanggungan yang masih terasa.

Kami berbicara tentang berbagai hal, dari minat dan hobi, sampai cerita lucu tentang masa kecil. Percakapan kami begitu alami, seakan aku tidak merasa terancam atau dinilai. Aku merasa seperti diriku sendiri, tanpa perlu berpura-pura.

***

Aku memandang dengan kagum ke arah Om Daniel yang sedang berdiri di dekat meja dapur, sibuk memotong-motong berbagai macam buah-buahan dengan hati-hati. Wajahnya penuh konsentrasi, tetapi ada senyum kecil yang terukir di bibirnya. Bau segar dari potongan-potongan buah itu mengisi udara di sekitar kami, menciptakan sensasi yang menggugah selera. Aku merasa tidak enak duduk di sofa sambil hanya melihat Om Daniel bekerja keras. 

"Om, apakah aku bisa membantu?" tanyaku dengan sopan, mencoba untuk tidak terdengar terlalu canggung. Aku ingin berkontribusi meskipun tidak terlalu mahir dalam hal ini.

Om Daniel mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat padaku. "Tentu, Lala. Kamu bisa membantu memotong beberapa apel di sini," jawabnya sambil menunjuk ke sejumlah apel yang sudah disiapkan.

 Aku bangkit dari sofa dan mendekati meja dapur. Dengan hati-hati, aku mengambil pisau yang sudah tersedia dan duduk di samping Om Daniel. Meskipun ada kecanggungan dalam gerakanku, aku berusaha untuk fokus pada tugas ini. Aku mulai memotong-motong apel dengan pelan, mencoba untuk mengikuti jejak Om Daniel.

"Jangan terlalu khawatir soal tekniknya," kata Om Daniel dengan lembut. "Yang penting kamu melakukannya dengan hati-hati."

Senyumnya membuat hatiku melembut. Aku merasa lebih rileks sekarang, dan kami terus memotong buah-buahan bersama-sama. Namun, dalam sekejap, aku merasa sesuatu yang tajam melintas di kulitku. Aku menarik tangan cepat, dan rasa sakit segera menyusul.

 "Ah!" pekikku terkejut.

 Om Daniel langsung berbalik ke arahku, matanya membesar ketika melihat tangan ku yang berdarah. Tanpa ragu, dia bergerak cepat menuju sebuah kotak di sudut dapur dan mengambil perban serta antiseptik.

 "Aku minta maaf, Lala. Aku seharusnya tidak memintamu memotong buah," katanya dengan ekspresi cemas.

 Aku merasa malu atas kejadian ini dan berusaha tersenyum kepadanya. "Tidak apa-apa, ini bukan salah Om."

Om Daniel dengan lembut membersihkan luka di tangan ku dan membalutnya dengan hati-hati. Sentuhan ringannya membuat hatiku berdebar-debar. Aku tak bisa membantu tetapi terpana oleh perhatiannya yang tulus.

"Sudah selesai," ucapnya setelah memastikan luka ku tertutup dengan baik. Matanya masih penuh perhatian padaku.

Terima kasih, Om," kataku dengan suara lembut. Aku merasa begitu terharu oleh kebaikannya. 

Aku membayangkan betapa nyamannya memiliki suami seperti Om Daniel.

Bab 3

Maya membuka pintu kamarku dengan riang gembira. "Lala, ayo, cepat keluar! Teman-teman kita sudah mulai datang!"

Dengan senyum lebar, aku menghentikan apa yang sedang aku lakukan dan bergegas keluar dari kamar. Sinar matahari sore menyilaukan, mengelilingi tubuhku dengan kehangatan yang menyenangkan. Aku melangkah ke teras villa, merasakan sentuhan angin sejuk membelai pipiku.

Beberapa teman kami sudah berkumpul di teras. Aku menyambut mereka dengan ramah.

"Aku senang kalian datang!" sapaku dengan semangat.

"Ciee, Lala! Kamu terlihat cantik banget hari ini," goda Rina sambil tertawa.

Senyum dan tawa mengisi udara, seolah-olah semua beban dan kekhawatiran telah sirna.

Kami beralih ke dalam villa yang dihiasi dengan indah. Hiasan-hiasan warna-warni dan lampu-lampu kecil menciptakan suasana yang akrab dan hangat. Aroma makanan yang lezat menguar dari dapur, membuat perutku bergumam setuju. Maya dan aku bergegas menuju ruangan yang telah kami siapkan untuk pesta.

Aku tersenyum lebar saat melihat sekeliling ruangan. Balon-balon berwarna-warni menghiasi langit-langit, sementara pernak-pernik lucu tersebar di meja dan dinding. "Maya, ini sangat indah!"

Maya mengangguk puas, "Aku senang kamu suka, Lala. Ayo, kita tunggu teman-teman lainnya."

Teman-teman kami mulai berdatangan satu per satu. Senyuman tak pernah lepas dari bibirku saat aku melihat mereka semua berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang selalu bisa menghapuskan rasa cemas dan keraguan dalam diriku.

 "Selamat datang, semuanya!" seru Maya, meraih perhatian kami.

Pesta dimulai dengan semangat. Musik mengalun, mengajak kami untuk bergerak dan menari. Aku merasakan getaran irama memenuhi tubuhku, mengalirkan energi yang positif ke seluruh jiwaku. Kami tertawa, berbicara, dan menikmati setiap momen dengan penuh sukacita.

***

Pesta lajang yang diadakan di villa itu berlangsung dengan riuh rendah. Maya, sahabat terbaikku, memberikan sambutan hangat kepada semua tamu yang hadir. Aku merasa senang, melihat teman-temanku tersenyum dan bercanda di sekitar kolam renang yang terhampar luas. Cahaya lampu-lampu taman menciptakan suasana magis di malam itu.

"Ayo, Lala, jangan hanya berdiri di sini. Mari bergabung dan nikmati pesta!" seru Maya dengan antusiasme yang selalu khasnya.

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Sementara aku berjalan ke arah meja makan yang dipenuhi dengan hidangan lezat, aku mendengar tawa dan candaan dari teman-temanku. Semuanya terlihat begitu bahagia dan ceria. Aku merasa beruntung memiliki mereka di sisiku.

Namun, kesenanganku terganggu oleh suara getaran telepon genggamku. Saat aku mengeluarkan ponsel dari tas, aku melihat nama "Ray" di layar. Nafasku terengah-engah, dan aku merasa seolah-olah segerombolan kupu-kupu berterbangan di perutku. Ray terus menerus menelponku meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya sejak tadi.

"Apa yang dia mau sekarang?" gumamku dalam hati. Dengan perasaan yang agak kesal, aku melangkah menjauh dari kerumunan dan menjawab panggilan itu.

"Apa lagi, Ray?" tanyaku dengan suara yang sedikit merendahkan.

"Dari tadi aku mencoba menghubungimu. Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?" suaranya terdengar kesal.

Aku menahan diri untuk tidak memarahinya di tengah-tengah pesta. "Ray, aku sedang sibuk menikmati pesta. Aku sudah bilang padamu bahwa aku akan pulang setelah pesta selesai. Jadi, bisakah kamu tidak mengganggu aku?"

Ray diam sejenak, tapi aku bisa merasakan kemarahannya melalui nada suaranya. "Kau selalu seperti ini. Selalu menempatkan teman-temanmu di atasku."

Tubuhku kaku mendengar kalimat tersebut. Aku berusaha untuk tetap tenang. "Ini bukan tentang menempatkan siapa pun di atas siapa, Ray. Aku hanya ingin menikmati malam ini bersama teman-temanku. Ini mungkin terakhir kalinya aku bisa menikmati waktuku dengan teman-temanku."

Ray terdengar semakin kesal. "Kamu harusnya berada di sini bersamaku. Kamu harusnya fokus mengurus pernikahan kita, bukan datang ke pesta sembarangan!"

Aku menggigit bibirku untuk menahan emosi. Kenyataan bahwa aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, bahkan sebelum acara besar itu terjadi, semakin jelas bagiku. Namun, aku memilih untuk tidak menjawab kata-kata sinisnya.

"Aku akan pulang setelah pesta selesai," ucapku dengan tegas, mencoba untuk mengakhiri panggilan itu.

Ray mendengus marah di seberang sana. "Baiklah, lakukan apa yang kamu mau. Tapi ingat, aku punya cara untuk membuatmu menurutiku."

Tanganku gemetar saat aku menutup panggilan itu. Aku merasakan adrenalin dalam tubuhku, namun aku berusaha untuk meredam emosiku sebelum kembali ke dalam pesta.

***

Kembali ke ruang pesta, aku melihat teman-temanku mulai menyerbu meja minuman beralkohol. Cahaya lampu gemerlapan menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana pesta yang semakin memanas. Aroma minuman keras dan tawa riang bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang agak kacau.

Tadinya, aku tidak begitu tertarik untuk ikut bergabung dengan mereka untuk minum-minum. Tapi aku butuh sesuatu untuk meredakan kekesalanku. Tidak hanya pada Ray, tapi juga pada Papa dan Mama yang memaksaku untuk menikah dengan Ray.

Aku menyesali saat dimana aku membiarkan ray bertemu dengan kedua orang tuaku, bahkan saat aku belum yakin dengan hubungan kami. Sejak awal mengenalnya, ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku tidak bisa percaya padanya.

Tapi Ray sangat pandai menutupi sifat-sifat aslinya. Dia selalu berperilaku seperti layaknya laki-laki yang baik dan sopan di depan kedua orang tuaku. Membuat mereka percaya bahwa dia adalah calon suami terbaik untukku dan calon menantu untuk mereka.

Tapi itu semua adalah sandiwara. Saat dia menyadari kalau aku sudah terjerat, dia mulai menunjukkan sifat aslinya padaku. 

Aku berjalan mendekati meja minuman, di mana berbagai macam cairan berwarna-warni terpajang dengan menggoda. Tiba-tiba, suara Maya mengalun di telingaku, "Lala, ingatlah untuk tidak minum terlalu banyak. Kamu masih harus menjaga diri."

Aku membalas senyuman Maya dengan setengah hati, sambil meraih sebotol minuman beralkohol. Tetapi hatiku masih berdesir dengan amarah yang aku tahan selama ini. Keputusanku untuk menikahi Ray semakin terasa seperti jerat yang mengikatku. Aku ingin meluapkan semua kekesalan ini, sejenak lupa akan segala beban yang ada di pundakku.

"Aku bukan anak kecil May," kataku dengan nada sinis, mencoba untuk meredakan amarahku dengan bercanda.

Maya menggelengkan kepala, matanya penuh kekhawatiran. "Serius, Lala. Ini bukan malam yang baik untuk minum berlebihan."

Aku mencibir dan mengangkat bahu, seolah-olah mengacuhkan semua perkataannya. Aku merasa sepenuhnya memiliki hak untuk memilih, terlebih lagi di malam yang begitu berat bagiku ini.

Dengan perlahan, aku menyesap minuman itu. Rasa alkohol yang hangat meluncur ke tenggorokanku, membangkitkan sensasi aneh di perutku. Semakin banyak aku minum, semakin jauh aku merasa dari semua permasalahan yang mengganggu pikiranku. Aku mengejar rasa mabuk, berharap bisa lupa sejenak.

Namun, minuman itu ternyata lebih kuat daripada yang kubayangkan. Tubuhku terasa semakin ringan, dan aku merasakan setiap gerakan dan bunyi dengan intensitas yang luar biasa. Tawa-tawa teman-temanku terdengar semakin keras, dan musik yang mengalun di latar belakang terasa seolah-olah meresap masuk ke dalam diriku.

"Kalau begini, aku benar-benar bisa melupakan semuanya," gumamku dalam hati, tetapi rasa sakit di dada masih belum hilang sepenuhnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED