Bab 1

Hilda adalah wanita yang mandiri meski memiliki keluarga yang berkucukupan tidak membuatnya menjadi manja ditambah lagi dirinya adalah anak tunggal, kedua orang tuanya sibuk dengan semua pekerjaannya meski begitu selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Hilda.

“Segitu saja kemampuan kamu?.”

Hilda menatap malas pada pria yang ada di bawahnya ini, pria ini tidak bukan adalah salah satu orang penting di kampusnya. Memiliki jabatan lumayan di kampus tidak membuat Hilda takut pasalnya dirinya adalah simpanan dari pria yang saat ini berada di bawahnya untuk mencapai klimaks bersama, di antara wanita di kampus hanya Hilda saja yang berani meminta pria ini untuk berlutut di bawahnya untuk memuaskan dirinya.

“Jangan di dalam,” Hilda menarik diri tapi sayangnya ditahan oleh pria ini “bagaimana kalau aku hamil?.”

Adrian tertawa mendengar perkataan Hilda “aku tidak peduli dengan begitu kita bisa menikah secepatnya.”

Adrian nama pria tersebut menatap Hilda yang entah apa artinya karena Hilda sendiri tidak mempedulikan tatapan Adrian, pelepasan yang baru saja mereka alami memberikan sensasi berbeda setiap merek mencapai klimaks. Hilda menatap Adrian yang melangkah ke salah satu kursi dengan menyalakan rok.ok di mana menandakan bahwa banyak hal yang dipikirkan dan Hilda tidak peduli.

“Kita akan menikah karena aku telah melamarmu.”

Perkataan Adrian membuat Hilda menatap tajam karena belum ada niatnya untuk menikah secepat ini, hubungannya dengan Adrian hanya lebih untuk memenuhi kebutuhan dirinya untuk memuaskan diri membeli sesuatu yang harganya tidak murah. Disamping itu ada hal lain yaitu ketika memutuskan menikah akan membuat dirinya tidak bisa bebas karena masih ada pria lain yang saat ini dekat dengan dirinya dan bisa mengeluarkan uang yang banyak untuk kebutuhan dirinya.

“Aku tidak menerima penolakan atas pernikahan.”

Bab 2

Hilda menatap tempat dirinya menimba ilmu di perguruan tinggi swasta yang sangat terkenal di Jakarta, kehidupan Hilda tidak kurang apa pun meski harus terpisah dari orang tuanya karena masalah pekerjaan. Hilda menatap kedua sahabat yang ada dihadapannya dengan tatapan iri, bagaimana tidak karena mereka berdua bagi Hilda sangat sempurna dibandingkan dirinya bahkan salah satu sahabatnya sudah menikah di usia yang menurut Hilda tidak masuk akal.

“Jangan dibiasakan melamun” Hilda menatap Tari yang tersenyum kearahnya “Prof Adrian duh suka galak sama kita – kita, cakep tapi galaknya bikin emosi” perkataan Tari mampu membuat Hilda tertawa mendengarnya.

“Udah kita masuk sekarang keburu Prof Adrian memberi hukuman” Alia merapikan buku yang ada di meja.

Hilda tersenyum melihat kedua sahabatnya yang takut pada Adrian, Hilda sendiri tidak terlalu takut meski sering kali hukuman yang dirinya dapat lebih kejam dibandingkan teman – temannya. Hukuman yang sering Adrian lakukan adalah menyiksa Hilda untuk tidak mencapai klimaks dengan cepat, tapi justru itu yang dirinya inginkan untuk mencapai klimaks lama dan bersamaan dengan Adrian. Hilda sudah berada di dalam ruangan semua menunggu Adrian dengan keributan termasuk Hilda dan para wanita yang selalu membicarakan pria keren dan yang pasti Adrian termasuk.

Suara Adrian menghentikan semua kegiatan yang berlangsung diantara mereka, seketika semua memperhatikan materi yang diberikan Adrian dan tidak ada yang berani melakukan pergerakan yang tidak penting jika masih ingin selamat dari mata kuliahnya. Kelas Adrian terkenal dengan kelas menuju kematian karena betapa kejamnya terhadap anak didiknya, tidak segan untuk mengeluarkan dari kelas atau lebih parahnya tidak akan diluluskan dari kelasnya. Hilda menatap Adrian yang selalu tampak beda ketika bersama dirinya dengan ketika berada di kelas, Hilda rasanya sudah bosan dan menginginkan untuk mengakhiri kelas ini tapi tiba – tiba dirinya kaku karena Adrian menatapnya tajam yang berarti tidak akan selamat setelah ini dan itu malah membuat Aulia menyukainya.

“Finally kelar juga” Hilda menatap Alia yang membereskan buku – buku “aku duluan ya biasa Rizky meminta untuk pulang cepat.”

“Enak ya menikah usia muda” Alia hanya tersenyum mendengar perkataan Tari “rahasianya apa sih?.”

“Cari cowok yang benar bukan tu bocah” Tari mencibir perkataan Hilda “sudah lelah juga aku duluan.”

“Lah aku sendirian?” Tari tampak tidak terima dengan kedua sahabatnya yang meninggalkan dirinya.

Hilda menggandeng Alia seolah tidak peduli dengan nada protes yang Tari katakan, mengangkat tangannya dengan melambai pelan bahwa mereka berdua pergi. Alia tertawa mendengar nada protes dari Tari yang membuat Hilda hanya menggelengkan kepala karena Tari masih seperti anak kecil padahal ayahnya hot dan sayangnya pria yang tidak bisa dirinya goda dengan cara apa pun karena terlalu cinta mati dengan istrinya yang sangat beruntung karena usianya tidak jauh berbeda dengan kedua kakak Tari.

“Salam buat Rizki” Alia mengangguk dan mereka terpisah.

Tujuan Hilda tidak lain dan tidak bukan adalah ruangan Adrian dan yakin bahwa akan mendapatkan hukuman atas apa yang dirinya lakukan saat di kelasnya tadi. Hilda tahu jika ruangan Adrian akan selalu terkunci dan dirinya mempunyai kunci cadangan dan kebetulan terakhir adalah ruangan ini berada paling pojok sehingga tidak akan ada yang kemari kecuali petugas kebersihan dan Adrian tidak akan memanggilnya jika tidak ada yang perlu dibersihkan. Hilda menatap ruangan yang masih tampak sepi berarti Adrian belum masuk ke dalam ruangan ini, Hilda menghubungi Adrian jika dirinya sudah berada di ruangannya yang hanya dibalas dengan ok oleh Adrian.

Hilda masuk ke dalam kamar mandi untuk melepaskan pakaian dalamnya agar Adrian bisa langsung menghukumnya, Hilda tidak sabar atas apa yang akan Adrian lakukan setelah ini. Merapikan sedikit penampilannya agar bisa menggoda Adrian ketika masuk ke dalam ruangannya, Adrian selalu membuat Hilda terpuaskan meski ada beberapa pria yang membutuhkan pelayanannya tapi hanya Adrian yang serius dengan dirinya.

“Kamu di sini” Adrian menatap Hilda sekilas “aku tidak akan ke apartemen karena ada acara keluarga jadi kita melakukan di sini saja.”

Hilda melangkah ke arah Adrian yang melepas pakaian bagian bawahnya secara perlahan Hilda mendekati milik Adrian yang telah tegang dengan membelai perlahan, Hilda berlutut untuk bisa memasukkan milik Adrian ke dalam mulutnya. Tidak lama kemudian terdengar desahan tertahan yang keluar dari bibir Adrian dan semakin membuat Hilda semangat untuk memberi kepuasan pada Adrian, rambut Hilda terasa ditarik yang menandakan jika Adrian sudah masuk dalam pusaran gai.rah yang selalu Hilda sukai. Adrian tidak sabar dengan mulut Hilda sehingga menarik Hilda agar berjongkok sehingga milik Adrian masuk ke dalam milik Hilda yang masih kering membuat Adrian harus bekerja dengan memasukkan tangannya, desahan Hilda mulai terdengar yang semakin membuat Adrian semangat. Melihat milik Hilda sudah siap untuk dimasukkan tanpa menunggu lama Adrian memasukkan miliknya ke dalam Hilda yang langsung masuk ke dalam dan tanpa menunggu lama langsung digerakkannya, suara erangan Hilda membuat Adrian semakin semangat menggerakkan miliknya.

Adrian tidak akan satu kali main sehingga harus beberapa kali hingga mencapai kepuasan dan Hilda melakukannya dengan senang hati karena Adrian memang baik dan juga memuaskan untuk dirinya, Adrian melepaskan penyatuan mereka dan entah keberapa kalinya mengeluarkan cairan ke dalam Hilda. Adrian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri meninggalkan Hilda yang kelelahan di sofa, Hilda sendiri menatap tubuh Adrian yang menghilang di kamar mandi. Perlahan Hilda berdiri dengan melangkah ke kamar mandi bersatu dengan Adrian dan berakhir dengan mereka saling mandi bersama tanpa melakukan kegiatan seperti sebelumnya karena Hilda sudah terlalu lelah.

“Kamu tidak masalah ditinggal?” Hilda menggelengkan kepala “kamu tahu sendiri kemarin tiba – tiba dia datang bersama orang tuanya karena ada acara keluarga.”

“Berapa lama?” Adrian mengangkat bahu “bagaimana kita bertemu?.”

“Kita bisa melakukannya di sini” Hilda membelalakkan mata mendengarnya “aku tidak mungkin ke apartemen secara dia pasti akan lama di sini membiarkan orang tuanya pulang sendiri.”

“Aku tidak peduli yang penting nilai di mata kuliah kamu tidak jatuh karena kalau sampai jatuh aku tidak akan mengikuti permintaan gilamu” Hilda menatap tajam pada Adrian.

Adrian tersenyum “kamu selalu menikmati semuanya jadi tidak ada masalah.”

Hilda mencibir perkataan Adrian yang benar adanya di mana mereka berdua sama – sama menyukai disiksa atau menerima penyiksaan dari seseorang ketika melakukan hubungan ranjang. Adrian sendiri saat ini sudah rapi dengan pakaiannya dan wangi tubuhnya akan mengira bahwa dari kalangan berada.

“Jika pulang jangan lupa matikan semua” Hilda mengangguk dengan perkataan Adrian yang selalu berulang kali setiap keluar dari tempat yang disinggahinya.

“Nanti malam jangan lupa datang ke tempat biasa untuk saling memuaskan dan ada hadiah menarik yang menanti.”

Bab 3

Hilda melangkah pasti ke suatu tempat janji bersama pria lain yang menghubungi karena membutuhkan kehangatan dan sangat pas Adrian tidak berada di apartemen karena acara keluarga bersama istri tercinta. Hilda disambut oleh pembantu yang berada di rumah ini, rumah yang disewa oleh pemilik untuk memadu kasih dengan dirinya tanpa sepengetahuan istri tercintanya dan Hilda tidak pernah tinggal di sini karena sudah memiliki tempat tinggal bersama Adrian.

“Lama sekali” sindir Charly yang tampak siap karena terlihat dari penampilannya.

Charly adalah pria lain yang membutuhkan kehangatan di ranjangnya karena sang istri sudah tidak bisa memuaskan lagi dan sayangnya pernikahan mereka yang berjalan hampir dua puluh tahun tanpa anak sama sekali. Charly sudah melamar Hilda agar bisa menjadi miliknya seorang tapi selalu ditolak karena alasan hanya untuk mendapatkan keturunan, Hilda menolak tapi tidak menolak untuk menghangatkan ranjangnya dan sejauh ini sangat puas atas apa yang Hilda lakukan.

Hilda tidak menghiraukan sindiran Charly dengan melangkah ke kamar mandi membersihkan diri dan menggunakan pakaian yang bisa menarik Charly, melepaskan semua dalamannya dengan menggunakan pakaian transparan. Hilda menatap dirinya di cermin untuk memastikan penampilannya setelah yakin segera keluar dari kamar mandi melangkah ke arah Charly yang ternyata tidak ada di kamar, Hilda menghembuskan nafas pasti saat ini sedang di luar bersama orang kepercayaannya. Charly tahu jika Hilda memiliki pria lain yang selalu ada untuk dirinya setiap saat, sehingga Charly tidak pernah mengganggu jika bersama Adrian.

Persamaan mereka berdua adalah suka melakukan dengan cara keras tapi tidak terlalu parah paling hanya mengikat tangan serta kaki dan menutup mulutnya dengan kain atau plester. Hilda selalu puas melakukan itu bersama mereka berdua dan selalu tidak sabar atas apa yang akan mereka lakukan, fantasi Charly sangat luar biasa sehingga terkadang mereka bisa melakukan seharian tanpa henti.

“Ada yang ingin aku lakukan padamu” Hilda menatap Charly bingung “kita melakukan bertiga dengan teman aku.”

Hilda membelalakkan mata mendengar perkataan Charly “maksudnya?.”

Charly melangkah ke arah Hilda “kasihan dia tidak bisa mendapatkan kepuasan dari istrinya dan nasib kita sama” Hilda bingung dengan perkataan Charly “dia ingin memiliki anak kalau kamu mau menikah dengannya semua akan terasa mudah dan semua kebutuhanmu akan terpenuhi.”

Hilda tersenyum “sayang, aku saja menolak kamu yang sudah lama saling mengenal dan kamu tahu alasannya apa.”

“Pria itu lebih baik kamu tinggalkan karena tidak akan memberikan apa – apa” Charly menatap tidak suka membuat Hilda tersenyum “seharusnya kamu menikah denganku dan menjadi milikku utuh” menarik Hilda dengan mencium bibirnya lembut “kamu sengaja menggoda dengan pakaian ini?” Charly menatap Hilda dengan tatapan sayu yang menandakan bahwa telah masuk dalam pesona Hilda.

Hilda membelai wajah Charly “kamu tahu bukan kalau aku siap memuaskan dirimu” bisik Hilda dengan menggigit telinga Charly pelan membuat sang pemilik mendesah tertahan “jadi apa teman kamu ada di luar?” Hilda meremas pelan milik Charly yang sudah menegang.

“Sudah” Charly menjawab dengan desahan “apa kamu mau?.”

“Apa kamu mengijinkan?” Charly mengangguk “bagaimana jika kamu duduk terlebih dahulu dan melihat bagaimana panasnya kita di ranjang dan kamu hanya bisa bergabung jika aku memanggil.”

Charly melepaskan pelukan dengan menatap Hilda tajam “bisa jadi kita tidak melakukan apa pun?.”

Hilda tersenyum “tentu kita akan melakukan tapi setelah merasakan aku bersama teman kamu” membelai pipi Charly lembut “kalau tidak mau juga tidak masalah tapi kalau ok harus sesuai dengan apa yang aku perbuat.”

Charly terdiam lama membuat Hilda hanya diam dan menjauhkan diri dari hadapannya, Hilda tahu jika Charly tidak bisa dipaksa namun akan memberikan banyak hal pada dirinya apa pun itu. Charly bahkan membayar tiket liburan untuk Hilda saat dirinya menginginkan jalan – jalan dan tempat yang Charly tuju untuk Hilda liburan adalah Jepang dengan tidak lupa kartu kredit yang tanpa batas, Charly akan memberikan itu asal Hilda mengikuti kemauannya dan juga memuaskan dirinya sampai jatuh di ranjang dengan menikmati alam mimpi.

Charly menghembuskan nafas panjang “kapan batas waktu kamu pergi?.”

Hilda mengalihkan pandangan ke arah Charly “setidaknya besok siang sudah di tempat.”

Charly menghembuskan nafas panjang “lihat dulu orangnya jika kamu suka kita lakukan dan mintalah sesuai dengan apa yang kamu lakukan meski aku tidak rela.”

Hilda menatap tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh Charly karena baru kali ini memberi ijin sedemikian rupa untuk bisa bersama pria lain, Hilda menebak jika pria ini lebih berkuasa dibandingkan Charly. Hilda keluar tanpa mengganti pakaian setelah memberikan ciuman singkat pada Charly sebelum keluar dari kamar, langkah Hilda terhenti ketika melihat pria yang tampak sama dengan ayah Tari seketika dari dalam dirinya ingin merasakan bagaimana kekuatan selama di ranjang. Hilda mengalihkan pandangan pada pria yang sedang membelakangi dirinya tampak tubuhnya yang tegap dan warna kulitnya yang coklat seketika bayangan bagaimana miliknya yang pasti melebihi Charly dan Adrian.

“Jadi siapa anda?” setelah bisa mengendalikan diri membuat sang pria membalikkan badan dan langsung menelan salivanya kasar melihat bagaimana sempurna sang pria “apa hubungan anda dengan Mas Charly?.”

“Andrew namaku cukup panggil itu tanpa kata depan” menatap Hilda dari atas ke bawah yang jelas menampakkan bagaimana dalam Hilda “sempurna.”

“Jadi hubungan apa diantara kalian berdua?.”

Hilda melangkah ke arah sofa untuk duduk di sana dengan menyilangkan kakinya sehingga dapat melihat betapa mulusnya kulit Hilda ditambah miliknya yang dapat dilihat langsung oleh pria dihadapannya. Hilda dapat melihat pria dihadapannya menelan salivanya kasar dan sedikit gugup seolah baru pertama kali melihat hal seperti ini, Hilda memang bukan pengalaman tapi dirinya tahu bagaimana pria yang terbiasa dengan tidak biasa dan bayangan Hilda pria ini adalah setia hingga saat ini adalah percobaan pertama dirinya melakukan ini, banyak pikiran di otak Hilda mengenai pria yang ada dihadapannya ini tapi seketika dihilangkan.

“Apa itu penting mengenai hubungan kami berdua?” setelah bisa menenangkan diri membuat Hilda tersenyum “yang penting berapa aku bisa memberi dan juga seberapa puas diriku” Hilda mengangguk “lantas apa rencanamu?.”

“Apa penting rencanaku dan bukannya kamu yang membayar jadi secara otomatis ikut apa kata dirimu.”

Andrew tersenyum “gadis licik ternyata” Hilda tampak tidak peduli atas sindiran yang di dengar “aku akan memberikan apa pun jika kamu bisa membuat puas.”

“Kepuasan seperti apa?” Hilda berdiri melangkah mendekati Andrew “aku harus memastikan terlebih dahulu seberapa memuaskan milikmu di dalamku nanti.”

Hilda membuka resleting celana Andrew dan langsung mendapatkan pemandangan yang dibuatnya terpana karena milik Andrew lebih besar dibandingkan Adrian dan juga Charly, seketika Hilda membayangkan bagaimana panasnya dan juga ketahanan Andrew saat berada di ranjang. Hilda menyentuhnya yang bahkan diameternya juga besar dibandingkan pria selama ini memasukinya, diameter ini mengingatkan Hilda pada dua pria yaitu Johan dan juga pria yang tidak ingin disebutkan namanya.

“Sementara aku menginginkan liburan ke Singapore karena ada yang ingin aku beli,” Hilda menutup kembali resleting Andrew.

“Bukan masalah besar kamu akan mendapatkan liburan dan juga semua fasilitas di sana tapi perginya bersama.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED