Secangkir kapucino yang masih mengepulkan asap tipis, dibiarkan begitu di meja kecil dekat jendela, sedangkan pemiliknya masih sibuk menekuri laptop. Matanya memandang lurus ke layar monitor, sementara jari-jarinya lincah menari di atas papan tik. Pekerjaan sebagai ghostwriter-lah yang membuat Ghena mampu mengetik tanpa melihat tombol. Kecepatan jari-jarinya pun jauh di atas rata-rata. Dia sudah mencoba mengukurnya lewat sebuah aplikasi.
Ghena memang hobi membaca dan menulis cerita sejak SMA, tapi dia selalu menggunakan nama pena untuk mempublikasikan karyanya secara daring di platform gratis. Sayangnya, tidak ada satu pun cerita yang berhasil dituntaskannya. Dia lebih mendahulukan pekerjaanya sebagai GW, dibanding melanjutkan ceritanya sendiri.
Ghostwriter bukanlah pekerjaan impian Ghena. Namun, setelah mencoba beberapa pekerjaan, dan tidak merasakan pas dengan hal tersebut, Ghena memilih untuk menekuni profesinya sebagai penulis bayangan. GW adalah pekerjaan paling pas untuk seorang Ghena Aurelia. Terkadang Ghena cukup mudah bergaul, tapi dia lebih senang menyendiri dan bekerja sendiri. Hal itulah yang membuatnya tidak bisa bertahan lama saat bekerja kantoran.
Meskipun begitu, bayaran Ghena sebagai GW jauh di atas rata-rata pekerja kantoran biasa. Kalau dilihat dari nominal, penghasilan Ghena setara dengan seorang manajer di sebuah perusahaan kelas menengah di Jakarta. Dalam sebulan, dia bisa mendapat kiriman sampai delapan digit. Angka yang cukup besar bagi seseorang yang bekerja tanpa keluar rumah.
Jika sedang fokus, Ghena mampu menulis 15-20 halaman setiap hari. Namun, jika sering terdistraksi, dia hanya mampu menulis sampai 10 halaman dan itu adalah target hariannya. Makanya, Ghena lebih sering menjauhkan ponselnya saat dia ingin serius.
Alunan lagu First Love-nya Utada Hikaru di ponsel Ghena, mampu membuat perempuan berusia 33 tahun itu bangkit dari tempat duduknya. Ghena mencabut benda tersebut dari kabel yang menempel, lalu buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Dia memang tidak perlu mengintip, karena dia sudah membuat personalisasi dengan bunyi deringnya.
“Hai, Bas! Tumben telepon jam segini? Biasanya mau ditelepon di atas jam delapan. Ada apa, nih?” sapa Ghena bernada ceria.
“Kangen sama kamu. Enggak boleh?” sahut Bastian dari seberang sana.
“Aku juga kangen sama kamu, Bas.”
“Kamu lagi apa, Sayang?”
“Biasa. Lagi jadi penulis hantu.”
“Masih proyek yang kemarin?”
“Iya. Deadline-nya akhir pekan ini.”
“Kamu jangan kebanyak minum kopi, ya. Jaga kesehatan juga. Aku nggak mau kamu sakit. Nanti aku nggak fokus kerja karena mikirin kamu.”
“Sebentar, Bas! Aku cari pegangan dulu, takut terbang nih. Jarang-jarang aku digombalin sama kamu. Oiya, kamu telepon nggak cuma mau gombalin aku doang, kan?”
“…”
“Kok, malah diam? Bas? Kamu dengar aku?”
“Malam minggu nanti kamu sibuk nggak? Aku mau ngajakin kamu makan di resto favorit kita.”
Senyum yang tercetak di wajah Ghena makin melebar. Dia ingat betul ada momen apa di hari tersebut.
“Kamu ingat sama anniversary kita? Ya ampun, Bas, aku seneng banget lho. Enggak nyangka ya, kita udah lima belas tahun. Kalau nikah, kira-kira anak kita sudah sekolah kelas berapa, ya?”
Setelah terjeda beberapa saat. “Aku harus balik kerja. Sabtu nanti aku jemput jam enam tepat, ya! Jangan lupa minum dan berdiri setiap satu jam.”
“Iya, Sayang. Pacar aku perhatian banget. Jadi makin sayang deh. Tapi Sabtu masih lama.”
“Sebentar kok. Dah, Sayang.” Tanpa mengucapkan salam perpisahan atau menunggu Ghena membalas kata-katanya, Bastian langsung memutus sambungan.
Namun, Ghena tidak peduli. Hatinya masih dipenuhi rasa bahagia. Dia duduk di dekat jendela sembari memandangi langit sore dan jalanan yang mulai padat. Sesekali dia menyesap kopinya yang sudah tak lagi mengeluarkan asap.
Ghena buru-buru meletakkan cangkirnya saat teringat seseorang. Dia harus segera memberi kabar pada orang itu tentang kabar baik yang didengarnya barusan. Dalam dua sentuhan di layar ponsel, Ghena berhasil menemukan nomor yang ditujunya.
“ROSIIIIII!” jerit Ghena senang, sesaat setelah terdengar suara dari seberang. “Bastian mau ngelamar gue. Akhirnya penantian gue terbayar, Ros!”
Sekarang terdengar jeritan dari ujung telepon. Ghena harus menjauhkan ponsel dari telinganya. “Selamat, ya, Ne! Gue ikut bahagia buat lo. Akhirnya sahabat gue bakalan melepas masa jomlonya.”
“Iya, Ros! Gue juga masih nggak percaya.”
“Gimana ceritanya? Kapan Bastian ngelamar lo?”
“Belom ngelamar, sih. Tadi dia telepon dan mau ngajak gue dinner Sabtu nanti.”
“Jadi, dia cuma ngajak makan? Dia nggak ngomong mau ngelamar lo? Kok bisa-bisanya lo mikir dia mau ngelamar, sih?”
Senyum Ghena perlahan lenyap karena ulah perempuan yang diakuinya sebagai sahabat kental. “Lo nggak demen banget kayaknya kalau gue senang.”
“Bukannya gitu, Ne. Lo pasti lebih tahu gimana Bastian. Setiap kali lo Tanya gimana hubungan kalian, dia jawab apa? Selalu aja bilang belum siap. Lo berdua itu udah pacaran 15 tahun. Mau nunggu sampai 25 tahun?”
“Itu dia, Ne! Biasanya Bastian bisa ditelepon malam, itupun gue yang teleponin dia duluan. Tadi, dia duluan dong. Dan lo tau, nggak? Sabtu nanti itu tepat 15 tahun gue sama dia. Biasanya dia harus gue ingetin dulu. Eh, sekarang kebalikannya. Dia ingat, gue lupa.”
“Syukur deh kalau begitu. Gue nggak mau lo nunggu sesuatu yang nggak pasti. Umur lo nggak bakalan balik lagi, Ghe. Gue nggak mau lo sia-sia-in hidup lo gitu aja.”
Seulas senyum kembali terbit di bibir Ghena. Dia selalu tahu Rosi benar-benar peduli padanya. Walaupun kata-katanya sering terdengar pedas, tapi dia melakukannya karena menginginkan yang terbaik bagi Ghena, sahabatnya.
“Lo mau makan malam di mana? Udah tahu mau pakai baju apa?”
“Di resto favorit gue sama dia. Kalau urusan baju, ya kayak biasa aja.”
“Celana denim, kaos, dan kardigan?”
“Nah, itu pinter.”
“Ya ampun, Ghe! Memangnya lo nggak punya baju lain? Honor nulis lo habis ke mana? Perut?”
“Kok lo yang protes, sih? Bastian aja nggak keberatan. Dia bilang apa pun yang gue pakai itu selalu bagus, asalnya gue pede dan nyaman memakainya.”
“Iya, gue ngerti. Tapi ini momen spesial buat lo. Masa lo mau pakai yang biasa-biasa?”
Ghena diam. Dia tidak berpikir sejauh itu.
“Gue harus gimana nih, Ros? Gue nggak dress. Ada juga batik pasangan buat kondangan.”
“Besok lo ke sini, jemput gue. Nanti kita belanja di Lippo.”
“Makasih ya, Ros. Lo emang sahabat gue yang paling baik se-luar angkasa.”
“Sialan! Lo muji apa menghina? Lo kata gue alien! Oiya, besok datangnya siang.”
“Siap Bundanya Amar.”
Usai menutup telepon, Ghena langsung menandaskan kopinya dalam satu tarikan napas, lalu kembali menekuri laptopnya. Dia sadar betul harus menulis lebih banyak hari ini, karena besok dia akan pergi bersama sahabatnya. Bisa jadi membutuhkan waktu seharian. Rosi tidak akan puas sampai dia melihat-lihat semua toko dan membandingkannya. Kebiasaannya sejak SMA tidak pernah berkurang, bahkan makin menjadi sejak memiliki anak.
**
Sejak menerima telepon dari Bastian, semangat Ghena seperti tidak ada habisnya. Jari-jarinya berpindah-pindah dengan lancar, mengimbangi setiap kata yang keluar dari kepalanya. Tanpa disadari, seharian ini Ghena sudah menulis puluhan halaman, berkali lipat dari target hariannya. Mata Ghena sempat membelalak saat melihat hasil pekerjaannya.
“Pantesan jari-jari gue mulai keram. Tiga puluh halaman, Cuy! Besok nggak nulis juga aman ini.” Ghena bicara pada dirinya sendiri.
Gadis itu memutuskan menyudahi pekerjaannya. Setelah mematikan laptop dan mencabut semua kabel yang menempel, Ghena melakukan peregangan sebentar. Meski tinggal di apartemem studio, masih cukup ada ruang untuknya bergerak bebas. Dia memang sengaja tidak mengisi banyak perabotan di dalamnya. Bagi Ghena, yang terpenting adalah fungsi dan kenyamanannya.
Ponsel Ghena berbunyi. Dia melihat nama Gheo tertera di layar, lalu melihat jam di dinding. Ghena buru-buru menerima panggilan itu.
“Kenapa, Yo?” tanyanya bernada cemas.
“Kok suaranya begitu, Kak? Enggak senang di telepon adik kesayangannya?”
“Kamu lihatlah ini sudah berapa? Beneran nggak ada apa-apa? Ibu sama Bapak sehat, kan?”
“Ya, Tuhan! Semuanya sehat dan nggak kekurangan apa-apa.”
“Syukurlah. Terus kamu menelepon jam segini ada apa? Kamu bikin masalah?”
“HEY! Bagaimana aku bisa cerita kalau Kakak terus tanya ini-itu? Aku cuma bilang, kalau aku dipromosikan menjadi asisten manajer yang menangani wilayah Jabodetabek. Maaf baru sempat mengabari, tadi habis makan-makan sama teman kantor. Soalnya minggu depan aku sudah pindah ke kantor pusat di Jakarta.”
Ghena menjerit di telepon, membuat Gheo menjauhkan benda itu dari telinganya.
“Kakak ikut senang. Selamat, ya. Jangan lupa jaga amanah orang ke kamu. Jangan kecewakan mereka. Jaga nama baik keluarga.”
“Aku juga mau bilang, Kakak nggak perlu terlalu ngotot ngerjain proyek GW. Kakak nggak perlu membiayai kuliahku lagi. Apalagi gajiku lebih dari cukup untuk menanggung kebutuhan Ibu dan Bapak. Sekarang giliran aku yang berjuang untuk keluarga. Kakak bisa fokus untuk diri Kakak sendiri.”
Hati Ghena menghangat dan matanya jadi basah mendengar kata-kata Gheo. Dia terharu sekaligus bangga pada adik sematawayangnya itu.
“Kak? Kakak masih di situ?”
Ghena buru-buru menyeka matanya. “I-iya, Yo. Sekali lagi selamat, ya. Titip salam buat Ibu dan Bapak.”
Usai bicara dengan adiknya, Ghena baru menyadari tubuhnya sangat lelah. Bahkan dia sampai menyeret kakinya ke kamar mandir untuk melakukan rutinitas sebelum tidur. Mengosongkan kandung kemih, cuci kaki, sikat gigi, dan serangkaian perawatan wajah mandiri. Sejak lima tahun terakhir, dia rajin merawat kulitnya. Itu pun setelah didesak dan dipaksa Rosi. Awalnya Ghena menurut karena bosan dikuliahi, tapi belakangan ini dia melakukannya karena kesadaran.
Ranjang empuk berukuran queen size bergoyan pelan ketika Ghena melempar tubuhnya di atas kasur per itu. Dia merentangkan tangan dan kakinya, seraya menatap plafon kamar. Dia membayangkan peristiwa paling membahagiakan dalam hidupnya. Dia mulai repot memikirkan bagaimana akan menjawab pertanyaan Bastian nanti.
“Yes, I do!” adalah kata-kata yang sering ditulis Ghena dalam novel, ketika sang wanita menjawab lamaran kekasihnya. Ghena berpikir, apakah dia pun untuk mengatakan hal yang sama?
Ghena berguling ke sisi lain ranjang, membuka laci dalam posisi telungkup, lalu mengambil sebuah buku berwarna hijau daun muda, kemudian mulai menuliskan rangkaian kejadian hari ini. Dia menggambar bentuk hati besar di tengah halaman, kemudian menuliskan namanya dan Bastian di tengah-tengah gambar tersebut. Tidak lupa dia pun mencantumkan tanggal jadian mereka.
Sulung dari dua bersaudara itu tergelitik untuk mengintip tulisan lamanya di buku tersebut. Kebanyak berisi curhatannya tentang Bastian. Tentang kekecewaannya setiap kali lelaki itu menunda membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Ghena dan Bastian kenal di kampus saat acara penerimaan mahasiswa baru. Bastian merupakan salah satu panitia penyambutan kala itu. Hanya butuh tiga bulan bagi mereka untuk memutuskan menjalin kasih. Meskipun tidak ada pernyataan cinta, tetapi sikap keduanya cukup menggambarkan hubungan mereka dengan jelas. Keduanya sepakat untuk menjadikan tanggal ciuman pertama mereka sebagai tanggal istimewa untuk diperingati di kemudian hari.
Hubungan Ghena dan Bastian cukup lancar. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Banyak mahasiswa di kampus yang menjadikan hubungan mereka sebagai couple goal. Bastian juga berjanji akan segera menikahi Ghena begitu mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, janji tinggallah janji. Hubungan Ghena dan Bastian tetap berjalan, seperti biasa.
“Kamu sabar, ya! Aku sedang berusaha biar kamu nggak susah hidup bareng aku,” kata Bastian suatu hari, saat Ghena bertanya kapan akan meresmikan hubungan mereka.
“Aku lagi memantaskan diri sebelum menemui orang tua kamu, Sayang. Kamu mau menunggu aku, kan? Aku berharap kamu mau mendukung aku. Ini semua demi kita.”
Bastian mengucapkan kata-kata serupa itu terus setiap kali ada yang menyinggung soal hubungan mereka. Sekali-dua kali, Ghena masih bisa ternyum menanggapi ucapan Bastian. Namun, setelah mendengarnya selama bertahun-tahun dia mulai mempertanyakan keseriusan kekasihnya itu.
Ghena mulai bosan pada Bastian yang selalu berlindung di balik kata “Belum siap”. Ketika didesak, kata selanjutnya yang keluar adalah “Kamu, sabar sedikit lagi.”
Selama belasan tahun kebersamaan mereka, tidak pernah sekalipun Bastian mengenalkan Ghena dengan keluarganya. Lelaki itu berdalih takut dipaksa buru-buru menikah saat tahu dia memiliki pasangan. Bastian pun selalu menolak diajak bertemu keluarga Ghena dengan alasan yang sama.
Ghena kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia selalu luluh dengan rayuan Bastian setiap kali dia merajuk. Bastian bukan hanya cinta pertama Ghena. Bastian adalah dunianya. Kehidupan Ghena berpusat pada lelaki itu. Dia hanya bisa menumpahkan keluh-kesahnya pada Rosi.
Rosalia Anggraeni, adalah orang yang dikenalnya saat duduk di bangku SMA. Mereka langsung cocok satu sama lain. Persahabatan keduanya makin erat saat berkuliah di kampus yang sama. Namun, percintaan Rosi lebih beruntung. Setidaknya itu yang dipikirkan Ghena. Reza melamar Rosi dua tahun setelah kelulusannya. Dan yang membuat Ghena miris, Reza masih bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah bank swasta. Sangat berbeda dengan Bastian.
Di saat Ghena sudah tak lagi berharap, karena tidak mau menelan pil pahit kekecewaan lagi, Bastian malah memberikan angin surga. Orang yang biasanya harus diingatkan jauh-jauh hari tentang tanggal bersejarah baginya dan Ghena, sekarang malah mengingatnya. Bahkan dia mengajak Ghena lebih dulu untuk bertemu dan makan malam.
Kekecewaan selama bertahun-tahun akan terbayar. Penantian Ghena akhirnya akan berujung dan berakhir bahagia. Bastian akhirnya akan melamar Ghena dan mengakhiri penantiannya selama 15 tahun. Ghena bisa pulang dan bertemu keluarganya dengan dagu terangkat. Dia tidak perlu pergi dan bersembunyi setiap kali ada kerabat yang bertanya kapan dia akan menikah.
Ghena memasang pengingat untuk acaranya besok dengan Rosi. Sebelum mematikan lampu, dia pun mengirimkan pesan singkat pada Bastian. “Aku nggak sabar mau ketemu kamu Sabtu nanti. Miss you so badly.” Dia pun mengirimkan banyak emotikon hati dan cium di akhir pesannya.
**
Alarm di ponsel Ghena sudah menyalak sejak pukul delapan, tapi perempuan yang akrab dipanggil Ghe itu mematikannya lagi. Begitu alarm kedua berbunyi, dia langsung bangun dan bersiap. Ghena mengenakan celana bahan berwarna cokelat tua dan kaos putih lengan panjang pas badan. Dia membuat semangkuk mi instan dan kopi susu untuk sarapan.
Untuk melengkapi penampilannya, Ghena memakai sepatu kets putih dan tas slempang berukuran sedang. Dia langsung menyambar kunci motor di tergantung di dinding. Dengan mengendarai motor matiknya, Ghena membelah jalanan menuju rumah Rosi di bilangan Tangerang.
Ghena sengaja berangkat lebih awal karena ingin santai dalam berkendara. Dia mampir ke mini market di depan komplek rumah Rosi, membeli aneka jajanan untuk buah tangan. Pukul 11.10 Ghena sudah tiba di rumah sahabatnya. Suara Rosi yang sedang berusaha menenangkan Amar, terdengar sampai ke halaman depan.
Ghena langsung masuk setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Meskipun dia tahu Rosi tidak mendengarnya, dia tetap melakukan hal tersebut.
“Amar! Tante Ghe datang bawa hadiah. Mau, nggak?”
Seketika saja suara rengekan Amar berhenti, digantikan derap langkah kaki mungil. “Tante Ghe,” sapa Amar lalu menghambur memeluk Ghena yang sudah berjongkok.
“Wah, keponakan Tante sudah besar. Sebentar lagi Tante kalah tinggi.” Ghena sengaja memosisikan dirinya lebih rendah dari Amar.
“Tante bawa apa?”
Ghena mengangsurkan bungkusan plastik yang dibawanya. “Nih! Amar lihat sendiri. tapi jangan langsung dihabiskan, ya!”
“Makasih, Tante Ghe.” Amar kembali menghambur dan mencium kedua pipi Ghena.
“Wah! Anak Bunda dapat apa tuh dari Tante Ghe? Bunda dibagi, nggak?”
“Bagi.”
“Sorry ya, Ghe. Gue lagi tanggung masak buat Amar. Sebentar lagi kok. Dari tadi dia rewel banget. Minta ikut terus.”
“Ya ajak aja. Toh kita belanjanya dikit doang. Kalau lo yang belanja, baru Amar ditinggal. Bukannya apa, gue takut lo lupa bawa anak.”
“Sialan lo. Nyokap gue pas lagi di rumah kok. Nanti gue titipin.”
Tiba-tiba Amar berlari dan berdiri di depan Ghena. “Tante, emang benar, Amar nggak boleh ikut karena nggak boleh sama Tante Ghe? Amar janji, nggak akan lari-lari.”
Ghena kembali merendahkan tubuhnya. “Siapa yang bilang Tante larang Amar ikut?” Anak yang berusia lima tahun itu tidak menjawab, tapi matanya melihat ke arah Rosi. “Bunda yang bilang?” tebak Ghena.
Amar mendekat dan berbisik, “Ngomongnya pelan-pelan, Tante. Nanti Bunda marah.”
Suara yang dipikir Amar sebuah bisikan, nyatanya terdengar oleh Bundanya.
“Udah ajak aja, Ros! Kalau dia ngerengek terus malah makin lama kita jalannya.”
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Rosi menyerah. Dia setuju untuk mengajak Amar ikut. Masakan yang baru matang dia simpan ke wadah khusus. Dia pun membawa botol minum dan camilan untuk anaknya.
“Amar, kita ke mal buat nemenin Tante Ghe belanja. Kita nggak jajan, ya!”
“Iya. Amar nggak minta jajan, Bun. Janji!” bocah lelaki itu menjulurkan jari kelingkingnya, “tapi kita ke temjon ya, Bun.”
“Itu sama aja jajan, Sayang. Mainnya kan pakai uang.”
“Kita lihat-lihat aja.”
Ghena hanya mengulum senyum mendengar percakapan ibu dan anak itu. Tiga puluh menit kemudian mereka bertiga baru berangkat.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Ghena mengajak Rosi dan Amar makan. Karena restorannya berada di depan arena permainan, Amar merengek ingin melihat-lihat.
“Ghe, gue minta maaf banget, ya. Enggak biasa-biasanya Amar rewel begini.”
“Dih, kayak sama siapa aja! Santai aja kali, Ros. Gue malah seneng. Jarang-jarang ini gue ketemu Amar. Anak lo itu ngangenin, tauk!”
Akhirnya Ghena dan Rosi mengalah. Mereka menemani Amar bermain beberapa permainan. Setelahnya anak itu mau diajak pergi. Entah sudah berapa toko yang disambangi ketiganya, tapi belum ada satu pun barang yang dibeli. Rosi belum menemukan sebuah baju yang dirasanya pas dan pantas untuk dikenakan sahabatnya.
Amar yang mulai kelelahan kembali merengek dan minta digendong oleh Rosi. Sudah berulang kali anak itu menguap. Ghena merasa kasihan, lalu mengajak Rosi beristirahat. Ajakan itu ditolaknya dengan dalih bisa tetap berjalan sambil menggendong Amar.
Satu jam berlalu dan mereka masih belum mendapatkan apa-apa. Ghena dan Rosi sudah bergantian menggendong Amar.
“Ros, kayaknya baju yang di lantai dua itu oke deh. Gue beli itu aja.”
Rosi berusaha mengingat-ingat baju yang dimaksud Ghena. “Yang hitam itu? Bagus sih, tapi masa hitam, Ghe? Emangnya lo mau ke pemakaman?”
“Gue sreg sama modelnya. Simple.”
“Yang merah lebih oke. Kalau mau beli yang itu aja. Merahnya juga keren, nggak norak.”
“Iya, tapi talinya kecil banget, Ros, kayak mi. Gue takut putus pas dipakai.”
“Ya lo jangan atraksi pas pakai baju itu. Duduk yang anggun.”
“Terbuka banget. Nanti kalau gue masuk angin gimana?”
“Ya udah. Terserah lo aja kalau gitu. Lo pake kaos kayak sekarang juga nggak apa-apa. Lagian cuma makan malam doang, kan?”
“Jangan ngambek dong, Ros. Iya, deh gue nurut sama lo. Gue pasrah aja. Ayo kita balik, biar pulangnya nggak kesorean. Gue kan kudu kejar setoran nih.”
“Kalah sopir angkot sama lo.”
Rosi mengambil Amar dari gendongan Ghena biar dia bisa menjajal pakaian yang akan dibelinya. Bukan itu saja, Rosi pun mendesak Ghena untuk membeli sepasang stiletto dengan warna senada dengan pakaiannya.
Acara belanja akhirnya resmi berakhir setelah Ghena memaksa Rosi keluar pusat perbelanjaan. Makin lama berada di dalam sana, entah ide apa lagi yang bakalan muncul di kepala Rosi.
“Eh, kita belum ke salon? Balik lagi, yuk! Mumpung masih sempat, nih,” ajak Rosi.
“Besok-besok ajalah. Gue nggak sanggup kalau masuk lagi. Kaki gue udah mau copot rasanya.”
“Aji mumpung. Nanti lo tinggal tidur.”
“Nambah masalah lagi aja. Tulisan gue apa kabarnya?”
Wajah Rosi berubah murung. “Maaf ya, Ghe. Kalau nggak ngajak Amar, mungkin jadwal kita nggak akan berantakan. Besok gue temeninnya nyalon deh. Kita spa aja sekalian.” Baru Ghena ingin membantah, Rosi langsung memelototinya. “Kalau nolak, nggak usah temenan sama gue.”
“Terserah lo deh. Kita pulang sekarang, ya! Nanti kesorean.”
Ghena menyimpan semua barang belanjaannya di bagasi motor sebelum meninggalkan parkiran. Usai mengantarkan Rosi ke rumahnya, Ghena langsung berpamitan. Dia minta maaf karena tidak bisa tinggal lebih lama.
Rosi pun kembali meminta maaf padanya, karena rencana tadi tidak sesuai harapan. “Besok gue yang jemput lo. Soalnya lokasi spa lebih dekat dari tempat lo. Makan siang di luar aja, biar cepet.”
“Atur aja deh. Gue nurut aja, daripada kualat.”
Sama seperti saat berangkat, Ghena pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di unitnya, Ghena langsung membersihkan diri. Dia butuh mandi agar tubuhnya segar dan bisa diajak kerja sama untuk bekerja. Ghena baru benar-benar merasakan betisnya menegang saat duduk dan mulai membuka laptopnya.
**