Marcel masih diam mencerna semua yang terjadi. Dia memikirkan keadaan yang seakan menjepitnya. Di satu sisi, kehidupan bahagia dan penuh cintanya bersama istrinya, Michelle dan di sisi lain keluarganya. Dia seakan merasa keputusannya 3 tahun yang lalu meninggalkan keluarganya demi Michelle adalah kesalahan yang menorehkan banyak luka. Apalagi ketika mengingat adiknya, Michael yang keadaannya terpuruk saat ini. Membayangkannya saja sudah membuat Marcel sesak nafas. Marcelpun menatap ibunya dan berkata, “Aku akan pulang,Ma. Ini demi Michael”.
Mendengar itu, Ribka pun memeluk erat putra sulungnya bahagia. Michelle hanya bingung tak mengerti. Dia berharap keputusan Marcel memang yang terbaik dan tidak merugikan siapa pun. Setelah mendengar kepastian kepulangan sang putra, Ribka pamit kembali ke Jakarta.
Setelah itu, Marcel hanya diam tak bicara sampai tengah malam. Michelle enggan membuka percakapan karena merasa suaminya memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi dalam hati, Michelle sangat takut seandainya Marcel memilih untuk meninggalkannya seperti yang dulu dilakukan sang adik padanya. Ya, sebelum mengenal Marcel, Michelle menjalin hubungan asmara dengan Michael. Semuanya baik-baik saja sebelum keluarga Buana menentang habis hubungan mereka dan memisahkan mereka. Sejujurnya, Michelle sangat trauma ditinggalkan oleh orang yang dia cintai.
“Michelle”, Marcel mulai bicara.
“Ya, mas?," jawab Michelle dengan perasaan tak karuan memenuhi pikirannya.
“Dibanding diriku, mungkin Michael lebih membutuhkanmu saat ini. Aku akan pulang dan sangat tidak mungkin aku mengenalkan dirimu sebagai istriku kepada adikku. Itu akan membuat Michael semakin sedih. Bisakah kau membantu adikku?," tanya Marcel dengan nada sendu sekaligus sedih tak berani menatap Michelle. Saat bertanya demikian, Marcel sadar dia telah bersikap egois kepada Michelle. Dan memang tak seharusnya dia meminta hal demikian kepada Michelle yang adalah istrinya.
“Apa maksudmu? Mas…ingin aku kembali kepada adikmu. Mas…jahat! Hiks…!," Michelle benar-benar tidak terima dengan permintaan Marcel. Rasanya seperti Marcel mempermainkan kehidupannya. Dia seakan-akan seperti barang yang dioper ke sana kemari dan dipermainkan oleh kakak-beradik itu.
“Aku tahu aku salah hiks…tapi aku sangat menyayangi Michael. Sudah hampir 5 tahun kami tidak bertemu. Selama di Amerika, aku tidak sempat melihat adikku itu dan saat menikahimu, aku sudah tak tahu kabar apapun tentang keluargaku. Aku sangat menyayangi Michael lebih dari nyawaku sendiri hiks…A-aku selalu melakukan apapun yang membuat Michael bahagia. Michelle…posisiku sangat sulit," jelas Marcel sambil terisak. Dia benar-benar merasa sedih dan tertekan.
“Pantaskah seorang suami meminta istrinya untuk menjadi milik orang lain? Apalagi menjadi kekasih adiknya sendiri? Suami macam apa kau ini Marcel? Mas orang berpendidikan kan? Apa begini caramu menghargai istrimu? Hiks…! Aku tidak akan pernah melakukannya!” Michelle tak terima dengan permintaan Marcel. Dua benar-benar sudah tak bisa memaafkan Marcel. Hatinya benar-benar hancur.
“Aku minta maaf. Hiks…Aku tahu, kalau aku bukan suami yang baik. Tapi, tak bisakah kau anggap ini sebagai permintaan seorang kakak? Ah, tapi itu keputusanmu Michelle," Marcel memohon bahkan berlutut kepada istrinya. Michelle merasa sedih ketika melihat suaminya sampai seperti ini. Tapi disisi lain dia juga punya kehormatan yang dijunjungnya tinggi. Apa mungkin dia ingin menjatuhkannya demi cintanya.
“Mas tahu, bertahun-tahun aku berusaha melupakan Michael. Bahkan setelah kita menikah, aku masih belum bisa benar-benar melupakannya. Tapi, disaat aku sudah bisa berdamai dengan masa laluku, kenapa mas malah minta aku untuk kembali? Ini sama saja mas mau menghancurkan aku untuk kedua kalinya. Enggak mas, aku gak akan kembali sama Michael. Kalau mas mau datang ke sana tanpa aku, tidak apa. Tapi mas, jangan tinggalkan aku hiks…! Aku tidak sanggup jatuh kedua kalinya," balas Michelle dengan penuh kesedihan.
Marcel memeluk erat Michelle. Mereka berdua menangis dan Marcel mengecup dahi istrinya itu. Dia menatap Michelle dengan penuh kesedihan dan pergi ke kamar untuk mengepak barang-barangnya. Ya, keputusan Marcel sudah bulat. Dia pulang ke Jakarta demi adiknya dan juga keluarganya. Pada akhirnya, cintanya kalah dengan kenyataan yang sangat pahit. Rumah tangga yang mereka bangun dari nol mungkin akan berakhir sampai disini.
“Mas, aku harap kamu pulang dan jemput aku. Aku ingin kamu memperkenalkan aku sebagai istrimu saat keadaannya memungkinkan," pinta Michelle saat Marcel hendak pergi di pagi-pagi buta.
“Mas sangat sayang sama kamu. Tapi mas gak tahu apa yang akan terjadi. Mas gak bisa jamin apakah keadaan memungkinkan untuk membuat kita kembali. Mas ingin kita bersama dan berdamai dengan masa lalu. Tolong doakan yang terbaik ya," Marcel berusaha menguatkan Michelle. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi satu hal yang pasti, ketika Marcel melangkahkan kaki keluar dari rumah kecil mereka, dia tidak akan pernah kembali. Ada hal besar yang menunggunya di Jakarta yang akan terus mengikatnya di sana.
Michelle terus memandang kosong jendela rumahnya. Dia bertanya-tanya apakah Marcel sudah sampai Jakarta atau belum. Setidaknya butuh waktu seharian dari Jogja ke Jakarta. Apalagi, perjalanan dari Desa mereka yang terpencil membutuhkan waktu setengah hari ke kota. Dia terus mengingat kenangan manis mereka sambil meneteskan air mata berharap semuanya bisa kembali seperti semula.
‘Aku berharap Tuhan memang menakdirkan kami bersama’ harapnya dalam hati sambil melihat cincin yang diberikan Marcel padanya sebagai tanda lahiriah bahwa dia adalah milik pria itu.
Flashback
“Mas, kenapa mataku ditutup?" Michelle bertanya saat Marcel dari tadi menutup matanya dan menuntunnya ke suatu tempat. Tiba-tiba, langkah pria itu terhenti membuat Michelle kebingungan. Marcel pun membuka penutup mata istrinya.
“Woah…kunang-kunang! Indah sekali mas!," ujar Michelle senang saat Marcel membawanya ke tempat indah dan ada kunang-kunang indah bercahaya disitu.
“Kamu tahu? Saat lembur, mas sempat perhatikan tempat ini dan langsung teringat untuk bawa kamu kesini," ucap Marcel dibalas senyum indah oleh istrinya.
“Ini indah sekali! Dulu waktu kecil, aku sangat ingin melihat kunang-kunang yang nyata dan kamu membuatnya nyata mas," jawab Michelle senang sambil berputar-putar diantara kunang-kunang itu.
“Berbeda dengan di kota ya mas. Kita sulit mencari pemandangan alam yang seindah ini," sambung Michelle lagi.
“Aku senang kalau kamu suka. Melihatmu bahagia, aku seakan lupa dengan semua yang terjadi," kata Marcel seketika dan membuat Michelle terdiam. Michelle langsung meraih suaminya dan memeluknya erat.
“Mas menyesal memilihku daripada keluarga mas?Apa mas berpikir untuk kembali?,” tanya Michelle dengan sendu. Marcel membalas pelukan istrinya dan menjawab, “Kita suami dan istri, tidak akan ada yang memisahkan kita kecuali kematian . Ketika aku memutuskan untuk memilihmu, aku tidak akan pernah menyesalinya. Aku bahkan sangat bahagia disini. Tidak ada dokumen-dokumen kantor, tidak ada proyek ataupun kontrak yang menguras tenaga dan emosi. Yang ada hanya kebahagiaan”.
Jawaban Marcel benar-benar semakin memantapkan Michelle akan cinta pria itu. Dia merasa bahwa Marcel adalah satu-satunya orang yang akan terus berada disisinya selamanya. Dia yakin bahwa pria itu tak akan meninggalkan dirinya dalam kondisi apapun.
“Terima kasih atas cintamu! Kamu memang pria yang terbaik di dunia ini! Semua wanita di dunia pasti iri padaku karena memiliki suami yang tampan dan baik hati sepertimu,” puji Michelle.
“Dan juga semua pria di dunia ini akan iri padaku karena aku memiliki istri yang baik dan cantik sepertimu Michelle. Ah, bukan itu saja, Kamu itu cerdas dan ramah juga. Kamu adalah wanita paling sempurna, Michelle” balas Marcel memuji Michelle.
“Gombal ih!” Michelle berkata sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena pujian Marcel.
“Aku serius! Kamu memang wanita terbaik di dunia. Wajar dong aku bangga dengan istri terbaik dan tercantik di dunia ini,” puji Marcel lagi.
“Berlebihan ih! Pasti banyak wanita yang lebih sempurna di luar sana,”Michelle menyangkal pujian Marcel.
“Baiklah, tapi bagiku kamu yang terbaik,” ucap Marcel lalu mengecup dahi Michelle dengan penuh kasih sayang.
End of Flashback
“Aku yakin kamu pasti pulang mas,” Michelle berkata terus meyakinkan dirinya sendiri.
…
Marcel POV
Aku terus menatap jalanan yang dilalui menuju Jakarta. Mungkin beberapa jam lagi sampai di terminal. Aku terus merasa bersalah pada keluargaku dan juga Michelle. Aku ragu apakah keputusan yang kuambil saat ini sudah benar? Meninggalkan istri demi keluargaku. Apalagi Michael, dia adalah yang terpenting buatku. Dari kecil aku selalu memberikan apapun yang dia minta dariku, bahkan sebelum dia memintanya.
Hubungan kami sangat dekat, aku masih ingat saat dia menangis ketika aku akan pergi ke Amerika untuk kuliah. Aku selalu membawakan buah tangan untuknya saat pulang tiap tahun. Dia akan menjadi orang yang paling merindukanku. Terlebih lagi, dari kecil akulah yang paling memberi perhatian padanya. Karena ayah dan ibu cukup sibuk dan hanya akulah yang ada disisinya.
Mendengar keadaannya sekarang, jujur membuat hatiku tersiksa. Aku terus berpikir apakah mungkin aku mengabaikan adikku yang dalam keadaan menyedihkan dan memikirkan kebahagiaanku sendiri? Kami juga sudah bertahun-tahun tidak berjumpa karena kesibukan dan sekarang malah mendengar keadaannya seperti ini. Demi Tuhan! Aku tidak sanggup terus membiarkan adikku itu. Aku menyesal tidak tahu kalau sebenarnya adikku sangat mencintai Michelle. Seandainya aku tahu, aku pasti akan membantunya dan bukannya malah menjadikan Michelle sebagai istriku.
‘Maafkan kakakmu ini Michael,’batinku penuh sesal.
‘PENGHENTIAN BERIKUTNYA, TERMINAL GROGOL’
“Sudah sampai,” gumamku sambil mengangkat ranselku. Aku pun turun lalu mencari taksi menuju perumahan Puri Indah. Saat melihat sekeliling, terkadang aku juga rindu dengan keadaan kota. Memang sangat berbeda dengan desa yang tenang dan sejuk, kota begitu padat dan sibuk. Tapi, di lingkungan seperti inilah aku dibesarkan. Ah, aku memang pengecut! Aku mengorbankan cintaku yang sudah kuperjuangkan mati-matian. Tapi, tidak mungkin juga aku kembali pada Michelle. Karena aku pasti tidak akan pernah merasa tenang seumur hidupku dan merasa berdosa kepada adikku selamanya.
‘Maafkan aku, Michelle’ aku menyesal.
End Of Marcel POV
Perumahan Puri Indah, Jakarta Barat
‘TING-TONG’, Marcel menekan bel rumahnya dan keluarlah seorang pria tegap berseragam satpam menghampirinya dari Pos Satpam.
“Pak Marcel? Ya Tuhan! Akhirnya Bapak pulang, saya buka pagarnya ya pak," sambut pak satpam terkejut sekaligus senang melihat kepulangan majikannya. Marcel hanya mengangguk dan masuk setelah sang satpam membukakan pagar besar rumah itu.
“Makasih ya, Pak Sudir” Marcel berucap pada Pak Sudir yang adalah satpam di rumahnya. Bisa dibilang, rumah keluarga Buana adalah yang terbesar dan termewah di perumahan elit ini.Marcel juga terkenal sebagai pria yang ramah dan mudah didekati oleh sekitarnya. Dia juga tidak sombong dan bicara dengan sangat santun kepada siapapun.
“Marcelll!!!” Sang ibu langsung menyambut kedatangan putranya itu. Dia berlari ketika melihat siluet putranya di depan rumahnya. Sejujurnya, Marcel sangat merindukan keluarganya. Terlebih lagi, kesan terakhir dia dan keluarganya sungguh tidak baik.
“Cepat juga mama sampai” kata Marcel memeluk ibunya.
“Mama kan naik pesawat, dari semalam juga udah sampai," jawab Ribka terus memeluk erat putra sulungnya itu. Setelah melepas pelukannya, Ribka melihat di sekitar Marcel seperti mencari seseorang.
“Michelle tidak ikut bersamamu?”, tanya Ribka dibalas gelengan oleh Marcel.
“Ah, ya sudahlah! Kamu mau bertemu Michael?” ajak Ribka diangguki cepat oleh Marcel. Merekapun berjalan menuju kamar Michael dan Ribka membuka kunci kamar Michael.
“Kenapa kamar Michael dikunci ma? Memangnya dia penjahat?” Marcel heran melihat kamar adiknya harus dikunci.
“Papamu malu kalau ada rekan bisnis yang datang dan tahu anaknya mengidap depresi berat," jawab Ribka sendu. Mendengar itu, Marcel mengepalkan tangannya kuat. Dia sangat sedih ayahnya bukannya kasihan tapi malah malu dengan anaknya sendiri.
‘Papa sama sekali gak berubah’, pikir Marcel.
‘CEKLEK’
Pintu kamar terbuka, terlihatlah seorang pria yang sedang terduduk sambil memeluk kakinya di atas ranjang dengan keadaan yang buruk dan kaki kirinya dirantai. Ya, pria itu adalah Michael Arya Buana, adik dari Marcel Arya Buana. Hati Marcel langsung hancur berkeping-keping melihat keadaan adik tersayangnya saat ini. Saat diperjalanan, memang Marcel sudah membayangkan keadaan adiknya itu. Tapi saat melihatnya langsung, Marcel bahkan tak sanggup bernapas.
“Michael” suara lembut Ribka mengalihkan perhatian Michael. Dia melihat ibunya dengan tatapan kosong. Ribka memang selalu menangis setiap melihat keadaan putra bungsunya itu. Dia tak sanggup menahan air matanya melihat betapa teganya suaminya memperlakukan putranya seperti binatang. Dia menyesal terus mendiami sikap suaminya yang sombong dan egois dan menyimpan semuanya sendiri.
Flashback
“Mas, kenapa kamu harus merantai Michael? Kamu pikir dia itu hewan? Aku gak terima mas!” teriak Ribka pada Elmand, suaminya.
“Kau tahu sudah berapa dokter yang dilukainya? Kau mau media mengetahui kalau putra kita mengidap depresi? Cih! Menganggapnya putraku saja membuatku muak! Bagaimana dia bisa selemah itu karena cinta? Dia sama sekali tak bisa menjadi pemimpin kelak! Mentalnya lemah!” balas Elmand dengan nada meremehkan dan sombong.
“Kamu gak punya hati mas! Dia begini juga karena kamu! Marcel juga pergi karena kamu! Kamu selalu mementingkan posisi dan martabat di masyarakat! Tapi sikapmu membuat keluarga kita terpecah belah!" Ribka sudah kehabisan kesabaran melihat kesombongan suaminya itu.
“Mau nyalahin aku, hah!Kamu yang mendidik mereka terlalu lemah! Sekarang lihat hasilnya! Anak kamu lemah dan tidak bisa diandalkan! Buat malu nama besar keluarga Buana saja!” Elmand menyalahkan istrinya lalu meninggalkan Ribka pergi karena tak mau melanjutkan perdebatan dengan sang istri.
“Mas! Tolong jangan seperti ini mas! Hiks…jangan sakiti anakku hu…hu…hu” tangis Ribka di ruangan megah itu hanya disaksikan kebisuan oleh para pelayan yang diam-diam menguping pertengkaran majikannya itu.
End of Flashback
“Mama…kakak…” gumam Michael lemah. Marcel sungguh tak sanggup dan langsung memeluk erat adiknya itu. Marcel menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Michael. Tapi, Michael hanya diam dengan tatapan kosongnya.
“Kakak…” Michael bergumam lagi.
“Ya?” balas Marcel dengan nada sendu.
“Kau baru pulang dari Amerika? Kemana saja kau hah? Kau sama sekali tidak mengabariku?” tanya Michael bertubi-tubi pada sang kakak. Marcel terdiam seribu bahasa mendengar penuturan sang adik. Dia tak sanggup mau menjawab apa pada Michael.
“Kalau kau ada, kau pasti bisa membantuku kan? Aku ingin menemukan Michelle, dia menghilang tanpa jejak kak! Aku ingin menebus semua rasa bersalahku padanya! Aku ingin menjelaskan semuanya kak!” Michael sudah mulai banyak bicara. Marcel masih diam mendengarkan penuturan adiknya.
“Mama …dia hanya diam saja kak! Mama selalu takut pada ayah! Mama tidak menyayangiku! Hanya kakak yang paling mengerti aku! Mama juga baru kali ini masuk ke sini kan? Untuk apa, ma? Untuk apa!” Michael mulai membentak sang ibu dan hanya dibalas kebungkaman dan isakan sang ibu. Ribka putus asa dan merasa bersalah pada putra bungsunya itu.
“Kak, tolong! Carikan Michelle kak! Dia adalah hidupku! Rasanya mau mati kalau dia tak ada disini kak! Tolong kak!” Mohon Michael sambil memegang erat tangan kakaknya itu. Tubuh Marcel semakin bergetar karena merasa bersalah luar biasa pada adiknya.
“KAK! Kenapa Diam?! Kakak mau bantu aku kan?! Kakak tidak akan seperti papa dan mama kan?” Michael mulai mengotot dengan suara yang besar. Marcel masih terbisu tak sanggup menjawab sepatah katapun.
“Kakak tahu, orang tua kita berusaha melenyapkan Michelle, kak! Mereka angat sombong dan angkuh hanya karena Michelle anak yatim dan miskin. Apa salahnya dia miskin? Michelle itu baik hati kak! Aku tak sanggup melihatnya menderita dan memilih mengikuti kemauan papa dan mama!" kata Michael lagi sambil memukuli dadanya sendiri. Saat mendengar perkataan Michael, Marcel tersadar apa yang sebenarnya terjadi.
Ini sebenarnya sudah dia perkirakan. Ternyata, keluarga ini memang mementingkan kehormatan mereka daripada kebahagiaan anak mereka.
‘Harusnya aku tidak pernah mencintaimu, Michelle’, sesal Marcel dalam hatinya.
“Kak…aku…aku sangat mencintainya kak! Aku rela mati buatnya kak! Aku tidak bisa hidup tanpa Michelle kak!!” teriak Michael sambil menarik rambutnya sendiri. Marcel yang melihat itu langsung menenangkan adiknya itu.
“Jangan seperti ini! Kakak mohon, tenanglah," bujuk Marcel dengan suara lembutnya.
“Berjanjilah kak! Satukanlah kami, kak! Janji ya?!” Michael memaksa Marcel berjanji padanya.
“Iya, kakak akan mempertemukan dan mempersatukan dengan Michelle. Tapi kakak mohon kamu jangan begini terus. Kakak mohon pulihkan dirimu," janji Marcel sambil memohon agar adiknya mau sembuh.
“Iya! Apapun akan kulakukan demi Michelle! Dia…tidak boleh melihatku seperti ini kan kak? Dia pasti sedih kan kan?” ucap Michael diangguki oleh Marcel.
“Sekarang minum obatmu ya? Kamu sudah sarapan?”, tanya Marcel.
“Tadi sudah, mereka mencampurkan obatku di makananku kak. Mana ada yang mau mengurusku disini," jawab Michael dengan nada kesal.
“Sekarang ada kakak. Jangan khawatir, kakak akan selalu di sisimu”, ucap Marcel. Jujur, Marcel kecewa dengan ibunya membiarkan adiknya seperti ini.
“Kakak keluar sebentar ya, nanti kakak kembali. Kakak ingin membereskan barang-barang kakak dulu. Istirahatlah!" pinta Marcel diangguki oleh Michael. Marcel pun keluar bersama ibunya. Sekeluarnya dari situ, Marcel langsung menatap marah ibunya.
“Ternyata kalian tega membiarkan Michael seperti itu!” marah Marcel pada ibunya.
“Nak…ini tidak seperti yang kamu pikirkan, nak," ucap Ribka dengan nada sendu dan rasa bersalah.
“Tidak ada pelayan yang berani pada Michael. Dia berulang kali melukai para pelayan dan dia juga pernah mendorong ibu hiks… Ja-jadi mereka tidak ada yang mau mendekati Michael. Mereka hanya akan memberikan makanan dengan campuran obat yang akan menidurkan Michael lalu melepas rantainya. Hati mama selalu tersiksa, nak!” sambung Ribka lagi membuat Marcel semakin sakit hati dengan kenyataan akan keadaan adiknya.
“Apa yang terjadi kalau depresinya kambuh?” tanya Marcel.
“Michael…dia…akan menghancurkan barang-barang disekitarnya lalu melukai siapapun yang ada disekitarnya. Ketika sudah begitu, dia bisa melepaskan rantai dari kakinya. Dia terus berteriak, ‘Michelle maafkan aku! Aku sangat mencintaimu! Tolong beri aku kesempatan!’. Itu yang selalu dikatakannya. Dia hanya ingin bertemu Michelle," jelas Ribka pada Marcel.
Mendengar itu,Marcel terdiam dan terus berpikir apakah mempertemukan Michael dan Michelle adalah jalan terbaik atau bukan. Di satu sisi, Michael harus sembuh dan bisa menjalani kehidupan normal seperti biasa, tapi disisi lain Michelle pasti merasa dipermainkan oleh keluarga Buana. Marcel harus memilih antara cinta dan adiknya. Dan dia sudah bertekad dalam hatinya.
“Ma, aku akan melepaskan Michelle dan berusaha menyatukannya dengan Michael. Akulah yang hadir diantara hubungan mereka. Jika aku tidak mencintai Michelle mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Marcel sebagai tekad. Ribka terkejut mendengar penuturan Marcel.