Stenly Sebastian Miller pria tampan berusia 28 tahun melangkahkan kakinya dengan penuh semangat memasuki ruangan VVIP sebuah restoran di mana wanita kesayangannya —Kimberly Manopo yang sudah lebih dulu menunggunya.
Ia sudah terlambat setengah jam dari janji temunya bersama wanita kesayangannya. Bukan salahnya sebenarnya. Kekasihnya yang mendadak ingin bertemu. Padahal, hari ini jadwalnya sangat padat. Beberapa rapat sampai harus ia tinggalkan karena tak ingin mengecewakan sang kekasih. Stenly rela melakukan apa saja demi membuat wanita kesayangannya bahagia.
“Sayang, maaf. Aku terlambat,” ucap Stenly lalu mengecup singkat bibir Kimberly yang tiba-tiba mendorong tubuhnya agar menjauh.
“Stenly, cukup!”
Stenly mengerutkan keningnya. Heran, karena merasa aneh dengan tingkah wanita kesayangannya. “Apa kamu marah karena aku datang terlambat?” tanya Stenly akhirnya.
Kimberly menggeleng. “ Aku mau kita putus!”
"Putus?" Stenly bertanya berharap Kimberly hanya bercanda.
"Iya, PUTUS!" jawab Kimberly memperjelas ucapannya dengan menekan kata putus.
"Apa yang membuat kamu ingin kita putus? Apa aku melakukan kesalahan? Coba beritahu aku, agar aku bisa memperbaiki semuanya." Stenly kalap. Ia langsung memberondong Kimberly dengan beberapa pertanyaan.
Kimberly memberi senyum meremehkan sebelum menjawab pertanyaan Stenly. "Aku enggak mau punya pacar miskin! Paham kamu!” ujar Kimberly dengan angkuhnya.
“Maksud kamu apa Sayang? Memangnya siapa yang jatuh miskin?” tanya Stenly sambil menyentuh kedua bahu wanita kesayangannya.
"Cukup, Sten!" bentak Kimberly langsung mendorong tubuh Stenly agar menjauh darinya. Ia seolah tak sudi lagi mendapatkan sentuhan pria blasteran yang sudah sering berasa di atasnya. "Jangan kamu kira aku enggak tahu kalau kamu sekarang sudah bangkrut dan jatuh miskin!"
"Kamu tahu dari mana kalau aku bangkrut?" Stenly akhirnya bertanya dengan raut wajah yang sulit ditebak.
Kimberly tertawa. "Halo, Bapak Stenly Sebastian Miller yang terhormat! Kebangkrutan Anda sudah menjadi topik teratas minggu ini. Baik di media cetak ataupun media online. Jadi, mana mungkin aku enggak tahu!" lanjutnya menyindir lagi-lagi dengan senyum meremehkan.
Stenly langsung meraup wajahnya gusar. Tak menyangka Kimberly akan bereaksi sampai seperti ini saat mendengar kabar tentang kebangkrutannya. "Ely, aku memang bangkrut. Tapi, aku yakin bisa membahagiakan kamu,” kata Stenly berusaha membujuk wanita yang saat ini menggunakan mini dress berwarna toska. Rasanya ia tak siap jika haus berpisah dengan wanita yang sudah dua tahun selalu menemani hari-harinya.
"Dengan apa kamu akan membahagiakan aku, Sten? Cinta ..., iya? Apa kamu pikir cukup hanya dengan cinta?" tanya Kimberly semakin meremehkan Stenly.
“Salah satunya, iya," jawab Stenly. "Selain itu, aku janji sama kamu akan membangun lagi bisnisku ini agar bisa selalu membuat kamu bahagia. Tapi, tolong ... beri aku kesempatan," ucap Stenly masih mencoba meyakinkan Kimberly yang sudah tak peduli.
“Enggak! Aku nggak mau! Kamu kira hanya dengan cinta kita bisa hidup!" tolak Kimberly tanpa perasaan. "Silakan kamu cari wanita yang bersedia hidup sama kamu hanya dengan cinta tanpa ada materi!”
“Kimberly, ka —”
"Dan susah jelas kalau wanita itu bukan aku, Stenly! Lanjutnya segera memotong ucapan Stenly. "Bagiku materi adalah segala-galanya dan karena kamu sudah tidak punya apa-apa ... jadi sudah pasti aku akan pergi meninggalkan kamu," ucap Kimberly dengan sangat kejamnya.
"Jadi, apa artinya hubungan kita selama dua tahun ini buat kamu, Ely?" Stenly bertanya dengan rasa sakit hati yang mati-matian ia tahan.
Kimberly lagi-lagi menyunggingkan senyum mengejek . "Jujur, waktu dua tahun itu sudah jelas sangat berarti. Karena kamu masih memiliki segalanya," jawabnya tanpa berpikir. "Tapi, kalau sekarang, itu sudah pasti tidak ada artinya karena kamu sudah tidak memiliki apa-apa! Paham!”
“Ely! Selama ini hubungan kita sudah seperti suami — istri. Kita sudah terlalu jauh dalam berhubungan sampai kita tidak memikirkan lagi batasan," terang Stenly. "Apa kamu tidak berpikir jauh ke sana?”
"Bagiku itu adalah hal yang wajar, Sten. Selama kamu punya uang dan bisa memberiku segalanya, itu enggak akan jadi masalah buat aku."
"Termaksud memberikan tubuh kamu ke aku?" tanya Stenly. Ia kaget Kimberly bisa berkata seperti itu.
“Tentu saja, iya!" jawab Kimberly tanpa ragu. "Anggap saja itu sebagai imbalan," lanjutnya berbicara tanpa beban. Setelah itu Kimberly langsung pergi meninggalkan Stenly tanpa pamit. Bagi Kimberly semua sudah selesai.
“Kimberly!" panggil Stenly tapi tidak mendapat jawaban.
Wanita itu tetap pergi dengan angkuhnya meninggalkan ruang VVIP restoran tidak peduli lagi dengan Stenly 'sang mantan' yang sudah jatuh miskin.
Arghhh!
Stenly yang emosi lalu berteriak. "Kamu akan menyesal Kimberly. Aku bersumpah tidak akan pernah memberi kamu kesempatan kedua, setelah apa yang kamu lakukan hari ini!”.
Stenly adalah pria berwajah blasteran dengan segala kesempurnaan fisik yang ia punya. Ia memiliki darah campuran Indonesia -Jerman. Darah Indonesianya berasal dari mommy-nya. Sementara Daddy-nya adalah asli orang Jerman.
Hari ini adalah hari terburuk baginya. Kisah cinta yang sudah terjalin selama dua tahun harus kandas di tengah jalan karena berita kebangkrutannya.
Stenly adalah seorang pengusaha muda. Ia memiliki perusahaan startup bernama Stentup. Perusahaan yang didirikan Stenly dari nol kini sudah bertransformasi menjadi unicorn yang berpengaruh tidak hanya di Indonesia saja tapi juga di Asia Tenggara.
Tapi, belakangan ini merebak kabar kebangkrutannya di seluruh media online maupun cetak. Hal ini menjadi topik terhangat di kalangan pengusaha. Tanpa mereka sadari ini hanyalah sebuah berita palsu yang sengaja dibuat oleh Stenly. Ia sengaja membuat berita seperti itu untuk menguji kesetiaan kekasihnya — Kimberly yang ternyata tidak setia dan bisa dibilang selama ini hanya memanfaatkan dirinya.
Satu fakta lagi yang tidak diketahui oleh banyak orang termasuk Kimberly. Stenly sebenarnya adalah anak dari pengusaha sukses di Jerman-Andreas Miller. Daddy-nya memiliki perusahaan dengan nama Miller Medical Care yang memproduksi alat-alat kesehatan, terutama untuk dialisis. Tidak hanya itu, keluarganya juga memiliki rumah sakit ternama di Jerman. Jadi bangkrut atau tidak dirinya sebenarnya tidak masalah. Ia sudah memiliki semuanya bahkan sebelum dilahirkan ke dunia Stenly adalah sultan. Fakta ini tidak banyak diketahui oleh banyak orang karena daddynya menetap di Jerman bersama dengan mommy dan adik perempuannya.
Stenly memilih menetap di Indonesia dengan alasan ingin hidup mandiri dan merintis usahanya sendiri .
Dengan keadaannya yang sangat kacau Stenly mengambil gawai di saku celananya dan segera menghubungi seseorang.
"Segera kamu ikuti Kimberly ke mana ‘pun dia pergi dan beritahu saya apa saja yang sedang ia lakukan!" perintah Stenly kepada seseorang di seberang sana. Setelahnya ia langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
Stenly menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Sungguh, Stenly tak menyangka selama dua tahun ia sudah menjadi pria bodoh yang hanya dimanfaatkan oleh wanita bernama Kimberly.
Stenly membuka mata lalu menegapkan posisi duduknya. Lalu ia mengambil sebotol red win yang sudah tersedia di atas meja dan langsung menegaknya. Stenly ingin mabuk agar bisa melupakan kesedihan dan kemarahannya. Sebotol red win langsung tandas dengan sekali tegak.
Prankkk!
Stenly membuang botol red win yang sudah kosong hingga menghantam dinding. Seketika pecahan beling memenuhi lantai ruangan VVIP restoran yang ia sewa. Tapi, Stenly tak peduli. Nanti ia akan membayar lebih.
"Kenapa baru sekarang aku mengikuti saran dari Daddy," ucapnya pada diri sendiri. "Dasar bodoh kamu, Stenly!" lanjutnya memaki diri sendiri.
Stenly yang dari dulu tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan Daddy-nya tentang Kimberly yang hanya mencintainya karena harta mulai merasa menyesal. Stenly masih ingat ditahun pertama hubungannya dengan Kimberly, Daddy sudah mengatakan itu dan ia sama sekali tidak percaya. Stenly sudah terlalu cinta dengan kekasihnya sama halnya yang dirasakan Kimberly, setidaknya begitu yang dirasakan Stenly. Tapi sekarang semua sudah terbukti bahwa apa yang dikatakan Daddy memanglah benar.
Stenly kembali mengeluarkan gawai dari saku celana. Kali ini ia ingin menghubungi Daddy-nya.
"Halo, Boy," jawab Daddy dari kejauhan.
"Dad ... maafin, Sten," ucapnya Stenly tanpa basa-basi.
“Hey, Boy! Are you okay? Ada masalah?" tanya Andreas khawatir.
"Apa yang selama ini Daddy katakan tentang Kimberly ternyata benar. Dia hanya memanfaatkan Stenly!” lirihnya tanpa semangat.
"Puji Tuhan. Akhirnya kau percaya dengan apa yang daddy katakan?"
"Iya, Dad. Stenly sudah membuktikannya sendiri. Daddy tahu, Stenly sengaja membuat berita bohong tentang kebangkrutan Stentup. Mendengar itu Kimberly langsung mengakhiri hubungan kita." Stenly bercerita panjang lebar kepada Daddy-nya.
“Kau patah hati?"
“yes, Dad!"
"Ayolah, Boy! Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena wanita itu mengakhiri hubungannya dengan kau. Kau itu laki-laki, masih banyak wanita yang mau dan pantas kau cintai!”
“Tapi, Stenly cinta sama Ely, Dad!”
"Daddy yakin kamu bisa melupakan wanita itu, Boy!"
"Semoga, Dad!" jawabnya tak bersemangat.
Stenly mengembuskan napas lelah, setelah panggilan dengan Daddy berakhir. Ia memikirkan kembali kata demi kata yang diucapkan Daddy-nya tadi dan akhirnya Stenly memutuskan untuk melupakan Kimberly-wanita yang selama dua tahun ini selalu mengisi hari-harinya.
"Selamat tinggal Kimberly Manopo!" Steven berteriak dari balkon kamar apartemennya yang berada di lantai lima puluh dan saat itulah gawainya kembali berdering. Setelah melihat nama si penelpon Stenly langsung menggeser ke atas icon hijau yang terus berkedip di gawainya.
"Ada berita apa?" Stenly bertanya dengan suara datar.
Si penelpon langsung menyampaikan apa yang harus ia katakan. Sehingga, membuat Stenly mengerutkan kening berkali-kali.
"Kirim buktinya ke email saya sekarang juga!" perintah Stenly dan mengakhiri panggilannya.
Dengan langkah tergesa, Stenly berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menuju meja kerja yang tidak jauh dari ranjang. Ia langsung duduk di kursi dan segera membuka laptop-nya. Stenly tampak serius saat membuka email dari orang suruhannya. Seketika ia membanting laptop itu hingga hancur, berserakan di lantai.
"Brengsek kamu, Kimberly!" teriak Stenly penuh dengan amarah. Apa yang dilakukan Kimberly berhasil menyulut amarahnya.
Stenly berdiri, dengan langkah tergesa ia berjalan ke luar apartemen hanya untuk mencari angin segar. Pikirannya yang sangat kacau membuatnya memilih untuk berjalan kaki di trotoar, menikmati udara malam yang cukup berhasil menenangkan pikirnya. Sayang, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ia melihat dari jarak seratus meter ada sekelompok pria sedang mengelilingi seorang wanita yang terlihat sangat ketakutan.
Stenly yang tidak tahu apa penyebabnya memilih untuk duduk di kursi yang memang tersedia di tepian jalan sambil mengamati. Dia tak ingin ikut campur dulu sekarang.
"Aku nggak mau! Lepasin aku!" teriak wanita itu.
"Seruni! Aku bilang ikut aku sekarang!" salah satu dari sekelompok pria itu membentak sambil mencengkram kuat tangan wanita itu hingga merintih kesakitan.
"Sakit, Dante! Tolong ... lepasin aku!" ucapnya memelas
"Aku bakalan lepasin kamu, tapi kamu harus ikut aku. Malam ini kita akan bersenang-senang, Sayang,” ucapnya dengan senyum menyeringai.
"Udah deh, Seruni. Ikut saja sama Bang Dante, ribet amat jadi cewek!" ucap salah satu dari kelompok pria itu.
"Aku nggak mau!"
"Dasar keras kepala," kata pria bernama Dante lalu berniat menarik paksa Seruni.
Stenly sudah merasa cukup hanya dengan memperhatikan. Akhirnya ia berdiri, berjalan dengan santai menghampiri mereka.
"Lepaskan dia!"
Bersambung...
“Lepaskan dia!”
Stenly yang sudah tidak tahan akhirnya mencoba menghentikan sekelompok pria tak memiliki perasaan yang berhasil membuat ia merasa muak.
Sontak saja sekelompok pria itu menoleh ke sumber suara di mana Stenly dengan santainya berjalan ke arah mereka. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Matanya tanpa berkedip menatap ke arah gerombolan seolah sedang memberikan peringatan.
“Lo, siapa! Berani-beraninya ikut campur urusan kita!” bentak salah satu pria saat Stenly sudah berjarak 1 meter dari mereka. Diperlihatkan wajah garangnya bertujuan untuk menakuti Stenly yang sama sekali tak bereaksi.
“Saya adalah manusia yang kebetulan lewat dan kebetulan juga melihat tingkah laku tak ber — etika kalian kepada wanita ini,” jawab Stenly tanpa rasa takut.
Diamatinya satu persatu wajah sekelompok pria itu agar jika terjadi sesuatu padanya nanti, ia bisa menuntut balas. Setidaknya itu yang dipikirkan Stenly sekarang karena dirinya sadar jika saat ini kalah jumlah dari mereka.
“Jadi, Lo, berniat jadi pahlawan!” bentak Dante tanpa melepaskan cengkramannya di tangan Seruni. Dante tak suka jika ada orang berani ikut campur urusannya.
“Kalau sekiranya itu diperlukan, saya enggak keberatan menjadi pahlawan dari nona ini.” Stenly berjalan semakin mendekat. “Lagi pula saya melihat nona ini tidak mau ikut dengan kalian. Jadi kenapa masih dipaksa?” lanjut Stenly. Lalu dengan gerakan super cepat menarik tangan wanita yang ingin ditolongnya.
Stenly masih sempat melihat ke arah wanita yang ia tahu namanya Seruni dan untuk pertama kalinya tatapan mereka bertemu.
Seruni menatap nanar ke arah Stenly — pria yang tidak dikenalinya. Matanya sudah berkaca-kaca. Terlihat sekali kesedihan di dalam sana, Stenly paham itu.
Seruni menggeleng samar, seolah sedang memberi kode kepada Stenly agar segera pergi dari tempat ini.
Stenly hanya tersenyum dan menganggukkan kepala seolah mengiyakan. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya, Stenly sama sekali tak beranjak dari tempat itu seolah sudah siap menjadi tamengnya.
Seruni, kemari!” teriak Dante dengan suara tinggi. Wajahnya merah karena amarah dan itu membuat Seruni merasa takut dan reflek mencengkram lengan kokoh Stenly seolah sedang meminta perlindungan.
Stenly mengusap pelan tangan Seruni yang masih betah bersarang di lengannya. Ia berusaha memberikan ketenangan. “Apa kalian tidak malu dengan gender kalian? Kalian yang sebanyak ini berani mengeroyok satu wanita! Tak gentle sekali!” ucap Stenly dengan suara tenang. Tapi, itu berhasil membuat Dante merasa terhina.
“Brengsek, Lo, ya! Berani-beraninya menghina gue!” bentak Dante tak terima.
“Apa kita kasi dia pelajaran saja, Bang? Belum tahu dia berurusan sama siapa!”
Dante tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat dengan mengarahkan dagunya saja. Tapi dengan begitu mereka semua yang tak lain adalah anak buahnya sudah paham betul apa artinya.
Melihat itu, hal pertama yang Stenly lakukan adalah menghadap ke arah wanita yang sedang ditolongnya.
“Dengarkan saya,” ucap Stenly sambil menatap mata Seruni dengan serius dan mencengkram pelan bahu wanita itu. “Saya tidak bisa menjamin bisa melawan mereka semua yang jumlahnya cukup banyak. Jadi, cepat pergi dari sini. Kau selamatkan diri dan carilah pertolo—”
Bughhh!
Satu pukulan sudah lebih dulu bersarang dipunggung Stenly tanpa sempat ia menyelesaikan ucapannya. Stenly bereaksi biasa saja, karena baginya ini tak seberapa dibandingkan apa yang sudah dilakukan Kimberly padanya.
Arghhh!
Seruni beriak ketakutan. Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar sampai mengeluarkan keringat dingin.
“Satu pelajaran untuk orang yang berani ikut campur urusan kita!” teriak anak buah Dante yang baru saja memukul Stenly.
“Tunggu apa lagi! Cepat pergi dari sini,” perintah Stenly yang masih belum bisa melawan kalau wanita yang ditolongnya belum pergi menjauh. Ia tidak mau saat dirinya lengah karena harus melawan mereka semua, salah satu dari mereka mengambil kesempatan untuk membawa kabur wanita yang ditolongnya.
“Saya enggak mau pergi. Saya akan membantu kamu!” tolak Seruni menggelengkan kepala.
Stenly mendengus. “Ayolah! Kamu mau kita mati konyol di sini karena keras kepalanya kamu, iya?”
Bugh!
Satu pukulan kembali menghantam punggung Stenly dan lagi-lagi membuat Seruni teriak ketakutan.
Stenly memejamkan mata menahan sakit. “Cepat pergi dari sini! Saya tidak bisa melawan mereka semua sendiri dan itu akan membahayakan kamu!” ucapnya sedikit meninggikan suaranya.
Stenly mengambil gawai di saku celananya tangannya dan segera diberikan kepada Seruni.
“Cepat pergi dan bawa ini. Satu lagi ... jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri saya, segera hubungi nomor yang terakhir menghubungi saya! Paham kamu ‘kan?”
Bugh!
Lagi-lagi satu pukulan mendarat dipunggung Stenly dan hal itu sudah cukup membuat Seruni sadar. Segera Seruni berlari mengikuti apa kata pria yang tidak dikenalinya dan membawa serta gawai pria itu.
Dante yang melihat Seruni berlari menjauh dari mereka langsung berniat mengejar. Stenly yang sudah memprediksi hal itu akan terjadi langsung menjanggal kaki sang ketua komplotan hingga jatuh tersungkur mencium aspal.
“Bang Dante!" teriak anak buahnya secara bersamaan.
"Brengsek!" umpat Dante. "Kalian kenapa diam saja bantu gue dan hajar dia!"
Sebagian dari mereka segera membantu Danye untuk berdiri dan sebagian lagi langsung menghajar Stenly. Tapi, kali ini Stenly tak tinggal diam, ia melawan dan membuat beberapa orang dari mereka babak belur. Dante yang melihat itu semakin marah dan menyuruh mereka semua untuk memegangi Stenly.
"Kenapa kalian lemah sekali! Menghadapi satu orang saja tidak becus! Sekarang cepat pegangi dia! Biar gue yang memberi dia pelajaran!"
"Baik, Bang."
Bugh! Bugh! Bugh!
Stenly langsung diserang oleh mereka semua secara bersamaan. Mereka sengaja melakukan itu agar pria sok jago ini kewalahan dan kehabisan tenaga. Tidak sampai di situ saja kini Stenly dipegangi tangannya agar tidak lagi bisa melawan. Kini tiba giliran Dante memberikan Stenly pelajaran.
“Lo, memang pantas diberi pelajaran!” Dengan leluasa Dante melayangkan sebuah pukulan tepat di ulu hati Stenly. Berkali-kali Dante melakukan itu sampai akhirnya Stenly menyemburkan darah segar sari mulutnya. Posisinya yang dipegangi membuat Stenly tak bisa melakukan apa-apa.
"Hajar terus Bang! Jangan kasi kendor."
"Iya, Bang. Hajar!"
“Mampusin sekalian, Bang!”
"Hahaha!" Mereka semua tertawa senang melihat Stenly yang sudah tidak berdaya. Bahkan tubuhnya sudah terkapar di aspal, kesadarannya mulai menghilang.
"Makanya jangan ikut campur urusan Abang kita! Sok jagoan sih, Lo!"
Bugh! Bugh! Bugh!"
Mereka sama sekali belum puas. Stenly masih terus dipukuli dan di tendang dengan posisi tangan dan kaki yang dipegangi. Tubuhnya semakin terasa lemah, wajah putih sudah babak belur dan dipenuhi luka memar di mana-mana. Sudut bibirnya sampai dan terus mengeluarkan darah. Sungguh keadaan Stenly saat ini sangat mengenaskan.
Dari kejauhan Seruni melihat semua itu. Sungguh itu membuat Seruni menangis histeris. Lokasi kejadian yang sepi karena sudah larut malam membuat ia kebingungan ingin meminta pertolongan kepada siapa. Sampai akhirnya ia teringat akan gawai yang diberikan pria itu.
"Aku harus menghubungi nomor yang tadi pria itu bilang," kata Seruni lalu mencoba mengoperasikan gawai yang rupanya tidak di kunci.
"Cantik banget, ya ..., Allah. Pasti pacar pria itu,” kata Seruni dengan mata berbinar saat melihat wallpaper gawai dengan foto seorang wanita cantik sedang tersenyum.
Seruni segera membuka log panggilan masuk di mana nomor yang dimaksud pria yang sudah menolongnya itu berada.
“William.” Seruni membaca nama kontak yang terakhir menghubungi Stenly. Tanpa pikir dua kali Seruni segera menghubunginya.
Tutttt!
Baru di dering pertama panggilan langsung diangkat oleh orang di sebrang sana.
“Halo, ada ap—”
"Mas William! To—tolong!” Seruni langsung menyebutkan nama pria itu sesuai yang tertera di gawai begitu sudah mendengar suara pria dari seberang. Ia langsung menangis sambil meminta tolong. Sehingga membuat orang yang berada di seberang sana panik luar biasa.
"Anda siapa? Kenapa gawai ini ada sama Anda?" tanya William begitu mendengar suara wanita menghubunginya menggunakan gawai Stenly.
“Pa—panjang ceritanya, Mas! Kelamaan kalau saya harus cerita. Bisa-bisa yang punya gawai ini keburu mati babak belur!" jelas Seruni dengan suara sesenggukan.
"Hah! Apa maksud Anda? Jangan bilang orang yang punya gawai ini sedang berkelahi?"
"Lebih dari itu. Dia sedang dikeroyok sama gengnya Dante!" Seruni akhirnya memberitahu. Tangisnya tak bisa berhenti. Apalagi saat melihat orang yang sudah menyelamatkannya terus dipukuli.
"Astaga, Sten!" teriak Willam.
"Mas, bisa ke sini sekarang? Tolong! Kalau Mas Willian kelamaan bisa-bisa pria itu keburu mati di tangan Dante!” ucap Seruni semakin membuat William kalap.
"Saya akan ke sana sekarang. Cepat share lokasi!” perintah William meninggikan suaranya.
“Saya enggak bisa share lokasi dengan gawai canggih kayak gini, Mas. Bingung ... caranya gimana!”
“Astaga, gaptek sekali Anda!” ucap William sambil mengacak rambutnya frustasi. Sungguh dalam keadaan panik begini dia jadi mendadak darah tinggi.
“Mbak dengarkan saya. Sekarang juga, Mbak share lokasinya pakai gawai punya Mbak. Gampangkan? Mbak tinggal salin nomor saya. Paham!”
"I—iya, Mas. Tunggu sebentar," ucap Seruni paham. Ia segera mengambil gawainya yang ada di dalam tas dan segera mengikuti apa yang dikatakan William.
Lima belas menit sudah berlalu sejak Seruni mengirimkan lokasi. Tapi, sampai sekarang pertolongan belum juga datang. Seruni melihat pria yang menolongnya semakin lemah jadi tidak tega. Ia tak bisa terus diam. Akhirnya Seruni memberanikan diri menghampiri pria yang menolongnya. Meskipun, ia sadar bahaya sedang menantinya.
“Dante, berhenti!" teriak Seruni memberanikan diri. Sungguh, ia tak ingin membuat orang celaka karena dirinya.
Mereka semua menoleh ke arah Seruni, termasuk Stenly yang awalnya sudah hampir tidak sadarkan diri.
"Sudah kuduga, kamu akan kembali lagi ke sini Seruni! Tapi, sayang, akibat keras kepalamu itu, membuat orang ini menjadi tak berdaya!” seru Dante sambil menginjak lengan Stenly.
“Cukup, Dante! Tolong, jangan sakiti dia lagi!” teriak Seruni. Tangisnya kembali pecah melihat kekejaman Dante.
"Kenapa kamu kembali lagi, Nona! Cepat pergi dari sini! Ini sangat berbahaya!" perintah Stenly dengan suara tak terlalu jelas.
"Kamu pergi, dia mati!" ancam Dante sambil menendang perut Stenly dengan keras, sehingga membuat pria yang sudah babak belur itu kembali menyemburkan darah segar dari mulutnya.
“Arghhh! Aku bilang cukup, Dante! Jangan sakiti dia lagi!” ucap Seruni sambil berteriak. Takut ... sudah pasti. Tapi, lebih dari itu, ia menangis karena semakin merasa bersalah. Terlebih, ia sadar tak bisa menolong pria yang sudah menolongnya.
Stenly melihat itu jadi tidak tega. Ia berusaha menenangkan, meskipun saat ini ia sudah kehabisan tenaga.
“ Te—tenanglah, Nona. Sa—saya tidak apa-apa!” ucapnya dengan terbata. Meskipun yang terjadi sebenarnya adalah hal sebaliknya.
Seruni lantas duduk di samping Stenly lalu memberanikan diri mengelap bekas darah yang ada di mulut Stenly. Hal sederhana yang dilakukan Seruni menimbulkan desir aneh di dalam diri Stenly dan menimbulkan kemarahan di dalam diri Dante.
"Kamu masih bisa bilang enggak apa-apa! Apanya yang nggak apa-apa, hah! Lihatlah, wajah kamu saja sudah dipenuhi luka dan darah di mana—mana!" bentak Seruni tanpa sadar. Suaranya jadi serak karena terlalu banyak menangis.
"Hahaha! Kalian jangan drama di sini! Ini bukan sinetron kejar tayang!" ucap Dante mengejek. Ia sengaja menyembunyikan rasa cemburunya dibalik tawa yang diperlihatkannya.
Melihat ketuanya tertawa, semua anggotanya pun ikut tertawa. Mereka merasa senang melihat tontonan gratis di hadapan mereka. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Tawa mereka segera hilang saat melihat mobil polisi tengah berpatroli terlihat dari kejauhan.
“Sial!” Dante memaki. “Ayo, segera tinggalkan tempat ini,” perintah Dante kepada anak buahnya. Untuk sekarang ia tak ingin berurusan dengan namanya polisi karena statusnya masih menjadi tahanan kota.
“Siap, Bang!”
Dante beserta anak buahnya segera pergi meninggalkan Seruni dan Stenly.
Bersambung....
Seruni langsung membantu Stenly berbaring di pangkuannya saat Dante dan gerombolannya sudah pergi. Sungguh keadaan pria yang sudah menolongnya sangat memprihatinkan.
“Maafkan aku. Ka—kamu jadi begini karena aku!” gumam Seruni dengan suara bergetar. Lagi-lagi tangisnya sudah hampir pecah melihat keadaan Stenly yang sangat memprihatinkan.
Stenly mengerutkan kening menahan sakit. Tapi, entah mengapa ia merasa nyaman berbaring di atas pangkuan wanita yang ditolongnya. Stenly merasa ada yang salah dengan dirinya. Bagaimana tidak! Stenly tak seperti biasanya. Ia yang biasanya cuek dan tak peduli dengan urusan orang lain, tiba-tiba mau membantu seorang wanita yang sama sekali belum ia kenal. Lebih, parahnya, ia sampai rela babak belur karena wanita itu.
“Tidak masalah, ini hanya luka kecil. Lain kali berhati-hatilah. Jangan sampai kejadian seperti ini terjadi lagi!”
“Harusnya kamu enggak usah menolong saya tadi!” keluh Seruni.
“Kalau tadi saya enggak menolong kamu, apa kamu yakin masih baik—biak saja sekarang?” tanya Stenly sambil menatap lekat wajah Seruni.
Seruni terdiam, karena apa yang dikatakan sang penolong memang benar adanya. Bisa—bisa malam ini, ia sudah dibawa Dante ke kamar hotel untuk melayani nafsu lelaki gila itu, atau lebih parahnya, bisa saja sekarang ia hanya tinggal nama.
Seruni meraup wajahnya. Baru saja memikirkannya, ia sudah ketakutan. “Terima kasih karena sudah mau menolong saya,” ucap Seruni dengan tulus.
“Tidak perlu bilang terima kasih. Ini semua ada timbal baliknya, Nona!” ucap Stenly berhasil membuat Seruni menjauh diri darinya. Dan hal itu membuat kepala Stenly yang semula berada di atas pangkuan Seruni terbentur di aspal.
“Hah! Timbal balik seperti apa maksud kamu?” tanya Seruni kembali merasa terancam. Apa yang dikatakan Stenly, berhasil membuatnya berpikir kelakuan semua pria itu sama saja. Mereka tidak benar-benar tulus saat menolong. Pasti, ada sesuatu yang diincarnya.
“Nanti kamu juga akan tahu!” jawab Stenly sambil memegangi kepalanya yang sakit akibat terbentur.
“Bisa beritahu saya sekarang saja?” tanya Seruni tak lagi ramah.
“Tidak!” jawabnya cepat.
“Apa bedanya memberitahu sekarang atau nanti!” keluh Seruni.
“Susahlah jangan di bahas lagi. Lebih baik sekarang kamu jawab saja pertanyaan saya,” ucap Stenly menghentikan perdebatan.
“Memangnya kamu mau tanya apa?”
“Siapa nama kamu?” tanya Stenly yang sebenarnya sudah tahu namanya adalah Seruni. Ia tahu nama itu saat orang yang memukulinya tadi memanggil namanya.
“Jangan tanya nama saya, itu enggak penting!” kata Seruni sambil menggelengkan kepalanya.
“Oh, ya? Kenapa tidak penting?” tanya Stenly.
“Pokoknya enggak penting. Lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana caranya mengobati luka-luka kami, itu lebih penting!”
“Oke! Kalau itu mau kamu aku setuju. Tapi, yang jadi pertanyaan sekarang ... bagaimana caranya kamu mengobati luka-luka saya, sedangkan di sini tidak ada p3k?”
“Bagaimana, ya?” Seruni jadi bingung sendiri. Dan hal itu membuat Stenly tersenyum.
“Kamu ada obatnya?” tanya Stenly lagi berniat menggoda wanita di sebelahnya. Entah, kenapa ia suka melihat wanita itu kebingungan.
Seruni menggeleng. “Enggak, ada! Tapi, aku bisa beli ke apotek,” ucap Seruni.
“Itu artinya kamu akan meninggalkan saya di sini sendirian?”
“Iya. Tapi, hanya se—”
Seketika ucapan Seruni terhenti saat sebuah mobil mewah berhenti di tepi jalan.
“Akhirnya kamu datang juga, William,” gumam Stenly saat melihat mobil yang sangat ia kenali. Seorang pria berpakaian formal turun dari sana dan berjalan ke arahnya.
“Mana gawai saya?” tanya Stenly sambil menadahkan tangan ke arah Seruni yang saat ini sedang fokus melihat ke arah mobil mewah.
Seruni gelagapan. “Maaf, saya lupa kalau gawai Anda masih ada sama saya!” lirih Seruni lalu segera mengambil gawai milik Stenly di dalam tasnya. Ia langsung meletakkan di telapak tangan pemilik gawai.
“Astaga! A—apa yang terjadi tu—”
Ehmmm!
Stenly segera berdehem agar William segera menghentikan ucapannya. Entah, mengapa Stenly tak ingin Seruni tahu siapa dirinya.
William diam tak jadi melanjutkan ucapannya. Ia paham apa maksud Stenly. “Sebenarnya apa yang terjadi, Sten? Kenapa keadaan kamu bisa sampai seperti ini! Apa kamu punya musuh?” tanya William.
“Ck! Sudahlah, itu bukan urusan kamu!”
“Maafkan saya. Semua ini terjadi karena saya,” kata Seruni sambil menunduk. Ia harus bertanggung karena semua ini terjadi karena dirinya.
“Jangan menyalahkan diri kamu, Nona!” tegur Stenly tak suka.
William menyatukan kedua alisnya saat melihat respon yang diberikan Stenly. Tak biasanya ia seperti itu. “Siapa wanita ini, Sten? Kenapa aku belum pernah melihat dia!”
“Saya Seruni. Orang yang sudah diselamatkan sama dia.” Seruni memberitahu. Membuat William langsung emosi.
“Jadi, apa yang terjadi sama Stenly itu karena kamu!” bentak William dengan mata melotot.
“William, sudahlah!” tegur Stenly.
“Maafkan, saya!” lirih Seruni.
“Kamu kira dengan meminta maaf semua masalah akan selesai, iya? Apa kamu pikir keadaan Stenly sekarang langsung berubah!”
“Ma—maaf!” ulang Seruni lagi. Ia ketakutan.
“William, cukup. Kamu membuatnya takut!” tegur Stenly dengan suara tegas.
“Tapi, lihat keadaan kamu sekarang, Sten!”
“Aku tidak apa-apa, Will! Hanya sedikit babak belur saja!” ucap Stenly dengan santainya. Padahal, sekarang tubuhnya terasa sakit semua.
“Yang seperti ini, masih kamu bilang sedikit, Sten? Gila, kamu!” geram William.
“Yes, ini hanya sedikit. Dan apa yang terjadi sama aku sekarang ini ada timbal baliknya,” kata Stenly sambil melirik ke arah Seruni yang terus menunduk.
“Timbal balik?” Marcel mengulang ucapan Stenly. Ia jadi penasaran.
“Nanti juga kamu akan tahu, Will! Sekarang buka pesan yang baru saja aku kirim!” perintah Stenly.
William langsung mengeluarkan gawai. Ia membaca pesan yang dikirimkan Stenly sesuai perintah.
“Ini—”
“Iya!” potong Stenly cepat. Ia tak ingin Seruni curiga.
[Jangan banyak tanya. Lakukan saja sesuai perintahku!]
Stenly segera mengirimi pesan kepada William agar tak banyak bertanya.
William menghela napas setelah membaca pesan yang dikirimkan Stenly.
[Oke!]
William membalas pesan yang dikirimkan Stenly dengan singkat. Ia malas berdebat karena paham pada akhirnya tetap Stenly yang akan menang.
“Hai ..., Nona,” panggil Stenly saat melihat Seruni terus menunduk. “Ikut saya pulang dan obati semua luka-luka saya!” perintah Stenly membuat Seruni kaget.
“Hah! I—ikut kamu pulang. Ke rumah?” tanya Seruni gelagapan. Terlihat sekali jika ia sedang panik.
“Ke hutan!” ejek William. Entah mengapa ia jadi kesal jika melihat Seruni yang menurutnya hanya sok polos saja.
“Diam, kamu, Will!” tegur Stenly yang langsung membuat William bungkam.
“Bukankah tadi saya sudah bilang. Semua ada timbal baliknya. Ini maksud saya. Kamu yang membuat saya jadi seperti ini ‘kan? Jadi, kamu juga yang harus mengobati luka-luka saya sampai sembuh!” kata Stenly dengan santainya.
“Tapi, saya harus pulang sekarang. Ibu pasti sudah menunggu saya,” kata Seruni.
“Alasan!” cibir William.
“Bilang sama Ibu kamu, kalau kamu akan pulang telat malam ini. Bereskan. Pasti beliau tidak akan menunggu!”
“Tapi—“
“Jangan kebanyakan tapi, Nona! Itu sama saja beralasan. Kamu tahu tubuh saya rasanya sudah tidak karuan sekarang!” ucap Stenly mulai kesal. Jiwa arogan-nya mulai terlihat.
“Ibu pasti akan marah!” gumam Seruni sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Saya tidak peduli! Itu urusan kamu,” kata Stenly tak mau mendengar alasan Seruni.
“Kalau begitu saya enggak mau ikut sama Anda!” tolak Seruni akhirnya.
“Saya tidak terima penolakan! Karena ini sudah menjadi tanggung jawab kamu.”
Seruni mendengus kesal. Ia baru sadar jika pria yang menolongnya ternyata memiliki sifat angkuh dan pemaksa. “Oke! Saya akan ikut Anda pulang untuk mengobati luka-luka Anda sebagai ucapan terima kasih saya. Puas, Anda!” kata Seruni penuh kekesalan. Ia tak habis pikir kena hanya mengobati luka-lukanya saja harus ikut pulang ke rumah. Bukankah di sini juga bisa. Tapi, Seruni yang sudah keburu kehilangan respek jadi malas bertanya.
“Bagus!” ucap Stenly merasa menang. Ternyata tidak sulit mengendalikan Seruni. Pikirnya.
“Tapi setelah itu saya berharap tidak akan pernah bertemu dengan Anda lagi, sekalipun saya dalam keadaan bahaya seperti tadi!”
“Yakin?” tanya Stenly sambil tersenyum.
“Tentu saja!” jawab Seruni yakin.
Stenly hanya mengangkat bahunya sebagai respon. “William! Kamu tidak keberatan ‘kan antar aku dan Nona ini pulang?”
William yang sejak tadi sibuk dengan gawainya karena mengerjakan tugas yang diberikan langsung mengangguk. “Baiklah. Tidak masalah,” jawabnya lalu dengan cekatan membantu Stenly untuk berdiri dan masuk ke dalam mobil.
“Tunggu apa lagi, Mbak! Cepatlah masuk, jangan membuang waktu,” tegur William saat melihat Seruni masih belum melakukan pergerakan.
Tanpa menjawab Seruni langsung berjalan menuju pintu mobil yang sebelumnya sudah dibuka oleh William.
Brakkk!
Seruni sengaja menutup pintu mobil dengan dibanting. Ia sedang melampiaskan kekesalannya.
“Santai saja, Nona! Saya tidak akan melakukan kejahatan seperti orang-orang tadi,” kata Stenly dari kursi penumpang bagian depan saat mobil sudah melaju. Ia merasa lucu melihat wajah Seruni yang cemberut.
“Siapa yang bisa jamin!” ucap Seruni dengan ketus.
“Saya hanya minta kamu merawat luka-luka saya mulai malam ini! Tidak lebih dari itu,” ungkap Stenly sambil membenarkan posisi duduknya.
“Mulai malam ini?” tanya Seruni mengulang ucapan Stenly.
“Iya. Mulai malam ini. Karena setelah malam ini, kamu masih harus merawat luka-luka saya sampai benar-benar sembuh.
Mendengar itu membuat Seruni ingin mengumpat. Tapi, karena sudah malas berdebat akhirnya Seruni memilih untuk mengalah. “Baiklah, saya akan merawat kamu sampai benar-benar sembuh. Puas, kamu!”
“Tentu saja!” jawab Stenly sambil mengedipkan sebelah matanya yang bengkak.
Setelah itu tidak ada lagi yang bicara. Baik Stenly dan Seruni sibuk dengan pikirannya mereka masing-masing. Sedangkan William lebih memilih fokus dengan jalanan. Sepuluh menit berlalu sampai mobil yang dikendarai William berhenti di sebuah gang sempit kawasan padat penduduk.
William segera turun dari mobil, membuka pintu dan membantu Stenly untuk turun dari mobil.
“Sudah beres semuanya?” Stenly berbisik tepat ditelinga William.
“Beres, Boss,” jawab William ikut berbisik.
“Bagus!” ujar Stenly sambil menganggukkan kepala.
Malas-malas Seruni turun dari mobil. Ia berjalan dengan langkah gontai lalu berdiri di samping Stenly dengan wajah cemberut.
“Sekalian tolong ... papah aku sampai ke dalam, Will. Setelah itu kamu boleh pulang.”
“Oke!”
“Tunggu! Kalau Mas William pulang, itu artinya kita berdua saja di kos’an kamu?” tanya Seruni tampak siaga.
“Yang bilang kalau kita bakalan berdua saja itu siapa?”
“Ya, enggak ada,” jawab Seruni jadi salah tingkah.
“Makanya jangan sok tahu!” ucap Stenly menyindir.
“Ya, maaf!”
“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Ayo, kita masuk. Tubuh semakin terasa sakit sekarang,” keluh Stenly sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
“Baiklah. Kalau begitu biar saya yang memapah Anda sampai ke kos’an. Mas William bisa langsung pulang!”
Stenly dan William saling pandang mendengar apa yang diusulkan Seruni barusan. Mereka berdehem menetralkan rasa terkejutnya.
“Aku lagi nggak buru-buru. Jadi, biar aku saja yang memapah Sten sampai ke dalam kos’an,” ucap William. Kalau dia pulang sekarang tanpa mengantarkan Stenly masuk ke dalam kos’an yang ada Stenly Cuma akan mutar-mutar saja di dalam gang tanpa tahu tujuannya.
“Kamu cukup ikut kita saja,” kata Stenly akhirnya. Ia merasa lega dengan jawaban William barusan. Terlebih ia masih belum tahu letak kos’an yang di sewa William untuknya.
“Lagi pula, Mbak, enggak akan kuat memapah Stenly sampai ke dalam. Dia ini berat sekali,” kata William sengaja menggoda Stenly.
“Terserah kalian. Sekarang cepat tunjukkan di mana kos’annya. Saya mau obatin luka-lukanya biar saya bisa cepat pulang,” kata Seruni mulai tidak sabar.
“Sabar, Nona. Jangan terburu-buru. Semua itu harus dilakukan secara perlahan,” ujar Stenly asal.
“Ma—maksud, kamu?” tanya Seruni gugup. “Ka—kamu enggak ada niat aneh-aneh sama saya?” lanjutnya bertanya.
“Kita lihat saja nanti!”
Bersambung.....