“Silahkan perkenalkan dirimu,” titah bu guru seraya memberi jarak pada si laki-laki itu, membiarkan dia menjadi pusat perhatian sejenak.
Lalu ia mulai membuka tudungnya, menampakkkan juga wajah yang sedari tadi tampak samar. Mata itu langsung menatap acak seluruh murid yang menampilkan raut takjub, lantas terakhir sendiri, ia menatap cukup lama murid yang duduk paling belakang sana, di ujung, satu-satunya yang tak memiliki teman sebangku, Arin.
“Perkenalkan, namaku Tehun,” bukanya dengan senyum pertama yang ia ciptakan sejak ia berdiri di tempatnya.
Semua murid langsung berseru heboh mendengar perkenalan itu, karena suara selembut kapasnya, juga wajah tampan yang tak main-main. Seperti seorang artis, kulitnya bersih sekali, ia tinggi, memiliki bahu lebar, dan tak tertinggal fitur wajah yang sangat mendukung—alis yang tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, proporsi bibir yang pas, serta garis rahang yang tajam, sungguh macam tak ada celanya.
Suasana kelas langsung saja berubah menjadi gaduh. Seorang laki-laki yang memiliki ketampanan luar biasa sedang berdiri di depan kepala mata mereka, dan seterusnya akan menjadi teman sekelas bersama. Apalagi kaum hawa, mereka agaknya seperti bertemu seorang idol di dunia nyata. Sampai akhirnya bu guru mencoba memberi instruksi agar mereka lebih tenang, karena keadaan yang terlalu ricuh.
“Nama lengkapku Choi Taehoon, kalian bisa memanggilku Tehun lebih mudahnya, atau Hun saja juga boleh. Dan seperti namaku, aku dilahirkan di Korea Selatan, dan pindah saat berusia sepuluh tahun, yang berarti aku sudah menghabiskan hampir separuh umurku di Indonesia. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik,” ujarnya dengan senyum yang menawan, serta membungkukkan diri singkat.
Semuanya langsung kembali ribut begitu mendengar kalimat dengan nada super ramah yang berasal dari mulut Hun. Itu menjadi nilai plus yang makin menambah kesan sempurna di benak semua murid yang berada di kelas itu, super tampan dan baik hati, tak ada yang bisa mengalahkan pesona seseorang dengan kedua hal itu.
Arin ikut tersenyum tipis melihatnya, dan bertepuk tangan kecil, meski merasa tidak begitu peduli, karena sudah terlalu biasa untuk hidup sendiri selama di sekolah, tak memiliki teman, membuat ia sering menahan diri untuk berekspetasi di lingkup sekolah. Ia lebih bisa mengekspresikan diri saat berada di rumah, dengan kedai jus kecilnya.
“Baiklah Tehun, kau bisa duduk di kursi yang kosong, di belakang sana, bersama Arin,” ucap bu guru yang segera mendapat anggukan hormat dari Hun.
Lantas dia berjalan ke bangku di pojok sana, sedang orang yang akan menjadi teman sebangkunya itu memejamkan mata pelan, diam-diam merasa tak suka dengan kehadiran Hun yang tentu akan merebut tempat tasnya, yang memang selalu ia letakkan di kursi kosong sebelahnya itu. Belum lagi semua mata tertuju pada si Tehun, cepat atau lambat Arin mungkin bisa terkena imbasnya, terlebih jika Tehun bersikap baik padanya, yang bernotabene seorang anak yang tak memiliki teman sepertinya, ia pasti juga akan diperhatikan oleh orang-orang, dan ia tak menyukai hal seperti itu, perhatian berlebih.
Tapi Hun duduk dengan tenang setelahnya, hanya menyapa Arin singkat dibumbui senyum, lantas mulai mengeluarkan buku dan peralatan tulisnya. Arin menghela napas lega. Semoga saja dia akan seperti ini sampai akhir, tak terlalu memperdulikan eksistensi Arin, karena gadis itu sudah nyaman dengan peran yang ia jalani sekarang, menjadi orang yang sangat biasa, tanpa perlu memperagakan dialog di atas panggung.
***
Namun, tentu saja tak semudah itu. Tiba-tiba setelah keluar sebentar saat jam istirahat berdentang, Hun kembali ke kelas tak lama kemudian dan membawakan beberapa camilan untuk Arin, sebagai perayaan kecil teman sebangku katanya. Arin sebenarnya tak apa, dibelikan jajan seperti itu, tapi yang tak ia suka adalah teman-teman yang kini menatapnya.
Dan menyadari suasana sekitar, Hun tersenyum, lantas mengangkat tangannya yang membawa satu kresek besar.
“Kalian juga kebagian, kok, teman-teman,” serunya yang membuat orang di ruang kelas itu segera heboh dan berlarian menggerumbuli Tehun.
“Terimakasih ya, Hun,” pekik salah seorang siswa kegirangan.
“Semoga kita bisa menjadi teman baik, ya,” ujar Tehun lagi dengan senyum cerahnya.
Dan seperti biasa, beberapa murid yang bergerombol mengajak dia berbincang ria, yang tentu ditanggapi oleh jawaban yang renyah dari pria dengan senyum secerah matahari itu. Hun beberapa kali juga tampak sedikit menyeret Arin ke dalam topik, dan hanya ditanggapi seadanya oleh gadis mungil itu, merasa tak nyaman dengan gerumbulan di bangkunya.
Dan secara bertahap, akhirnya gerumbulan itu perlahan bubar juga, menyisakan dua insan yang salah satunya kini menghela napas lega itu, seperti lepas dari cekikan saja rasanya, langsung merasa damai, bebas.
“Kau tak suka orang ramai-ramai?” tanya Hun kemudian. Arin yang tak terbiasa dengan suara seseorang saat di sekolah, apalagi di kelasnya, di sampingnya tepat, terjengat kaget. Ia lantas menoleh ke arah kiri, ke sumber suara yang membuat ia kaget barusan.
“Tak begitu nyaman,” jawab Arin seadanya lagi, tak mau susah-susah terlihat baik karena citra teman lingkungan sekolah sudah terlampau buruk di matanya. Jika ada yang baik padanya, perlahan pasti akan menjauhinya juga, karena ia yang memang tak punya teman, pasti orang itu takut jika dia perlahan akan dijauhi seperti dia. Dari itu, dia tak pernah berekspetasi sedikit pun dengan seseorang yang berada di lingkup sekolah, semuanya sama saja, tak terkecuali dengan si murid baru ini.
“Kau mau aku juga bersikap seperti itu pada mereka?” tanya Hun lagi, yang segera membuat alis Arin mengkerut, tak bisa menebak arah pertanyaan si Hun.
“Terserah kau,” jawabnya mencoba tak peduli, meski merasa sangat aneh. Arin mencoblos satu susu kotak pemberian Hun tadi, dan meminumnya pelan. Pas sekali, ia suka rasa cokelat. Diam-diam ia menikmati bagaimana rasa susu itu di mulutnya, seperti biasa, rasa cokelat tak pernah mengecewakan baginya.
“Jadi kau ingin aku bersikap seperti yang aku lakukan tadi saja?” tanya Hun, lagi-lagi, dan membuat Arin yang sempat membuang pandangannya ke jendela itu terkaget, lagi juga. Masih sangat tak terbiasa dengan suara seorang manusia yang mengajaknya bicara di ruang kelas ini.
“Kenapa bertanya padaku? Itu terserah padamu. Ya kalau baik, kau harus baik pada mereka, kalau jahat, kau harus jahat juga,” ujar Arin kemudian, benar-benar tak mengerti jalan pikir pria super tampan di sampingnya ini.
“Begitu ya. Tapi … mengapa begitu?”
Arin yang hampir menyeruput susu serta membuang pandangannya lagi, akhirnya menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan susu kotak itu ke meja, dan menatap serius pada Hun selama beberapa belas sekon, sedikit merasa emosional dengan pertanyaan yang dilayangkan pria itu barusan.
“Kadang mereka perlu pelajaran, agar tahu bagaimana rasanya dijahati,” jawab Arin dengan mata yang berkilat, bercampur luka.
Arin tampak terdiam sebentar, hanya menatap lama netra hitam itu, sempat tenggelam di dalamnya, karena teringat yang lalu-lalu, yang masih perih begitu dikenang. Sampai akhirnya ia memaksa dirinya untuk menghentikan kontak dari mata yang entah mengapa sangat teduh itu, dan membuatnya terhanyut. Ia berusaha menyadarkan dirinya.
“Lupakan. Kau tak perlu melakukannya. Aku menjadi menyedihkan seperti ini karena melakukan tindakan yang kusebut barusan,” ujarnya lagi, seraya meraih susu kotak itu, menyeruputnya dengan tak ingin berpikir panjang pada ucapannya sendiri.
“Kau suka rasa cokelat?” tanya Hun lagi, membuat Arin merasa jengah. Bertanya tanpa lelah, dan tak memiliki bobot, tak memiliki arah yang pasti, tak bisa Arin raba maksudnya.
“Iya, aku suka,” jawab Arin pada akhirnya, menyerah dengan keadaan. Ia sepertinya harus membiasakan diri dengan Tehun yang seperti ini. Entah bagaimana ke depannya nanti.
“Ah, benar, kau tampak tak bisa menahan untuk berhenti meminumnya,” ucap Hun kemudian seraya tersenyum, membuat Arin tercengang, merasa malu karena seseorang menyadari kebiasaannya yang biasanya tak dipedulikan sama sekali oleh orang lain.
“Oh iya, apakah itu tadi berarti mereka pernah bersikap jahat kepadamu?” tanya Hun lagi, yang membuat Arin melupakan rasa malunya. Sedikit tertegun, karena ingatan buruk kembali datang. Lagi pula kenapa Hun masih membahasnya lagi? Arin kira tadi sudah rampung.
“Hm. Beberapa. Sudahlah, jangan bahas yang beginian, kenapa kau bertanya-tanya seperti ini?” gerutu Arin akhirnya, dan merasa merinding saat melihat satu titik yang sangat dingin di mata itu, seperti bukan Hun yang ia kenal barusan.
“Berarti aku juga harus jahat pada mereka, yang menjahatimu.”
~To be continued~
“Hm. Beberapa. Sudahlah, jangan bahas yang beginian, kenapa kau bertanya-tanya seperti ini?” gerutu Arin akhirnya, dan merasa merinding saat melihat satu titik yang sangat dingin di mata itu, seperti bukan Hun yang ia kenal barusan.
“Berarti aku juga harus jahat pada mereka, yang menjahatimu,” gumam Hun yang membuat Arin tertegun, merinding hebat mendengar nada menyeramkan dan sangat dingin barusan, rasa-rasanya kebengisan dari suara itu sanggup menjalar ke inci tubuh Arin, menusuk tulang-tulangnya.
“Kau tidak perlu melakukannya, Hun,” ujar Arin sedikit dengan takut-takut. Gadis itu mencoba menyentuh pundak Hun yang terlihat sedikit bergetar, dan begitu ujung jarinya menyentuh bahu itu, Hun seperti tersadar, bak seorang anjing menggeram yang akhirnya tenang begitu sang majikan mulai membelai bulunya.
Raut Hun yang sempat mengeras, meski sebentar sekali, langsung luruh seketika, berganti seperti citra pertama yang ia tampilkan pada khalayak umum tadi, pria tampan ramah yang baik hati.
“Kalau kamu memerlukan bantuan, jangan sungkan bilang padaku, Arin. Aku pasti akan membantumu,” ucapnya lagi dengan wajah yang ceria, sedang si Arin sedikit terengah, takut dengan yang ia lihat barusan. Atau memang ia hanya salah lihat? Salah dengar? Apa pun itu, yang barusan tadi benar-benar menyeramkan, ia tak akan pernah menyulut kemarahan pria ini apa pun keadaannya.
Arin hanya menganggukkan kepala kaku, lantas meminum susunya, dan langsung merasa ragu kembali saat menyadari bahwa susu itu pemberian Hun, pria yang kini sudah tercap aneh di kepalanya. Namun, karena itu juga, ia cepat-cepat menghabiskan isi susunya, agar tak menyinggung perasaan Hun.
Arin merutuk dalam hati. Pasti hari-harinya tak akan setenang biasanya lagi. Kehidupan sekolah yang terpaksa ia jalani karena janjinya sendiri di masa lalu—sebuah kisah yang sangat rumit untuk diceritakan, kini pasti akan semakin terasa mengerikan. Jadi, dia hanya menghela napas samar, diam-diam, meratapi nasibnya. Sedang Hun yang berada di sampingnya masih menatap Arin dengan raut cerianya, membuat gadis itu meringis kaku padanya.
Kehidupan Arin yang baru akan dimulai, karena pemeran baru juga ditambahkan. Tak tahu apakah ia masih seorang figuran belaka, atau berganti menjadi seorang tokoh utama. Pastinya kehidupan monoton yang sudah sangat ia cintai, jelas tak akan datar lagi sekarang, mulai diisi oleh kasarnya kerikil, juga kelokan liku yang menyesakkan.
***
Arin menghempaskan tubuh mungilnya di kasur empuk kesayangannya, memejamkan mata seraya menghela napas panjang sekali. Punggungnya yang entah mengapa hari ini sangat terasa kaku, langsung rileks, membuat ia bisa mengukir senyum samar, merasa terlalu nyaman.
Koki, kucing gembulnya yang sudah minta disapa sejak si majikan berada di pintu rumah tadi, mengikuti langkah Arin, dan berakhir melompat ke kasur itu juga dan menyeruduk lembut wajah majikan, merajuk karena diabaikan.
“Sebentar, Koki, hari ini melelahkan sekali,” ujar Arin masih dengan mata yang terpejam, dan langsung dipenuhi oleh sensasi kantuk, benar-benar kewalahan menghadapi Hun yang rasa-rasanya selalu tak berhenti bicara padanya tiap kali ada kesempatan, tertarik sekali dengan semua yang mengenai dirinya.
Kucing itu mengeong, dan naik ke atas perut Arin yang kini sudah dengan napas teraturnya, terlelap tanpa sengaja. Kucingnya mengeong terus-terusan, tapi si majikan sepertinya benar-benar kelelahan hingga tak merasa terganggu sedikit pun.
Ikut lelah, Koki akhirnya melingkarkan tubuh, memeluk dirinya sendiri di atas lengan Arin, dan ikut tertidur, melupakan lapar yang sempat mendera perutnya, juga usahanya membangunkan sang majikan untuk membuka kedai jus seperti biasanya.
Keduanya bernapas dengan teratur, tenang dan lelap sekali, tertidur bersama di kamar Arin yang selalu terasa sejuk itu. Sampai setengah jam kemudian, suara ketokan pintu akhirnya membangunkan Arin yang sepertinya sudah merasa cukup dengan istirahat kecilnya.
Matanya membuka perlahan, dan ia menggeliat kecil, membuat Koki juga terbangun dan meregangkan badannya mengikuti sang majikan. Arin cepat-cepat mendudukkan dirinya, dan mendesah saat melihat jam yang terpasang apik di jam. Harusnya ia sudah membuka kedainya sekarang.
Suara ketokan pintu kembali menyita atensinya. Ia merapihkan singkat rambut berantakan lepas tidurnya, dan langsung melompat dari tempat tidur, berlari menuju pintu.
“Iya, sebentar,” ujarnya setengah berteriak di sela larinya, dan begitu kakinya sampai di ruang utama, larinya berubah menjadi jalan, lantas semakin pelan hingga hampir berhenti, demi melihat sosok yang berada di tepi pintu rumahnya itu.
“Halo, Arin, kita tetanggaan juga ternyata. Aku tadi melihatmu pulang mengendarai sepeda ke rumah ini, dan terkejut sekali,” ujar seseorang yang pasti sudah sangat terterbak sekali siapa dia. Hun. Choi Taehun.
Bahu kecil Arin mulai meluruh jatuh. Energi yang berusaha ia kumpulkan selama ketiduran barusan, seperti langsung menguap ke udara. Ia menatap tanpa daya ke arah Hun yang masih berdiri dengan senyum cerianya itu.
“Aku hanya ingin menyapa dan membawa oleh-oleh untuk tetangga baruku,” ujarnya seraya menyodorkan satu piring berbentuk kotak panjang yang berisi kue di atasnya, masih terlihat sedikit kepul uapnya.
Hati Arin perlahan luluh karena kue yang tampak masih baru sekali dibuat itu, belum lagi aromanya yang menari-nari di hidung Arin, juga jangan lupa senyum yang tak lelah Hun beri padanya, seolah tak pernah kehabisan tenaga.
“Ini untukku?” tanyanya lagi dengan perasaan yang sudah lebih membaik. Hun mengangguk cepat, antusias.
“Duduklah terlebih dahulu,” sila Arin kemudian, menunjuk pada sofa di ruang tengahnya.
“Ah maaf, kapan-kapan saja aku singgah lebih lamanya. Aku harus melakukan sesuatu di rumah baruku. Masih banyak yang harus kulakukan,” cerita Hun pada akhirnya, dengan raut yang sedikit muram, tampak lesu.
“Tadi pagi aku sempat mengintip, sepertinya kau tinggal sendiri? Pasti melelahkan sekali kalau melakukan semuanya sendirian,” ujar Arin kemudian seraya menerima kue yang Hun sodorkan lagi padanya.
“Iya, aku tinggal sendiri, ingin menghirup udara segar pegunungan tiap paginya, makanya pindah dari kota. Sedang orangtuaku bekerja di luar negeri. Begitulah, aku dari kecil suka berpetualang sendiri,” jelas Hun yang membuat Arin tersenyum kecil.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Jangan lupa dihabiskan ya kuenya, itu aku sendiri, lho, yang membuatnya,” aku Hun yang membuat mata Arin sedikit membesar.
“Pintar memasak juga, ya,” kata Arin dengan senyuman yang makin mengembang tanpa ia sadari setelah melihat hasil karya tangan Hun itu, kue yang berbentuk persegi panjang mengikuti pola piringnya, dengan taburan cokelat serut di atasnya, serta beberapa potong buah stroberi segar yang menambah aroma sedapnya.
“Terimakasih, ya,” ujar Arin pada akhirnya, merasa lebih santai pada Hun, dan membuat pria itu merasa lebih lega sekarang. Memang Arin ini sepertinya merasa terintimidasi jika berada di lingkungan sekolah, makanya bisa berbeda begini. Benar-benar terlihat sekali perbedaannya.
Hun mengangguk, lantas kembali berpamit diri, dan berjalan santai menuju rumahnya seraya bersiul kecil. Suasana hatinya sedang agak baik, dan itu karena seorang Arin yang kini masih sibuk membaui kue di tangannya.
“Kau mau, Koki?” tanya Arin begitu kucingnya menyusul padanya.
Senyum tak lekang dari bibir Arin, seperti pagi tadi. Kue pemberian yang juga sekaligus buatan Hun itu sangat enak, dan ia merasa senang dengan keberadaan Hun sebagai tetangganya—bukan seorang teman sekolah, karena ia memang baik sekali, dan perhatian juga padanya.
Tak tahu saja, dengan senyum yang terus mengembang seperti itu, benih-benih sesuatu di hatinya juga mulai ikut mengembang.
~To be continued~