“Horeeeee,,, akhirnyaaaaa…”
Seorang pemuda melompat kegirangan sambil berteriak, membuat orang-orang yang ada di sekitarnya terkejut. Dia bahkan membuat kursi yang tadi dia duduki terjatuh ke belakang. Tapi sesaat kemudian, pemuda itu seperti sadar akan sesuatu, dan ekspresi wajahnya langsung berubah.
“Jancuk. Wong edan. Ngapain kamu teriak gitu?” gerutu seseorang yang duduk di samping pemuda itu.
Tak langsung menjawab, pemuda itu menarik kursinya yang tadi terjatuh, meletakkan lagi di posisinya, kemudian dia duduk.
“Hehe, sorry Gas, nggak sadar. Aku lagi seneng soalnya.”
“Seneng sih seneng, tapi nggak usah sampai kayak gitu juga kali.”
Orang yang merupakan sahabat dari pemuda itu masih terus menggerutu. Dia juga merasa malu karena dilihat orang-orang yang ada di kafe ini. Suasana kafe yang tadinya tenang tiba-tiba heboh karena teriakan dan lompatan dari pemuda itu. Bukan cuma pengunjung saja, tapi para karyawan kafe juga terkejut dan ikut-ikutan melihat ke arah mereka.
“Emang ada apa sih Ris? Sampai kamu teriak gitu?”
“Ini lho Gas, aku baru dapat email dari PT Dwiputra, aku keterima kerja disana.”
Pemuda yang tadi berteriak, Haris, menunjukkan handphonenya kepada sahabatnya yang sempat kesal, Bagas.
“Serius? Dwiputra? Wah mantap Ris, selamat ya.”
“Hehe iya Gas, makasih ya. Beruntung banget aku bisa keterima disana.”
Haris sebenarnya merasa kurang enak memberitahukan ini kepada Bagas. Karena pada awalnya, justru Bagas yang sangat ingin masuk ke perusahaan itu. Haris tadinya sudah mau memilih perusahaan lain, karena kebetulan tes yang diikuti sudah masuk tahap akhir, dan dia mau fokus, tidak mau mendaftar ke tempat lain lagi. Tapi kemudian Bagas yang memaksanya untuk mendaftar.
Pada akhirnya nasib berkata lain. Haris gagal dalam tes akhir yang diikutinya, tapi malah lolos di tes perusahaan ini. Sedangkan Bagas, yang dari awal mengajak Haris, malah sudah gagal di tes tahap awal. Tadinya karena Bagas sudah gagal, Haris juga sudah malas melanjutkan tesnya, tapi lagi-lagi Bagas memaksanya, dan akhirnya sekarang dia benar-benar diterima di perusahaan itu. Apalagi Haris tadi sempat melihat ekspresi lain dari Bagas, mungkin rasa kecewa, atau iri, tapi setelah itu Bagas bersikap wajar saja.
“Terus, kapan mulai kerjanya Ris?”
“Minggu depan sih berangkatnya, tanda tangan kontrak. Tapi mungkin juga langsung masuk masa training.”
“Oh gitu. Trainingnya berapa lama?”
“Katanya sih paling cepet 6 bulan, tapi bisa lebih juga, tergantung sama progresnya.”
“Ya bagus deh kalau gitu. Moga-moga kamu cukup 6 bulan aja trainingnya, terus langsung diangkat jadi karyawan tetap.”
“Amiiin. Makasih ya Gas. Sayang kita nggak bisa lolos bareng-bareng.”
“Iya sih, aku udah gagal di psikotes awal. Tapi nggak papa, aku ikut seneng kok kalau kamu lolos.”
Haris tersenyum mendengar ucapan Bagas. Dia tahu, meskipun berkata seperti itu, Bagas pasti menyimpan kekecewaan.
“Lha terus, tesmu sendiri gimana Gas yang sekarang?”
“Ini masih nunggu pengumuman, kalau lolos tinggal tes kesehatan aja sih.”
“Ya moga-moga kamu juga lolos Gas.”
“Iya, amiin..”
“Ya udah, kalau gitu kita cabut yuk.”
“Lah, mau kemana? Baru juga bentar disini.”
“Kita ke sport center.”
“Weh, mau ngapain Ris?”
“Mau beli jersey sama sepatu bola nih.”
“Lah, tumben amat? Kamu bukannya nggak suka bola ya?”
“Lha ya emang bukan buat aku. Buat kamu.”
“Kok buat aku?”
“Lha kan aku udah janji waktu itu, masak lupa?”
“Oh iya. Itu beneran ya? Kirain cuma bercanda doang, haha.”
“Yaa beneran lah, udah kadung janji. Yuk cabut.”
“Hayuk dah, lumayan dapet jersey sama sepatu gratis, haha.”
Sekarang giliran Bagas yang kegirangan. Haris memang pernah bilang, kalau dia lolos dan diterima kerja di PT Dwiputra, dia akan membelikan Bagas jersey bola tim kesayangannya, juga sepatu bola atau futsal. Saat itu Bagas menganggap Haris hanya bercanda. Harispun sebenarnya tak terlalu serius dengan ucapannya, karena dia pikir tidak akan diterima di perusahaan besar itu, tapi nyatanya dia diterima, jadi harus memenuhi janjinya.
+++
===
+++
Sudah seminggu berlalu sejak Haris membuat kehebohan di kafe saat dia bersama Bagas. Sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, kota tempat kantor pusat dari perusahaan yang sudah menerimanya. Masih terlalu pagi, matahari juga belum terbit, tapi Haris sudah tak bisa lagi memejamkan matanya. Dari kaca jendela kereta ekonomi yang dinaiki, Haris hanya bisa melihat kegelapan di luar. Sesekali cahaya lampu dari kejauhan nampak dari pemukiman yang dilewati kereta itu.
Rasa kantuk Haris sudah hilang, padahal sejak berangkat tadi dia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena kondisinya yang kurang nyaman, tapi karena dia terlalu bersemangat, perasaannya sedang sangat bahagia. Dia ingin cepat-cepat sampai di Jakarta, kota yang untuk beberapa bulan kedepan akan dia tinggali. Kalau sebelumnya dia ke Jakarta hanya untuk main-main atau liburan saja, kali ini untuk bekerja.
Haris memang sudah beberapa kali ke Jakarta. Yang paling sering adalah untuk mengunjungi seseorang. Seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya, tapi sejak setahun belakangan ini menghilang begitu saja, seperti ditelan bumi. Orang yang pernah begitu dominan mengisi hari-harinya, lalu meninggalkan ruang hampa di dalam hatinya, bahkan sampai sekarang.
‘Huft, apa nanti di Jakarta bakal ketemu dia ya? Gimana kabarnya dia sekarang? Kalau misal nanti ketemu, aku harus gimana ya?’
Ingatannya kepada seorang gadis yang dulu pernah mengisi hari dan hatinya itu, tiba-tiba membuat kegembiraannya hilang. Dia jadi teringat lagi, saat pertemuan terakhir dengan gadis itu. Waktu itu, dia mengunjunginya di Jakarta, karena kebetulan gadis itu sudah bekerja disana. Seperti sebelum-sebelumnya, setiap Haris mengunjunginya, mereka selalu menginap di hotel. Gadis itu tak pernah mau membawa Haris ke kostnya, karena katanya tidak boleh membawa cowok masuk. Padahal Haris hanya ingin tahu saja, tapi gadis itu tetap menolak. Akhirnya Haris tak lagi mempermasalahkan, karena yang penting buatnya bisa bertemu dan melepas kangen dengan gadis itu.
Tapi setelah pertemuan terakhirnya itu, saat Haris pulang, itulah saat terakhir mereka bertemu. Gadis itu masih sempat mengantarnya ke stasiun. Haris juga sempat mengabari saat keretanya mulai berjalan, dan gadis itu membalasnya. Tapi itulah pesan terakhir yang didapat oleh Haris. Setelah itu, Haris mengabarinya kalau dia sudah sampai, tapi pesannya tidak terkirim. Haris mencoba menelpon, tapi nomernya tidak aktif. Awalnya Haris masih berpikiran positif, mungkin memang handphone gadis itu sedang mati. Tapi setelah beberapa jam kemudian, Haris mencoba menghubungi lagi, tetap tidak bisa. Haris mulai khawatir, jangan-jangan terjadi sesuatu kepada gadis itu. Diapun mencoba mengecek media sosial gadis itu, dan betapa terkejutnya Haris, ternyata semua media sosialnya sudah tidak ada, dinonaktifkan semuanya.
Sejak saat itulah, Haris tak tahu lagi kabar gadis itu. Dia pernah mencoba mencari gadis itu ke Jakarta, tapi begitu sampai di Jakarta, Haris menyadari sesuatu. Dia tak tahu dimana kost tempat gadis itu tinggal. Haris mencoba mencari ke kantor gadis itu, tapi ternyata gadis itu sudah lebih dari sebulan mengundurkan diri. Itu artinya, saat pertemuan terakhir mereka, sebenarnya gadis itu sudah tidak bekerja lagi di tempat itu. Haris makin kebingungan, karena dia tak tahu lagi harus mencari kemana.
‘Ah sudahlah, kalau jodoh pasti ketemu lagi.’
Cukup lama Haris melamun, tanpa disadarinya kondisi di luar kereta sudah mulai terang. Dia melihat jam tangannya, sebentar lagi kereta yang dia naiki akan sampai di stasiun yang menjadi tujuannya. Hari ini dia akan dijemput oleh salah satu saudara jauhnya. Mereka sudah lama tidak bertemu, tapi untung Haris masih menyimpan nomer kontak saudaranya itu. Haris melihat orang-orang juga sudah mulai bersiap, diapun ikut mempersiapkan dirinya.
Sekitar 20 menit kemudian, kereta itu mulai masuk ke area stasiun. Haris sudah berdiri membawa tasnya, bersama dengan para penumpang lainnya. Begitu kereta berhenti, mereka turun dengan tertib. Begitu turun, Haris dan para penumpang lainnya langsung diserbu para porter yang menawarkan jasa mereka. Karena Haris hanya membawa sebuah koper yang tidak terlalu besar, dan juga tas ransel yang dipanggulnya, diapun menolak dengan sopan.
Haris langsung menuju ke pintu keluar. Dia harus berdesak-desakan dengan para penumpang yang berebut keluar. Saat itu juga dia langsung diserbu para tukang ojek dan supir taksi, tapi lagi-lagi Haris menolaknya. Tak lama kemudian dilihatnya seorang pria sedang berdiri agak jauh dari pintu keluar, tapi melihat ke arahnya juga. Pria itu melambaikan tangan, dibalas oleh Haris. Harispun segera menghampiri pria itu.
“Wueeeh, akhirnya datang juga. Selamat datang di Jakarta Ris,” sambut pria itu.
“Hehe makasih mas. Maaf lho udah bikin mas Aldo repot-repot jemput aku.”
“Halah santai aja lagi, nggak usah sungkan. Bawaanmu ini aja?”
“Iya mas.”
“Lha kok cuma dikit?”
“Iya ini yang penting-penting aja dulu, kan belum pasti ditempatin disini, repot kalau bawa banyak sekalian. Lagian, entar mas Aldo juga repot kan bawanya, hehe.”
“Lah repot kenapa? Aku kan bawa mobil.”
“Loh, kirain masih pake motor mas? Tau gitu kan aku bawanya banyak sekalian, hahaha.”
“Hahaha. Ya udah, yuk cabut. Mau kemana dulu? Mau makan apa langsung ke tempatku?”
“Ke tempat mas Aldo dulu aja deh, makan entar gampang.”
“Oke.”
Bersambung
“Lho mas, ini kita mau kemana?”
“Kemana gimana? Ya ke tempatku lah.”
“Tapi kok, kayaknya dulu nggak lewat sini ya?”
“Haha emang iya Ris, aku kan udah pindah.”
“Ooohh…”
Haris memang dulu pernah ke tempat Aldo, sekitar setahun yang lalu, dan memang seingatnya jalan yang dulu dilewati bukan seperti yang sekarang ini. Dulu Aldo memang pernah bilang kalau kostannya itu cukup jauh dari tempat kerjanya, mungkin dia pindah ke tempat yang lebih dekat, pikir Haris.
Tak lama kemudian mereka memasuki gerbang sebuah perumahan. Haris kembali heran dibuatnya. ‘Perumahan di kota Jakarta? Apa mungkin mas Aldo tinggal disini? Duit darimana dia bisa beli rumah disini? Kayaknya kerjaannya biasa-biasa aja deh.’ Banyak pertanyaan muncul di kepala Haris, tapi dia memilih diam saja. Dan lagi-lagi, pertanyaan di kepala Haris semakin bertambah saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah. Aldo turun duluan untuk membuka gerbang, setelah itu dia masuk lagi dan mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah itu.
“Mas, ini rumah siapa? Rumah mas Aldo?”
“Udah, turun dulu aja. Turunin tuh tas kamu sekalian.”
Haris menurut saja. Sebenarnya rumah ini tidak bisa dikatakan mewah, tapi tidak bisa dikatakan buruk juga. Karena perumahan yang berada di wilayah kota Jakarta, pastilah punya standar tersendiri. Tapi sekali lagi, perumahan model apapun di kota ini, pasti harganya tidak murah, bahkan untuk biaya kontrak sekalipun. Saat ini Haris memilih untuk diam dulu, nanti dia akan menanyakan semuanya kepada Aldo.
“Hei udah sampai ya?”
Tiba-tiba Haris dikejutkan oleh suara seorang wanita. Dia yang sedang menurunkan tasnya dari bagasi mobil, mau tak mau menolehkan kepalanya. Kembali dia dibuat terkejut. Seorang wanita muda keluar dari pintu rumah itu. Wanita itu memakai tanktop dan legging selutut yang cukup ketat, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah. Haris bisa melihat di tubuh wanita itu ada butiran-butiran keringan yang mengalir, seperti habis olahraga atau mungkin senam.
“Iya yank, untung keretanya on time tadi,” ucap Aldo, menghampiri wanita itu dan mereka berdua langsung saling kecup bibir, membuat Haris semakin melongo.
“Woy, mau sampe kapan bengong disitu? Buruan masuk!”
“Ehh ii,, iya mas.”
Haris yang dikejutkan oleh Aldo jadi merasa tak enak. Diapun segera membawa tasnya, menghampiri Aldo dan wanita itu.
“Ini Haris ya? Selamat datang ya,” sambut wanita itu menyalami tangan Haris.
“Ii,, iya mbak, makasih,” Haris menjawabnya dengan sedikit gugup.
“Kamu kok nggak bilang sih yank punya adek ganteng gini? Hehe,” ucap wanita itu kepada Aldo.
“Nah kan kumat lagi ganjennya. Udah masak dulu sana yank, laper nih.”
“Males ah, delivery aja ya?”
“Ya udah kalau gitu. Loh Ris, kok bengong sih? Kenapa? Ayo masuk.”
“Eh, ii,, iya mas.”
Ekspresi Haris ini membuat Aldo dan wanita itu tertawa. Mereka sepertinya tahu apa yang dipikirkan Haris, tapi membiarkannya saja dalam kebingungannya. Mereka bertiga melangkah masuk. Aldo menunjukkan kamar yang akan ditempati Haris. Aldo juga menyuruh Haris untuk mandi, setelah itu kumpul di ruang tengah, sambil menunggu makanan yang dipesan wanita itu untuk sarapan bersama.
Setelah mandi dan berganti baju, Haris sudah merasa lebih segar sekarang. Diapun menuju ruang tengah. Hanya ada wanita itu, Aldo sepertinya masih mandi. Haris kemudian duduk di salah satu kursi, tapi hanya diam saja karena wanita itu juga sepertinya sedang asyik dengan handphonenya, Haris tak berani mengganggunya. Tak lama kemudian Aldopun datang dan bergabung dengan mereka. Aldo duduk di samping wanita itu dan memeluk pinggangnya dengan mesra.
“Kamu kenapa sih Ris? Kok diem aja? Biasanya kamu cerewet?” tanya Aldo.
“Eh nggak kok mas. Anu, cuma masih capek aja,” jawab Haris.
“Capek apa bingung? Haha.”
“Yaa, dua duanya, hehe.”
“Lagian kamu sih yank, adek sendiri pake dikerjain segela,” celetuk wanita itu.
“Haha biarin, kan lucu yank liat mukanya si Haris gitu, haha.”
Haris yang dibicarakan hanya diam saja. Dia baru sadar kalau sedang dikerjai oleh saudaranya itu. Tapi dia juga masih bingung, mau bertanya, tapi mulai darimana. Kalau cuma ada Aldo, dia pasti sudah banyak bertanya kepadanya. Tapi karena ada wanita itu, yang bahkan Haris belum tahu namanya, dia jadi sungkan sendiri.
“Makanya kalau ketemu orang baru tuh kenalan dulu, jangan cuma diem aja, bingung kan jadinya. Nih, kenalan sama mbakmu,” ucap Aldo. Seketika wanita itu menatap Haris, membuat Haris salah tingkah.
“Bingung ya Ris?” tanya wanita itu.
“Iya mbak, hehe,” jawab Haris, dia benar-benar bingung.
“Aku Viona, istrinya mas Aldo.”
“Hah? Istri?” Haris terkejut, menatap Aldo.
“Iya, istriku.”
“Lho kapan mas Aldo nikah? Kok nggak kabar-kabar?”
Belum sempat Aldo menjawab, terdengar handphone Viona berbunyi. Dia mengangkatnya, ternyata dari ojek online yang mengantarkan makanan pesanannya.
“Makanannya udah datang yank.”
“Ya udah sana ambil, sekalian siapin ya?”
“Iya.” Vionapun beranjak pergi.
“Aku sebenarnya udah pengen ngabarin Ris, tapi nggak boleh sama bapakku. Kamu tahu sendiri kan, masalah bapakku sama keluarga besar kita?”
“Hmm, iya sih mas. Emang, kapan mas Aldo nikahnya?”
“Belum lama kok, baru 6 bulanan ini.”
Aldo kemudian menceritakan tentang pernikahannya kepada Haris. Singkat saja dia bercerita, termasuk alasannya tidak mengabari keluarga besarnya, termasuk Haris.
Harispun akhirnya bisa mengerti dengan alasan Aldo kenapa tidak mengabari tentang pernikahannya. Haris memang sudah tahu masalah ayah Aldo dengan keluarga besarnya. Beberapa tahun yang lalu, saat Haris masih SMA, ayah Aldo berselisih hebat dengan kakek Haris, sampai akhirnya ayah Aldo dan keluarganya pergi dari kota asal mereka. Sejak saat itu, mereka memang tak pernah muncul lagi. Ayah Aldo termasuk orang yang keras kepala, sekali dia melangkah pergi, pantang untuknya kembali lagi. Bahkan ketika kakek Haris meninggal, ayah Aldo tak datang. Itulah yang membuat keluarga besar mereka semakin memusuhi ayah Aldo.
Tapi meskipun demikian, hubungan antara Haris dengan Aldo tak ikut bermasalah. Mereka memang tak terlalu dekat, tapi sesekali masih bertukar kabar, apalagi kalau Haris sedang main ke Jakarta dan butuh tumpangan. Haris maupun Aldo tak terlalu mempedulikan masalah orang tua mereka, meskipun mereka berharap hubungan keluarga besar ini bisa pulih lagi.
“Udahan dulu ceritanya, yuk makan dulu kita.” Viona muncul dengan makanan yang sudah disiapkan. Pagi itu mereka sarapan bersama sambil ngobrol santai.
Viona dan Aldo banyak bertanya tentang Haris. Harispun menceritakan tentang tujuannya datang ke kota ini. Awalnya memang Haris berniat untuk menginap cukup lama di tempat Aldo karena dia pikir Aldo masih tinggal di tempat yang dulu. Tapi karena sekarang sudah tinggal berdua dengan Viona, Haris sempat mengutarakan keinginannya mencari kost-kostan saja, tapi Viona dan Aldo malah melarangnya, dan meminta Haris tetap tinggal disitu. Haris sebenarnya merasa tak enak, tapi mengiyakan saja. Dia berniat nantinya sambil mencari kost yang dekat dengan kantornya saja, supaya tidak terlalu menganggu Aldo dan Viona.
“Jadi kamu di PT Dwiputra ya Ris?”
“Iya mas.”
“Besok mau ngantornya jam berapa?”
“Hmm, pagi sih mas. Kalau di email yang dikirim, disuruh sampai sana jam 8, tapi aku mau berangkat duluan aja biar nggak telat. Kan nggak enak, baru hari pertama kerja udah telat.”
“Oh gitu, sebenernya kantornya searah sih sama kantorku, apa kita bareng aja?”
“Nggak usah mas, besok aku naik ojek aja biar cepet. Kalau naik mobil, takut kena macet entar.”
“Beneran? Emang kamu udah tau tempatnya?”
“Belum sih, tapi kan ada alamatnya. Gampanglah nanti.”
“Serius kamu nggak mau bareng kita Ris?” tanya Viona ikut menimpali.
“Iya mbak. Kalau besok-besoknya boleh deh, tapi khusus buat besok, biar aku naik ojek aja.”
“Oh ya udah kalau gitu mau kamu. Ya udah, sekarang istirahat dulu aja, pasti semalem di kereta nggak bisa tidur nyenyak kan?”
“Hehe, iya mbak, aku ke kamar dulu deh kalau gitu.”
Harispun meninggalkan Aldo dan Viona. Dia merebahkan diri di ranjang. Terasa nyaman sekali setelah semalam dia tidak bisa tidur karena posisinya yang kurang nyaman di kursi kereta ekonomi. Haris kini harus beristirahat dulu, bersiap untuk besok, memasuki gerbang baru dalam hidupnya, memasuki dunianya yang baru, dunia kerja.
Bersambung
Pagi ini Haris sudah berada di kantornya yang baru, tepatnya di ruang rapat. Bersama dia ada sekitar 15 orang lagi. Mereka semua kompak memakai pakaian yang sama, atasan putih dan bawahan hitam. Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus tentang pakaian yang harus mereka pakai, bahkan di email yang mengabarkan kalau mereka lolos kerja dan meminta untuk datang hari ini, hal itu tidak disebutkan. Tapi ternyata, mereka semua kompak memakai pakaian seperti itu, semuanya.
Haris sudah sampai di kantor ini sekitar setengah jam yang lalu. Dia benar-benar naik ojek online hari ini. Dia tidak ingin telat dan membuat kesan buruk di hari pertamanya bekerja. Dan sama seperti dia, teman-temannya yang juga sesama karyawan baru ternyata kebanyakan juga seperti itu, meskipun ada juga yang datangnya mepet dengan jam masuk kantor. Tak lama kemudian masuklah seorang pria dengan setelan jas rapi. Pria itu tersenyum geli melihat para karyawan baru yang berpakaian seragam, padahal tidak diminta.
“Selamat pagi semuanya…”
“Pagi paaak…”
“Perkenalkan nama saya Doni Wijaya, manager HRD PT Dwiputra. Saya ucapkan selamat datang kepada kalian semua, dan selamat bergabung di perusahaan ini,” ucap pak Doni memperkenalkan diri dan menyambut para karyawan barunya.
“Nggak perlu banyak basa basi ya. Kalian adalah orang-orang terpilih dari sekian ribu orang yang mendaftar, jadi berbanggalah. Tapi ingat, begitu masuk di perusahaan ini, kalian dituntut untuk memberikan yang terbaik. Semua harus on the track. Jika ada yang keluar jalur, atau tidak bisa mengikuti langkah yang lainnya, maka siap-siap aja, karena di luar sana sudah banyak orang yang menunggu untuk menggantikan posisi kalian, paham?”
“Paham paak…”
“Sebelum saya lanjutkan, saya ingin bertanya dulu. Apakah setelah duduk di ruangan ini, ada diantara kalian yang berubah pikiran dan ingin mengundurkan diri sekarang juga? Kalau ada, silahkan bilang ke saya. Yang dari luar kota, saya akan belikan tiket pesawat untuk pulang. Yang dari dalam kota, saya siapkan mobil untuk mengantar ke rumah kalian.”
Tidak ada yang menjawab, malah mereka bingung, saling tatap satu sama lain. Baru masuk kerja, belum apa-apa, sudah ditanya seperti itu.
“Saya bilang begini karena saya nggak mau repot lagi. Mendingan repot diawal, cuma keluar duit buat biaya kalian pulang. Tapi kalau kalian udah tanda tangan kontrak, terus nantinya nggak betah dan pengen keluar, urusannya ribet, dan saya nggak mau dipusingkan dengan hal itu.”
Kembali semuanya terdiam, termasuk Haris. Dia masih bingung dengan maksud pak Doni, tapi dia sudah mantap untuk tetap berada di perusahaan ini apapun yang terjadi, paling tidak, sampai kontrak untuk masa trainingnya selesai. Setelah itu, hal lain bisa dipikirkan lagi nanti.
“Oke, kalau nggak ada, saya anggap kalian sudah siap untuk memperjuangkan posisi kalian di perusahaan ini, betul begitu?”
“Betul paak…”
“Nah gitu dong, wajahnya jangan tegang kayak gitu, kalian ini baru diterima kerja, jadi pasanglah wajah bahagia kalian.”
Beberapa orang tersenyum mendengar ucapan pak Doni. Berbeda dengan yang tadi bernada tegas, ucapan pak Doni kali ini terdengar seperti sedang bercanda, apalagi pria itu juga sambil tersenyum.
“Baiklah, saya akan jelaskan program yang akan kalian jalani mulai hari ini. Kalian akan menjalani program training yang akan dibagi menjadi 2 tahap. Pertama, selama 3 bulan kalian akan belajar tentang dasar-dasar dan SOP kerja di kantor pusat ini. Setelah itu, 3 bulan kemudian kalian akan belajar lebih ke operasionalnya, semacam praktek kerjanya. Nah, di 3 bulan kedua ini, kalian bisa saja masih berada di kantor pusat, atau mungkin disebar ke kantor cabang, tergantung kebutuhan. Di akhir masa training nanti, kalian akan diminta presentasi apa saja yang sudah kalian dapat dan kerjakan selama training, dan itu akan menentukan kalian layak diangkat menjadi karyawan tetap atau tidak.”
Terdengar pak Doni memaparkan panjang lebar tentang program training yang akan dijalani oleh Haris dan teman-temannya sesama karyawan baru.
“Maaf pak,” salah satu karyawan baru ada yang mengangkat tangannya.
“Iya mas, ada apa?”
“Jadi kita belum pasti diterima disini pak?”
“Iya, benar sekali. Saat ini, status kalian masih 50%. 50% lagi ditentukan dari selama kalian mengikuti training dan presentasi akhir nanti. Masih ada pertanyaan?”
“Saya pak. Apakah nantinya jika kami semua lulus, kami semua diterima? Atau menyesuaikan dengan kuota?”
“Oh tidak, kalau kalian semua lulus, semua akan diterima karena jumlah kalian yang berada disini, adalah sesuai dengan jumlah karyawan yang kita butuhkan, baik di pusat ataupun di kantor cabang. Jadi tidak ada patokan ranking, hanya patokannya standar minimal yang diminta oleh perusahaan. Ada pertanyaan lagi?”
Semua terdiam kembali. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dan jawaban yang diberikan oleh pak Doni sudah cukup bagi mereka. Yang jelas sekarang mereka sudah tahu posisinya seperti apa. Meskipun belum sepenuhnya diterima, tapi mereka merasa lebih tenang karena tak perlu terlalu bersaing dengan sesama rekan karyawan baru. Jika semua bisa melewati standar minimal yang diminta perusahaan, semua akan lolos, tidak perlu diurut berdasarkan ranking.
“Baiklah kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya rasa semua sudah mengerti. Sebentar lagi asisten saya akan membawakan draft kontrak kalian untuk masa training, yang berisi hak-hak dan kewajiban kalian. Sambil menunggu, saya absen dulu ya, biar lebih kenal.”
“Iya pak.”
“Oke, yang pertama, Aldi Wijaya…”
“Saya pak.”
“Beatrix Rosalia.”
“Saya pak.”
Pak Doni terus memanggil satu persatu nama dari teman-teman Haris. Ada untungnya juga, karena tadi Haris belum sempat berkenalan dengan semua teman barunya itu.
“Haristama Nagoya.”
“Saya pak,” Haris mengangkat tangan ketika namanya disebut.
“Nagoya?”
“Eh, iya pak.”
Pak Doni menatap wajah Haris, membuat teman-temannya di ruangan itu ikut menatapnya, yang membuat Haris jadi bingung.
“Nama kamu ada nuansa jejepangan gitu, tapi mukamu nggak ada jepang-jepangnya?”
“Hehe, saya memang bukan orang Jepang kok pak,” jawab Haris.
“Oh, berarti, lahir di Jepang?” tanya pak Doni.
“Nggak juga pak, saya lahir di Solo.”
“Lha terus? Kok namanya pake Nagoya segala? Apa singkatan atau ada arti khusus yang lain? Atau cuma gaya-gayaan?”
“Hmm, kalau kata bapak saya sih, emang saya dibuatnya di Jepang pak, makanya dikasih nama itu.”
“Wuahahahahaha…”
Seketika mereka semua tertawa mendengar jawaban Haris. Bahkan pak Doni sampai terduduk di kursi memegangi perutnya saking kerasnya tertawa. Harispun mau tak mau ikut tertawa. Dia sebenarnya tidak berniat melucu, karena memang itulah jawaban dari orang tuanya ketika ditanya kenapa namanya ada Nagoya-nya. Apalagi selama ini juga jarang ada yang bertanya tentang namanya. Dan ketika dia menjawab seperti itu, sikap teman-temannya biasa saja.
“Permisi…”
Tawa mereka terhenti saat seorang wanita dengan busana kantoran masuk membawa setumpuk kertas. Semua perhatian langsung terpusat padanya. Terutama Haris, yang sangat terkejut melihat siapa yang masuk.
“Oh kamu Vi, sana bagiin dulu draft kontraknya,” perintah pak Doni.
“Baik pak.”
Wanita itu langsung membagikan berkas yang dia bawa ke para karyawan baru. Yang terakhir adalah Haris, karena dia memang duduknya paling belakang.
“Loh, mbak Viona? Kok disini?” tanya Haris, setengah berbisik.
“Ya emang aku kerja disini, hehe. Udah kamu baca aja dulu itu, entar aja kita lanjutin ngobrolnya,” jawab wanita itu, yang tak lain adalah Viona.
Haris benar-benar terkejut karena tak menyangka Viona juga bekerja disini. Dari kemarin, tidak ada pembicaraan mengenai hal ini selama di rumah. Aldo tak membahasnya, Viona juga. Dan memang Harispun tak bertanya dimana Viona bekerja. Pantas saja kemarin Aldo dan Viona, terutama Viona menawarkan untuk berangkat bareng, ternyata mereka memang sekantor. Tapi ada untungnya juga bagi Haris berangkat duluan, karena memang sudah niatnya untuk tak sampai telat di hari pertamanya bekerja.
“Vi, bisa tolong kamu jelasin masalah kontrak itu?” pinta pak Doni.
“Baik pak.”
Viona yang baru saja duduk kemudian berdiri lagi, saat dilihat para karyawan baru itu selesai membaca draft kontrak mereka, dan menunggu penjelasan dari Viona.
“Baik rekan-rekan semua, sudah dibaca draftnya?”
“Sudah bu…”
“Oke, saya hanya akan sedikit menambahkan saja. Intinya, selama masa training ini, kalian akan menerima gaji sebesar 6 juta perbulan. Untuk tempat tinggal, bagi yang berasal dari luar kota diberi 2 pilihan. Pertama tinggal di mess perusahaan, kedua mencari tempat tinggal sendiri. Tapi jika mencari kos sendiri, dari pihak perusahaan tidak menanggung biayanya, jadi semua 100% ditanggung oleh rekan-rekan sendiri, bisa dipahami?”
“Bisa bu…”
“Maaf bu, saya mau nanya,” seseorang dari mereka mengangkat tangannya.
“Iya mas silahkan.”
“6 juta ini bersih atau masih dipotong pajak lagi?”
“Oh, 6 juta itu bersih. Untuk pajak sudah ditanggung perusahaan, sudah diluar itu.”
Semuanya mengangguk. Hampir semua tak mempermasalahkannya lagi, karena ternyata gaji pertama yang akan mereka terima jauh lebih banyak dari yang mereka kira sebelumnya. Termasuk Haris, yang waktu interview ditanya berapa gaji yang diinginkan, dia hanya menjawab 4-5 juta saja, tapi ternyata malah lebih tinggi dari permintaannya.
‘Masih training aja segini, berarti kalau udah diangkat jadi karyawan tetap, bakalan lebih tinggi lagi dong? Wah beruntungnya aku bisa masuk di perusahaan ini. Aku harus bener-bener berusaha nih, biar diangkat jadi karyawan tetap,’ batin Haris.
Bersambung