"Kau takkan suka dengan apa yang akan kau lihat, Kakak ipar." Ucap gadis yang berpakaian begitu minim. Menatap Arum yang memegang kuat-kuat kemudi mobil yang sudah berhenti di depan gedung apartemen.
"Tapi, terserah padamu, Kakak ipar. Aku hanya akan mengantarmu sampai depan pintu saja karena aku ada janji dengan teman-temanku malam ini," Ucap gadis yang lalu turun, tak perduli dengan suasana hati Arum pada fakta yang baru saja diketahuinya hari ini. Suaminya yang jarang pulang itu memiliki apartemen lain bahkan--
Duk..duk..!
Suara kaca mobil yang digedor tak sabar membuat Arum menarik nafasnya begitu dalam. Ia keluar lalu berjalan berdua dengan gadis tinggi semampai di sampingnya dalam diam. Gadis yang bahkan lebih perduli dengan warna kuteks yang menyala di jemari lentiknya itu dibandingkan dengan perasaan Arum, sang kakak ipar.
"Kau jadi masuk atau mundur saja dan jalani hidup seperti biasa?" ucap Zizi begitu tak bersimpati lalu membuang muka mendapati tatapan Arum yang ujung matanya seperti pisau.
"Jangan menatapku begitu, Kakak ipar. Kau saja yang terlalu bodoh. Tak tau apa yang suamimu lakukan di belakangmu." Ucap Zizi begitu biasa. Seolah apa yang Arum ketahui beberapa saat lalu adalah hal yang begitu remeh. Begitu ringan. Hal biasa. Tidak penting. Bahkan tak lebih penting dari kuteknya yang hari ini berwarna merah terang.
"Dengar, aku tak ingin terlibat dalam hal ini, jadi aku akan pergi begitu kita sampai."
"Ya." Ucap Arum begitu singkat meski ia meremas tangannya kuat-kuat, lalu berjalan mengikuti Zizi tanpa kata, masuk ke dalam lift yang sepi. Sampai ponsel Zizi berbunyi dan langsung diangkatnya tanpa permisi seolah Arum tak ada di sampingnya.
"Hai, Baby, maaf aku akan terlambat datang tapi jangan coba-coba memulai tanpa aku.... yeah aku hanya sedang mengurus masalah kecil," ucap Zizi yang melirik Arum. Sang kakak ipar yang hanya diam mendengar suara musik dan suara pria samar dari ponsel Zizi, namun tak perduli karena Arum bahkan tak yakin dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.
"Bukan hal penting kok, Makanya jangan mulai bersenang-senang tanpa aku. I`ll be there soon--- bye, Seth, love you baby, muach!" ucap Zizi mengakhiri telponnya sambil memberi ciuman panjang yang tampak percuma lalu menatap Arum yang masih saja diam.
Tapi, apa pedulinya pada apa yang kini sedang dirasakan si kakak ipar di sampingnya ini? ada pesta yang sudah menunggunya dan ia harus hadir telat berkat Arum. so terimakasih KAKAK IPAR!
Di dalam lift yang sepi mereka terus diam sampai lift terbuka di lantai 12 dan Zizi berjalan keluar terlebih dahulu meninggalkan Arum yang makin mengeratkan pegangan tangannya sendiri lalu berjalan menyusuri lorong yang terasa dingin.
"Kau sering datang kemari?" tanya Arum tiba-tiba membuat Zizi yang sesekali menatapi jam di pergelangan tangannya jadi bisu beberapa saat lalu menjawab singkat.
"Beberapa kali," jawab Zizi pada akhirnya membuat Arum menarik garis bibir tanpa ia sadari. Dan itu tak mungkin bisa disebut senyum. "Kau tau, Maya teman baikku, Arum. No hard feeling ok? semua hanya terjadi."
Ucapan Zizi seakan menusukkan jarum pada wanita yang hanya beda satu tahun dengannya ini. Tak ada lagi panggilan kakak ipar bernada manis yang sering Zizi keluarkan apalagi jika gadis di sampingnya ini menginginkan sesuatu. Bukan salah Zizi, jika menganggp Arum seperti ATM pribadinya. Arum hanya sudah terbiasa begitupun Zizi. Lagipula mereka keluarga, bukan? Atau hanya Arum yang menganggap seperti itu?
MEREKA KELUARGA, BUKAN! tapi keluarga macam apa mereka ini?
"Ya, aku tahu. Maya teman baikmu, dan aku hanya istri dari kakakmu." Ucap Arum membuat Zizi terdiam mendengar nada ejekan dari bibir iparnya itu dan terus melangkahkan kakinya dalam diam tak mampu membalas. Dan baru berhenti melangkah di depan pintu yang suara dari dalamnya lamat-lamat terdengar.
Zizi tak mau menutup mulutnya, ia menoleh pada Arum yang genggaman tangannya sendiri bahkan membuat buku-buku jarinya memutih saat mendengar seramai apa suara di balik pintu tertutup yang membuat jantungnya bertalu-talu. "Kukatakan saja padamu. Aku kashian padamu Arum, tapi apa yang bisa kulakukan? semua sudah terjadi."
"Ya, tentu saja, Zizi. Kau juga Ibu hanya menutup mata kalian, tak lebih dari itu."
Arum yang bisa merasakan sedalam apa kuku jarinya menancap pada telapak tangannya sendiri ini menyadari hidupnya tak seperti yang dia pikirkan selama ini. Lalu kembali diam menatapi pintu dengan keramaian dan tawa yang membuat jantungnya berdetak makin cepat. Apa lagi saat Zizi menjulurkan tangan lentiknya memencet bel yang tak lama dijawab.
"Siapa?" Suara manja bocah kecil terdengar.
"Ini tante Zizi, Sayang. Buka pintunya, please," ucap zizi begitu ramah, begitu hangat, begitu akrab pada suara anak kecil yang langsung membuka pintu dan memeluk Zizi cepat tak perduli pada wanita yang berdiri memandangnya dengan mata kaget. Memandangi gadis kecil dengan senyum begitu lebar lalu mendongak menatap Arum yang tubuhnya jadi kaku, membisu dengan suara tercekat tak percaya.
Memperhatikan gadis kecil yang sering dilihatnya setiap kali mengantar dan menjemput Arimbi di preschool yang sama!
"Siapa, Sayang?"
"Tante Zizi, Pi," jawab gadis kecil yang menolehkan kepalanya, menatap pria yang wajahnya berubah begitu melihat Arum yang juga menatap pria yang sudah memakai baju santai itu.
"Kenapa cuma diam, Pi? suruh masuk dong," ucap wanita yang memeluk pria yang berdiri kaku itu.
Meski tampak terkejut melihat Arum, tangan Maya terus melingkar pada pinggang Bagas. Lalu menunjukan senyum begitu manis pada wanita yang wajahnya begitu kaget. Terkejut. Berusaha mencerna.
"Sayang, kamu jalan sama tante Zizi dulu, ya?" ucap Maya pada gadis kecil berpita pink yang masih memeluk kaki Zizi.
"Tidak bisa, May. Gue ada janji sama Seth." Tolak Zizi cepat begitupun gadis kecil yang melepas pelukannya.
"Tidak mau, Mi. Aku mau nonton dan beli mainan sama Papi!" tolak gadis kecil yang memang keras kepala itu dengan seluruh rasanya.
"Carmen sayang, Papi ada sedikit urusan. Kamu sama tante Zizi dulu, ya? besok baru kita beli mainan yang banyak."
"!!' Ucapan Bagas membuat Arum tiba-tiba mengingat gadis kecilnya di rumah dan bertanya pada dirinya sendiri pernahkan suaminya berlaku begitu lembut pada anak mereka? TIDAK. Tak sekalipun!
"Tapi, aku maunya main sama papi, Pi. bukan sama tanye Zizi."
"Gue jug-"
"Kakak mohon, Zi. Kali ini saja." Ucap Bagas pada adik perempuannya yang meski menolak akhirnya mengangguk, mengalah.
"Ganti bajumu, Tuan putri. Kau pergi denganku."
"Kemana, Tante?"
"Pesta." Ucap Zizi membuat Carmen tersenyum senang lalu berlari ke kamarnya diikuti Zizi yang masuk ke dalam tanpa menoleh pada Arum. Gadis egois itu hanya ingin cepat-cepat pergi untuk bertemu dengan lelaki yang tadi menelponnya. Rasanya ia bahkan tak menyimpan rasa bersalah untuk Arum. Bersalah? Ia bahkan tak bersimpati sedikitpun!
"Jangan harap gue akan ngebatalin acara gue, May." Ucap Zizi saat melihat pandangan Maya padanya.
*
Ruangan yang tampak nyaman itu begitu sepi tanpa suara. Tiga orang yang duduk di atas sofa lembut dan empuk itu tampak tidak ingin memulai percakapan. Tidak Arum, tidak juga Bagas suaminya. Suaminya? lucu sekali, bukan?
Tapi, terdengar dan terlihat selucu apapun Arum Wijaya sama sekali tak ingin tertawa.
"Kau ingin minum sesuatu, Arum?" tanya wanita yang duduk di samping Bagas, menatap Arum yang mengatupkan mulutnya begitu rapat.
Tak ada rasa bersalah atau menyesal sedikitpun baik dalam sikap atau sorot mata Maya, wanita itu bahkan bersikap begitu santai seolah sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari. Sungguh jauh berbeda dengan wanita yang lebih memilih tak menjawab tanya Maya dan menatap Bagas yang juga diam membisu.
"Sejak kapan?" ucap Arum tak perduli pada pertanyaan basa-basi Maya.
"Arum aku min-"
"Aku bertanya padamu sejak kapan, Mas?" sela Arum memotong ucapan suaminya atau suaminya berdua Maya. Hal yang baru ia ketahui beberapa saat lalu dari mulut sang adik ipar. Zizi yang keluar bersama keponakannya.
'Keponakannya?' batin Arum yang rasanya ingin tertawa sendiri.
"Kami tak pernah berpisah, Arum. Tidak sekalipun." Ucap Maya menggantikan Bagas yang hanya terdiam. Membuat Arum menatap wanita yang duduknya begitu nyaman itu.
"Aku bertanya pada mas Bagas, Maya. Bukan padamu." Ucap Arum membuat Maya menatapnya tajam tapi Arum tak perduli.
"Sejak kapan, Mas Bagas? apa kau mendadak jadi bisu kini?" ucap Arum yang tak perduli pada tatapan menghujam wanita yang duduk di samping Bagas yang terus membisu.
"Arum maafkan aku."
Ucapan Bagas membuat Arum menarik nafasnya dalam. Berharap rasa sesak yang ia rasakan berkurang. Tapi percuma, dadanya seperti ditindih benda berat tak kasat mata yang terasa begitu nyata. "Kau jadi tuli rupanya. Aku bertanya padamu sejak kapan Mas Bagas dan aku tak butuh maafmu."
Ucapan Arum membuat Bagas menatap wanita yang duduk di hadapannnya. Wanita yang tatapannya saja cukup menyiutkan diri pria yang mulutnya jadi terasa begitu kering seketika.
"Aku tak pernah berpisah dengan Maya, Arum. Seperti yang Maya katakan padamu."
"!"
_____
PS. sudahkah merasa sesak? belum? than keep reading it.
"Aku tak pernah berpisah dengan Maya, Arum. Seperti yang Maya katakan padamu."
Manik mata Arum membesar meski ia sudah bisa mendengar kalimat Bagas berputar-putar dalam kepalanya berulang kali. Apalagi saat ia melihat gadis kecil yang membuka pintu. "Tapi kau menikahiku, Mas Bagas, tidakkah itu artinya kau memilihku dan melupakan masa lalumu?" ucap Arum berusaha agar suaranya tak melemah meski hatinya sakit. Sangat sakit.
"Kau hanya datang di saat yang tepat, Arum." Ucap Maya membuat Arum seolah kehilangan kata-kata.
"Saat yang tepat?" ucap Arum mengulang dengan lemah. Tapi dua orang di depannya tak mengerti itu dan melanjutkan ucapan mereka.
"Maya kembali tapi pernikahan kita tinggal dua hari lagi dan tak mungkin dibatalkan," ucap Bagas membuat Arum menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Bukankah aku bertanya padamu sebelum kita benar-benar sah menjadi suami istri. Apa kau sungguh ingin menikah denganku, Mas Bagas? Dan apa jawabanmu hari itu? Tidakkah ayahku juga menanyakan hal yang sama sebelum penghulu datang, apa kau benar-benar ingin menjadikan aku istrimu? dan apa jawabanmu? kau bersedia. Tak ada paksaan bahkan kau tampak... ya Tuhan... Apa kau bersandiwara padaku selama ini?" ucap Arum menutup wajahnya.
Rasanya ia merasa jadi manusia paling bodoh di dunia dan sekelebat senyum Arimbi yang begitu polos membuatnya ingin menangis tapi ditahannya sekuat hati. Arum tak sudi meneteskan airmatanya di hadapan pria yang ... yang menikahinya juga wanita yang masih begitu tenang bahkan menujukan senyum.
"Kita... kita bahkan punya anak, Mas Bagas"
"Ayolah, Arum. Bahkan pria bisa bergonta-ganti wanita panggilan tiap malam." Ucap Maya membuat Arum menatapnya tajam.
"Aku bukan wanita murah sepertimu, Maya. Yang biasa saja disentuh pria yang mau memberikan macam-macam." Ucap Arum membuat Maya berdiri seketika tak terima dikatai seperti itu.
"Arum, kumohon jangan menghina Maya."
Ucapan Bagas membuat Arum tertawa meski matanya terasa panas dan perih. Ia menatapi pria yang tangannya mengepal kuat. "Kau marah karena aku mengatakan kebenaran? Kurasa cinta benar-benar membuat orang jadi buta, bukan?" ucap Arum membuat Bagas jadi diam begitupun dirinya, dan ia menatap potret keluarga yang tampak bahagia seakan mengejek dirinya begitu menohok.
Senyum Maya, tawa Carmen, pelukan Bagas pada keduanya. Potret itu terasa begitu mengolok-olok Arum yang teringat pada gadis kecilnya yang pasti sudah tidur. Gadis kecil yang tertawa begitu bahagia hanya karena ia mengatakan Arimbi mirip sekali dengan Bagas karena sama-sama menyukai hal manis tapi bukan kue.
Tawa bahagia dan polos sang putri yang rasanya begitu ingin membuat Arum menangis sejadi-jadinya. TAPI IA TAK AKAN MENUNJUKAN ITU PADA BAGAS MAUPUN MAYA. TIDAK AKAN!!
"Seandainya kau tak mengandung kita pasti sudah berpisah."
Namun, ucapan Bagas membuat Arum seakan tertampar begitu keras. Membuat matanya basah tanpa bisa ia cegah. "Jangan pernah menyalahkan anakku atas apa yang kau lakukan."
Arum menahan amarahnya meski tatapan matanya begitu tajam. Tepat tertuju pada lelaki yang yang duduknya jadi tak tenang itu.
"Yang mengatakan ingin menikah denganku, kamu."
"Yang menyentuhku, kamu."
"Jadi jangan sekalipun menyalahkan anakku atas keegoisan dan kepengecutanmu, Mas Bagas."
"Semua adalah pilihanmu juga kebodohan diriku yang tidak bisa melihat. Jadi jangan berani-berani menyalahkan anakku." Ucap Arum setegas-tegas dirinya. Lalu menghapus air matanya dan berdiri.
Rasanya ia sudah cukup mendengar apa yang ingin diketahuinya. Arum sudah cukup mendengar apa yang ingin ia pahami. CUKUP!!
Arum berdiri dari tempatnya duduk, matanya yang masih menyisakan airmata menatap Bagas. "Ayo bertemu lagi di pengadilan untuk bercerai."
Arum yang sudah melangkah menatap tangan pria yang menahan pergelangan tangannya, "aku tak pernah mengatakan ingin bercerai, Arum."
Arum menatap tangan besar yang menggenggam lengannya erat, "sekalipun kau tidak. Kau sudah mendengarku yang menginginkan perceraian kita. Aku tak mau melanjutkan hidup seperti ini lagi, Mas Bagas. Dan keputusanku sudah bulat kini setelah mendengarmu- ini... ini sudah cukup bagiku," ucap Arum yang sorot matanya begitu yakin. Ia tak akan goyah dan Bagas tahu itu. Sangat tahu.
"Berpikirlah tentang anak kita, Arum," ucap Bagas membuat Arum menatapnya tajam dan mengangkat tangan secepat tangan itu bergerak.
PLAKK...!
Arum menampar pipi pria di depannya dengan tangannya yang bebas. Sensasi panas yang menjalar di permukaan tangannya pun tak Arum pedulikan, sebagaimana ia tak perduli pada pria yang kaget baru saja menerima tamparan begitu sepenuh hati dari Arum. Wanita yang baru kali ini menamparnya sejak mereka saling mengenal.
"SUDAH KUKATAKAN PADAMU JANGAN BAWA-BAWA ANAKKU!" seru arum yang tak lagi bisa menahan amarahnya lagi. Emosinya sudah tak tertahan kini.
"Pernahkah kau mengusap kepalanya begitu sayang seperti perlakuanmu tadi pada Carmen? Pernahkah kau meluangkan waktumu sesaat untuk sekedar memujinya yang mendapat nilai bagus? Atau pernahkah kau memeluknya begitu lembut seperti caramu memeluk anakmu dari wanita MURAH itu!" ucap Arum yang tak bisa menahan rasa sakit dalam hatinya juga derai airmata yang mengalir bagai anak sungai.
Seluruh dirinya menjeritkan kata perih, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk gadis kecil yang wajahnya semakin membuat batin Arum menjerit dan sakit.
Arimbi yang sudah terbiasa hidup hanya dengan dirinya tak perlu merasakan kesakitan yang kini sedang ia rasakan. Arum akan menghindarkan perasaan buruk mengganggu tumbuh kembang anak pecinta permen stroberi yang kehadirannya begitu ia syukuri. Dan Arum tak akan pernah memaafkan siapapun yang menyalahkan kehadiran Arimbi, tak seorangpun! termasuk pria yang masih menatapinya tak percaya pipinya memerah berkat tangan Arum.
"Kau dan keluargamu bersikaplah seperti biasa. Toh, aku dan putriku sudah biasa tanpa kehadiran kalian." Arum menyentak tangannya kasar dari cengkraman tangan pria yang jadi diam menatapnya pergi. Lalu menutup pintu begitu kasar.
BRAKK!!
Arum yang berlari keluar apartemen langsung menghampiri mobilnya dan menangis tak memperdulikan ponselnya terus berbunyi tak kenal menyerah. Ia terus menangis sesuka hati mengakui pada diri ia sedang terluka, kecewa juga marah. Arum Wijaya terus menangis berharap seluruh rasa buruk luruh bersama airmatanya yang menganak sungai dengan dering ponsel yang terus mengiringi dan ia abaikan.
Bahkan sampai Arum menghapus mata sembab nan merahnya, meski meninggalkan isak yang sesekali terdengar juga perih di mata. Ponsel Arum terus berdering.
Dering yang sama sekali tak diperdulikan wanita yang ujung matanya menatapi kantong berisi permen lolipop rasa stroberi.
Permen yang sudah dibelinya sejak awal, karena Arum sadar perasaannya akan sangat buruk dan tak mungkin mampu masuk ke dalam toko setelah mendengar kebenaran dari apa yang ingin ia ketahui.
Tangan Arum yang terjulur mengambil kantong berisi permen untuk Arimbi, mendekap erat kantong dari kertas warna-warni yang sudah berpindah dari jok belakang keatas pangkuannya. Ia mengingat putrinya yang pasti sudah tidur dan tawa gadis kecil yang fotonya terpampang di layar ponsel yang terus berdering tanpa henti membuat matanya berair lagi.
"Kamu bukan kesalahan sayang, tapi kamu kesayangan mama," ucap Arum yang menyentuh garis tawa Arimbi.
Setelah menarik nafas dalam-dalam Arum melajukan mobilnya tapi bukan rumah dimana gadis kecil kesayangannya tertidur lelap yang ia tuju.
*
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Maya pada Bagas yang mengambil kunci mobil.
"Pulang?"
"Pulang?! Di sini rumahmu, Mas Bagas. Kau mau pulang kemana lagi?" tanya Maya tampak tak bisa menahan emosinya menatap pria yang sudah memegang gagang pintu.
"Aku tau, Maya. Tapi aku tetap harus pergi," ucap Bagas menghampiri pemilik mata memikat yang memeluknya erat.
"Jangan pergi, wanita itu sudah menyerah padamu. Itu yang kita inginkan, bukan?" ucap Maya tapi tak mendapat respon apapun dari Bagas.
"Itu yang kita inginkan 'kan, Mas Bagas?" ulang Maya menyentuh pipi pria yang akhirnya mengangguk, membuat Maya tersenyum dan melumat bibir Bagas begitu lapar lalu turun menyusuri leher Bagas dan mulai melepas baju pria yang tampak ingin menolak.
"Jangan pulang, kumohon," pinta Maya yang tangannya menjelajah ke dalam celana Bagas. Begitu lihai memainkan jarinya yang penuh perhitungan di dalam celana Bagas yang tak lagi bisa menahan baranya yang sengaja Maya sulut.
Pada akhirnya pria yang mendesah itu meletakkan kunci mobilnya lagi dan mengangkat Maya ke dalam kamar yang pintunya ditutup rapat.
Tak butuh waktu lama, suara lenguhan yang tinggi dan nafas yang seakan memburu terdengar dari dua manusia yang mirip binatang kelaparan memecah malam yang seharusnya kelabu.
Dua manusia yang saling menyentuh tak meninggalkan ruang sedikitpun untuk dingin menyusup diantara peluh yang membasahi badan.
Erangan bak candu yang memekakkan telinga memenuhi ruangan kedap suara yang rasanya tak mampu meredam suara dua orang manusia yang berlaku seperti binatang kelaparan dan sangat membutuhkan kehangatan, sekedar untuk membuat mereka sadar kehadiran satu dengan yang lain.
Pagutan, pelukan, hujaman, goresan, dan teriakan penuh candu seakan tak pernah cukup. lalu berulang berkali-kali. lagi dan lagi dan lagi.
Sungguh DUA binatang kepanasan, bukan?
_______
PS. Akhirnya tamparan pertama. tapi kok rasanya kurang ya, iya gak sih? atau itu saja cukup? kasih pendapat kamu dong.