"Kenapa kamu bisa terluka lagi, Joe?" ucap gadis kecil yang menempelkan plester bergambar bunga matahari, setelah ia memilih koleksi dalam saku rok birunya yang berumbai-rumbai beberapa lama.
"Kan, sudah kubilang. Jangan bermain dengan anak-anak nakal itu. Mamaku benar, anak cowok emang susah dibilangin." tambah gadis kecil itu menepuk plester yang sudah menempel di siku bocah bule yang mata abu-abunya tampak protes merasakan perih.
"Jangan cengeng kamu 'kan cowok, aku aja gak nangis kalo luka." ucap gadis kecil yang berdiri. Seolah mengatakan tugasnya selesai dan menatapi bule yang juga berdiri menatap gadis kecil yang selalu menolongnya saat diganggu anak-anak lain hanya karena tubuh Joe lebih kecil dari mereka.
"Kan, sudah kubilang laporkan saja pada miss Eva," ucap gadis kecil yang lalu menunjuk guru mereka yang cerewet diantara kumpulan beberapa anak yang pipinya masih begitu tembem dan kenyal, mirip keduanya.
"Yeah, I kick one of them and make him cry," ucap bule kecil itu bangga. Menunjuk ke arah yang sama, meski yang ditunjuk jemari kecilnya berbeda dengan arah gadis kecil di sampingnya.
"Tapi, kenapa miss Eva tak menghukum anak-anak nakal itu, ya?" tanya gadis kecil itu lalu mengucek matanya merasakan ada angin menyapa matanya yang bulat nan jernih.
"What? I will not cry. This not hurt at all." Ucap Joe menunjuk plester yang menempel di lengan putihnya sendiri.
"Aku tau, itu pasti sakit tapi jangan menangis. Nih, aku bagi permen," kata gadis kecil yang sakunya tampak berisi banyak benda.
"Candy? Its for kids. I dont want it," ucap joe yang tangannya menyilang.
"Kamu mau dua? Baiklah, tapi jangan bilang Rei, ya? Aku hanya membaginya satu," ucap gadis kecil itu mengambil satu lagi permen dalam saku dan meletakkannya di kedua tangan Joe yang meski ingin menolak jadi diam melihat anak yang badannya lebih besar sedikit darinya itu tertawa begitu lebar.
"Lain kali bilang miss Eva dan jangan berantem."
"I said I dont want it," bisik joe pelan tapi tetap memakan lolipop rasa stroberi yang akan membuat lidah dan bagian langit-langit mulutnya merah.
"Enak, kan. Itu rasa favoritku."
"It's so sour, I don't like it," ucap Joe yang menarik keluar permen yang diemutnya.
"Joe! why you eat that? You said you don't like strobery."
"Hai, carmen. Kamu mau permen juga?" ucap gadis kecil yang melihat carmen menunjuk permen yang dipegang Joe.
"Joe itu tidak suka stroberi, tau!"
"E~h... tapi, Joe tetap makan kok, tuh lihat." ucap gadis kecil itu menatap Joe yang memasukkan permen ke mulutnya, lagi.
"Dia itu tidak suka tau! Joe, tak mau makan kue stroberi yang kubawa," ucap Carmen membuat gadis di depannya berpikir.
"Aku juga tidak suka kue. Tapi, aku suka permen karena rasanya lebih enak. Mungkin joe sama sepertiku. Bener ga, Joe?"
"Yeah, I dont like it. But trowing food is not good," ucap Joe mengangguk.
"Lihat, kan? joe suka tu."
"Joe bilang tidak suka, Bodoh! You don't like it, isn't it joe?" kata Carmen membuat Joe menggeleng.
"Yes, it's so sour."
"Tuh! Joe bilang rasanya asem gak enak!" ucap Carmen tak mau kalah. Sementara gadis kecil di depannya tersenyum senang.
"Iya, rasanya asem dan manis, enak sekali. Carmen mau juga?"
"Tidak mau bodoh! Joe itu tidak suka, yakan Joe?"
"He~h tapi, Joe tetap makan, tuh."
"Pokoknya joe itu tidak suka."
"Joe, tak suka permen?"
"Joe tak suka stroberi!"
"HAI JOE!"
"Akh!" Joe yang tampak bingung jadi kaget dan menjatuhkan permen dari mulutnya karena ada yang memukulnya dari belakang.
Tiga pasang mata bulat itu menatap permen yang jatuh di atas tanah. Diikuti bocah lelaki nakal yang senyumnya hilang lalu ikut menatap permen yang tergeletak.
"Yah jatuh."
"Yes!" ucap carmen senang
"Akh! jatoh ya? I am sorry, Joe," ucap bocah lucu namun memiliki wajah nakal yang ikut menatap permen lolipop di tengah mereka.
"Rei, bodoh! hati-hati dong, gimana kalo Joe ikut jatuh juga?!" seru Carmen menendangi kaki Rei yang malah tertawa.
"Itukan permen Joe. Kenapa Carmen yang marah?" ucap Rei menoleh pada gadis kecil yang masih menatapi permen dengan mulut menganga. Matanya tampak sedih.
"Eh, jangan nangis. Nih, aku ganti sama permenku," ucap Rei mengeluarkan permen sama dari sakunya.
"itu permen Joe tau, Rei bodoh!" protes Carmen.
"Tapi, Joe juga dikasih, tauk," ucap Rei tak mau kalah. Padahal permen yang sedang ia sodorkan itu juga permen yang dibagi gadis kecil yang terus menatapi permen yang jatuh di atas tanah.
"Arimbi!" seru miss Eva membuat gadis kecil yang mulutnya masing menganga itu menoleh, begitupun tiga pasang mata bulat di sampingnya.
"Mama arimbi, sudah datang menjemput."
Ucapan miss eva membuat wajah Arimbi berbinar melupakan sedihnya permen Joe yang jatuh. "Aku pulang duluan ya," pamit gadis kecil itu semangat dan melambai pada tiga bocah di depannya lalu berlari ke gerbang sekolah setelah salim pada miss Eva.
"Joe itu tak suka kamu tauk," ucap Rei yang masih bertengkar dengan Carmen.
"Tapi, joe duduk di sampingku dan cuma aku yang bisa ngomong sama joe," balas Carmen tak mau kalah.
"Sebentar lagi aku dan Arimbi juga bisa ngomong bahasanya Joe."
"Oh ya? Kamu sih mungkin Rei, tapi Arimbi? Nulis namanya sendiri aja belum bisa."
"Tulisan Arimbi emang jelek, tapi dia selalu dapet nilai A." Bela Rei tak terima.
"Lagian Carmen jelek. Gak mungkin Joe suka."
"Miss Eva...! aku dibully Rei!"
"Rei! Jangan nakal. Lepaskan rambut Carmen, please."
"Carmen yang mulai, Miss."
"Bohong, Miss Eva. Rei juga ndorong Joe sampai jatuh dan luka!" tunjuk Carmen pada plester di lengan Joe.
"Itu bukan aku!" bela Rei tak terima
'It's hurt right joe? Rei nakal kan?" tanya Carmen membuat Joe menatap lukanya lalu mengangguk.
"See, Miss Eva. Rei is a bad kids!" ucap Carmen senang melihat wajah miss Eva berubah saat menatap Rei.
"Sukurin! Come on, joe. My mom should be here soon to pick us. Your mom can't come today, right?" ucap Carmen menggandeng tangan Joe yang menoleh ke belakang. Menatap Rei yang terus membela dirinya pada omelan miss Eva.
"Yeah, she not feeling good today."
*
Arum, menanggapi celoteh putrinya yang duduk sambil sesekali mengemuti premen lolipop rasa stroberi dan melihat apapun yang mereka lewati.
Arimbi, anak yang suka bercerita apa saja yang dilihatnya pada sang mama itu sesekali menunjuki bangunan yang diketahuinya. Dari rumahnya siapa, kucing berwarna apa, daun yang jatuh terkena angin, penjual kue cubit yang membuatnya ingin makan roti panggang buatan mama, es cendol dalam gerobag yang membuatnya ingat jus mangga buatan bibi di rumah dan entah apa lagi. Dan Arum sama sekali tak bosan menanggapai celoteh Arimbi.
"Minggu depan papa ulang tahun, anak mama mau kasih kado apa?" ucap Arum membuat Arimbi terdiam, mengingat pria yang jarang di rumah atau ditemuinya itu.
"Apa papa akan pulang, Ma?" tanya gadis kecil yang membuat Arum menatapnya sesaat, lalu tersenyum mengusap kepala Arimbi.
"Iya, sayang. Nanti, mama suruh papa di rumah seharian, kalau tidak kita susul papa ke kantornya sambil bawa kue," ucap wanita itu dengan senyum optimistik membuat gadis kecilnya mengangguk.
"Sayang, apa kita cari kado buat papa sekarang? Sama pesen kue buat minggu depan?" tanya Arum membuat wajah Arimbi bersinar.
"Papakan tidak suka manis. Jadi kita bisa pesen yang gak terlalu manis dan ada rasa jahe plus kayumanisnya, ok?" tambah Arum tersenyum melihat tawa bahagia sang putri.
"Kamu sama papamu itu mirip sekali, Sayang. Gak suka kue tapi permen sama kopi harus manis," tambah arum mengusap kepala putrinya yang tampak senang sekali. Meski hanya satu saja hal yang mirip dengan ayahnya itu.
*
Dua ibu dan anak yang saling bergandengan tangan itu keluar dari toko kue, langkah keduanya tampak begitu ringan dengan tawa menghiasi wajah keduanya. Tapi, wajah arum sedikit berubah menatap pria yang begitu dikenalnya sedang bergandengan dengan wanita yang membuatnya diam seketika.
"Mama?" panggil Arimbi membuyarkan lamunan sang mama.
"Mama kenapa? Mama sakit?" tanya bocah yang memperhatikan wajah sang mama itu begitu lekat.
"... tidak, sayang. Mama baik, ayo pulang" ucap Arum yang meski tersenyum bibirnya sedikit bergetar.
Sore berganti petang. Wanita yang makan berdua dengan putrinya itu berusaha bersikap biasa meski kadang ia lebih tampak diam dan sering kali menatap putrinya, ARIMBI BAGAS WIJAYA.
Bocah berumur tiga tahun yang menyandang nama tengah sang ayah dan kakeknya yang sudah tiada. Dan hanya meninggalkan nenek dari sang suami. Wanita yang tak pernah bersikap ramah pada gadis kecil ini. Juga sodara ipar yang baik kalau ada maunya.
"Sayang, mama mau keluar sebentar. Arim bersama bibi di rumah tak apakan?"
"Aku tak boleh ikut mama?" tanya bocah yang menatap wajah sang mama penuh harap.
"Tidak, sayang. Arimbi di rumah dulu ya. Mama hanya pergi sebentar, kok, janji." Arum mengusap rambut Arimbi yang diam lalu mengangguk. "Nanti, mama belikan permen stroberi lagi, ya," ucap Arum membuat wajah putrinya berubah senang. Membuat senyum tercetak seketika di bibir sang mama yang lalu memeluk putri kesayangannya ini begitu erat. Sangat erat.
"Mama akan cepat pulang, Sayang." Arum mengecupi wajah putrinya lama dan berkali-kali. Tapi, Arimbi tak protes dan membiarkan sang mama mengecupi permukaan kulitnya yang merasa geli.
Tapi, malam itu adalah hari terahir Arimbi mendengar suara Arum yang lembut dan menenangkan. Bocah berumur tiga tahun itu tak akan pernah lagi mendengar suara sang mama yang berkata akan cepat pulang membawa permen stroberi kesukaannya.
Suara Arum tak akan pernah lagi Arimbi dengar.
______
Salam kenal saya Nur, terimaksih sudah baca. Saran saya baca sampai bab 5 sebelum memutuskan berhenti atau lanjut baca. Happy reading dan tulis sajalah diriku xixixi.
"Kau takkan suka dengan apa yang akan kau lihat, Kakak ipar." Ucap gadis yang berpakaian begitu minim. Menatap Arum yang memegang kuat-kuat kemudi mobil yang sudah berhenti di depan gedung apartemen.
"Tapi, terserah padamu, Kakak ipar. Aku hanya akan mengantarmu sampai depan pintu saja karena aku ada janji dengan teman-temanku malam ini," Ucap gadis yang lalu turun, tak perduli dengan suasana hati Arum pada fakta yang baru saja diketahuinya hari ini. Suaminya yang jarang pulang itu memiliki apartemen lain bahkan--
Duk..duk..!
Suara kaca mobil yang digedor tak sabar membuat Arum menarik nafasnya begitu dalam. Ia keluar lalu berjalan berdua dengan gadis tinggi semampai di sampingnya dalam diam. Gadis yang bahkan lebih perduli dengan warna kuteks yang menyala di jemari lentiknya itu dibandingkan dengan perasaan Arum, sang kakak ipar.
"Kau jadi masuk atau mundur saja dan jalani hidup seperti biasa?" ucap Zizi begitu tak bersimpati lalu membuang muka mendapati tatapan Arum yang ujung matanya seperti pisau.
"Jangan menatapku begitu, Kakak ipar. Kau saja yang terlalu bodoh. Tak tau apa yang suamimu lakukan di belakangmu." Ucap Zizi begitu biasa. Seolah apa yang Arum ketahui beberapa saat lalu adalah hal yang begitu remeh. Begitu ringan. Hal biasa. Tidak penting. Bahkan tak lebih penting dari kuteknya yang hari ini berwarna merah terang.
"Dengar, aku tak ingin terlibat dalam hal ini, jadi aku akan pergi begitu kita sampai."
"Ya." Ucap Arum begitu singkat meski ia meremas tangannya kuat-kuat, lalu berjalan mengikuti Zizi tanpa kata, masuk ke dalam lift yang sepi. Sampai ponsel Zizi berbunyi dan langsung diangkatnya tanpa permisi seolah Arum tak ada di sampingnya.
"Hai, Baby, maaf aku akan terlambat datang tapi jangan coba-coba memulai tanpa aku.... yeah aku hanya sedang mengurus masalah kecil," ucap Zizi yang melirik Arum. Sang kakak ipar yang hanya diam mendengar suara musik dan suara pria samar dari ponsel Zizi, namun tak perduli karena Arum bahkan tak yakin dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.
"Bukan hal penting kok, Makanya jangan mulai bersenang-senang tanpa aku. I`ll be there soon--- bye, Seth, love you baby, muach!" ucap Zizi mengakhiri telponnya sambil memberi ciuman panjang yang tampak percuma lalu menatap Arum yang masih saja diam.
Tapi, apa pedulinya pada apa yang kini sedang dirasakan si kakak ipar di sampingnya ini? ada pesta yang sudah menunggunya dan ia harus hadir telat berkat Arum. so terimakasih KAKAK IPAR!
Di dalam lift yang sepi mereka terus diam sampai lift terbuka di lantai 12 dan Zizi berjalan keluar terlebih dahulu meninggalkan Arum yang makin mengeratkan pegangan tangannya sendiri lalu berjalan menyusuri lorong yang terasa dingin.
"Kau sering datang kemari?" tanya Arum tiba-tiba membuat Zizi yang sesekali menatapi jam di pergelangan tangannya jadi bisu beberapa saat lalu menjawab singkat.
"Beberapa kali," jawab Zizi pada akhirnya membuat Arum menarik garis bibir tanpa ia sadari. Dan itu tak mungkin bisa disebut senyum. "Kau tau, Maya teman baikku, Arum. No hard feeling ok? semua hanya terjadi."
Ucapan Zizi seakan menusukkan jarum pada wanita yang hanya beda satu tahun dengannya ini. Tak ada lagi panggilan kakak ipar bernada manis yang sering Zizi keluarkan apalagi jika gadis di sampingnya ini menginginkan sesuatu. Bukan salah Zizi, jika menganggp Arum seperti ATM pribadinya. Arum hanya sudah terbiasa begitupun Zizi. Lagipula mereka keluarga, bukan? Atau hanya Arum yang menganggap seperti itu?
MEREKA KELUARGA, BUKAN! tapi keluarga macam apa mereka ini?
"Ya, aku tahu. Maya teman baikmu, dan aku hanya istri dari kakakmu." Ucap Arum membuat Zizi terdiam mendengar nada ejekan dari bibir iparnya itu dan terus melangkahkan kakinya dalam diam tak mampu membalas. Dan baru berhenti melangkah di depan pintu yang suara dari dalamnya lamat-lamat terdengar.
Zizi tak mau menutup mulutnya, ia menoleh pada Arum yang genggaman tangannya sendiri bahkan membuat buku-buku jarinya memutih saat mendengar seramai apa suara di balik pintu tertutup yang membuat jantungnya bertalu-talu. "Kukatakan saja padamu. Aku kashian padamu Arum, tapi apa yang bisa kulakukan? semua sudah terjadi."
"Ya, tentu saja, Zizi. Kau juga Ibu hanya menutup mata kalian, tak lebih dari itu."
Arum yang bisa merasakan sedalam apa kuku jarinya menancap pada telapak tangannya sendiri ini menyadari hidupnya tak seperti yang dia pikirkan selama ini. Lalu kembali diam menatapi pintu dengan keramaian dan tawa yang membuat jantungnya berdetak makin cepat. Apa lagi saat Zizi menjulurkan tangan lentiknya memencet bel yang tak lama dijawab.
"Siapa?" Suara manja bocah kecil terdengar.
"Ini tante Zizi, Sayang. Buka pintunya, please," ucap zizi begitu ramah, begitu hangat, begitu akrab pada suara anak kecil yang langsung membuka pintu dan memeluk Zizi cepat tak perduli pada wanita yang berdiri memandangnya dengan mata kaget. Memandangi gadis kecil dengan senyum begitu lebar lalu mendongak menatap Arum yang tubuhnya jadi kaku, membisu dengan suara tercekat tak percaya.
Memperhatikan gadis kecil yang sering dilihatnya setiap kali mengantar dan menjemput Arimbi di preschool yang sama!
"Siapa, Sayang?"
"Tante Zizi, Pi," jawab gadis kecil yang menolehkan kepalanya, menatap pria yang wajahnya berubah begitu melihat Arum yang juga menatap pria yang sudah memakai baju santai itu.
"Kenapa cuma diam, Pi? suruh masuk dong," ucap wanita yang memeluk pria yang berdiri kaku itu.
Meski tampak terkejut melihat Arum, tangan Maya terus melingkar pada pinggang Bagas. Lalu menunjukan senyum begitu manis pada wanita yang wajahnya begitu kaget. Terkejut. Berusaha mencerna.
"Sayang, kamu jalan sama tante Zizi dulu, ya?" ucap Maya pada gadis kecil berpita pink yang masih memeluk kaki Zizi.
"Tidak bisa, May. Gue ada janji sama Seth." Tolak Zizi cepat begitupun gadis kecil yang melepas pelukannya.
"Tidak mau, Mi. Aku mau nonton dan beli mainan sama Papi!" tolak gadis kecil yang memang keras kepala itu dengan seluruh rasanya.
"Carmen sayang, Papi ada sedikit urusan. Kamu sama tante Zizi dulu, ya? besok baru kita beli mainan yang banyak."
"!!' Ucapan Bagas membuat Arum tiba-tiba mengingat gadis kecilnya di rumah dan bertanya pada dirinya sendiri pernahkan suaminya berlaku begitu lembut pada anak mereka? TIDAK. Tak sekalipun!
"Tapi, aku maunya main sama papi, Pi. bukan sama tanye Zizi."
"Gue jug-"
"Kakak mohon, Zi. Kali ini saja." Ucap Bagas pada adik perempuannya yang meski menolak akhirnya mengangguk, mengalah.
"Ganti bajumu, Tuan putri. Kau pergi denganku."
"Kemana, Tante?"
"Pesta." Ucap Zizi membuat Carmen tersenyum senang lalu berlari ke kamarnya diikuti Zizi yang masuk ke dalam tanpa menoleh pada Arum. Gadis egois itu hanya ingin cepat-cepat pergi untuk bertemu dengan lelaki yang tadi menelponnya. Rasanya ia bahkan tak menyimpan rasa bersalah untuk Arum. Bersalah? Ia bahkan tak bersimpati sedikitpun!
"Jangan harap gue akan ngebatalin acara gue, May." Ucap Zizi saat melihat pandangan Maya padanya.
*
Ruangan yang tampak nyaman itu begitu sepi tanpa suara. Tiga orang yang duduk di atas sofa lembut dan empuk itu tampak tidak ingin memulai percakapan. Tidak Arum, tidak juga Bagas suaminya. Suaminya? lucu sekali, bukan?
Tapi, terdengar dan terlihat selucu apapun Arum Wijaya sama sekali tak ingin tertawa.
"Kau ingin minum sesuatu, Arum?" tanya wanita yang duduk di samping Bagas, menatap Arum yang mengatupkan mulutnya begitu rapat.
Tak ada rasa bersalah atau menyesal sedikitpun baik dalam sikap atau sorot mata Maya, wanita itu bahkan bersikap begitu santai seolah sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari. Sungguh jauh berbeda dengan wanita yang lebih memilih tak menjawab tanya Maya dan menatap Bagas yang juga diam membisu.
"Sejak kapan?" ucap Arum tak perduli pada pertanyaan basa-basi Maya.
"Arum aku min-"
"Aku bertanya padamu sejak kapan, Mas?" sela Arum memotong ucapan suaminya atau suaminya berdua Maya. Hal yang baru ia ketahui beberapa saat lalu dari mulut sang adik ipar. Zizi yang keluar bersama keponakannya.
'Keponakannya?' batin Arum yang rasanya ingin tertawa sendiri.
"Kami tak pernah berpisah, Arum. Tidak sekalipun." Ucap Maya menggantikan Bagas yang hanya terdiam. Membuat Arum menatap wanita yang duduknya begitu nyaman itu.
"Aku bertanya pada mas Bagas, Maya. Bukan padamu." Ucap Arum membuat Maya menatapnya tajam tapi Arum tak perduli.
"Sejak kapan, Mas Bagas? apa kau mendadak jadi bisu kini?" ucap Arum yang tak perduli pada tatapan menghujam wanita yang duduk di samping Bagas yang terus membisu.
"Arum maafkan aku."
Ucapan Bagas membuat Arum menarik nafasnya dalam. Berharap rasa sesak yang ia rasakan berkurang. Tapi percuma, dadanya seperti ditindih benda berat tak kasat mata yang terasa begitu nyata. "Kau jadi tuli rupanya. Aku bertanya padamu sejak kapan Mas Bagas dan aku tak butuh maafmu."
Ucapan Arum membuat Bagas menatap wanita yang duduk di hadapannnya. Wanita yang tatapannya saja cukup menyiutkan diri pria yang mulutnya jadi terasa begitu kering seketika.
"Aku tak pernah berpisah dengan Maya, Arum. Seperti yang Maya katakan padamu."
"!"
_____
PS. sudahkah merasa sesak? belum? than keep reading it.
"Aku tak pernah berpisah dengan Maya, Arum. Seperti yang Maya katakan padamu."
Manik mata Arum membesar meski ia sudah bisa mendengar kalimat Bagas berputar-putar dalam kepalanya berulang kali. Apalagi saat ia melihat gadis kecil yang membuka pintu. "Tapi kau menikahiku, Mas Bagas, tidakkah itu artinya kau memilihku dan melupakan masa lalumu?" ucap Arum berusaha agar suaranya tak melemah meski hatinya sakit. Sangat sakit.
"Kau hanya datang di saat yang tepat, Arum." Ucap Maya membuat Arum seolah kehilangan kata-kata.
"Saat yang tepat?" ucap Arum mengulang dengan lemah. Tapi dua orang di depannya tak mengerti itu dan melanjutkan ucapan mereka.
"Maya kembali tapi pernikahan kita tinggal dua hari lagi dan tak mungkin dibatalkan," ucap Bagas membuat Arum menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Bukankah aku bertanya padamu sebelum kita benar-benar sah menjadi suami istri. Apa kau sungguh ingin menikah denganku, Mas Bagas? Dan apa jawabanmu hari itu? Tidakkah ayahku juga menanyakan hal yang sama sebelum penghulu datang, apa kau benar-benar ingin menjadikan aku istrimu? dan apa jawabanmu? kau bersedia. Tak ada paksaan bahkan kau tampak... ya Tuhan... Apa kau bersandiwara padaku selama ini?" ucap Arum menutup wajahnya.
Rasanya ia merasa jadi manusia paling bodoh di dunia dan sekelebat senyum Arimbi yang begitu polos membuatnya ingin menangis tapi ditahannya sekuat hati. Arum tak sudi meneteskan airmatanya di hadapan pria yang ... yang menikahinya juga wanita yang masih begitu tenang bahkan menujukan senyum.
"Kita... kita bahkan punya anak, Mas Bagas"
"Ayolah, Arum. Bahkan pria bisa bergonta-ganti wanita panggilan tiap malam." Ucap Maya membuat Arum menatapnya tajam.
"Aku bukan wanita murah sepertimu, Maya. Yang biasa saja disentuh pria yang mau memberikan macam-macam." Ucap Arum membuat Maya berdiri seketika tak terima dikatai seperti itu.
"Arum, kumohon jangan menghina Maya."
Ucapan Bagas membuat Arum tertawa meski matanya terasa panas dan perih. Ia menatapi pria yang tangannya mengepal kuat. "Kau marah karena aku mengatakan kebenaran? Kurasa cinta benar-benar membuat orang jadi buta, bukan?" ucap Arum membuat Bagas jadi diam begitupun dirinya, dan ia menatap potret keluarga yang tampak bahagia seakan mengejek dirinya begitu menohok.
Senyum Maya, tawa Carmen, pelukan Bagas pada keduanya. Potret itu terasa begitu mengolok-olok Arum yang teringat pada gadis kecilnya yang pasti sudah tidur. Gadis kecil yang tertawa begitu bahagia hanya karena ia mengatakan Arimbi mirip sekali dengan Bagas karena sama-sama menyukai hal manis tapi bukan kue.
Tawa bahagia dan polos sang putri yang rasanya begitu ingin membuat Arum menangis sejadi-jadinya. TAPI IA TAK AKAN MENUNJUKAN ITU PADA BAGAS MAUPUN MAYA. TIDAK AKAN!!
"Seandainya kau tak mengandung kita pasti sudah berpisah."
Namun, ucapan Bagas membuat Arum seakan tertampar begitu keras. Membuat matanya basah tanpa bisa ia cegah. "Jangan pernah menyalahkan anakku atas apa yang kau lakukan."
Arum menahan amarahnya meski tatapan matanya begitu tajam. Tepat tertuju pada lelaki yang yang duduknya jadi tak tenang itu.
"Yang mengatakan ingin menikah denganku, kamu."
"Yang menyentuhku, kamu."
"Jadi jangan sekalipun menyalahkan anakku atas keegoisan dan kepengecutanmu, Mas Bagas."
"Semua adalah pilihanmu juga kebodohan diriku yang tidak bisa melihat. Jadi jangan berani-berani menyalahkan anakku." Ucap Arum setegas-tegas dirinya. Lalu menghapus air matanya dan berdiri.
Rasanya ia sudah cukup mendengar apa yang ingin diketahuinya. Arum sudah cukup mendengar apa yang ingin ia pahami. CUKUP!!
Arum berdiri dari tempatnya duduk, matanya yang masih menyisakan airmata menatap Bagas. "Ayo bertemu lagi di pengadilan untuk bercerai."
Arum yang sudah melangkah menatap tangan pria yang menahan pergelangan tangannya, "aku tak pernah mengatakan ingin bercerai, Arum."
Arum menatap tangan besar yang menggenggam lengannya erat, "sekalipun kau tidak. Kau sudah mendengarku yang menginginkan perceraian kita. Aku tak mau melanjutkan hidup seperti ini lagi, Mas Bagas. Dan keputusanku sudah bulat kini setelah mendengarmu- ini... ini sudah cukup bagiku," ucap Arum yang sorot matanya begitu yakin. Ia tak akan goyah dan Bagas tahu itu. Sangat tahu.
"Berpikirlah tentang anak kita, Arum," ucap Bagas membuat Arum menatapnya tajam dan mengangkat tangan secepat tangan itu bergerak.
PLAKK...!
Arum menampar pipi pria di depannya dengan tangannya yang bebas. Sensasi panas yang menjalar di permukaan tangannya pun tak Arum pedulikan, sebagaimana ia tak perduli pada pria yang kaget baru saja menerima tamparan begitu sepenuh hati dari Arum. Wanita yang baru kali ini menamparnya sejak mereka saling mengenal.
"SUDAH KUKATAKAN PADAMU JANGAN BAWA-BAWA ANAKKU!" seru arum yang tak lagi bisa menahan amarahnya lagi. Emosinya sudah tak tertahan kini.
"Pernahkah kau mengusap kepalanya begitu sayang seperti perlakuanmu tadi pada Carmen? Pernahkah kau meluangkan waktumu sesaat untuk sekedar memujinya yang mendapat nilai bagus? Atau pernahkah kau memeluknya begitu lembut seperti caramu memeluk anakmu dari wanita MURAH itu!" ucap Arum yang tak bisa menahan rasa sakit dalam hatinya juga derai airmata yang mengalir bagai anak sungai.
Seluruh dirinya menjeritkan kata perih, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk gadis kecil yang wajahnya semakin membuat batin Arum menjerit dan sakit.
Arimbi yang sudah terbiasa hidup hanya dengan dirinya tak perlu merasakan kesakitan yang kini sedang ia rasakan. Arum akan menghindarkan perasaan buruk mengganggu tumbuh kembang anak pecinta permen stroberi yang kehadirannya begitu ia syukuri. Dan Arum tak akan pernah memaafkan siapapun yang menyalahkan kehadiran Arimbi, tak seorangpun! termasuk pria yang masih menatapinya tak percaya pipinya memerah berkat tangan Arum.
"Kau dan keluargamu bersikaplah seperti biasa. Toh, aku dan putriku sudah biasa tanpa kehadiran kalian." Arum menyentak tangannya kasar dari cengkraman tangan pria yang jadi diam menatapnya pergi. Lalu menutup pintu begitu kasar.
BRAKK!!
Arum yang berlari keluar apartemen langsung menghampiri mobilnya dan menangis tak memperdulikan ponselnya terus berbunyi tak kenal menyerah. Ia terus menangis sesuka hati mengakui pada diri ia sedang terluka, kecewa juga marah. Arum Wijaya terus menangis berharap seluruh rasa buruk luruh bersama airmatanya yang menganak sungai dengan dering ponsel yang terus mengiringi dan ia abaikan.
Bahkan sampai Arum menghapus mata sembab nan merahnya, meski meninggalkan isak yang sesekali terdengar juga perih di mata. Ponsel Arum terus berdering.
Dering yang sama sekali tak diperdulikan wanita yang ujung matanya menatapi kantong berisi permen lolipop rasa stroberi.
Permen yang sudah dibelinya sejak awal, karena Arum sadar perasaannya akan sangat buruk dan tak mungkin mampu masuk ke dalam toko setelah mendengar kebenaran dari apa yang ingin ia ketahui.
Tangan Arum yang terjulur mengambil kantong berisi permen untuk Arimbi, mendekap erat kantong dari kertas warna-warni yang sudah berpindah dari jok belakang keatas pangkuannya. Ia mengingat putrinya yang pasti sudah tidur dan tawa gadis kecil yang fotonya terpampang di layar ponsel yang terus berdering tanpa henti membuat matanya berair lagi.
"Kamu bukan kesalahan sayang, tapi kamu kesayangan mama," ucap Arum yang menyentuh garis tawa Arimbi.
Setelah menarik nafas dalam-dalam Arum melajukan mobilnya tapi bukan rumah dimana gadis kecil kesayangannya tertidur lelap yang ia tuju.
*
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Maya pada Bagas yang mengambil kunci mobil.
"Pulang?"
"Pulang?! Di sini rumahmu, Mas Bagas. Kau mau pulang kemana lagi?" tanya Maya tampak tak bisa menahan emosinya menatap pria yang sudah memegang gagang pintu.
"Aku tau, Maya. Tapi aku tetap harus pergi," ucap Bagas menghampiri pemilik mata memikat yang memeluknya erat.
"Jangan pergi, wanita itu sudah menyerah padamu. Itu yang kita inginkan, bukan?" ucap Maya tapi tak mendapat respon apapun dari Bagas.
"Itu yang kita inginkan 'kan, Mas Bagas?" ulang Maya menyentuh pipi pria yang akhirnya mengangguk, membuat Maya tersenyum dan melumat bibir Bagas begitu lapar lalu turun menyusuri leher Bagas dan mulai melepas baju pria yang tampak ingin menolak.
"Jangan pulang, kumohon," pinta Maya yang tangannya menjelajah ke dalam celana Bagas. Begitu lihai memainkan jarinya yang penuh perhitungan di dalam celana Bagas yang tak lagi bisa menahan baranya yang sengaja Maya sulut.
Pada akhirnya pria yang mendesah itu meletakkan kunci mobilnya lagi dan mengangkat Maya ke dalam kamar yang pintunya ditutup rapat.
Tak butuh waktu lama, suara lenguhan yang tinggi dan nafas yang seakan memburu terdengar dari dua manusia yang mirip binatang kelaparan memecah malam yang seharusnya kelabu.
Dua manusia yang saling menyentuh tak meninggalkan ruang sedikitpun untuk dingin menyusup diantara peluh yang membasahi badan.
Erangan bak candu yang memekakkan telinga memenuhi ruangan kedap suara yang rasanya tak mampu meredam suara dua orang manusia yang berlaku seperti binatang kelaparan dan sangat membutuhkan kehangatan, sekedar untuk membuat mereka sadar kehadiran satu dengan yang lain.
Pagutan, pelukan, hujaman, goresan, dan teriakan penuh candu seakan tak pernah cukup. lalu berulang berkali-kali. lagi dan lagi dan lagi.
Sungguh DUA binatang kepanasan, bukan?
_______
PS. Akhirnya tamparan pertama. tapi kok rasanya kurang ya, iya gak sih? atau itu saja cukup? kasih pendapat kamu dong.