“Cepat sedikit, kau tahu kan kalau aku tidak bisa menunggumu lebih lama?” ujar seseorang dari balik telepon genggam Leonathan. “Sesibuk-sibuknya dirimu, pasti tidak pernah terlambat datang ke mari. Cepatlah!”
“Ya, aku segera datang,” putus Leonathan yang tidak bisa mendengar atau melihat seseorang marah atau menangis karena dirinya sendiri. “Tunggu sebentar lagi.” Kemudian panggilan dimatikan oleh sang penelepon.
Punggung tegak diiringi dengan langkah kaki dari sepatu hitam pantofel, menjauhi ruang kerja di lantai dua. Begitu melewati pintu, kacamata yang semula menggantung di kemeja, kini menutupi kedua mata biru miliknya. Pria berjas hitam menuruni tangga dengan langkah yang sedikit terburu-buru, tak sabar untuk mengunjungi tempat favorit. Di mana lagi tujuannya kalau bukan bar dan klub malam.
Semakin cepat menuruni tangga cafe miliknya, Leonathan menatap lurus ke depan. Menggubris sapaan karyawannya dengan lambaian tangan singkat. Kemudian melewati pintu keluar kafe bernuansa ramai di lantai bawah itu sambil merogoh kantong celana hitam yang kini dia pakai. Mengeluarkan kunci sambil menghampiri mobil hitam, BMW Z4 seharga 1,69 Milyar yang dibelinya dua tahun lalu. Tentunya menabung sebanyak mungkin dan bekerja sekeras yang Leonathan bisa demi mendapatkan mobil sedan sport tersebut.
Mata birunya tak berhenti melirik beberapa gadis yang secara terang-terangan mengamatinya. Ingin rasanya melebarkan senyuman, tetapi dia tak ada waktu untuk itu. Begitu masuk ke dalam mobil, Leonathan menekan pedal gasnya cukup kencang. Kedua tangan fokus menyetir, bersama pandangan lurus ke depan. Pria itu fokus menyetir agar cepat sampai ke tempat tujuan favorit.
Tibalah mobil mahal hitam itu di sebuah parkiran klub dan bar, cukup terkenal di daerah Kuta, Bali. Mobil Leonathan pun terparkir rapi. Sebelum keluar, Leonathan melepas jas hitam dan meninggalkannya di kursi. Sang pemilik lantas keluar dengan tubuh tegap sambil menggulung lengan kemeja putih yang ia pakai sampai siku, begitu pula dengan lengannya yang lain. Baru beberapa melangkah, mata biru pria berumur dua puluh lima ini tertuju pada seorang gadis yang tengah tertawa lepas ketika ingin memasuki klub. Leonathan terpaku dengan tampilan gadis itu yang terbilang mampu menarik sesuatu di dalam dirinya.
“Sebuah cahaya di tempat gelap,” gumam Leonathan di dalam hati secara spontan saat sepasang mata birunya tak berhenti menatap seorang gadis yang memakai red backless dress atau model gaun dengan punggung terbuka. Hanya ada tali spaghetti yang menyilang di punggung gadis itu. Untuk menyadarkan diri sendiri, ia berdeham. Memantapkan langkah lebih lagi sebelum mendorong pintu masuk klub.
Berhubung belum ada pukul sebelas malam, beberapa pengunjung bisa masuk tanpa pemeriksaan yang ketat. Karena Leonathan terlalu sering hadir di salah satu klub terkenal di Bali ini, ia dengan mudah masuk. Ya, pria itu selalu datang ke sana walaupun memiliki kesibukan yang cukup menguras otak. Suasana klub dan beberapa pemandangan di sanalah yang mampu menyegarkan otaknya meski sejenak.
Seperti biasa, Leonathan lebih suka berada di indoor ketimbang outdoor. Begitu melihat sosok Alice, Leonathan semakin mendekat. “Di mana gadis seksi itu? Cepat sekali perginya,” gumam Leonathan sembari celingak-celinguk dengan mata tajam yang menyorot setiap sudut klub. Cukup ramai pengunjung, tetapi dia masih penasaran dengan gadis cantik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan baru malam ini netra biru pria keturunan Amerika ini mengangkap sosok cantik dan langsing yang berhasil membuatnya tertarik.
“Apa yang ingin kau katakan? Kau terlalu memaksa hari ini,” ujar Leonathan setelah duduk di samping kanan Alice. “Aku tahu kebiasaanmu sebagai wanita pemaksa, tetapi hari ini kau lebih berisik dari biasanya. Ada apa?” imbuhnya lagi dengan lengan kiri tersampir di sofa. Ia bahkan mencondongkan tubuhnya ke arah Alice. “Ada masalah dengan siapa lagi kali ini, hem? Katakan padaku yang sebenarnya.”
Alice memutar bola matanya ketika Leonathan mengelus dagunya dengan tatapan menggoda. Sudah biasa Leonathan bertingkah seperti itu, Alice tidak terkejut lagi. Bersahabat lama Dengan Leonathan, membuatnya paham dan hapal bagaimana sifat dan sikap pria tersebut. “Masalahku cukup besar kali ini.”
“Soal pria lagi?” Dengan santai Alice menggangguk. “Kali ini siapa yang meninggalkanmu?” tanya Leonathan sembari mengambil salah satu gelas yang beralkohol.
Sudah pasti Alice yang memesan untuknya. Sembari menunggu jawaban Alice, dia mencari-cari wanita cantik bergaun merah serta bertubuh langsing yang mampu menariknya dalam sekali tatap. Berharap malam ini dia bisa mengobrol atau bahkan jikaberuntung, Leonathan bisa tidur bersama wanita itu.
“Aku tidak ditinggalkan, tapi dikejar-kejar.”
“Really? Ada yang mau mengejarmu?”
“Kau pikir aku tidak laku?! Bukan kau saja yang dikejar para wanita, aku pun sama!” Mendengar itu Leonathan hanya terkekeh. Fokusnya benar-benar tersita. Dia sangat penasaran dengan perempuan cantik dengan rambut dicepol tinggi. Memperlihatkan leher jenjang dan punggung yang terekspos karena model pakaiannya yang panas. Leonathan harus mendapatkan perempuan cantik itu, setidaknya nomor ponselnya. Minimal berbincang, karena jarang sekali dia menginginkan perempuan asal Bali atau wanita yang tidak sepertinya, keturunan barat. “Sepertinya ada yang tidak beres. Kau seperti sedang mencari sesuatu, Nath ...” lanjut Alice sembari mengikuti arah mata Leonathan yang menjurus ke lantai dansa. “Kau ingin mencari mangsa?”
“Ada seorang perempuan lokal yang membuatku tertarik.”
“Kau? Tertarik?”
“Ya, kurasa begitu.” Sekarang Alice yang terkekeh mendengar pengakuan Leonathan. “Bukankah ini sudah biasa? Kenapa kau tertawa?”
“Kau bisa tertarik setelah mencobanya. Kata-kata itu yang biasa kau ucapkan, Nath. Bagaimana bisa kau tertarik hanya karena melihatnya? Kau membuatku heran. Sungguh, aku heran padamu ... terlebih lagi perempuan lokal? HAHA ... kau saja tidak bisa move on dariku, bagaimana bisa kau tertarik dengan perempuan asli sini?”
“Seharusnya kau mendukungku untuk melupakanmu sepenuhnya,” balas pria berkemeja putih itu sebelum meneguk koktail miliknya lagi. Mata biru lelaki itu semakin tidak berhenti mencari sosok perempuan yang rambut hitamnya digulung tinggi-tinggi dan bergaun seksi. Lekuk tubuh gadis yang berkulit sedikit kecokelatan itu terekam jelas di mata dan otak Leonathan. Begitu menyita perhatian kala matanya tak sengaja menatap postur tubuh tersebut.
“ALICE ...!” teriak seorang perempuan dari arah depan Alice sembari melambai ke arah orang yang dipanggil dan Leonatha, yang tengah duduk bersebelahan.
“NAOMI!” pekik Alice dan seketika itu juga dia bangun dari sofa dan merentangkan kedua tangan setelah melihat sahabatnya itu berlari ke arahnya. “Akhirnya kita bertemu! Kenapa kau tidak mengabariku dulu kalau ingin ke sini?
Naomi memeluk erat Alice, melupakan kawannya yang masih berjalan pelan ke meja Leonatan dan Alice. “Aku memang sengaja, mau memberi kejutan untukmu,” balasnya.
Leonathan sudah mengabaikan kedua perempuan yang tengah berpelukan, menjadi memandangi gadis berwajah lonjong dan bibir sedikit tebal itu dengan intens. Sampai akhirnya suara Alice berhasil menyadarkan. “Kenalkan, ini Naomi, sahabatku yang sedang berlibur ke Bali,” ujar Alice sebelum berbisik ke telinga Leonathan, “sepasang matamu memerhatikan siapa?”
“Aku tidak sendirian.” Naomi kemudian berbalik, melambaikan tangan ke arah temannya yang masih berjalan di belakang dengan malas-malasan. Gadis itu seperti enggan berjalan ke meja Alice dan Leonathan, terlihat dari langkah kaki yang diperlambat. “Kemari, Elle!”
Sementara Leonathan yang sedari tadi mengamati gadis bernama Elle, meneguk minuman beralkohol tanpa menjawab pertanyaan terakhir Alice. Pria itu juga memberikan senyuman tipis untuk Naomi, yang mulai duduk di sisi kiri Alice. Tiba-tiba saja Alice mengatakan, “kau bisa duduk di sebelah Leonathan, sahabatku dari dulu.” Leonathan dan Elle lantas mendelik ke arah Alice. “Leonathan tidak galak, jadi santailah.”
Naomi pun ikut bersuara, “benar kata Alice, santai saja Elle ... maklum, Brielle tidak pernah datang ke tempat seperti ini.”
“Oh ... aku baru tahu kalau masih ada gadis polos seperti dirimu,” balas Alice yang lantas menyenggol lengan kiri Leonathan seraya berdeham. “Ajaklah mengobrol, aku perlu berbincang dengan sahabatku ini,” sambungnya sambil tersenyum cerah pada Naomi. Bukan cuma itu, tetapi ia juga berniat untuk memberikan celah bagi Leonathan. Tentunya, agar pria itu bisa lebih dekat dengan Elle, karena Alice merasa bahwa gadis itulah yang diincar Leonathan sejak tadi. Alice yakin, Leonathan dari tadi mencari-cari perempuan bertubuh ideal dengan wajah khas atau asli Indonesia itu, yang tak lain adalah teman Naomi.
“Wah ... itu ide yang bagus! Karena Elle baru saja putus dan di—“
“Jangan angkat bicara lagi, Naomi!” sentak Elle yang mulai mencium ketidaksengajaan Naomi untuk membeberkan masalahnya hari ini.
“Maaf, aku tidak bermaksud,” sesal sahabat Elle yang berpakaian lebih pendek darinya. “Aku keceplosan Elle.” Brielle hanya memutar bola mata dan berdiri tegak tanpa berniat duduk, baik di sebelah Naomi atau pun Leonathan, walau sudah dipersilakan duduk.
“Mungkin kau bisa bercerita sedikit padaku,” ujar Leonathan begitu saja dan berdiri. Tanpa basa-basi dia berjalan ke arah Brielle. “Aku juga pria, tidak salahnya kita berteman,” lanjutnya dengan senyum tipis namun terlihat sangat ramah di mata Elle.
Padahal, sedari tadi Brielle berusaha menghindari tatapan pria yang kini di hadapannya. Karena di dasar hati, Elle merasa ada yang tidak beres dari pria tersebut. Baik dari penampilan atau bahkan tatapan yang mengarah padanya. Seperti ada sesuatu yang membuat Elle harus waspada. Entah perasaan dari mana itu, tetapi Brielle cukup merasa ada yang harus dijaga.
“Ya, siapa tahu kalian bisa berdiskusi,” Naomi terlihat sangat mendukung ucapan Leonathan.
“Dia bisa memberikan solusi, berkenalanlah dan bertemanlah dengan baik,” imbuh Alice seraya melebarkan senyum di wajah berhiaskan make-up cukup tebal, beda jauh dari dandanan Elle yang tidak mencolok.
Kini tangan kanan Leonathan sudah terulur di depan gadis yang membuatnya penasaran seklaigus tertarik. Berharap ajakannya tidak ditolak mentah-mentah. Entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat di saat Elle benar-benar menerima uluran tangan yang ia berikan dan membalas senyum ramahnya. “Kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Aku tahu, kau buta akan tempat semacam ini.”
“Ya, sangat.”
“So, ikuti aku.” Dengan sekali anggukan Elle merespons dan tanpa protes dia berjalan di sisi kiri Leonathan. Sedangkan pria itu, ingin sekali menempatkan tangannya di pinggang Elle. Melingkar dan mendekap erat di sana dengan wajah sumringahnya.
Meninggalkan klub bagian indoor, Leonathan berencana untuk membawa Elle keluar. Ia rasa, suasana outdoor lebih menyenangkan ketimbang di dalam. Demi gadis itu, Leonathan mau menginjakkan kaki keluar lagi, dimana suasana pedesaan lebih terasa. Dikarenakan konsep dari klub tersebut yang out of the box, jarang ditemukan di Bali. Suasana khas Brazil begitu kental, semakin terasa jika dirinya berada di klub bagian luar, menurut pribadi Leonathan sejak menginjakkan kaki di klub itu dulu.
Bagaimana tidak terlihat seperti pedesaan, banyak ditumbuhi pepohonan yang menjulang. Lingkungan di sekitar Leonathan dan Brielle benar-benar seperti di dalam hutan. Leonathan pun memilih tempat duduk yang tidak terlalu berbaur dengan pengunjung yang lain.
“Sepertinya kau sudah terbiasa di sini. Maksudku, seperti sudah sering datang ke tempat ini.”
“Ya, kau benar sekali. Setiap hari aku berkunjung. Tempat favoritku dan Alice.” Brielle yang mendengar pernyataan itu cukup terkejut, sampai sepasang matanya melebar. “Walau terkenal sebagai night club teramai di Bali, penjagaan di sini cukup ketat. Tidak ada yang bisa mabuk di sini, karena siapapun yang didapati kelebihan meminum alkohol, dia bisa diseret keluar. Jadi kau santai saja, tidak ada yang bisa berbuat macam-macam denganmu di sini.”
“Hem ... aku semakin percaya.”
“Maksudmu?”
“Naomi sempat memberitahuku tentang itu. Tapi aku belum bisa percaya, walaupun aku tahu kalau Naomi tidak akan berbohong. Mendengar ucapanmu barusan, aku semakin memercayai perkataan Naomi.”
“Jadi, kau memang tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya?”
“Tidak kelihatan, ya?” Leonathan mengangguk kecil. “Dua puluh tahun aku hidup di Bali, baru kali ini aku menginjak tempat semacam ini.”
“Unik sekali.”
“Tapi, sekarang aku ingin bernapas lega.”
Beberapa detik setelah mendengar pengakuan polos dari Elle, Leonathan semakin tertarik mendengarnya. Gadis yang sedari tadi ia incar ini ternyata sangat polos. Lebih polos dari yang ia kira. “Kau selalu dikekang?”
“Tidak, aku saja yang terlalu menjaga diri dari dunia. Aku diputuskan oleh kekasihku juga karena aku terlalu menutup diri. Kedengaran mengenaskan, bukan?”
“Pria mana yang mau melepaskanmu? Kau sangat cantik dan mengagumkan. Hanya pria bodoh yang mampu melepaskanmu dan tidak takut kehilanganmu.” Tiba-tiba saja Brielle tertawa ketika mendengar penuturan Leonathan yang berlebian sekali baginya. “Aku sedang tidak melucu. Mengapa kau tertawa? Aku bicara apa adanya setelah mendengar pengakuanmu,” tambah Leonathan yang tampak sangat serius di mata Elle.
Brielle yang sudah terbahak, seketika saja meredam mulutnya supaya tak lagi menyemburkan tawa. Beralih menatap mata biru pria itu lekat-lekat. Brielle mencoba untuk menegakkan badan, lalu memangku kaki kanannya dengan kaki kiri dan berdeham singkat. Tangannya terlipat di depan dada, sesudah itu mengajak, “aku ingin lega sekali lagi. Sehabis mengobrol bersamamu, aku merasa lega, tetapi belum seleuruhnya. Cuma sebagian di diriku yang lega, tapi belum sepenuhnya.”
“Kau menginginkan apa?”
“Aku ingin mencoba alkohol.”
“Kau yakin?”
“Untuk apa aku ragu? Ada dirimu yang bisa menemaniku. Kau akan melindungiku ‘kan?” tanya Brielle yang tak lagi merasakan ragu. Ia menepis perasaan was-was untuk Leonathan. Menurutnya, mungkin perasaan waspada itu hadir karena Leonathan adalah laki-laki. Dimana makhluk yang harus ia hindari setelas putus dengan mantan. “Izinkan aku benar-benar merasa lega.”
“Bagaimana kalau kita pergi dari sini? Aku akan membawamu ke rumahku, supaya kau bisa lebih bebas.”
“Aku terima tawaranmu,” balas Elle sembari bangkit dari tempat duduk cokelat kayu yang baru beberapa menit lalu menampung berat tubuhnya.
Pria yang bertelanjang dada, masih belum sadar dari alam mimpi. Padahal langit di atas rumahnya sudah cerah. Matahari hampir tampak, kemungkinan besar membutuhkan waktu beberapa menit lagi untuk menampakkan diri secara keseluruhan. Tak lama, tubuh pria yang berbungkus selimut hitam itu bergerak untuk menghadap ke arah yang berlawanan.
Semula tengkurap, kini telentang menghadap langit-langit kamar. Tiga detik kemudian, mata birunya terlihat. Kelopak matanya terbuka dan ia langsung menoleh ke kiri.
Perempuan yang semalam tidur bersamanya kini sudah tak ada. Membuat Leonathan terkejut dan terduduk dalam sekejap. Ia syok, mendapati sisi kirinya kosong, tidak ada siapa pun. Berbeda dengan keadaan semalam, sebelum ia larut dalam kantuk.
“Kau ke mana?” tanya pria itu begitu mengingat wajah cantik Brielle dalam otaknya.
Tanpa basa-basi ia turun dari ranjang. Berjalan cepat ke kamar mandinya yang tertutup rapat. Leonathan pun mencoba tenang. Ia mengetuk pintu putih di hadapannya dan memanggil, “Elle! Apa kau ada di dalam?!” Tak ada sahutan dan hanya terdengar suara ketukannya yang menggema dari dalam. Dibukanyalah pintu itu dengan cepat, tangan kanannya mendorong gagang pintu dengan sekuat tenaga. “Sial!” menggeram dan meremas gagangnya sebelum membanting pintu itu.
BRAK!
Sesudah menutup pintu kamar mandinya dengan kasar, Leonathan bergegas mencari ponselnya di atas nakas, samping tempat tidur. Begitu melihat, ia menggapai dan mencari nama Alice di kontak. “Cepat angkat!” serunya begitu tak kunjung mendapat sapaan dari seberang. Tak putus harapan, Leonathan terus menelepon sahabatnya. Namun tetap saja, Alice tak kunjung menerima panggilannya.
Dengan marah, pria bertubuh atlrtis tersebut melempar ponselnya ke ranjang. Saking kencangnya tangannya membanting, benda pipih itu memantul. Bersama rahang mengeras, Leonathan berbalik, menghampiri kamar mandi lalu segera masuk. Tak lupa membanting pintu itu untuk kedua kalinya, menutupnya dengan sangat kasar. Sampai barang yang menempel di tembok pun bergetar karena kedahsyatan dari dorongan tangan Leonathan.
Sampai di dalam, Leonathan lantas memutar keran. Membiarkan air yang jatuh dari lubang shower membasahi tubuhnya. Tanpa melepas celana tidur hitamnya. Kedua tangan menempel pada dinding, kepala menunduk. Sepasang mata Leonathan terpejam, berharap ia bisa lebih tenang. Meski perlahan-lahan otaknya memaksa untuk mengingat peristiwa gila yang ia lakukan bersama Elle.
Bagaimana kejamnya dia yang mengambil alih tubuh Elle di saat kesadaran gadis itu sudah sangat minim. Walau sang empunya mengizinkan, namun Leonathan sadar betul bahwa Elle sudah terpengaruhi oleh minuman beralkohol. Rahang pria itu kembali mengeras di saat ingatan itu menari-nari di otaknya lagi.
“Mengapa aku sangat menyesal melakukannya?” tanya bibir Leonathan sembari membuka mata. Menatap tembok di hadannya dengan tajam, lalu tangan kiri terkepal. Dua detik kemudian, kepalan tangan itu menghantam dinding dengan sangat keras. “Aku tidak bermaksud merenggut kesucianmu,” geram Leonathan sebelum meninju lagi tembok putih kamar mandinya. “Aku tidak sengaja melakukannya.”
Tak heran jika pria itu marah dan terkejut karena setelah tersadar dari tidur, Brielle tak ada di sampingnya. Terlebih lagi pergi dari rumahnya tanpa mengatakan apa pun. Leonathan sudah bisa merasakan apa yang dirasa oleh Elle begitu sadar di pagi hari. Pasti perempuan itu lebih terkejut, atau kemungkinan terburuknya adalah membenci Leonathan. “Aku harus mencari dan mendapatkan maaf darimu,” janjinya sebelum melepas celana dan mulai membersihkan tubuh kekar yang bersih dan putih itu.
Tentunya dengan pikiran dan perasaan yang kacau Leonathan beraktivitas saat ini. Baru kali ini dia merasakan penyesalan yang besar setelah meniduri seorang gadis. Selama hidup di dunia, ia sama sekali tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Dari pertama menatap Elle, dia sudah bisa merasakan ada yang berbeda.
Namun, lagi-lagi nafsunya yang menggebu tidak bisa ditahan ketika melihat lekuk tubuh Elle dan betapa menariknya gadis itu ketika mereka semakin sering berbincang. Mendengar suara Elle saja, Leonathan mampu merasa tenang dan di dalam hatinya seakan menemukan rekan yang cocok untuk menghabiskan waktu lebih lama. Sangat lama, dan Leonathan tidak merasa bosan sedikit pun.
“TIDAK AKAN MELEPASKANMU!” teriaknya yang lagi-lagi memukul dinding kamar mandi dengan mata yang terbelalak lebar. “Tidak akan kubiarkan kau menjauh dariku, Elle.”
Dua puluh menit lamanya Leonathan menghabiskan waktu di kamar mandi hanya untuk membuat tubuhnya lebih bersih dan harum. Dengan gesit, jari-jarinya memasang kancing satu-persatu dari bawah kemeja hitam yang membalut tubuhnya. Begitu selesai, digulungnyalah kedua lengan panjang tersebut sampai siku. Leonathan juga menghampiri ponselnya yang tertidur di atas ranjang, lalu mengantonginya. Tanpa mengambil jas hitam, ia keluar dari kamar. Karena di dalam mobil, Leonathan sudah menyiapkan beberapa jas bersih yang siap dipakai.
Leonathan tidak lupa untuk menutup pagar sebelum masuk ke dalam mobil BMW Z4. Duduk tepat di belakang setir dan sesudah itu memakai seatbelt. Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya merogoh kantong celana hitam, dan mengambil ponsel tersebut dari sana. Leonathan mulai mencari nama Alice dan melakukan panggilan.
Satu panggilan tak dijawab, yang kedua juga masih tidak terjawab, ketiga pun masih sama, dan panggilan keempat mulai membuat Leonathan menggeram karena kesal. Satu yang ia sesali, dia belum sempat meminta nomor ponsel atau nama media sosial milik Elle. Jadi, jalan satu-satunya adalah meminta bantuan Alice, agar sahabatnya itu mau mengirimkan nomor ponsel Naomi. Dengan begitu, Leonathan bisa mendapatkan nomor pribadi Elle dari Naomi.
Hingga akhirnya, di panggilan yang kelima, Leonathan bisa mendengar suara serak Alice dari seberang. Terdengar jelas sekali bahwa perempuan itu baru bangun tidur. “Aku ingin meminta nomor ponsel sahabatmu Naomi. Kirimkan padaku secepatnya. Aku membutuhkan itu.”
“Untuk apa? Kau terdengar memaksa dan terburu-buru. Apakah ada sesuatu yang aku tidak tahu? Kau melakukan kesalahan?” tanya Alice sekaligus menebak. Wanita berambut pirang bergelombang yang semula terbaring di ranjang, kini memilih duduk sambil mendengar suara Leonathan dengan saksama.
“Kirimkan saja nomor Naomi. Aku harus menutup teleponnya. Ingat perintahku, secepatnya. Aku sedang di jalan menuju kafe. Kuharap, setelah sampai kafe, kau sudah mengirimkan nomor Naomi. Sampai jumpa.”
“Baiklah, sampai jumpa. Tetap fokus menyetir!” pesan Alice yang masih bisa tersampaikan sebelum Leonathan mematikan sambungan telepon dan mempercepat laju kendaraan roda empatnya. Dengan pandangan fokus ke depan, otaknya kembali pada sosok perempuan yang ingin dia kejar, Brielle Putri Adiharja.
“Untuk kali ini, aku berharap pada-Mu. Jangan biarkan gadis itu menjauh dariku. Aku sangat menginginkannya,” ujar Leonathan dengan sungguh-sungguh sembari memandang ke arah langit yang sudah sangat cerah, karena sinar matahari begitu kuat menyinari bumi Bali. Untuk pertama kalinya, Leonathan berharap pada Tuhan agar berpihak padanya, kali ini saja.
Sudah berkali-kali Leonathan menghubungi nomor ponsel Naomi yang dikirimkan Alice padanya. Di sela-sela waktu istirahat seperti sekarang, ia juga mengirimkan pesan untuk sahabat Brielle itu, meminta nomor ponsel Brielle dan mengatakan bahwa dia sangat butuh nomor Brielle dalam pesan tersebut. “Kenapa susah sekali menghubungi perempuan ini? Kenapa seolah-olah aku dipersulit menghubunginya?” tanya Leonathan seraya mendongak, tepat ketika berdiri dari tempat duduknya. “Aku benar-benar ingin meminta maaf, tetapi, Kau seakan tidak memberiku jalan keluar.”
Bukan menyalahkan Tuhan-nya, tetapi Leonathan terlalu pusing dengan apa yang dia alami saat ini. Untuk pertama kali dia tidak menyelidiki nomor ponsel, alamat, bahkan data-data penting milik perempuan yang ia kenal dari klub. Biasanya, dia tidak pernah lupa akan hal itu. Sekalinya lupa, Leonathan juga susah mencari data-data penting Brielle. Seakan-akan takdir ingin membuatnya lelah mencari.
“Tidak bisa berbuat apa pun selain menunggu balasan Naomi,” putusnya sembari menghembuskan napas lelah. Karena yang bisa memberikan informasi hanya perempuan itu, teman dari Brielle.
Berdiri di depan kaca ruangannya yang menampilkan pemandangan kafe lain, dan laut yang tak terlalu jauh dari kafe miliknya ini, Leonathan mengepalkan tangan. Tak habis pikir pada diri sendiri yang melupakan hal sepenting itu, data gadis yang menarik hatinya. Jika waktu bisa diputar kembali, Leonathan pasti ingin mencari informasi Brielle lebih detail, tidak seperti semalam yang asal bermain karena larut dengan situasi dan perasaan.
“Apakah aku menggunakan perasaan?” tanyanya pada angin, tidak yakin. “Aku tak akan melukainya jika memakai perasaan, ya, tidak mungkin aku berani berbuat jika perasaanku ikut andil.” Lagi-lagi Leonathan membuang udara melalui hidung dengan kasar. “Kupikir, itu hanya nafsu.”
Ingin rasanya dia meninju kaca bening jendela yang disentuh tangan kirinya saat ini sampai pecah, melampiaskan kemarahan dan penyesalan. “Aku harus mendapatkanmu dan maaf darimu secara langsung, Elle.” Kini ia hanya bisa berharap pada Tuhan agar Naomi cepat membaca pesan darinya dan segera memberi balasan. Perasaannya seperti mendesak dirinya sendiri untuk menggapai Brielle, wanita yang ia sentuh tanpa mengetahui semua asal-usulnya lebih dalam.
“Jika semalam aku menanyakan nomor, alamat, dan tempat kerjamu, mungkin sekarang aku bisa mendekapmu.” Sesuatu yang disesalkan oleh Leonathan, lupa menanyakan hal penting ketika berkenalan dengan seorang wanita. “Betapa bodohnya?!”
Waktu berlalu, dan kini yang dilakukan Leonathan mendengarkan pesanan pembelinya. Pria itu tidak ragu atau malu membuatkan kopi untuk para pembeli meski statusnya sebagai pemilik kafe. Hanya membuat kopi hatinya meresa jauh lebih tenang dan berpikir jernih. Terlebih lagi aroma kopi yang menyengat begitu memberikan kelegaan bagi pecinta kopi sepertinya. Pikirannya bisa teralihkan dari sosok wanita itu walau sejenak.
Ketika baru saja membuat segelas kopi yang rasanya tidak terlalu kuat dan kental, yakni kopi Americano, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Keluar dari bar cafe miliknya, Leonathan merogoh saku celana. Menempatkan benda pipih gelap itu di telinga kanan, sang penelepon memberitahu kabar yang membuatnya terkejut bukan main. Sambil terus mendengarkan, langkah kakinya menuntun ke sebuah ruangan. Ruang khusus untuknya berpikir sekaligus rehat.
“Apa kau bisa menjelaskannya di sini? Aku masih di kafe, kemarilah.” Sang penelepon yang merasa keberatan, mengatakan tidak setuju. “Ayolah, Alice. Sekali ini saja, jangan hanya menjadi pemaksa. Kau pikir hanya dirimu yang bisa memaksa?” Leonathan sampai mengacak-acak rambutnya karena Alice tak ingin datang ke kafe Mixture pimpinannya. “Aku bosmu, bukan kau yang mempekerjakan diriku. Kau yang kemari!” Panggilan pun ditutup sepihak oleh Leonathan. Lelaki itu memilih menarik napas dalam-dalam sebelum memandangi langit senja yang sebentar lagi akan digantikan dengan gelapnya langit malam.
“Memang aku akui aku pria berengsek karena membuatmu tak sadarkan diri tadi malam. Tetapi, kau juga harus tahu ... dari sekian banyaknya wanita yang pernah aku temui, hanya kau yang membuatku tertarik dan menyesal sudah melakukan hal itu padamu, Elle.” Tiba-tiba saja ponselnya bergetar lagi. Begitu dilirik siapa pelakunya, Leonathan membalas, “akhirnya kau menuruti perintahku juga, Alice.”
Dua puluh menit setelah Leonathan menerima pesan bahwa Alice akan datang ke kafe pimpinannya, baik Leonathan maupun Alice sudah berada di tempat duduk. Keduanya saling berhadapan, ditemani kopi Cappuccino di masing-masing tangan mereka. Di meja nomor dua puluh itu Alice mulai mengabari hal terburuk yang tidak ingin Leonathan dengar.
“Semua yang aku katakan barusan memang nyata, Nath ... Naomi hanya singgah sebentar di Bali. Kemungkinan besarnya, Naomi tidak ingin tanggung jawab dengan apa yang menimpa wanita itu karena ulahmu semalam.”
“Bisa-bisanya kau berpikir begitu dengan sahabatmu sendiri?”
“Ya, dia teman lamaku. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika dia memiliki sifat seperti itu. Zaman sekarang ini kita semakin sulit memercayaiorag lain. Bukan begitu?”
Sambil mengusap-usap dagunya dengan jempol, Leonathan mendesah dengan hembusan napas panjang keluar dari hidungnya. “Kau ini sekalian cerita masalah pribadimu?” Alice mengangkat bahu, kemudian menyesap kopi Cappuccino yang teramat kental, manis, dan sedikit pahit di lidah. “Apa pesan darimu juga belum dibaca Naomi?” Alice mengangguk tanpa bersuara, masih menikmati kopinya. “Ya sudah, terima kasih sudah memberikan sedikit informasi yang semakin membuatku putus asa.”
“Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta dengan wanita itu?”
“Jika tidak, aku tidak akan menidurinya. Kau sendiri tahu, selama ini aku tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun, termasuk dirimu. Aku hanya ingin melihat tubuh mereka, tidak lebih.” Alice begitu paham, keberengsekan Leonathan masih dibatas yang menurutnya normal. “Aku bukan pria lain yang sejenis dengan mantan kekasihmu, hanya mengincar tubuh saja tanpa mencari kenyamanan.”
“Berhenti memuji dirimu sendiri dan menjelek-jelekan kenalan atau mantanku! Sudahlah, aku ingin pergi ke klub.”
“Tidak! Kembali ke kafe, kau ini aku gaji, jangan makan gaji buta, Alice.”
Alice tetap pergi, ia bangun dan menggeleng. “Aku harus menjernihkan otak dari bejatnya perlakuan seorang pria. Kau pasti memahamiku.” Sesudah itu melenggang pergi dari meja nomor dua puluh tersebut sembari melambaikan tangannya.
“Apa aku harus mengganti pemimpin kafe keduaku itu?” gumamnya seraya berdiri. Leonathan memilih keluar dari kafe Mixture miliknya ini, kafe pertama yang dipimpinnya sejak berumur dua puluh tahun. Itu tandanya umur kafe Mixture pertama atau pusat kafe Mixture ini sudah menginjak umur lima tahunan. Berbeda dengan kafe Mixture kedua yang kini berada di bawah pimpinan Alice, masih dua tahun, jalan tiga tahun. Jika Alice tidak berniat memajukan kafe keduanya, lebih baik dia memecat Alice dan mencari pemimpin yang pantas mengelolanya.
Leonathan memilih untuk masuk ke dalam mobil BMW Z4 hitam yang terparkir rapi. Menaikinya, dan mengendarai mobil mahal itu ke arah rumahnya. Ketimbang lari ke klub, pikirannya tidak bisa teralihkan dari sosok Brielle yang disakitinya. Leonathan yakin, wanita itu pasti sakit hati dan menyimpan kebencian padanya.
Sampai di rumah, lelaki itu lari ke kamar dan masuk ke kamar mandi. Ada celana dan pakaian yang belum ia cuci berada di lantai dan di sudut pintu kamar. Mengambil keduanya, Leonathan mengecek kantong celana yang kemungkinan ada barang tertinggal di sana. Benar saja, ia menemukan sesuatu. “Apakah ini salah satu petunjuk dari-Mu?” tanyanya dengan perasaan terkejut. Bagaimana tidak? Leonathan mendapatkan kartu pengenal, atau KTP milik Brielle yang ternyata sempat ia ambil sebelum dia melakukan hubungan badan. “Aku tidak ingat pernah mencuri barang ini dari tasnya.”
Menyimpan tanda pengenal itu di nakas, Leonathan lantas masuk ke kamar kecil dan memulai aksi bersih-bersih badan secara kilat sebelum mencari alamat wanita itu. Ia pun tersenyum lega karena Tuhan masih mengizinkannya untuk mencari cinta pertamanya.
Sesuai rencananya, sesudah membersihkan badannya yang penuh keringat akibat bekerja, Leonathan kembali bekerja sama dengan mobil kesayangan untuk mencari wanita incaran yang kabur saat ia tertidur. Bahkan belum sempat mengatakan maaf atau menyapa di pagi hari, Brielle sudah menghilang. Sungguh, perasaan kesalnya meledak hingga sekarang. Hanya saja Leonathan harus bisa tenang agar dapat menemukan alamat di KTP Brielle, ada di daerah Kuta Selatan. Cukup jauh jaraknya, karena posisi rumah Leonathan ada di Seminyak, jarak yang ditempuh kurang lebih 12 kilometer, atau dua puluh menit kalau dia mengebut dan jalan tidak macet.
Hingga akhirnya Leonathan tiba di depan rumah yang terlihat sangat bagus dan terawat. Dari depan, Leonathan bisa menebak jika harga rumah tersebut tidaklah murah. Keluar dari mobilnya, ia pun tak melepas kacamata dan menuju ke pagar putih yang tingginya tidak sampai tiga meter. Belum sempat menghampiri pembuka pagar, bahu Leonathan ditepuk seseorang dari belakang.
“Selamat malam,” ucapnya setelah Leonathan menoleh padanya. “Kalau boleh tahu cari siapa, Bli?”
Dengan jantung yang agak terkejut, Leonathan merogoh kantong celana jeans hitam yang ia pakai, mengeluarkan dompet warna senada pula dan menyodorkan kartu identitas diri Brielle yang tak lupa ia bawa. “Saya mencari teman lama, kebetulan KTP Elle tertinggal. Ingin saya kembalikan padanya,” ucap Leonathan yang tentu saja berbohong. Beruntung dia bisa menemukan jawaban yang bisa dinalar. Karena jika tidak, alasan apa yang harus dia pakai kalau perempuan di hadapannya ini menanyakan KTP Brielle yang ada padanya?
“Wah, Putri sudah tidak tinggal di sini selama satu tahun lebih.” Leonathan yang tadinya merasa sedikit lega karena menemukan alamat Brielle, kembali lesu sampai mengeluarkan napas panjang menahan emosi. “Setahu saya Putri diusir karena masalah harta di keluarga besarnya, Bli.” Sembari menyodorkan kembali KTP Brielle, ia sedikit menepi. “Karena saya asisten rumah tangga, saya sering mendengar berita dari orang-orang di sini waktu berkumpul.”
“Elle diusir?”
“Saya dengar, dulu ketika nenek dan ayahnya Putri atau Elle ini meninggal ... ada perebutan harta, kemungkinan rumah ini juga sudah dihak milik sama salah satu keluarga tertua dari neneknya. Putri pergi mungkin karena mengalah. Dia juga jarang keluar juga waktu sekolah dulu, jarang mengobrol sama orang-orang.”
“Matur suksma,” jawab Leonathan sembari meletakkan dua tangannya di depan dada seperti salam namaste. “Saya cari informasi melalui teman saya saja, terima kasih banyak,” imbuhnya sebelum menghampiri pintu mobil dan masuk ke BMW Z4 hitamnya. Begitu ia masuk, orang yang memberikan informasi itu juga melanjutkan jalannya. Sampai perempuan itu masuk ke rumah besar, selisih tiga rumah dari rumah keluarga Brielle di hadapannya. “Aku harus mencarimu ke mana jika masalahnya semakin rumit seperti ini?!” Mengacak rambutnya karena bingung, gusar, dan marah, Leonathan memukul setir berkali-kali hingga akhirnya memilih untuk pulang saja.
Tujuannya setelah sampai di ruang tengah adalah mengabari Alice. Melakukan panggilan telepon, tak ingin basa-basi dengan mengirimkan pesan yang kemungkinan akan lama dibalas oleh sahabat yang pernah ia cintai. Hingga dugaannya benar, Alice mengangkat panggilannya. “Aku ingin data atau informasi tentang Naomi.”
“Mengapa suaramu harus terdengar serius seperti ini?” sahut sang penerima telepon dari seberang. “Ada apa denganmu, Nath? Santailah,” tambah Alice yang merasa kesal karena pria berumur dua puluh lima tahun itu mulai mengaturnya dan terdengar berbeda dari biasanya.
Menarik dan mendorong udara melalui lubang hidungnya sebelum menerangkan, “KTP milik Elle ada padaku, dan aku sudah mendatangi alamat rumahnya. Sayang sekali, rumah itu sudah tidak ditempatinya selama satu tahun lebih.” Meski penjelasan singkat, pasti Alicebisa mencerna dan memahami secara cepat. “Karena itulah aku meminta informasi tentang sahabatmu, Naomi. Dia pasti mengenal Elle dengan baik, jadi aku bisa menemukan Elle dari sahabatmu itu.”
“Baiklah, besok aku akan menemanimu ke rumah orang tua Naomi atau ke toko bunga keluarganya. Selama duduk di bangku sekolah dulu aku sering mampir ke sana dan menjadi pelanggan setia mereka.”
“Aku membutuhkannya hari ini, Alice! Mengertilah, masalah ini sangat genting. Aku tidak mungkin membiarkan Elle melakukan hal yang tidak-tidak setelah kita bercinta. Kau pasti mengerti perasaan bersalahku padanya. Aku tidak bermaksud menyakitinya.”
“Kau? Kau benar-benar sudah melakukan kesalahan besar, Nath!” teriak Alice yang hampir saja memecahkan gelas di genggaman tangannya. “Kau sampai tidur dengan sahabat Naomi?!”
“Sudahlah, aku tidak butuh bentakan atau omelanmu,” putus Leonathan sambil menekan tombol di remot yang ia genggam, membuat televisi LED menghitam, mati. Ia bangkit dan mengayunkan kaki ke kamar tidur sembari melanjutkan, “yang aku inginkan hanya informasi Naomi. Aku yakin, dia pasti tahu kediaman Elle. Kali ini, bantulah aku. Bukan aku saja yang selalu membantumu dengan mendengarkan curhatan tidak mutu tentang mantan-mantan berengsekmu.”
“Malam ini aku sibuk. Tunggu besok pagi, aku janji, besok pagi aku akan mengajakmu ke toko bunga orang tua Naomi. Selamat malam, Nath. Sampai jumpa besok pagi.” Panggilan pun ditutup sepihak oleh wanita berkulit putih sepertinya.
“Sialan,” umpat Leonathan sebelum melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Pria itu menggeledah lemari pakaian dan mengganti celana jeansnya dengan celana tidur. Sedangkan kaos polos hitam dibiarkannya melekat di tubuh. Sesudah itu membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang dan menatap langit-langit kamar. “Akan kucari dirimu sampai dapat, Elle.”
Leonathan yang lelah hati dan pikiran kini membiarkan matanya tertutup. Mengesampingkan sifat keras kepala dan semena-mena dari Alice, ia memilih mencari wajah Elle dan berakhir membawanya ke alam mimpi. Meski cuma mimpi, setidaknya dia bisa menyampaikan kalimat maaf, perasaan menyesal yang benar-benar berasal dari lubuk hatinya jika mengetahui keputusan Elle itu. “Kabur adalah keputusan terburuk, Elle ,” gumamnya sebelum benar-benar masuk ke dunia mimpi.
Tidak sendirian lagi, pagi ini Leonathan mencari Brielle bersama Alice. Pria yang tampak gagah dengan kaos hitam polos lengan pendek, menampilkan otot-otot kencangnya tengah menyetir. Duduk di balik kemudi, Leonathan masih memakai kacamata hitamnya dengan tatapan fokus ke depan dengan sesekali melirik wanita yang ada di sebelah kiri. “Jika kau tidak mengesampingkan tugas dariku, kita pasti sudah menemukan Elle sejak kemarin.”
“Mana sempat aku mengecek data-data karyawan yang tidak penting?” tanya perempuan yang duduk malas-malasan di kursi penumpang. “Selama ini kau juga tidak pernah mempermasalahkan apa yang aku kerjakan di kafemu, kenapa sekarang kau lebih heboh?” Menyilangkan tangan di depan dada, Alice melirik Leonathan dengan tatapan tajam. “Karena wanita itu?” tanyanya yang terdengar kesal di telinga sang pengemudi mobil.
“Ya, jika tidak karena cinta pertamaku itu, aku tidak akan segila ini.”
“Cinta pertamaa? Setahuku, akulah cinta pertamamu. Dia bukan cinta pertamamu, Nath ... ha ... ha ... lucu sekali!”
Leonathan menghentikan kendaraan roda empat yang ia kemudikan ini sesuai perintah lampu merah yang ada di depan. “Bagaimana pun juga, hanya dia yang pernah tidur denganku.” Menoleh dan menatap lekat-lekat perempuan berambut pirang di sebelah kirinya, Leonathan tersenyum miring. “Baru kali ini juga aku mencintai seseorang dari pandangan pertama, bukankah itu juga yang dinamakan cinta pertama?”
“Tetapi ada yang lebih berharga dari cinta pertama.” Alice yang tak mau kalah itu juga ikut tersenyum miring. “Cinta sejati lebih berarti dari cinta pertama, Nath. Percuma kau memiliki cinta pertama, jika ujung-ujungnya cinta pertamu tidak bisa menjadi cinta sejati, perasaan dari dalam hatimu yang benar-benar tulus, tanpa pamrih atau syarat.”
Alice semakin tersenyum ketika melihat Leonathan yang tampak berpikir, memikirkan seperti apa cinta sejati itu. “Bukan mengincar fisik, tetapi murni karena kau memang mencintainya, berdasarkan perasaan terdalam dari dasar hatimu. Apa cinta pertamamu itu juga termasuk cinta sejati, Nath?”
Leonathan tiba-tiba terkekeh dan kelakukannya itu membuat Alice mengerut bingung. “Jika aku tidak tulus padanya, aku tidak mungkin mencarinya sampai pusing seperti ini.” Menggeleng geli karena Alice meremehkan perasaannya untuk Brielle.
“Mungkin aku tidak akan peduli dan mencampakkannya jika aku hanya ingin mempermainkan perasaannya. Tetapi kau tahu sendiri, kemarin sampai detik ini aku sedang mencari cinta pertamaku.” Mengetahui bahwa Alice sudah merasa kalah, senyumnya semakin mengembang. “
Bahkan sudah seminggu lebih aku mencari wanita yang berhasil membuatku frustrasi sekaligus merasakan cinta yang lama kudambakan.” Alice sudah tidak berkomentar, ia membungkan mulut dan memilih untuk memalingkan wajahnya dari Leonathan yang masih menunjukkan senyuman manis itu.
Ya, seperti yang dikatakan Leonathan tadi, pencarian Brielle sudah berlangsung lebih dari tujuh hari. Dikarenakan informasi tentang Naomi tak didapatkan dengan jelas, Leonathan sampai mencarinya ke seluruh Bali dengan mengandalkan tempat-tempat yang biasa digunakan Naomi untuk melepas penat. Bahkan ketika Alice mengajaknya ke toko bunga orang tua Naomi, informasi yang didapat hanyalah apartemen yang disewa Naomi selama liburan ke Bali.
Berita yang sama seperti dikatakan Alice padanya tentang tempat tinggal asli Naomi, yang memang bukan di Pulau Bali bersama orang tuanya. Alice sebagai sahabatnya hanya mengetahui bahwa Naomi tinggal di Jogja sendiri, dan ke Bali hanya berlibur. Hanya fakta itu yang Alice punya, sama sekali tidak tahu apartemen yang disewa sang sahabat.
Leonathan yang geram saat itu akhirnya memutuskan untuk mencari Brielle sendirian tanpa bantuan Alice. Parahnya, kabar apartemen itu tidak bisa diandalkan karena sampai di sana, Naomi ternyata sudah keluar dari apartemen sewaannya.
“Beruntung sekali salah satu karyawanku melaporkan kabar mengejutkan ini padaku secara langsung.” Memandang Alice, Leonathan geleng-geleng kepala. “Jika tidak, kau mungkin tak akan mengecek data Elle seperti perintahku.” Leonathan kembali membahas betapa leganya dia ketika ada jalan keluar yang bisa ia ambil. Begitu terkejut saat pagi jam tujuh kurang, dia dikabari bahwa ada karyawan bernama Brielle yang sudah tidak masuk kerja lebih dari lima hari dan tidak memakai surat keterangan dokter ataupun izin. “Jika karyawanku tidak mengabari, kau pasti juga tidak memerhatikan data karyawan lainnya. Apa kau ingin kupecat?”
“Oke, aku minta maaf. Lain kali aku akan memerhatikan semua karyawanmu, Nath.”
“Hanya lima karyawan saja, dan di saat satu orang tidak berangkat ... kau bisa-bisanya tidak tahu.” Membuang napas sambil mencengkeram setir kuat-kuat, pria ini berusaha menahan emosi. Leonathan lagi-lagi harus menarik oksigen dalam-dalam dan fokus pada jalanan agar tidak tersulut kemarahan.
“Aku tahu kau terhitung baru mengurus kafe kedua milikku. Tetapi, mengapa kau tidak pernah memerhatikan wajah karyawan? Terlebih, Elle bekerja di kafe yang kau tangani? Mengapa bisa kau tidak mengenalnya ketika bersalaman di klub malam itu?” Baru sekarang Leonathan bisa semarah dan seemosi ini pada sahabat yang pernah dicintainya.
Tanpa melihat Leonathan, Alice menundukkan kepala dengan perasaan bersalah walau sedikit saja. “Sudah aku katakan, aku minta maaf karena tidak pernah memerhatikan seluruh karyawanmu. Lagipula, wanitamu itu juga cantik ketika datang ke La Favela. Aku akui, dia begitu cantik malam itu. Jelas saja, aku tidak ingat jika wanita itu bekerja di Mixture Cafe pimpinanku.”
Ada rasa kesal di dalam hatinya kala mendengar betapa tajamnya suara Leonathan demi membela Brielle. Bukan cemburu karena cinta, tetapi aneh sekali menurutnya. Kenapa seorang Leonathan bisa semarah ini padanya hanya karena wanita yang baru ditemuinya dalam beberapa jam saja.
Leonathan cuma melirik sekilas. Ia masih tak habis pikir dengan Alice yang begitu menganggap enteng sebuah pekerjaan, bahkan sudah menjadi orang terpercayanya. Andai teman dekatnya ini menghapal betul wajah Brielle, pasti ia akan menemukan tempat tinggal wanita itu secepatnya, tanpa menghitung hari. Yang paling disayangkan Leonathan adalah ternyata Brielle menjabat sebagai karyawan di kafe miliknya, Mixture Cafe kedua bimbingan Alice.
Tibalah mereka di tempat kos elit di daerah Canggu, tepatnya ada di Jalan Raya Canggu Kerobokan Nomor 88. Tanpa berlama-lama, Leonathan bergegas turun dari mobil setelah turun dari kendaraan roda empat yang hanya terdiri dari dua kursi saja. Baru menutup pintu dan berjalan bersama Alice, ia melihat sosok Naomi yang keluar dari tempat kos. Leonathan yang jeli lantas mengejar dan menarik lengan kirinya.
“Kau pasti baru menemui Elle. Tolong panggilkan dia, ada yang ingin aku bicarakan,” ujar Leonathan tanpa memberikan salam karena tak sabar ingin bertemu Brielle.
Bukannya memberitahu, Naomi justru memberikan tamparan keras untuknya. Sampai Alice yang baru mendekat melongo dengan mata terbelalak. Masih menatap Leonathan dengan melotot, Naomi dengan kencang menyahut, “GARA-GARA DIRIMU, ELLE TIDAK ADA DI TEMPAT KOS! DIA SUDAH PERGI!” Ekspresinya begitu marah dan tampak kecewa.
“Kalau aku boleh menampar mukamu berkali-kali, aku akan menamparnya ribuan kali sampai aku puas! Sayangnya, aku tidak ada waktu untuk meladeni pria berengsek dan kurang ajar sepertimu!” Melemparkan tatapannya sekilat cahaya pada sahabatnya yang lain, Naomi menggeleng lemah. “Seharusnya aku tidak mengenalkan Elle pada kalian berdua. Karena kalian, aku kehilangan sahabat baikku.”
Leonathan yang tidak terlalu memedulikan pipi yang terasa panas dan perih, dibuat tercengang dengan kalimat terakhir Naomi. “Kau tidak tahu di mana Elle berada sekarang? Bukankah sekarang ini dia ada di tempat kos?”
“Bodoh! Kau sendiri tahu kalau aku baru saja keluar dari sana, dan tidak ada Elle di dalam. Teman kosnya bilang bahwa dia sudah pergi sejak beberapa hari lalu dan belum pulang.” Melewati tubuh Leonathan, Naomi melambaikan tangannya pada taksi online yang sudah ia pesan. Masuk melalui pintu belakang, ia memberikan tatapa tajam pada Leonathan dan Alice sebagai salam perpisahan. Taksi online tersebut pun berlalu dari sana.
Leonathan hanya melihat mobil yang ditumpangi Naomi itu pergi sampai menghilang, barulah dia melangkah cepat ke kendaraan roda empat miliknya. Kembali masuk dan duduk di kursi semula, kedua tangannya yang terkepal terus dihantamkan ke setir dengan sekuat tenaga. Melampiaskan amarah, kekesalan, dan rasa sesal di sana.
“Masih ada waktu, Nath ... kita masih bisa mencari Brielle di seluruh Bali. Aku yakin, dia masih ada di sekitar sini.”
“Kau pikir tempat mana lagi yang bisa aku datangi?! Semua informasi sudah kudapatkan dan jalan terakhir hanya tempat tinggalnya. Naomi bahkan tidak tahu di mana Elle berada!” Mengusap pipi yang kena tamparan, Leonathan sedikit meringis. “Jika ada apa-apa dengannya, aku tidak akan menampakkan diri pada dunia lagi. Akan kuberikan Mixture Cafe padamu.”
“Apa yang kau bicarakan?!”
Tak menjawab pertanyaan Alice, Leonathan memilih untuk mengendarai mobilnya lagi dan melajukan kendaraan mahal itu dengan kecepatan rata-rata. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Bahkan pria itu bertekad untuk bunuh diri jika dia belum bisa menemukan Brielle.