Bab 1

Swarna Dwipa merupakan satu dari tiga benua besar yang membentang di jagad Mayapada. Sebenarnya di benua tersebut terbagi atas 5 wilayah teritorial, namun hanya 4 wilayah yang dikuasai oleh Raja-Raja. 

Dibagian utara dikuasai oleh DATUK PATUA LORE, Raja Kerajaan LORENA. Kerajaan LORENA menguasai wilayah pelabuhan sebagai pintu masuk utama kapal-kapal yang membawa barang dagang dari mancanegara. Karena itu Kerajaan tersebut dikenal sebagai penguasa lautan dengan armada laut yang tangguh.

Bagian barat merupakan wilayah gurun berpasir yang kering berdebu. Meski demikian wilayah Kerajaan AL-BARTA yang dipimpin oleh Raja OMAR ARBA itu tidak bisa dikatakan gersang. 

Dengan banyaknya oase-oase bertebaran disana-sini menjadikan tanah disekitarnya subur dengan berbagai macam tanaman herbal dan buah unik gurun yang menjadi buah favorit para bangsawan di benua Swarna Dwipa, bahkan dikirim hingga ke kedua benua lainnya. 

Selain itu wilayah AL-BARTA juga dikenal sebagai SWARGA MANIK yang berarti butiran batu sorga sebab banyak ditemukan batuan berharga di goa-goa perbukitan gurun.

Berbeda dari Kerajaan Utara, Barat, dan Timur yang dikuasai Raja, bagian tengah benua dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Ratu DELIA ASTA sebagai penguasa Kerajaan MEDILAN. 

Karena berbatasan dengan tiga Kerajaan lainnya, otomatis MEDILAN yang mempunyai dataran luas dan lembah subur menjadi wilayah paling ramai dikunjungi di seluruh benua Swarna Dwipa. Pusat perniagaan, Pusat akademi, Pusat hiburan, Pusat pemerintahan, semua berada diwilayah ini.

Berbanding terbalik dengan Kerajaan MEDILAN, wilayah Timur yang sebagian besar tanahnya berupa pegunungan dan hutan bisa dikatakan jauh dari hiruk pikuk keramaian. Namun demikian justru suasana sejuk dan tenang sangat terasa di wilayah Kerajaan TIMORA yang dikuasai TENGKU BALMORA. 

Karena tanah diseluruh wilayah Kerajaan ini sangat subur, tak heran jika Kerajaan TIMORA menjadi pemasok utama bahan pangan di seluruh benua Swarna Dwipa.

Disamping itu hutan di wilayah ini jarang ditemui binatang buas, sehingga binatang buruan yang biasa dikonsumsi manusia semacam Rusa, Babi Hutan, Ayam Hutan, Kelinci, bahkan kerbau liar semua berkembang pesat di hutan-hutan Kerajaan TIMORA.

Wilayah terakhir yang terletak dibagian selatan dikenal sebagai Tanah Kematian, SELATOR. Dimana tidak ada pemerintahan yang mampu menguasai wilayah itu. SELATOR terkenal akan struktur teritori alam yang tidak mudah ditaklukkan manusia. Sebagian besar berupa hutan perawan dengan banyak binatang buas, tanah berbatu, jurang dan tebing yang curam. 

Dengan tidak adanya pemerintahan, tak heran jika tempat itu jadi tujuan utama para penjahat buronan kerajaan-kerajaan. Akibatnya berbagai macam tindakan kriminal, brutal, amoral, dan segala bentuk kejahatan tumbuh begitu subur.

SELATOR menjadi wilayah rebutan para bandit, perampok, dan para pelaku tindak kriminal karena memang tidak ada hukum di wilayah tersebut. Dengan berlakunya hukum rimba, dimana yang kuat memangsa yang lemah seiring berjalannya waktu pada akhirnya muncullah penguasa-penguasa di banyak area di Tanah Kematian, SELATOR.

Tampak di ufuk timur, sinar mentari masih malu malu menampakkan cahayanya. Bahkan rona merahnya masih belum mampu meluruhkan embun yang menetes dari ujung ujung daun. Sepi dan dinginnya suasana jelas membuat para suami enggan melepas kelonan mereka dari kehangatan tubuh istrinya.

Tenangnya alam di hutan area dukuh Pepesan, masuk ke dalam perbatasan wilayah Kerajaan TIMORA dan SELATOR, tiba-tiba suasana dikejutkan oleh dentuman keras yang meledakkan bukit diatas pedukuhan.

BOOM !!! BOOM !!! BOOM !!!

Begitu dahsyatnya tiga ledakan dari area berbeda di lereng bukit itu, hingga menyebabkan tanah longsor hebat. Longsoran tanah dan batu deras meluncur ke area pemukiman penduduk di bawahnya diikuti deru menakutkan dari segala sesuatu yang tergerus luluh lantak dilandanya.

Suara kentongan peringatan dari berbagai sudut di dukuh Pepesan sontak ramai terdengar, menyusul banyak penduduk yang keluar dari rumah mereka masing-masing.

Sayangnya peringatan itu jelas tidak mampu direspon para penghuni rumah yang terletak di samping tebing. Tanpa ampun mereka tertimbun longsoran maut yang melebar hingga hampir seratus meter.

Teriakan, jerit tangis para bocah yang tiba-tiba ditarik bapaknya saat terlelap, atau orang tua yang diseret paksa karena sudah tidak mampu berlari jadi pemandangan yang memilukan.

Di beberapa tempat terlihat tangisan pilu para wanita yang bahkan tidak sadar mereka hanya sekedar menutup tubuh telanjang mereka dengan kain seadanya.

Pagi itu suasana duka yang dalam tampak menyelimuti hampir seluruh warga dukuh Pepesan. Belasan rumah terkubur rata bersama puluhan penghuninya. Jerit tangis pilu tak bisa disembunyikan dari mereka yang tiba-tiba kehilangan sanak kadang, saudara, ataupun tetangga yang mereka sayangi.

Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan, dua ledakan serupa juga terjadi di wilayah barat, Kerajaan AL-BARTA.

Komplek pergudangan dimana buah gurun akan dikirim meledak dahsyat hingga mencapai radius ratusan meter. Tidak banyak korban jiwa memang, tapi bagaimanapun kejadian tersebut menciptakan teror bagi penduduk Al Barta yang biasa hidup damai.

Di Wilayah tengah, Kerajaan MEDILAN, memang tidak ada ledakan, namun di Dadaha, kota perbatasan antara Kerajaan tersebut dengan Kerajaan AL-BARTA terkena imbas cukup parah akibat ledakan pergudangan yang ternyata mengakibatkan kebakaran hebat lantaran buah gurun ternyata memiliki kandungan zat semacam alkohol.

Yang lebih mengejutkan, di wilayah Utara, Kerajaan LORENA, tempat dimana dikenal banyak mempunyai prajurit tangguh, dan memiliki sistem pengamanan ketat, ledakan dahsyat juga terjadi. Sebagian wilayah Utara pelabuhan meledak bersama lima buah kapal besar para saudagar yang tengah berlabuh.

Bencana beruntun yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan itu sontak menjadi perbincangan khalayak ramai di seluruh benua Swarna Dwipa. Dari rakyat jelata hingga pucuk pimpinan kerajaan-kerajaan, mengingat hubungan keempat Kerajaan di Swarna Dwipa terjalin cukup baik dan solid selama ini.

Para petinggi istana dari keempat Kerajaan akhirnya sepakat mengirim duta raja masing-masing untuk membicarakan masalah ini. Untuk tempat pertemuan, diputuskan akan diadakan di Kerajaan MEDILAN sebagai Pusat pemerintahan.

Bab 2

Menjelang siang hari itu, di dukuh Lembah Jati, bagian tengah Kerajaan TIMORA jauh dari lokasi ledakan, aktifitas sehari-hari para warga berjalan seperti biasa.

Wilayah paling ramai di Kerajaan TIMORA itu seperti biasa disibukkan oleh warga yang melakukan transaksi jual beli. Pedati dan lalu lalang orang orang sibuk dengan urusan keseharian mereka masing masing.

Diujung jalan utama pedukuhan tersebut tampak berdiri cukup megah bangunan kokoh tiga tingkat terbuat dari papan kayu Jati. Berwarna dasar kayu asli yang dihaluskan dengan bingkai berwarna coklat tua, bangunan tersebut memberi kesan natural klasik dan angkuh.

Namun kesan angkuh tersebut berbanding terbalik dengan papan nama yang dilewati pengunjung saat akan masuk. Diatas pintu lebar dengan dua daun pintu masuk bangunan tersebut terdapat papan selebar 2 x 3 meter dengan warna dasar merah maroon, berbingkai lekukan garis seni berwarna hijau. Di Tengahnya tertulis rapi huruf berwarna kuning keemasan... KEDAI & LOSMEN ANDARI.

Lima orang berpakaian mewah tampak memasuki kedai Andari dengan tertawa-tawa. Dari penampilan, terkesan jelas bahwa mereka adalah pedagang kaya yang sedang melakukan bisnis.

Dibelakang mereka terlihat sembilan pria kekar, sepertinya para pengawal pedagang tersebut. Bermacam senjata menempel di pinggang atau di punggung masing-masing. Ada yang bersenjata pedang, kapak, pedang kembar, dan tombak.

Begitu naik ke lantai dua, pedagang tersebut langsung mengambil tempat di satu ruang VIP kedai Andari. Sementara kesembilan pengawal mereka mengambil tempat duduk berkeliling di satu meja besar di samping ruangan itu.

Setelah pedagang dan pengawal mereka duduk, terlihat para pelayan dengan ramah sibuk mengantar makanan dan minuman yang dipesan. Sebagai pembuka, beberapa kendi besar arak wangi sebagai minuman khas kedai ini bolak balik diantar berulang kali.

Kesibukan itu tidak lepas dari pandangan sosok semampai di lantai tiga. Mata bundar dengan bulu lentik indah wanita itu sedikit menyipit saat melihat dua orang pengawal dibawah sedang adu jago minum arak.

Hidungnya yang agak kecil tapi mencuat mancung terlihat mencium aroma wangi arak dari lantai itu.

Sejenak kemudian wanita itu menoleh melihat sedikit keributan di lantai dasar, bibirnya yang merah muda ranum membentuk senyum samar.

Perlahan wanita pemilik tubuh sintal setinggi 167 cm dengan gaun panjang berlengan pendek warna biru langit itu melangkah gemulai menuruni tangga.

Kaki jenjang mulus seputih susu seolah muncul membelah gaun panjang yang memang memiliki model belahan hingga setengah paha dibagian kiri.

Kedua tangannya yang tersembunyi dibalik sarung tangan berwarna biru senada dengan panjang hampir menyentuh siku, lembut menyentuh kayu pegangan tangga.

Meski memiliki model tertutup dan panjang hingga ke mata kaki, ketatnya gaun sutra yang dia kenakan tidak dapat menyembunyikan lekukan indah dibagian dada, perut, dan pinggul wanita berusia 24 tahun itu.

Wanita itu adalah pemilik kedai & losmen Andari. Nama yang diambil dari penggalan namanya sendiri, WULANDARI.

Begitu kaki beralas sepatu kulit berwarna putih gading menapak lantai dua, hampir semua pengawal saudagar sontak pasang gaya sok kecakepan dengan bibir cengar cengir. Apalagi saat paras jelita Wulandari tersenyum tipis kearah mereka.

Ditengah tertegunnya mereka, wanita jelita itu terus melangkah turun ke lantai bawah.

Seorang pemuda dengan dahi diikat kain merah matanya tajam melirik Wulandari yang melangkah ke arah sebelah ruang kasir. Ikatan kain merah pemuda itu memiliki tanda seperti bentuk tiga lingkaran saling terkait disulam dengan benang berwarna keemasan.

Sesaat setelah menenggak habis arak dari kendinya pemuda itu bergegas melangkah kearah Wulandari. Seolah merasakan ada sesuatu, dari sudut matanya Wulandari melirik pemuda itu, perlahan jarinya meraih sumpit yang ada di meja depannya.

Berjarak sekitar tiga meter dari tempat Wulandari berdiri pemuda itu tiba-tiba dihentikan pria 45 tahun, dengan kumis dan cambang sedikit panjang. Pria itu membawa cambuk dengan ujung baja biru lancip. Cambuk itu digulung melingkar tersampir di pinggang kiri.

"Maaf ki sanak, ada perlu apakah ki sanak ini. Nampaknya begitu tergesa." Sapa lelaki itu sopan.

Pemuda berikat kain merah berhenti tanpa melihat lelaki itu, diam tanpa ekspresi. Sikapnya tetap tenang memandang Wulandari.

Melihat itu Wulandari tersenyum tipis, menoleh ke arah dua orang yang tengah berhadapan itu, kemudian berkata lirih kearah lelaki berkumis.

"Biarkan dia kemari lek Manto, nggak apa-apa."

Mendengar suara Wulandari, lelaki yang dipanggil lek Manto itu perlahan menyingkir membiarkan pemuda itu lewat menghampiri Wulandari. Wanita jelita itu tersenyum tipis tanpa berkata apapun, sementara jarinya lembut memainkan sumpit.

"Bisa bicara berdua ?" Begitu agak dekat pemuda itu berbisik. Wulandari tetap tidak mengubah ekspresi. Pemuda itu melirik kiri kanan tampak bingung.

"ORDO SAN O." Bisiknya tergesa. Mimik muka Wulandari sedikit berubah.

"LINTANG 69." tambah pemuda itu.

Seketika Wulandari melangkah kearah sudut yang agak sepi. Pemuda itu pun gegas mengikuti dibelakang sementara tangannya mengambil sesuatu dari kantong dibalik bajunya.

Begitu Wulandari berbalik menghadap ke arahnya, cepat pemuda itu memberikan benda semacam lembaran kecil yang terangkai dari serutan bambu.

"Hmm.. layang buluh." Wulandari bergumam lirih. Pemuda dengan ikat kain merah itu gegas melangkah keluar begitu Wulandari menerima benda yang disebutnya layang buluh.

Tanpa memeriksa, Wulandari menyembunyikan benda itu di genggaman tangannya dan melangkah ke ruang kerjanya di lantai 3.

Layang buluh adalah sebutan bagi surat rahasia di jagad ini. Terbuat dari buluh bambu yang diraut tipis dan dirangkai menyerupai anyaman tikar. Hanya orang tertentu yang mampu membaca pesan di surat rahasia itu.

Setiap penerima memiliki kode berbeda. Kode tersebut biasanya berupa gabungan 3 angka dan 3 aksara kuno yang berfungsi sebagai urutan.

Dengan menggunakan kode itu si penerima menarik lembar demi lembar anyaman buluh berdasar urutan kode yang mereka miliki. Jika salah menarik urutan rangkaian, layang buluh hanya akan menjadi anyaman hiasan tanpa makna.

Bab 3

Sesampai di dalam ruang kerjanya, Wulan memandang enggan layang buluh ditangannya. Dengan setengah hati wanita itu terlihat membolak balik anyaman itu sebentar, kedua alisnya terangkat keatas sementara jarinya menarik lembar demi lembar buluh itu satu persatu. 

Dengan kening sedikit berkerut dia membaca pesan dari huruf yang perlahan muncul tersusun.

---------------------------------------------------

Penginapan BALEMORA, Melati 17

Waktu : WA BULAN THA, SELATOR

- ORDO SAN-O

---------------------------------------------------

Ra bulan Tha diambil dari aksara kuno hanacaraka. Wa berarti 9 dan Tha berarti 7. Jadi waktunya tanggal 9 bulan 7. Itu berarti masih sebulan lagi. Petunjuk lebih lanjut berarti harus ke penginapan BALEMORA. 

Wulandari merasa tidak ada kepentingan baginya buat mendatangi undangan dari ORDO San O. ORDO SAN O memang merupakan sekte misterius, dimana mayoritas anggotanya terdiri dari telik sandi telik sandi dan orang-orang pilihan dari seluruh Kerajaan di ketiga benua di jagad ini.

Tujuan dibentuknya ORDO ini pada awalnya sebenarnya sangat baik, karena bertujuan menjaga kedamaian seluruh Kerajaan di tiga benua Jagad Mayapada ini. Pola beroperasi nya terkenal sangat terencana dan rapi.

Saking rapinya organisasi ini, bahkan bisa dibilang jika ada seseorang atau satu kelompok punya niat untuk melakukan kejahatan yang mengganggu jalannya roda pemerintahan, orang atau kelompok itu dipastikan akan hilang dalam hitungan hari.

Namun seiring berjalannya waktu, dengan pergantian pimpinan beberapa kali dan orang orang dari beberapa Kerajaan ikut campur, visi dan misi ORDO SAN O seolah bergeser dari tujuan awal. 

Saat ini ORDO SAN O yang menentukan bagaimana seharusnya Kerajaan Kerajaan itu berjalan. 

Tentu hal ini mendapat banyak tantangan dari Kerajaan di ketiga benua. Bagaimana bisa Kerajaan di seluruh jagad diatur oleh satu ORDO.

Mengingat tragedi yang beruntun terjadi di Swarna Dwipa akhir akhir ini, bagaimanapun Wulandari curiga, apakah rentetan ledakan itu ada hubungannya dengan undangan dari ORDO SAN O ini. 

Suntuk dengan pemikirannya sendiri, rileks Wulandari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, mencoba mengendurkan otot di lehernya dengan menengadahkan wajah. 

Didinding papan ruangannya terlihat dua ekor cicak saling berkejaran. Rupanya cicak jantan tengah mengejar cicak betina untuk dikawin. Beberapa saat, terlihat cicak betina yang tadi seolah berlari ketakutan sekarang malah diam mengibaskan ekornya dengan gemulai seolah memancing birahi si jantan. 

Wulandari tersenyum, seketika ingatannya kembali saat dia berumur sekitar 4-5 tahun. Kejadian yang sama terulang lagi, pikirnya. Dan itu membuat senyumnya makin melebar.

Sebagai bocah tunggal yang tinggal bersama bapak ibunya di dusun Randu Sewu, satu desa terpencil berlokasi dekat salah satu hutan wilayah Kerajaan TIMORA, masa masa kecil Wulan sangatlah menyenangkan. 

Berlarian mengejar kupu kupu, membantu ibunya memetik buah yang tumbuh liar di pinggiran hutan, ataupun melihat ikan berenang di sungai kecil belakang rumahnya, itu sudah menjadi hiburan tersendiri yang mengasyikkan baginya.

Saat itu Wulan kecil berhasil menangkap beberapa ekor ikan kecil menggunakan batok kelapa. Dibawanya ikan itu untuk dipindah ke wadah lain yang lebih besar. Ketika memasukkan ikan, tiba tiba matanya terantuk ke dinding bambu rumahnya. 

Dilihatnya dua ekor cicak saling membelit menempel didinding. Entah bagaimana, gerakan kedua cicak yang saling meliuk, membelit dan menggeser tubuh bagian bawahnya menciptakan sensasi tersendiri bagi tubuh si Wulandari kecil.

Wulan perlahan menyembunyikan tubuhnya seakan takut membuat cicak itu terkejut lalu pergi. Liukan gemulai dan berirama dari kedua binatang itu membuat Wulandari seakan menahan rasa pengen pipis, hingga dia merapatkan kedua pahanya. 

Tidak tahu kenapa Wulan kecil merasa dicekam ketakutan yang aneh, tapi semakin dia merapatkan pahanya sensasi aneh seolah makin menjadi. Hingga beberapa saat kemudian dia sedikit kaget sekaligus lega saat tiba tiba kedua cicak itu jatuh dan langsung berlarian tak tentu arah.

"Permisi... Permisi non Wulan" Ketukan pelan dipintu tiba-tiba membuat lamunan Wulandari jadi buyar. Tapi dia masih tersenyum mengingat kejadian itu.

"Ya.. masuk bibi Lastri"

Tampak masuk ke ruangan Wulandari seorang perempuan manis berusia 33 tahun bernama Lastri. Perempuan bertubuh sintal itu sedikit lebih pendek dari Wulan, namun di usia matang seperti Lastri justru lekukan bagian dada dan pinggul perempuan itu makin terbentuk sempurna. 

Banyak pria tertarik pada perempuan manis yang dipercaya Wulandari sebagai kasir kedai Andari itu, seperti kejadian barusan sebelum dia masuk ke ruang ini.

Saat naik tangga dia berpapasan dengan salah seorang pengawal pedagang yang berada di ruang VIP tadi. Pengawal bersenjata tombak itu seperti menggoda dengan menghalangi jalannya, kekiri dia kekiri, kekanan dia ikut kekanan. 

Lastri yang merasa dipermainkan mendongak mencoba marah tapi sepertinya tidak bisa. Padahal dia melihat pengawal itu jelas jelas pandangannya menatap ke arah belahan bulat yang sedikit menyembul dari bajunya. 

Lastri segera sadar, tertunduk malu menutup bagian atas dadanya, dan bergeser pada sandaran tangga. Pengawal itu tidak segera turun, beberapa saat diam berhadapan. Pengawal bertombak itu tersenyum nakal menatap Lastri lebih dalam.

"Cantik, kenapa kamu menutupi benda seindah itu"

Dengan percaya diri pengawal itu sedikit menyentuh dagu Lastri, mengangkatnya agar bisa dengan jelas melihat rona wajahnya yang mulai bersemu merah. Bibir pengawal itu terlihat sedikit nyengir, mendengus lirih sebelum melanjutkan langkahnya turun.

Degup kencang dada Lastri belum pulih hingga dia masuk ruangan Wulandari. Tidak biasanya Lastri tersipu seperti ini, bahkan sangat jarang. 

Sebagai orang yang sudah lama bekerja di kedai losmen dan melayani orang banyak, kejadian seperti tadi tentu lumrah dan tidak bisa dia hindarkan. Namun selama ini dengan mudah bisa dia atasi, beda saat dirayu pengawal tadi. Dia sendiri heran, kenapa bisa seperti ini.

Beberapa teman lelaki di tempat Lastri bekerja disini banyak yang tertarik mendekati perempuan berparas manis itu, namun mereka pada mundur karena tahu Lastri adalah istri Manto, kepala keamanan merangkap kusir pribadi Wulan. Namun sayang hingga jalan hampir 10 tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai anak. 

Di Jagad Mayapada ini ikatan pernikahan suami istri bukanlah sesuatu yang bersifat sakral. Dianggap bukan satu hal yang bisa mengikat jiwa suami atau istri. Hanya sebatas legalitas jika mempunyai keturunan. 

Bahkan jika si suami atau istri ketahuan selingkuh, bercinta dengan orang lain, si suami atau si istri bisa kembali ke pasangannya jika memang keduanya masih mau dan saling suka. Tidak akan ada intimidasi ataupun pandangan negatif dari penduduk atau orang sekitar. Sebab masalah itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa atau memalukan.

"Ini non Wulan, catatan keuangan minggu ini. Selama beberapa tahun belakangan pemasukan kedai kita bagus sekali non. Banyak peningkatan." Lastri antusias

"Hmm.. bagus bi"

"Cuman untuk losmen sepertinya jalan ditempat, tetap saja. Tidak mengalami peningkatan, tapi cukup stabil non."

Wulandari memeriksa catatan itu sambil lalu. Sebentar dia nampak mengangguk angguk kan kepalanya.

"Baiklah bi, tinggal aja dulu catatannya disini nanti saya periksa lagi"

"Baik non Wulan" 

Lastri senyum mengangguk, merasa senang bahwa hingga sejauh ini Wulandari sudah memberi kepercayaan bagi dia bekerja sebagai kasir. 

Sebetulnya ada 5 orang kasir di tempat ini. Mereka bekerja bergantian karena namanya losmen tentu harus buka 24 jam. Tapi di antara mereka berlima, Lastri lah yang paling dipercaya Wulandari. 

Begitu Lastri turun ke lantai 2, dilihatnya para pelayan sibuk membereskan ruang VIP dan ruang sebelahnya. Sepertinya para juragan beserta pengawal yang tadi ramai makan di ruang ini sudah selesai. Lega giliran tugasnya berakhir, Lastri bergegas turun, dan bersiap untuk kembali pulang.

Selang beberapa saat setelah Lastri keluar, Wulandari menutup catatan tebal itu, kemudian juga keluar ruangan dan melangkah turun.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED