Bab 1

"KENANGA, kamu anak sulung di keluarga ini. Kamu harus mau menikahi orang-orang Gunawan itu agar perusahaan kita selamat dari kebangkrutan, Nak," jelas Mawar, ibunya dengan suara welas asih.

Wanita dengan tubuh bak gitar spanyol itu menggeleng tegas. "Nggak, aku nggak akan nikah sama Pak Tua Mesum dari keluarga Gunawan itu, jangan harap!"

"Nak, mengertilah, perusahaan kita sedang diambang kebangkrutan, kalau kamu menolak menikah dengannya, bagaimana kita bisa hidup esok harinya? Pikirkan baik-baik, Nak. Ini demi masa depan kamu juga."

"Masa depan apa, sih, Bu? Ibu kalau mau ngorbanin aku bilang aja, dong! Ibu mau aku nikah sama Pak-pak tua yang umurnya setara sama Bapak itu?" Kenanga meludah. "Cuih, mimpi saja! Lebih baik aku jatuh miskin daripada harus menikah dengannya!" jerit Kenanga yang lantas berlalu dari sana.

Lilya sejak tadi hanya menyimak. Dia hanya anak pungut di keluarga itu, tapi dia tetap dihitung sebagai anggota keluarga mereka, walau setiap harinya dialah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

"Ada apa, Ibu?" tanyanya pada Mawar yang langsung memegangi bahu Lilya dan mencengkeramnya kuat.

"Lilya, cuma kamu satu-satunya harapan Ibu."

Lilya menatap Mawar tak mengerti, tapi begitu penjelasan panjang kali lebar itu ia terima, Lilya hanya bisa mengangguk pasrah dan menerima.

"Lilya mau menikahi orang itu, kalau orang itu bisa membantu Bapak dan Ibu. Lilya bersedia, Bu."

____

Terima kasih sudah baca, jangan lupa save dilibrary, ya!

Bab 2

"BAGAIMANA kabar terbaru dari pergerakan keluarga Atmawijaya?"

Lionel Ervan Gunawan atau yang akrab disapa dengan nama Evan itu meluruskan kakinya di atas meja. Sembari mengecek satu per satu laporan dari CEO yang tersebar di negeri ini untuknya, Evan sesekali melirik Chris, kaki tangannya yang kini memegangi tablet berisi rangkuman laporan penyelidikannya.

"Mereka hendak mengajukan pernikahan untuk Anda, Tuan."

Evan mendengkus. Apa orang-orang Atmawijaya tidak punya otak sampai mau mengajukan pernikahan padanya? Apa Evan terlihat seperti pria tua mesum yang kurang belaian, karena belum menikah sampai sekarang?

Dengkusannya kembali terdengar. Rumor yang beredar luas tentang dirinya memang jelek sekali. Tambun, jelek, tua, mesum, dan playboy. Semuanya dirangkap menjadi satu, padahal Evan tidak pernah merasa melakukan atau memiliki fisik seperti rumor yang tersebar.

"Siapa yang akan mereka ajukan menjadi pengantinku?"

Chris melihat data, kemudian menunjukkan sebuah foto di layar tabletnya. Wanita itu cantik, cara berpenampilannya modis, usianya sudah dewasa, dan akan sangat pas kalau bersanding dengan Evan ke mana-mana.

"Dia anak sulung keluarga Atmawijaya, namanya Kenanga Atmawijaya, sekarang dia pengangguran, hobinya ke kelab malam dan berkencan dengan laki-laki yang berstatus sebagai teman-temannya."

Evan mendengkus. "Aku akan menolaknya mentah-mentah."

Chris mengangguk setuju. "Mereka bisa saja mengirimkan orang yang berbahaya untuk Anda, Tuan. Anda harus berhati-hati terhadap serangan dadakan Tuan Kaisar Atmawijaya."

Evan mengangguk mengerti. "Kirimkan semua data keluarga besar mereka. Aku ingin tahu, siapa saja kandidat yang bisa kupilih untuk diperistri."

Chris tidak mengerti dengan Tuannya ini. Evan dengan terang-terangan menghancurkan keluarga Atmawijaya yang berani menyeleweng dari tugasnya. Namun, dia juga dengan mudahnya menerima tawaran pernikahan dari mereka.

Apa yang Evan rencanakan untuk keluarga Atmawijaya?

"Chris, sampaikan pesanku pada mereka, aku hanya akan muncul di hari pernikahan, siapa pun yang dipilih untuk calon istriku, aku akan menerimanya. Selama calon itu tidak memiliki niat busuk, aku akan membahagiakannya."

"Baik, Tuan."

Evan tersenyum miring. "Dan satu lagi, Chris."

"Apa, Tuan?" Chris menunggu dengan baik.

"Pasang ranjau untuk memerangkap mereka. Jika mereka tidak bisa lagi dimaafkan, maka jawaban untuk mereka hanya satu."

Chris mengangguk mengerti.

Jalan terakhir di kamus seorang Lionel Ervan Gunawan adalah kematian. Tikus-tikus yang berani mengusik Evan sama dengan mereka yang meminum racun yang akan membunuh secara perlahan.

****

Lilya menangis dalam diam setiap malam setelah mendengar titah ibunya untuk menikah.

Dia masih muda, dia masih sekolah, bahkan dia belum lulus SMA. Lilya masih terlalu dini untuk menikah, tapi demi Kaisar dan Mawar, Bapak dan Ibu yang telah merawatnya selama ini, Lilya rela berkorban.

Digadaikan, dijual pada Pak Tua Mesum dari keluarga Gunawan yang kaya raya demi menyelamatkan perusahaan keluarga. Dia rela menikah dengannya dan mungkin dia akan menjadi istri muda yang akan ditindas oleh istri-istri tuanya di sebuah mansion besar.

Mengingat film-film tentang poligami yang bertebaran di layar televisi dan mengisahkan seorang istri muda yang disiksa istri-istri tuanya, Lilya bergidik ngeri saat membayangkan dirinya akan berakhir seperti itu.

"Tuhan, semoga tidak ada drama mengerikan seperti itu dalam hidupku," doanya sembari menatap langit-langit kamar.

Dia berharap doanya dijamah Tuhan kali ini. Padahal, setiap kali ia berdoa, semua doanya tak pernah dikabulkan sama sekali.

***

Evan menatap sebuah foto di layar ponselnya dengan wajah datar. Cantik, sih, cantik. Tubuhnya pendek, tapi lekukan tubuhnya terlihat sempurna, bahkan cenderung menggoda.

Hanya saja ... pakaiannya.

Evan menghela napas kasar saat melihat ibu tirinya berjalan melewatinya yang sedang duduk nyaman di sofa ruang santai.

"Mom!" panggilnya tanpa ragu.

Nayla menoleh. "Iya, Van? Kenapa?"

"Aku mau menikah."

Mata wanita berusia lima puluh tahunan itu tampak berbinar-binar menatapnya. "Iya?" tanyanya antusias, sembari mendekat pada putra sambungnya. "Mana calonnya?"

Evan menunjukkan sebuah foto gadis berseragam SMA yang sukses membuat mulut Nayla menganga lebar.

"Cantik, kan, Mom?"

Nayla menatap putranya horor. "Serius kamu? Dia masih SMA?"

Evan menganggukkan kepala. "Pernikahan bisnis, Mom." Dia menatap kembali layar ponselnya sekali lagi. Gadis itu memang cantik, tapi tatapannya tampak menyimpan perih yang tidak seharusnya ia miliki di usiany. "Keluarganya nyaris bangkrut. Mereka meminta Evan untuk menikahi salah satu keturunannya, sebagai gantinya aku harus membantu mereka membayar hutang perusahaan."

"Jadi?" Nayla menatap Evan tajam. "Tidak ada cinta di antara kamu dengan gadis itu?"

Evan menggeleng. "Dia bahkan belum pernah bertemu denganku secara langsung."

"Jangan bercanda kamu!" bentak Nayla murka. "Pernikahan adalah hal yang sakral, jangan pernah mempermainkan sebuah ikatan pernikahan. Kamu mengerti, bukan? Pernikahan bukan untuk main-main saja. Mommy tidak akan setuju, Daddy-my juga tidak akan menyetujui ide pernikahan seperti itu."

Evan memejamkan matanya. "Aku tidak punya niat untuk main-main dengan pernikahan ini." Evan kembali menatap Nayla dalam-dalam. "Mommy tahu, umurku sudah tua, aku perlu seorang pasangan yang bisa menemaniku hingga menua. Tapi sayangnya, aku terlalu malas mengurus soal asmara, apalagi cinta. Mommy ingin melihatku menikah, bukan? Lalu mengapa Mommy tidak setuju jika aku menikahinya? Apa karena dia masih kecil?"

"Bukan perkara usianya yang masih kecil atau tidak, tapi apa niatmu menikah dengannya? Jangan sampai kamu mempermainkan pernikahan dan mengulangi tragedi perceraian yang pernah terjadi dengan Daddy kamu dulu."

Evan memejamkan mata. "Aku mengerti, Mommy."

Nayla memeluk kepala putra sambungnya. Dulu, dia anak yang manis, tapi perlahan dia berubah. Semenjak dewasa, Ethan membiarkan putranya memilih jalan hidupnya sendiri, dan Evan berubah menjadi seperti ini.

"Mommy hanya tidak mau melihat pernikahanmu hancur. Kamu tetap anak kesayangan Mommy, Evan. Mommy akan sakit jika sampai melihat rumah tanggamu berantakan."

"Mommy tenang saja." Evan membalas pelukan Nayla. "Aku tidak akan bermain-main, selama dia tidak mempermainkan pernikahan ini."

Nayla tersenyum tipis. "Jadi, kapan Mommy sama Daddy bisa melamarnya buat kamu?"

Evan mengurai pelukan mereka. "Tidak perlu." Evan berdeham singkat. "Mom sama Dad hanya akan melihat calon istriku tepat di saat upacara pernikahan nanti. Aku ingin membuat seseorang di sana menyesal, karena berani menolak sebelum dia bertemu langsung denganku."

Nayla hanya mengernyitkan dahi dan menatap putranya tidak mengerti. Apa maksud kalimat putranya tadi?

Kata-kata Evan memang dipenuhi banyak makna, tapi Nayla percaya, kalau dia akan tetap berlaku baik seperti yang terjadi selama ini.

"Apa pun pilihan kamu, Mommy akan mendukungmu. Asal kamu tidak melakukan sesuatu yang melanggar norma, agama, dan juga aturan. Mom dan Dad akan selalu ada di belakangmu."

"Makasih, Mom."

Nayla tersenyum manis. "Jangan lupa, beritahu mama kamu juga tentang kabar ini, ya?"

Evan tersenyum tipis. "Itu urusan mudah."

Bab 3

RANJAU berhasil disebar dengan baik, semua keluarga Atmawijaya harus hati-hati dalam melangkah, terutama mereka sedang berhadapan langsung dengan seorang Lionel Ervan Gunawan, dia yang kini memegang kekuasan dari dua keluarga besar Gunawan dan Tjandra.

Christian Andromeda tersenyum manis saat menatap gadis belia bernama Lilya yang duduk ketakutan seraya menundukkan kepala. Gadis itu sesekali mendongak, menatapnya, tapi dia kembali menundukkan wajahnya lagi, begitu Chris membalas tatapannya.

Gadis yang penakut dan pemalu, batinnya.

"Chris, mana yang akan menjadi menantuku?" Pria tua dengan perut buncit dan tatapan mesum menatap Kenanga dan Lilya secara bergantian.

Kenanga terlihat menahan muntah, tapi ia segera berpaling menatap Chris yang memang paling sedap dipandang di sana.

Kaisar berdeham. "Anak terakhir keluarga kami, Tuan. Namanya Lilya, usianya masih delapan belas tahun sekarang."

Pria yang disewa oleh Evan itu lantas menatap Lilya dari atas sampai bawah. Seksi, cantik, masih muda, air liurnya nyaris menetes dan hal itu membuat tubuh Lilya bergetar hebat.

Salah apa dia? Dosa apakah dia?

Kenapa dia harus menikahi anak orang ini? Dengan orang tua yang begini, bagaimana rupa anaknya nanti?

Tuhan?!

Lilya ingin menangis sekarang.

Jangan-jangan, kalau suaminya sudah bosan, dia akan dijadikan selir oleh ayah mertuanya yang mesum ini?

Chris berdeham pelan. "Kenapa bukan anak sulung di keluarga Anda? Saya yakin, Lilya seharusnya masih sekolah di usianya yang sekarang ini."

Kaisar menatap Kenanga yang terlonjak di tempat duduknya. Dia menggeleng panik pada ayahnya yang memejamkan mata, lalu menghela napasnya kasar.

"Dia sudah punya kekasih, saya juga tidak ingin memaksakan pilihannya. Lilya juga mengajukan dirinya sendiri, apa saya berhak menghalangi niat putri-putri saya?"

Chris tidak bisa berkomentar lagi, melihat dari gelagat Lilya yang ketakutan begitu, dia pikir gadis itu telah diancam oleh keluarganya sendiri.

"Apa kamu benar-benar mengajukan dirimu sendiri?" Chris menatap gadis itu tajam, berharap Lilya mau membuka rahasia padanya, tapi gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepala.

"Iya, saya mengajukan diri saya sendiri." Lilya memejamkan mata dan mulai menyakinkan dirinya.

Demi keluarganya. Demi ayah dan ibu yang telah membesarkannya. Dia rela menjadi istri dari anak pria tua mesum di hadapannya ini.

Senyuman itu ia ukir saat menatap Chris yang terdiam tanpa bisa banyak berkomentar. Chris berdeham, kemudian memalingkan wajahnya ke arah Kenanga.

"Tuan saya meminta untuk melaksanakan pernikahan seminggu kemudian—"

"Tapi, Lilya masih sekolah, apa itu tidak terlalu terburu-buru?" tolak Kaisar cepat-cepat.

"Tidak. Perusahaan Anda memerlukan dana secepatnya. Pernikahan itu juga pernikahan tertutup yang hanya akan dihadiri oleh keluarga besar. Jadi Anda bisa tenang, walaupun Lilya sudah menikah, dia masih bisa tetap bersekolah.." Chris menatap Lilya yang mengangguk padanya. "Kamu tidak keberatan, kan?"

Lilya menggeleng. "Asalkan Tuan Anda mau membantu keluarga saya secepatnya, saya tidak keberatan sama sekali. Bahkan kalau saya harus berhenti sekolah, saya akan menerimanya dengan senang hati."

"Baiklah kalau begitu, semuanya sudah diputuskan." Chris menatap tajam pada pria tua yang disewa Evan.

Pria tua itu berdeham. "Kalian akan menikah minggu depan, untuk masalah tempat dan lain-lainnya, semuanya akan diberi tahu pada kalian secara bertahap."

***

Evan mendengarkan isi percakapan itu dengan mata terpejam. Dia membayangkan gadis itu mengucapkan semuanya dengan baik, bagaimana ekspresinya pun ia bisa membayangkannya dengan jelas.

Dia gadis yang baik, batinnya.

"Tuan?"

"Hm."

"Apa Anda yakin akan melaksanakan pernikahan ini minggu depan?" tanya Chris yang tidak percaya, mengingat Evan baru saja bertengkar dengan sepupunya dan kini wajahnya dihiasi luka lebam yang cukup banyak.

"Kenapa? Apa kamu meragukan keputusanku?"

Chris menggelengkan kepala. "Tidak, Tuan."

"Persiapkan saja semuanya, Chris, semuanya sudah diatur, tidak ada alasan lagi untuk mundur."

"Baik, Tuan."

Benar, tidak ada alasan lagi untuk mundur.

Evan mengambil kesempatan ini agar dia bisa menikah, mendapatkan seorang istri yang mungkin bisa mengurusnya sampai ia menua di kemudian hari. Namun, dia juga tidak tahu, akankah istrinya nanti bisa mengurusnya atau tidak, karena dia masih pelajar. Bocah yang tidak seharusnya menikah di usianya yang masih muda.

Chris pamit dari kamarnya menyusul seorang perempuan yang kini masuk ke kamarnya. "Kak Evan beneran mau nikah, ya?"

"Hm, kenapa, kamu cemburu?"

Perempuan itu berdecak kesal. "Bukannya gitu, tapi aneh aja. Abisnya, Kak Evan nikahnya sama bocah, sih."

Evan mendengkus. "Dia bukan bocah lagi, Syil."

"Tetap aja. Coba deh, sepuluh tahun lagi kalian jalan bareng, lihat aja, dia bakal kelihatan kayak anak Kak Evan, bukannya istri Kak Evan."

Evan mendengkus. "Lalu, kamu lebih suka lihat aku menikah sama mama kamu gitu?"

Syila melotot tajam. "Kakak ... masih suka sama Mama?"

Evan tersenyum tipis. "Masih."

"Tapi, Papa bilang, Kak Evan suka sama Mama waktu masih umur lima tahun, kan?"

"Terus, masalahnya di mana? Mama kamu juga nggak nambah tua, Syila." Evan tersenyum tipis. "Jadi, sebelum papa kamu ngamuk, mendingan Kakak menikah dengan orang lain, bukan?"

"Terserah Kakak ajalah!" teriak Syila yang pasrah dan meninggalkan Evan sendirian.

Dia hanya berharap, Lilya bisa menjadi pasangannya. Seseorang yang bisa mengerti dirinya luar dan dalam. Seseorang ... yang mungkin bisa menemaninya hingga kematiannya datang.

***

Undangan pernikahan itu sampai di rumah keluarga Atmawijaya. Kenanga yang pertama kali mendapatkannya langsung melemparkan kertas undangan itu pada Lilya.

"Perhatikan dengan baik kapan tanggalnya dan siap-siap aja lo nikah sama orang tua mesum itu."

Lilya hanya menunduk. Dia sudah ikhlas, dia rela menikahi orang itu demi keluarga kecilnya ini. Agar mereka bahagia, tidak apa-apa.

"Jujur, ya, Li, gue kasihan banget sama hidup lo. Udah anak pungut, dijadiin pembantu, terus nikah sama orang tua gendut kayak badut gitu pula." Kenanga mendengkus. "Emangnya, lo nggak pernah mikir mau hidup bahagia gitu?"

Lilya hanya diam saja. Sebersit keinginan untuk bahagia dengan menikahi orang yang ia cinta tentu saja ada. Namun, Lilya berusaha melupakannya.

Demi ayah dan ibu yang telah membesarkannya.

Seorang kurir datang dan membawa kotak yang terbungkus pita cantik. "Untuk Nona Lilya," katanya.

Lilya menerimanya dan membuka isinya. Gaun pengantin yang terlihat mewah dan cantik, terlihat sekali kalau gaun itu dipesan khusus untuknya.

Namun, bagaimana bisa? Bukannya mereka baru bertemu Lilya kemarin? Bagaimana gaun ini bisa langsung jadi dalam waktu dua hari?

"Cantik," gumam Kenanga, "gaunnya."

Lilya tersenyum. Yang membuat gaun ini jelas orang yang memiliki kekuasaan dan uang yang banyak. Dia pasti sangat kaya raya. Abaikan rupa dan bagaimana bentuk orang yang memberikannya.

Lilya mulai berpikir, apakah hanya uang bisa membuat seseorang bahagia?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED