"Mak … Mak, di mana?" Kudengar suara Dini, menantuku memanggil.
"Di belakang, Din," sahutku. Kulanjutkan pekerjaan membilas baju.
"Mak, kenapa, di tudung belum ada lauk? Dini laper!" tanya Dini ketus.
Aku menoleh kepadanya. Dini sudah berdiri di ambang pintu tempat cucian.
"Mak, belum masak! Baju kemarin numpuk, makanya, Mak nyuci dulu," jelasku.
"Tapi, ini udah jam sepuluh, Mak! Mak, kan tau kalau jam segitu, Dini makan lagi! Nyucinya tinggal aja, Mak masak dulu, gih!" perintah Dini padaku.
"Ta— tapi ini nanggung, Din."
"Udah, Mak cepet masaknya! Dini gak mau tau, jam sebelas udah mateng, udah laper!"
Dini beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkanku yang masih berjibaku dengan cucian. Kugelengkan kepala melihat perlakuan menantuku itu. Kulanjutkan membilas baju yang tinggal sedikit. Jadi, nanti tinggal menjemur saja.
***
"Din, itu lauknya sudah mateng," panggilku. Kuketuk pintu kamarnya.
Pintu terbuka. Terlihat wajah Dini yang kusam, dengan rambut acak-acakan. Pasti dia ketiduran lagi.
"Sudah selesai masaknya?" tanya Dini lagi sambil menguncir rambutnya yang berantakan.
"Su— sudah. Mak dah tarok di atas meja, lauk sama sayurnya," jawabku.
"Ya, sudah. Dini mau mandi dulu, gerah!" ucap Dini sembari langsung menutup kembali pintu kamarnya.
Aku hanya bisa mengelus dada, menghadapi tingkah Dini.
Aku, Esah. Biasa dipanggil Mak Esah. Usiaku sudah memasuki kepala enam dan aku seorang janda. Dini, menikah dengan Imron, anak sulungku.
Mereka menikah sudah hampir setahun, namun belum dikaruniai anak. Sedangkan anak keduaku, Wita, sudah menikah terlebih dahulu sebelum Imron dan memiliki sepasang anak. Wita tinggal tak jauh dari rumahku, sekitar 20 menit dengan mengendarai motor.
Awalnya, aku sangat bahagia menerima kepindahan mereka. Kulayani Dini, menantuku itu, seperti anakku sendiri. Berharap, dia akan menyayangiku seperti ibunya sendiri. Namun, ibarat kata, jauh panggang dari api, jauh pula harapanku. Dini sepertinya, tidak menganggap aku sebagai mertua. Apalagi, setelah dia tahu, bahwa selama ini, kebutuhan hidupku, masih bergantung pada Imron.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara dari luar. Aku menuju ke depan, untuk melihat siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam," jawabku. Ternyata, Wita yang datang.
"Kenapa, dak langsung masuk, Nduk? Biasanya, kan gitu?" tanyaku pada Wita.
"Itu dulu, Mak, sekarang beda. Ntar, Wita diprotes lagi!" Bibir Wita manyun, matanya melirik ke dalam.
Aku langsung mengerti apa maksud Wita.
"Zidan sama Zakia, gak diajak?" tanyaku lagi.
"Ntar kalau sering diajak kesini, habisin duit Mak!
Jadi, Wita gak mau nyusahin!"
"Kok, ngomong gitu toh, Nduk?" tanyaku lagi.
Wita hanya tersenyum tipis. Lalu menyodorkan rantang kepadaku.
"Weslah, Mak. Ini, Wita bawain kesukaan Mak, urap. Tadi habis panen sayur di belakang, hasilnya lumayan, jadi, tak bikinin urap," tutur Wita.
"Alhamdulillah, makasih, ya, Wit. Dah lama mak dak makan urap." Aku tersenyum memandang Wita.
"Kesini, cuman bawak urap doang! Pulang dari sini, lebih dari urap yang dibawa!" Tiba-tiba Dini muncul dihadapanku dan Wita.
Aku mengernyitkan kening tanda tak mengerti, apa maksud ucapan Dini. Kulihat, Wita merengut. Apa, Dini barusan menyindir Wita.
"Maksud kamu apa?" tanya Wita dengan nada ketus.
"Gak ada maksud apa-apa, sadar diri aja! Kalau kesini buat nyusahin, mending gak usah kesini!" Dini tersenyum sinis.
Wita menatap tajam iparnya itu. Terlihat dari wajahnya, Wita menahan kesal. Dia menarik napas dan memejamkan mata menahan emosinya.
"Mak, Wita pulang dulu, ya! Ada penganggu di sini, jadi, Wita gak bisa lama-lama," pamit Wita akhirnya.
"Eh, iya, Wit. Hati-hati, Nduk! Salam sama Bagas dan cucu-cucu mak."
Wita mengangguk dan segera berlalu. Kulihat Dini mencebikkan mulutnya. Tak lama dia beranjak ke dalam. Kususul Wita kedepan yang lagi menaiki motornya.
"Nduk, yang sabar, ya!" ucapku memohon. Kuelus punggungnya berharap emosi Wita sedikit berkurang.
"Kalau gak mikir, dia itu istrinya mas Imron, sudah Wita ajak begulat, Mak! ucap Wita ketus.
"Sudah … sudah, sabar, Nduk! Gak baik, kek gitu!
"Ini masih sabar, Mak! Nanti, kalau sudah habis batasnya, Wita lawan beneran, tu orang! Udah dari kemarin-kemarin nyindir terus! Makanya, Wita jarang ke sini. Ini, kalau gak mas Bagas, yang maksa dan ingetin Wita, supaya ngeliat Mak, males banget kesini!" ucap Wita dengan penuh emosi.
Aku tercenung. Ternyata ini alasannya, kenapa Wita sekarang jarang ke rumahku.
"Ya, sudah! Biarkan saja, mudah-mudahan, Dini cepat sadar, berdoa saja!" ucapku lagi.
"Orang kek gitu, susah sadarnya, Mak!" timpal Wita.
"Kita cuma bisa berdoa saja, Nduk. Allah Maha Mengetahui segalanya," ucapku.
"Ya, sudahlah, Mak! Wita pulang dulu! Mak jangan capek-capek, ya! Wita berpamitan seraya mencium punggung tanganku.
" Iya, Nduk. Doakan, mak sehat selalu ya!" pintaku.
Wita mengangguk dan segera menghidupkan motornya. Tak lama dia pun berlalu.
Aku pun heran dengan sikap Dini, yang berubah drastis. Waktu Imron memperkenalkanku pada Dini, anak itu terlihat santun dan baik. Makanya, aku menyetujui pernikahan Imron dan Dini.
Mak … kesini, Mak!" Terdengar suara Dini memanggil dari arah dapur. Aku segera masuk dan menuju dapur.
"Ada apa, Din?" tanyaku sambil duduk di kursi makan. Kulihat, Dini sedang menghadap piring berisi nasi dan lauk, yang kumasak tadi.
"Sore nanti, mas Imron pulang." ucap Dini sambil mengunyah.
"Alhamdulillah," jawabku.
Imron, anak sulungku memang jarang di rumah. Pekerjaannya, sebagai sales luar kota, mengharuskan dia sering bepergian. Terkadang untuk order barang, menagih sekaligus mengantarkan barang pesanan pelanggan. Dalam seminggu, hanya dua hari di rumah.
"Nanti, kalau mas Imron nanya, siapa yang masak dan beberes rumah, seperti biasa, Mak bilang, Dini yang urus semuanya! Mak, jangan pernah ngomong macam-macam sama mas Imron! Mak, gak mau, kan kami bertengkar gara-gara, Mak?" ancam Dini
Aku menghela napas. Berbohong lagi untuk kesekian kali. Kapankah menantuku ini akan sadar.
"Mak!" panggil Dini lagi. "Mak denger, gak? Terlihat wajah kesalnya menatapku.
" Iya, mak denger dan mak paham. Dak perlu kamu ingatkan lagi. Llagipula selama ini, emang selalu begitu, kan?" sindirku.
"Baguslah, kalau Mak sudah paham!" sungut Dini.
Untuk kedua kalinya, kuhela napas. Dosa apa aku, dapat menantu seperti ini. Pandai berpura-pura. Apakah karena kepandaiannya ini, anakku Imron, terlena, hingga mati-matian ingin menikahinya.
"Ya, sudah, Dini mau lanjutin makan lagi, Mak ke depan aja lagi!" usir Dini.
Aku bangkit dari duduk, menuju kamarku. Badanku terasa letih sekali. Belum lagi, penyakit rematik yang kuderita, sering membuatku kesakitan. Ditambah, semua pekerjaan, aku yang menyelesaikan.
Tiba-tiba, teringat aku akan urap pemberian Wita tadi. Gegas aku keluar kamar. Perut pun sudah terasa keroncongan. Aku menuju ke meja tamu, tempat urap tadi kuletakkan. Namun, rantang berisi urap tadi tidak ada.
Aku menuju ke dapur, barangkali aku salah tarok.
"Ya, Allah, Din!!! Apa yang kamu lakukan?" pekikku.
Kulihat Dini memegang rantang urap tadi dan hampir menuangkan isinya, kedalam tong sampah.
Kurebut rantang dari tangan Dini, dan meletakkannya di atas meja.
"Kenapa, kamu mau buang urap dari Wita?" tanyaku kesal.
"Tadi, Dini coba cicip, ternyata gak enak, jadi Dini mau buang!" jawab Dini tanpa perasaan bersalah.
"Wita, kalau masak urap selalu enak. Lagipula itu, kan untuk mak. Kalau kamu dak suka, ya sudah, jangan main buang gitu!" ucapku kesal.
"Halah, timbang urap murahan gitu! Sudahlah!" ucap Dini akhirnya seraya berlalu dari dapur.
Tingkah Dini tambah hari kian menjadi. Gak ada sopan dan hormatnya kepadaku, mertuanya. Kusimpan urap tadi di lemari makan. Hilang rasa laparku berganti kesal karena ulah Dini. Mending aku istirahat saja. Aku pun berlalu menuju kamar.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja aku ingin merebahkan tubuh tuaku ini, terdengar pintu kamar diketuk. Aku beranjak dari pembaringan, berdiri dan membuka pintu.
"Mak, itu kenapa cucian gak dijemur. Cucian tadi, kan?" tanya Dini sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Aku tersentak. Aku kelupaan, karena tadi buru-buru masak, jadi kutinggalkan pakaian yang sudah kucuci.
"Eh, iya, mak lupa. Mak, minta tolong, Din! Tolong kamu jemurin, ya, cuciannya! Mak capek banget, badan rasanya sakit-sakit semua," pintaku memelas.
Dini mencebik. Terlihat raut wajah tidak suka yang kutangkap dari tatapannya.
"Jemur itu, apa susahnya sih, Mak. Dini udah mandi, ntar keringetan lagi, males, ah! tolak Dini.
Aku hanya menggeleng gelengkan kepala. Kenapa Dini tidak bisa sedikit saja pengertian padaku.
"Mak … minta tolong, Din," ucapku lirih. "Mak beneran gak enak badan. Lagipula, hanya tinggal menjemur, gak akan buat kamu sampe banjir keringat. Cucian itu pun, banyak punya kamu, daripada mak," ucapku lagi.
"Jadi, Mak hitung-hitungan sama Dini! Kan, Mak sendiri yang minta, agar Dini jangan capek-capek, biar bisa cepat punya momongan! Sekarang, kenapa Mak malah menyuruh Dini!" cecar Dini padaku.
"Astaghfirullah, Din." Kuelus dada menahan sesak.
" Mak, minta tolong baru sekali ini, itupun karena badan mak gak enak! Kenapa kamu ngomong kayak gitu?" tanyaku menahan tangis.
Anak-anakku, Imron dan Wita tidak pernah berkata kasar dan membangkang ucapanku. Mereka selalu santun dalam berucap. Jadi, aku sangat kaget, karena Dini tiba-tiba berkata seperti itu.
"Ya, sudahlah! Kalau kamu tidak mau, biar nanti saja, mak jemur. Mak mau istirahat dulu!" ucapku lirih.
"Gitu kek, dari tadi. Bikin emosi aja!" gerutu Dini. Dini beranjak meninggalkanku. Baru saja aku akan menutup pintu, ternyata Dini menahan pintu kamar.
"Mak, jemurnya jangan sampe sore! Keburu mas Imron datang. Jadi habis zuhur nanti, langsung Mak kerjain!" perintah Dini.
"Iya, nanti Mak kerjain. Mak mau istirahat."
Dini membalikkan badan menuju kamarnya. Kututup pintu kamar dan duduk disisi ranjang. Ya Allah, cobaan apa ini? Kenapa Imron, anakku tidak menyelidiki lagi, bagaimana perilaku Dini dalam kesehariannya. Apa yang harus hamba lakukan, ya Allah?.
Terdengar pintu diketuk kembali. Apa maunya anak itu. Apa tidak bisa, dia membiarkanku istirahat sebentar.
Pintu kubuka. Terlihat lagi, wajah Dini menahan kesal. Apalagi ini. Kupiijit-pijit pelipisku.
"Mak, itu kenapa, dari kemarin baju gak disetrika? tanya Dini ketus.
"Oh … itu, mak gak sempat. Kemarin rewang tempat bu Salamah, jadi, mak gak nyetrika," jelasku.
"Jadi, kapan Mak mau nyetrika? Ntar keburu mas Imron datang. Dini gak mau ya, Mak, ujung-ujungnya malah Dini yang ngerjain."
"Kenapa, kamu gak mau ngerjain?" Terdengar suara seseorang yang menimpali ucapan Dini. Ternyata Wita yang tiba-tiba kembali muncul. "Kamu pikir, Mak, babumu apa!" ucap Wita dengan nada tinggi.
"Kamu gak usah ikut campur urusanku! Walaupun usiaku lebih muda dari kamu, aku tetap kakak iparmu! Jadi, kamu tetap harus menghormati aku!" ucap Dini ketus.
"Lantas, apa kamu sudah menghormati Ibu suamimu?! Kenapa, seenaknya saja, kamu nyuruh-nyuruh Mak melakukan semua pekerjaan, sedangkan kamu, enak-enak bersantai!" balas Wita.
"Mak yang mau, tanya sendiri sama orangnya! Mak sendiri yang minta, supaya aku gak capek-capek, biar aku bisa hamil!" Raut wajah Dini memerah menahan marah.
"Gak gitu juga, seharusnya kamu ikut bantuin Mak, bukan bikin Mak, jadi babu gratisan," timpal Wita.
"Sudah … sudah, Wit. Jangan bertengkar, malu didengar tetangga!" pintaku.
"Mak, gak bisa gitu, Mak! Dia harusnya sadar, sebagai menantu, dia yang seharusnya melayani Mak, bukan sebaliknya."
Kulihat, dada Wita naik turun menahan geram, pada iparnya itu. Kuelus punggung anak perempuanku itu.
" Sudah, Wit. Mak dak papa, sudah, Nak!" ucapku memelas.
"Mak, Wita gak rela, Mak jadi babunya dia! Wita selama ini diam, gak ngomong apa-apa ke mas Imron! Tapi, semakin didiemin, semakin ngelunjak ni orang!" ucap Wita emosi, sambil mengacungkan telunjuknya dihadapan Dini.
"Sudah kubilang, bukan urusanmu! Mas Imron, juga gak bakalan percaya dengan ucapanmu itu!" Dini tersenyum sinis.
"Mau nyoba?" tantang Wita.
"Coba saja, aku istrinya, jelas dia lebih percaya padaku ketimbang kamu!"
"Oke, tunggu mas Imron pulang, akan kuadukan semua kelakuanmu itu!" ancam Wita.
"Wit, sudah, Nak, jangan bertengkar lagi! pintaku memohon.
Dini menghentakkan kakinya dan segera pergi dari hadapan aku dan Wita.
" Mak, kita gak bisa kek gini terus. Dini udah kelewatan, Mak!" ucap Wita masih dengan nada emosi.
"Iya, mak tau, tapi kalau kita mengadukan sikapnya pada masmu, nanti mereka bertengkar. Mak gak mau nambah pikiran masmu!" jelasku pada Wita.
"Tapi, Mak, kita gak bisa cuma diam aja! Kita harus cari cara, supaya mas Imron tau dan bisa menasehati istrinya itu! Wita juga gak mau, Mak diperlakukan seperti tadi, seenaknya saja, dia nyuruh-nyuruh Mak, berlagak nyonya besar saja!"
"Nantilah, mak pikirkan lagi. Untuk saat ini biarkan saja, selagi mak sanggup, mak kerjain."
Bibir Wita manyun. Masih terlihat kekesalan di wajahnya. Tak puas dengan jawabanku.
"Kamu, ngapain balik lagi, Nduk?" tanyaku penasaran.
"Eh, iya, ada titipan mas Bagas. Wita lupa kasih ke Mak tadi, gara-gara Dini datang," jelas Wita.
Kuterima pemberian Wita dan membuka isinya. Uang, ada beberapa lembar di dalam amplop itu.
"Uang untuk apa? Setiap bulan juga, Bagas udah ngasih mak," tanyaku kebingungan.
"Mas Bagas baru dapat rezeki lebih, Mak. Dapat komisi, dari bantuin temen jual rumah. Jadi, mas Bagas pingin berbagi sama Mak."
"Alhamdulillah, lancar dan berkah rezeki Bagas ya, Nduk!" timpalku.
"Aamiin," ucap Wita.
"Oh ya Mak, biar Wita aja yang ngelanjutin kerjaan. Mak, istirahat saja dulu."
"Eh, dak usah, Nduk. Mak bisa kok. Mak pingin istirahat sebentar saja," tolakku.
"Sudah, Mak, biar Wita saja. Mak istirahat atau makan dulu, gih."
Akhirnya aku mengalah dan membiarkan Wita membantuku. Kulihat Wita bergegas ke belakang menjemur cucian tadi. Aku yang tadinya ingin istirahat urung kulakukan. Mending aku makan saja. Perutku protes minta diisi.
Kubuka lemari tempat menyimpan urap tadi. Mengambilnya dan meletakkannya lagi di meja. Kuambil nasi dan menikmati urap pemberian Wita tadi.
Tiba-tiba, Dini datang dan melemparkan sesuatu ke arahku.
"Astaghfirullah, apa-apaan, kamu Din!?" teriakku.
"Mak, yang apa-apaan! Coba liat gamis Dini, tuh! Itu gamis mahal dan favorit Dini, Mak! Kenapa, sampe kena luntur gitu?" tanya Dini murka.
Kuambil gamis yang dilempar Dini ke arahku dan memeriksa gamis tersebut. Hanya kena luntur sedikit di bagian bawah, itu pun tidak terlalu kelihatan.
"Sedikit cuma, Din. Lagipula ini bagian bawah, gak bakal keliatan juga," jawabku.
"Sedikit, kata Mak! Gamis itu mahal, Mak! Enak aja, Mak ngomong!" cecar Dini emosi.
Mm … Mak minta maaf, mak gak tau, sewaktu nyuci minggu lalu, kayaknya mak masuki ke mesin cuci. Gak tau kalau ada yang luntur." jawabku.
"Kan, sudah pernah Dini bilang, kalau gamis-gamis Dini, dicuci pake tangan, jangan masukin ke mesin cuci! Mak ngerti gak sih!" bentak Dini.
Kulihat kemarahan di wajah Dini. Ya Allah, apa sebegitu besarnya kesalahanku, hanya gara-gara gamis ini, Dini membentakku.
Kulihat Wita berdiri tak jauh dari pintu belakang. Mungkinkah dia mendengar bentakan Dini.
Wita berjalan memasuki dapur dan mendekat ke arahku. Menggumpal gamis tadi dan melempar kembali ke Dini.
"Apaan, kamu!" Dini terkejut.
Wita mendekat, kemudian tiba-tiba melayangkan satu tamparan ke pipi Dini.
Kubekap mulutku. Tak menyangka Wita melakukan itu. Dini tak kalah terkejut. Dia memegang pipinya yang mungkin terasa panas. Kelihatan jejak tangan Wita di pipinya.
"Ka– kamu! Beraninya kamu menampar aku!" pekik Dini.
"Apa?! Mau nambah lagi?" ujar Wita dengan mata melotot.
"Itu belum seberapa, dibanding perlakuanmu pada Mak! Seperti anak yang tidak punya etika! Apa tidak pernah diajari cara menghormati orang tua! Apa perlu, aku yang turut mengajarimu! Bukan hanya kau jadikan babu, tapi Mak kau perlakukan dengan sangat tidak sopan! Kau bentak seenak perutmu!" ucap Wita murka.
"Sudah kubilang, bukan urusanmu!" sahut Dini sambil mengelus pipinya yang kelihatan memerah.
"Tentu saja urusanku! Dia, orang yang kau bentak-bentak, kau maki-maki, dia Ibuku sekaligus Ibu suamimu! Kau menyakitinya, sama saja menyakitiku dan mas Imron!" balas Wita.
Aku hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Aku tau, Wita bermaksud membela. Tapi, aku kuatir ini akan membuat hubungan Wita dan Imron bermasalah. Aku tak mau hubungan persaudaraan mereka, menjadi renggang karena hal ini. Sebab selama ini mereka berdua sangat dekat.
"Kuperingatkan! Jangan, pernah perintah Mak lagi! Urus dirimu sendiri! Cukup sampai hari ini perlakuanmu terhadap Mak!" ucap Wita lagi.
"Kau, denger ya! Aku akan bales perbuatanmu ini! Lihat saja nanti!" ancam Dini seraya berlalu.
Wita berbalik memandangku dengan rasa kasihan. Dia mendekat dan langsung memelukku.
"Maaf, Mak, Wita emosi! Dini dah benar-benar kelewatan, gak bisa lagi ditolerir!"
Kurasakan bahunya berguncang. Wita menangis. Aku tahu, pasti dia menyesal. Tapi, memang sikap Dini keterlaluan sekali.
"Sudahlah, Nduk! Mak tau, kamu cuma mau membela, Mak. Tapi, lain kali jangan pake kekerasan. Mak kuatir, Dini mengadu macam-macam pada masmu, dan kalian jadi bertengkar," ujarku.
"Mas Imron, pasti mengerti, Mak! Wita yakin setelah tau alasannya, pasti mas Imron, akan memarahi istrinya itu," ucap Wita yakin.
"Ya, sudah! Sekarang, mending kamu balik dulu, Nduk! Kasian, anak-anakmu ditinggal terlalu lama. Bagas juga pasti nungguin kamu."
"Ta— tapi. Mak, gimana?" tanya Wita bingung.
"Mak, gak apa-apa. Setelah ini, mak mau solat dulu dan istirahat. Sore nanti, masmu pulang,"
Wita mengangguk lalu menyalamiku dan berpamitan.
Selepas kepergian Wita, aku bereskan meja makan. Lalu aku bersiap untuk menunaikan ibadah zuhur.
***
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara salam dari depan. Aku yang lagi menyetrika beranjak menuju ke depan dan membuka pintu. Ternyata Imron yang datang.
"Wa'alaikumsalam, sudah pulang, Le? Kata Dini, sore baru pulang, kok udah nyampe?" tanyaku heran.
"Iya, Mak. Kebetulan hari ini gak muat barang, jadi, Imron bisa cepat pulang. Kangen sama Dini dan sama Makku yang paling cantik," goda Imron sambil menowel hidungku.
Aku terkekeh dengan perlakuan Imron. Kemudian Imron mencium tanganku dengan takzim dan memelukku.
"Mak, lagi ngapain? Dini, mana? Kok gak kelihatan dari tadi?" ujar Imron seraya melepas pelukan.
"Mak lagi nyetrika pakaian. Kalau Dini, mungkin di kamar, Le," jawabku.
"Mak, kok nyetrika? Bukannya, Dini yang biasanya ngerjain?" tanya Imron menyelidik.
Oh, eh, itu, Mak yang pingin, biar badan ada geraknya juga," jawabku gugup.
"Ooh … gitu. Yo wes, Mak, Imron mau nemuin, Dini dulu, ya."
Aku mengangguk. Imron berlalu ke kamar sedangkan aku melanjutkan menyetrika pakaian.
Mak! Mak!" Kudengar Imron memanggil. Tergopoh-gopoh aku datang mendapati Imron yang berdiri sambil menggandeng Dini yang memegang pipi.
Apa mungkin, Dini sudah mengadu pada Imron, kalau Wita sudah menamparnya.
"Mak, kata Dini, Wita dah nampar Dini, apa betul itu Mak?" tanya Imron.
"I— itu. Iya benar, tapi … "
"Kenapa, Wita berani nampar kakak iparnya? Biar, Imron suruh Wita kesini! Dia harus menjelaskan alasan perbuatannya pada Dini!" potong Imron.
Imron segera mengambil gawai dari dalam saku celananya. Menghubungi nomor Wita dan menghidupkan speaker telepon.
"Halo," jawab Wita.
"Dek, sekarang juga, kamu ke rumah! Penting!" perintah Imron.
"Iya, Mas, Wita segera ke sana," balas Wita.
Panggilan langsung dimatikan oleh Imron. Imron menatap Dini dan aku bergantian.
"Ada yang mau bantu jelasin, kenapa Wita nekat seperti itu? Biasanya Wita gak pernah bersikap kasar sama orang," ucap Imron.
Aku hanya bisa menunduk. Bingung mau mengatakan sebenarnya. Nanti ujung-ujungnya diantara mereka pasti bertengkar.
"Mak, sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Imron lagi. Nada bicaranya sedikit melunak tidak seperti tadi, kelihatan sekali emosinya.
"Sebenarnya ta—"
"Udah, mas, nanti, mas dengar sendiri, adik mas itu bicara," potong Dini.
Aku kembali menunduk. Ekor mataku menangkap kalau Imron sedang memperhatikanku. Ya Allah, semoga jangan sampai ada pertengkaran. Damaikanlah mereka ya Allah.
Tak berapa lama, Wita sampai juga di rumahku. Ternyata Bagas, suami Wita ikut serta.
"Assalamu'alaikum," ucap Wita dan Bagas berbarengan.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Imron. Kulihat wajah Dini sudah seperti jeruk purut, masam.
"Apa kabar, mas?" tanya Wita sembari mencium tangan Imron. Bergantian dengan Bagas yang ikut menyalami Imron.
"Alhamdulillah, mas sehat. Mana anak-anakmu, Zidan, Zakia?" tanya Imron.
"Dititip sama bude sebelah mas, soalny tadi Zidan sama Zakia pada tidur," jelas Wita.
"Duduk, Dek, Bagas." Imron mempersilahkan keduanya duduk. Aku pun ikut duduk di sebelah Wita yang berhadapan dengan Imron. Kuperhatikan wajah Dini yang memandang Wita dengan penuh kebencian.
"Mas, dengar dari Dini, tadi kamu menamparnya, apa benar, Dek? Dan apa alasannya, sampe kamu, main tangan kek gitu? Wita, yang Mas kenal selama ini, tidak pernah kasar kepada orang."
Kulihat Wita menghela napas. Di sampingnya, Bagas menggenggam tangan Wita, seolah memberi kekuatan.
"Jadi gini, Mas. Sebelumnya Wita minta maaf karena lancang telah menampar, Mbak Dini. Tapi, alasan di balik itu semua karena, Wita gak terima, Mbak Dini membentak-bentak Mak dan memperlakukan Mak seperti babu!" jelas Wita dengan napas memburu.
Kening Imron berkerut, tanda tak mengerti apa maksud ucapan Wita.
"Babu?" tanya Imron bingung.
"Iya, babu. Mbak Dini, sering nyuruh-nyuruh Mak, seenak hatinya. Wita gak terima, Mas."
Tatapan Imron beralih ke Dini meminta penjelasan.
"Gak, Mas, itu gak bener. Mas, tau sendiri, kan selama ini Dini yang melakukan semuanya. Jangan percaya omongan adikmu ini, Mas. Dia hanya ingin kita bertengkar." Dini membela diri.
Ya, Tuhan. Pandainya dia berkelit, menyudutkan Wita, seolah-olah Wita yang bersalah.
"Mas, kalau gak percaya ucapan Wita, tanya sama, Mak. Tadi itu, Dini benar-benar sudah kelewat batas," ujar Wita.
"Mak, Imron minta, Mak jujur. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Wita menampar Dini."
Semua mata tertuju padaku. Aku bingung. Disatu sisi, jika aku jujur, Imron pasti bertengkar dengan Dini, kalau tidak jujur, Wita yang akan dipersalahkan. Ya, Tuhan bagaimana ini?
" Mak," panggil Imron lagi.
"Itu … mmm … sebenarnya ….