Bab 1

Mata para lelaki haus lendir melotot dengan mulut terbuka lebar..

Begitu Lisna menjatuhkan jubah merahnya, seketika kedua mata para pelanggan Cafe terkunci menatap penampilan luar biasa provokatif.

Dada sekal dengan penutup puting terlihat ranum menggairahkan dari balik kostum jaring-jaring keemasan.

Tidak terlalu besar, yang justru semakin membuat penasaran jemari para lelaki untuk meremas nya.

Bulat, padat, kencang bagai tidak tersentuh gravitasi Bumi.

Tatapan mereka tidak bisa berhenti menyusuri perut tipis dan kecil Lisna, hingga berhenti pada muara kenikmatan dunia di balik G-string berenda.

Budi pria yang malam itu khusus membayar Lisna untuk menari dihadapannya dan koleganya bagai sesak napas saat Lisna berputar di atas tiang dan memamerkan bokong putih kencang dengan gerakan kelewat sensual. Mendadak kepalanya pusing akibat menahan gejolak kuat yang tiba-tiba muncul. Jantungnya berlarian dan kedua matanya tertahan pada tiang, sampai-sampai tidak menyadari di kanan dan kirinya telah duduk gadis-gadis berpakaian serupa.

Budi tidak bisa menyembunyikan tatap takjub saat Lisna terbalik dengan tungkai menjepit tiang. Topi pesulap entah terlempar ke mana. Ujung rambut panjang menyentuh lantai. Lisna sempat tersenyum dan melirik ke arahnya.

Budi tenggelam sepenuhnya dalam aksi totalitas Lisna.Tersaji sensual memanjakan sisi liar dirinya. Hal seperti ini, tidak akan ia dapatkan di rumah.

Selangkangan putih dan mulus terbuka lebar, berputar-putar di hadapannya. Hanya kain tipis yang membatasi pandangannya. Sesuatu di bawah perut menekan kuat. Dengusan napas makin kentara, saat kejantanannya bereaksi.

Budi tertegun sejenak saat dua orang gadis yang sedari tadi berada di sisi kanan dan kirinya membelai lembut pahanya dan menuangkan minuman untuknya.

Seorang gadis menekan kepalanya dan memaksanya minum. Budi memilih pasrah demi mengembalikan tatapan dengan cepat ke atas panggung.

Masih menatap Lisna dengan tercengang-cengang, kedua matanya terkunci, setia mengamati tiap gerakan yang menjelma candu.

Tanpa sadar sudut bibir tertarik saat Lisna menyajikan gerakan yang sensual, menuruti imajinasi cabul yang mulai berhamburan dari kepalanya.

Lisna kembali melirik dan tersenyum kepadanya seolah bertanya apa kamu suka? Budi menjilat bibirnya sebagai jawaban.

Tatapannya semakin terjerat. Penari cantik dan ranum sedang berakrobat bak bersetubuh dengan tiang.

Sungguh tiang dingin yang beruntung karena berkali-kali bergesekan dengan selangkangan hangat Dara. Thian tidak bisa tidak berpikir cabul.

Budi sudah tidak peduli seberapa sering minuman disodorkan padanya. Bokong padat Lisna bergerak naik turun dan ia menenggak minuman dari sloki dengan frustasi hingga kepalanya berat. Musik berganti, menyajikan desahan wanita yang menjelma intro berulang.

Kepala Budi sudah sangat berat, tetapi ia bertahan tidak ambruk demi melihat Lisna yang sedang menari liar di hadapannya. Gadis di kanan kirinya entah sejak kapan sudah berpelukan dengan kolega nya duduk di sofa mengelilingi meja dimana Lisna menari.

Lisna dengan gerakan sensual menuruni meja yang sekaligus panggung pertunjukannya.

Tatapannya terjerat kedua mata Lisna yang seperti pemburu.

Budi yang sudah mabuk hanya bisa melongo saat Lisna naik ke atas pangkuannya.

Punggung bersandar pasrah pada sofa, ketika Lisna kini meliuk-liuk di atas tubuhnya. Kedua lengan ramping bagai memenjara kewarasannya.

Budi sudah tidak peduli dengan kolega bisnisnya ada di mana dan sedang berbuat apa. Seluruh waktu seperti hanya sedang menampilkan Lisna.

Ujung hidung mereka bersinggungan. Jemari Lisna meremas lembut rambutnya sebelum pagutan mesra menenggelamkan bibirnya dalam lumatan penuh gairah.

Hanya ada rasa senang meski kepala luar biasa pusing.

Kedua tangan Budi dengan sadar menangkap payudara ranum Lisna, merasakan kekenyalannya sebelum beralih meremas bokong gadis itu kuat-kuat.

"Biarkan aku memanjakan mu malam ini" bisik Lisna sebelum menggigiti bibir sendiri kuat-kuat.

Budi tidak kuasa menolak saat Lisna menyuguhkan botol minuman. Ia menenggak dengan rakus, tidak peduli kepalanya sudah sangat pusing.

Berikutnya gadis itu berlutut di antara kedua kakinya. Jemari berkuku merah membuka pengait celana dan menurunkan resletingnya.

Shinta tersenyum lebar saat melihat Budi telah kehilangan kendali atas kontrol diri.

Ia melihat Budi tertunduk dengan desah tertahan, saat Lisna melakukannya dengan baik di bawah sana.

Shinta dengan santai membuang asap rokok, sama sekali tidak risih melihat yang Budi yang sedang meringis nikmat saat sapuan lidah Lisna menghangatkan kejantanan yang mencuat gagah.

Shinta teramat sudah biasa menyaksikan hal serupa setiap harinya.

Dan Shinta selalu memastikan pelanggannya terpuaskan oleh para penari asuhannya.

Sebelah tangan Budi menahan kepala Lisna tanpa ragu meremas keras.

Antara ambang batas sadar dan tidak sadar, melesakkan kejantanannya dengan kuat demi menyetubuhi mulut penari dengan senyuman sinis.

Lisna memang sepertinya ahli karena sama sekali miliknya tidak terkena gigi.

Budi menekan kuat-kuat pinggulnya dan dengan keji menahan kepala Lisna saat cairan kenikmatan menyemprot.

Lisna tersedak.

Budi menarik miliknya dan mencengkeram pipi Lisna dengan sebelah tangannya. Memaksa gadis itu menelan habis cairannya.

Kedua mata Lisna berair. Lelehan sperma menetes dari sudut bibir. Budi yang tersenyum puas.

Lisna merasakan mual seperti akan muntah, mati-matian berusaha mengendalikan diri.

Lisna masih berusaha untuk profesional memberikan service pada tamunya.

Budi menyahut botol minuman di atas meja dan menjejalkannya begitu saja pada mulut Lisna.

Sebelah tangan menarik rambut belakang kepala Lisna hingga mendongak dan terpaksa menenggak minuman dari tangannya yang lain.

Tawa Budi berderai. Sangat puas bermain-main dengan Lisna, muara dari segala fantasi terliar.

Shinta dari kejauhan hanya menatap dengan bibir terbuka lebar, sampai batal menyesap rokok yang sudah mendekati bibir. Tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat barusan. Ia semakin terheran-heran saat melihat Budi mendorong wajah anak buahnya itu menjauh seperti barang bekas pakai.

Sungguh di luar dugaannya. Ia melihat seringai wajah Budi dengan tatapan keji yang sama sekali belum pernah ia temukan sebelumnya, walaupun Shinta tahu Budi pria yang sangat dingin.

Kalau pun datang ke cafe nya hanya sebatas ditemani minum tidak pernah memakai para wanita itu.

Budi malah membooking para wanita itu untuk memuaskan nafsu kolega bisnisnya.

Budi sendiri tidak pernah tergerak untuk sekedar mencium para wanita itu.

Budi kembali menyangga kepalanya yang pusing dengan sebelah tangan sebelum membetulkan celananya.

"Pak Budi ," Lisna memeluk sebelah kakinya.

"Pergi, perek." Budi melirik ketus. Seringainya mengembang saat ia melihat tatapan heran Lisna.

"Pak Budi kenapa..? Apa ada yang salah. " Tanya nya bingung.

"Ssst!" Budi dengan cepat menempelkan telunjuknya pada bibir Lisna .

"Mulut lo, cuma pantes dapet kontol gue."

Shinta terperangah dari tempatnya duduk. Reaksi pelanggannya itu sungguh di luar dugaannya.

"Lo kurang ajar." Jemari Budi kini meremas bibir merah Lisna . "Mulut lo bau got. Pergi sana!" Budi kembali mendorong kasar wajah Lisna.

Shinta segera berdiri dan menghampiri Budi yang kini menertawakan Lisna.

Sedikit panik, ia menekan batang rokoknya ke dalam asbak.

"Lo pake lipstik merah lo. Jilatin kontol yang lain sana," ucap Budi di tengah derai tawanya.

Shinta hanya bisa melihat Lisna yang mematung di depan kaki Budi.

" Pak Budi, sepertinya bapak sangat mabuk. Yuk kita pulang." Shinta menggamit sebelah lengan Budi.

"Loh pulang?ga, aku masih mau pake memek perek" Budi menatap heran wajah Shinta.

"Gua belum puas ngentot sama dia." Budi menuding wajah Lisna sambil tertawa.

Bab 2

Mereka berakhir di ranjang dan kedua tangannya kini berlumuran minyak pijat aroma terapi.

Tentu Lisna tahu bagaimana caranya memanjakan mata pelanggannya.

Mengenakan lingerie yang seksi berkelas, ia menjelma tukang pijat demi membuat otot dan pikiran pelanggannya rileks.

Budi nyaris mendengkur jika saja ia tidak beralih memijat lembut batang kejantanan yang kini sudah mencuat gagah. 

Jemari Lisna bermain-main di sana, membuat pelanggannya berkali-kali mengangkat wajah dengan napas tertahan. 

Ia tahu Budi telah dijalari seluruh kenikmatan. Berkali-kali pelanggannya itu menggerung nikmat, sambil sesekali menahan pergerakan tangannya karena kelewat tidak tahan. 

Seperti dugaannya, ia berakhir dalam pelukan erat Budi.

Pelanggan yang tadi memakinya itu memagut bibirnya dengan gemas dan berangasan.

Irama sentakan-sentakan kasar membuat Lisna memekik tertahan.

Tadi Budi menarik untaian mutiara pada bagian depan G-string yang ia kenakan hingga pretel berserakan.

Budi sendiri yang meminta ia mengenakan G-string kelewat provokatif itu.

Lisna sampai heran, apa Budi tidak bisa untuk tidak merusak lingerie-nya? 

Gerakan Budi semakin kasar. Entah kenapa malam ini sedikit egois. 

"Mas... Ahk Maaaaa " Lisna menjambak pelan rambut Budi saat pelanggannya itu semakin serampangan. 

"Sakit?" Budi melambat dengan cengiran di wajah. 

"Pelan-pelan dikit... "

Permintaannya dikabulkan. Budi menjadi lebih lembut setelahnya. 

"Lisna kamu enak banget." Budi berbisik lirih di telinganya. Memang selalu seperti ini, pelanggannya selalu mengatakan liangnya enak.

Pelanggannya selalu melontarkan pujian betapa nikmat kewanitaannya. 

Ranjang berguncang panas, saat hasrat kian menuntut untuk segera dituntaskan hingga ia berakhir lemas di dalam pelukan Budi. 

"Makasih ya. Malem ini aku dapet pijet plus-plus." Budi mengecup lembut bibirnya. 

Lisna balas mengecup bibir Budi Setelahnya Budi turun dari ranjang berjalan ke kamar mandi membersihkan diri.

Lisna yang sudah menyelesaikan tugasnya segera berpakaian dan tanpa menunggu Budi, Lisna langsung keluar dari kamar hotel.

________________________

Budi duduk di tepi kolam sendirian. Ia hanya bengong sambil menyesap rokoknya dengan khidmat. Memang paling benar, ia menumpahkan segala hasratnya kepada pelacur?

Selama ini kehidupan seks-nya baik-baik saja. Mending istrinya selalu melayaninya dengan cara yang luar biasa seperti tadi dilakukan oleh Lisna.

Akan tetapi, bayangan celana dalam pelacur terlanjur menggodanya. Sedari tadi, tidak benar-benar hilang dari pikirannya.

Seks barusan hebat. Sangat hebat. Justru karena hebat, otaknya tergoda memikirkan bagaimana rasanya jika ia meniduri pelacur lagi?

Ia tidak perlu meniduri lalu menikahinya dengan benar. Ia hanya perlu memikirkan kepuasan dan kesenangannya sendiri. Pelacur seperti Lisna sungguh pantas dikasari.

Ia ingin menjambak keras-keras rambut Lisna dan membuat wajah angkuh itu meringis kesakitan. Saat meringis kesakitan, wajah itu terlihat sangat bodoh.

Tadi ia menghentak dengan keras dan kelewat dalam saat Lisna melayangkan protes.

Tentu saja Lisna tidak boleh menuntutnya bermain lebih lembut, perempuan itu bukan istrinya yang harus dipuaskan .

Perempuan itu tidak berhak mendapatkan kenikmatan yang sama seperti dirinya.

Tapi tadi kenapa Ia juga tidak tega membuat Lisna kesakitan.

Istrinya yang hanya boleh disayang-sayang dan dipuja-puja. Seperti itulah caranya mencintai Sonya mendiang istrinya. Akan tetapi Lisna si pelacur gatal itu, sepertinya sangat haus menenggak cairan amisnya.

Dasar murah. 

Budi menyesap kembali rokoknya. Sekilas terbayang fantasi meniduri Lisna dengan brutal.

Bahkan kalau bisa, Budi ingin menyumpal mulut Lisna dengan celana dalamnya. Pasti lucu. Tanpa sadar senyumannya tergelincir. Pelacur bodoh itu hanya pantas dapat aroma selangkangan.

Lisna memang hanya tercipta untuk memuaskan imajinasi liar para lelaki sepertinya.

Mendiang istrinya dulu tidak pernah tahu seperti apa preferensi film bokep favoritnya. Ia suka melihat film bokep yang hanya memuaskan imajinasi para pria. Tidak ada kesenangan untuk wanita di dalamnya. Murni hanya kesenangan pria.

Ia suka melihat adegan-adegan yang tidak mungkin ia praktekkan di kehidupan nyata. Bukan seks ekstrim yang terlihat mengerikan. Hanya hal-hal jorok yang mungkin tidak akan disukai wanita. Namun kejadian malam itu di sofa bar, kerap menggoda otaknya untuk memikirkan hal-hal semacam itu terhadap Lisna.

Tapi kenapa harus Lisna...?

Kenapa Ia begitu mudah naik ranjang dengan penari itu...?

Perempuan itu tidak tahu sedang bicara apa. Menantang dirinya menjadi diri sendiri bukanlah hal yang benar untuk dikatakan. Pelacur seperti Lisna memang tercipta untuk menuntaskan adegan jorok yang sudah tentu tidak menyenangkan kaum hawa.

Lisna memang ada hanya untuk kesenangan para pria.

Tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar.

Budi memang sengaja mematikan nada dering karena khawatir Lisna nekat menghubunginya dengan nomor yang berbeda. Benar saja, kini muncul nomor asing di layar ponselnya.

Ini bahkan pukul dua dini hari. Berani sekali perempuan itu menghubunginya?

Apa sebegitu kesalnya dia sampai terus mengejarnya...?

Budi sudah bisa membaca sikap nekat Lisna.

Perempuan itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan dirinya.

Segala tindakannya saat ini tidak akan menghentikan sikap Lisna Jika ia mengangkat panggilan, Lisna akan semakin berani. Jika ia mengabaikan panggilan, Lisna akan terus mencoba menelponnya seperti saat ini.

Tatapan Budi terkunci pada layar. Apa ini memang Lisna atau bukan?

Ia memutuskan menggeser layar dan mengangkat panggilan.

"Halo?" jawabnya sebelum menyesap rokok di tangan.

"Pak Budi..... "

Tawa Budi segera tertahan di ujung bibir. Memang pelacur itu.

"Kenapa tadi pergi gitu aja hah?"

"Kenapa harus pamitan?"

Budi kembali menyesap rokoknya sambil menatap air kolam yang tenang.

"Kamu berharap aku nungguin kamu."

Budi hanya mengangkat kedua alisnya.

Ia menoleh sejenak memastikan ibunya tidak turun dan memergokinya sedang menerima panggilan telepon.

Ia melihat lampu yang masih padam di balik deretan pintu kaca. Sepertinya ibunya juga sudah tidur.

"Cari kontol lain ya...?," ucapnya kemudian.

Terdengar tawa kecil Lisna.

"Pak Budi ternyata suka ngomong kasar ya? Capek ya Pak, jadi direktur yang harus selalu terhormat? Bapak capek jadi suami baik-baik? Sini Pak, saya peluk." Ucap Lisna manja.

"Percuma deketin saya. Saya nggak akan kasih apa-apa ke kamu."

"Kecuali kontol?"

"Itu.... juga nggak."

"Ah yang bener?"

"Mau kamu apa sih?"

"Kamu."

"Buat apa?" Budi mengangkat gemas kedua alisnya.

"Have fun."

Tawa Budi berderai pelan.

"Dasar perek nggak tahu diri. Ngaca. Kamu siapa mau have fun sama saya?"

"Malem itu di sofa kamu have fun kan?makanya kamu minta lanjut ke kamar. Kalau kamu ga ketagihan,kenapa nyuruh Tante Shinta supaya saya hubungi kamu...?"

Bibir Budi tertahan begitu saja.

"Tante Shinta bilang ada uang mau kamu omongin...."

Budi segera menutup rapat bibirnya, apa yang sudah Ia lakukan...? Apa saat Ia mabuk lalu menceracau aneh...?"

"Aku bener cuma penasaran sama kamu. Itu saja."

"Saya nggak tidur sama pelanggan pak."

"Kita lihat nanti? Saya akan bayar kamu full time"

Lisna menekan bibirnya. Sebenarnya, tawaran iseng yang menggiurkan.

Hanya iseng.

"Kamu boleh nyemprot di mulut aku kayak kemarin. Kamu suka gitu kan?"

Budi kembali menyesap rokoknya.

"Ini, rencana kamu ya?"

"Rencana apa?"

"Pelacur kayak kamu jual diri demi uang. Asal kamu tahu, saya nggak akan kasih kamu tip .Jangan mimpi kamu saya jadikan simpanan. Mending pelihara anjing daripada pelihara lonte."

Hening sejenak. Budi sudah menduganya. Ia tersenyum puas.

"Saya nggak minta jadi simpanan kamu."

"Cuma seks? I mean, dick?"

"Yes. Your dick."

Budi menatap geli kolam tenang di hadapannya.

"Sekarang aku lagi pake lingerie... "

Senyuman Budi langsung punah.

"Kamu mau denger, aku ngelakuin itu sendirian?"

Alis Budi terangkat begitu saja. Ia jadi teringat saat masih menjalin hubungan long distance dengan Sonya, kekasihnya yang kuliah di Singapura dulu.

"Emh.... "

Desahan barusan membuat Budi ternganga menatap kolam hening di hadapannya.

Berikutnya ia mendengar desahan tertahan Lisna.

Namanya disebutkan di tengah tarikan napas terengah perempuan itu.

Budi diam mematung di tempatnya. Lisna memberinya imajinasi tentang bagaimana saat ia menyentuh perempuan itu.

Waktu bagai terhenti. Tidak ada apa pun selain desahan Lisna dan fantasi yang terbangun sensual di pelupuk matanya.

"Akh... akh... akh," pekikan Lisna mengakhiri rentetan desah erotis yang tanpa sadar memanjakan telinganya. Bayangan selangkangan basah tertinggal di kepalanya.

Selangkangan Lisna.

"Kamu sudah nemenin aku seneng-seneng."

Budi menghela napas panjang.

"Kamu sudah kasih waktu kamu. Iya kan? Ahahaha! Bohong kamu nggak mikirin aku."

Budi tersenyum malu sendirian.

"Aku bisa kayak gini, waktu kamu stres di kantor. Come on Budi.... "

Budi menatap langit dengan gamang. Dadanya berdebar kecil. Sejenak merasa tertantang.

Budi menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengakhiri panggilan secara sepihak.

Ia rasa, ia harus segera pergi tidur dan melupakan hal gila barusan.

Bab 3

Lisna hanya menatap hambar kotak makan siang di atas meja makan. Seperti kemarin, ia lebih memilih menyantap cake dan es krim.

Lisna masih tidak berselera makan, sejak kejadian dua hari yang lalu. Ia bahkan masih belum lupa rasanya. Aroma amis serasa memenuhi kepala, saat cairan hangat dan kental memenuhi rongga mulutnya.

Sekarang Lisna tidak berselera menyantap pisang.

Budi malam itu benar-benar kasar dan berengsek, melenceng jauh dari imajinasi mengenai suami takut istri yang akan kelewat memuja setiap inci bukit ranumnya dan kulit mulusnya. Padahal Lisna sudah membayangkan, Budi akan tunduk seperti kerbau saat ia menggoda pria itu. Tapi sikap Budi sungguh berkebalikan dari perkiraannya.

Kedua mata Budi menatapnya dengan demikian rendah, nyaris tidak ada pemujaan di sana. Padahal, ia sempat melihat Budi terkagum-kagum melihat aksinya di tiang. Saat itu ia sudah sembilan puluh persen yakin, Budi akan jatuh sepenuhnya.

Nyatanya, malam itu Budi hanya memperlakukannya seperti sampah.

Lisna sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Janji Tante Shinta padanya bagai angin, hilang tak berbekas.

Lisna ingin segera berhenti dari pekerjaannya.

Tante Shinta menjanjikan akan mencarikan pria kaya yang akan menjadikannya istri simpanan.

Bahkan Tante Shinta membodoh-bodohinya. Masih mencari celah kesalahannya, seharusnya ia membangun rencana yang lebih matang untuk Budi.

Budi ternyata lebih sulit daripada dugaannya.

Jadi sebenarnya pria seperti apa Budi itu? Awalnya begitu jinak-jinak merpati, tetapi kemarin Budi benar-benar memperlakukannya seperti pelacur murahan. Apa memang Budi seliar itu?

Lisna merenungi sikap Budi, berusaha mempelajari pria itu ketika Tante Shinta muncul.

"Lisna, lo ikut saya siang ini. Tante sudah bikin janji ketemu sama Budi," ucapan Tante Shinta barusan membuat kedua mata Lisna membelalak lebar. "Negosiasi terakhir," sambung Tante Shinta yang membuat Lisna tertegun.

"Kandidat diganti? Kalau kali ini saya gagal, Bian pake cewek lain Tan, tapi tolong, saya mau usaha lagi?"

"Ya bisa aja. Saya ngasih kesempatan kamu. Tapi kalau Budi nya ga mau, saya mau bilang apa."

Tante Shinta menarik kursi dan duduk di hadapannya.

"Bisa tetep saya aja yang handle Budi?"

"Kenapa?" Dahi Tante Shinta berkerut dan Lisna kehilangan kata-kata.

"Kenapa?" Tante Shinta mengulangi pertanyaannya.

"Saya mau buktikan kalau omongan dia salah. Saya mau buat dia jatuh cinta."

"Kamu nggak mampu," tukas Tante Shinta cepat.

"Saya nggak tahu gimana maunya Budi ini. Tapi daripada buang-buang waktu, mending kamu ambil yang lain. Masih banyak yang mau sama kamu. Kamu ga takut dengan sikapnya Budi yang kasar...?"

"Saya bisa taklukan Budi.."

"Lisna, kamu udah gagal. Kesempatan kamu tinggal nanti. Kemungkinan juga gagal. It's oke. Terima aja udah. Mendingan cari pria kaya lain dan lupain Budi."

"Saya belum gagal."

"Kamu gagal. Seharusnya setelah kamu udah tidur sama Budi, Budi akan menwarkan kontrak.Seharusnya kamu udah bisa pengaruhin dia buat tanda tangan kontrak. Harusnya dengan bantuan saya malam itu,kamu udah bisa dapetin Budi. Tapi nyatanya, kamu gagal."

"Siapa pun cewek yang dipilih Tante bakal bernasib sama kayak saya . Budi itu sulit."

"Ya udah. Manfaatin kesempatan kamu yang tinggal nanti siang. Kalo kamu gagal, Budi aku lepas ke cewek lain. Kamu nanti saya kasih yang lain."

Lisna hanya bisa menatap meja dengan sedih.

"Lisna, kamu kenapa?" Tante Shinta menatap tajam kedua matanya, seolah menyadari sesuatu yang tengah ia sembunyikan.

"Nggak pa-pa Cuma, saya juga lagi usaha."

"Lisna, yang penting duit. Kalo Budi nggak bisa bawain kita duit, ya udah kita lepas aja. Nggak usah sabar-sabar. Masih ada pria kaya lainnya. Jangan bilang kamu punya misi pribadi."

"Misi pribadi apaan!"

"Kamu kesannya kayak berat banget ngelepas Budi. Inget, dia itu cuma pria yang mencari kepuasan,jangan kebawa perasaan!"

" Saya nggak kebawa perasaan!"

"Inget siapa kamu! Jangan sempet kamu berharap yang aneh-aneh. Tugas kamu Cuma ngerayu dan bujuk dia untuk kontrak kamu. Udah sampe situ aja."

Lisna tentu tahu siapa dirinya. Ia hanya pelacur. Namun ia tidak pernah menyangka, kisahnya dengan Budi benar-benar singkat bahkan sebelum dimulai.

Budi masih meragu, apakah kejadian tempo hari itu benar-benar nyata?

Apa ia sudah melewati batas ataukah itu hanya mimpi?

Budi ingin bertanya kepada asistennya, tetapi ia luar biasa malu. Bahkan asistennya itu tidak mengatakan apa-apa kepadanya selain mengirim pesan berisi ucapan penyesalan karena membawanya pulang dalam keadaan teler.

Budi yakin malam itu ia melihat Lisna. Akan tetapi ia tidak yakin akan aksi liarnya di sofa yang berlanjut ke kamar hotel. Budi menggeleng pelan ketika samar kilas kejadian itu kembali terbayang. Budi harap itu hanya mimpi.

Demi kebaikannya, siang ini Budi menyetujui ajakan bertemu dari Tante Shinta di lounge hotel berbintang yang tidak jauh dari kantornya. Budi sudah menghabiskan satu batang rokok, saat Tante Shinta baru saja muncul.

"Pak Budi, maaf membuat menunggu. Bener-bener macet di luar sana." Shinta tergopoh mendatangi mejanya.

Budi hanya mengulas senyuman dingin. Shinta tampak salah tingkah saat mendapati piringnya yang sudah kosong. Ia memang tidak berniat menunda rasa lapar hanya demi menunggu mucikari itu datang.

"Kayaknya Pak Budi sudah duluan." Shinta tersenyum basa-basi sebelum menyalakan rokok.

"Satu jam lagi saya harus balik kantor, ada tamu." Budi melirik sejenak jam tangannya. "Karena waktu saya singkat jadi langsung aja Bu Shinta. Saya nggak minat sama wanita yang kemarin ibu tawarkan. Saya nggak tertarik sama cewek itu. Jadi mulai sekarang, tolong berhenti, mengirimi saya foto perempuan. Dan satu lagi tolong anak buah ibu jangan terus hubungi saya." Budi menatap datar.

"Oh begitu ya Pak." Shinta tampak tertegun.

"Sudah Bapak pertimbangkan?Apa service Lisna kemarin kurang memuaskan bapak...? Atau bapak mau saya Carikan wanita lain...?"

"Rasanua sudah cukup jelas dengan yang saya katakan tadi, saya tidak berminat."

"Ah begitu ya Pak." Shinta manggut-manggut. "Baik Pak kalau begitu saya mohon maaf atas sikap lancang saya. Benar-benar saya mohon maaf. Saya akan suruh Lisna tidak menghubungi bapak lagi."

Budi hanya menatap Shinta, sama sekali tidak ingin merespon dengan ungkapan basa-basi. Ia harap kali ini Shinta benar-benar berhenti.

"Kalau begitu, saya nggak akan buang-buang waktu Pak Budi lebih banyak lagi. Saya pamit undur diri. Sekali lagi saya mohon maaf. Terima kasih Pak." Shinta segera bangkit dan dengan senyuman pahit meninggalkan meja

Budi kembali menyalakan sebatang rokok. Ia tadi sudah menyelesaikan tagihannya dan berada lebih lama di sini hanya untuk menunggu mucikari itu datang.

Sebatang lagi, sebelum ia kembali ke kantor saat derap langkah sepatu wanita menarik atensinya. Ia terkejut saat melihat Lisna, muncul dalam balutan dress nuansa putih dengan belahan dada rendah. Lisna menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Budi segera melempar pandangan ke segala penjuru. Ia tidak menemukan Shinta. Apa perkataannya tadi masih kurang jelas di telinga mucikari itu?

"Pak Budi," sapa Lisna. Kali ini tanpa senyuman di wajah.

Budi hanya membalas dengan hembusan asap rokok. Perasaan canggung sekaligus malu menyelinap, saat adegan klimaks di sofa kembali menerjang ingatan.

Diam-diam Budi berharap semua itu hanya mimpi.

"Pak Budi, saya datang ke sini bersama Tante Shinta. Tapi keputusan saya mendatangi meja Pak Budi, benar-benar di luar sepengetahuan beliau."

"Mau apa?" tanya Budi langsung pada intinya sambil mencuri sekilas bibir merah Lisna dengan tatapannya. Bahkan di siang bolong, Lisna memilih mengenakan lipstik merah terang.

"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?"

"Apanya?"

"Keputusan Pak Budi."

"Apa urusan kamu? Kamu Cuma pelacur."

Lisna terkesiap.

"Siapa kamu mau coba-coba mempengaruhi keputusan saya?" Budi melirik sejenak payudara mulus Lisna sebelum kembali menyesap rokoknya.

Pergerakan mata yang terbaca oleh Lisna. Senyuman Lisna perlahan mengembang.

"Siapa saya? Pak Budi mau tahu siapa saya?" Lisna mengangkat kedua alis.

"Memangnya kamu siapa?" Budi menatap heran pelacur di hadapannya.

"Saya adalah wanita yang akan mengijinkan Pak Budi menjadi diri sendiri."

Dahi Budi berkerut. "Maksud kamu?" Ia sungguh tidak mengerti pernyataan Lisna yang terkesan bertele-tele.

"Jadi Pak Budi suka disepong kayak waktu itu kan?" Lisna mencondongkan tubuh sambil sedikit berbisik.

Budi tertegun di tempatnya yang tentu saja menimbulkan reaksi puas Lisna.

"Pak Budi boleh banget kalau mau ejakulasi di mulut saya lagi. Sodok yang dalem kayak tempo hari, sampe saya keselek.... "

Bibir Budi terbuka lebih lebar. Jadi semua itu nyata? Jadi kenangan bibir merah yang mencumbui kejantanannya itu benar-benar terjadi?

Sial. Budi menyesap rokoknya frustasi. Ia sudah buka celana di hadapan wanita lain.

Lisna menatap lekat-lekat wajah Budi, seolah kini ia bisa membaca pria seperti apa Budi. Secara mengejutkan, Budi jauh berbeda dengan Lou. Meski ia pelacur, Lou tidak sampai kasar seperti Budi.

Budi malam itu benar-benar serampangan dan egois. Mulutnya juga berengsek.

Pria di dihadapannya mengaku punya istri.

Lisna yakin ia tidak bisa memenangkan hati Budi. Dari sisi emosional, pria itu sudah sangat tercukupi. Akan tetapi, sepertinya ia bisa memenangkan fantasi Budi.

Seratus persen Lisna yakin mendiang istrinya tidak sehina dirinya saat berada di atas ranjang. Ia juga yakin, malam itu Budi sedang mengeluarkan sisi liar dalam diri yang selama ini tersembunyi rapat di balik identitas lelaki baik-baik, dan sederet pujian bermoral lainnya.

Nyatanya, Budi tak ubahnya binatang kelaparan. Lisna belum lupa rasanya saat jemari Budi meremas kasar rambutnya dan kejantanan lelaki itu menyetubuhi rongga mulutnya.

"Pak Budi? Kenapa Bapak diem? Bapak menyesal?" Lisna mengejek Budi dengan senyuman remehnya.

"Pergi. Saya nggak tertarik sama kamu." Budi menatap sengit.

"Masa?" Lisna membusungkan dadanya lebih dekat ke arah meja. Budi terlihat menelan ludah sebelum berusaha tidak melihat ke arah sana. "Pak Budi boleh lihat. Ini memang buat Bapak."

Budi menatap tak percaya wajah Lisna. Ia kembali menyesap rokoknya dengan frustasi. Jantungnya berlarian dan tangannya mulai gemetaran. Lisna sungguh tidak tahu, apa yang sedang ia rasakan saat ini.

Sesuatu di dalam dirinya bergejolak hebat dan Budi sedang berusaha menahannya mati-matian. Sama persis saat ia nyaris larut dalam rayuan pelacur lainnya.

Sebenarnya Budi kerap merasa tidak tahan terhadap godaan, terutama dari wanita yang menarik. Akan tetapi ia tidak bisa melihat dirinya seperti itu. Ia tidak bisa mengijinkan hawa nafsu menguasai akal sehatnya, karena itu sangat mengerikan.

Maka dari itu, Budi berusaha menjaga dirinya karena ia tidak yakin sekuat itu.

Budi sungguh menyesal, malam itu ia tergelincir. Jadi ia merasa harus segera memperbaiki kesalahannya sekaligus mempertebal dinding pertahanannya jangan sampai masuk ke liang hangat yang menjepit itu lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED