Terik matahari serta hembusan anginya terasa begitu panas, Erwin seorang perwira polisi sedang berada di atas sebuah tebing yang cukup curam. Semilir angin membuat rambut pendeknya bergoyang-goyang, matanya melirik ke arah bawah. Ombak pantai terlihat seperti sedang marah, dia hanya menghembuskan napasnya dengan panjang, lalu dia memutar tubuhnya. Kedua tangannya dia rentangkan ke arah samping, sambil memejamkan kedua matanya. Tidak lama dia pun mulai menjatuhkan tubuhnya ke air, di dalam air dia menahan napasnya. Saat ini dia tidak mempunyai niat untuk berenang ke atas permukaan, tidak lama dia mendengar suara ikan paus yang sedang bernyanyi ini membuat matanya terbuka. Dia melihat ada tiga ikan paus yang besar menghampiri dirinya, tubuhnya saat ini terasah begitu sakit. Dia seolah sedang berada di arena tinju baradu kekuatan, tapi sayangnya ada beberapa orang yang sengaja memegangi tangannya. Sehingga membuat dia tidak bisa bergerak, dia memberontak tapi tidak ada yang menolongnya. Hidungnya sudah mengeluarkan darah, pandangannya sudah terlihat samar. Namun dia masih terus berusaha mengalahkan laki-laki yang sedang beradu tinju dengannya, tangan dan kakinya saat ini mulai memberontak. Suara ikan paus terdengar semakin merdu, saat ini Erwin mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia berusaha melihat laki-laki yang sedang beradu tinju dengannya, tapi tidak lama dia melihat ada sebuah cahaya dari arah permukaan yang semakin mendekatinya. Sekarang dia sudah berubah pikiran, dia tidak ingin mati dan akan berenang ke arah permukaan.
“Ahh,” teriak Erwin dengan terkejut.
Ternyata saat ini dia sedang bermimpi, kepalanya masih terasa sangat sakit akibat pengaruh obat yang dia komsumsi semalam. Dering ponselnya terdengar sangat menganggu, membuat dirinya menjadi sangat kesal. Dia berusaha beranjak dari tempat tidurnya, bersiap untuk pergi bekerja.
“Ahh, ini sangat menyebalkan. Aku sangat tidak menyukainya,” umpatnya yang terlihat marah tanpa sebab yang pasti.
Saat ini Erwin baru saja selesai mandi, rambut basahnya masih dia keringkan mengunakan sebuah handuk. Dia membuka pintu kulkas di rumahnya, meraih satu botol air mineral lalu menenguk semuanya dalam satu kali tegukkan. Dia juga melihat ke arah lainnya, mencari apakah ada sesuatu yang mungkin bisa di makan. Namun sayangnya kulkas yang dia punya hanya berisi minuman saja, ini membuat dirinya semakin kesal.
“Ah, jika seperti ini terus aku bisa mati mudah. Sangat tidak menguntungkan, aku menampungnya di rumahku dan inilah yang aku dapatkan. Sangat menyebalkan, sepertinya aku harus mendengarkan kata-kata orang kuno. Terkadang aku juga harus menjadi seorang monster agar bisa hidup dengan tenang,” umpat Erwin masih dengan raut wajah emosi.
Saat ini Ewin kembali berjalan memasuki kamarnya, dia mencari pakaian untuk dia pakai. Tapi lagi-lagi dia terlihat sangat kesal, jas hitam kesayangannya entah bagaimana tiba-tiba saja sudah hilang dari lemarinya. Saat ini dia tahu, hanya ada satu orang yang dapat dia jadikan tersangka. Dengan emosi dia langsung meraih ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
‘Hei apakah kamu tidak tahu malu, kamu menumpang di rumahku dan kamu bersikap seenaknya saja. Kamu menghabiskan makananku dan sekarang jas kesayanganku juga menghilang, katakan di mana kamu menaruhnya. Jangan bilang saat ini jas itu berada bersama dengan kamu?” bentak Erwin kepada pria yang dia hubungi saat ini.
Tidak lama terdengar suara balasan seorang pria dari dalam telepon, terdengar pria itu hanya bisa menerima bentakan dari Erwin.
‘Maafkan aku, saat ini aku sedang berada di rumah teman wanitaku. Aku pinjam dulu jas kamu, tidak mungkin aku berpakaian jelek di hadapan teman wanitaku. Saat ini aku dan dia baru tahap perkenalan saja, kita ini sahabat jangan bersikap pelit seperti ini. Aku pinjam dulu jasmu ini,’ ucap pria ini yang semakin memancing emosi Erwin.
‘Apa urusannya denganku, kamu sedang berkencan dengan wanita lain. Lalu apa hubungannya denganku, jika kamu tidak mempunyai pakaian yang bagus tidak usah berkencan. Jangan ganggu jas kesayanganku,’ bentak Erwin yang semakin marah.
‘Hey bung, ayolah kita ini sahabat. Tolong bantulah temanmu ini, nanti malam aku akan mentaktir kamu untuk minum. Aku tutup dulu ya, wanitaku datang.’ Ucap pria itu lalu mematikan teleponnya.
‘Hey aku belum selesai,’ ucap Erwin lalu terdengar suara tut.. tut.. tut.. yang mengartikan jika telepon sudah diakhiri.
Saat ini Erwin menjadi semakin kesal, dia semakin terbawah oleh emosi tingginya. Sebenarnya Erwin adalah jenis orang yang mudah marah, tapi kemarahannya tidak bertahan lama. Dia hanya marah sebentar, setelah itu dia akan kembali menjadi pria baik lagi. Saat ini Erwin terpaksa memakai jas lain, dia terlihat sedang memandangi pakaiannya hari ini dari sebuah cermin. Terlihat tidak terlalu buruk, tapi tidak sesuai dengan selera pakaiannya. Erwin saat ini masih saja terus mengomel sendiri, dia melampiaskan amarahnya pada sebuah meja yang tidak bersalah.
“Ini terjadi karena aku terlalu baik dengan manusia, harusnya aku tidak menerimanya menginap di rumahku. Saat ini rumahku terlihat sangat berantakan dan hampir mipir seperti kapal pecah, ini benar-benar membuat aku menjadi sesak napas. Kenapa aku bisa berteman dengan orang yang tidak berguna seperti dia, harusnya aku tidak pernah berbuat baik kepadanya. Dengan begitu dia juga tidak akan menjadi besar kepala,” umpat Erwin masih dengan hatinya yang sangat kesal.
Saat ini Erwin mulai keluar dari apartemennya, dia mulai berjalan ke tempat parkir. Saat ini dia mulai membuka pintu mobilnya, namun dari arah lain dia merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya. Seketika dia tidak jadi untuk masuk ke dalam mobilnya, dia menutup kembali pintu mobilnya lalu berjalan ke arah sebuah cctv. Dia melihat ke arah sekitar tidak ada yang mencurigakan, namun dia masih merasa jika saat ini dia tidak sendirian. Tapi karena melihat jam tangan yang menunjukan jika dirinya sudah hampir terlambat, membuat dirinya harus segara pergi menujuh ke tempat kerjanya. Di perjalan terlihat sedikit lebih macet dari pada kemarin, sudah hampir satu jam mobilnya berhenti dan tidak berjalan. Dia tidak bisa ke mana-mana lagi, di depan sedang ada perbaikan jalan sehingga mau tidak mau dia harus menunggu untuk bergantian lewat. Setelah sampai di kantor polisi tempat dia bekerja, dia langsung dengan segara memarkirkan mobilnya. untunglah masih ada waktu dia masih belum terlambat, berangkat dari rumah dua jam sebelum masuk kantor bukanlah pilihan yang salah. Dia sering melakukan itu karena sering terjebak macet, tidak hanya itu jarak antara rumahnya dengan kantor polisi tempat dia bekerja juga cukup jauh. Saat ini Erwin mulai mengunci pintu mobilnya lalu berjalan memasuki kantor polisi, saat dia sudah berada di depan pintu kantor polisi tempat dirinya bekerja. Ada seorang wanita cantik yang datang menghampiri dirinya, wanita itu terlihat sangat marah kepadanya. Wanita ini ternyata adalah mantan kekasih Erwin, wanita ini tidak terima jika kekasihnya ditetapkan sebagai tersangka dari kasus pembunuhan yang kerap terjadi. Wanita ini mengeluarkan kata-kata kasar kepada Erwin, sebenarnya wanita ini sangat mahir dalam bela diri.
“Akhirnya kamu datang juga,” ucap wanita ini sambil melipat kedua datangnya ke arah depan.
“Ada apa?” tanya Erwin singkat.
“Ada apa, sepertinya saat ini kamu merasa seperti tidak ada dosa. Hey aku beri tahu kepada kamu, pria yang kamu tangkap itu adalah kekasihku. Dia adalah pria baik, dia tidak mungkin membunuh seseorang. Katakan apa alasan kamu menangkapnya?” tanya wanita ini.
“Sangat simpel, karena di saat kejadian pembunuhan terjadi dia sedang berada di tkp. Tidak hanya itu, pisau yang dia bawah juga terdapat darah dari korban. Dia adalah tersangka utama itulah alasan kenapa aku menangkapnya,” balas Erwin memberikan wanita ini penjelasan.
“Aku tidak percaya,” sebut wanita ini tertawa bengis.
“Jika tidak percaya ya sudah,” ucap Erwin lalu meninggalkan wanita ini.
Saat ini wanita ini sangat tidak terima dengan apa yang baru saja Erwin katakan kepada dirinya, wanita ini berteriak kepada Erwin. Jika Erwin tidak melepaskan kekasihnya, maka dia akan melakukan hal yang buruk kepadannya. Wanita ini juga berkata hal yang sangat lucu, dia mengira jika Erwin menangkap kekasihnya karena cemburu dia sudah mempunyai kekasih yang baru.
“Hey lepaskan kekasihku, dia tidak bersalah. Jika kamu tidak mau melepaskannya maka aku akan melakukan hal yang buruk kepada kamu, aku akan melakukan sebuah kegilaan di sini. Lagi pula aku sangat tahu, kamu menangkap kekasihku bukan karena dia bersalah atau tidak. Kamu cemburukan karena aku sudah mendapatkan kekasih yang baru,” ucap wanita ini.
Saat ini Erwin mulai menghentikan langkah kakinya, dia mulai menoleh ke arah belakang. Saat ini dia menahan tawanya, lalu dia pun kembali mendekati wanita ini. Dia menjelaskan kepada wanita ini, jika mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Dan dia tidak akan cemburu, jika wanita yang ada di depannya ini berciuman dengan laki-laki lain.
“Waaoow, ternyata kamu ini sangat percaya diri sekali ya. Aku katakan kepada kamu, aku ini memang mantan kekasihmu. Tapi kita sudah putus tiga tahun yang lalu, jangan mengada-ngada. Sekarang ini kamu bukan lagi tipeku, kekasihmu itu tidak salah jika diadili. Dia sudah menghilangkan satu nyawa, jika kamu sudah gila pergilah ke rumah sakit jiwa. Jangan datang kemari dan membuat aku menjadi ingin muntah,” balas Erwin dengan kasar.
“Apa buktinya jika kamu sudah move on dariku, apakah saat ini kamu sudah mempunyai pacar?” tanya wanita ini merendahkan Erwin.
“Tentu saja, dia lebih cantik. Lebih baik dan lebih segalanya dari kamu, tidak mungkin aku masih memikirkan gadis gila seperti kamu. Saat ini kamu bukanlah tipeku lagi,” ucap Erwin sekali lagi memberikan sebuah tegasan kepada wanita ini.
“Jangan lupa akulah yang menemani kamu di saat kamu belum menjadi seperti ini,” ucap wanita ini memberikan tatapan tajam kepada Erwin.
“Lalu kenapa?” tanya Erwin yang membuat wanita ini menjadi sangat kesal.
Saat ini wanita ini terlihat sangat kesal, dia memelintir tangan Erwin ke arah belakang. Sehingga membuat Erwin menjadi kesakitan, tidak lama wanita ini pun membanting tubuh Erwin dan jatuh ke lantai. Wanita ini terlihat sangat senang karena sudah mempermalukan Erwin, tapi saat ini Erwin tidak membalas wanita ini. Dia tidak mungkin membalas wanita, tidak lama akhirnya wanita ini pergi meninggalkan Erwin. Orang-orang di kantornya tidak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bisa menjadi penonton dari apa yang sudah dilakukan oleh mantan kekasihnya kepada dirinya. Saat ini Erwin sebenarnya merasa sangat malu, dia berdiri lalu memasuki kantornya.
“Hey wanita yang tadi bersama dengan kamu itu siapa?” tanya seorang laki-laki berpakaian culun.
“Kenapa kamu menyukainya?” tanya Erwin yang saat ini masih terlihat sangat kesal.
“Tentu tidak, dia terlihat sangat kasar. Tapi tenaga yang dia punya juga cukup hebat, dia bisa membanting polisi seperti kamu,” ucap pria ini yang kembali memancing emosi Erwin.
Saat ini Erwin mulai menghentikan langkah kakinya, dia menjelit ke arah laki-laki ini. Mata sipitnya seketika saja menjadi sangat besar, terlihat bola matanya hampir mau lepas.
“Coba katakan lagi apa yang tadi kamu katakan?” bentak Erwin dengan nada marah.
Saat ini terlihat jika pria yang bertanya dengan Erwin tadi, terlihat sangat takut dan malah pergi meninggalkan dirinya. Pria itu takut jika nantinya akan membuat masalah baru.
“Hey mau ke mana kamu,” teriak Erwin yang melihat pria culun itu lari dengan terbirit-birit meninggalkan dirinya.
Saat ini semua mata mulai kembali melihat dirinya, mereka semua melihat Erwin dengan bingung. Erwin berteriak dengan cukup kencang, tidak lama ketika dia sadar jika saat ini dia sedang diperhatikan oleh satu kantor. Dia pun akhirnya bergegas untuk pergi menujuh ke ruangnya, sembari menghindari rasa malu. Di dalam ruangan kerjanya saat ini, ternyata sudah ada kepala komisaris polisi yang sedang menunggu dirinya. Terlihat sepertinya kepala komisaris sudah menunggu dirinya cukup lama, kepala komisaris sedang terduduk di atas kursi tamu yang ada di dalam ruanganya.
“Kepala komisaris, kenapa kamu berada di ruanganku pagi-pagi seperti ini. Apakah saat ini sedang ada masalah?” tanya Erwin yang terlihat bingung.
“Duduklah,” perintah kepala komisaris polisi kepada Erwin.
“Saat aku banyak sekali mendegar tentang maraknya kasus narkotika di kota kita, sepertinya narkotika sudah sangat membuat masyarakat menjadi cemas. Aku pun yang mendengarnya ikut menjadi cemas,” ucap kepala komisaris kepada Erwin.
“Saat ini, aku bersama dengan timku sedang mencoba memecahkan kasus tersebut. Belakangan ini, banyak sekali bandar narkotika yang berkeliaran. Aku menyuruh anggota timku untuk menyamar menjadi pembeli, namun untuk sekarang kami belum menemukan tersangkah. Tapi walaupun begitu kepala komisaris tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik. Berikan aku waktu beberapa minggu,” sebut Erwin kepada kepala komisaris.
“Tentu saja, aku yakin kamu bisa memecahkan kasus ini. Kamu adalah seorang polisi yang cukup kompenten, kamu adalah polisi terbaik bagiku. Selama ini kamu sudah memecahkan kasus-kasus dengan baik, aku sangat yakin jika kamu bisa memecahkan kasus kecil seperti ini. Benar begitukan?” sebut kepala komisaris kepada Erwin.
“Ah, aku menjadi malu, mendengar perkataan kamu. Saat ini kepala komisaris sudah memujiku dan aku seolah merasa seperti ingin terbang,” balas Erwin kepada kepala komisaris.
“Tidak usah begitu, apa yang aku bicarakan saat ini. Itu benar adanya, kamu tidak perlu merasa malu atau pun berbesar hati. Sebenarnya ke datanganku kemari bukanlah untuk membicarakan soal kasus yang tidak terlalu penting itu,” ucap kepala komisaris kepada Erwin yang sedang berbicara dengan nada sangat sopan kepada dirinya.
“Apa?” tanya Erwin yang terlihat bingung.
“Jadi ada apa kepala komisaris datang menemui saya pagi-pagi seperti ini?” tanya Erwin yang terlihat sangat bingung.
“Mengenai kasus yang sedang menjadi tranding topik di media sosial saat ini, tidak perlu kamu hiraukan. Saat ini kita bicarakan saja hal yang lebih penting lagi, ada sebuah rahasia yang ingin aku beri tahu kepada kamu. Aku sangat tahu jika kamu sangat bisa diandalkan, kamu tidak akan mungkin membocorkannya jika kamu sudah mengetahui rahasia ini!” ucap kepala komisaris dengan sangat serus.
“Memangnya saat ini kepala komisaris mempunyai rahasia apa?” tanya Erwin yang terlihat bingung.
“Untuk kasus narkonika ini ternyata anak mentri adalah bandar narkotika besarnya,” bisik kepala komisaris.
“Apa?” tanya Erwin yang terlihat seperti tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar barusan dari bibir kepala komisaris.
“Kamu pasti sangat terkejut, aku pun sama. Aku juga sangat terkejut saat pertama kali mengetahui kasus ini, jadi untuk kasus narkotika ini. Tidak usah terlalu dihiraukan, namun tetap saja kamu harus membuat seolah polisi sedang bekerja keras untuk memecahkan kasus ini. Media harus meliput kerja keras tim kita,” ucap kepala komisaris.
“Kepala komisaris rahasia ini kamu tahu dari siapa?” tanya Erwin kepada atasannya.
“Mentri sendiri yang berbicara kepadaku, saat ini tidak penting kasusnya terpecahkan atau tidak. Yang penting uangnya terus mengalir dan masuk ke dalam rekeningku, kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan sekarang ini?” sebut kepala komisaris kepada Erwin.
“Anda tenang saja, kepala komisaris. Saat ini anda sangat tahukan, jika aku adalah orang yang paling bisa diandalkan. Aku akan mengatur semuanya, biarkan aku saja yang membersihkan ini semua. Saat ini anda cukup diam saja dan menerima lebih banyak uang,” ucap Erwin kepada kepala komisaris sembari mencari muka.
“Kamu ini memang sangat bisa untuk aku andalkan,” ucap kepala komisaris saat ini tersenyum melihat Erwin.
Di tempat lain, masih di dalam kantor polisi. Terlihat jika beberapa detektif sedang mengibah, mereka ada yang curiga jika Erwin mendapatkan suap dari kepala komisaris. Namun mereka juga tidak bisa membuktikan hal tersebut, membuka aib atasan sama saja dengan merusak karir mereka sendiri. Jadi mereka hanya bisa berbicara omong kosong, sekaligus menghayal.
“Menurutmu apakah perwira Erwin mendapatkan suap dari kepala komisaris?” sebut deketifk yang saat ini sedang mengibah.
“Entahlah aku tidak yakin,”
“Eh, tapi apakah kalian tidak merasa aneh dengan kepala komisaris. Dia sepertinya sama sekali tidak memperdulikan kasus yang sedang sangat hagat akhir-akhir ini,”
“Hey apakah kamu tidak mendengar, jika detektif Erwin memberikan kita perintah. Untuk berhenti melakukan penyamaran,”
“Apa?”
“Bagaimana bisa?”
“Wah aku sangat tidak percaya, kenapa bisa dadakan sekali. Kapan detektif Erwin memberikan perintah itu?”
“Kamu tidak dengar?”
“Atau kamu tidak ada di tempat waktu itu?”
“Aku tidak tahu sama sekali,”
“Ah itu baru saja di umumkan, baru saja beberapa menit yang lalu. Tadinya kamu ini ke mana, kenapa bisa kamu tidak mendengar hal yang penting seperti ini. Apakah kamu sudah tidak ada niat lagi untuk menjadi polisi,”
“Bukan begitu teman, mungkin tadinya aku berada di kamar kecil. Berbagilah informasi jika aku tidak mendapatkanya,”
“Ah kamu ini membuatku kesal saja,”
Saat ini para detektif yang ada di dalam kantor polisi sedang mengibahi Erwin dan kepala komisari, mereka merasa sangat curiga hari ini. Sangat tiba-tiba sekali, kepala komisaris datang ke kantor polisi waktu pagi dan mencari perwira Erwin. Mereka juga berbicara dengan sangat privasi, mungkin nyamuk pun tidak mereka izinkan untuk mendengar. Belum lagi perintah yang Erwin sebutkan itu sangat aneh, Erwin tiba-tiba saja menyuruh polisi lainnya untuk berhenti melakukan penyamaran. Menurut Erwin, bandar narkotika ini tidak perlu untuk ditanggap. Pihak polisi tidak perlu capek-capek untuk mencari buronan ini, Erwin hanya menyuruh mereka untuk pura-pura mencarinya saja. Di sebuah jumpa pers, saat ini Erwin terlihat sangat rapi. Dia sedang diwawancari oleh para wartawan, terlihat hari ini dia seperti orang penting saja. Dari belakang tirai, tempat Erwin berdiri kepala komisaris memberikan kode kepadanya.
“Detektif Erwin apakah saat ini kami sudah boleh bertanya?” tanya salah seorang wartawan kepada Erwin.
“Ah tentu, tanyakan saja. Apa yang ingin kalian ketahui,” balas Erwin dengan sangat percaya diri.
“Detektif saat ini anda pasti sedang tidak asing lagi dengan kasus yang sedang viral di media sosial, menurutmu ini bagaimana. Apakah tanggapan anda mengenai kasus ini?” tanya salah seorang wartawan yang mulai bertanya kepada dirinya.
“Iya itu sudah tidak asing lagi bagiku, saat ini kami pihak polisi sudah mempunyai rencana lain untuk menangkap pelaku dengan cepat. Karena tidak baik juga jika buronan seperti ini di biarkan terlalu lama bebas,” balas Erwin dengan sangat percaya diri dan tanpa rasa takut sama sekali.
“Bolehkah kami mengetahui rencana apa yang kamu punya?”
“Maafkan aku, tidak mungkin untukku menjawab pertanyaan seperti ini. Jika aku memberi tahukan rencanaku maka pastinya buronan itu sudah bisa bersembunyi,” balas Erwin.
Saat ini terlihat semua wartawan yang berada di dalam ruangan ini mulai tertawa, ada benarnya juga apa yang Erwin katakan. Tidak mungkin memberi tahu, cara apa yang akan Erwin lalukan untuk menangkap buronan.
“Perwira Erwin bolehkah kami bertanya lagi?”
“Tentu saja tanyakan saja, aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. Jangan khawatir hari ini waktuku untuk kalian semua,” balas Erwin sambil memberikan candaan agar tidak terlalu tegang.
“Saat ini apakah anda sudah mempuyai terangka, maksudku saat ini apakah pihak polisi ada mencurigai seseorang. Kemarin ada sempat viral sebuah vidio polisi yang sedang meyamar menjadi pembeli sabu untuk menangkap pelaku, jika vidio yang viral itu benar adanya tanpa sebuah setigan. Saat ini apakah pihak polisi sudah mencurigai seseorang?” tanya para wartawan kepada Erwin.
“Ah mengenai vidio yang sedang viral kemarin itu, begini vidio itu tidak ada rekayasa. Itu benar adanya, tapi sangat disayangkan. Kami pihak polisi masih belum bisa menangkap dalang dari semua ini. Saat ini masih masih belum mendapatkan lampu hijau,” balas Erwin yang saat ini sedang membuat wartawan semakin ingin melipun dirinya.
“Saya juga ingin bertanya perwira,” ucap seorang pria berkaca mata.
“Iya silakan saja,” balas Erwin.
“Bandar narkotika ini sepertinya sangat sulit sekali untuk pihak polisi menangkapnya, kenapa? Apa karena bandit ini sangat hebat? Ataukah mungkin ada permainan orang dalam?”
“Apa maksudmu?” tanya Erwin yang terlihat terkejut.
“Saat ini apakah anda belum mengetahui satu informasi, ya saya rasa saya adalah orang pertama yang tahu dengan rahasia ini. Gosibnya anak mentri keamanan adalah seorang pria nakal, dia pernah sekali berhubungan dengan obat terlarang. Namun karena saat itu umurnya masih di bawah umur, maka dia hanya mendapatkan rehabilitasi saja. Tapi saat ini apakah anda tidak merasa curiga,” sebut pria ini.
“Curiga tentang apa?” tanya Erwin yang terlihat bingung.