LELAKI "LAIN" SELAIN SUAMIKU
BAB. 1
" Aku benci kamu, Mas!"
Kudorong kuat-kuat lelaki yang telah memberiku anak usia enam belas tahun itu. Ia jatuh terjengkang dari atas ranjang.
Lelaki itu memandangiku seperti akan marah. Namun aku bersyukur dia tak melakukan kekerasan fisik padaku. Ia hanya keluar kamar sambil membanting pintu.
****
Selepas menunaikan dua rokaat wajib subuh, aku mempersiapkan segala sesuatu di dapur untuk sarapan pagi.
Meskipun darah ini terasa mendidih sampai titik 100° C atas kelakuan pasangan, tetap saja kujalankan kewajibanku sebagai ibu rumah tangga yang baik. Mengurusi keperluan suami dan anakku.
Setelah semua menu sarapan pagi terhidang di meja, suami dan anakku menikmati santapan pagi itu sebelum beraktifitas sesuai dengan bidang kerjanya masing-mading. Suamiku berangkat kerja, dan anakku pergi ke sekolah.
****
Hampir enam bulan terakhir ini, aku menolak mas Puji, suamiku, untuk memakaiku di ranjang.
Belum bisa move on dari perlakuannya padaku ketika itu. Aku membencinya, tetapi lebih benci lagi berpisah atas nama perceraian.
Aku tulus mencintai lelaki yang telah memberiku anak beranjak bujang. Tapi ketulusanku mendampinginya hampir 20 tahun, dibalasnya dengan tikaman mematikan di ulu hatiku.
Sakit rasanya. Dunia terasa terbalik, langit seakan runtuh meremukkan belulangku. Tak dinyana tak disangka, tiba-tiba saja badai itu datang menerjang, menghempas, menerbangkan rasa cintaku yang hanya menyisakan kebencian. Aku benci dia dalam balutan sucinya cinta.
Diri ini pun merasa heran, tak mampu berpisah dengan lelaki itu, meski ia telah menikamku dari belakang. Aku memang harus bertahan.
Bukan karena lemah. Bukan pula khawatir tak mendapatkan sambungan yang lebih baik darinya. Tapi tak ingin menghancurkan psikologis anak semata wayangku.
Sampai di sini aku baru paham. Sebaik apapun, setulus apapun, bahkan secinta apapun. Tidak akan pernah berarti di hadapan orang yang tak bersyukur memilikiku.
Siap tidak siap, kita harus bisa menerima apapun yang terjadi, walaupun kita tak menginginkannya, karena takdir harus diterima dengan lapang dada bukan dihindari.
Awal petaka itu datang menghampiri, saat suamiku menghilang selama dua hari. Tentu saja sebagai seorang istri merasa cemas.
Ketika di hari berikutnya ia pulang. Bukannya kegembiraan dan hapusan rasa rindu yang kulampiaskan padanya. Tapi sikap dingin dan cuek membuatku berprasangka.
Naluriku sebagai perempuan mencium sangat tajam kecurigaan pada suami. Perasaan kehilangan selama dua hari membuat terciptanya prasangka negatif padanya.
Alasannya ia kerja lembur, perintah mendadak dari atasan yang sangat mendesak hingga tak sempat pulang ke rumah terlebih dulu.
Awalnya, sebenarnya aku tak menaruh syak wasangka. Kalau saja tidak secara mendadak memasang password di androidnya. Sudah menjadi rutinitas, setiap suami pulang kerja, kuperiksa HP-nya. Dengan ikhlas dan rela hati memberikan gawainya itu padaku.
Tapi kali ini lain, kemunculannya di rumah bagai orang asing. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia hanya menaruh HP-nya di atas lemari dan segera melengos ke kamar mandi.
Kuraih HP-nya, nyalakan power untuk membuka layar. Instruksi tertulis di layar buka pakai pola atau sidik jari. Nah, kan? Pake digembok segala.
Kutaruh kembali android itu di atas lemari. Tak lama berselang ia datang dari kamar mandi dengan rambut kelimis. Rambut basah seperti yang bukan kebiasaannya.
Jarang keramas, tapi saat ini ia habis keramas. Keramas? Pertanda apa ya? Apakah ia pasca junub? Dengan siapa? Bahkan ia baru pulang setelah menghilang dua hari. Yang pasti bukan dariku, jika seandainya ia keramas sebab junub.
Rambutnya basah kelimis membuat rasa terenyuh di sudut hati. Ia mendorong tubuhku yang menghalanginya di pintu masuk kamar. Aku terhenyak memandanginya penuh keheranan. Tak menyangka berbuat sekasar itu pada istrinya.
Terlihat tergesa-gesa mengganti pakaiannya, tanpa mempedulikan kehadiran istri, seolah-olah ia hanya sendirian di kamar ini. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan suamiku?
" Mau ke mana, Mas?" Tanyaku. Ia diam sembari menata diri di depan cermin.
" Baru aja kau datang, Mas. Tapi kok malah mau pergi lagi?" Cegahku menghalanginya keluar dari pintu kamar.
" Ada urusan penting di kantor," ungkapnya tanpa menoleh ke padaku.
Gemuruh kecurigaan itu menghantui relung hati.
Sikap tak biasa yang ia pertontonkan hari ini membuatku meradang. Salahkah jika diri ini ingin mengetahui lebih dalam, dan apa penyebab perubahan mendadak terhadap suami?
Aku meradang!
" Kau tak boleh pergi, Mas!" Tegasku menghadang langkahnya di pintu keluar. Kulihat gestur wajahnya menciptakan amarah. Urat-urat lehernya terlihat menegang, tulang rahangnya bergerak-gerak, tanda amarah segera meluap.
Segera kututup pintu dan menguncinya.
" Plaaakk..."
Lelaki ini menamparku.
***
Terimakasih sdh berkenan membaca bab pertama cerita ini.
Penasaran akan kelanjutannya?
Sabar, pasti berlanjut, tp sebelumnya, tinggalkan jejak dulu ya, berupa subscribe, follow, share and comment!
❤❤
Sakit rasanya tamparan punggung tangan yang terasa meremukkan tulang wajah. Jika saja ada cermin di hadapan, pastilah memantulkan lukisan wajah merona merah.
Perih memang, tapi perlakuannya yang termasuk ke dalam golongan KDRT itu, secara fisik tak seberapa. Tapi perlakuan itu menorehkan luka teramat dalam di sudut hati.
Rupanya lelaki yang telah menghalalkanku puluhan tahun lampau itu, belum meredakan amarahnya. Ia menarik pundakku dan menghempaskan kuat.
Tubuhku jatuh terjengkang. Pada saat itulah ia bergegas membuka pintu. Keluar dan membantingnya keras yang dapat didengar tetangga radius sepuluh meter.
Ia pergi tanpa memperdulikanku. Seketika air mata merembes, luruh membasahi pipi. Perih rasa hati bagai teriris sembilu dan tersiram air garam. Sampai hati mas Puji menjelmakan kekasaran yang baru pertama kualami sejak hampir lebih dua puluh tahun hidup bahagia mendampingi.
Aku marah, aku meradang. Tapi hanya bisa aku pendam dalam hati yang sudah mengangakan luka. Ingin mendinginkan suasana hati. Jika sudah seperti ini, maka kembali ke orang tua adalah langkah bijak untuk mengobati luka hati.
Malu rasanya mengeluh-kesahkan persoalan rumah tangga kepada orang tua. Belumlah dapat membalas jerih-payahnya dalam mengasuh sejak kecil, begitu ada masalah, mereka lagi yang juga pusing mencari upaya agar anak-anaknya bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.
Kemana lagi mencurahkan resah hati kalau bukan kepada ibu. Orang tua itu senantiasa membukakan pintu rumahnya, siap menampung keluh-kesah anak dan mencarikan solusi bijaknya.
Tak ada orang lain, sahabat memang banyak dan saudaraku pun ada. Tapi untuk membicarakan masalah konplik rumah tanggaku kepada mereka, rasanya aku belum bisa.
Hanya ibu satu-satunya orang yang kupercaya bisa menampung dan memberikan solusi atas permasalahan yang kuhadapi.
Paling tidak, ada orang lain yang menjadi teman curhat agar permasalahan ini tidak kutanggung sendiri, sebab kalau tidak, bisa saja pikiran logisku kalah dan berujung pada penghakiman diri secara sadis.
Sampai di rumah ibu, hatiku merasa sedikit tenang. Namun gejolak hati tak mampu sepenuhnya kusembunyikan. Hal itu kusadari dari tatapan ibu yang sedikit curiga padaku.
" Ada masalah lagi dengan Puji?" Tanya ibu seperti sudah memahami persoalanku.
Aku hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
" Ada makanan apa, Bu? Aku laper!" Rengekku tanpa mempedulikan pertanyaan ibu.
Aku pura-pura tidak dengar. Tanpa menunggu jawaban ibu, aku melengos ke dapur. Mencari makanan dengan harapan bisa menenangkan gemuruh hati sejenak. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Kubawa piring berisi nasi, sayur dan lauk kucampur jadi satu, di ruang tengah di mana ibu sedang sibuk menjahit. Aku selalu berselera menyantap masakan ibu. Bagiku, makanan terenak di dunia, adalah makanan yang diolah dan dimasak oleh ibu.
Terasa nikmat mencicipi hasil racikan perempuan tua yang telah melahirkanku itu. Tapi kali ini terasa beda. Tak sesuap pun yang bisa meniti tenggorokanku. Piring berisi nasi itu lantas kutaruh di atas meja makan ruang tengah.
Teringat kembali perlakuan mas Puji yang tega menamparku. Seketika pelupuk mataku memanas. Bulir-bulir air bening yang sejak tadi coba kutahan, akhirnya tumpah juga.
Buru-buru kuhapus buliran bening yang luruh di pipiku itu. Segera masuk ke bekas kamarku dulu, semasa aku masih gadis. Kukunci pintu dari dalam. Kutumpahkan air mataku di atas pembaringan.
Dengan menangis sedikit melegakan hati. Andalan kaum Hawa jika menghadapi permasalahan berat dalam hidupnya, adalah menangis.
Mungkin karena sudah terlalu lama tidak pernah menangis lagi, sehingga begitu tiba masanya melakoni senjata perempuan itu, rasanya sulit berhenti.
" Tok..tok..tok..!"
Buru-buru kuseka air mata yang meleleh. Ibu mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil namaku.
" Ratih..Ratih, buka pintunya!"
Segera kubukakan pintu dan wajah pun nongol penuh selidik. Aku berusaha untuk tersenyum, tapi justru terlihat aneh lantaran kurasakan pelupuk mata yang mulai menebal, membengkak. Ibu langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang, akupun duduk di sisinya.
" Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kan ibu masih hidup. Barangkali saja ibu punya solusi atas permasalahanmu, atau paling tidak, dengan membaginya, perasaanmu akan sedikit lega."
Suara ibu begitu lembut. Tak bisa lagi kusembunyikan kesedihan yang mendera batin. Tak mampu lagi menyembunyikan tangis yang coba menyeruak lagi.
" Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Bermasalah dengan Puji, kan?" tegur ibu lembut.
Begitu damai mendengar kata-kata ibu, meski aku sudah tidak muda lagi, sudah punya anak yang berusia belasan tahun, tapi di hadapan ibu, aku seperti balita yang merengek lalu mendapatkan kedamaian saat tangan ibu membelai rambutku.
Kuseka air mata dengan ujung gamis, sebelum mengangguk mengiyakan tebakan ibu atas permasalahanku.
" Selama ini jika kuperhatikan, suamimu itu adalah seorang lelaki yang baik, bertanggungjawab dan sayang pada istri dan anaknya."
Aku tersenyum getir mendengar kata-kata ibu yang memuji Mas Puji. Memang benar apa yang dikatakan itu tentang suamiku. Tapi itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang ini ia sudah berubah 180°.
Bahkan perubahan itu nyaris tak kukenali. Tidak percaya jika saja bukan aku sendiri yang mengalaminya secara langsung. Ia menghilang beberapa hari, setelah kembali, malah ringan tangan tega menggunakan tangan kekarnya untuk menyakiti tubuhku.
" Apa? Puji menamparmu?"
Ibu terlihat gusar saat mengetahui menantu kesayangannya itu sebagai pelaku KDRT dalam rumah tangga anaknya.
" Tidak masuk akal!" kata ibu menyambung kalimatnya sendiri.
" Ratih tidak bohong, Bu. Tidak ada gunanya berbohong. Memang benar seperti yang kukatakan itu," jawabku meyakinkan.
Terlihat ibu menarik nafas berat.
" Ya, kau benar Ratih. Setiap orang bisa saja berubah mendadak setiap saat. Boleh jadi, dulu baik. Tapi karena suatu dan alasan yang menurutnya tepat, ia berubah jadi jelek, setidaknya dalam pandangan kita."
Aku masih terisak menahan perih di dada.
" Sayangnya, kau belum tahu apapun alasan tentang mengapa Puji bertindak kasar padamu," kata ibu melanjutkan kalimat seperti masih ada nada pembelaan untuk menantunya.
" Aku tidak tahu bagaimana cara mengetahui alasannya bertindak kasar. Karena dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Kejadian itu begitu cepat."
" Ya, sudahlah. Karena memang kita belum tahu alasannya. Bersabar saja, mungkin beberapa hari ke depan permasalahannya akan nampak jelas."
Ibu mengakhiri kalimatnya dan keluar kamar meninggalkan diriku yang masih terkulai lemah. Aku harus introspeksi diri. Kira-kira apa yang aku lakukan.
Kesalahan besar apa yang pernah kulakukan di masa lalu hingga Mas Puji bereaksi keras padaku. Atau ada persoalan berkenaan dengan urusan pekerjaannya yang sulit ia tangani, hingga ia pusing dan mudah marah, termasuk ringan tangan memukulku?
Apakah itu dibenarkan persoalan kantor yang tak bisa dipecahkan, lantas dilampiaskan dalam bentuk kekerasan verbal maupun kekerasan fisik terhadap anggota keluarga di rumah? Ah, aku tidak percaya.
Aku lebih yakin pada perkiraanku sendiri, bahwa Mas Puji berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. Dan itu pasti urusan perempuan. Mas Puji selingkuh?
Mengingat kalimat ini, hatiku berdesir kencang. Degup jantungku berpacu sangat cepat, sampai nafasku tersengal-sengal. Ya, Allah ya Rabbi, tolonglah hamba-Mu yang lemah ini.
BERSAMBUNG
Dua hari nginap di rumah ibu. Mas Puji tak menyusulku. Apakah ia benar-benar tak perduli lagi padaku?. Atau dia masih marah atas sikapku dalam menyambut kepulangannya ke rumah dua hari lalu? Entahlah. Yang jelas, masih ingin rasanya tinggal lebih lama lagi di rumah ibu, andai saja Revan tak datang pagi tadi.
" Ayahmu ada di rumah, Van?" Tanyaku pada anak lelakiku itu.
" Semenjak pergi dua hari lalu, ayah tak pulang, Bu. Revan aja sendirian di rumah."
Mendengar pernyataan Revan itu, hatiku bagai disengat kalajengking. Terperanjat kaget, namun kekagetan itu tak kuperlihatkan pada anak lelakiku itu. Rasa penasaran dan curiga semakin membuncah dalam hati.
Bergegas masuk kamar. Meraih gawai dan memencet nomor inisial "suamiku". Sengaja bukan nama Mas Puji kucatat di kontak HP-ku, melainkan inisial yang bernuansa kemesraan, "Suamiku."
Terhubung.
Seseorang mengangkatnya di seberang sana. "Mas Puji" desisku membatin. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin dan tidak gugup dalam berbicara, meski dalam dada ini ribuan kalimat pedas yang siap kulisankan.
" Maaf Mas, sekarang aku di rumah ibu," kataku pelan.
" Sejak kapan?"
" Dua hari yang lalu."
" Kok gak ijin?"
" Karena HP mas gak aktif," ada nada keterkejutan dalam kalimatnya.
" O, iya..iya..aku lupa. Charger-nya habis jadi HP ku mati sendiri," jawab mas Puji seperti kelabakan.
Memang sengaja aku tak melakukan video call. Aku tak mau menampakkan raut sedih di hadapan suami, apalagi memperlihatkan kelopak mataku yang bengkak lantaran terlalu lama menangis.
Setelah sekian tahun hidup bersama tanpa rasa curiga sedikitpun di antara kami. Tapi hari ini, tiba-tiba saja aku ingin mengetes sejauh mana kejujuran mas Puji setelah kutahu selama dua hari di rumah ibu, ia sendiri tak menginap di rumah, begitu info Revan padaku.
" O, ya Mas. Tadi malam mas Puji tidur di mana?"
Mas Puji menjawab pertanyaanku dengan cepat dan enteng.
" Ya di rumah lah."
Leg!
Hatiku kaget. Deteksi pertama atas kejujurannya, ternyata dia berbohong. Bergemuruh dan bergejolak darah dalam dada ini, tapi berusaha kutahan sekuat mungkin agar tidak meledak. Baiklah, penyelidikan dan investigasi akan berlanjut. Sebentar lagi pencuri itu akan ketangkap basah.
" Sekarang Mas ada di mana?" Tanyaku basa-basi.
" Ya di kantorlah, kan masih jam kerja," jawabnya santai.
" O ya kapan pulang?"
Pertanyaan basa-basimu semakin menguatkan kecurigaanku. Entah mengapa aku semakin antusias, bersemangat menyelami lebih dalam, siapa sesungguhnya lelaki ini yang kepada siapa anakku memanggil bapak. Begitu bodohkah aku hingga puluhan tahun hidup bersamanya namun tak mengenal karakternya dengan baik?
" Kalau Mas Puji mengijinkan, aku ingin lebih lama lagi di rumah ibu," biar kau puas melaksanakan keinginanmu. " Lagian si Revan juga kan sudah libur sekolah," kataku memberi alasan logis.
" Tidak apa-apa. Kalau kau ingin lebih lama di rumah ibu gak pa-pa, yang penting kau baik-baik aja di sana ya? Jangan sakiti hati ibu."
Bajingan! Umpatku dalam hati. Pandai sekali kau bermain kata-kata. Memang kuakui, pertama aku kecantol dengan mas Puji karena kepandaiannya mengolah kata-kata. Kalimat-kalimatnya sungguh manis bermadu, membuat perempuan yang menjadi target tembakannya klepak-klepek. Itulah yang menghipnotisku, tentunya sesuai kriteriaku, dia juga tampan. Hingga tak butuh lama berpikir saat dia melamarku, aku langsung mengiyakan.
Boro-boro beri nasehat agar tak menyakiti hati ibu. Apa yang kau lakukan dua hari lalu dengan menamparku, bukankah itu hakekatnya menyakiti hati ibu juga? Ingat mas, aku ini darah dagingnya ibu. Jika ada yang menyakitiku, maka otomatis ibu pun ikut tersakiti. Aku mencebik mendengar kata-katanya yang terdengar klise.
Tanpa pikir lebih lama lagi, aku pamit sama ibu untuk pulang ke rumah.
" Loh, katanya masih mau nginap lebih lama lagi. Tapi kok tiba-tiba malah mau pulang." Kata ibu dengan maksud mencegahku.
" Kasihan si Revan, dia baru aja datang, tapi kamu malah mau pergi," lanjut ibu lagi.
Aku tersenyum menanggapi keberatan ibu. Maklum, seorang ibu memang akan selalu seperti itu. Kangen pada anak, ingin bercengkerama lebih lama melepas kerinduan, saling berbagi cerita suka maupun duka. Apalagi persoalan serius yang dihadapinya saat ini tergolong sulit untuk menemukan solusi jalan keluarnya.
" Revan kan sudah besar, Bu. Apalagi sekarang ia sudah di rumah nenek. Dia lebih senang diasuh oleh nenek ketimbang ibunya sendiri," kataku memberi alasan kepulanganku secara mendadak. Padahal bukan itu sesungguhnya alasan logis aku berkeinginan pulang secepatnya. Ibu hanya mengangguk meloloskan keinginanku untuk pulang.
Aku segera turun dari taksi online yang mengantarku pulang. Pertama kusambangi dapur. Bersih, tak ada tanda-tanda ada aktifitas memasak selama kutinggal. Padahal, aku tahu Mas Puji hobby memasak. Dan kalau sudah memasak, peralatan dapur dibiarkan menggeletak begitu saja. Tidak akan beres peralatan dapur yang berantakan itu, jika bukan aku yang turun tangan.
Hmnn....meresahkan..!
Aku bergeser ke arah kamar. Kubuka pintu kamar. Kembali mataku terbelalak. Ranjang dan peralatannya bersih, tak ada sama sekali tanda-tanda habis ditiduri orang selama aku pergi ke rumah ibu. Tes kejujuran kedua, terbukti mas Puji berbohong. Jadi selama dua hari kutinggal, dia tidak tidur di rumah ini! Lalu dia tidur di mana?Hatiku makin panas terbakar.
Aku sabar menunggu dia pulang. Biasanya jam kerja usai itu jam empat dan setengah lima, ia akan tiba di rumah jika memang dia berniat pulang. Benar saja, jarum jam menunjukkan kurang lima belas menit jam lima sore, suara motornya sudah kudengar mamasuki halaman rumah.
Ia nampak kaget melihatku sudah ada di rumah.
" Loh kok sudah pulang. Katanya mau nginap lebih lama di rumah ibu," katanya yang tak mampu menyembunyikan kegugupannya.
Aku diam saja tak menggubris kalimatnya yang ditujukan padaku. Kuikuti dia masuk kamar. Tak kubiarkan dia mengganti bajunya terlebih dahulu, sebelum kuketahui apa yang ingin kukorek darinya. Pelan-pelan kutuntun ia duduk di pinggir ranjang.
" Mas, aku tahu kau berbohong. Aku mohon kejujuranmu. Kau nginap di mana semalam. Dan kemana saja semenjak menghilang dua hari," pelupuk mataku mulai panas dan memerah.
" Aku tidak apa-apa Mas. Asal kau mau berkata jujur," sudut mataku mulai basah.
Mas Puji masih duduk terdiam sembari memainkan jari-jemarinya bagai anak gadis yang sedang dilamar. Seperti ada beban berat yang menindih dada lelaki itu. Ia memandangiku lurus-lurus.
" Benar, kau ingin aku berterus terang?" Tanyanya penuh penekanan.
Aku hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan agar ia menyatakan kejujuran hatinya.
" Sebenarnya, aku sangat mencintaimu, Ratih!" Ungkapnya lirih.
Kata-katanya semakin membuatku sesak nafas.
" Aku sudah menikah lagi!"
Leg!
Jantungku berdegup kencang mendengar kalimat terakhirnya.
*****
Terimakasih sudah mau mampir di cerita ini..
Nantikan lanjutan kisahnya yang makin seru..!
Kalau berkenan, silahkan comment, rate, share and subscribe...🙏🙏
💚💚