Bab 1

"Maaf kalau kedatangan saya ke rumah ini telah menghancurkan segalanya. Tapi saya harus mempertahankan hak saya bukan? Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya dan Seno sebenarnya telah menikah dua hari yang lalu. Sah secara hukum dan agama. Ini adalah buku nikah kami berdua. Silakan kamu mengecek keasliannya, Rimbi."

Nina Sujatmiko memberikan dua buah buku nikah ke hadapan Arimbi dan juga om dan tantenya. Ia begitu puas kala melihat air mata yang menganak sungai di mata sepupunya. Arimbi Maulida. Keinginannya untuk membalas dendam pada Arimbi tunai sudah.

Sedari kecil ia sudah membenci Arimbi. Sepupunya yang cemerlang ini, membuat kehadirannya redup. Arimbi yang cantik, pintar dan baik hati memborong seluruh perhatian keluarga besarnya.

Sedari kecil dulu, setiap ada acara kumpul keluarga, Arimbi akan menjadi primadona. Dimulai dari selalu menjadi juara kelas, pandai mengaji, berakhlak baik, sopan kepada orang tua, dan rentetan pujian positif lainnya. Telinganya kerap sakit kala mendengar segala puja dan puji yang ditujukan pada Arimbi di waktu itu.

Bukan itu saja, setiap kali dirinya membuat kesalahan, maka kedua orang tuanya akan membandingkannya dengan Arimbi. Arimbi itu begini, Arimbi itu begitu. Hingga kepalanya seakan berasap mendengar nama Arimbi yang terus dijejalkan dalam benaknya.

Sejak saat itu, Nina memendam dendam kesumat kepada Arimbi. Cita-citanya hanya satu. Yaitu suatu hari kelak, ia akan membuat Arimbi menangis darah karena kalah padanya.

Ketika Arimbi kemudian berpacaran dengan Seno Caturranga, seorang pengusaha otomotif yang sukses tiga tahun lalu, Nina sudah mengincarnya. Namun Seno tidak pernah mengindahkan perhatiannya. Nina tidak pernah patah semangat. Ia terus berusaha, hingga dua bulan lalu ia berhasil menjebak Seno. Alhasil ia hamil dan meminta Seno untuk bertanggung jawab.

Rencananya berjalan mulus. Ia pun telah menikah secara sah dengan Seno dua hari yang lalu. Padahal Nina tahu bahwa seminggu lagi pernikahan Arimbi dan Seno akan dilangsungkan. Memang itulah rencananya. Mempermalukan Arimbi.

Sebenarnya Seno melarangnya untuk memberitahukan masalah ini kepada keluarga Arimbi. Rencananya nanti malam keluarga besar Seno akan menjelaskannya sendiri kepada mereka semua. Namun Nina tidak mau kalah set. Ia sengaja terlebih dahulu memberitahukannya kepada Arimbi. Karena ia punya perjanjian hitam di atas putih dengan Seno.

Nina ingin lebih dulu meracuni pikiran Arimbi. Dengan begitu, apapun alasan yang akan diberikan oleh Seno nantinya, tidak akan lagi masuk ke dalam benak Arimbi. Nina yakin setelah ia membeberkan tentang kehamilannya ini, maka Arimbi pasti akan membatalkan pernikahannya. Akibatnya tentu saja keluarga Arimbi akan malu besar. Pada saat itulah cita-citanya sedari kecil akan berhasil. Arimbi kalah telak di kakinya.

"Mbak minta maaf ya, Rimbi? Tapi nasi telah menjadi bubur. Mbak dan Seno sebenarnya sudah lama saling mencintai. Tetapi Seno tidak tega untuk mengatakannya padamu. Mengenai pernikahan kalian, sebenarnya Seno tidak menginginkannya. Kedua orang tuanya lah yang mendesak. Seno ingin menolak tetapi ia tidak mempunyai alasan untuk itu. Seno juga bilang bahwa ia tidak bisa meninggalkan Mbak. Makanya Seno, maaf, menghamili Mbak. Kata Seno dengan begitu ia mempunyai alasan untuk membatalkan pernikahan ini."

Nina mengakhiri ceritanya dengan derai air mata. Namun kedua bola matanya memancarkan kepuasan. Ia bahagia sekali menyaksikan Arimbi kehilangan kata-kata. Rasakan! Begitulah sakitnya hatinya, setiap kali orang-orang membandingkannya dengan Arimbi. Ia bahagia sekali kala memindai Arimbi berkali-kali menyusuti air mata.

"Katakan sesuatu, Rimbi. Jangan diam saja. Kamu boleh memaki bahkan memukul Mbak. Mbak sebenarnya juga tidak mau semua ini terjadi. Tapi Mbak tidak kuasa menahan rasa ini. Mbak hanya seorang perempuan yang tengah jatuh cinta."

Nina menyusut air mata. Aktingnya ia keluarkan semaksimal mungkin. Ia tidak ingin terlihat terlalu jahat. Ia masih ingin menjaga martabatnya. Bagaimanapun mereka berdua adalah saudara sepupu. Ibu Arimbi adalah adik kandung ayahnya.

"Sudah berapa lama Mbak Nina dan Mas Seno bermain di belakang, Rimbi?" tanya Arimbi pelan.

Ia mati-matian menahan diri untuk tidak mencakar dan meneriaki Nina. Arimbi tidak buta. Ia bisa melihat betapa Nina sangat bahagia mengabarkan tentang pernikahannya dan Seno. Air matanya tidak sesuai dengan air mukanya.

Namun Arimbi mencoba bersikap bijak. Nina tidak akan hamil kalau Seno tidak menggaulinya. Artinya bukan hanya Nina yang salah. Namun Seno juga. Seno tega menghianatinya.

"Setahun belakangan ini, Rim." Nina kembali berbohong. Kalau berakting itu harus all out dan dramatis bukan? Setengah-setengah itu feelnya kurang.

"Baik. Sekarang Rimbi tanya, maksud Mbak ke sini untuk apa?" imbuh Arimbi datar. Walau hatinya hancur, ia tetap harus menjaga harga dirinya. Ia tidak ingin Nina semakin besar kepala menyaksikan kehancurannya.

"Untuk mencegah kamu menikah dengan Seno tentu saja. Karena bagaimanapun hubungan Mbak dengan Seno, saat ini Mbak adalah istri sah Seno. Sedang hamil pula. Mbak tahu kalau Mbak salah. Tapi semuanya sudah terjadi bukan? Mbak harap kamu mengerti. Selain itu Mbak ingin kamu mengetahui masalah ini terlebih dahulu dari Mbak sendiri, daripada kamu mendengarnya dari orang lain."

"Baik. Mbak Nina tidak usah khawatir. Rimbi pastikan bahwa Rimbi tidak akan melanjutkan pernikahan ini. Rimbi tidak sudi menikahi seorang penghianat. Karena sejatinya seorang penghianat itu mendapatkan seorang penghianat juga."

Mata Nina membara. Arimbi ini sungguh kurang ajar. Sudah kalah, namun masih saja menyindirnya.

"Rimbi berpatokan pada ayat yang mengatakan bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji pula. Serta wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula."

"Keji-keji begitu, tapi masih bisa membuatmu menangis bukan?" dengkus Nina sinis. Ia tidak tahan terlalu lama menjadi orang yang tertindas. Bukan kepribadiannya sama sekali.

"Bagaimana rasanya dicampakkan? Darah serasa turun semua atau hati seperti diremas-remas? Yang mana paling mendekati, Rimbi?" ejek Nina lagi.

"Cukup, Nina! Sekarang sebaiknya kamu pulang. Tante sama sekali tidak mengira kalau kamu sedemikian kejinya."

Bu Ambar sama sekali tidak menyangka kalau keponakannya sekeji ini. Menilik ucapan-ucapannya yang penuh provokasi kepada Arimbi, sepertinya masalah ini sudah diniatkan oleh Nina. Nina memang sengaja ingin menghancurkan Arimbi.

"Tenang, Tante. Saya memang sudah mau pulang kok. Apa yang ingin saya katakan, sudah saya sampaikan. Harapan saya, semoga Rimbi tetap memegang teguh ucapannya. Ingat, jangan memimpikan menikahi suami orang ya, Rimbi?" Nina meraih tas tangannya dengan gaya mengejek. Arimbi menahan rasa geramnya dengan mengepalkannya erat-erat. Nina sungguh keterlaluan.

"Satu patah lagi kalimat ejekan kamu lontarkan pada Rimbi, saya akan mengusir keluargamu dari rumah saya yang kalian tempati."

Pak Handoyo yang sedari pertama Nina datang, mencoba menahan diri, tidak tahan lagi. Entah terbuat dari apa hati Nina ini. Tiada sedikit pun penyesalan atau rasa malu pada air mukanya.

"Baik. Saya pulang sekarang. Saya harap Om bisa bersikap bijak. Masalah kita, adalah masalah kita. Jangan membawa-bawa keluarga saya."

Nina buru-buru meralat kalimatnya. Ia tidak  mau kalau keluarganya kesulitan gara-gara dirinya. Sejurus kemudian Nina pun berlalu. Meninggalkan Arimbi serta om dan tantenya yang terpekur bingung. Rasakan kalian semua!

***

Suasana ruang tamu sangat hening. Hanya detak jam di dinding yang terdengar. Seno berulangkali mengucapkan kata maaf. Sementara Bu Santi dan Pak Hasto terus meremas-remas jari jemari karena gugup. Rasa malu berbalut kesal membuat keduanya kehilangan alasan untuk berbicara. Seno memang keterlaluan.

Sementara Ganesha Caturrangga, kakak Seno, mengamati air muka Arimbi yang datar. Tidak terlihat emosi apapun di sana. Dalam hati Ganesha memuji Arimbi. Untuk ukuran perempuan yang ditinggal menikah tepat seminggu menjelang pernikahannya, kontrol diri Arimbi juara. Perempuan lain mungkin akan mengamuk, menangis histeris atau minimal menampar Seno, seperti yang tadi ditawarkan Seno pada Arimbi. Hebatnya Arimbi hanya diam.

"Seperti yang saya katakan tadi, Nina menjebak saya. Ia membubuhi obat perangsang dalam minuman saya, saat saya bertemu dengannya ke club. Nina bilang ia berulang tahun dan meminta saya datang."

Seno kembali mengulangi ceritanya. Apa yang ia katakan memang kenyataan yang sebenarnya. Nina memintanya datang ke acara ulang tahunnya di salah satu club. Nina juga mengatakan kalau Arimbi ada di sana. Makanya ia pun datang tanpa curiga. Ketika sampai di club, ternyata hanya ada Nina seorang. Ia bermaksud kembali ke rumah. Namun Nina memohon untuk menemaninya sebentar. Nina beralasan minumannya juga sudah dipesan.

Ia terpaksa menurut karena Nina adalah sepupu Arimbi. Ia pikir setelah minum ia akan pulang. Tak disangka tak dinyana, ia malah pusing setelah menengak minuman yang dipesan oleh Nina. Selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi. Bangun-bangun ia sudah ada di hotel dalam keadaan polos di samping Nina yang juga polos. Nasi telah menjadi bubur.

Dua bulan berlalu, dan beberapa yang hari lalu, Nina mengabarkan kalau ia hamil. Nina pun meminta pertanggungjawaban. Ia tentu saja tidak bersedia menikahi Nina, karena kurang dari sepuluh hari lagi ia akan menikah dengan Arimbi. Kekasihnya yang amat sangat dicintainya.

Nina mengamuk. Ia mengancam akan melaporkannya kepada pihak yang berwajib apabila ia tidak mau bertanggung jawab. Dalam kepanikan Seno pun tidak bisa berpikir panjang. Tiga hari kemudian mereka menikah di rumah keluarga Sujatmiko, keluarga Nina. Ayah Nina sendiri yang menikahkan Nina. Sementara saksi-saksinya adalah kerabat Nina juga.

Namun sebelum mereka menikah, Seno telah membuat perjanjian hitam di atas putih dengan pihak keluarga Nina. Bahwa setelah melahirkan, akan dilakukan test DNA pada bayi Nina. Karena ia tidak ingat pernah menggauli Nina. Jikalau bayi tersebut terbukti bukan berasal dari benihnya, maka ia akan menceraikan Nina. Setelah Nina sendiri dan pihak keluarga Nina menyetujui, barulah Seno bersedia melaksanakan pernikahan.

"Mas mohon kamu bersabar sampai Nina melahirkan ya? Seperti yang Mas katakan tadi, kalau anak tersebut terbukti bukan anak Mas, Mas akan menceraikan Nina. Dan kita bisa kembali menikah," bujuk Seno lirih.

"Apa Mas tidak malu berbicara seperti ini pada Rimbi?" Arimbi tidak habis pikir dengan dangkalnya pemikiran Seno.

"Mas anggap apa lembaga perkawinan, sampai bisa Mas atur-atur seperti itu?" Arimbi membentak Seno.

"Mari Rimbi jelaskan satu persatu rencana hebat Mas ini. Rimbi Mas minta menunggu sampai anak itu lahir, demi test DNA. Mas pernah berpikir tidak, Bagaimana jika anak tersebut memang benar-benar darah daging Mas? Bagaimana nasib Rimbi yang sudah menunggu selama berbulan-bulan untuk kemudian kembali kecewa? Mas membuat Rimbi ini seperti lotere? Benar tidak, Mas?" tandas Arimbi pedas.

Seno tidak bisa berbicara. Begitu juga Pak Hasto dan Bu Santi. Mereka semua kehilangan kata-kata. Mereka semua sadar, pada akhirnya Arimbi lah yang akan dikorbankan. Baik sekarang atau pun ke depannya.

"Satu hal lagi ya, Mas. Rimbi tidak sudi memegang janji suami orang. Apalagi mengharap pernikahan perempuan lain gagal, hanya karena Rimbi mengidamkan suaminya. Maaf, Rimbi tidak sepicik itu. Pulanglah Mas Seno. Kita batalkan saja pernikahan kita."

Arimbi memberikan keputusannya. Walau dadanya sesak oleh kemarahan yang ingin sekali ia teriakkan, namun Arimbi sekuat tenaga mempertahankan martabatnya. Memukuli Seno sampai mati, ataupun menangis hingga mengeluarkan air mata darah, tidak akan bisa mengubah keadaan. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia sudah dihancurkan. Untuk itu ia tidak akan menghancurkan dirinya kembali, dengan bersikap seperti seorang seorang pecundang kalah perang.

"Tidak bisa! Enak sekali kamu membiarkan mereka melepas tanggung jawab begitu saja!" Pak Handoyo mengamuk. Sedari tadi ia diam saja, karena ingin membiarkan putrinya berbicara. Ia biarkan putrinya memuntahkan perasaannya dulu. Dan kini adalah gilirannya.

"Ayah memang tidak menginginkan suami orang tidak punya iman ini menjadi menantu Ayah. Apalagi menjadikan kamu lotere bagi laki-laki kardus ini. Tapi Ayah juga tidak mau malu. Undangan sudah kita sebar. Semua orang sudah tahu kalau kamu akan menikah. Mereka harus bertanggung jawab!" Handoyo berdiri dari sofa dan menunjuk-nunjuk Seno dan keluarga penuh amarah.

"Tentu saja kami akan bertanggung jawab Pak Handoyo." Pak Hasto Caturranga pun bersuara.

"Sebelum ke sini kami sudah mempersiapkan satu rencana. Putra tertua kami, Ganesha Caturranga lah yang akan menggantikan Seno untuk menikahi Arimbi. Bagaimana Pak Handoyo? Apakah Bapak setuju?"

Bab 2

"Tunggu dulu! Mengapa Mas Esha yang jadi menggantikanku? Sebelum berangkat tadi, Ayah dan Ibu tidak bilang apa-apa bukan?"

Seno panik. Ia tidak rela kalau Arimbi akan dimiliki oleh laki-laki lain. Apalagi oleh kakaknya sendiri. Karena dengan begitu di masa yang akan datang, ia akan kerap berintraksi dengan Arimbi. Namun bukan sebagai pasangan kekasih. Tetapi kakak ipar. Dan Seno tidak menginginkan hal itu sampai terjadi.

Selain itu, apabila Arimbi menjadi kakak iparnya, akan sulit baginya untuk meraih kembali Arimbi dalam dekapan. Karena seandainya ia bercerai dengan Nina pun, tidak mungkin juga dirinya menjadi pebinor kakak kandungnya sendiri. Ia pasti akan dihujat oleh keluarga besarnya. Lain cerita kalau Arimbi menikahi laki-laki lain. Kesempatan untuk mendapatkan Arimbi kembali masih terbuka lebar.

"Lantas, apa kamu punya solusi lain, Seno? Punya tidak?!"

Bentakan Pak Hasto membuat Seno kehilangan kata-kata. Ia memang telah melakukan kesalahan. Namun yang lebih salah adalah si ular beracun Nina. Karena dari perempuan manipulatif itulah semua kekacauan ini berasal.

"Kamu datang-datang hanya bilang kalau kamu sudah menikahi Nina. Menurutmu Ayah harus bagaimana, Seno? Apa kepala dangkalmu itu pernah memikirkan, bagaimana bingungnya Ayah dan Ibu menjelaskan soal ketololanmu ini pada Rimbi dan kedua orang tuanya? Kamu pikirkan tidak?!"

Pak Hasto merasa darahnya menyembur hingga ke ubun-ubun, melihat pendeknya cara berpikir putra bungsunya. Sudah pemikirannya pendek, egois lagi.

Seno menunduk. Ia tahu kesalahannya sangat fatal. Namun ia masih tidak rela melepas Arimbi. Tapi jika memang Arimbi tetap akan menikah minggu depan, Seno berharap, bahwa pasangan Arimbi boleh siapa saja. Ia tidak peduli. Yang penting bukan kakak kandungnya. Karena peluangnya akan sangat kecil untuk kembali merebut Arimbi kembali.

"Jadi bagaimana Pak Handoyo? Bapak bersedia menerima Esha sebagai pengganti Seno?" Pak Hasto meminta kesediaan calon besannya. Ya, calon besan dengan anaknya yang lain.

Pak Handoyo tidak langsung menjawab. Ia melirik anak perempuan satu-satunya terlebih dahulu. Arimbi memang terlihat tenang. Tidak ada emosi berlebihan pada air mukanya. Namun Pak Handoyo tahu bahwa dalam hatinya Arimbi tidak setenang itu. Lihatlah, kedua tangan Arimbi mengepal kuat di pangkuannya.

"Bagaimana Rimbi? Bersediakah kamu menerima Esha sebagai suamimu?" Pak Handoyo memberi keputusan akhir di tangan Arimbi.

Ya Allah, berilah aku jawaban atas semua kejadian ini. Jalan mana yang harus aku lalui?

Arimbi berdoa dalam hati. Ia tidak mempunyai gambaran sama sekali. Ia takut membuat keputusan yang salah. Bertepatan dengan itu ponsel yang ia letakkan di atas pangkuan bergetar. Nina mengirim pesan. Arimbi membuka pesan berupa photo-photo dari Nina.

Photo pertama berlatar belakang gedung olah raga. Nina tampak sedang bertepuk tangan gembira dan tersenyum lebar ke arah kamera. Nina tidak sendiri. Ada Seno yang duduk di sebelahnya. Sepertinya Nina dan Seno sedang menonton pertandingan bola basket.

Photo kedua memperlihatkan Nina yang tengah menikmati makanan khas Jepang. Nina berpose menjepit sushi rice dengan sumpit, seraya membuka mulutnya lucu. Dan lagi-lagi ada Seno di sampingnya. Memang mereka tidak hanya berdua. Ada beberapa teman Nina yang kebetulan ia kenal, dan juga dua orang teman sekantor Seno. Namun cara duduk Nina dan Seno tampak intim. Tubuh Nina condong mepet sekali pada Seno.

File terakhir berupa sebuah video berdurasi pendek. Dalam video ini terlihat Nina sedang menari di dance floor. Dan seperti tadi, ada Seno juga yang menari di sampingnya. Mungkin inilah kejadian yang membuat Nina hamil. Hah, katanya saja terpaksa menemani duduk sebentar demi kesopanan. Terpaksa kok bisa menari-nari?

Arimbi memejamkan matanya yang terasa pedih. Kini ia sudah mendapatkan gambaran, keputusan apa yang akan ia buat. Sepertinya Allah telah memberikan jawaban padanya melalui Nina.

"Sebelum Rimbi membuat keputusan, bolehkah Rimbi mengajukan pertanyaan pada Mas Seno?" Arimbi ingin menuntaskan rasa penasarannya.

"Silakan, Rimbi. Tanya saja. Mas akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu?" sahut Seno cepat. Asa bermekaran di dadanya. Sepertinya Arimbi akan menolak Ganesha.

"Mas, coba jawab pertanyaan Rimbi dengan jujur. Sebelum peristiwa di club malam yang Mas katakan tadi, pernahkah Mas bertemu dengan Mbak Nina di belakang Rimbi?"

"Tidak pernah, Rimbi. Hanya di club itu saja. Itu pun setelah Nina mengatakan bahwa kamu ada di sana."

Seno bohong. Itu artinya semua hal yang dikatakannya bisa jadi kebohongan belaka.

"Lantas bagaimana dengan photo-photo dan video ini?" Arimbi memperlihatkan photo-photo dan video yang dikirimkan oleh Nina.

Air muka Seno memucat. Ia merebut ponsel dari tangan Arimbi dan memeriksa photo-photo dan video yang dikirimkan oleh Nina. Dari belakang tubuh Seno, kedua orang tuanya ikut melihatnya. Pak Hasto seketika memijat-mijat keningnya. Sementara Bu Santi menarik napas panjang. Sebagai orang tua, keduanya tidak tahu lagi harus mengatakan apa.

"Ini... ini... tidak seperti yang kamu pikirkan, Rimbi." Seno buru-buru menyanggah.

"Semua kejadian dalam photo-photo ini bisa menipu jika tidak dijelaskan hal yang sebenarnya. Kami berdua tidak janjian. Apalagi pergi bersama-sama. Nina menonton basket dengan teman-temannya sendiri, Sementara Mas bersama dengan teman-teman kantor. Kami hanya kebetulan bertemu di sana.

Dan yang di gerai restaurant Jepang ini, kejadiannya tiga bulan lalu saat Mas makan siang dengan teman-teman kantor. Kamu malah sempat bertanya Mas ada di mana waktu itu bukan? Dan Mas bilang kalau Mas sedang makan siang di restoran Jepang. Kamu ingat 'kan?" Seno langsung memberikan penjelasan.

Seno bukan menjelaskan. Tapi Seno terkesan menekannya agar memaklumi perbuatannya.

"Kalau video di club, kamu juga sudah tahu ceritanya bukan? Tentang pesta ulang tahun Nina dan obat perangsang yang ia bubuhkan di minuman Mas," lanjut Seno lagi.

Arimbi tersenyum kecut. Semakin ke sini, Arimbi semakin bisa menilai kepribadian Seno. Seno ini bermental pecundang. Sudah terbukti salah, bukannya dengan kesatria mengakui semua kesalahannya, ini malah ngeles kanan kiri. Menekan orang yang ia bohongi lagi. Luar biasa. Untuk pertama kali, Arimbi bisa melihat hikmah dari batalnya pernikahannya dengan Seno ini.

"Benar, Mas waktu itu bilang kalau Mas sedang makan siang di restoran Jepang. Tetapi Rimbi ingat sekali, Mas tidak bilang kalau Mas makannya duduk bersebelahan dengan Mbak Nina 'kan?"

Kalimat Arimbi membuat Seno kelimpungan. Ia tidak punya jawaban yang pas dengan suasana tegang seperti ini. Takutnya ketegangan jadi semakin mengerucut.

"Jawab pertanyaan anak saya, Seno! Apa kamu mendadak tuli?" Pak Handoyo gregetan melihat calon menantu tidak jadinya ini. Sekarang ia malah lega karena anak perempuannya tidak jadi menikah dengan pembohong seperti Seno ini.

"Waktu itu Mas tidak berani mengatakannya, Rimbi. Mungkin kamu tidak tahu, kalau selama ini Nina terus mengejar-ngejar, Mas. Mas takut nanti kamu malah salah paham. Mas hanya ingin menjaga perasaanmu. Makanya Mas tidak bilang apa-apa. Walau bagaimanapun Nina itu kakak sepupumu. Mas tidak mau membuat kalian berdua ribut."

Akhirnya Seno mengeluarkan apa yang selama ini ia sembunyikan. Dirinya bukan orang bodoh. Ia tahu kalau Nina mengejar-ngejarnya. Sebagai laki-laki normal, jujur ia sempat bangga saat rekan-rekan sekantornya mengatakan bahwa ia keren parah hingga dikejar-kejar sepupu pacar sendiri. Tidak kalah cantik dari Arimbi lagi. Pujian tersebut sempat melambungkan egonya.

Untungnya ia masih memiliki akal sehat. Ia tidak mau hubungannya dengan Arimbi menjadi seperti peribahasa ; akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Makanya ia terus menghindar dari kode-kode dan pendekatan nekat yang dilakukan oleh Nina.

"Dan dan sekarang, bagaimana akhirnya Mas? Mas berhasil menjaga perasaan Rimbi tidak?" sindir Arimbi.

Seno tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan gelisah.

"Maaf ya, bukannya saya ingin menginterupsi perdebatan kalian berdua. Namun menurut hemat saya, hal-hal yang sudah terjadi atau tidak ada konsekuensinya dengan masa depan, sebaiknya tidak usah dibahas-bahas lagi. Buang-buang waktu saja."

Ganesha yang sedari tadi sudah bosan mendengar drama-drama ala sinetron Arimbi dan Seno, bersuara. Ia memang paling tidak betah menonton perdebatan tanpa solusi begini. Mengantuk jadinya.

"Arimbi, sekarang saya tanya, apa kamu bersedia saya lamar untuk menjadi istri saya?"

Tanpa tedeng aling-aling Ganesha melamar Arimbi. Ia ingin melewatkan drama-drama derai mata atau malu-malu kucing khas perempuan kala dilamar. Bukannya ia tidak menghargai perasaan kaum perempuan. Masalahnya situasi lamarannya berbeda. Yang ia butuhkan saat ini hanya jawaban antara ya atau tidak.

Arimbi mematung. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Ganesha akan melamarnya secara langsung begini. Bukan apa-apa. Arimbi tadi sempat melirik sekilas wajah Ganesha, saat Pak Hasto tadi menyampaikan bahwa ia menyodorkan Ganesha untuk menggantikan tempat Seno.

Kala itu Ganesha langsung menatapnya tajam. Seolah-olah mengatakan bahwa gara-gara dirinyalah, Ganesha menjadi korban. Makanya Arimbi sempat ragu-ragu. Belum lagi pada dasarnya ia takut pada Ganesha. Meski begitu ia memang sudah mentekadi akan menerima usul Pak Hasto, setelah Nina mengirim photo-photo dan videonya dengan Seno.

Kini setelah Ganesha melamarnya dengan mulutnya sendiri, tekad Arimbi kian bulat. Sudahlah, mungkin Allah sudah mempunyai rencana lain untuknya. Mungkin juga Seno hanya ditakdirkan menemani sampai kini, sementara Ganesha akan mendampinginya hingga ke masa depan.

Ternyata kalimat jodoh pasti bertemu, jodoh tidak akan ke mana-mana bukan kebohongan belaka. Buktinya Allah mempersulit hubungannya dengan Seno, namun memudahkan segala urusannya dengan Ganesha. Ya, sesederhana itu Allah menunjukkan tanda-tandaNya.

"Ya, saya bersedia, Mas Esha. Pokoknya saya bersedia menikah dengan siapa saja, asal jangan dengan Mas Seno." Entah mengapa melihat wajah shock Seno, Arimbi jadi ingin membuat Seno makin shock lagi.

"Cukup sampai kalimat, saya bersedia saja. Saya tidak butuh sisa kalimat lainnya."

Beginilah Ganesha. Pedasnya ucapannya level dewa. Makanya menurut Seno dulu, tidak ada perempuan yang betah berdekatan lebih dari sepuluh menit dengan Ganesha. Bahkan Menik, sahabatnya yang juga mantan pacar Ganesha menyerah menghadapi kecuekan Ganesha. Padahal Menik itu tingkat kesabarannya masuk dalam sepuluh besar orang yang paling sabar versi on the spot. Arimbi juga tidak menyangka, bahwa dirinya akan menggantikan posisi Menik. Bukan hanya sebagai pacar. Namun langsung menjadi istri.

Bab 3

Arimbi melirik Ganesha yang tengah menyetir di sampingnya. Saat ini mereka berdua akan melakukan fitting terakhir pakaian pengantin.

Arimbi sama sekali tidak menduga, kalau pada fitting terakhirnya akan ia lakukan bersama Ganesha setelah dua kali sebelumnya bersama Seno.

Tapi seperti inilah kenyataan. Semua hal bisa kita rencanakan. Namun hasil akhirnya, tetap menjadi rahasia Allah.

Laju mobil berbelok ke kanan. Jalan yang diambil Ganesha memang benar. Mereka akan ke butik di mana dirinya dan Seno memesan pakaian. Ya, dalam pernikahannya dengan Ganesha tiga hari lagi, dirinya memang tetap akan mengenakan pakaian pengantin seperti yang ia dan Seno pilih tiga bulan yang lalu. Hanya saja mempelai prianya beda.

Tiga puluh menit telah berlalu sejak mereka berkendara. Namun tidak sepatah pun kata keluar dari bibir mereka berdua. Ganesha menyetir dengan mulut terkatup rapat dengan pandangan lurus ke depan. Ganesha bersikap seolah-olah tidak ada penumpang di dalam mobilnya.

Arimbi melirik Ganesha sekali lagi. Ia tidak betah diam-diaman seperti ini. Pada dasarnya dirinya bukanlah seorang pendiam yang tahan berjam-jam tanpa mengeluarkan suara. Istimewa ada orang lain di sampingnya. Dirinya bukan seperti Menik. Mantan pacar Ganesha, sekaligus sahabatnya yang ayu dan anggun.

Berdasarkan cerita Menik, Ganesha itu menyukai ketenangan dan keteraturan. Ganesha tidak suka dengan wanita yang heboh dan berisik. Makanya selama berpacaran, interaksi mereka cukup dengan bahasa kalbu dan tatapan mata saja. Bagi Arimbi hal tersebut aneh. Bagaimana mereka berdua bisa mengutarakan keinginan mereka masing-masing apabila tidak dikatakan? Makanya dulu ia kerap memuji Menik sebagai salah seorang perempuan paling sabar. Bagaimana tidak sabar? Menik tahan dua tahun berpacaran dengan orang bisu seperti Limbad.

Dalam keheningan mobil, Arimbi mengamati bentuk wajah Ganesha. Ia mencoba mencari persamaan antara wajah Seno dan Ganesha. Mereka berdua itu kakak beradik. Seharusnya secara fisik mirip bukan?

"Apakah telah tumbuh tanduk di wajah saya?" Tiba-tiba saja Ganesha berpaling. Arimbi tidak sempat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akibatnya ia kini bertatapan dalam jarak dekat dengan Ganesha.

Dan untuk pertama kalinya Arimbi melihat wajah Ganesha dengan jelas. Kedua kornea mata hitam Ganesha, sekilas sangat mirip dengan Seno. Namun auranya bertolak belakang. Tatapan Seno itu ramah dan hangat. Sementara Ganesha datar dan dingin.

Hidung Seno mancung dan lurus. Bentuknya sempurna. Sementara Ganesha, ada bagian yang sedikit menonjol dan tidak simetris. Walaupun tetap mancung dan menawan, sepertinya tulang hidung Ganesha pernah patah. Bentuk dahi dan rahang mereka juga berbeda. Seno berdahi kecil dan berahang lancip seperti Bu Santi. Sementara Ganesha berahang kuat dan tegas seperti Pak Hasto. Secara keseluruhan garis-garis wajah Seno halus dan menawan. Khas pria ibukota metroseksual.

Sedangkan Ganesha kasar dan laki-laki sekali. Mungkin karena Ganesha tidak suka berdandan laki. Istilah dandan laki, ia ketahui dari Seno. Dandan laki itu meliputi facial, manicure pedicure, serta menggunakan kosmetik untuk perawatan wajah dan tubuh. Harus Arimbi akui. Kosmetik dan peralatan mandinya kalah jauh dengan Seno.

"Maaf, saya tidak mengerti dengan pertanyaan Mas Esha," Arimbi mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak tahu harus menanggapi pertanyaan Ganesha seperti apa.

"Kamu mengerti. Hanya saja kamu tidak mau mengakui."

Menik benar. Ganesha kalau berbicara memang hanya seperlunya. Tetapi poinnya kena.

Arimbi bungkam. Tidak etis kalau ia mengatakan bahwa ia sedang membanding-bandingkan wajah Ganesha dengan Seno.

"Kalau kamu mencari kelebihan wajah saya dengan Seno, kamu akan kecewa. Saya tidak semenawan dan semetroseksual Seno."

Arimbi meringis. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Ganesha bisa menebak isi pikiran.

Demi menguraikan ketegangan Arimbi membuka kaca mobil. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan membuangnya melalui mulut. Ia memerlukan udara segar sebelum dikuliti oleh Ganesha. Begitulah hal yang biasa dibicarakan oleh Menik. Menik selalu mengatakan bahwa Ganesha akan mengkritiknya habis-habisan apabila ia meminta Ganesha untuk berubah. Karena prinsip Ganesha, tiap individu mempunyai keunikan masing-masing.

"Untuk kamu ketahui, saya memang tidak menyukai parfum yang terlalu keras seperti Seno. Tapi saya selalu menjaga kebersihan tubuh. Sebelum menjemputmu tadi, saya sudah mandi dan menggunakan deodorant. Jadi saya yakin kalau tubuh saya tidak menguarkan aroma yang tidak enak. Kamu terlalu berlebihan kalau sampai membuka kaca mobil hanya karena tidak tahan membaui aroma tubuh saya."

Salah lagi! Ternyata tindakannya membuka kaca mobil telah menyinggung perasaan Ganesha. Ganesha pikir bahwa dirinya tidak tahan membaui aroma yang tidak enak di dalam mobil.

"Mas Esha salah. Saya membuka kaca mobil bukan karena mencium aroma yang tidak enak. Saya hanya ingin menghirup udara segar."

Ganesha tidak langsung menjawab. Ia menghidupkan lampu tangan terlebih dahulu, dan membelokkan mobilnya ke arah butik.

"Alasan kamu aneh. Saat ini pukul dua belas siang lewat tiga puluh menit. Matahari sedang terik-teriknya. Jalanan juga penuh debu dan asap kendaraan bermotor. Tidak ada segar-segarnya sama sekali. Cari alasan yang lebih masuk akal. Saya bukan anak kecil."

Arimbi termenung. Dengan karakter Ganesha yang menyusahkan seperti ini, bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya? Lihatlah hanya tiga puluh menit bersama saja mereka sudah saling debat kusir.

"Saya mengatakan yang sesungguhnya, Mas. Saya membuka jendela, hanya ingin mengganti atmosfer. Jangan terlalu sensitif, Mas."

Demi menyeimbangkan sifat Ganesha yang menginginkan segala sesuatunya berdasarkan logika, Arimbi berusaha memberikan jawaban yang logis. Kalau tidak, nanti panjang lagi urusannya. Dirinya udah sangat tertekan karena harus menjalani fitting pakaian dengan suami pengganti. Bayangan bahwa ia akan mendapat pandangan-pandangan keheranan dari orang-orang di butik saja, sudah menguras emosinya. Jikalau ia harus bersilat lidah lagi dengan Ganesha, dikhawatirkan tenaganya akan habis sebelum sampai di butik.

"Mengganti atmosfer? Berarti kamu tidak menyukai atmosfer dalam mobil ini? Begitu?"

Ya Allah, ya Robbi. Tolonglah hambamu ini.

"Mengenai saya yang sensitif. Bukankah itu adalah hal yang paling kalian kaum perempuan inginkan? Setiap kami melakukan tindakan yang logis, kalian selalu mengatakan kalau kami tidak sensitif. Dan kini saat saya sensitif untuk segala hal, kamu malah menganggapnya sebagai kekurangan."

Sepertinya analisa Menik salah. Ganesha bukan orang yang irit bicara. Melainkan orang yang gemar mengkritik orang lain. Menik menganggap Ganesha pendiam, karena mereka memang tidak berbicara dengan bahasa lisan. Mereka berdua hanya tatap-tatapan tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Pantas saja Menik menganggap kalau Ganesha pendiam.

Baiklah. Demi kedamian semua pihak, sebaiknya ia mengganti topik pembicaraan saja.

"Mengapa Mas ingin menikahi saya?"

"Bukan saya yang ingin. Tapi kedua orang tua saya."

"Saya menerima lamaran Mas, eh lamaran atas desakan kedua orang tua Mas, juga demi nama baik kedua orang tua saya. Bukan karena hal lain." Arimbi membela diri. Jangan sampai manusia sombong di depannya ini mengira bahwa ia gembira sekali ia lamar.

"Itu urusanmu. Saya tidak perlu tahu."

Astaghfirullahaladzim!

Arimbi memutuskan untuk menutup mulutnya saja. Pelajaran pertamanya bersama Ganesha adalah ; jangan berbasa basi jikalau tidak ingin sakit hati. Analisa Menik tentang sifat pendiamnya Ganesha memang salah. Tapi aksi penanggulangan untuk meredam segala keributannya sudah benar. Yaitu diam. Titik.

Perjalanan kembali seperti semula. Mereka diam-diaman seperti anak SD yang tengah musuhan. Sejurus kemudian tas tangan dalam pangkuan Arimbi bergetar. Ketika Arimbi mengintip nama pemanggilnya, ia seketika mengabaikannya. Seno meneleponnya. Dan Arimbi membiarkannya.

Karena suasana dalam mobil yang hening, deringan dan getaran ponsel Arimbi terdengar begitu nyaring. Arimbi mengeluarkan ponselnya dari salam tas. Ia bermaksud memblock nomor Seno.

"Berikan ponselmu pada saya. Yang meneleponmu itu Seno bukan?" Ganesha mengulurkan tangan kirinya. Tanpa banyak bicara Arimbi memberikan ponselnya. Ia memang sudah tidak sudi berinteraksi dengan Seno lagi.

Ganesha tidak langsung menjawab panggilan Seno. Ia memegang erat ponsel Arimbi pada kemudi, dan membelokkannya pada parkiran butik. Mereka sudah tiba di tempat tujuan. Setelah mobil terparkir rapi, Ganesha memindahkan persnelling pada posisi P, sembari menaikkan rem tangan. Ganesha membiarkan mesin mobil dan ac menyala, karena ia ingin berbicara dengan Seno. Agar fair, Ganesha menghidupkan loudspeaker. Dengan begitu Arimbi juga bisa ikut mendengar pembicaraannya dengan Seno.

"Ada apa kamu menelepon Arimbi, Sen? Ingat kamu sudah punya istri sekarang. Jangan membuat salah paham istrimu dengan Arimbi. Minimalisirlah hal yang tidak perlu."

Di sampingnya Arimbi mendengarkan dengan senyum kecut. Ganesha berbicara dengan sangat taktis. Fokus pada masalah. Tidak ada drama-drama yang tidak perlu.

"Berikan ponselnya pada Rimbi, Mas. Mas jangan ikut campur dalam hubunganku dan Rimbi."

"Kamu itu ternyata pelupa ya, Seno? Makanya masalah kerap kali menghampirimu. Dengar baik-baik. Seharusnya aku yang memperingatimu agar kamu  jangan mengusik Rimbi lagi. Karena sebentar lagi Rimbi akan menjadi istriku. Dan aku tidak suka jika ada laki-laki lain yang mengendap-endap di belakangku. Jelas, Seno?"

"Jangan berlebihan, Mas. Mas mendapatkan Rimbi juga karena hibahan dariku bukan? Jangan merasa hebat. Aku tahu, Mas cuma mau balas dendam karena dulu Nelly lebih membatalkan pernikahan dengan Mas, karena jatuh cinta padaku. Tapi itu semua bukan salahku bukan, Mas? Aku tidak bisa melarang orang jatuh cinta padaku."

Arimbi membeku. Ia sama sekali tidak tahu soal kasus calon istri Ganesha yang membatalkan pernikahan karena jatuh cinta pada Seno. Dengan sendirinya apa yang Seno katakan terasa masuk akal. Mungkin saja Ganesha ingin balas dendam padanya bukan?

"Kamu ini memang benar-benar mental pecundang ya, Seno? Sudah kamu yang salah, namun kamu masih berupaya memfitnah orang lain. Aku sudah muak menjadi tumbal atas semua tindakan tidak bertanggungjawabmu! Kamu ingin kembali pada Arimbi? Baik, aku akan katakan keinginanmu pada ayah dan ibu. Jadi aku tidak perlu capek-capek membersihkan jejak-jejak kesalahanmu."

"Tunggu, Mas. Bukan maksudku untuk--"

"Mas Esha. Block saja teleponnya. Untuk apa mengurusi hal yang tidak penting. Ayo kita segera fitting pakaian saja." Arimbi menimpali manja, pembicaraan panas antara Ganesha dan Seno.

"Baik. Ayo kita masuk." Ganesha mematikan panggilan ponsel Seno begitu saja.

"Untuk ke depannya, saya tidak mau lagi melihat kamu mengangkat telepon dari Seno untuk alasan apapun."

"Tidak masalah, Mas. Bukankah tadi saya meminta Mas memblock saja nomor ponselnya."

Arimbi mengangguk. Bukan masalah ia takut pada ancaman Ganesha. Tapi lebih pada keinginannya sendiri yang tidak ingin lagi mempunyai urusan dengan suami orang.

"Tidak perlu," Ganesha menggeleng. Memblock seseorang itu artinya kamu takut padanya. Jangan membuat Seno merasa di atas angin karena kamu takut padanya. Biarkan saja kalau ia meneleponmu. Hanya saja, jangan kamu angkat. Kalau kebetulan ada saya, berikan ponselmu pada saya seperti saat ini. Mengerti, Rimbi?"

"Mengerti, Mas. Mas, sebelum kita fitting pakaian, bolehkah saya menanyakan satu hal?" tanya Arimbi ragu. Ia penasaran akan satu hal.

"Silakan,"

"Apa benar kalau dulu Seno pernah menggagalkan pernikahan Mas, karena calon Mas jatuh cinta padanya?"

"Tidak tepat seperti itu. Bukan Seno yang menggagalkan pernikahan.  Lebih jelasnya Nelly lah yang membatalkan pernikahan karena ia bilang, ia telah jatuh cinta pada pria lain. Nelly tidak pernah menyebutkan nama Seno. Saya baru tahu kalau pria itu Seno, setelah Seno akhirnya berpacaran dengan Nelly."

Seno tega sekali menikung kakak kandungnya sendiri.

"Kalau begitu mengapa Seno tidak menikahi Nelly?"

"Karena bulan berikutnya Seno jatuh cinta pada sahabat Menik, sekretaris ayah saya yang kebetulan ikut bersama Menik menjenguk ayah saya yang sedang sakit."

Astaghfirullahaladzim, Seno jatuh cinta padanya saat tengah menjalin hubungan dengan Nelly rupanya. Untuk ke sekian kalinya, Arimbi sangat bersyukur karena gagal menikah dengan Seno.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED