Alana memandang kebaya warna putih yang sudah melekat pada tubuhnya lewat kaca, tampak begitu indah dan anggun. Sangat pas sesuai keinginannya yang telah di pesan beberapa bulan yang lalu ketika dirinya masih bekerja di Hongkong. Padahal dia pesan secara online pada temannya yang kebetulan seorang desainer terkenal di Kota Yogyakarta.
Make up juga sudah usai, kini tinggal menyanggul rambutnya dan menghiasinya dengan bunga kantil.
"Mbak, kenapa dari tadi melamun terus? Apakah lapar atau ingin ke toilet? " tanya Kinanti, sepupunya dari pihak ibu.
"Tidak, aku hanya lelah, " jawab Alana memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kalau begitu ini minumlah, setidaknya biar lebih segar, " bujuk Kinanti menyodorkan air putih yang diberi sedotan.
Alana menerimanya, setelah meminum air dia mulai merasa segar kembali seolah menyadarkan dirinya dari sesuatu yang sejak tadi menjerat pikirannya.
Yah, setelah nanti ijab qobul maka dia sudah sah menjadi istri Syarif. Dan nanti malam dia harus melayani suaminya layaknya seorang istri pada umumnya.
Seketika tubuh Alana menggigil, rasa trauma yang pernah dialaminya bagai mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Rasa cemas, gelisah, bersalah dan juga takut membuat dirinya lemas tak berdaya.
"Maafkan aku, Mas Syarif. Nanti malam pasti kamu akan kecewa saat tahu jika diriku sudah tidak suci lagi. Tapi saat ditanya aku harus jawab apa? Aku selalu mencintaimu dan setia padamu, tapi mungkinkah kamu akan percaya jika aku ini hanya korban dan kehilangan mahkotaku bukan karena penghianatan? " batin Alana sangat tertekan.
Bukan hanya sekedar perasaan bersalah pada calon suaminya, melainkan rasa takut jika dirinya tersentuh. Rasa sakit yang teramat menyiksa waktu silam sampai detik ini tidak bisa dilupakan. Walau dirinya tidak sampai hamil, tetapi Alana menjadi trauma bila berdekatan dengan lelaki.
Tanpa sadar Alana menangis, hal itu membuat perias make up nya menjadi khawatir jika luntur dan langsung menyeka air matanya dengan tissue secara perlahan.
"Maaf, bolehkah aku pamit ke toilet sebentar? " pinta Alana.
"Iya tidak apa-apa, ini juga sudah selesai, nanti make up bisa diperbaiki lagi,
" jawab perias tersebut ramah.
"Mbak, aku antar ya? Siapa tahu nanti kamu kesulitan di dalam, " tawar Kinanti.
"Tidak, aku nanti malah tidak bisa buang air kecil karena malu. Aku bisa sendiri kok, " tolak Alana secara lembut.
Untung saja Alana meminta desain setelan kebaya yang elegan dan ketika dalam keadaan darurat begini dirinya tidak akan kesusahan.
Setelah selesai, dia masih tetap berada di dalam toilet. Jika boleh memilih dia ingin waktu berhenti sehingga dirinya tidak perlu menikah lagi.
"Oh iya, kenapa aku tidak berpikir untuk kabur saja? Jika aku tidak jadi menikah maka aku tak perlu lagi merasa takut dan terus dirundung perasaan bersalah. Aku harus pergi dari sini dan memulai hidup baru tanpa siapapun, " batin Alana penuh tekad.
Alana sejak kecil sudah hidup mandiri, sebab sebagai yatim piatu dia harus bisa melakukan segala hal agar tidak merepotkan paman dan bibinya yang telah merawatnya. Setelah lulus SMA, Alana nekat bekerja sebagai TKW di Hongkong, dalam waktu dua tahun pertama dia berhasil membeli tanah di pinggir jalan raya dan keberangkatan yang kedua kalinya dia bisa membangun toko bahan bangunan.
Usahanya cukup dibilang sukses, sampai dia akhirnya memutuskan menikah jika kontrak kerja sudah selesai. Tapi mimpi indah itu telah sirna, dirinya bagaikan kertas putih yang telah ternoda dan meninggalkan aib yang tidak akan bisa dihilangkan.
Alana tidak mampu menanggung beban batin itu seumur hidup, dia memilih melepaskan orang yang dicintai demi kebaikan semuanya.
"Selamat tinggal, Syarif. Maafkanlah aku, semoga kelak kamu bisa melupakan aku dan mendapat pengganti yang lebih baik dariku, " gumam Alana menangis lagi.
Alana keluar dari toilet, memanggil sepupunya yang usianya terpaut dua tahun darinya.
"Ada apa, Mbak? " tanya Kinanti langsung mendekat.
"Tolong ambilkan tas aku ya! " pinta Alana.
"Ah iya, " jawab Kinanti berjalan dengan cepat.
Alana tidak khawatir jika pergi tanpa membawa pakaian, di dalam tas ada ponsel dan dompetnya. Setidaknya dirinya masih memiliki tabungan yang lumayan banyak. Urusan toko bahan bangunan dia berniat menyerahkan kepada paman dan bibinya sebagai balas budi sebab telah merawat dari kecil dan membiayai sekolah nya hingga SMA. Walau kehidupan mereka tergolong terbatas, tapi Alana tumbuh dengan kasih sayang yang membuat dirinya tidak pernah merasa kesepian.
"Ini, Mbak, " jawab Kinanti mengerahkan tas tersebut dengan ramah.
"Oh iya, aku mau mengambil kamera ke kamarku sebentar. Nanti kamu jangan lupa mengambil foto saat ijab qabul ya? " sela Alana mencari alasan.
"Kameranya taruh di sebelah mana? Biar aku saja yang mengambil, " cegah Kinanti.
"Kamu tidak akan bisa mengambilnya, tunggu di sini sebentar, " balas Alana mencoba bersikap biasa agar tidak dicurigai.
Alana tidak lewat dapur, sebab di sana ada bibi dan juga para tetangga yang sedang memasak. Diapun memilih lewat kandang kambing karena itu jalan yang sepi orang.
Hanya menggunakan sendal jepit entah milik siapa, Alana kabur dan menyelinap ke gang rumah tetangga. Dia merasa lega sebab sepi, dia yakin jika mereka pada berkumpul di depan rumahnya untuk menyaksikan janji suci dia dan Syarif.
Alana tak kuasa menahan tangis, dia yakin jika mereka menyadari dirinya pasti akan terjadi kehebohan.
"Paman, Bibi, maaf jika aku membuat kalian malu. Maaf karena kalian harus ikut menanggung deritaku, " gumam Alana.
Setelah berjalan cukup jauh dan sampai di jalan raya, tetapi kemudian lewat salah satu teman desanya yang mau menuju ke rumahnya sambil membawa bungkusan kado.
"Alana, kamu kenapa di sini? "
Alana panik, dia berlari dan langsung menghentikan bus mini yang lewat.
"Alana! "
"Alana! "
Alana tidak menghiraukan panggilan itu, diapun juga tidak tahu ingin pergi kemana setelah ini. Alana baru sadar, jika bus yang dia tumpangi adalah jurusan ke Terminal Jombor.
Begitu turun, sudah banyak calo yang mendekatinya.
"Mbak, mau kemana? "
"Ehh... "
"Kalau mau ke Jakarta bisa langsung berangkat sekarang, nih langsung saya siapkan tiketnya dan bisa naik ke bus sekarang, " tawar calo tersebut.
Entah setan apa yang merasukinya, Alana mengiyakan. Padahal di Jakarta dia sama sekali tidak punya saudara ataupun teman.
"Aku anggap sebagai liburan, saat ini aku butuh menenangkan diri. Urusan ke depan aku pikirkan sambil di jalan, " batin Alana yang merasa teramat lelah. Apalagi dia yang masih memakai pakaian kebaya tentunya mengundang perhatian orang banyak.
Sesampainya di dalam bus, ponselnya mulai di banjiri pesan dan telepon. Diapun segera menonaktifkan.
"Maafkan aku, Syarif. Maafkan aku semuanya... "
Duduk seorang lelaki muda yang tampan di tepi pantai, dia merasa kelelahan setelah berlarian seorang diri menanti senja.
Dari setiap sudut wajah lelaki itu bak lukisan illahi yang begitu sempurna. Banyak sekali wanita yang terpikat tetapi tidak ada satupun yang mampu meluluhkan hatinya. Meskipun begitu Lars memiliki banyak pacar dan tidak bertahan lama.
Entah kenapa setiap kali menatap langit dia merasa rindu, seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dan melihat fajar serta senja sudah seperti kegiatan wajib yang harus dilakukan.
Pemuda itu bernama Lars, CEO perusahaan besar yang memiliki karakter dingin dan misterius. Tidak banyak bicara dan tidak suka terlalu dekat dengan orang lain kecuali saat bekerja. Dalam tubuhnya seperti ada alarm untuk menjaga jarak dan mempercayai orang lain.
"Bos, Anda sudah di sini berjam-jam, mari pulang dan hangatkan diri? " ajak Daniel, asisten Lars.
Lars memang sudah basah kuyup, tetapi masih enggan untuk berdiri.
"Bos, kalau Anda tidak kunjung pulang nanti saya kena marah Tuan Dan Nyonya, saya mohon mari kembali dengan saya, " bujuk Daniel yang berusia tak jauh darinya.
"Iya, " jawab Lars datar.
Lars berjalan setapak demi setapak diikuti oleh Daniel, masuk ke hotel pribadinya dan setelah mandi dan berganti baju baru keluar lagi untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Sampai rumah sudah malam, di sana dia disambut oleh kedua orang tuanya dan juga seorang gadis yang tampak tidak asing.
"Nak, kenapa kamu selalu bermain di pantai saat sore hari sih? Kami sudah menunggu kamu makan malam, " ucap Arina cemas.
"Mama, sudah aku bilang kalian tidak usah menungguku untuk makan malam. Aku juga bisa makan di luar," sela Lars menahan kesabaran.
"Kamu ini tidak boleh begitu, namanya juga orang tua pastinya akan selalu mencemaskan anak semata wayangnya dalam hal kecil sekalipun, oh iya ini kebetulan ada Alista. Apa kamu masih bisa mengingatnya? " sergah Marco.
Lars mengerutkan dahi, mencoba mengingat apakah dimasa kecil memiliki teman bernama Alista?
"Putrinya Pak Aries, dia tunangan kamu dari masa kecil, " sela Marco gemas.
Lars hanya mengangguk saja, sebenarnya dia memang sudah lupa tetapi merasa tidak asing.
Lars melihat sekilas ke Alista, memang cantik di banding para kekasihnya. Tetapi dia sama sekali tidak tertarik.
Lars sama sekali tidak peduli dengan cinta, dia tidak peduli dengan apapun. Hidupnya terasa hambar tanpa tujuan yang pasti.
"Lars, sesuai jadwal yang sudah direncanakan. Sebulan lagi adalah pesta pertunangan kalian," ujar Marco.
"Terserah Papa dan Mama saja, tetapi asal dia tidak terlalu mengusik hidupku! " jawab Lars santai.
"Iya, aku akan menjadi calon istri yang pengertian untukmu, " sela Alista sangat senang.
"Alista, kamu yang sabar ya? Lars sejak kecil memang begitu. Jangankan dengan gadis, pada kedua orang tuanya juga cuek, apalagi dia juga kehilangan sebagian ingatannya, " bujuk Arina.
"Iya, nggak papa. Justru lelaki seperti ini pasti akan setia, tidak mudah tergoda oleh wanita lain, " jawab Alista.
Lars hanya meringis, sebab dalam hidupnya memiliki banyak perempuan untuk mainan. Setia? Adalah ucapan bodoh dalam hidupnya.
Lars sama sekali tidak peduli, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia membuka laptop, tetapi kepalanya jadi pusing dan tidak fokus bekerja.
Lars membuka jendela, duduk di kursi sambil memandang langit yang hitam bertabur bintang.
"Kenapa? Kenapa aku merasa jengah dengan semua ini? Kenapa aku merindukan sesuatu yang tidak aku ketahui. Kenapa... Kenapa aku merasa kosong. Dan kenapa setiap kali aku gelisah hatiku akan tenang ketika melihat bintang kejauhan dilangit? " gumam Lars pada dirinya sendiri.
Terkadang tanpa terasa air matanya mengalir. Dia sungguh merindukan kehangatan kasih sayang, tapi entah dari siapa. Hatinya terluka tidak jelas. Di dalam keramaian dia merasa sendiri dan sepi.
Tengah malam Lars masih belum ingin tidur, dia memutuskan ke luar rumah jalan kaki.
Berjalan tanpa arah, Lars menyembunyikan kedua tangannya yang mulai kedinginan di saku celana. Dia tahu, jika dari belakang ada Daniel dan beberapa anak buahnya yang mengikuti. Dengan iseng Lars berlari secepat mungkin dan menghilang dari mereka.
Lars kesal, karena kedua orang tuanya selalu diam-diam mengirim para pengawal untuk mengikutinya. Walau bertujuan demi kebaikan tetapi tetap saja mengganggu privasinya.
Lars terus berlari secepat kilat. Sampai tanpa sadar dia sudah berada di sebuah Terminal Bus. Tetapi dia baru tahu kalau di sana ada sebuah terminal.
"Mungkinkah salah satu yang aku lupakan adalah terminal ini? " gumam Lars.
Lars sangat penasaran, karena terminal tersebut masih begitu ramai dimalam hari.
"Kalau siang pasti akan terlihat lebih ramai lagi, " gumam Lars.
Tetapi sesaat kemudian dia melihat ada orang -orang yang baru turun dari bus malam, mereka sambil membawa banyak barang dan berdesakan.
"Ih bau sekali," batin Lars yang sangat suka kebersihan dalam segala hal.
Kemudian kedua mata Lars terpacu pada seorang gadis yang juga baru turun dari bus. Gadis yang memakai kebaya putih.
Lars tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya, tetapi saat melihat gadis itu hatinya berdebar-debar.
"Dia siapa? Dari postur tubuhnya dia sepertinya tidak asing? " gumam Lars semakin penasaran.
Lars mencoba mendekat, tapi setelah melihat wajahnya dengan jelas dia merasa sakit kepala yang luar biasa.
"Astaga... Sakit sekali, " pekik Lars memejamkan matanya dan memegang kepalanya yang berdenyut.
"Bos kamu kenapa?" tanya Daniel yang ngos-ngosan baru datang.
Lars tidak bisa menahan rasa sakitnya, dia langsung rubuh dan tidak sadarkan diri.
Begitu terbangun dia sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
"Nak, kamu kenapa malam-malam berlarian? Membuat Mama khawatir saja, " tegur Arina menangis pilu.
Tapi Lars malah bengong, dia masih teringat begitu jelas wajah perempuan yang dia temui tadi.
"Daniel dimana? " tanya Lars.
"Kamu ini, " sela Arina kesal sebab diabaikan, tetapi Mamanya Lars yang begitu sayang pada putranya itu langsung keluar memanggil Daniel.
"Ada apa, Bos? " tanya Daniel sigap.
"Apakah tadi kamu juga melihat gadis yang turun dari bus dan memakai kebaya pengantin? " tanya Lars memastikan.
"Maaf, Bos. Saya tidak paham, karena sampai di sana Bos pingsan dan saya fokus ke Bos, " jawab Daniel.
"Ah, buruan ambilkan aku buku gambar dan pencil! " pinta Lars.
Setelah mendapat apa yang diinginkan, Lars mulai melukis wajah gadis dalam bayangannya. Lars pun cukup kaget jika dirinya ternyata punya bakat melukis dan hasilnya tidak mengecewakan.
Daniel tetap berdiri mengawasi, tapi selama bertahun-tahun tidak pernah melihat gadis yang di lukis oleh bos nya tersebut.
"Bos, saya sudah mengikuti Anda kemana-mana tapi saya bisa pastikan bos belum pernah bertemu gadis yang ada di gambar itu, " ucap Daniel merasa yakin.
Lars melihat mata yang jujur dari Daniel, diapun menjadi semakin heran kenapa saat melihat gadis itu terasa nyeri hatinya.
"Who Are You, Girl? "
Alana menginap di sebuah hotel bintang lima, dia sengaja ingin menghibur diri sendiri selama beberapa hari. Setelah itu dia belum memiliki rencana lain, memang semenjak dirinya ternoda Alana seolah tidak punya masa depan yang cerah. Hari-hari hanya di penuhi dengan mimpi buruk. Sesungguhnya dia sudah lelah, berpura-pura seolah semua baik-baik saja.
"Aku sangat lelah sekali setelah menempuh perjalanan jauh, tapi aku baru ingat jika aku tidak memiliki pakaian ganti."
Alana tahu di samping hotel ada Mall yang besar, diapun memutuskan ke sana dan sebelum itu menghapus make up dan riasan bunga kantil yang masuk melekat di rambutnya.
"Astaga, pantas saja dalam perjalanan hampir semua orang yang melihatku nampak terheran-heran. Mungkinkah mereka tahu jika aku kabur dari pernikahan?" gumam Alana.
Tetapi sesaat kemudian dia tidak peduli, toh tidak mengenal mereka semua dan belum tentu bertemu lagi. Diapun fokus menghapus make up, kantung matanya agak bengkak bekas menangis yang tiada hentinya.
"Alana, tidakkah kamu merasa bodoh terpuruk seperti ini? Memangnya kenapa kalau kamu sudah tidak suci lagi? Siapa yang perlu kamu takuti? Allah tahu jika kamu adalah korban, dan kamu juga tidak jadi menikah, tak perlu merasa bersalah lagi pada Syarif. Dia akan mendapat pengganti yang lebih baik darimu! Lebih baik kamu mencoba memulai hidup baru, menjadi pribadi yang lebih baik," Ucap Alana sambil memandang dirinya sendiri lewat cermin besar di hadapannya.
Tetapi ucapan memang lebih mudah, nyatanya Alana menangis lagi. Jauh di lubuk hatinya masih belum bisa merelakan Syarif seutuhnya. Pemuda yang dia cintai selama bertahun-tahun, pemuda yang menemaninya walau sekedar saling mencurahkan isi hati lewat telepon saat dia menjalani kehidupan keras di Hongkong.
Setelah puas menangis, Alana cuci muka lagi tapi tetap saja kesedihan itu tidak mau hilang.
"Aku benar-benar harus segera belanja, aku sama sekali tidak memiliki apa-apa, " gumam Alana menguatkan diri.
Masih menggunakan kebaya, dia hanya mencepol rambutnya. Dalam hati masa bodoh dengan penilaian orang lain, tok hal itu tidak merubah apapun juga.
Cukup jalan kaki, hanya butuh waktu beberapa menit dia sudah sampai. Kemudian dia terkejut saat ada anak kecil berusia dua tahun yang berlarian dan menabrak kakinya. Untung saja Alana langsung sigap menangkap jika tidak anak kecil itu terjatuh.
"Haduh, Nona maafkan anak saya ya? Dia memang terlalu aktif, dan terima kasih sudah membantu anak saya, " ucap perempuan yang memakai baju muslimah sangat cemas.
"Iya, tidak apa-apa, " jawab Alana menyerahkan anak kecil di tangannya.
Kemudian lelaki tampan yang ada di samping perempuan itu langsung gantian menggendong anak kecil itu.
"Yuk, kita ke tempat permainan, " ajak lelaki itu pada anaknya.
Dan si kecil Devan langsung mengangguk bahagia.
"Nona, kami permisi dulu ya? Assalamu'alaikum, " pamit mamanya Devan sangat ramah.
"Waalaikumsalam, " jawab Alana.
Alana masih belum bisa berpaling saat mereka pergi, dalam hati mulai timbul perasaan pedih. Mungkinkah dirinya punya kesempatan untuk memiliki keluarga yang bahagia dan anak yang lucu seperti Devan?
"Perempuan itu terlihat wanita yang baik, pantas saja hidupnya begitu bahagia. Sedangkan aku? Semenjak kerja di Hongkong aku melupakan banyak hal, termasuk shalat lima waktu. Mungkinkah semua ini adalah teguran? Karena aku hanya mengejar harta semata, " batin Alana.
Tiba-tiba saja dia jadi teringat mamanya Devan yang memakai gamis dan jilbab syariah, kemudian muncul pikiran dirinya yang ingin memulai memakai jilbab.
Selama ini Alana memang memakai pakaian yang cukup seksi, mungkin terbawa oleh teman-temannya sesama TKW yang juga berpakaian seksi saat jalan-jalan mengambil cuti.
Hatinya sudah mantap, Alana langsung menuju ke tempat penjualan pakaian Muslimah. Tak lupa Alana membeli pakaian dalam, kebutuhan lain termasuk make up dan juga koper karena saat kabur sama sekali tidak membawa apa-apa.
Sesampainya di kasir Alana cukup kaget sebab tagihan lumayan menguras isi tabungan.
"Kalau begini terus dan aku tidak ada pemasukan bisa habis uangku, sebaiknya aku juga harus berpikir bagaimana cara menghasilkan uang untuk menyambung hidup, " batin Alana.
Sambil membawa belanjaan yang banyak, Alana berniat untuk kembali. Tapi sungguh sial lagi-lagi dirinya ditabrak oleh orang. Kali ini seorang pemuda dewasa yang jauh lebih tinggi, adu kekuatan tentu saja dia kalah. Alana terjatuh dan menimpa kopernya, lengannya terasa sangat sakit.
"Ah! " teriak Alana.
"Maaf, " ucap lelaki itu.
Hal yang membuat Alana syok adalah saat lelaki itu mendekat dan hendak menolongnya berdiri, tetapi hidungnya mencium aroma parfum yang seketika mengingatkan dia akan malam kelam itu.
Seketika Alana panik berlebihan, keringat dingin mulai membasahi keningnya dan tubuhnya gemetar hebat.
"Apa Anda baik-baik saja? " tanya lelaki itu ikutan panik.
Alana diam saja, dia mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri. Kepalanya berasa berputar-putar.
"Ya Allah, tolonglah hamba, " batin Alana hampir pingsan.
Tetapi dia tidak mau rubuh, rasa kewaspadaan tubuhnya lebih kuat sehingga Alana mencoba berdiri. Kemudian ada tangan yang menyentuh pundaknya, sontak saja Alana menghempaskan tangan itu dengan kasar.
"Aku bisa sendiri! " teriak Alana histeris.
"Oh, Maafkan saya, " sela lelaki itu merasa bersalah.
Alana sempoyongan, dia memejamkan mata sejenak.
"Ini di tempat umum, ada banyak kamera. Jika orang ini punya niatan jahat aku yakin tidak akan berani, " batin Alana menenangkan dirinya sendiri.
"Nona, apakah butuh bantuan? Saya bukan orang jahat? " tanya lelaki itu khawatir.
Alana tidak mau tahu, dia segera mengambil barang belanjaan yang berserakan dan langsung pergi. Tetapi dia semakin takut sebab lelaki itu mengikutinya di belakang.
"Kenapa dia mengikuti aku?" gumam Alana sudah buntu pikirannya.
Alana berlari, dan lelaki itu masih saja mengikutinya sampai dia memasuki wilayah hotel.
Alana semakin cemas, ingin rasanya menghadang lelaki itu dan memarahinya. Tapi dia sadar, kekuatan perempuan tidak akan bisa sebanding dengan lelaki. Sama seperti waktu itu, dia yang sudah melawan habis-habisan tetap saja kalah oleh lelaki laknat yang setiap detiknya di kutuk tidak akan pernah hidup tenang dan bahagia.
Setiap kali mengingat sang pemerkosa, Alana tidak pernah berharap orang itu mati, baginya kematian adalah sebuah keberuntungan. Alana selalu mendoakan, jika lelaki itu hidup menderita selamanya.
"Aku harus segera pindah dari hotel ini, " batin Alana.
Tak mudah bagi dirinya untuk memiliki pikiran positif saat bertemu lelaki, bahkan bersama Syarif yang merupakan kekasihnya saja dia sangat ketakutan.
Sesampainya di dalam kamar, Alana langsung mengunci rapat pintunya. Walau lelah, sakit kepala dan juga lemas, Alana langsung berganti pakaian dan nekat check out pindah hotel yang lebih jauh.
Tak peduli lelaki itu baik atau jahat, Alana tidak akan bisa tidur tenang jika masih berada di sana.