Namaku Maya.
Aku bukan siapa-siapa di kampus ini. Hanya mahasiswi biasa dengan dunia kecil yang kutempati bersama buku, catatan, dan kopi sachet yang kuminum di sudut perpustakaan. Aku tak pandai bersosialisasi, tak menonjol, dan lebih nyaman memerhatikan dunia dari kejauhan.
Lalu ada Dimas.
Namanya saja sudah sering terdengar di aula, di kantin, di mading organisasi. Dia seperti magnet yang menarik perhatian semua orang. Tampan, cerdas, dan selalu tahu cara membuat orang tertawa. Dimas bukan hanya populer, dia juga seolah tak memiliki celah. Mahasiswa teladan, pemain basket kampus, dan entah bagaimana, selalu tampak ramah pada siapa saja.
Termasuk aku.
Kadang dia menyapaku saat kami berpapasan di lorong. "Hai, Maya."
Itu saja cukup untuk membuat detak jantungku melompat tak karuan.
Tapi aku tahu, dunia kami terlalu berbeda.
Dia cahaya terang. Aku hanya bayang-bayang yang bersembunyi di balik rak buku perpustakaan.
Tak banyak yang tahu bahwa diam-diam, aku mencintainya. Cinta yang tak pernah berani kutunjukkan. Tak pernah kuucap. Aku hanya mengaguminya dari jauh-saat dia tertawa dengan teman-temannya, saat dia berdiri di depan kelas memberi presentasi, atau saat dia menunduk membaca buku di taman kampus.
Kadang aku menulis namanya di pojok catatan, seolah itu bisa membuatnya nyata dalam hidupku. Tapi kenyataannya, aku bukan siapa-siapa baginya. Bukan seperti gadis-gadis yang terang-terangan menggoda dan menarik perhatiannya.
Aku hanya Maya. Gadis pendiam yang duduk di bangku paling belakang.
Namun hari itu berbeda.
Saat aku duduk sendirian di perpustakaan, tenggelam dalam buku, seseorang menarik kursi di depanku.
Dimas.
"Perpustakaan selalu sepi ya kalau udah sore," katanya, menatapku dengan senyum hangat.
Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata.
"Aku sering lihat kamu di sini," lanjutnya. "Kamu suka baca, ya?"
Aku mengangguk lagi, kali ini dengan sedikit senyum. Dalam hati aku bertanya, apakah mungkin... dia memperhatikanku?
Dia tak mengatakan hal lebih lanjut, hanya membaca bukunya dalam diam bersamaku. Tapi entah kenapa, aku merasa seperti dunia berhenti berputar sejenak. Mungkin dia tak akan pernah tahu perasaanku. Mungkin aku tak akan pernah cukup berani mengatakannya.
Tapi hari itu, duduk di hadapannya, untuk pertama kalinya aku merasa cukup.
Diam-diam mencintai tak selalu menyakitkan. Kadang, ia hanya butuh sedikit ruang untuk tumbuh walau hanya dalam diam.
***
Sejak hari itu, Dimas beberapa kali duduk bersamaku di perpustakaan. Awalnya aku pikir itu kebetulan, tapi semakin lama... rasanya terlalu sering untuk disebut kebetulan.
"Aku suka suasana tenang," katanya suatu sore, sambil membuka laptopnya di meja tempat aku biasa duduk. "Dan kamu, Maya... kamu tenang. Kayak tempat ini."
Aku menunduk, pura-pura membaca ulang baris yang sama di buku, padahal otakku berhenti bekerja.
Aku? Tenang?
Mungkin dia tidak tahu, bahwa dalam diriku sedang terjadi badai yang sulit kupadamkan. Kehadirannya saja sudah cukup membuatku gugup, apalagi ketika ia mulai membuka percakapan kecil.
"Kamu jurusan Sastra, ya?" tanyanya sekali waktu.
Aku mengangguk. "Iya..."
Dia tersenyum. "Aku sering lihat kamu baca novel. Rekomendasi dong, yang bisa bikin mikir tapi juga bikin baper."
Aku mengerjapkan mata, kaget karena dia begitu tertarik.
Akhirnya aku memberanikan diri merekomendasikan satu judul. Novel kesukaanku. Novel yang diam-diam pernah kubayangkan aku dan dia jadi tokohnya.
Dan sejak saat itu, dia mulai meminjam buku dari daftar yang kuberi. Kadang dia datang hanya untuk bertanya, kadang untuk diskusi kecil, kadang... hanya untuk duduk bersamaku dalam diam.
Satu-satunya yang tetap sama adalah aku. Tetap diam.
Tak pernah mengungkapkan apa yang sesungguhnya kurasa. Bahkan ketika senyumnya seperti musim semi yang datang setelah musim dingin panjang. Bahkan ketika aku tahu, aku makin tersesat dalam rasa yang tak berani kurawat.
Lalu datang hari ketika aku melihatnya bersama perempuan lain.
Namanya Nadine. Cantik, percaya diri, dan tentu saja-terkenal. Mereka tertawa bersama di koridor kampus. Nadine menepuk bahu Dimas, dan Dimas tak menolak. Mereka terlihat dekat. Terlalu dekat.
Seketika aku merasa kecil. Sangat kecil.
Aku pulang lebih awal hari itu. Tak ke perpustakaan. Tak membuka buku. Tak menyentuh catatan. Hanya duduk di kamar kos, menatap langit-langit yang seolah tak pernah menjawab apa pun.
Apa aku terlalu berharap?
Mungkin aku memang hanya bagian kecil dari harinya. Mungkin dia hanya senang punya teman tenang yang bisa diajak berbagi bacaan, bukan hati.
Tapi aku tetap datang ke perpustakaan keesokan harinya.
Dan dia tetap duduk di hadapanku, seperti biasa.
Namun kali ini, aku menyembunyikan satu hal yang tak bisa ku baca di buku mana pun yaitu perasaan kehilangan yang belum sempat benar-benar kumiliki.
***
Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
Aku masih duduk di tempat yang sama di perpustakaan, membuka halaman demi halaman buku yang bahkan tak benar-benar kubaca. Tapi setiap kali Dimas datang dan duduk di hadapanku, aku kembali membentuk senyum kecil yang tidak sepenuhnya utuh.
"Novel yang kemarin, keren banget, May," katanya sambil menyesap kopi kaleng. "Ending-nya... bikin nyesek, ya."
Aku mengangguk pelan. "Kadang yang nyesek justru yang paling nyata," ucapku lirih, mungkin terlalu lirih untuk ia dengar.
Tapi Dimas menatapku sejenak, seolah sedang menerjemahkan sesuatu yang lebih dari sekadar kalimat.
Namun sebelum aku bisa membaca makna dari tatapan itu, suara notifikasi dari ponselnya berbunyi. Ia melihat layarnya, lalu tersenyum.
"Nadine ngajak ketemu sebentar. Dia lagi nunggu di kantin." Ia berdiri, dan menepuk ringan meja. "Nanti aku balik lagi, ya."
Aku hanya bisa mengangguk.
Lalu dia pergi membawa sebagian dari detak jantungku bersamanya.
Aku membenci kenyataan bahwa aku selalu menunggu. Menunggu dia datang, menunggu dia duduk, menunggu percakapan kecil yang tak pernah membahas tentang kami. Karena kami... memang tidak pernah ada.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, sejak kapan aku sepenuh ini mencintainya?
Apa sejak senyumnya pertama kali menyapa namaku? Atau sejak dia berkata aku adalah tempat yang tenang? Atau sejak aku mulai menaruh harapan dalam diam yang tak pernah ia tahu?
Malam itu, aku tak bisa tidur.
Ku pandangi layar ponselku, jari-jariku ragu membuka media sosial. Lalu kutemukan unggahan Nadine, foto mereka berdua di acara kampus semalam. Dimas terlihat bahagia, menatap kamera dengan senyum yang... bukan untukku.
Komentar-komentar mengalir.
"Cocok banget kalian!"
"Pasangan kampus!"
"Finally bareng juga!"
Aku menelan ludah. Pahit. Perih. Hampa.
Seketika aku merasa bodoh. Terlalu bodoh karena telah menjatuhkan hati pada seseorang yang tak pernah benar-benar kudekati. Terlalu bodoh karena membiarkan rasa tumbuh tanpa akar, tanpa tempat berlabuh.
Aku memejamkan mata.
Besok aku tak akan datang ke perpustakaan, batinku.
Besok, aku harus mulai belajar melepaskan. Bahkan kalau dia tidak pernah tahu aku mencintainya.
Tapi saat pagi datang, aku tetap berjalan ke kampus. Tetap melangkah ke perpustakaan. Tetap duduk di tempat yang sama.
Karena meskipun aku ingin berhenti, perasaanku tak pernah mengizinkannya.
Aku semakin sadar, aku tak akan pernah cukup berani.
Bukan karena Dimas terlalu tinggi untuk kugapai, tapi karena aku terlalu takut jatuh tanpa disambut.
Hari-hari terus berlalu. Dimas masih kadang datang ke perpustakaan, masih duduk di hadapanku sambil membuka buku atau sekadar berbagi cerita. Tapi sekarang, ada jarak yang hanya aku yang bisa rasakan. Jarak yang perlahan tumbuh seiring kedekatannya dengan Nadine.
"Dia baik, ya, Nadine," katanya suatu sore. "Kelihatannya aja jutek, padahal aslinya perhatian."
Aku tersenyum tipis.
"Ya, aku tahu," jawabku pelan.
Dan saat dia bercerita panjang lebar tentang gadis itu, tentang caranya tertawa, caranya marah-marah manja, caranya mengingatkan untuk makan, aku hanya bisa duduk diam, menyimpan seluruh rasa sakit yang tak bisa ku tunjukkan.
Inilah nasib menjadi pengagum rahasia.
Mencintai dalam diam, tanpa pernah diberi ruang untuk berharap.
Kadang aku ingin berhenti. Ingin menghilang saja dari hadapannya, agar tak perlu terus merasakan getir ini. Tapi di sisi lain, aku terlalu lemah untuk benar-benar menjauh.
Aku pernah bertanya pada diriku sendiri. Apa cukup hanya mengagumi seseorang dalam diam?
Dan jawaban yang kutemukan adalah tidak.
Tapi kenyataan tak memberiku pilihan lain.
Aku tahu Dimas menyukaiku sebagai teman. Teman yang tenang, yang bisa diajak ngobrol tanpa harus pura-pura jadi siapa pun. Tapi hanya sampai di situ.
Aku bukan seseorang yang akan ia genggam tangannya di depan banyak orang.
Bukan seseorang yang akan dia perkenalkan dengan bangga sebagai "pacar aku."
Bukan yang ia cari di keramaian.
Aku hanya bagian dari latar, seperti bayang-bayang yang selalu ada tapi tak pernah diperhatikan.
Namun meski begitu, aku tetap menyukainya. Bahkan ketika itu menyakitkan.
Bahkan ketika aku tahu, cintaku mungkin hanya akan hidup di satu sisi.
Dan suatu sore, saat hujan turun pelan di luar jendela perpustakaan, Dimas berkata sambil tersenyum.
"Kadang aku merasa tenang banget kalau ngobrol sama kamu, May. Kamu itu kayak rumah yang gak banyak suara, tapi selalu bikin betah."
Aku tak menjawab. Hanya tersenyum, menunduk, menyembunyikan genangan yang hampir tumpah dari mataku.
Karena ia tak tahu, bahwa rumah yang ia anggap tenang itu... menyimpan badai yang tak pernah ia lihat.
Aku mulai belajar pergi, pelan-pelan.
Bukan karena aku ingin menghilang dari hidupnya, tapi karena aku sadar... aku tak pernah benar-benar ada di sana.
Perasaanku pada Dimas tumbuh seperti benih yang kubenamkan dalam tanah kering. Aku sirami setiap hari dengan perhatian diam-diam, kutemani dengan doa yang tak pernah ia tahu. Tapi benih itu tak pernah tumbuh. Ia hanya diam di tempatnya, kering dan tak berakar.
Aku mulai mengurangi waktu di perpustakaan. Aku datang lebih siang atau kadang tak datang sama sekali.
Jika biasanya aku duduk di meja pojok, kini aku memilih tempat tersembunyi di antara rak buku, menjauh dari pandangannya.
Aku tahu Dimas menyadarinya.
"May, kamu ke mana aja? Jarang kelihatan belakangan ini," katanya suatu hari lewat pesan.
Aku sempat menatap pesan itu lama, sebelum membalas pendek.
"Banyak tugas, lagi fokus ngerjain."
Dia membalas dengan stiker senyum dan pesan, "Semangat, ya."
Dan di situlah letak lukanya, dia tetap baik. Terlalu baik.
Kebaikannya seperti tali yang terus menarik ku kembali, bahkan ketika aku sudah memaksa diri untuk melangkah menjauh. Tapi aku tahu, jika aku terus tinggal di dekatnya, aku hanya akan melukai diriku sendiri. Aku akan terus jadi penonton dalam kisah cinta yang bukan milikku.
Pernah suatu sore, aku melihat mereka berjalan bersama di depan fakultas. Nadine menggandeng lengannya, tertawa lepas. Dimas tampak santai, senyum itu masih sama yaitu hangat dan tulus.
Dan aku berdiri di balik tiang lorong, berusaha mengatur napas yang mulai sesak.
Saat itu, aku benar-benar yakin.
Cinta diamku bukan hanya tak terbalas. Ia juga tak punya tempat untuk tumbuh.
Malamnya, aku menulis di jurnal kecilku.
"Mencintai diam-diam adalah bentuk paling sunyi dari pengorbanan. Bukan karena tak bisa bicara, tapi karena tahu, tak ada gunanya bicara kalau ia tak melihat ke arah yang sama."
Sejak itu, aku mulai mengisi waktuku dengan hal lain. Bergabung dengan klub menulis. Mengambil kelas tambahan. Mencoba memberi diriku alasan untuk sibuk, agar tidak lagi terpaku pada kehadiran seseorang yang bahkan tak tahu betapa ia telah menjadi pusat semestaku.
Tapi ada satu hal yang tak bisa kuhindari.
Setiap kali aku menulis cerita, tokoh utamanya... selalu punya mata seperti Dimas.
***
Kelulusan datang seperti angin musim panas, cepat, hangat, dan penuh kenangan yang belum sempat dirangkum.
Kami berdiri dalam balutan toga, bersorak dengan teman-teman, memeluk dosen yang selama ini hanya kami kenal lewat nilai dan komentar di makalah. Dimas ada di sana, tentu saja. Dengan senyum bangga, dikelilingi banyak teman dan kamera ponsel yang mengabadikan dirinya.
Aku hanya melihat dari kejauhan.
Sama seperti selama ini, menyimpan rasa dalam diam, mengucapkan selamat hanya lewat bisikan dalam hati.
Setelah hari itu, kami berpisah seperti cerita yang tak selesai. Tanpa kalimat perpisahan, tanpa janji apa pun.
Aku pikir, itu akhir dari kisahku dengan Dimas.
Tapi takdir rupanya punya cara yang aneh.
***
Beberapa bulan setelah kelulusan, aku diterima kerja di sebuah perusahaan media yang cukup besar di kotaku. Hari pertama kerja, aku gugup setengah mati. Mengenakan kemeja putih dan sepatu yang sedikit kebesaran, aku mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Lalu aku mendengar suara yang tak asing dari balik ruang kaca.
"Maya?"
Jantungku nyaris berhenti.
Aku menoleh pelan.
Dimas.
Dengan kemeja abu-abu, name tag yang menggantung, dan senyum yang masih sama seperti dulu.
"Kamu kerja di sini juga?" tanyanya antusias.
Aku mengangguk, menahan gelombang rasa yang tiba-tiba menyerbu seperti air pasang.
"Baru mulai hari ini..."
Dia tertawa kecil. "Wah, keren! Aku udah duluan dua bulan di sini. Welcome, ya."
Kata-katanya sederhana. Tapi bagiku, itu seperti menekan tombol rewind dalam hidupku. Semua yang sudah kucoba kubuang, kenangan, rasa, luka tapi kembali muncul ke permukaan.
Beberapa hari kemudian, aku tahu kami bahkan satu tim.
Awalnya canggung. Aku menjaga jarak. Tapi Dimas tetap jadi Dimas, mudah dekat, ramah, dan selalu tahu cara membuat orang merasa nyaman.
"Kamu masih suka baca novel?" tanyanya saat makan siang bersama tim.
Aku hanya mengangguk. "Masih."
"Aku kangen duduk di perpustakaan," katanya sambil tersenyum, mengingat masa lalu. "Tenang banget. Apalagi kalau ada kamu di situ."
Aku tak tahu harus menjawab apa.
Tak tahu apakah kalimat itu hanya nostalgia atau... sesuatu yang lebih.
Yang kutahu, aku kembali terperangkap.
Bukan karena aku belum move on, tapi karena ternyata, rasa itu... tak pernah benar-benar pergi.
Aku pernah mencoba menjauh. Pernah mencoba melupakan. Tapi hidup membawaku kembali ke titik ini, bersama orang yang tak pernah bisa ku abaikan.
Kini aku tak lagi mahasiswi pendiam di pojok perpustakaan. Tapi aku masih Maya, si pengagum rahasia, yang duduk satu ruangan dengan lelaki yang tetap tak tahu isi hatiku.
Dan aku bertanya-tanya dalam hati,
Apakah kesempatan kedua ini akan membuatku berani... atau justru patah untuk kedua kali?
Kembalinya aku dan Dimas dalam satu kantor ternyata bukan hanya membawa harapan yang lama tersembunyi, tapi juga membawa bayang-bayang yang selama ini ingin aku lupakan.
Nadine.
Ternyata dia juga bekerja di sini.
Setiap kali aku melihatnya, jantungku langsung mencelos. Nadine yang ceria, penuh percaya diri, dengan senyum yang selalu menyapa semua orang termasuk Dimas.
Mereka sering berbicara, tertawa bersama, bahkan terlihat akrab dalam rapat-rapat tim. Aku, yang selama ini berusaha melangkah maju, justru merasa terseret ke dalam pusaran yang sama, perasaan yang harus ku pendam.
Aku tetap diam.
Bukan karena aku tidak punya keberanian, tapi karena aku tahu posisi dan kenyataannya. Nadine bukan hanya rekan kerja biasa, dia adalah bagian dari cerita yang tak bisa aku ganggu.
Aku memilih menjadi pengagum rahasia yang diam di pojok ruangan, menyimpan segala perasaanku rapat-rapat. Setiap kali Dimas menatapku, aku membalasnya dengan senyum tipis yang tak pernah mengungkapkan lebih.
Saat mereka bertiga di ruang rapat, aku duduk paling belakang, menarik nafas dalam-dalam, dan menyembunyikan rasa cemburu yang tak pernah kuakui pada siapa pun, bahkan diriku sendiri.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri,
Mengapa aku terus bertahan? Apakah ini karena cinta, atau hanya ketakutan kehilangan kehadirannya, walau hanya sebagai teman?
Hari-hari di kantor jadi panggung drama yang aku mainkan tanpa dialog.
Aku tetap diam.
Aku tetap ada.
Tetapi aku juga terus merasakan jarak yang kian melebar.
Namun, entah kenapa, di dalam diam itu ada harapan kecil yang tak pernah padam.
Harapan bahwa suatu saat, aku mungkin bisa keluar dari bayang-bayang ini.
Meski aku belum tahu kapan.
Hari demi hari, Nadine semakin dekat dengan Dimas.
Aku melihatnya dari balik layar komputernya, dari sudut ruangan yang aku pilih untuk menyembunyikan diri.
Mereka berbagi cerita ringan saat istirahat, tertawa bersama, dan terkadang berbagi pandangan penuh arti saat rapat. Dimas terlihat nyaman di dekat Nadine, lebih nyaman daripada saat bersama aku.
Aku merasa seperti menjadi penghalang yang tak terlihat, bayang-bayang yang diabaikan.
Setiap kali Nadine menyentuh tangan Dimas saat berbicara, aku merasakan dunia seolah berputar terlalu cepat.
***
Di suatu sore, aku sengaja lewat di dekat ruang meeting dan tanpa sengaja mendengar Nadine berkata, "Aku senang kita bisa seperti ini, Dimas. Kamu tahu aku selalu ada buat kamu."
Dimas menjawab dengan suara lembut, "Aku juga, Nad. Kamu memang teman yang penting."
Kata "teman" itu menusukku.
Seperti pengingat bahwa aku tak lebih dari sekadar bayangan, bukan seseorang yang bisa ia miliki.
Aku mencoba menenangkan diri. Mengingatkan diri bahwa aku memilih diam, bahwa aku harus kuat walau sakit. Tapi semakin aku diam, jarak di antara kami kian melebar.
Malamnya, aku menulis di jurnalku.
"Cinta yang diam bukan hanya tentang menahan diri, tapi juga tentang belajar menerima ketika dia mencintai yang lain."
Aku tahu, aku harus memilih untuk terus bertahan di bayang-bayang atau melangkah pergi untuk menyembuhkan diri.
Tapi hatiku masih terbelah.
Masih berharap, meski tahu harapan itu semakin tipis.
Aku mencoba melupakan.
Serius mencoba.
Setiap kali rasa itu datang menyeruak, aku berusaha mengalihkan pikiranku dengan bekerja lebih keras, membaca lebih banyak buku, bahkan bertemu teman-teman baru. Aku ingin hatiku berhenti terjebak dalam pusaran Dimas dan Nadine.
Tapi anehnya, semakin aku berusaha menjauh, semakin dalam rasa itu mengakar.
Ada saat-saat aku duduk di meja kerjaku, menatap layar komputer, tapi pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Senyum Dimas, cara dia menyapa, tawa kecilnya yang selalu berhasil mengusir gelisahku.
Aku bertanya pada diri sendiri, kenapa mencintai seseorang yang tak bisa kumiliki terasa seperti melepas udara dari paru-paru? Kenapa sakit ini begitu nyata, meski aku tahu aku harus melepaskan?
***
Saat malam tiba, dan kantor mulai sepi, aku sering teringat percakapan kecil kami di perpustakaan dulu, bagaimana dia bilang aku adalah tempat yang tenang. Tempat yang nyaman. Tapi aku tidak pernah menjadi lebih dari itu.
Kini, aku masih di sini, berdiri di persimpangan antara melupakan dan terus berharap.
Aku ingin memberanikan diri, menyatakan perasaanku yang sudah lama terpendam. Tapi bayangan Nadine selalu menghalangiku, membuatku ragu dan takut terluka lebih dalam.
Jadi aku tetap diam. Menyimpan rasa ini dalam hati yang rapuh. Mencintai dalam senyap, sekaligus berusaha mengikis rasa itu perlahan.
Aku tahu, aku harus memilih.
Tapi entah kenapa, hati ini masih ingin bertahan.
Setiap hari aku menjalani pergulatan yang tak pernah berakhir di dalam hatiku sendiri.
Seperti ombak yang terus datang, menghantam karang tanpa henti, rasa ini adalah cinta yang diam tapi menghancurkan dan membangun aku sekaligus.
Aku ingin melupakan Dimas.
Aku benar-benar ingin.
Tapi setiap kali aku mencoba menjauh, pikiranku malah semakin mengikatkan diri pada namanya.
Saat aku lewat di dekat mejanya, jantungku berdegup tak beraturan.
Saat aku mendengar suaranya dari kejauhan, aku seperti tersihir tanpa bisa mengelak.
Aku tahu, aku bukanlah gadis yang akan dipilihnya.
Aku bukan Nadine yang mudah diajak bercanda dan tertawa.
Aku bukan sosok yang akan diperkenalkan kepada teman-temannya sebagai lebih dari sekadar teman.
Aku hanya Maya.
Yang diam di pojok, yang hanya bisa menatap dari jauh, dan menyimpan semua rasa itu sendiri.
Kadang aku merasa kesepian di tengah keramaian.
Mereka bercanda, tertawa bersama, sementara aku menelan rasa ini sendirian.
Pernah aku bertanya pada cermin,
"Kenapa kau begitu lemah? Kenapa kau terus membiarkan diri terluka?"
Aku tidak punya jawaban.
Di malam-malam sepi, aku menulis semua perasaanku.
Kata-kata itu keluar dari hati yang penuh luka, harapan yang tertahan, dan mimpi yang mungkin tak pernah jadi nyata.
Aku tahu aku harus berhenti berharap.
Aku tahu aku harus melepaskan.
Tapi aku tak bisa.
Karena mencintai seseorang bukan soal logika.
Ini soal hati yang memilih, walau pilihan itu kadang menyakitkan.
Aku masih terus berjuang.
Berjuang dalam diam yang tak pernah didengar siapa pun.
Berjuang mencintai dan melepaskan dalam waktu yang sama.
Dan di situlah aku sekarang tersesat di antara dua dunia yang bertabrakan yaitu
cinta dan kenyataan.
Hari-hari terus berjalan, tapi aku semakin tenggelam dalam sunyi nya diam ku sendiri.
Aku menjadi mahir menyembunyikan rasa di balik wajah datar dan kata-kata yang singkat.
Setiap kali Dimas berbicara, aku mendengar, tapi hatiku tak berani ikut bicara.
Dimas dan Nadine berbagi tawa dan cerita, sementara aku hanya menjadi penonton tanpa suara.
Seolah aku menjadi bagian dari bayangan yang tak pernah ada.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri,
"Apakah aku harus terus seperti ini? Terjebak dalam cinta yang tak terbalas, tanpa ada keberanian untuk mengubah?"
Namun jawaban itu tak pernah datang.
Aku takut. Takut jika aku berbicara, segala yang aku takutkan selama ini akan terjadi yaitu kehilangan dia sepenuhnya, hilang dari hidupnya tanpa jejak.
Jadi aku memilih diam.
Diam yang membuatku terluka, tapi juga menjadi pelindung yang menjaga hati agar tak hancur lebih dalam.
Di balik senyum kecil yang kugoreskan saat menyapanya, aku menyimpan ribuan kata yang tak pernah terucap.
Kata-kata yang menunggu saatnya datang atau mungkin tak akan pernah datang.
Aku terjebak.
Dalam cinta yang tak berbalas, dalam harapan yang semakin pudar, dalam diam yang menyesakkan.
Dan aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti, aku menemukan kekuatan untuk membuka suara.
Tapi untuk sekarang, aku masih di sini.
Menjadi pengagum rahasia yang tak pernah punya keberanian berkata, "Aku mencintaimu."