Bab 1

Tahun kalender 500 versi Kekaisaran Hersen, masa dimana masa aliran energi magic penuh di permukaan Benua Ayax, yang menyebabkan mahluk-mahluk di hutan tadinya dapat berbicara, kini menghilang ke pedalaman hutan, tergilas peperangan yang terjadi di Kekaisaran Qingchang.

Pohon-pohon kini membisu, burung-burung dan makhluk laut menjadi kalem, tak ada lagi keajaiban itu, keramahan itu pudar sudah. Tak ada yang mau bercakap-cakap dengan manusia yang sekarang dianggap serakah, mau menang sendiri dan berbahaya.

Di Benua Ayax yang luasnya sama 9.600.000 km2, dimana seluruh permukaan benua di penuhi dengan Energi Sihir Berwarna Ungu tipis. Hanya ada sedikit makhluk hidup yang memiliki talenta dari sang Dewa – Tempestia untuk mengelola Energi Pesona itu menjadi kekuatan yang mengerikan. Kekuatan memanfaatkan energi ungu di permukaan dunia inilah yang menjadi sumber malapetaka.

Lima Kekaisaran besar di Benua Ayax berperang memperebutkan sumber daya dan gelar penguasa benua yang berjaya mengelola sumber daya dari Kekaisaran lain, semua guna meningkatkan kemampuan jago-jago mereka untuk berperang dan terus berperang demi nama Kaisar yang Agung.

Ada lima Kekaisaran di benua : Shouya di Selatan, Zolia di Barat, Chosa di Timur, dan Hersen di Utara. Terdapat Kekaisaran kecil Bernama Qingchang di dataran Tengah, dan kekaisaran kecil dianggap lima besar Bersama empat kekaisaran lainnya.

Perang pecah antara Hersen melawan Zolia dan Qingchang. Hersen memenangkan perang, dan kaisar memerintah tiga negeri untuk disebut Penguasa Benua. Hersen yang menjajah dataran Tengah dan Barat, tak puas hati. Kaisar ingin menyatukan benua. Perang selanjutnya terjadi Ketika Hersen memimpin Qingchang dan Zolia untuk melawan Chosa di Timur dan Shouya di Selatan. Tapi sampai hari ini, semua tindakan invasi itu gagal.

Ada satu Klan Bernama Klan Phoenix Merah, yang dipimpin seorang Sage putih – asalnya dari Kekaisaran Qingchang yang merasa terjajah dan dimanfaatkan Hersen. Klan Phoenix Merah memberontak melawan terang-terangan tirani Kaisar Agung Hersen.

Akhir perseteruan Hersen melawan Klan Phoenix merah adalah Ketika Sage Alaric memimpin pemberontakan melawan pasukan kekaisaran, dan sang sage dan bertempur melawan Kaisar di langit Qingchang, pertempuran tak terlupakan yang disaksikan jutaan mata di Benua Ayax.

++++++

Dua sosok berkelebat di langit. Mereka membesar, dan sosoknya terlihat jelas dari bawah. Keduanya dengan sengaja menebar aura yang berkekuatan absolut dan menindas, kemampuan makhluk setengah Immortal. Usia dua sosok itu berusia awal empat puluh tahun.

Yang seorang mengenakan kostum berwarna hitam, yang lainnya mengenaskan pakaian serba putih.

Sosok hitam itu mengenakan mahkota tinggi, terbuat dari logam hitam. Di Atas kepala mahkota tampak menyilaukan dengan bertatahkan safir, ruby, dan emerald. Mahkotanya tampak menyala ketika cahaya matahari melewati mahkota itu.

Dia adalah Kaisar Hersen - Oberon Kraviz The Enchanter.

Wajah Kaisar Oberon membeku, Tanya kaisar dengan nada dingin. “Jadi kau adalah Alaric Sunburnt – Sage Putih pemberontak itu?”

Kaisar Oberon adalah penyihir hitam kelas peringkat Warlock yang telah memimpin Kekaisaran Hersen selama belasan tahun.

Tubuhnya melayang di angkasa, menunggang makhluk legendaris – Roc sang raksasa hitam penguasa langit. Jubah hitam, berdesir tertiup menyibak zirah dan armor spiritualnya. Senjata di tangannya adalah pedang sihir yang terbuat dari tulang naga hitam – senjata kegelapan dari bahan tergelap untuk bertujuan memperkuat sihir sesatnya.

Sementara Sage Alaric hanya mengenakan tunik putih, dilengkapi mantel putih Panjang, serasi dengan sepatu dan topi hanfu putihnya. Senjata sang sage adalah Pedang Putih Salju. Sage Alaric tampak kalem mengendarai Phoenix – raja api yang menjadi mahluk kontraknya.

Keduanya melambung, saling bertatapan. Siap meledak kapan saja.

“Kamu akan mati. Berani sekali, membentuk pemberontak di wilayah resmi jajahan Hersen!” teriak Kaisar Hersen keras. Suaranya terdengar sampai di separuh benua. Rautnya tak dapat ditebak. Ia tertutup helm spiritualnya.

Sage Alaric tertawa. Katanya tak kalah menggelegar. “Tolong tak usah naif. Mana ada bangsa yang mau ditindas dan di jajah seperti ini? Apalahi penjajah itu adalah seorang penguasa kegelapan sepertimu, Oberon sang warlock?” Nada merendahkan jelas terdengar.

“Lancang! Kamu darah kotor kaum hina, Berani sekali menyebut namaku, tanpa gelar kaisar!” Kaisar Oberon marah.

Sage Alaric mencibir, “Jadi mau mu apa? Apakah aku harus menyebutmu dengan penyihir hitam? Atau Raja Kegelapan?” ia meledak dalam tawa. Suaranya bergema di hampir separuh dunia.

“Kamu akan menyesal!” Kaisar Oberon lantas menggores langit dengan Pedang tulang naganya.

Langit seketika menghitam, kabut dan awan hitam bergulung. Petir menyambar dan semua kekuatan alam bawah tanah sepertibangkit, di serap sang kaisar.

Dunia dibawa, menjadi gempar. Semua orang lari menyembunyikan diri. Di langit terlihat sosok-sosok seperti bayangan roh jahat. Kekuatan gelap sang warlock terdengar menderu. Energi serangan itu dengan presisi menerjang Sage Alaric.

“Kamu memang penyihir gelap! Semua sihir jahat ini tak membuatmu pantas di sebut kaisar!”

Sage Alaric mencoret Pedang Putih salju kearah langit. Efeknya tak kalah mengerikan.

Langit gelap mendadak berubah terang. Kala itu awan bergulung kelabu menganga sebagian terkena efek pedang putih salju. Dari celah itu masuk sinar matahari. Kekuatan pedang memanfaatkan energi matahari, melesat cepat menghantam energi hitam sang kaisar.

Ledakan terdengar.

Dunia berguncang! Tanah terbelah-belah. Suara jeritan terdengar dari arah bawah, ketika percikan api seperti hujan jatuh ke bumi. Setelah pelarian pertama tadi, kini semua makin rapat bersembunyi. Tak ada yang ingin mati percuma!

Tapi kedua ahli di langit, tak menghentikan pertarungan mereka. Tiga hari tiga malam lamanya mereka bentrok di cakrawala.

Langit telah tersobek-sobek karena kutukan. Serangan sihir mematikan dua setengah immortal itu. Pada hari ketiga, langit di Benua Ayax tampak berwarna menjadi merah, seperti terbakar. Dunia menua dan lelah. Matahari meredup seperti senja hari. Mungkin sebentar lagi akan kiamat,

“Kamu akan mati. Sihir terlarang ini adalah kekuatan pamungkas yang lama ku simpan!” kaisar tertawan bengis.

Dia lantas mengutuk sang Sage dengan sihir kuno, sihir terlarang, dengan menggunakan artefak dari dunia orang mati - Tongkat Zarael The Shadow. Ini adalah tongkat terlarang yang dibuat mahluk iblis, setelah dicampakkan ke dunia bawah oleh dewa – dunia orang mati.

Energi orang mati itu menghantam sang sage.

Dengan lolongan terakhir, menjelang akhir hidup nya, Sage Alaric masih mengeluarkan sumpah terakhir.

“Kelak kamu akan mati di tangan seseorang pengendali anak muda semua elemen. Kamu mati mengenaskan di ujung Pedang Putih Salju ini. Bahkan lebih mengenaskan dari kematianku sekarang ini!” Sosoknya lalu memudar. Pedang Putih Salju juga ikut menghilang.

++++++

Kematian Sang Sage ditangisi jutaan orang yang menonton pertarungan di langit.

The Flame, Phoenix makhluk kontrak Sang Alaric menjadi gila. Ia ditawan kaisar, akan dijadikan budak agar kelak tunduk dan menjadi makhluk kontrak selanjutnya sang kaisar, Bersama dengan makhluk gelap lain - Roc.

Meski seperti mahluk gila, The Flame menolak tawaran kaisar. Akhirnya Phoenix itu di penjara di tempat berselubung sihir yang tak ada seorang pun tahu dimana letaknya.

Merasa takut dengan kutukan Sage Alaric sebelum tewas, kaisar memberlakukan ketentuan. Semua pengolahan kekuatan sihir diatur secara ketat.

Saat ini peraturan yang berlaku adalah sihir hanya diijinkan untuk kaum pemula, mereka kelompok anak-anak baru yang gampang dicuci otak, dan harus berlatih di akademi resmi, di bawah pengawasan Hersen Empire.

Klan, Ordo dan organisasi sihir, semuanya dibubarkan. Termasuk Klan Phoenix Merah, yang kini anggotanya menjadi buronan di tiga wilayah - Kekaisaran Hersen, Qingchang, dan Zolia.

++++++

Waktu berlalu dengan cepat. Musim semi menjadi musim gugur lalu salju turun dan semua berputar cepat. Tanpa terasa lima tahun telah berlalu.

Suara-suara tidak puasan atas penjajahan Hersen terdengar dimana-mana. Kaum pemberontak bergerilya melawan Kekaisaran Hersen. Kali ini bahkan muncul lagi nama Organisasi Phoenix Merah, Kembali terdengar. Bukan saja di Qingchang, tapi juga berkembang pesat di Kekaisaran Zolia.

Banyak prasarana dan gudang senjata perang Kekaisaran Hersen dirusak dan dibakar oleh Organisasi rahasia – Klan Phoenix Merah. Semua terjadi di Qingchang maupun Zolia.

Setiap kejadian kerusuhan dan insiden terjadi, Organisasi rahasia Klan Phoenix Merah, selalu mengklaim kalau merekalah yang bertanggung jawab.

++++++

Dan berita itu pun beredar. Berita yang membawa harapan di hati semua orang di Qingchang dan Zolia.

Ada seorang penyihir, ia ahli pembaca masa depan yang hidupnya hanya mengamati pergerakan bintang-bintang di langit. Isi ramalannya sangat mengejutkan orang banyak.

“Sage Alaric akan bereinkarnasi dan membangun kejayaan Klan Phoenix Merah, untuk menggulingkan Kekaisaran Hersen.”

Sejak itu semua orang yang memiliki kemampuan bakat spiritual sihir, pasti di mata-matai dengan dalih dikirim dan harus bersekolah di Akademi Sihir resmi di bawah pengawasan sang kaisar. Tapi disana mereka di cuci otak agar patuh pada kekaisaran.

Inilah awal ceritanya.

Di Kota Begonia, udara terasa kumuh. Sekelompok orang berbisik di sudut-sudut jalan, hanya menambah muram suasana yang telah padat di kota selama bertahun-tahun terakhir ini. Kota ini dahulu sekali, pernah indah. Tapi kini, pemandangan kota hanya dipenuhi bangunan usang, kalau tidak mau disebut puing-puing.

“Kembalikan kalungku!” teriak anak kecil Bernama Kiran.

“Itu satu-satu nya barang peninggalan kakakku Aura! Kalian tak berhak mempermainkan barang kesayangan orang lain!” Anak Bernama Kiran itu tampak marah.

Ia sangat menyukai kalung pemberian kakaknya Aura - yang telah tewas ketika berperang, panggil paksa pihak kekaisaran untuk melawan Chosa dan Shouya. Sebagai jajahan Hersen, Negeri Qingchang wajib membantu Kekaisaran Hersen untuk berperang.

Dua anak laki-laki dan seorang perempuan tampak berlari meninggalkan Kiran. Mereka belum puas membully Kiran. Kalung itu ikut dibawa mereka, berlari menuju Hutan Larangan, sebuah hutan pinus yang dihindari dan terlarang untuk semua orang di Begonia city.

“Aku tak akan menyerah!” teriak Kiran, kini mengejar Avena, satu-satunya perempuan di antara kelompok mereka.

Kiran melangkah di tepian Hutan Terlarang.

“Sepi sekali.

Dimana ketiga bocah nakal itu? Padahal tadi aku melihat bayangan mereka, menyelinap masuk ke sela-sela pohon pinus!” batin Kiran.

Ia sedang mempertimbangkan, apakah akan masuk kedalam hutan dan melanggar aturan, ataukah menunggu di pinggir jalan, Ia iri. Mengapa Avena, Ming, dan Kai, tiga anak itu dengan berani masuk kedalam hutan yang konon angker itu? Sementara ia selalu di ancam dan di larang Kora Wang, ibunya.

Sejurus kemudian, Kiran memutuskan. “Jika mereka berani, mengapa aku tidak?”

Kiran tak punya pilihan lain, selain harus mendapatkan kalung pemberian Aura, yang menjadi kesayangan, Ketika ia rindu sosok kasih sayang kakak perempuannya. Jika ibunya tahu kalau kalung itu hilang dicuri anak-anak nakal, ia pasti dimarahi, alih-alih dipukul dengan tongkat bambu.

Kiran melangkah. Ia melewati garis batas terlarang.

Seketika terdengar suara gemuruh, mirip suara mahluk-mahluk hutan yang selalu diceritakan banyak orang di Begonia city. “Apakah aku akan langsung di santap serigala buas?” batin Kiran ngeri. Berbalik untuk pergi, itu sudah terlambat.

Bersambung

Bab 2

Kiran seorang anak lelaki berusia 11 tahun dan tinggal di Kota Begonia bersama Arhun dan Kora Wang, ayah dan ibu.

Ia bukan anak tunggal. Ada dua kakaknya, Thorn Wang tewas dalam perang melawan Chosa ketika berusia 19 tahun. Menyusul kematian Aura Wang kakak perempuan nomor dua yang juga tewas di dalam perang. Semua direkrut pihak Kekaisaran Qingchang untuk membantu Hersen melawan Chosa dan Zhouya.

Kiran masih ingat. Tatkala itu ada prajurit kekaisaran mengetuk pintu dan membawa membaca surat dari kekaisaran di depan pintu keras-keras,

“Thorn Wang dinyatakan tewas dalam perang, Kekaisaran sangat berterima kasih atas sumbangan tenaga muda almarhum…”

ibu Kiran jatuh pingsan.

Sedangkan Arhun Wang berusaha tabah, mendengar berita resmi dibacakan prajurit hingga selesai. Rumah itu berduka sebulan. Arhun berhenti bicara, hanya terdiam setiap hari.

Menyusul semusim kemudian, prajurit kekaisaran yang lain datang mengetuk rumah itu lagi. Berita pun dibaca, di depan Arhun, Kora dan Kiran.

“Skywraith kapal roh yang ditumpangi Aura Wang meledak ditembak api sihir pyromancer negeri musuh di perbatasan Kekaisaran Chosa !”

Hening dan sepi meski bibir prajurit itu terus membaca berita duka.

Arhun Wang selanjutnya terbaring di ranjang, terkena serangan penyakit mematikan. Ia berubah menjadi seperti mayat hidup, menolak berbicara dan menolak bergerak. Diam membisu diatas tempat tidur saja.

++++++

Kiran tersesat di dalam Hutan Pinus itu. Dua jam berlalu, tapi tiga kawan nakalnya tak berhasil ia ditemukannya. Tanpa sadar ia telah melangkah semakin dalam ke jantung Hutan Terlarang.

Langit menuju senja. Cakrawala tampak kelam, sebentar lagi akan gelap total pertanda malam akan tiba. Hutan terlarang seketika berubah menyeramkan. Dan Kiran merasa ia seolah-olah terlempar ke suatu tempat yang asing. Pemandangan di depan mata, hanya hutan belantara dan deretan bukit-bukit kecil. Mistis dan menimbulkan rasa gentar.

Kiran tak menyangka. Itu adalah Line Hills, kawasan tembok perbatasan antara Qingchang dan Zolia.

Di atas barisan bukit ia melihat. Ada tembok tinggi berselimut asap tipis yang warnanya gelap. Aura mistis terpancar membuat bulu kuduk Kiran meremang.

Lama larut dalam tepekur, Kiran tiba-tiba tersadar. Dia seketika jadi panik!

“Ini perbatasan antar negara. Perbatasan yang konon dijaga militer, juga ada banyak banyak ahli sihir, master pengendali elemen – yang bekerja di bawah perintah Kaisar.

“Celaka! Aku bisa saja dituduh mata-mata, alih-alih dihukum mati, sekeluarga!”

Ia menyesal. Sekarang balik mengutuk diri sendiri! "Apa sebenarnya yang telah aku lakukan? Mengapa begitu berani, menerobos tempat terlarang yang tampak mengerikan ini? Lari adalah jalan terbaik!” batin Kiran

Tapi begitu ia melangkah masuk ke hutan itu, semua tampak gelap gulita, hitam seperti tinta. Bahkan Cahaya rembulan, tak dapat menerobos ke sel-sela dedaunan.

Kiran berbalik lagi. Ia menepi di sisi hutan yang ada lapangan kecil, yang batasnya di cakrawala dimana Line Hills itu berada.

“Menunggu sampai hari terang, itu mungkin sikap bijaksana,” batin Kiran sambil membersihkan tanah di kaki pohon pinus, untuk ia berbaring

+++

Malam semakin larut. Dan Kiran tak jua memejamkan mata. Ia hanya meringkuk di bawah pohon pinus, tak berani bergerak. Ia takut, kalau ada petugas patrol melihat dan menandainya.

“Seluruh keluargaku akan dibuat sulit karena kenakalan ini. Kasihan betul ayah yang sudah lumpuh, dan ibu yang semakin tua.” Air matanya mengalir di pipi. Namun penyesalan selalu terlambat

Sejurus kemudian, setelah ia merasa tenang, Kiran mulai berpikir jernih. Keinginan untuk hidup, tumbuh begitu besar di hati.

"Aku tak ingin mati di sini?" tapi, perutnya berbunyi tanda rasa lapar kini melanda.

Sayangnya, hanya suara desiran angin malam yang dingin menyambutnya. Itu membuat rasa lapar itu semakin melanda. Apa yang harus kumakan? Bekal pun aku tak punya. Kejadian ini sungguh di luar perhitunganku,” Kiran semakin menyesal.

Semalam ia menahan rasa lapar dan dinginnya udara di hutan itu. Suara lolongan serigala, membuat iat tak berani memejamkan mata, meski rasa kantuk mulai datang.

Dia baru saja akan memejamkan matanya, ketika di ketinggian langit diatas sana, tampak dua titik kecil yang saling berkejaran. Sesekali kerlipan kecil itu meletup mirip percikan api kecil, dan sangkanya itu hanya satu fenomena alam belaka.

Tiba-tiba saja, ketika mata rasa kantuk itu makin tak tertahankan, ia menatap langit berkabut, yang tiba-tiba saja tampak menarik. Ada dua titik yang bergerak di angkasa, saling kejar mengejar. Kiran langsung berdiri. Ia melangkah keluar dari hutan, sedikit ke pinggiran lapangan rumput itu.

Dua titik itu makin jelas. Kiran bertanya-tanya. "Sebentar! Itu bukan fenomena alam - meteor. Tapi itu adalah dua makhluk hidup yang terbang berkejaran di langit!" Kiran seketika jadi gelisah.

“Apakah itu adalah semacam sihir para penjaga perbatasan? Sebaiknya aku bersembunyi!”

Ia baru saja melangkah mundur, untuk masuk kedalam hutan, tapi dua titik itu kini makin membesar. Wujudnya terlihat menyerupai unggas yang memiliki sayap lebar. Menariknya unggas itu berwarna merah, menyala-nyala terbakar api.

Kiran mengernyit. “Sebentar! apakah itu makhluk legendaris itu? Tapi tak mungkin!”

Kiran menggosok kedua matanya dengan tangan. Dan sekali lagi ia menatap ke langit. Dan rasa terkejut itu melanda. "Phoenix! Benar itu Phoenix!" jerit Kiran tertahan.

“Aku pernah melihat gambar makhluk itu. Dulu di perpustakaan Kota Begonia sebelum perang melanda.”

Kiran sekarang tertarik. Ia memindai benda berkilauan yang mengejar sang Phoenix. “I-itu kapal? Kapal laut yang yang dapat terbang? Apakah ini yang disebut-sebut dengan Kapal Roh!” Kiran semakin tertarik.

Tanpa sadar ia melangkah, makin berani ke tengah-tengah lapangan berumput. Sosoknya kini jelas terlihat dari atas langit.

Duar !

Tampak letupan api, yang meledak keluar dari arah kapal roh. Mata Kiran melebar.

"Pertunjukan langka! Kapal Roh bertarung melawan Phoenix! Jika kuceritakan ini pada tiga anak nakal itu, mereka pasti mati dalam kecemburuan!” Kiran makin lupa, kalau ia harus bersembunyi, untuk tidak terdeteksi petugas di dalam kapal roh itu.

Pada saat yang sama, di atas kapal roh tampak sepuluh orang, yang semuanya mengenakan jubah, seragam militer khusus divisi sihir, Mereka berulang kali menembak makhluk besar itu menggunakan api. Dan yang membuat Kiran kagum, api ledakan itu ditembakkan bukan dengan senjata. Melainkan telapak tangan yang di sodok kearah depan.

"Celaka! Mereka penyihir, ahli-ahli pengendali api. Pyromancer." Kiran ngeri.

“Ini bukan khayalan. Tapi nyata, pertarungan antara Phoenix legendaris melawan sepuluh ahli - Pyromancer dan Hydromancer!"

Kiran terpaku di tengah-tengah lapangan. Ia telah Nampak jelas dari atas sana. Tak mungkin kelompok penyihir itu tidak melihatnya. Anak kecil yang nyata melakukan pengintaian terlarang. Melihat aksi sihir yang tidak diperkenankan untuk ditonton secara sembarangan. Kiran ingin pergi. Tapi sorot mata pyromancer di geladak itu, jelas menatapnya dengan tatapan yang sulit di tebak.

“Apakah ini adalah akhir dari keluarga Wang kami?” Kiran menangis pilu didalam hati. Ia yakin, mereka sekeluarga akan dihukum mati atas perbuatan lancangnya

Catatan : Pyromancer adalah Elementalist- pengendali api, sedangkan Hydromancer adalah Elementalist- pengendali air. Untuk pengendali angin disebut Aeromancer sedangkan penguasa tanah disebut Geomancer.

BERSAMBUNG.

Bab 3

Kiran tercengang. Jantungnya berdebar kencang ketika menatap ke langit malam di Hutan terlarang. Itu adalah pertunjukan tak terlupakan selama hidupnya.

“Apakah Phoenix itu, adalah mahluk kontrak sang Sage Putih, seperti yang diceritakan pendongeng Niraj Singh?” Kiran bertanya-tanya.

Ia seorang anak yang sangat gemar mendengar dongeng. Di rumah arak Brimm The Liquidator, Kiran itulah Tuan Niraj Singh selalu tampil di panggung dengan kisah-kisah legendarisnya. Dan legenda tentang pertempuran di langit Benua Ayax antara Sage Putih melawan Warlock Hitam adalah kisah favoritnya. Kiran dan kawan-kawannya sangat kagum dengan pendongeng itu.

Konon desas desus berkata, Niraj Singh adalah seorang ahli sihir. Dia agen rahasia dan mata-mata Klan Phoenix Merah. Tapi itu tak terbukti kebenarannya.

Di sisi lain. Dua sosok itu semakin mendekat ke tanah. Bunyinya memekakan telinga, membuat tanah bergetar.

Rooaar! Phoenix dan kapal roh menukik. Keduanya saling menyambar ke tanah. Debu beterbangan bercampur asap. Tidak sempat membentur, dua sosok itu Kembali mengudara dan mendaki ke arah langit. Sayap Phoenix tampak terbuka lebar. Indah tapi mematikan.

Langit menjadi merah Ketika itu memerah, tatkala Phoenix menyemburkan api. Ia ingin melalap kapal roh.

"Phoenix itu marah!" seru Kiran yang ikut berdebar.

Langit Kembali kelam setelah nyala api Phoenix meredam. Ia bergerak dengan Anggun, meliuk melebarkan sayapnya. Sosok Phoenix tampak menjauh dari kapal roh. lalu berputar menuju kapal itu lagi. Mulutnya penuh nyala api. Tiap kali bergerak, selalu saja percikan api meletup dari semua badan Phoenix. Kuku dan cakarnya terlihat tajam dan Panjang, mirip pedang pendek.

Ketika sang Phoenix berbalik menghadang kapal roh, api di badan sang phoenix seketika berkobar, bukan lagi percikan. Ia tampak mengerikan, ibarat dewa api yang marah.

Seisi kapal roh langsung waspada. Ketika Phoenix mendaki, tidak bertabrakan. RUpanya sasarannya adalah layer di kapal roh itu. Phoenix ingin membunuh seisi kapal, Ketika dalam pendakiannya, ia melepaskan lidah api. LIdah api itu dengan cepat, terbakar. Membuat kapal menjadi oleng, bergerak kekiri dan kekanan, tak lagi stabil.

“Kebakaran!” Suara Pyromancer itu berteriak memecah sepi.

"Air! Seseorang harus melepas Kutukan Air!” titahnya.

Yang lain ikut menabahkan. “Saatnya giliran Hydromancer beraksi!”

Disisi lain kapal, setengah layar telah terlalap api.

“Mereka tidak akan tertolong,” desis Kiran dari tanah lapang. Ia senang melihat kekalahan para Pyromancer.

Tapi Pyromancer itu berteriak dengan marah.

“Celaka benar para hydromancer ini! Mengapa mereka bisa selambat kura-kura berjalan?”

Dari palka kapal roh , muncul tiga orang ahli - Hydromancer. Ketiganya membuat segel di dada lalu melambaikan tangan. Air keluar dari telapak mereka, seperti air mancur. Menghambur, tampak seperti curahan air terjun yang dalam beberapa kejap saja, langit memburam penuh asap hitam. Bau hangus menguar kemana-mana. Layar kapal roh terselamatkan sebagian.

Kapal roh berupaya menyeimbangkan diri setelah setengah layarnya selamat dari kebakaran, meski tak lagi terbang sempurna seperti semula.

Dari bawah sana, Kiran marah melihat pengeroyokan itu. "Ah... Mereka sekelompok ahli yang curang. Beraninya keroyokan melawan sang Phoenix!" Kiran tak kuasa menahan diri. Phoenix itu seperti akrab – terasa family jauh bagi dirinya.

Sementara itu,

Dari kapal roh, semprotan air mancur hydromancer makin lama makin keras. Sesudahnya hujan terbentuk. Hydromancer lalu memanfaatkan air hujan, menyemburkan air berkekuatan dahsyat itu ke Phoenix.

Skreech!

Phoenix memekik marah. Ia basah dengan semprotan itu. Nyala api merah - kuning di tubuhnya memudar.

Skreech!

Sekali lagi memekik! Phoenix itu memunculkan sihir perisai pelindung dari api. Air hujan dan derasnya semprotan sihir hydromancer terpental – terlihat membias dalam warna Pelangi.

Phoenix itu memekik, ia terbebas dari basah yang menghalangi sihir apI di tubuhnya. Sambil merentangkan sayap lebar, sang phoenix meliuk di udara. Tubuhnya terbang mendaki tinggi, hampir sembilan puluh derajat di angkasa. Lurus ke arah langit tinggi.

Kiran terkesima, sang Phoenix mampu melakukan gerakan penerbangan memanjat langit dalam derajat yang tubir seperti itu. Tapi hanya sebentar saja. Sosok sang phoenix lenyap ditelan kelam.

Panik, karena sang phoenix menghilang, Pyromancer pemimpin di kapal roh terdengar marah. Ia membentak kawanannya dalam instruksi.

"Kejar dia! Jangan biarkan makhluk itu lolos. Nyawa kita semua taruhannya."

Dan kapal melaju, berputar-putar mendaki ketinggian langit dimana Phoenix itu menghilang. Sayangnya Sebagian layer yang rusak, itu membuat Gerakan kapal tidak selaju sebelumnya. Gerakannya kikuk, walaupun masih cepat.

Sang Pyromancer terlihat panik, tatkala bayangan phoenix tak jua kelihatan. Ia memberi instruksi untuk mempercepat laju kapal mereka. “Perhatian – perhatian! Semua Pengendali Angin tolong kerahkan sihir kalian. Dorong kapal ini lebih cepat lagi, menyusul monster itu, sebelum dia pergi dan kita akan di hukum pancung Kaisar! Phoenix licik itu takkan mungkin pergi dari langit Qingchang apalagi Zolia!”

Jantung Kiran berpacu kencang. "Bukan hanya pengendali air dan api saja di atas kapal itu? Pengendali angin pun mengambil bagian dalam pengeroyokan ini? Siapa sesungguh nya Phoenix itu? Statusnya begitu penting dan istimewa!”

Kiran bertanya-tanya. Pikiran liarnya mulai mengarah pada dongeng di Brimm The Liquidator.

“Apakah Phoenix ada kaitannya dengan kisah legendaris yang di dongengkan Tuan Niraj Singh?” Kiran memucat.

Sementara itu.

Di cakrawala terjadi pertunjukan menarik. Pengendali angin sang Aeromancer berdiri di geladak kapal. Mereka berjumlah tiga orang. Kiran menutup mulut, tatkala melihat tiga Aeromancer melambung. “Mereka bisa terbang?” suara Kiran tak percaya.

"Mustahil sekali! Adakah kemampuan manusia dapat terbang semacam itu?" Kiran mengucek dua matanya berkali-kali. Malam ini betul-betul malam tak terlupakan. Semua kejadian adalah nyata seperti kisah-kisah dongeng yang diriwayatkan di rumah-rumah minum di Kota Begonia.

Di langit Hutan Terlarang. Tiga Aeromancer melambaikan tangan. Suasana berubah membeku ketika angin taufan tercipta. Munculnya tiba-tiba. Awan kelam di langit seketika cerai-berai. Dan sang Phoenix yang bersembunyi dibalik awan pekat, nampak jelas. Ia tak menyala dengan api merah kuning, sepertinya sengaja untuk menyembunyikan diri.

Skreech! Phoenix memekik marah. Penyamarannya di bongkar tiga pengendali angin itu. Ia membuat gerakan menukik tajam. Begitu cepat laksana angin tercambuk di pinggir pantai.

Di lain pihak. Kapal roh bergerak tak kalah cepatnya Melesat secepat peluru membelah langit. Daya dorong sihir angin tiga Aeromancer itu membuatnya stabil dan seimbang.

Tabrakan akan terjadi!

Kiran sudah menutup mata, tak sanggup menyaksikan benturan yang akan terjadi. "Ini betul-betul kegilaan. Aku tak sanggup melihat apa yang bakal terjadi!"

Roar!

Suara kertakan api terdengar tatkala sang Phoenix membuka mulut. Dan api sihir itu menyembur.

BOOM!

Sayang sekali. Air bercampur angin para penyihir pengendali elemen itu membelokkan serangan sang Phoenix.

BAM!

Phoenix dengan cerdik meliuk di cakrawala! Api besar lagi disemburkannya sambil menukik tajam.

Sasarannya kini berubah.

Sang Phoenix tampak mengunci badan kapal, berniat melumat badan kapal roh dengan kukunya yang setajam pedang. Ia Begitu dekat, saat ini berada disisi kapal roh. Semua ahli sihir itu berteriak panik. “Seseorang lakukan sesuatu. Atau kita mati membentur tanah!”

Kiran tersenyum jahat, dari bawah.

Pengendali air menyemprot ke sisi lambung kapal, dan membentuk tameng raksasa terbentuk gunanya untuk melindungi lambung kapal. Tapi sayang itu terlambat. Dalam gerakan menikung, sepasang cakar setajam pedang pendek seketika merobek lambung Kapal Roh.

Krak!

Lambung kapal menganga. Rusuk dari kayu mencuat membuat penampilan kapal berantakan. Kapal berguncang. Seisi penghuni panik. Ada tiga orang ahli yang berdiri di anjungan, mereka terpental dan jatuh dari ketinggian sana. Suara lolongan ketakutan hanya terdengar sebentar. Sesudahnya lenyap tatkala membentur tanah di seberang tembok Line Hills.

Kapal Roh kehilangan keseimbangan. Kini terlihat oleng di udara. Ia berputar-putar sebentar, sesudahnya menukik, jatuh mengarah tanah.

Tak puas dengan hasil akhir, Phoenix itu melakukan manuver . Tahu-tahu saja sosoknya telah berada dekat pada layar kapal. Api menyembur yang lantas melalap habis layar kapal.

"Bahaya ! Kapal dalam keadaan bahaya !" Suara instruksi terdengar. Nadanya terdengar horror.

"Perhatian – perhatian. Dalam hitungan ke-10, benturan keras akan terjadi. Semua Bersiap-siap!"

Dari arah bawah, Kiran menonton sambil mengulas senyum kemenangan. “Ini adalah bagian klimaksnya. Kapal roh akan hancur membentur tanah.”

Detik terakhir sebelum mencium tanah, tak disangka-sangka seorang pria berdiri di buritan kapal. Ia merapal mantra. Sesudahnya melambaikan tangan ke arah Sang Phoenix.

Kiran menatap tak percaya.

Ahli itu melempar benda seukuran telapak tangan. Dan itu logam. Berkilauan dari bawah tempat Kiran menonton.

“Pengendali logam?” Kiran baru ini mendengar ada seorang penyihir berkemampuan itu.

Di langit tampak kejadian mengejutkan selanjutnya. Logam kecil itu berubah menjadi satu Pedang raksasa, pedang terbesar yang pernah dilihat Kiran. Pedang itu menusuk dada Sang Phoenix. Cepat kejadiannya.

Pekikan kesakitan terdengar. Sesudahnya phoenix tampak goya, lalu jatuh ke tanah.

Rasa terkejut Kiran tak henti-hentinya, Ketika suara ledakan menyusul jatuhnya kapal roh dan phoenix.

Duar!

“Saatnya pergi, sebelum militer datang dan menginvestigasi tempat ini!” batin Kiran sambil berlari.

Sayang bagi Kiran. Suara keras berdengung di telinganya Ketika tengah menyelamatkan diri. Phoenix itu telah berada di atas kepala, sangat dekat. Hawa panas menyebar, membuat Kiran serasa mau pingsan.

“Dewa Tempestia, selamatkan aku. Aku belum ingin mati, terbakar sisa-sisa api Phoenix itu,” tangis Kiran didalam hati.

BERSAMBUNG.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED