"Tring...!
"Tring...!
" Tring...!" gawaiku berbunyi, tanda pesan WA masuk.
Ku abaikan saja, biarlah nanti kubuka. Aku baru datang dari kampung halamanku menghabiskan liburan semester.
Lelah mendera tubuh, setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam menumpang dengan bus umum. Berdesak-desakan, berbagai aroma bercampur membuat kepalaku pusing, untung saja tidak sampai muntah di bis tadi.
Setelah meletakkan tas ransel, aku menuju kamar mandi, bermaksud melepas hajat yang kutahan dari tadi, sekalian mandi, biar terasa segar.
Usai berganti baju, kubaringkan tubuhku, di kasur busa tipis, yang tiga tahun ini menjadi teman setiaku, kamar kos ini, mungkin akan segera kutinggalkan dalam beberapa bulan lagi.
"Tring...!"
"Tring...!"
"Tring...!" Kembali gawaiku berbunyi.
[Sudah sampai kosan, Yang?] Ternyata WA dari Mas Robin, kekasihku.
[Sudah, Mas.] Send
[Maaf tadi tidak bisa jemput di terminal]
[Aku nggak jadi balik hari ini.]
[Mungkin minggu depan.]
[Kerjaanku masih banyak.] Tulisnya beruntun.
[Nggak pa pa, Mas.] balasku, send.
[Ok, kamu istirahat ya, I love you.]
Aku tersenyum membaca pesan itu, meski sepele nyatanya bisa membuatku tersenyum bahagia. Mas Robin memang seromantis itu.
Ku scrol daftar chat yang masuk, ada beberapa chat dari grup, dan satu chat dari nomor tidak kukenal.
Aku penasaran dengan nomer tak dikenal, ku zoom foto profilnya, hanya gambar bunga dan tulisan bijak "Sabarmu akan jadi penolongmu".
Aku mengernyitkan dahi saat membaca pesannya.
[Tolong jauhi suamiku.]
[Kita sama-sama wanita.]
[Jangan saling menyakiti.]
Maksudnya apa? suami siapa yang kudekati? Aneh! Ah, paling pesan nyasar, pikirku.
Dua hari berikutnya pesan dari nomor itu masuk lagi.
[Sekali lagi kumohon.]
[Tinggalkan suamiku.]
[Percayalah, dia hanya mempermainkan kamu.]
Tak mau ambil pusing, kub lokir nomor itu, salah kirim kok dua kali, ini pasti kelakuan orang iseng, tapi siapa?
Dan lagi-lagi pesan itu masuk, kali ini dari nomor berbeda, foto profil beda juga, gambarnya kitab alquran. Aku jadi penasaran siapa pengerim pesan itu, apa maksud dan tujuannya, dan siapa laki-laki yang dia sebut sebagai suaminya.
Kukirimkan screen shot pesan misterius itu pada, Mas Robin. Mungkin dia tahu siapa pemilik nomor tidak dikenal itu. Ku screenshot pesan itu, lalu mengirimnya pada Mas Robin.
[Mas, aku dapat pesan ini]
[Kenal gak?] Send
[Nggak usah diladeni]
[Paling orang iseng] Balasnya.
[Sudah aku cuekin.]
[Tapi neror terus.] Send.
[Blokir aja.]
[Sudah]
[tapi chat lagi dengan nomor lain.] Send.
[Biarin aja, kalau bosen juga berhenti sendiri.] tulis Mas Robin
[Sudah, tapi ini neror terus.] Send.
[Biar aku urus.]
[Kamu tenang aja.]
[Kalau masih neror lapor aku, Ok?]
[Siap Bosqu.] Send.
Setelah itu tak ada lagi pesan misterius dari nomor tak dikenal lagi. Mungkin Mas Robin sudah menemukan orang iseng itu dan memberi peringata. Enaknya punya pacar yang usianya lebih dewasa, bisa menyelesaikan masalah dengan bijaksana.
Perkenalkan Namaku Melani Adinta, dua puluh satu tahun, mahasiswi semester terakhir, jurusan Mipa, di Universitas Negeri Semarang, sekarang tinggal mengerjakan skripsi.
Aku memilih jurusan matematika, selain karena suka, juga karena ingin membuat matematika menjadi pelajaran yang digemari.
Aku ingin membuat image, bahwa belajar matematika itu menyenangkan. Aku ingin semua siswa menyukai pelajaran, yang selalu jadi momok oleh sebagian besar siswa itu.
Dan pacarku bernama Robin Yudanto, dua puluh tujuh tahun, mahasiswa pasca sarjana, jurusan ekonomi di Universitas yang sama. Selisih umur yang ideal kan?
Dia seorang PNS di kantor DIPENDA kota asalnya, Kendal. Dia mendapat tugas belajar dari kantor dinasnya.
Setahun terakhir ini kami menjalin cinta, rencananya dia akan menikahiku, setelah berhasil meraih gelar magister nanti.
"Aku tidak mencari pacar, Dek. tapi seorang istri, calon Ibu dari anak-anakku." ucapnya saat memintaku menjadi kekasihnya.
Aku yang memang sudah menaruh hati padanya, akhirnya menerima cintanya, dia bahkan pernah datang kerumahku, di Jepara. Berkenalan dengan kedua orang tuaku, dan memohon restu menjalin hubungan denganku.
Sikapnya yang sopan dan tutur katanya yang santun, membuat orang tuaku jatuh hati, dan merestui hubungan kami. Apalagi dia sudah punya pekerjaan tetap, membuat kedaulatan orang tuaku semakin mantap
Meskipun aku belum pernah bertemu dengan kedua orang tuanya, tapi aku yakin, Mas Robin. Berasal dari keluarga baik-baik, aku juga percaya dia laki-laki setia.
Rupanya ketenanganku tak berlangsung lama, kali ini bukan pesan misterius lagi, tapi panggilan dari nomor tak dikenal. Ragu-ragu kuterima panggilan itu.
"Halo, ini siapa?" ucapku ragu.
"Ini aku Sarah, istri sah Robin Yudanto." suara perempuan itu terdengar sengau, seperti orang habis menangis.
"Maaf, anda salah orang," sanggahku, lalu aku mengakhiri panggilan secara sepihak.
Orang gila! Mas Robin belum menikah, itu yang tertulis di kolom status KTP-nya. Gerutuku dalam hati.
[Tring...!
[Tring...!]
[Tring!] Nomor misterius itu mengirim beberapa gambar.
Air mataku luruh seketika, dadaku bergemuruh kencang, demi melihat foto yang dikirim nomor misterius itu. Foto pengantin yang mempelainya adalah Mas Robin kekasihku, dia bersanding dengan wanita lain yang tak kukenal.
Hatiku menyangkal tapi mataku menjadi saksi, sesak dadaku melihat foto yang telihat asli itu.
Ternyata begini rasanya dikhianati, sakit luar biasa. Menyaksikan gambarnya saja sudah membuatku terluka, apalagi kalau aku menyaksikannya langsung. Mungkin pingsan ditempat.
Apapun bentuk hubungannya, mau pacaran atau sudah menikah. Yang namanya penghianatan tetap menyakitkan. Apalagi selama ini aku begitu percaya bahwa Mas Robin setia, dan sudah terlanjur berharap kelak bisa bersanding di pelaminan.
Selama ini tak gelagatnya yang mencurigakan, semuanya wajar dan biasa saja. Kemarin dia bahkan menawarkan diri untuk mengantarku ke Jepara, tapi kutolak dengan alasan nanti jadi gunjingan tetangga.
Ya Allah, Mas Robin dibalik wajah lugumu, ternyata kamu penipu! Kamu sudah membohongiku! rutukku dalam hati.
Tapi tidak mungkin, Mas Robin orang baik. Sisi hatiku yang lain masih membelanya. Mungkin karena di dadaku masih ada cinta.
Kupandangi sekali lagi foto-foto pernikahan itu, dadaku semakin terasa nyeri. Apalagi foto Mas Robin menjabat tangan penghulu, membuat hatiku makin bertambah ngilu.
Mas Robin aku tolong katakan itu tidak benar, jerit batinku.
Bersambung....
"Mel, kamu kenapa sih? Kok jadi aneh gini? Tiba-tiba diam nggak jelas," ucap Mas Robin saat menemuiku di kosan.
Dia datang ke kosku karena dua hari ini pesan dan telfonnya aku abaikan, aku butuh waktu sendiri untuk berfikir jernih. Tidak mudah menerima kenyataan sepahit ini.
Seandainya saja Mas Robin. Tidak pernah kerumah orang tuaku, untuk meminta restu. Tentu masalah ini tidak terasa berat, meski sakit hati, urusannya hanya dengan aku saja. Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku, kalau tahu bahwa Robin sudah menikah dengan gadis lain?
"Aku aneh?" tanyaku sinis.
"Iya, kenapa tiba-tiba mendiamkan aku? Salahku apa coba?" cercanya.
"Salahmu apa? Masih nggak merasa bersalah?" sindirku.
"Kalau kamu nggak ngomong, mana aku tahu salahnya di mana? Apa susahnya ngomong sih? Kayak anak kecil aja, dikit-dikit ngambek, kita sudah dewasa Mel, semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, bukan mengedepankan emosi seperti ini," sergahnya.
Tak terima dianggap anak kecil oleh Mas Robin kuambil gawaiku lalu membuka galeri dan menunjukkannya padanya. "Ini apa? Bisa kamu jelaskan?" Bibir Mas Robin membisu seketika. Dia menatap foto itu, lalu beralih menatapku.
"Kenapa diam? Bukan kah semua bisa dibicarakan secara baik-baik?" sindirku.
Robin menyugar rambutnya, berkali-kali dia mengembuskan nafas kasar.
"Itu tidak seperti yang kamu lihat," ucapnya setelah terdiam beberapa saat.
"Hhh, jangan kamu bilang itu foto editan. Karena aku tahu itu asli!"
"Aku terpaksa melakukannya, Mel," lirihnya.
"Terpaksa? Apa suka? Tidak usah mengada-ada kamu, kenapa tidak jujur dari awal?" cercaku.
"Ok, aku akan menjelaskan semua, tapi kamu janjtidak akan emosi," ucap Mas Robin akhirnya.
"Sebenarnya, aku dan Sarah masih saudara jauh. Kami sudah lama di jodohkan, sejak aku lulus kuliah. Waktu itu aku masih nganggur, bapaknya Sarah menawariku pekerjaan di kantornya, kebetulan beliau kepala bagian di DIPENDA.
Beliau berjanji memberiku pekerjaan hingga di angkat PNS, tapi dengan satu syarat, aku harus menikahi putrinya," jelas Mas Robin, aku hanya diam menjadi pendengar.
"Sesuai janji beliau, aku diterima kerja di kantornya, kemudian diangkat PNS dua tahun kemudian. Dan berkat rekomendasi beliau aku mendapat tugas belajar melanjutkan S2. Semua demi karirku agar cepat menanjak." terangnya lagi.
Mas Robin menjeda ucapannya.
"Aku tidak punya pilihan, Mel. Ibuku seorang janda, beliau rela menjual sawahnya untuk menguliahkanku, masa setelah lulus aku masih nganggur? Aku malu, lagi pula masih ada dua adikku yang butuh biaya untuk melanjutkan sekolahnya, uang dari mana? Sementara sawah, satu-satunya sumber penghasilan Ibu, sudah terjual," terangnya panjang lebar.
"Lalu kenapa kamu menjalin hubungan denganku, kalau akhirnya tetap menikahi, Sarah?" tanyaku pilu.
"Aku tidak pernah mencintai Sarah, dan Sarah pun tahu itu. Makanya aku selalu menunda untuk menikahinya, tapi dia selalu sabar menunggu. Hingga bulan lalu, dia genap berusia tiga puluh tahun. Bapaknya Sarah dan Ibuku memaksaku menikahi Sarah secepatnya. Jadi maaf, liburan kemarin aku pulang itu untuk melangsungkan pernikahan dengan Sarah.
Tapi aku janji sama kamu, setelah bapak mertuaku pensiun, aku akan segera menceraikan,
Sarah dan menikahimu."
Mas Robin menghela nafas panjang, wajahnya terlihat gelisah, menanti reaksiku.
"Kamu tahu Mas? kamu tidak hanya menyakitiku, tapi juga Sarah dan Ibumu, kau anggap apa kami? Hingga kau permainkan seperti ini," ucapku dingin.
"Aku janji Mel, aku akan menikahimu tiga tahun lagi, kamu bisa ambil S2 sambil menungguku kan?" bujuknya.
"Atau kamu mau, kita langsung menikah setelah kamu lulus kuliah? Tapi kamu jadi yang kedua," tangannya meraih tanganku, tapi langsung kutepis.
"Kamu egois Mas, aku tidak mau jadi yang pertama, apalagi yang kedua, aku mau jadi istrimu satu-satunya," ucapku yakin.
"Aku akan menceraikannya, tiga tahun lagi bapaknya pensiun, bersabarlah, aku mencintaimu percaya padaku."
"Aku tidak bisa Mas, kamu sudah membohongiku dari awal, aku tidak mau membangun mahligai dengan pondasi kebohongan, rapuh Mas.
Lebih baik aku yang mundur, cukup aku yang hancur. Biarkan Sarah, yang sudah banyak berkorban merasakan bahagia menjadi istrimu. Hargai perjuangan ibumu, surgamu ada padanya Mas," lirihku,
Aku nyaris tidak mampu mengatakannya, karena sampai detik ini, cintaku masih begitu besar pada Robin.
"Jangan katakan itu, aku tidak bahagia hidup bersama Sarah, pernikahan sebulan kami bahkan hanya berisi pertengkaran, saat dia tahu aku berbalas pesan denganmu, saat aku tegur dia karena menerormu, dan puncaknya, dia membongkar pernikahan kami kepadamu.
"Aku tersiksa Mel. Hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku bahagia," Mas Robin, menatapku sendu, netranya berembun.
Benarkah dia tulus mencintaiku? lalu kenapa dia menikah diam-diam? Rasanya seperti melayang ke awan kemudian dihempaskan ke dasar jurang berbatu, hancur berkeping-keping.
"Pergilah Mas, aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tanggamu, kita akhiri semua dengan baik-baik, kita hapus semua kenangan diantara kita, mari kita jalani hidup kita masing-masing." Tak bisa kubendung lagi air mata, yang sudah tertahan dari tadi.
"Aku mencintaimu, Mel. Aku mohon, tunggu aku, tiga tahun...saja," pintanya padaku.
Aku menggelengkan kepala.
"Kamu masih mencintaiku kan? Aku janji, setelah ini akan jujur mengenai apapun, aku akan bicara dengan Sarah. Biar dia tahu kalau pernikahan kami hanya sementara."
"Jadi orang jangan egois kamu Mas, kamu pikir Ayah Sarah rela kamu ceraikan anaknya?"
"Lalu aku harus bagaimana? Kalau aku tidak menceraikan Sarah, apa kamu mau menjadi istrimu kedua?" rayunya.
Aku hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan Robin, ngomong kok asal bunyi tanpa difikir. Dia pikir dia siapa?
"Maaf aku tidak bisa, keputusanku sudah bulat. Aku memilih mundur, ini demi kebaikan kita semua, demi karirmu yang membuatmu rela menggadaikan harga diri," tegasku.
"Pergilah, tidak pantas seorang bertamu pada jam malam begini," usirku, lalu aku masuk ke kamarku dan menguncinya.
"Melani Buka!"
"Mel, kita harus bicara!"
"Melani! Melani!" Mas Robin, terus menggedor pintu, tak terima kutinggalkan begitu saja di teras kosan.
"Maaf, jangan membuat keributan di sini." Tegur, satpam penjaga kos.
Aku lega, tak mendengar lagi suara Mas Robin, di depan pintu.
[Aku akan menyakiti Sarah] Mas Robin, mengirim pesan beberapa menit kemudian.
[Aku tidak perduli] Send.
Lalu koblokir nomor, Mas Robin. Benci aku pada lelaki egois itu, mau enaknya sendiri, jaman sekarang nggak ada yang gratis.
Dia ingin pekerjaan mapan, karier moncer dengan mudah tanpa perlu bersusah payah, melalui pengaruh bapaknya Sarah, ya dia juga harus mau menikahi putri atasannya itu.
Mengenai orang tuaku, biarlah kukatakan kalau aku sudah putus dengan, Mas Robin, orang baru pacaran, wajar kalau putus.
*****
"Mbak Melani, ditunggu tamunya di teras kamar," ujar, Pak Satpam.
Aku yang baru pulang dari kampus, tentu merasa heran, karena merasa tidak janjian dengan siapapun.
"Tamu? siapa?" tanyaku heran.
"Belum pernah kesini sebelumnya, Ibu-ibu," jawab, Pak Satpam.
Ibu-Ibu? kira-kira siapa ya?...
Bersambung....
Dari kejauhan aku bisa melihat seorang wanita duduk di teras depan kamar kosanku. Dari penampilannya aku bisa menilai, kalau dia bukan berasal dari keluar kaya.
.
"Assalamu'alaikum, maaf Ibu menunggu saya?" tanyaku basa-basi.
"Waalaikum salam, Apa kamu yang bernama Melani? Kenalkan aya ibunya Robin," ucap wanita setengah baya itu memperkenalkan diri.
"Iya saya Melani, kalau boleh saya tahu, ada maksud apa Ibu menemui saya?"
"Kamu cantik juga ya? Pantas saja Robin tergila-gila padamu." Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu Mas Robin justru memandangiku dari atas ke bawah.
.
Wanita bersahaja itu sebenarnya berwajah ramah, tapi caranya menatapku membuat aku sedikit ngeri. Takut dia ngamuk karena menganggap aku sebagai pengganggu rumah tangga anaknya.
"Sudah berapa lama kenal Robin?" tanyanya kemudian, setelah puas menelanjangi aku dengan tatapannya.
"Setahunan Bu," jawabku jujur.
"Aku datang kesini, sebagai seorang Ibu. Sebagai sesama wanita, berharap bisa menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin tanpa emosi," ucapnya dengan suara lembut.
"Maaf maksud Ibu apa ya? Saya tidak mengerti."
"Kamu tahu Robin sudah menikah, kan?" tanyanya penuh selidik.
"Iya, dan saya sudah mengakhiri hubungan kami," jelasku.
"Bagus, aku hanya ingin memastikan kamu tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Robin. Kamu tahu? Robin, selalu menyebut-nyebut namamu, saat bersama Sarah. Dan itu sangat menyakitkan.
Kami semua tahu Robin tidak mencintai istrinya. Tapi kami ingin sekali Robin mau belajar menerima dan mencintai Sarah. Aku yakin, seiring perjalanan waktu cinta itu akan tumbuh, dan aku butuh bantuanmu," terangnya.
"Bantuan apa?" tanyaku tidak mengerti.
"Jauhi Robin! Sejauh-jauhnya, kalau perlu pergi dari kota ini," pintanya.
Orang ini gimana sih? Sudah dibilang aku dan Robin sudah putus, kok masih disuruh menjauh. Disuruh pergi dari kota ini pula.
"Saya sudah menjauhi Mas Robin. Saya blokir nomor telfonnya, dan menghindar saat bertemu. Tapi kalau harus pergi dari kota ini saya tidak bisa. Saya harus menyelesaikan skripsi saya hingga lulus dan diwisuda Bu Baru saya akan pergi meninggakan kota ini." tegasku.
Ibu Mas Robin menatapku tajam.
"Ibu kesini untuk memperjuangkan masa depan anak Ibu, begitu juga tujuan saya di kota ini, memperjuangkan masa depan saya," lanjutku kemudian.
Enak saja dia menyuruhku pergi dari kota ini, orang tua sudah menghabiskan uang berjuta-juta, untuk menguliahkanku agar aku bisa meraih cita-cita. Dia dengan seenaknya menyuruhku pergi saat tinggal selangkah lagi.
Sebulan lebih hidupku sudah tenang karena berhasil menutup semua akses komunikasi dengan Mas Robin. Tapi kedatangan ibunya berhasil mengusik ketentramanku.
"Jadi kamu minta uang berapa? Agar mau meninggakan kota ini secepatnya?" ucapnya meremehkan.
Sombong sekali dia, bukankah dia hanya janda yang tidak bekerja? Dari mana dia dapat uang untuk menyuapku, paling juga dari besannya, ayahnya Sarah.
"Saya tidak butuh uang, saya hanya butuh menyelesaikan skripsi. Tapi saya janji akan tetap menjauhi Mas Robin. Ibu bisa pegang kata-kata saya," tegasku.
Sekali lagi Ibu Mas Robin menatapku tidak suka, mungkin dia tidak menyangka aku menolak tawaran menggiurkan darinya.
"Baiklah, aku pegang janjimu. Ingatlah jangan menyakiti sesama wanita. Aku permisi...," ucapnya seraya meninggalkanku.
"Dasar Mak Lampir!" umpatku dalam hati.
Dia pikir aku yang mengejar anaknya, aku yang merayu anaknya, dia pikir aku bo doh, nggak bisa mikir apa?
Aku masih muda, jalanku masih panjang, parasku pun tidak mengecewakan. Masih banyak pria single yang mau sama aku, kenapa juga aku harus menjadi penggoda suami orang?
Seharusnya sebagai sesama wanita, dia bisa lebih menghargai aku, bukannya mengucapkan kata yang bisa melukai perasaan dan harga diriku.
Apa istimewanya Mas Robin? Hanya PNS biasa, itu pun berkat bantuan mertuanya. Wajahnya juga standar, banyak yang seperti dia, jadi untuk apa berebut dengan istri sahnya? Kayak nggak ada laki-laki lain aja.
*****
"Melani!" Terdengar suara, Mas Robin. memanggil namaku dari belakang.
Aku mempercepat langkahku, karena tidak ingin bertemu. Dia memang masih mengejarku, mencoba mengajakku bicara, tapi aku terus menghindar.
Satpam kosan, sudah kuminta untuk melarang Mas Robin masuk. Nomor telfonnya sudah kublokir, jalan satu-satunya memang menungguku selesai bimbingan. Untung saja jadwal dosennya kondisional, jadi nggak tetap dan dia tidak bisa menebak.
Tapi kali ini dia beruntung, bisa menemukanku di koridor kampus. Aku tidak mungkin terus lari, dia pasti berhasil mengerjarku, kuputuskan masuk kedalam kelas kosong yang pintunya tidak tertutup rapat.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria tampan yang berdiri di depanku, aku yang baru menutup pintu dengan hati-hati, agar tidak ketahuan Mas Robin, terlonjak kaget.
Sial, ternyata ruangan ini tidak kosong, tapi masih ada, Pak Yudha. Asisten dosen Geometri, yang gantengnya setara Arya Seloka. Yang lagi jadi trending topik mahasiswi sekampus ini.
"Maaf Pak, saya sedang bersembunyi dari seseorang," jawabku gugup.
"Seseorang? Pacar?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"Bukan Pak, tapi orang stres," jawabku asal.
Mas Robin, kan memang lagi stres, masak sudah punya istri, tapi masih mengejar wanita lain. Aku mengintip dari balik gorden, kulihat Mas Robin, celingukan mencari persembunyianku.
"Saya rasa bukan orang itu yang stres, tapi anda. Lihatlah! Anda panik, bicara ngaco, bukankah itu tanda-tanda orang stres?" ucapnya santai, seraya duduk di tepi meja, gayanya seperti sedang memberi kuliah.
"Maaf Pak, saya boleh numpang ngumpet kan? Sebentar..., saja. Saya janji tidak akan mengganggu pekerjaan Bapak," melasku.
"Pekerjaan saya sudah selesai, sekarang saya mau pulang, jadi ruangannya mau saya kunci," ucapnya santai.
Aduh..., gimana ini? Kalau aku keluar sekarang, mau nggak mau aku harus bertemu Mas Robin. Padahal aku sudah berjanji pada ibunya, akan menghindari Mas Robin sebisa mungkin.
"Sebentar saja ya, Pak. Please... Bapak baik deh," rayuku.
"Laki-laki dan perempuan, kalau berduan saja, yang ketiga adalah setan, kamu mau ketemu setan?" jawabnya jutek, wajah gantengnya seketika jadi menyebalkan.
Menolong orang dalam kesulitan kok nggak mau, bukankah wanita itu mahluk lemah tak berdaya, yang wajib ditolong? Dasar menyebalkan! Rutukku dalam hati.
"Sebentar ya Pak... setelah orang itu pergi, saya janji akan segera keluar dari ruangan ini," ucapku menghiba.
"Imbalannya apa?" Haduh, ternyata nggak cuma cewek aja yang matre, cowok pun ada yang matre juga.
"Saya traktir bakso di kantin deh," kemampuanku hanya segitu, kalau nraktir ke Cafe, atau restoran jelas aku nggak sanggup, bisa-bisa puasa di akhir bulan.
"Wah, nggak level. Saya nggak mau." ketusnya.
"Terus gimana dong, Pak?"
"Nomor WA kamu, nanti saya kabari, imbalan apa yang pantas untuk saya." Aku pun menyebutkan sederetan angka, dan Pak Yudha mencatat di ponselnya.
Kira-kira Pak Dosen, ganteng mau apa minta nomer WA, Melani ya....? Mamake, jadi curigesion nih, jangan modus lho Pak Dosen....
Bersambung...